Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Kumpulan puisi dari Andi Gunawan yang terbagi dalam 3 bab. Puisi-puisi dalam buku ini adalah puisi-puisi pilihan dari Andi Gunawan yang dikurasi oleh Aan Mansyur.

Kau Patahkan hatiku berkali-kali
Dan aku tak mengapa
Hatiku ekor cicak.

Berisi keresahan-keresahan Andi Gunawan tentang banyak hal, utamanya cinta. Sajak-sajak dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang tidak rumit, sarat dengan kegelisahan yang malu-malu, ungkapan cinta yang manis, dan humor yang memadai. Tapi kami percaya "Puisi milik semua". Sila baca buku ini dan temukan sendiri hal-hal yang kamu cari.

Temukan maknanya untukmu!

108 pages, Paperback

First published June 1, 2014

12 people are currently reading
111 people want to read

About the author

Andi Gunawan

7 books38 followers
Anak Sum

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (21%)
4 stars
47 (36%)
3 stars
48 (36%)
2 stars
6 (4%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
March 25, 2017
HAP!

SAJAK pendek Andi, yang dikurasi M. Aan Mansyur dan diterbitkan Plot Point, adalah sajak orang yang sembunyi. Kita seperti diajaknya menjadi pemuja rahasia, yang hanya berani “mengembangkan sesimpul lengkung” di bibir di balik punggung sang pujaan, yang “berbinar sempurna dalam tunduk sipu” tiap disebut namanya, yang “memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal”, sambil melirik waswas, dengan berpegang pada keyakinan dalam Sehimpun Sajak Pendek yang Ganjil tentang Kau:

Jika ternyata cinta adalah kepasrahan,
aku akan mengabdi kepada diam.


Suasana pasrah dalam dua baris sajak di atas kurang lebih sama seperti beberapa baris sajak Murtad di halaman lain: Aku tahu aku bisa merusak peta yang kau cipta dan memberimu/ kompas yang hanya menuju ke arahku, tetapi kemudian aku/ memutuskan mengimani waktu.

Sikap pasrah itu adalah sikap antara bebas dan tak bebas. Ia memilih apa yang dimaui, tapi juga terbatasi. Akan aneh kalau kita bicara cinta dalam diam bukan cinta yang merdeka. Tapi akan salah juga kalau kita bicara pasrah, barangkali terhadap waktu, adalah sebentuk kesia-siaan. Sebab dalam pasrah itu, dalam pengabdian itu, ada kesan sakral: kadang kita kagum dengan orang yang bisa menyimpan perasaan begitu lama. Kita sampai-sampai tak bisa melihat perasaan seorang kepada seorang lainnya, meski bagi sang pecinta “yang mengabdi kepada diam”, cinta itu terlalu jelas. Orang akan “berhenti jadi pelupa”, sebagaimana dalam sajak Epitaf, karena kepalanya seumpama “batu” yang di permukaannya terukir sebuah nama—nama yang tak ingin lekas-lekas hilang dari ingatan.

Tapi tiap kali cinta menyangka dirinya sebagai yang sakral, yang tak bisa disalahkan dari akibat buruk apapun, di situlah kita mungkin terkecoh. Andi agaknya menuju ke sana: pelakunya, dan bukan cinta, yang berperan terlalu buruk. Dalam Setengah Lusin Sajak yang Lebih Pendek Dibanding Ingatanmu tentang Aku (dari judulnya kita bisa menilai isinya yang pesimis), “kita” menjadi subjek yang disorot:

Seperti halnya kau,
aku tak pernah selesai membaca koran.
Di sana ada yang lebih buruk dari berita: kita.


Dalam koran, apa yang membuat kita tak membaca seluruh berita? Andi menjawab: berita yang buruk. Berita buruk itu mungkin membuat kita tak tega melanjutkan baca, atau muak, atau bosan, karena manusia punya tendensi untuk selalu menghindari kenyataan pahit, apalagi kalau dirinya tak memiliki daya untuk merampungkan kepahitan itu.

