NASIB Garda Kejora, remaja berusia sembilan belas, berubah drastis setelah sebuah kejadian supranatural menimpa dirinya. Tiba-tiba sebuah kekuatan super seperti para dewa Mahabarata merasuk ke dalam tubuhnya. Dewa yang bukan berasal dari bumi, namun dari luar angkasa nun jauh di sana, tepatnya di rasi Cassiopeia.
Kejadiannya berawal ketika Garda menjadi pemandu kemping ke Bromo bersama teman-temannya. Ia tengah bersama Revina, sahabat mesranya di kampus. Malam itu terjadi hujan meteor Perseids yang melewati belahan dunia termasuk kawasan Indonesia.
Mereka tidak menyadari bahwa ratusan cahaya aneh yang mendekat ke bumi telah menyebabkan hujan meteor itu. Meteor yang bergerak melewati jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire seperti bisa berpikir, seperti memiliki tujuan.
Garda membawa handycam demi merekam hujan meteor Perseids malam itu. Langit malam yang gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena dipenuhi cahaya dari hujan meteor yang mencengangkan. Ia tersadar meteor-meteor itu mengarah ketempatnya!
Garda berusaha melindungi Revina ketika berusaha menyelamatkan diri dari puluhan meteor yang menghantam bumi di sekitar mereka. Ia melompat ke atas motor trail. Namun, meteor itu mengejarnya dan berhasil menghantam dadanya.
Ketika Garda siuman, ia sudah berada di ruang UGD. Para dokter hendak mengeluarkan batu meteor berbentuk bintang di dadanya. Namun pisau bedah tak mampu melukainya. Ia pun berusaha membebaskan diri. Ia tidak sengaja merusak pegangan pintu besi. Ia heran saat merasakan kekuatan super dalam tubuhnya.
Garda melihat batu kristal hitam yang tertanam di dadanya. Api merah terlihat menyala di dalam kristal itu.
Di kampus, Garda menemukan perubahan pada teman-temannya yang ikut kemping ke Bromo. Revina tiba-tiba memiliki kekuatan dan hendak menangkap Garda dengan panah berapinya.Namun Garda berhasil lolos.
Garda berusaha memecahkan misteri kekuatan yang berada dalam dirinya. Ia bertemu dengan teman dan lawan baru yang memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya, bahkan ada yang jauh lebih kuat darinya, namun bukan superhero jika tidak berusaha bukan?
Bisakah Garda mengendalikan kekuatan maha dahsyat dewata dalam tubuhnya? Mampukah ia melindungi orang-orang yang disayanginya?
Saya ingin menegaskan beberapa hal sebelum mulai mengulas.
Satu, di sepanjang ulasan ini saya akan menyebut diri "saya," bukan "saia," seperti biasa. Pasalnya, saya tidak berminat berdebat karena alasan, "Gimana sih ini orang? Nulis 'saya' aja masih typo, gimana mau bikin ulasan benar?" Sekalipun selama ini niat saya memakai 'saia' bukanlah karena saya nggak paham EYD. Saya sengaja salah eja dalam semua ulasan agar saya nggak kelihatan seperti pilkunnussija alias comma fuckers.
Dua, saya tidak punya dendam atau "pasti sentimen" kepada orang tertentu. Saya menyelidiki beberapa rumor dan melihat beberapa hal menarik di media sosial. Saya kira ini bisa menjadi bahan riset dan catatan yang menarik mengenai sikap pengarang terhadap pembaca. Jadi saya tergelitik untuk melakukan eksperimen sosial.
Tiga, saya ingin sekaligus mencari jawaban atas pertanyaan, "apa sah penulis menuding pembaca keliru karena telah membaca dan mengulas bukunya 'dengan tidak benar,' apalagi sampai menyampaikan tudingannya di media sosial?"
Omong-omong, tudingan itu kebetulan saya screenshot. Nggak saya taruh disini karena saya nggak berniat memfasilitasi cyberbullying. Tapi kalau pada perkembangannya nanti itu diperlukan, saya bisa melakukannya.
Intinya, untuk menjawab tudingan "mengulas dengan tidak benar" itu, saya akan bereksperimen. Caranya, saya akan menulis ulasan ini dengan berkonsultasi dengan kolega-kolega saya yang memang punya keahlian di bidang desain grafis, kedokteran, maupun pengetahuan keseluruhan tentang super hero. Sekalipun yang bersangkutan tidak suka Spawn. Dengan begitu ulasannya paling nggak adil secara substansi, kan? Hehehe.
Setelah itu kita lihat. Bagus ataukah jelek ulasan mereka? Apakah saya masih memenuhi syarat dituduh sentimen? Apakah saya masih salah karena nggak bisa bikin karya sebagus si penulis, mengingat yang terakhir itu sebetulnya saya anggap tantangan yang sah . . . dengan catatan si pengulas adalah penulis juga, bukan pembaca murni?
Narasumber saya:
Narasumber B: Praktisi desain komunikasi visual. Narasumber M: Fans komik, manga, anime dan game entah Jepang atau Barat. Programmer game cupu2 bahagia; terima kerjaan bantuin bikin tugas akhir/tesis game. Narasumber D: Fans media Jepang dan spesialis baca kilat novel, penerjemah komik penerbit nasional. Narasumber P: Fans literatur barat, terutama yang gelap-gelap. Narasumber W: Pembaca jujur dengan pengetahuan tak terduga. Narasumber R: Arsitek beneran, sekaligus Penerjemah novel romans dari penerbit nasional. Narasumber O: Dokter beneran.
Kualifikasi dan/atau narasumber lain akan diperbaharui/ditambahkan seiring preferensi narasumber dan kemunculannya. ^^
Baiklah. Mari kita mulai dengan reading progress.
Reading Progress dah kelar. Kita mulai ulasan komplitnya.
Saya memuji sedikitnya dua hal dari buku ini. Pertama, gaya bahasanya secara keseluruhan nggak berbunga-bunga dan gampang diikuti, meski nggak luar biasa juga. Kadang-kadang penulis melesapkan subyek atau kata ganti atau kata keterangan pada saat itu sebetulnya lebih baik tidak dilesapkan. Saia pahami niatnya adalah untuk bikin kalimat itu jadi dramatis atau untuk menghindari pengulangan kata dalam satu paragraf. Namun, hasilnya malah entah kalimat itu jadi monoton, atau membingungkan.
Kedua, buku ini menghindari aspek yang biasanya paling bikin saya gemas kalau baca fiksi fantasi lokal: konsep dan plotnya lumayan jelas. Penulis jelas punya konsep, dan pada dasarnya ngerti bagaimana mengejawantahkan konsep itu ke dalam plot cerita. Alhasil secara keseluruhan ceritanya lumayan believable.
Saya sangat bisa menerima kalau tokoh-tokoh mitologi macamnya Gatotkaca sekeluarga itu ternyata adalah alien berkemampuan super. Atau bahwa mereka datang ke bumi lewat meteor. Atau bahwa Konta itu adalah senjata dari peradaban ekstraterestrial, dan bahwa setiap peradaban di Bumi mengadaptasi kisah para alien itu ke dalam mitologi mereka masing-masing.
Plotnya juga nggak terlalu banyak muter-muter. Yang terjadi apa, jelas. Dan setelah A terjadi, B terjadi, dan seterusnya. Jadi paling nggak ceritanya mudah dipahami.
Tapi kalau dilihat lebih dalam, banyak penerapannya yang bermasalah. Raksasa setinggi 20 meter bisa masuk auditorium dan ruang kelas, misalnya. Bagaimana caranya? 20 meter itu nggak kecil.
Menurut para narasumber saya, 20 meter itu kira-kira segini:
Narasumber M yang kebetulan menggemari Shingeki no Kyojin sempat menginspirasi saya untuk berpikir kalau para raksasa ini ada kelasnya. Ada yang gede dan ada yang kecil. Tapi di buku, nggak ada penjelasan ke arah ini.
Lalu soal Konta dan cinta. Di bagian-bagian awal Antares dikasih Konta sama para raksasa yang memburu Gakasha, karena senjata itu bisa menembus apa saja dan di mitosnya, Gatotkaca pun mati karena Konta. Tapi kemudian disebut kalau Gakasha itu cuma bisa mati karena cinta manusia. Cara bunuh Gakasha yang bener yang mana jadinya? Konta apa cinta? Kalau Konta, ngapain si Karen bilang "Kau cuma bisa mati karena cinta?" Kalau cinta, ngapain para raksasa repot-repot pakai Antares dan tombaknya? Atau apa dua-duanya bisa?
Yang paling sering bikin saya mukapalem adalah karakter-karakternya. Bagi banyak orang, karakter itu adalah sesuatu yang make or break the story. Alias, karakter itu menentukan apakah mereka suka ceritanya atau nggak.
Saya bukan termasuk tipe orang tergantung karakter. Tapi tetap saja kalau membaca saya mengharapkan agar saya bisa sedikit bersimpati sama satu-dua tokoh di dalamnya. Kalau bukan tokoh utama, ya tokoh sampinganlah.
Di sini, saya nggak menemukan tokoh yang enak dikasih simpati. Tokoh utamanya ini mengidap gejala Author's Pet taraf sedang. Pertama, narasi memberi dia informed attribute "humoris dan berbakat kepemimpinan." Tapi semua humornya dia salah situasi. Atau lebih kacau lagi, kedengaran seperti bad pick-up line.
Bakat kepemimpinannya juga nggak tampak. Sepanjang cerita Tokoh Utama tidak memimpin siapa-siapa. Apalagi, ketika hujan meteor terjadi dia malah memberi instruksi yang tidak intuitif kepada teman-temannya. ("Jangan mencar!")
Kedua, narasi cerita menyanjung si tokoh utama secara malu tapi mau, seperti sudah saya sebut di salah satu reading progress di halaman 5. Narasi menyebut kalau tokoh utama tidak suka penampilannya, tapi dalam kenyataannya dia ditaksir perempuan kiri-kanan. Penokohan ini jujur bikin gemas. Kira-kira seperti orang yang merendah dengan bilang, "Ah enggak, saya miskin kok," tapi ngomongnya sambil duduk di belakang kemudi Ferrari.
Bagian Tokoh Utama ditaksir banyak perempuan ini juga nggak cocok dengan "kematian karena cinta" yang saya sebut sebelumnya. Kalau Gakasha itu alergi cinta manusia sementara si tokoh utama itu chick magnet, seharusnya mereka berdua sudah mati sekarang karena banyaknya cewek yang mencintai Tokoh Utama. Narasumber B bahkan bilang ke saya, "Kalau Gakasha cuma bisa mati karena cinta manusia, seharusnya dia menghindari Bumi dong, di mana ada begitu banyak manusia yang bisa mencintai dia?" Damn right.
Lalu tokoh sampingan. Ada tiga tokoh sampingan penting di cerita ini, semuanya perempuan. Revina digambarkan sebagai cewek populer kampus. Gaby adalah pejuang dari klan Angela. Dan Nova adalah seorang kutu buku.
Tapi make karakter stok pun barangkali masih bisa, asalkan nggak dangkal. Masalahnya, karakterisasi mereka nggak beranjak dari penggambaran kulit masing-masing stereotipe. Narasi dan dialog menunjukkan kepopuleran/kepejuangan/kekutubukuan ketiga tokoh ini melalui satu atau dua indikator, tanpa indikator lain di luar itu yang bisa memberikan kedalaman.
Kadang malah penggambarannya kembali pakai informed attribute. Gimana bikin Revina kelihatan seperti cewek populer? Dengan bikin dia diomongin cowok dan kecanduan sosmed. Gimana bikin Gaby kelihatan seperti penjuang? Dengan terus-menerus bikin dia bilang, "Saya penjuang klan Angela." Gimana bikin Nova kelihatan kutu buku? Dengan terus-menerus bikin dia memuja-muji buku dan ngambil peran sebagai Ms. Exposition.
Copyright Masami Kurumada/Toei Animation
Selain itu, tiga sifat lain mereka sama, yaitu 1. Naksir Tokoh Utama 2. Cemburuan sama perempuan lain yang naksir Tokoh Utama dan 3. Mencemaskan berat badan.
Copyright Masami Kurumada/Toei Animation
Srsly. Memangnya perempuan cuma peduli sama tiga hal ini ya?
Karakterisasi ini makin bermasalah karena beberapa celetukan berbau seksis--atau sedikitnya makin sotoy soal perempuan--di narasi, seperti, "Perempuan tidak suka dibandingkan dengan perempuan lain." Lha, semua orang juga tidak suka dibanding-bandingkan. Atau, "Perempuan bisa menyembunyikan rasa cintanya tapi tidak rasa cemburunya." Aduh. Seriusan ini? Apa alasannya penulis bisa menyimpulkan seperti ini? Atau, psikolog mana yang bilang gini?
Puncaknya, bagi saya, adalah ketika ada satu karakter perempuan yang bilang, "Aku masih belajar mengendalikan kekuatan apiku. Yah, misalnya agar nggak membakar pakaian dalamku--eh, ups!"
Art by Masami Kurumada
Masalah saya yang paling buntut, dunia Garda ini tampaknya penuh dengan profesi abal. Ada dokter abal yang mau operasi buang obyek di dada pakai anestesi lokal/main skalpel seenaknya. Ada polisi-polisi yang deduksinya meragukan. Ada juga intel yang reaksi pertamanya saat menemukan informasi penting adalah membocorkan informasi itu ke negara lain.
Yang paling membingungkan adalah ketika saya menyadari kalau Tokoh Utama pada dasarnya kerasukan Gatotkaca. Namun, dia terus-menerus mengeluh tiap kali harus menggendong perempuan dengan berat badan yang saya asumsikan standar (48-65an kg). Gatotkaca yang otot kawat tulang besi ngeluh ngangkat beban maksimal 65 kg? (Okelah, 2 x 65 kg di bab-bab terakhir, but still.)
Itu mungkin maksudnya bercanda. Tapi terus-terusan bercanda soal "keberatan ngangkat cewek" bikin saya menangkap kesan lain. Sepertinya Tokoh Utama benar-benar kesulitan menggendong beban yang seharusnya nggak seberapa untuk seorang GATOTKACA. Jangan-jangan Gatotkacanya abal juga ini?
*tarik napas*
Ijinkan saya duduk sejenak untuk menenangkan diri. Saya janji ini tidak akan makan waktu lama. Saya selalu cepat tenang, seberapapun *tidak biasanya* buku yang saya baca. Toh ini bulan puasa di mana kesabaran semua orang diuji. Lagipula pada dasarnya saya adalah manusia yang sangat sabar dan sangat berpendidikan.
Ahem. Tolong sebelum lanjut baca itu spoiler tag ditutup dulu, makasih. Saya tahu saya cakep, tapi nggak usah dilihatin teruslah.
Saya biasa ngasih 3 bintang untuk novel-novel yang paling nggak plot dan konsepnya jelas. Namun, saya punya masalah dengan penggambaran dan penokohan karakter-karakter di sini. Secara khusus dengan tokoh perempuan. Juga, dengan beberapa detail yang sepertinya menyanjung tokoh utama banget. Tingkat mengusiknya nggak setinggi beberapa novel lain yang saya pernah baca, tapi tetap saja bikin saya mukapalem beruntun.
Akhirnya saya kasih 2,6 deh. Bulatin ke bawah karena sewaktu saya selesai mengulas, nilai rata-ratanya masih kisaran 3,77.
Mungkin setelah ini saya tinggal melihat hasil eksperimen dengan melihat respons orang-orang yang membaca ulasan ini. Mungkin nanti terbukti kalau saya cuma sentimen dan tidak cukup berpendidikan. Atau mungkin benar ini cuma ulasan ngayal yang tidak berpijak pada bukunya, dan ditulis memakai selera yang tidak berdasar. ["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Garda ... judulnya agak mirip-mirip kata ‘Garuda’ – wahana Batara Wisnu dalam mitos Hindu dan wayang :D . Judulnya pendek dan covernya lumayan menarik hati.
Tapi hal yang bikin saya tertarik beli buku ini adalah post gambar-gambarnya Mas Ahmad di Fantasy World Indonesia. Sudah lama sekali sejak saya terakhir kali tertarik baca yang namanya fiksi-fantasi lokal bersettingkan Indonesia. Novel fikfan karya anak bangsa bersetting Indonesia terakhir yang berkesan di hati saya adalah
dan
Selain itu ... belum ada lagi novel yang bisa bikin saya ‘bergairah’ dan ‘bangga’ pada tulisan anak negeri yang bersettingkan Nusantara. Memang ada novel Vandaria, Shangri-La, dan Ther Melian yang ‘memikat hati’, tapi itu settingnya itu kan bukan di Nusantara.
Jadi saya punya ekspetasi besar pada novel ini. Saya tadinya berharap bisa menemukan narasi dan konflik yang setara dengan
Atau
Atau
Awal-awalnya sih keren. Tapi begitu sampai separuh novel saya jadi kecewa baca gaya narasinya. Kenapa?
Karena gaya bahasa Mas Ahmad di novel ini adalah gaya bahasa yang saya sebut sekilas-sekilas. Hal ini bisa ditemui di beberapa bagian novel seperti : • Di halaman 58. Berkaitan dengan sepeda motornya Gaby. Kemudian sebuah sepeda motor mendarat dari atas udara ke jalan di samping trotoar. Sepeda motor berwarna silver metalik yang bentuknya belum pernah Garda lihat. . Seperti apa bentuknya? Apa seperti swoop di seri Star Wars? Kayak gini : kah ? Ada knalpotnya atau tidak? Bentuk depannya meruncing atau kayak motor gede biasa hanya melayang di permukaan tanah?
• Di halaman 99 diceritakan tentang seorang polisi hutan bernama Antares ditempeli batu meteor dan dipaksa mengabdi untuk kepentingan bangsa Azura. Sayangnya tidak dideskripsikan konflik batin yang dialami Antares. Saya yakin seorang yang dipaksa melakukan sesuatu di luar kehendaknya, sedikit banyak akan melawan, meski cuma dalam pikirannya semata. Sayangnya hal itu tidak dideskripsikan pengarang.
• Di halaman 142 : Tiba-tiba teman-teman Revina mengepung Garda. Mereka melompat dari pilar langit-langit ruang auditorium. Irawan dan beberapa temannya yang ikut ke Bromo berada di antara mereka.
Selama ini mereka bersembunyi di atap auditorium! Menunggu saat yang tepat untuk menangkapnya. Namun mereka bukan lawan raksasa yang merasuki tubuh Garda. Mereka bukan lawan Gakasha. Namun jika Garda tidak dapat bergerak, mereka akan lebih mudah meringkusnya. Begitulah taktik licik bangsa raksasa Azura.
^Gaya berceritanya mirip gaya berceritanya R.A. Kosasih lewat komik Mahabaratha dan beberapa dalang modern yang ‘mendalang’ lewat novel. Gaya bercerita yang tidak cocok dengan selera saya karena terlalu ‘tell’ bukan ‘show’. Saya sebagai pembaca lebih suka menyaksikan bahwa Garda lebih kuat daripada raksasa lain lewat aksinya, bukan karena diberitahu pengarang. Saya lebih suka mengetahui Raksasa itu licik dari deskripsi tindakan dan jalan pikiran mereka, bukan karena diberitahu pengarang juga.
• Di halaman 178, seorang polisi saat itu menunjukkan foto Garda dan seorang gadis yang kabur dari rumah. Itu fotonya siapa? Revina atau Nova? Kalau orang lain kok nggak dideskripsikan wajahnya kayak apa?