Sampai di sini mungkin sang pemuja mencintai orang yang salah: yang tak tergapai, yang keterlaluan anggunnya, yang tahu tapi tak mau membalas cinta. Dan pemuja rahasia kita sadar kenyataan itu. Juga tak berdaya untuk lebih baik menghindari. Ia akan bilang, “Cinta, Tuan, tidak bisa direncanakan datangnya”. Atau kalimat Anne Sexton: to love another is something like prayer and can’t be planned, you just fall.

Tapi bila ia meyakini ketidakberdayaan itu, sang pecinta berpotensi terkecoh untuk tidak lagi haus cinta. Geloranya tidak penuh, dan mimpinya jadi pendek. Ia seperti seseorang dalam sajak Pergi Berbelanja: yang enggan dengan terlalu banyaknya norma dan situasi pasar yang terlalu berisik, yang menghindari bermain “ular tangga” karena tak mau “tahu rasanya hampir tiba/ lalu tiba-tiba kembali ke nomor tiga.”

Mencintai, tentu saja, bukan monopoli—yang memberi “kesempatan berkali-kali/ tanpa melahirkan kesedihan/ yang sulit disangkal”.

Dalam sajak Andi Gunawan yang lain ada kecenderungan bahwa cinta yang tidak terpuaskan, yang biasanya memunculkan kecemasan, bahkan beberapa menghendaki air mata, tidak lagi angker. Kita tak menyangkal kesedihan, tapi juga tak mencela terlalu dalam. Lihat sajak Hap!, yang judulnya diambil sebagai judul buku:

Kau patahkan hatiku berkali-kali
dan aku tak mengapa.

Hatiku ekor cicak.


Patah hati, juga cemburu, bukanlah sesuatu yang tragis. Ia hanya satu gejala alam biasa yang sewajarnya, seperti peristiwa putusnya ekor cicak untuk pertahanan diri. Saya tidak tahu apakah cicak merasa sakit saat ekornya putus. Tapi kalau jawabannya “iya”, cicak itu mencoba selamat dari kepahitan yang lebih besar: kehilangan nyawa. Sajak Hap! menyiratkan sebuah sikap: sedihmu, dukamu, cemburumu yang kerap tak berdasar itu, tak perlu dibuang jauh-jauh. Cukup kau redam. Cukup kau simpan. Tapi bukan lantas sang pemuja rahasia meniadakan balasan. Justru ia menikmati harapan-harapan kecil untuk menjadi penting: “disapa”, “diberi “frasa ‘Selamat pagi’”, seperti tokoh dalam Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat Lalu Kau Baca Saat Kau Merasa Sendiri. Di sana, kalaupun harapan itu belum terjadi, ada yang lebih agung ketimbang merutuki hati yang patah. Frase “hati ekor cicak” menegaskan makna cinta yang luas, yang tidak mesti punya hubungan yang bersifat resiprokal, seperti dikatakan Ian D. Suttie dalam The Origins of Love and Hate: kehidupanmu, apapun keadaannya, juga yang tak terkatakan, sangat layak untuk diarungi.

Barangkali cinta akan berhenti menjadi kata kerja. Sang pemuja rahasia menikmati persembunyiannya, bukan? Ia kita beri kesan kurang upaya, kurang pemberani, meski lewat puisi-puisinya Andi menegaskan sebaliknya: tak perlu ada kebencian dalam pengabaian, atau pemaksaan dalam penolakan, kalau kita memang benar-benar mencintai.
Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
October 10, 2024
In memoriam, for love, and friendship.
Al Fatihah, Andi.

Bertahun lampau Chairil pernah berseloroh, bahwa yang bukan penyair tak boleh ambil bagian. Puisi, baginya, adalah sebuah peristiwa suci dimana tidak semua orang boleh mencipta dan membuat puisi. Puisi adalah karya adiluhung, suci, kalis dan kerapkali merupakan hal yang kudus. Seloroh ini menjadi sebuah tantangan, pernyataan sikap, sehingga banyak yang kemudian menantang dan berusaha untuk melawan.

Saat kemunculan Puisi Mbeling, puisi yang bukan puisi atau puisi yang melawan segala otoritas puisi. Remy Silado menjadi salah satu punggawanya, mengatakan bahwa puisi terlalu agung untuk dinikmati dan diciptakan oleh satu kelompok orang. Puisi tidak melulu soal rima, soal bentuk atau soal pesan. Puisi boleh jadi tak berarti apapun, puisi boleh jadi tidak punya keindahan kata tapi punya keindahan bunyi. Puisi dalam hal ini sengaja diciptakan untuk melawan otoritas penyair.

Kemunculan Internet dan Media sosial lantas melahirkan pesohor-pesohor baru. Mereka yang mampu mengolah kata menjadi satu kalimat estetik, menahbiskan diri sebagai penyair. Apakah ini salah? Tidak, setiap zaman punya rohnya masing masing. Mereka yang mencecap pesan sebuah zaman menafsirkan sendiri citraan dan semangatnya sendiri. Di sini, media sosial menjadi tuhan yang melahirkan mesiah-mesiah dengan kata-kata Indah.

Tentu Media sosial melahirkan onggokan tragedi. Mereka yang mampu menjahit keindahan kata, lantas abai kepada semangat pengembangan sastra. Seolah sastra adalah apa yang ada hari ini dan gagap dan menapaktilasi sejarah sastra Indonesia di awal pertumbuhannya. Memang akan sangat basi dan membosankan, bahwa bersastra atawa berkesenian seseorang dituntut untuk paham sejarahnya. Namun rupa puisi, sebagai satu karya sastra, punya satu linikala pertikaiannya sendiri.

Melalui pemahaman yang baik perihal sastra akan ada apresiasi yang serius terhadap sastra sebagai peristiwa kebudayaan. Meski jikalau harus mengurai seluruh peristiwa sejarah sastra tentu merupakan hal yang sangat membosankan. Puisi adalah peristiwa yang personal, dekat dan intim. Ia tak bisa diinstitusionalisasi serupa badan arsip sejarah. Di sini Puisi sebagai peristiwa aktualisasi diri adalah sebuah hal yang mutlak mesti diberikan kebebasan.

Radhar Panca Dahana dalam sebuah kesempatan, mengatakan bahwa puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan. Ini mungkin terlalu rumit untuk dimaknai oleh masyarakat kebanyakan, sehingga diktum Chairil perihal yang bukan penyair menjadi tepat.

Namun menikmati dan mencipta puisi bukanlah monopoli seorang penyair. Yang bukan penyair pun berhak menikmati dan mencipta puisi, mereka yang jatuh cinta, mereka yang berduka dan mereka yang bahagia. Di sini Andi Gunawan, seorang penulis dan juga penyair, menghadirkan Hap! Sebuah kumpulan. Ia melawan eksklusifitas penyair penyair kontemporer yang berusaha keras menjadi elitis. Dengan kredo puisi untuk semua, Andi Gunawan berusaha menjadikan puisi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dekat.

Saya membenci produk kebudayaan yang dilahirkan oleh media sosial. Mereka, bagi saya adalah sekumpulan sampah buatan bacin yang dicitrakan hebat. Namun membaca Andi Gunawan, dan segelintir penulis dari jagat media sosial, membuat saya menafsir ulang kebencian saya. Apa beda buku puisi dengan laman twitter? Atau apa beda majalah sastra dengan kolom notes facebook? Jika ia memiliki unsur estetik puitik, mengapa tak diapresiasi positif?

Maka, saya pun mulai melirik Hap! Sebagai sebuah kecurigaan. Dan saya tak malu mesti menjilat ludah dan kebencian saya sendiri. Sajak-sajak sepi yang dihasilkan Andi memiliki pesonanya sendiri. Sajak-sajaknya yang menggoda, sederhana dan centil memberikan saya perspektif berbeda tentang proses kreatifitas sastra. Barangkali teks puisi tidak lagi dipikirkan secara berat melalui kertas dan pena dengan berkali kali improvisasi dan koreksi. Puisi bisa saja celotehan bosan di parkiran, atau mungkin ditulis kala bising pening di pesta-pesta.