Itu masih ditambah dengan dialog-dialog yang agak tidak pas seperti :
• Di halaman 111 :
Tubuh Garda kembali menyusut ke wujud semula. Kesadarannya perlahan terkumpul kembali. Napas dan degup jantungnya kembali normal. Otot dan tulangnya yang kembali bertransformasi. Untunglah tubuhnya cukup kuat.
Kenapa tidak :
Tubuh Garda kembali menyusut ke wujud semula. Kesadarannya perlahan terkumpul kembali. Napas dan degup jantungnya kembali normal. Otot dan tulangnya yang kembali bertransformasi (menjadi wujud manusia). Untunglah tubuhnya cukup kuat. ?
• Di halaman. 125-126 : “Hei Gar! Jangan melamun!” Seorang temannya yang sedang bermain basket selepas jam mata kuliah. “Ayo main! Lempar ke mari!”
Garda melempar kembali bola basket ke arah temannya. Lembaran biasa, hanya menggunakan separuh kekuatannya. Temannya berusaha menangkapnya, tapi bola basket meluncur cepat hingga mendorong tubuh temannya beberapa meter. Bunyi berdebuk terdengar ketika temannya terjatuh di atas lantai beton. Bergegas Garda berlari hendak menolong temannya. Ia tidak menyangka akan mencelakakan temannya sendiri.
“Kamu nggak apa-apa?” Garda menyodorkan tangannya hendak membantu temannya bangkit.
Namun temannya menepis tangannya, “Dasar orang aneh!”
Apakah hubungan Garda dan temannya ini kayak Flash Thompson – Peter Parker, di mana Flash Thompson suka sekali membully Peter Parker? Rasanya tidak. Garda cowok macho yang nggak gampang dibully. Dan katanya Garda sering main basket kan? Berarti harusnya temannya ini akrab dengan Garda kan? Terus kenapa reaksi temannya seperti itu? Kenapa nggak : o “Kenapa kamu Bro? Ada masalah kah?” Atau o “Sori Bro, aku nggak tahu kalau kamu lagi kesal.”
• Di halaman 155 Antares berkata : “Nggak sia-sia tombak listrik berada di tanganku. Karena hanya dapat digunakan satu kali, maka keberhasilanku nggak dapat ditunda lagi.”
• Halaman 159 : “.... . Sebentar lagi aku akan memanggil Finnix. Teman seperjalananku. Tunggulah!”
Tapi Gaby sendiri menyatakan bahwa Finnix adalah sub-klan dari Azura yang membantu bangsa Angela. Hal ini membuat saya jadi agak ... bingung. Mana ejaannya nggak selalu ‘finnix’ lagi. Kadang burung ini disebut ‘phoenix’ di beberapa dialog. Saya jadi ingat ‘tegurannya’ Momod Usil alias Magdalena ke saya untuk masalah ini, beliau menyarankan pakai feniks atau foniks saja daripada phoenix. Hehehehe.
• Halaman Hal. 202 Dialognya Gaby agak aneh. Garda : “Aku kira kau kesepian .... .” Gaby : “Teman-temanku? Mereka gak kembali setelah perang Badura.”
Ada beberapa yang lain tapi saya rasa contoh-contoh di atas cukup mewakili.
Lalu ada beberapa benda yang mulanya hilang terus muncul kembali di saat-saat tertentu seperti : • Motor trailnya Garda Di halaman 9 dikatakan : Di acara itu, Garda yang memimpin rombongan ke Bromo. Garda sengaja memilih rute yang berbeda untuk menantang adrenalin. Garda juga menyewakan rombongan sebuah jip hardtop. Sementara, Garda masih setia mengendarai motor trailnya. Ia sudah tiga kali menjelajah Bromo menggunakan motor trail, kadang seorang diri. Karena hanya di tempat luas dirinya bisa melajukan sepeda motornya melaju di atas angin. Berada di tempat luas seorang diri membuat Garda lebih tenang. Dengan begitu, ia dapat dengan segera melupakan semua masalahnya.
Sepeda motor ini slip di Bromo saat Garda dikejar meteor dan diserang segerombolan musuh. Setelah itu Garda diangkut ke RS Lavalette Malang, tapi tahu-tahu saja di halaman 75 muncul kalimat :
Garda mengeluarkan sepeda motor trailnya. Siang itu, arus kendaraan di kota Malang makin padat apalagi saat jam sibuk.
Serasa memainkan game sandbox Saudara-Saudara! Motor yang ditinggal di Bromo tahu-tahu balik ke garasi kontrakannya Garda >.< . Memang user Mahasufi mengatakan bahwa di Bromo ada rental motor trail tapi sampai akhir bab satu saya nggak menemukan kalimat / kata yang menyatakan bahwa ini sepeda motor sewaan. (Dan saya ga pernah ke Bromo, jadi mana saya tahu? :v )
• Jaket pemberiannya Gaby Garda masih pakai jaket dari Gaby di halaman 104. Tapi di ilustrasi halaman 110, dia sudah telanjang dada tanpa jaket. Plus di halaman 209 dikatakan Garda melepas jaketnya supaya tidak terbakar??? Ini jaketnya yang pertama hilang atau bagaimana sih? Saya juga tidak menemukan keterangan bahwa jaket ini berubah jadi zirah macam Spawn di halaman-halaman 104-110? Saya baru nemuin keterangan itu di bagian-bagian akhir novel. Jadi ... ah ... sudahlah.
Kemudian soal tokoh-tokoh yang berinteraksi dengan si Garda. Tokoh-tokoh cowoknya nggak ada yang berkesan. Bahkan lawan utamanya Garda, Antares, kok pas dikalahkan nyaris tidak melakukan perlawanan yang berarti . Adegan ini ada di halaman 191-192:
Garda menahan napas ketika membawa tubuh Antares jauh ke dasar laut. Di dalam laut kekuatan Antares dan Garda berkurang separuh. Garda memberi tanda kepada duyung-duyung untuk menembakkan panah es ke tubuh Antares. Panah es berhasil membekukan tubuh Antares di dasar laut. Lalu Garda mengikat tangan dan kaki Antares ke karang di dasar laut.
Kemudian setelah Antares tidak berdaya, Garda mengeluarkan batu meteor yang berada di lengan Antares. Setelah Antares tak sadarkan diri, Garda kembali membawa tubuh Antares ke permukaan. Ia menyeret tubuh Antares yang sudah lemas keluar dari pantai ke pesisir pantai.
Oke jadi ... dari pantai ke pesisir pantai? Rasanya agak kurang cocok tapi tak apalah. Tapi adegan pencabutan meteornya itu lho! Masa Antares nggak meronta, memukul, menendang atau mencoba mencolok mata Garda atau mencoba mencekiknya saat Garda mencoba membelenggu tangan Antares? Kemudian bala bantuan untuk Garda kok rasanya ... BUANYAAAAKKK!!! Jadi kekuatan dan kehebatan Garda nyaris tak terlihat.
Setelah Antares sadar dialognya juga aneh banget menurut saya.
Di halaman 193, dikisahkan Antares siuman, lalu bertanya ini di mana, Garda balik nanya tempat asal Antares. Antares jawab Krakatau terus akhirnya Antares mau pulang ke Krakatau naik kendaraan umum dan terjadi dialog : “Kamu tidak ikut naik?” tanya Antares kepada Garda, “Oya, aku Antares.” “Aku Garda. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan.” “Baiklah, sampai jumpa! Jaga dirimu baik-baik!” “Ya, kamu juga, berhati-hatilah di Krakatau.” “Kamu juga berhati-hatilah.” ^^^^^ Kenalannya telat Saudara-Saudara! Dan yang bikin saya bertanya-tanya lebih lanjut apa si Antares ini nggak kena nausea (mual) atau kram otot hebat pasca dirasuki makhluk raksasa seperti itu? Tapi mungkin saja dia punya fisik setangguh tentara komando (Kopassus, Jala Mangkara, Kopaskha dsb.) jadi ya sudahlah. Pertanyaan kedua saya ... Antares bawa duit yang cukup buat pulang ke Krakatau ya waktu dirasuki Raksasa? >.<
Adegan pertarungan seperti ini juga terulang saat Garda mencabut meteor dari dahi Revina.
Lalu Garda ini juga sangat Gary Stu. Soalnya dideskripsikan bahwa yang suka sama Garda itu : • Via (Revina) • Nova • Cewek-cewek di kampus Garda • Salah satu duyung. Plus katanya Garda rela berkorban untuk keselamatan bangsanya dan bangsa lain. Sayangnya ungkapan perasaan ‘rela’ ini serasa tanpa konflik yang berarti. Nggak ada deskripsi yang lebih jelas soal suasana hati Garda, atau mungkin pengulangan fakta-fakta kehidupannya yang lalu yang mendasari keputusannya ini. Diceritakan sekilas begitu saja lalu cerita jalan terus. Gary Stu nggak masalah, asal jalan pikirannya dijabarkan supaya kita sebagai pembaca betul-betul merasakan ‘menjadi Garda’.
Oke beranjak ke soal penamaan. Menamai suatu ras itu memang hak prerogatifnya pengarang dan saya pun setuju soal itu. Tapi kalau pembaca yang satu ini boleh ‘urun angan’, namanya agak susah dihafal.
Awalnya dugaan saya ini namanya berakar dari legenda Zoroasterisme. Ternyata tidak. Penamaannya digabung dari bahasa berakar Yunani dan Latin (Phoenix dan Angela), Zoroaster (Azura Mada <= Ahura Mazda mungkin?), Vedaisme (Senjata Gada, Konta Wijaya), Norwegia dan Greenland (Kraken). Ada pula penamaan yang nggak saya mengerti akar bahasanya seperti Gakasha dan Badura. Campur-campur seperti ini sih nggak masalah sebenarnya tapi saya pribadi jadi bingung karena kadang Ras Azura disebut Raksasa, kadang Azura, kadang Dewa, dsb.