Sapardi pernah menulis sajak berjudul Tuan yang terangkum dalam Perahu Kertas pada 1982. Sajak itu tertulis Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang ke luar. Sajak ini ditulis pendek, serupa haiku, tentu tanpa ketentuan perihal jumlah kata. Hal serupa juga pernah ditulis Joko Pinurbo dalam sajak Kepada Puisi pada 2003. Andi Gunawan tentu tidak membawa kebaruan, tapi bukan soal kebaruan atau perbedaan yang membuat sajak atau puisi menjadi berbeda dari satu penyair dan lainnya, melainkan bagaimana ia bicara perihal kegelisahaan si penyairnya.

Ada sekitar 69 puisi dalam buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian. Dikurasi dan dipilih secara ketat oleh Aan Mansyur, penulis dan sastrawan asal Makasar. Pembabakan yang terdiri dari Hap!, Air Susu Ibu dan Ia Tak Pernah Bepergian. Masing-masing babak memberikan nuansa, rasa dan tafsir yang berbeda-beda. Namun pada tiap puisi ada satu benang merah yang membuatnya menjadi satu ikatan yang sama. Kesederhanaan diksi dan juga aku liris yang mudah dipahami.

Membaca Hap! Adalah usaha memahami puisi sebagai parodi. Puisi Andi bekerja seperti usaha nakal menyindir. Ia mendekonstruksi pemahaman mapan puisi sebagai sesuatu yang sakral dan serius. Andi membongkar tabu puisi dengan menempatkan diri sendiri sebagai duta besar kegelisahan. Semisal pada sajak pakansi, Andi menulis Pada setiap hari minggu / aku membayangkan hangat dadamu / tempat berlibur dingin nadiku. Aku tidak lagi mengambil jarak dengan menjadikan sosok metaforis, tapi dengan keberanian ditunjukan sebagai satu sosok utama yang mencoba bangkit keluar.

Parodi adalah usaha untuk menjaga diri tetap waras. Jika dipadukan dengan puisi, maka parodi adalah sebuah diplomasi. Misalnya pada sajak Aku, Andi menulis peristiwa penciptaan yang sakral, menjadi sebuah usaha pencarian. Aku adalah anak / terlahir memecah katup / membaru di antara kutub-kutub / mencari jalan. Kita bisa melihat bahwa peristiwa kelahiran adalah hal yang haru namun juga muram. Andi seolah masih bertanya tentang mengapa ia dilahirkan, bertahun kemudian setelah ia dewasa.

Andi Gunawan memang sangat piawai menjahit kata-kata sederhana untuk dikemas menjadi megah dan penuh arti. Aan Mansur menyebut Andi sebagai penyair yang gelisah. Ia berisik namun menjadi begitu pendiam dihadapan sajak-sajaknya. Selain itu sebagai penulis karyanya tersebar dalam banyak kumpulan puisi seperti Merentang Pelukan, Elegi Anjing dan Antalogi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2012. Selain itu karyanya yang berbentuk cerpen juga tertuang dalam kumpulan cerita Pindah.

Lantas apa yang membuat buku puisi ini begitu penting untuk dibaca? Andi menjawab tantangan banyak sastrawan mapan hari ini, yang menduga sosial media dan internet membunuh estetika sastra. Andi yang seorang komik (pelaku stand up comedy) juga seorang pesohor media sosial. Ia kerap kali menjadikan twitter sebagai satu medan sastranya. Andi kerap membuat puisi-puisi yang indah, subtil dan sederhana dalam batasan 140 karakter.

Heru Kurniawan , Eksistensialisme Makna Karya Sastra, menuliskan bahwa pengertian makna konotasi-implisit pada bahasa emotif dalam karya sastra, dalam hal ini puisi, tidaklah sesederhana hanya bergerak pada wilayah semantik (internal teks) saja. Karena persoalan sastra bukan hanya mengacu pada dunia yang dikonstruksi oleh struktur puisi seperti diwacanakan oleh kaum strukturalisme atau persoalan intern bahasa, namun juga satu realitas yang lain.

Kebencian saya kepada sastrawan-sastrawan karbitan media sosial adalah kegagalan saya pribadi untuk membaca bahwa terkadang praktik sastra adalah "realitas imajiner" yang dikonstruksi sebagai refleksi "realitas masyarakat". Sehingga penciptaan karya sastra tidak wajib dan harus lahir dari satu lembaga sastra adiluhung serupa Utan Kayu atau Salihra, namun juga bisa lahir dari media sosial yang entah dari mana asalnya. Andi Gunawan adalah satu dari sedikit sekali penyair yang saya kenal dari media sosial, namun punya kualitas dan cita rasa estetik sastra yang otentik.

Pada puisi Epitaf misalnya, ia menuliskan peristiwa kenangan sebagai kegiatan yang lekat dan mesra. “Aku berhenti jadi pelupa, sejak kepalaku jadi batu. Di atasnya: namamu”. Sementara pada puisi berjudul Hap!, Andi menggali peristiwa sedih sebagai satu keberanian hidup. “Kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak.” Ada yang nakal dan main main, ia memainkan elegi sebagai komedi yang indah.

Tapi itulah yang membuat puisi menjadi menarik. Setiap bait dan kata yang ada harus dicurigai memiliki makna ganda. Maman S Mahayana dalam Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling menyebutkan perlu ada ketelitian dalam pilihan kata para penyair. Kita harus curiga dan skeptik perihal pilihan kata Andi Gunawan. Apakah kata-kata tersebut menegaskan satu peristiwa estetik, bebas makna hanya pada keindahan bunyi, atau sebagai peristiwa puitik, sebuah usaha untuk membalut peirstiwa dengan metafora.

Pada sajak Ode buat Pak Guru, sekali lagi parodi nakal ditunjukan sebagai sebuah peristiwa puitik yang komikal. Andi dengan cerdas bermain-main dengan kata untuk menciptakan imaji adegan. Sulit untuk tidak tersenyum pada sajak ini. Kemejamu basah celanaku gerah / berjalan kau ke almari dalam kamarmu / mengganti kemeja dengan pelukanku / yang tiba-tiba. Sajak ini sensual dalam kazanahnya sendiri, ia tidak cabul, namun memberikan sensasi genit yang sehat dan segar.

Puisi ini juga menjadi satu kanal bagi Andi Gunawan untuk membebaskan dirinya sendiri. Ia yang mengagumi sosok Subagio Sastrowardoyo, mengaku sulit untuk bisa berbaur dengan banyak orang. Ia hidup di mana norma dan kepatutan sosial menjadi penjara. Puisi adalah salah satu cara baginya untuk mengekspresikan diri dan berupaya menunjukan eksistensi diri. Dalam sajak Nasib ia berusaha untuk bercerita mengenai penjara yang ia tinggali, “Lampu kota dan aku adalah sepasang senasib, kedinginan dalam nyala yang harus.”

Puisi-puisi Andi yang pendek, dengan tendensi aku lirik, memang menjadi perhatian utama saya. Ia tidak memberi jarak antara perannya sebagai penyair dan perannya sebagai objek sajak. Andi tentu tidak sembarang mencipta puisi, ada yang berbeda dari gayanya menulis sajak. Seolah kegelisahaan dan kecemasan yang ia tulis lahir dari hidup yang getir. Dan memang sebagian inspirasi Andi lahir dari upaya menghadapi lingkungan yang terlalu bising. Andi menggali kegiatan keseharian sebagai tema utama puisi. Baginya hal yang dekat dan tak berjarak adalah puisi yang sangat indah untuk dimaknai.

Pada akhirnya saya harus mengakui, barang kali saya tidak adil menghakimi karya-karya sastra yang lahir dari sosial media. Andi toh terbukti mengobati kerinduan saya akan sajak yang intens membahas kesunyian, keterasingan, keramaian tanpa berteriak dan sederhana. Andi menulis sajak yang jauh dari dari narasi-narasi besar seperti tuhan, negara dan moralitas. Sajak sajak Andi adalah karib lama yang datang membawa pisang goreng dan bakso. Ia mungkin tidak baru, tidak haibat dan berbeda. Namun kita bisa menikmatinya dengan teh hangat, juga pelukan.
Profile Image for Euisry Noor.
150 reviews65 followers
April 11, 2015
Tak pandai aku menafsir puisi.
Adapun sebuncah kesedihan yang ruah kala membaca satu-dua puisi dalam buku ini barangkali hanyalah sebab aku membaca diri sendiri, menafsir kenangan-kenanganku sendiri yang mendadak menyeruak bersama rasa menghentak menyesak. Entahlah.