Tapi buku ini juga punya kelebihan di mata saya yakni : • Keberanian pengarang untuk ambil setting fiksi-fantasi di Nusantara. Sesuatu yang jarang mau dilakukan pengarang fikfan lainnya. • Ide superheronya boleh juga. Zirahnya Garda memang agak mirip zirahnya Antareja atau Gatotkaca dan gadanya mirip punya Baladewa atau Bratasena tapi saya rasa nggak ada masalah dengan itu. Soalnya jarang ada superhero / protagonis novel fikfan yang senjatanya bukan pedang >.< . *Bosen ngelihat pedang terus, hehe.* • Ilustrasi kover dan bagian dalamnya keren. Shadingnya bagus, dan saya angkat jempol untuk ilustrasinya.
Akhir kata .... saya memberi : • 1 bintang untuk ide ceritanya yang berani bereksperimen dengan setting Nusantara. • 1 bintang untuk ilustrasi cover dan ilustrasi per-babnya yang lumayan keren. Total 2 bintang.
Kesimpulan : Apakah buku ini menghibur Manik? Lumayan.
Apakah buku ini membuat Manik berpikir? Sangat, tapi bukan dibuat berpikir oleh kata-kata yang bisa dijadikan quote melainkan oleh dialog antar karakter yang kadang-kadang ambigu dan terasa aneh.
Apakah buku ini membuat Manik takjub? Tidak, atau tepatnya belum.
Sejujurnya, awalnya saya cukup berharap sama buku ini. Gambarnya oke. Sayangnya, HANYA gambar, karena desain covernya - termasuk font dan peletakan sub-judul - kurang oke. Kalau ini semua berdiri satu-satu, mungkin oke. Tapi 1+1 tidak harus jadi 2, setidaknya dalam kasus ini.
Mengenai isi... Sama saja. Terlepas plotnya jelas dan 'rapih', terlalu banyak faktor yang bikin saya nggak menyukai buku ini. Masalah selera, tentu saja. Dan simply, buku ini tidak masuk sama sekali ke kategori 'oke' bagi saya.
Buku ini termasuk style light novel bagi saya, dalam artian kisahnya 'ringan' (bukan dalam arti negatif), dan ada gambar-gambar sebagai 'asisten bercerita'. Masalahnya, gambar-gambar yang menghiasi buku ini... Just... NO. Saya jujur aja, saya nggak bisa menggambar. Tapi dalam kasus Garda, setelah diberi cover yang gambarnya indah, kenapa di dalam buku kita malah diberi gambar nggak seperti ini!? Menurut info terpercaya, si pengarang terpaksa menggambar sendiri karena masalah waktu dan kuota halaman. Tapi, sebagai yang sudah beli, saya kecewa banget tentang gambar ini.
Karakter, yang notable hanyalah Garda karena yang lain benar-benar terlihat tidak penting. Dan sebagai tokoh utama, Garda adalah tipe mainstream (ganteng, bodi oke, baik, masa lalu sedih). Masalahnya, yang bersangkutan tahu banget dia punya semua ciri itu, dan BANGGA dengannya. Setidaknya narasi mendukung hal itu. Jadi, alih-alih menarik hati, karakter ini malah termasuk tipe 'minta ditonjok' bagi saya.
Karakter pendukung... Saya sudah bilang tidak penting, kan? Mereka cuma terkesan ada untuk meramaikan, dan menambah kesan "Garda itu tokoh utama keren" bagi pembaca. Sekian.
Satu lagi yang terasa kurang pas di sini adalah dialog-dialognya. Banyak yang terkesan salah tempat, dimaksudkan melucu, tapi malah jatuh ke 'norak' atau 'tidak peka'. Dan beberapa sangat terlihat seksis. Ini nilai minus gede bagi saya.
Singkatnya; Ide awal tidak jelek, tapi eksekusi sangat tidak pas.
Saya menemukan buku ini di lemari cici. Karena sampulnya yang bagus, saya ingin coba membacanya. Di Goodreads, review akan buku ini sangat positif, mengingat banyaknya pembaca yang beri lima bintang. Hoo, tapi apa ini? Pembaca-pembaca yang kasih 5 bintang kok namanya tematik pake rasi bintang kemudian tanggal kasih ratingnya kok pada sama?
Whoa, what the f---
Kesannya bagi saya ada seseorang yang sengaja memberi buku ini bintang 5 karena insecurity kalau-kalau ada pembaca asli yang kasih kurang dari 5 bintang?
Authornya pula review buku sendiri dan kasih lima bintang. Saya tidak keberatan dengan ini, karena wajar dalam bagi tiap author yang sudah bersusah payah membuat buku, masa menilai bukunya sendiri sebagai tidak sempurna? Cuman, ini review apa promosi ya? Bukunya sendiri udah di-puji-puji di bagian sinopsis, ini malah ada pameran galeri yang jelas ga berhubungan sama review buku.
Menurut review-review tinggi, isi nya seperti Transformer, I am Number Four, Saint Seiya, Percy Jackson, Thor, dll. Nah, apakah benar bukunya memiliki standar harapan setinggi ini? Biarkan saya memberi anda petunjuk:
Sejujurnya saya ingin review mendalam, tetapi sudah ada review lain yang mendalam dan menarik. Setidaknya cerita ini ada endingnya, jadi tidak dapat bintang satu.
PS: Soal kloningan di atas, saya tak tahan untuk membuat image berikut:
(17-07-2014) Eh iya loh, konsepnya keren. (Dari sinopsisnya sih.) Tapi kalo eksekusinya payah (seperti yang para reviewer-reviewer jujur itu katakan), hmmm.....baca gak ya.
Ya, entar kalo kebetulan nemu saya beli deh.
(01-08-2014) Udah selesai baca ini, tapi nanti dulu deh, review-nya. Lagi males buka laptop.
Percayalah, saya sangat ingin memberi bintang lebih dari ini. Tiga, atau minimal dua deh. Tapi serius, melihat "general rating" yang sudah tinggi dan melihat BETAPA BANYAKNYA reviewer murah hati yang memberikan 5 bintang, saya mengurungkan niat saya.
[UPDATE: iseng buka lagi review ini dan ternyata semua "reviewer baik hati baik budiman" itu sudah tiada, saya naikin deh ratingnya. Ckckck, saya memang murah hati lagi murah senyum...]
Beberapa hari sebelum saya mudik ke Lampung, kebetulan saya pergi ke mall dekat rumah. Sama sekali tidak ada niatan ke toko buku apalagi buat beli buku ini. Tiba-tiba adek saya ngajak ke Gramedia. Saya (awalnya) nolak karena malas dan miskin. Tapi entah kenapa, magically this novel popped into my mind! Rite, I was destined to read this Holy Book. Saya yang awalnya ogah jadi bersemangat dan langsung ngesot (tidak secara harfiah) ke Gramed.
Susah loh, nemuin buku ini di sana. Gramedia Lippo Karawaci.Yes, Mr. Writer, you can sue them. Soalnya GARDA gak ada di deretan novel fantasi lain, macam: Wicked Lovely, The Last Olympian, atau bahkan --> The Journey Tebak di mana saya menemukan GARDA. Di gardu listrik depan rumah deretan buku detektif macam Sherlock, Lupin & Me: The Dark Lady: 1
Wah, wah. Kok nyasarnya jauh ya? Apakah kovernya sebegitu menyesatkan? Apakah para pegawai Gramedia itu tidak tahu kalo Mr. Writer bisa menuntut mereka di pengadilan???
Oh ya, sebelum saya lupa, soal kover. Saya bukan desainer grafis dan saya bukan ahli gambar atau sejenisnya, tapi saya punya selera. Dan kover novel ini: GAK AJA (bukan gak banget loh)
Kebanyakan subjudul, tau gak. Mending pilih satu deh. Mau Ksatria dari Cassiopeia(which is bad, really really bad, and I don't recommend this) atau Perebutan Kristal Langit(which is slightly better than the other one)???
Dan, sejujurnya, setelah saya perhatikan, muka Garda (kalo emang itu yang di kover Garda, sih) rada bencong cantik ya. Untunglah ternyata ada Garda versi ganteng -->
Saya tahu sebenernya gak guna juga saya nulis review ini, karena:
1. Tulisan ini akan tertimbun oleh entah "reviewer baik budiman" yang mana lagi, dan/atau 2. Apa yang saya tulis ini sebagian besar mungkin sudah diutarakan oleh "reviewer jujur" lainnya.
But, ya, I'll write it anyway.
Saya akan memulai review ini dengan kalimat keren (saking kerennya ini udah di-quote gak tau berapa kali sama reviewer lain) dari GARDA (halaman 7):
"Hey, bukankah perempuan paling nggak suka kalau disamakan dengan perempuan lain."
Yes, Mr. Writer, you're absolutely correct. Dan, kalau begitu, bolehkah saya menyimpulkan bahwa makhluk lain selain perempuan suka (atau minimal tidak-tidak-suka) "disamakan"?
Dengan begitu sah-sah saja kalau saya "menyamakan" (saya lebih suka istilah membandingkan, sih) GARDA dengan barang lain:
[dimulai dari yang diklaim "reviewer baik budiman" mirip GARDA]
1. The Lightning Thief Terus terang saya gak baca novel ini (karena malas), tapi saya nonton filmnya, (iya film sama buku emang beda, saya tahu, tapi inti ceritanya gak akan berubah banyak kan, meski detailnya bisa saja diubah) dan menurut saya, kesamaan GARDA dengan [barang no. 1] adalah: TIDAK ADA. Eh, ada deh. Ada, iya, ada. Sama-sama memuat kata "Demigod" Yeah, rite, that's it. (Dan, mungkin saja mengandung kata-kata lain yang sama kan, karena saya gak baca novelnya.) Sebenernya bisa aja sih saya suruh temen saya yang udah baca semua seri Percy Jackson buat baca GARDA, terus saya tanyain persamaan keduanya apa. Tapi, ya, saya takut menambah beban psikis Mr. Writer, atau yang lebih parahnya, saya takut dia bakal mempertanyakan persabahatan kami karena saya kok tega banget nyuruh dia baca buku beginian.