*
Aku adalah anak
terlahir memecah katup
membaur di antara kutub-kutub
mencari jalan.

-Aku, 2010 (Hap! hlm. 48)
*
Seebelum bertetangga dengan takut, aku berjalan tak peduli alas
kemana saja ke tempat-tempat yang disebut bahaya bagi sebaya;
main petak umpet melawan perut

Sebelum tahu usia ialah angka yang dapat dihitung, sebelum
mengenal pagar dan paku, tak ada aku menyimpan rencana dalam
kantung-kantung hitam di bawah mataku

Sebelum hangat tercipta oleh sentuhan oleh doa-doa yang berjatuhan,
tanganku bepergian sendiri, berlalri-lari manakala hujan berhenti
lantaran lelah sendiri

Aku ingin kembali ke taman itu. Aku ingin dipotret bersama Ibu
tanpa bingung memikirkan pigura, dinding, dan paku.

-Aku Tak Pergi ke Taman Kanak-kanak, 2011 (Hap! hlm. 49)
*
...
...
Pada suatu nanti, manakala namamu tak dapat berhenti dalam doa
yang kurapal, aku berterima kasih kepada alam. Putaran semesta telah
menempatkan aku dan engkau dalam dua pijakan di persimpangan.
Aku tahu aku bisa merusak peta yang kau cipta dan memberimu
kompas yang hanya menuju ke arahku, tetapi kemudian aku
memutuskan mengimani waktu.

-Murtad, 2011 (Hap! hlm. 53)
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
September 18, 2021
Awalnya saya beli ini krena mengira buku ini punya Gunawan Muhammad. Haha. Meskipun bukan, saya masih menikmati isinya tentu saja karena penyuntingnya Aan mansyur, salah satu penyair yang selalu saya sukai karyanya. Kembali ke bumu Hap, ada lebih dari 100 puisi dan sajak di buku ini yang mana terasa sunyi dan perih. Seakan penulis telah merasakan semua jenis kehilangan. Saya suka bagaimana dia menggunakn musim dan cuaca sebagai musuh juga suka dengan larik serta rima-nya yang bisa ditelan tidak hanya dibaca. Salut 😁
Profile Image for Fahrul Khakim.
Author 9 books98 followers
March 13, 2017
Pemilihan diksi-diksi yang sederhana cukup pas. Analoginya cukup cerdas. Namun saya kurang merasakan alusi-alusi yang bikin terngiang-ngiang. Tema cinta yang diangkat masih sama seperti kebanyakan buku puisi cinta.
Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
September 6, 2015
Sebetulnya, tidak terlalu menyukai puisi. Pokoknya, berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kesukaan saya membaca novel. Meski jelas kedua hal tersebut sama-sama ada di ranah sastra. Akan tetapi, harus diakui bahwa saya cukup menikmati puisi-puisi yang tersaji pada buku ini.

Beberapa teman saya berkata bahwa puisi-puisi di dalamnya (dalam bahasa “kekinian”) membuat mereka baper. Sementara itu, bagi saya pribadi beberapa puisi di dalamnya membuat saya sedikit banyak menyadari beberapa hal. Misalnya saja, sepenggal kalimat dari sajak berjudul“Suatu Subuh pada Hari Senin” yang berbunyi, “Duka selalu saja meneriaki diri sendiri tentang menjadi tabah, tanpa memberi arah.”

Adapula penggalan bait dari sajak berjudul “Pulang 2” yang berbunyi,
“Ada yang lebih jahat dibanding cuaca:
Tik-tok arloji dan isi kepala.”


Dan, dari puluhan puisi yang ada di dalamnya, yang menjadi favorit saya adalah “Doa Sebelum Tidur”. Kalau kalian bertanya, mengapa? Saya agak kesulitan untuk menjawabnya, yang pasti baca saja dan (mungkin) kalian akan tahu mengapa.

Satu hal pasti dalam buku ini adalah penggunaan bahasa yang “ringan” dan mudah dimengerti. Jadi, untuk kalian yang kurang memiliki minat atau ketertarikan terhadap puisi (seperti saya) tidak perlu takut untuk kesulitan dalam memahami.

Singkatnya, selamat membaca!
Profile Image for Tristanti Tri Wahyuni.
193 reviews6 followers
January 3, 2017

Buku pertama yang saya baca di tahun 2017. :D Saya suka membaca buku puisi, meskipun tak pandai menafsirkan puisi. Dan, kalau saya tak salah menerjemahkan, kesan yang saya dapat dari puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini adalah nggak jauh-jauh dari keresahan, jatuh cinta diam-diam, patah hati, juga perasaan sepi.

Aku tak pandai sendiri
Aku ganjil yang
ingin tergenapi
(hlm. 6)

Setidaknya ada tiga hal yang menurut saya menarik dari buku ini. Pertama, judulnya yang unik, "Hap!". Membacanya pun hanya sekali lahap langsung habis. Kedua, puisi-puisi dalam buku ini dikurasi oleh Aan Mansyur, yang memang sudah ahlinya dalam urusan puisi. Ketiga, puisi-puisi di dalam buku ini menggunakan bahasa yang sederhana tapi sangat mengena. Saya jadi ingat kata seorang kakak tingkat saya di kampus dulu. Lupa kalimat persisnya, tapi kurang lebih beliau berkata bahwa puisi itu tidak melulu tentang serangkaian diksi-diksi yang mendakik tinggi, akan tetapi bagaimana ia dapat menyentuh relung hati dan ruang imaji.

Kau patahkan hatiku berkali-kali
dan aku tak mengapa.
Hatiku ekor cicak.
(hlm. 35)

Oh ya, selain tiga hal di atas, cover buku ini juga unik sekali. Cover depannya bolong dan menampakkan bunga matahari dari bagian dalamnya. Iya, buku ini memang puitis dalam segala aspeknya.

Profile Image for Mervililiani Patandianan.
2 reviews
February 20, 2015
untuk penggemar puisi puisi level menengah seperti saya ini, buku andi gunawan cukup menawan. inilah buku kumpulan puisi yang pertama saya miliki *atau entah saya sudah punya sebelumnya saya lupa*
saya tipe orang yang akan membeli buku jika saya ingin membacanya berulang ulang nantinya, kalau menurut saya saya hanya akan meninggalkannya di rak buku, saya lebih memilih untuk duduk seharian di perpustakaan atau toko buku.

andi gunawan menggunakan baru setengah dari kemampuan terbaiknya. walau saya yakin puisi dalam buku ini benar benar bagus, tapi kedepannya saya ingin melihat lebih lagi *yailah saya demanding banget hahaha*
belum lihat koleksi puisinya yang lain sih
kalau aan mansyur ada yang sudah pernah? saya baru berencana untuk challenge 2015 saya sih.

satu hal lagi yang membuat saya bilang buku ini keren. teman saya yang ngga doyan baca buku malah mau beli buku ini. kata katanya sehari hari namun ga pasaran, bukan berarti ndak menjual, hey puisi itu bukan untuk dijual ngomong ngomong.
terakhir, inilah sebaris yang paling saya ingat dari buku ini,
"kau patahkan hatiku berkali kali, tak apa, hati ku ekor cicak"
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
June 6, 2018
"kau patahkan hatiku berkali-kali
dan aku tak mengapa
hatiku ekor cicak.
hap!"

Saya baru mengenal penulis buku ini ketika menjadi tamu MIWF 2014 lalu-ia tidak mengenal saya, jadi tak usah tanggapi. Membaca bukunya, ternyata sulit menemukan maknanya untuk diri saya sendiri. Saya cenderung lebih nyaman ketika menemukan kicauan @NDIGUN di timeline secara tak sengaja. Tetap saja tiga kesenangan saya dalam buku ini: Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri, Yang Lebih Manis dari Kau, dan Pelajaran yang Tak Pernah Kuselesaikan. Ketiga-tiganya, secara pribadi agak menonjol dalam penyampaian makna yang mudah dipahami.