2. I Am Number Four Kalau yang ini saya nonton filmnya DAN baca bukunya (meski gak selesai). Believe me, itu bukan buku yang bagus. Tapi ya karena gak bagus itu jadi lebih mirip GARDA sih, dibanding Percy Jackson. Jadi, kesamaan GARDA dan IANF adalah: * Tokoh utamanya sama-sama nyebelin dan sama-sama ngawang (serius, bahkan sampe tengah buku saya belom bisa meraba Garda ini "orangnya gimana") * Sama-sama ada aliennya. Iya. Gitu. Sebenernya sih ada satu poin lagi, tapi saya rasa ini lebih mirip ngopi-plek daripada mirip: alien-alien itu sama-sama suka mampir ke Bumi dan sama-sama menganggap peradaban mereka lebih maju, jadi mereka murah hati gitu deh bantuin kita. :V
4. Thor, Vol. 1 Jelas saya gak baca komiknya tapi tentu saya nonton filmnya. AAAAAAAAAA!!!!!! LOKIIIIII!!!!!! <3 <3 <3 Dan jelas juga tidak ada satu kesamaan pun yang bisa saya temukan dari keduanya. Tidak ada. Tidak satu persen pun.
[selanjutnya ini pembanding pilihan saya sendiri]
5. Sven Ini buku yang lumayan. (Bisa cek review saya di kamar sebelah.) Banyak loh, kesamaannya: * Sama-sama saya baca pas mudik Lebaran * Judulnya sama-sama pake nama main hero **yeay** Tapi ada juga perbedaan yang sangat mendasar: * Penulis SVEN mungkin kurang pandai mencari konsep aduhai-keren-banget-bombastis-paling-oke-sejagad tapi she can write. * Mr. Writer, he can write juga sih, but in a terrible different way.
6. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu Saya gak tau kenapa pengen banget bandingin GARDA sama buku ini. Meski jatohnya jadi gak apple-to-apple ya biarin aja ya. Suka-suka saya kan. *disambit* Persamaan: * Sama-sama saya baca pas mudik Lebaran (sekali lagi muncul buku yang sama-sama dibaca pas mudik, rumah saya bisa disamperin dan dilempar petasan) * Sama-sama saya beli di Gramedia Lippo Karawaci, pada waktu yang bersamaan Perbedaan: * Saya beli HKYTBLLAHM karena saya langsung jatuh cinta baca judulnya dan jatuh cinta semakin dalam pas baca satu cerpen di dalamnya yang berjudul "Paskah" * Saya beli GARDA karena hype-nya di Goodreads. Yes, because of the hype.
[yang terakhir ini menurut saya paling adil sebagai pembanding]
7. The Elf's Kingdom & The Journey(ada buku ketiganya tapi saya terjebak dalam eternal galauness karena saya gak yakin itu bagus dan kalo mau beli cuma bisa pesen langsung ke penulisnya jadi saya gak bisa diem-diem aja gitu) Anyway, kenapa adil? Becoz: * Sama-sama fantasi lokal * Sama-sama saya rate satu bintang (The Journey doank sih) * Sama-sama (dalam beberapa bagian) bikin saya frustrasi Tapi, pembedanya adalah: * Gak ada quote aneh (yang akan saya jabarkan di bawah dan boleh dibaca kalo belom muak) di Icylandar. (Ya, meski memang ada beberapa kalimat norak sih.) * Tokoh Icylandar lebih banyak (saya gak bisa memastikan itu jatohnya lebih bagus apa lebih jelek) dan meskipun tidak ada tokoh yang menyenangkan, paling enggak gak gitu ngawang kayak si Garda dkk ini. * Worldbuilding Icylandar agak lebih dapet (meski memang sih, setting GARDA ya di Bumi aja, di pulau Jawa pula) * Ilustrasi icylandar jaaaauuuuhhhh lebih bagus [just sayin']
Dah, bubar, bubar ~
Sekarang saya akan bahas novel ini sendiri. moga sisa karakternya masih cukup ya
1. Konsep (****) Not bad, not bad at all. Walaupun, yeah, gak baru juga ya. Gak papa sih. Saya bukan termasuk pembaca yang menggemari konsep baru atau konsep "original" atau konsep grande-grande-gimana-gitu kok. Saya suka konsep yang keren (agak sulit mendeskripsikan keren saya), dan yap, menurut saya konsep GARDA keren. Tapi, sekali lagi, konsep-keren-eksekusi-payah adalah steak dengan tampilan kotoran sapi. (Wow, ekstrim ya simile pilihan saya?)
2. Alur (***) Ada beberapa bolongnya sih, tapi sebelum saya baca ini saya udah meyakinkan diri saya bahwa lubang apa pun yang saya temui adalah ilusi dan saya harus lanjut terus baca ini sampe tamat no matter what. Jadi, ya ... the plot is okay for me.
3. Karakter (**) Saya sukkaaa banget sama semua nama tokoh lelaki di sini (Garda, Ananta, Antares) tapi saya bencciii banget sama semua nama tokoh perempuan di sini (Revina, Gaby, Nova, kecuali Karen karena nama belakangnya rada bagusan, haha). Hum, saya mau bahas tokohnya satu-satu tapi takut dosa :( Gak papa deh dosa dikit aja.
3.1. Garda Kejora (Ada ilustrasinya, jadi begitulah bayangan fisik Garda di otak saya. Which is emang begitu gambaran main hero pada umumnya ya: cakep, tinggi, gagah, bla bla bla...) Di depan dibilang kalo Garda ini "humoris dan berjiwa pemimpin" (damn, gw udah bolak-balik itu buku sampe pegel tetep gak nemu halaman mana!) tapi humornya iyuh banget dan kalo saya ketawa pas baca itu bukan karena ada yang lucu, tapi ketawa miris. Selain itu Garda gak ada bau kepemimpinannya sama sekali, karena sepanjang alur dia cuma ho-oh sama semua rencana Gaby dan oke-oke aja diatur & diperintah. Kalo saya jadi Mr. Writer, Garda gak bakal saya buat terlalu diminati cewek-cewek dan saya akan buat dia juga lebih menghargai dirinya (tapi tentu aja gak narsis-najis) dengan TIDAK-tidak-menyukai segala karunia Tuhan yang ada pada dirinya. (Karena jujur aja I find it annoying as hell.) Dan dan daaann, kalo emang Garda ini harus dibikin humoris, gak bakal saya bikin dia nyeletuk norak dan merendahkan perempuan. (Including dia gak akan banyak bacot soal si A B C yang berat pas digendong, karena Garda ini udah 3x ngomong gitu ke 3 perempuan berbeda dalam 3 kesempatan berbeda. Right.) Tapi kan saya bukan Mr. Writer, saya hanya pembaca jelata.
3.2. Revina Corona Namanya jelek banget. Saya langsung pukulin buku ini ke kepala saya begitu baca namanya. God, gak ada nama lain apa yaaa. Mana nama panggilannya "Via" aneh banget, lagi. Kelakuan Revina (saya beneran gak mau manggil dia Via, titik!) di awal bener-bener ngeselin abis. Emang itu tujuannya kali ya. Supaya pembaca salut sama kesabaran Garda. :V Saya malah lebih suka sama dia pas udah dirasukin Karen Lezalel karena prilakunya jadi lebih ... entahlah, menyenangkan? Revina dalam bayangan saya kurang lebih gini: Iya, itu emang Yukiko Amagi yang di Persona 4. Gak tau kenapa kebayangnya malah gitu. *disambit sama fanboy Yukiko*
3.3. Nova Spica Gak mau komentar apa-apa soal dia. Saya cuma gak ngerti kenapa dia bisa suka Garda. Plis, masih banyak lelaki lain di kampus kan. Gak harus Garda! GOD. Garda bahkan baru ajak lu ngomong pas dia ada kebutuhan, sebelumnya lu gak lebih dari daun kering di pekarangan kampus. **oke lebay** Dalam bayangan saya, Nova itu... EH. MAAP, SALAH. Lebih tepatnya kayak gini: Atau boleh lah dua-duanya, yang atas pas dia udah dirasukin Phoenix dan dibilang "hot" sama Garda.
3.4. Gaby Mikaila Iya, saya ngerti namanya itu gabungan dari 2 Archangel: Gabriel & Michael, dan yes, dia kebetulan dari bangsa Angela dan punya delapan sayap putih dan sangat cantik lagi seksi. Tapi bisa kan nama depannya gak usah Gaby dan nama belakangnya gak usah Mikaila ~ ~ Atau panggil aja Mika instead of Gaby, that will sound a lot better, really. Dah ah, males bahas Gaby. Kabbuuurrr... /'o'/~~/'o'/~~ Setuju sama Mbak/Mas Reineke, saya juga gak bisa mikir wujud lain Gaby selain:
3.5. Antares Kalo saya harus milih tokoh paling gak-buruk dari deretan tokoh-tokoh buruk di GARDA, saya pilih dia. Beneran. Satu hal yang sangat disayangkan: dia "mati" cepet.
3.6. Ananta (Gak pernah dijelasin tokohnya, cuma disebut namanya, dan kedudukannya sebagai Kakak Garda.) Tapi namanya bagus banget dan tadinya saya mau kasih nama anak saya Ananta. :((( Gara-gara ini saya harus pikir ulang nama baru.
[akhirnya selesai juga! punggung saya udah mau patah.]
4. Eksekusi (*)(termasuk gaya bercerita, penggunaan majas, pilihan kata, pembentukan frasa, penyusunan paragraf, dan narasinya secara keseluruhan) Jadi jeleknya GARDA numpuk di sini? Iya!
Di awal banyak banget diksi jelek yang bikin saya hampir nyerah :'''( Ya, semacam: "Revina respek sama Garda karena berkat dia, kariernya bisa bersinar." "Revina seperti hendak mengatakan sesuatu tapi nggak jadi." Tapi yah, untungnya batas kesabaran saya udah dinaikin, jadi bisa lanjut baca deh.
Sisanya ya gitu deh. Banyak dialog gak nyambung dan/atau norak-jijay. Narasi yang plis-itu-gak-pantes-ada-di-situ-ya juga banyak. Udah dibahas semua kan sama "reviewer jujur" lain di tempat ini. Saya bahas yang lain aja ya?
Ini ada momen-momen Lebaran seru bersama GARDA:eh ini literally loh, soalnya saya baca GARDA pas malam takbiran
"Nova melirik tajam ke arah Garda. Perempuan bisa menyembunyikan rasa cintanya, tapi tidak rasa cemburunya." (halaman 176)
"Wah.. Via. Kamu berat juga ya." (halaman 17) "Lenganku kram nih! Kalian berat juga ternyata!" (halaman 182) "Kurus-kurus begini kamu berat juga ya?" (halaman 198)
"Aku masih belajar mengendalikan kekuatan apiku. Yah, misalnya agar nggak membakar pakaian dalamku—eh, ups!" (halaman 183) EH, UPS!
"Bagaimana kalau kita berenang dulu di pantai ini? Pasti menyenangkan berenang bersama kalian berdua." ... "Kamu nggak pernah dihajar dua cewek cantik ya?" "Ingin lihat bangsa Angela marah?" (halaman 221)
"Tolong nyalakan api unggunnya." "Pakai tembakan api dari dadaku?" (halaman 201-202, ini adegan favorit adek saya loh!)
[dan akhirnya saya sampai pada...] KESIMPULAN Katanya ini trilogi ya? Saya mau banget loh baca yang kedua. :3
BONUS ROUND Dear Mr. Writer, I am very sorry for this humiliation or whatever you call it blunt review. I just want you to know that, hey, apa pun yang saya tulis di sini juga demi kemajuan GARDA, dan yang terpenting kemajuan diri Anda sendiri.
Iya, saya tahu saya emang (most of the time) sotoy, tapi saya jelas tahu mana tulisan bagus dan mana yang bukan. Semua pembaca juga tahu, dan hal itu sangat tersmat subjektif, meski kadang kala serupa.
Dan ... ya, saya juga tahu (mengutip kata-kata Anda) menulis novel itu tidak gampang apalagi menerbitkannya. But, hello, that's not the point.
Poinnya adalah, kalau Anda sudah punya buku beredar di publik, buku itu milik publik. Anda boleh bela (walau itu tidak akan mengubah apa pun) tapi secara fair. Anda boleh sedih, marah, kecewa, tapi ya dalam hati saja.
NB: yang di kesimpulan itu bukan sarkas, saya emang nungguin yang kedua, dan, yes, saya berharap segalanya membaik. (atau kalo enggak ya saya gak keberatan bikin review kayak gini lagi)
==================== Waktu penulisan review: 4 jam 30 menit Jatah karakter tersisa: 2980 [Iya, ini rekor saya, dan iya, punggung saya kayaknya udah retak tuh.]["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Cerita dimulai dgn Gakasha, raksasa terbuang dr planet Aress yg sdg menatap sosok manusia yg dirasukinya dlm cermin, memikirkan kematian & senjata yg dpt membunuhnya. Lalu kita dibawa dlm perjalanan meteor yg saling berkejaran hingga sampai ke bumi.
Pindah ke protagonis kita, Garda Kejora yg sdg berada Bromo u/ melihat hujan meteor.
Garda menggoda Revina Korona, cewek yg menyukainya. Kemudian dia merasa diamati sesuatu yg terlihat spt burung raksasa di atasnya, tp yg ada pikirannya adalah Revina yg mirip dgn almarhum pacarnya di SMA.
OK, let’s dismiss the fact that it’s night and the only source of light is camp fire, jd bagaimana Garda bisa melihat burung raksasa? HOW THE HELL CAN YOU JUST DISMISS THE GIANT BIRD FROM YOUR MIND AND INSTEAD THINKING ABOUT GIRLS?
Garda merekam hujan meteor sampai meteor2 itu akan menghantam Bromo. Dia menyeret Revina u/ melarikan diri. Tp jip hancur dihantam meteor. Garda mengendarai motor trailnya membonceng Revina u/ lari meninggalkan teman2nya.
Garda sadar kalau salah 1 meteor yg jatuh mengejarnya. Garda menurunkan Revina di semak2 & menenangkan Revina yg menangis supaya bersembunyi sblm kembali meloncat naik ke motor trailnya.
Dan layaknya meteor yg gentleman spt musuh2 dlm Kamen Rider yg menunggu Hero-nya henshin dgn sabar, meteor menunggu pasangan ini bertukar janji.
Garda meninggalkan Revina tanpa menoleh saat Revina memanggil namanya. Padahal saat itu meteor yg mengejar menghantam Revina & membunuhnya.
…no? OK, that’s just my hopeful wish. Back on the track, then.
Garda menghindari meteor sampai tdk bisa melarikan diri lg, dia berbalik & berusaha mengajak bicara meteor itu. Tanpa menjawab, meteor itu menghantam dada Garda & terbenam di sana. Sayangnya, Garda tetap hidup.
Cerita pindah ke jagawana di Krakatau yg menjelajah bersenjatakan tombak krn dia cinta tanaman sehingga tdk bawa parang/golok u/ membuka jalan. Walau penjagaan ditingkatkan krn aksi pencurian hewan hewan langka & ada raksasa 20m yg dilihatnya tadi pagi, dgn PD dia pergi sendirian.
Dia menemukan bekas meteor jatuh & jasad rekan2nya yg hangus. Si jagawana dikagetkan o/ raksasa yg turun dr langit. Dgn sok jagoan, si jagawana melemparkan tombaknya menyerang raksasa.
Anyway, akal sehatnya akhirnya kembali & dia melarikan diri. Saat berlari dia merasa takut krn tdk mengerti apa yg dihadapinya. Which is… kinda LATE… about 4 paragraphs? Remember the lance, dude?
Si jagawana terperangkap & raksasa menanamkan meteor di lengannya. Nama jagawana itu Antares.
Pindah lg ke detektif yg dipanggil krn ada meteor jatuh di Krakatau & meninggalkan kematian misterius. Which makes me wonder about LAPAN? Knp meteor jatuh diurus detektif? Memangnya tdk perlu sterilisasi u/ radiasi/kontaminasi dr luar angkasa?
Balik ke Garda yg sadar di tengah lautan pasir. Dia melihat ceruk2 berbagai ukuran serta ilalang & rumput liat yg menghitam, melewatkan puluhan raksasa berukuran 20-15m yg terkapar, menyangka itu ilalang yg terbakar. … how? Don’t ask me.
Garda kembali tak sadar. Saat sadar, dia disambut tim penolong yg mengangkatnya ke tandu & membiusnya dgn saputangan berobat bius. How profesional this paramedic wannabe??
Garda dibawa ke RS Lavelette, Malang. Dokter bedah berusaha mengoperasi Garda dgn anestesi lokal di perut, krn gagal dia mengiris dada Garda dgn skapel. Sudah siap dituntut malpraktek, ya, Dok? Ikut asuransi malpraktek yg premi brp memangnya?
Garda melarikan diri sementara perawat jaga cuek saja melihatnya berkeliaran dgn telanjang dada, penuh jelaga, & penampilan kusut. Stlh 15 menit jalan2 santai, akhirnya ada jg 2 sekuriti yg langsung mengejar dgn gerakan slow motion.
Well, entah itu/lorong itu panjang sekali krn yg ngejar blm sampai sementara Garda mengagumi cewek serba putih yg muncul di ujung lorong sampai hampir menabrak pilar lorong lalu mengikuti cewek itu.
Di lapangan parkir yg jg tdk dijaga, cewek itu memberikan jaket pelindung u/ Garda lalu mengajak Garda meloncati pagar teralis RS. Walau Garda merasa mustahil meloncati pagar tinggi itu, dia meloncat jg padahal dia bisa memanjatnya. Climbing is not cool, bro. NOT COOL!!
Si cewek memboncengi Garda naik sepeda motor terbang ke rumah kontrakan Garda dgn bbrp temannya. Si cewek pergi stlh mengatakan dia adalah pelindung Garda.
Pagi selanjutnya, berita ttg meteor jatuh ada di TV. Tp tdk ada berita ttg korban. Kakak Garda di Surabaya menelepon menanyakan kabar Garda. Garda bercerita dia baru berkemah di Bromo.
Errr… Kakak Garda gak nonton TV? Meteor jatuh itu harusnya berita nasional, masa dia tdk tahu?!
And I won’t even mention how Garda is so selfish? Kuliah di Malang krn lbh sejuk? Biaya kos bisa dipakai u/ hal lain, kan, bisa dipakai u/ yg lain!
Garda memeriksa pesan dr Revina lalu menelepon Revina yg diterima o/ ibu Revina. Ibu Revina mengatakan kalau Revina lupa LAGI membawa ponselnya padahal Garda tahu Revina tdk pernah lepas dr ponselnya.
Garda pergi ke kampus mengenakan jaket pelindung. Di jalan, dia melihat jembatan yg sdg diperbaiki runtuh. Tdk heran, 1 jalur ditutup u/ parkir bbrp kendaraan berisi alat berat sementara jalur 1-nya dilewati truk sarat muatan, bus perusahaan penuh penumpang, dll.
Garda menyelamatkan penumpang mobil yg tercebur ke sungai. Stlh berhasil, Garda ditemui cewek bermotor terbang.
Di kampus, Garda bertemu Irawan, yg ikut ke Bromo dgnnya. Irawan bertingkah seakan tdk terjadi apa2 di Bromo. Saat Garda mendesak, dia melihat kilatan aneh di mata Irawan. Garda mencari Revina di auditorium & dipaksa ikut drama teater sebagai Gatot Kaca.