Terima kasih, Ndigun. Terima kasih juga, Amalinafitrah yang mau membelikan buku ini sebagai hadiah ulang tahun yang sempat tertunda. ^^
Profile Image for Azhar Rijal Fadlillah.
35 reviews23 followers
October 14, 2014
[Puisi milik semua]
Andi Gunawan dalam buku ini berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Luka yang sangat-sangat gelap kadang bisa ditampilkan dengan segar dan ironis yang bikin geli. Ia (dengan malu-malu) mempertontonkan keresahannya, isi kepalanya yang kadang berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Satu hal yang paling saya ingat dari buku kumpulan puisi ini, bahwa dalam diri kita memang selalu menyimpan paradoks.
Profile Image for Falen Pratama.
1 review39 followers
November 16, 2014
Semesta pikiran Andi Gunawan membuat saya termenung atas kegelisahan tentang hidup baik itu cinta, sosial, bahkan keluarga.

Saya kagum dengan puisi-puisi Andi Gunawan, menginspirasi saya tergerak untuk menulis puisi dari kegelisahan. Bagian favorit saya adalah puisi "Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri"

Terus berkarya, mas Ndigun :)
Profile Image for Indrianra.
6 reviews15 followers
December 16, 2014
Buku kumpulan puisi ini bagus banget. Bercerita tentang kisah sehari-hari dengan bahasa puisi yang "ga ribet" dan sederhana. Puisi-puisi didalamnya dibagi menjadi tiga bagian, dan buat saya, yang paling menarik adalah bagian "Hap !". Ga rugi beli buku ini pokoknya, dibaca kapan saja tetap saja menarik dan mudah dimengerti. Like this, kasih 5 bintang deh :)
Profile Image for Denty P. Meilani.
14 reviews1 follower
June 25, 2016
"Kau patahkan hatiku berkali-kali. Dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak." -Hap! (2013, h.35)

"Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percayalah." (2012, h.30)

Puisi untuk semua, dari keresahan, cinta, rindu yang malu-malu dituangkan dengan bahasa yang tidak rumit melalui sajak-sajak sederhana yang mudah dicerna. Sejauh ini, kusuka sekali
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
April 4, 2016
Saya tidak merencanakan beli buku ini. Saya membelinya ketika di Gramedia Matraman ada buku2 harga diskonan. Saya baca, dan... sialan! Ini keren. Puisi-puisi AG tidak banyak kata bermutiara. Lugas dan mengagetkan. Bahkan lebih lugas daripada puisi SDD.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
May 23, 2016
HAP!
Kau patahkan hatiku berkali-kali
Dan aku tak mengapa.
Hatiku ekor cicak..

Buku kumpulan puisi ini lebih banyak bercerita tentang perasaan, pemikiran yang diselami sehari-hari oleh si penulis. Ringan dan dapat dengan mudah untuk dicerna.
Profile Image for Dyaz Afryanto.
28 reviews11 followers
August 4, 2014
Puisi-puisi yanag telah dikurasi oleh Aan Mansyur ini memang punya kualitas terbaik. Sajak-sajak yang menawan hasil ramuan Andi Gunawan. Puisi yang keren.. :D
Profile Image for Nisrina.
48 reviews14 followers
August 8, 2014
Buku ini berhasil membuat saya menjadi sok-sok puitis dan ikut-ikutan menulis puisi, padahal dibanding Andi Gunawan saya tidak ada apa-apanya.
Bagus dan bisa dibaca kapan saja.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 7, 2017
Bagi saya, kumpulan puisi ini termasuk pada jenis puisi liris yang mudah dipahami. Sejenis puisi remaja. Dengan membaca karya Andi Gunawan ini, pembaca dapat membayangkan isi kepala penulis, setidaknya bagi saya, melalui diksi dan frasa yang sangat manis dan tak perlu mengernyitkan dahi untuk menyelami maknanya. Jadi, bisa dikelompokkan ke dalam buku puisi yang diperuntukkan bagi penikmat puisi pemula.
Salah satu puisi yang saya suka,

Aku Ingin Segera Pulang

Saat tak ada lagi dendangan Ibu sebelum lelapku
saat hujan menghalangiku menemuimu
saat menu terbaik tersaji,
aku dan lilin saja di meja makan

2010
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.