Malam itu pemuda yg sdg melukis dinding kelas ditangkap o/ sebuah jemari raksasa yg masuk ke dlm lewat jendela.
WTF! Tinggi raksasa itu 15-20m! Tinggi langit2 kelas itu max 3m! Bagaimana bisa muat?! Dan jangan berpikiran langit2nya lbh tinggi. Ada alasan tinggi lantai bangunan rata2 3,5m, kecuali mau uang bangunan kuliahnya ratusan juta!
Anyway, raksasa itu merebut pecahan meteor dr betis si pemuda. Mayatnya ditemukan o/ sekuriti yg datang dgn lari slow motionnya membuat si raksasa sempat merangkak keluar dr jendela stlh meletakkan mayat di meja.
Paginya 2 lelaki berjaket hitam meminta Garda ikut ke kantor polisi. Garda setuju u/ ikut. Saat Garda mengganti pakaian, cewek serba putih yg bernama Gaby Mikaila meminta Garda mengenakan jaket pemberiannya krn jaket itu bisa melindunginya dr raksasa. Tanpa ragu, Garda langsung mengenakan jaket sblm pergi dgn polisi.
Di mobil, polisi mengatakan dia tahu Garda kabur dr RS & semua teman2 Garda di Bromo tewas terbakar. Dia diperlihatkan foto Gunardi, yg jg ikut ke Bromo, sdh menjadi mayat dgn betis hangus terbakar di kelas.
Wait, WAIT! Katanya teman2 Garda tewas terbakar di Bromo. Skrg ada mayat salah 1 dr mrk ada di kelas kampus. Berarti ada 2 mayat orang yg sama!
Mobil diserang raksasa yg langsung membawa terbang mobil itu. Garda berubah wujud lalu membelah mobil itu dgn cakarnya dr dlm. Stlh bertukar hinaan, Garda menghindari serangan raksasa dgn turun ke atas pohon. Garda kehilangan kekuatan u/ melayang yg td digunakannya saat bertukar hinaan & takut terperosok ke di tebing dgn sungai deras di bawahnya.
Garda terbang melarikan diri dgn bantuan Gaby. Gaby kembali memperkenalkan diri sebagai pejuang dr bangsa Angela, klan Gabrill dr planet Aress. Yg ada dlm tubuh Garda adalah Gakasha, raksasa yg dibuat bangsa Angela u/ melawan bangsa Azura.
Gaby menyarankan bersembunyi sampai bertemu teman yg lain. Garda menolak mendengarkan nasihat Gaby & kembali ke kampus keesokan harinya.
Di kelas, Garda diberitahu kalau kuliah dibatalkan krn ada kematian misterius. Kenapa kampus tdk ditutup & tdk ada polisi yg berjaga?
Pembicaraan Garda ttg pembunuhan itu disela Nova Spica, teman sekelasnya yg kutu buku. Nova Spica ternyata tahu banyak ttg hujan meteor yg terjadi.
Garda menemui Gaby di langit di atas gedung kampus. Gaby bercerita ttg bangsa Angela yg cinta damai & sejarah bangsa Azura. Knp bangsa Angela yg cinta damai membuat Gakasha yg senjata perang…?
Gaby memperingatkan Garda u/ berhati2 pada Revina yg memiliki kekuatan panah api.
Di auditorium, Garda ditunggu Revina yg membawa busur tanpa anak panahnya. Garda langsung bersiap2 berlatih. Dude, baru saja diperingatkan soal Revina!! Like…3 pages ago.
Revina aka Karen Lezazel, menyerang Garda dgn panah apinya & mengatakan Revina sdh tiada. Teman2nya yg sebagian jg ikut ke Bromo, membantu stlh sblmnya bersembunyi di atap auditorium.
Mrk berubah menjadi raksasa dlm auditorium yg mengherankannya tdk jebol. I mean, katanya tinggi mrk 15-20m = gedung 5-6 lantai. Tinggi auditorium kampus normalnya 2 lantai. Apa atapnya tdk jebol ya?
Garda kembali diselamatkan o/ Gaby yg masuk lewat jendela krn pintu dijaga. Dia lalu terbang keluar dr jendela auditorium sementara raksasa tertahan krn tdk muat melewati jendela. Badan gede tp otot & otak gak ada!!!
Auditorium kampus yg rusak dilaporkan terjadi krn meteor jatuh. Kerusakan yg terjadi hanya pd kaca jendela & tembok yg terkena pecahan meteor. Masa meteor jatuh kerusakan hanya segitu!
Sementara melarikan diri, Gaby menceritakan kalau Gakasha minta diturunkan ke bumi krn menyesal telah menghabisi bangsanya sendiri dlm kemarahan. Dia takut kekuatannya yg tdk terkendali akan menghancurkan bangsa Angela.
Tiba2 ponsel Garda berdering. Telepon itu mengabarkan kalau raksasa menuntut Garda menyerahkan diri sebagai ganti Nova dilepaskan. Hubungan Garda & Nova bs dibilang hampir non-existant pd saat itu. Knp raksasa bisa dgn PD-nya menyandera Nova?
Garda menyerahkan diri. Antares menyerang Garda dgn tombak listrik yg disembunyikan di balik awan. Kristal langit di dada Garda terlepas stlh dihantam tombak listrik. Gaby yg sdg memegangi Nova tdk bisa berbuat apa2, hanya dpt menyaksikan jantung Garda berhenti berdetak.
Gaby menangis & berubah wujud menjadi… ANGEWOMAN!!!
Lalu dia bernyanyi…
Nova tersadar mendengar nyanyian itu. Melihat Garda yg jatuh & Gaby yg berubah wujud. Dia ikut menangis. Rupanya Nova tahu seluruh kejadian selama ini entah dr mana krn dia tdk kaget menyadari dirinya sdg terbang dipegangi Angewoman Gaby. That/kaca mata kudanya cuma melihat Garda yg jatuh.
Garda bertemu dgn Gakasha dlm dunia mimpi. Saat Garda siuman, batu meteor yg dilepaskan Antares sdh kembali ke dadanya. Di langit dia melihat burung phoenix raksasa & Angewoman Gaby dlm wujud aslinya sementara para raksasa terbakar tp tdk bisa mati.
Mrk pergi ke Bromo yg entah knp tdk dijaga LAPAN/polisi walau baru bbrp hari berselang ada meteor jatuh. Sayangnya mrk tdk menemukan handycam yg dicari.
Well, anyway, handycam itu ditemukan o/ polisi yg langsung mempublikasikan isinya, tanpa mempertimbangkan kepanikan massal yg bs terjadi…
Batu meteor yg ditemukan ternyata adalah jenis logam baru yg lbh keras & ringan dari Titanium. Dan krn para polisi ini murah hati, mrk berniat menyebarkan logam itu ke negara2 lain, tanpa mempedulikan itu mungkin adalah rahasia negara.
Back to grup Garda yg skrg ada di perpustakaan, mencari cara membunuh raksasa. Lalu siaran berita di TV menunjukkan rekaman handycam Garda & peringatan ttg orang2 mencurigakan.
Gaby langsung mengajak mrk meninggalkan Malang sblm membahayakan orang lain. Nova berpamitan akan pergi piknik dgn teman2 pada orangtuanya.
Mrk pergi setelah mampir di swalayan u/ membeli barang2 u/ menyamarkan penampilan & persediaan bekal tanpa membayar. Thanks to Gaby’s mesmerism. And no thanks for teaching people not to pay their purchase.
Mrk bertemu pemeriksaan kendaraan yg keluar kota o/ polisi. Gaby menggunakan hipnotisnya pd polisi. Mrk ketahuan krn ternyata mobil yg mrk gunakan adalah curian. Gaby mengebut sampai akhirnya terperangkap.
Garda terbang dlm mobil sehingga mobil ikut terbawa terbang & berniat mencari pulau u/ tempat berlatih. Di perjalanan mrk diserang Antares.
Gaby mengajak Nova ke tempat persembunyian. Mrk meninggalkan Garda & Gaby melemparkan leontinnya ke laut u/ memanggil bantuan.
Terus knp Gaby harus mengajak Nova kabur? Knp Gaby tdk memanggil bantuan sementara Nova membantu Garda? Knp Gaby & Nova tdk langsung membantu Garda stlh Gaby melemparkan leontinnya?
WHY?!
Garda bertarung melawan Antares. Garda sempat menyelamatkan perahu nelayan yg terhantam bola api Antares dgn membawanya ke pesisir pantai. Pada satu kesempatan Garda berhasil menjatuhkan Antares yg takut air ke dlm laut. Tp bantuan Antares tiba berupa puluhan raksasa dr gunung berapi yg masih aktif di dlm laut.
Raksasa yg ini punya fitur waterproof kali, ya, sampe berani turun di gunung bawah laut.
Garda kembali terdesak. Saat Garda di ujung tombak (literally & metaphorically), puluhan duyung muncul dgn panah es. Mrk melumpuhkan para raksasa. Garda menangkap Antares lalu membawanya ke dasar laut. Para duyung membekukan Antares dgn panah es. Garda mengikat Antares yg membeku di karang dasar laut, menunggu Antares tdk berdaya, lalu mengeluarkan meteor di tangan Antares.
I won’t even mention whatever Garda use to tie Antares come out of nowhere. Why don’t you just tear off the meteor while Antares IS frozen instead of wasting time tying him, waiting him weaken, and FINALLY tear of the meteor?
Stlh Antares tdk sadarkan diri, Garda membawanya ke permukaan, menyeretnya ke pantai, lalu mencairkan es yg membekukan Antares. Antares yg kebingungan diantar Garda ke jalan di pinggir pantai u/ menghentikan kendaraan umum kembali ke Krakatau.
Don’t mind that Antares is without ID or money to pay the bus fare… Ada jalanan di pinggir pantai, tp tdk ada yg sadar Garda & Antares main petasan & kembang api skala besar di laut?! Knp nelayan di perahu yg diselamatkan Garda jg tdk melapor?!
Garda mencari Gaby & Nova yg minggat entah ke mana stlh memanggil bantuan. What a jerk!! Krn tdk ketemu, Garda memutuskan kembali ke kampus u/ membebaskan teman2nya dr batu meteor.
Whaaaat? DUDE, kau lari dr kampus menghindari para raksasa di sana & datang ke sini u/ berlatih menghadapi mrk!! Dan skrg kau mau balik lg ke kampus?!
Sementara itu Gaby & Nova sibuk mencari tempat persembunyian, melupakan Garda. Mrk bertemu Revina yg menyatakan kalau dia merasakan Garda sdh mati tp masih menanyakan keberadaan Garda & curiga Garda yg tidak bersama mrk adalah taktik.
Mrk beradu mulut sampai kemarahan Nova membuat kekuatannya hampir meledak. Revina melarikan diri sementara Gaby berusaha meredakan amarah phoenix dgn panah esnya. Di saat genting, Garda menyelamatkan keadaan dgn menyambar tubuh Nova jauh ke atas langit.
Lho, bukannya Garda mau menyerahkan nyawa dgn balik ke kampus? Kok batal?
Stlh kekuatan Nova meledak dgn aman, Mrk menemukan sebuah pulau. Di sana mrk beristirahat. Gaby mengeluarkan barang2 dr swalayan, termasuk: matras, kantung tidur, & selimut… Kantung tidur dijual di swalayan?
Selama empat hari Garda & Nova berlatih dibantu para duyung. Sampai Revina datang membawa gurita raksasa peliharaannya, Kraken u/ menyerang mrk
Bagaimana raksasa yg elemen api & takut air punya peliharaan gurita?!
Sulur2 Kraken menangkap para duyung & meremukkan mrk. Garda melawan Kraken, merasa khawatir pulau itu akan hancur sblm dia dapat menghancurkan monster itu. How the f#ck your priority lie with the island?! Itu duyung lg dibantai!
Gaby mengeluarkan senjata gada milik Gakasha yg selama ini disimpannya lalu melemparkannya pada Garda. Dgn senjata itu, Garda menewaskan Kraken dlm… 2 halaman.
Dr kemunculan sampai tewas cuma butuh 2 halaman? Poor Kraken… you’ve lost your greatness.
Panah es Gaby membekukan Revina yg hendak melarikan diri. Garda lalu mengeluarkan pecahan meteor di dahi Revina. Gaby menghapus ingatan Revina lalu Garda mengantarkan Revina pulang ke rumahnya.
Grup Garda lalu memutuskan u/ pindah krn tempat persembunyian mrk sdh diketahui.
Revina tersadar di kamarnya. Saat dia bertemu dgn ibunya, Revina kebingungan krn dia dapat mendengar isi pikiran ibunya. Dia mencari ponselnya yg masih tertinggal di celana yg dipakainya ke Bromo & skrg ada di mesin cuci.
Wait… bukankah Garda pernah menelepon & diterima ibu Revina. Knp ponselnya masih di celana?
Revina kembali ke kamar lalu menyadari pecahan meteor yg masih tertinggal di dahinya. … ….. ……. Bukankah menurut Karen Lezazel yg merasuki Revina, Revina sdh mati. Kemudian menurut polisi semua teman2 Garda tewas terbakar di Bromo yg berarti ada bukti mayat di sana. Kalau begitu… Revina yg ini…?
BONUS POINT!! Remarks that I found sexist and / or cheapen the girls, and / or just plain offensive, and / or annoying as hell. Hal. 7: Hey, bukankah perempuan paling nggak suka kalau disamakan dengan perempuan lain. Hal. 9: Via tipe cewek yang mudah berubah pikiran. Hal. 17: Wah… Via. Kamu berat juga ya. Hal. 144 : Garda mengira Revina lemah. Hal. 165 : Kau cemburu karena aku terbang terlalu dekat dengan Nova? Hal. 176 : Perempuan bisa menyembunyikan rasa cintanya, tapi tidak rasa cemburunya. Hal. 181 : Aku tidak ingin kulitku lecet kena peluru! Hal. 182 : Lenganku kram nih! Kalian berat juga ternyata! Hal. 182 : Hei, beratku sudah ideal! Hal. 182 : Apa benar tubuhku berat? Padahal aku sudah mati-matian diet, lho! Hal. 182 : Garda tidak menyangka mereka akan tersinggung. Hal. 183 : Aku masih belajar mengendalikan kekuatan apiku. Yah, misalnya agar nggak membakar pakaian dalamku—eh, ups! Hal. 196 : Perempuan bangsa Angela tidak tahu malu! Pasti kamu juga naksir Garda. Kalian menyedihkan. Hal. 198 : Kurus-kurus begini kamu berat juga ya? Hal. 199 : Garda pura-pura terpental dan terjatuh karena dorongan Nova. Hal. 200 : Perasaanmu lagi? Hal. 202 : Wah, pantas saya kau tetap seksi. Hal. 212 : Tolong!! Gimana cara memadamkan api di rambutku! Aku nggak bisa keramas nih! Hal. 221 : Pasti menyenangkan berenang bersama kalian berdua. Hal. 221 : Kamu nggak pernah dihajar dua cewek cantik ya?
Gimana ya. Saya tidak punya dendam pribadi dengan penulisnya, tetapi .. buku ini .. cerita ini .. KARAKTER-KARAKTER DI DALAMNYA--
Ugh.
Untuk menunjukkan maksud saya, review ini akan berisi potongan chapter 1 dari buku ini, tetapi dengan beberapa penyesuaian. Silahkan buka spoiler di bawah ini untuk membacanya.
Saya menyarankan anda membaca versi aslinya terlebih dulu sebelum membuka spoiler ini:
Revina Korona, remaja berusia sembilan belas, mahasiswi fakultas sejarah Universitas Partikelir Dharmasoka di kota Malang, mengarahkan lensa handycam ke pemuda di sampingnya, "Hey, senyum, dong. Kamu masuk TV, nih!"
Pemuda di sampingnya tidak menggubris. Membuang muka. Berusaha menutupi wajahnya dari jangkauan lensa kamera.
"Maaf, pemirsa. Arda lagi bad mood!" goda Revina lagi.
Revina berperawakan jangkung. Ototnya proporsional, terbentuk dari hobi basketnya. Kulit kecokelatan didapatnya karena sering menjelajahi berbagai tempat mengendarai motor trail. Sebenarnya ia tidak suka dengan bentuk tulang pipinya agak menonjol, itu membuatnya tampak kurus. Ia juga tidak suka dengan bentuk rambut panjang lurus sepinggangnya. Anehnya, sebagian cowok malah menganggapnya keren.
Ia lahir di bawah bintang Taurus. Saat berumur sebelas tahun, ayahnya meninggalkannya pergi entah ke mana. Tak lama, ibunya pun menyusul pergi entah kemana. Cuma sepucuk surat berisi pesan ditemukan setelah ibunya pergi,
Ketika matahari terbenam dan kegelapan menelan hatimu. Jadilah benderang seperti bintang jatuh.
Tinggallah Revina bersama kakak laki-lakinya, Ananta. Orang tuanya cuma meninggalkan sedikit uang, rumah yang kondisinya telah tua, dan setumpuk buku-buku astronomi. Ia harus bertahan hidup. Ananta kerja di pabrik, begitu tulus membiayai sekolahnya. Namun, Revina tidak mau berpangku tangan. Revina bersama teman-teman kampusnya membuat usaha, mulai dari EO hingga jasa travel dan backpaker.
"Lihat saja, ntar aku sita kameramu!" ujar Garda ketus.
"Kamu kayak polisi saja main sita, Arda."
Sudah sejak pagi tadi, senyum Garda Kejora lenyap. Teman-temannya memanggilnya Arda. Usianya genap dua puluh tahun pada bulan November nanti. Lahir di bawah bintang Scorpio. Sosoknya tinggi dan gagah. Wajahnya tampan. Kulitnya sepucat pualam dengan rambut pendek lurus yang selalu tampak berantakan. Malam itu ia mengenakan jaket aksen bulu dan jins.
"Ini kan belum disunting, Arda." Revina ganti merekam langit di atas lautan pasir Bromo. Ia berhati-hati membawa properti stasiun tv kampusnya. Sebenarnya bukan tugasnya mendokumentasikan kegiatan kamping ke Bromo hari itu. Ia mengambil alih setelah sore tadi mendengar kabar bahwa akan terjadi hujan meteor di atas Bromo:
"Infosains: LAPAN mengonfirmasi kabar dari NASA tentang hujan meteor Perseids yang diperkirakan melewati wilayah tertentu di belahan dunia, termasuk wilayah Indonesia. Tidak perlu panik, hanya hujan meteor biasa."
"Nggak perlu panik, hanya hujan meteor biasa?" Gumam Revina berusaha mencerna kata-kata itu. Namun perasaannya mulai tak nyaman. Melalui kamera, Revina menyadari sesuatu yang menyala terbang tidak jauh di atasnya. Bukan meteor karena gerakannya lambat. Jika pesawat terbang, ia sudah tahu. Terlihat seperti burung yang melayang terbang seakan mengawasinya. Dari ketinggian ini pasti seekor burung rakasa, pikirnya. Meski pandangannya jauh ke atas langit malam, tapi pikirannya masih terusik oleh Garda.
Sikap Garda mirip mantannya sewaktu SMA yang kini telah tiada. Meski tampak dewasa, tapi kelakuannya masih kekanak-kanakkan. Ia tidak pernah menceritakan kisah dengan mantannya sewaktu SMA. Hey, bukankah lelaki paling nggak suka kalau disamakan dengan lelaki lain?
"Semangat dong," ujar Revina sembari menyikut pelan bahu Garda. Ia berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Kalau sering cemberut begitu, ntar cepet tua loh!"
"Di sini hanya ada pasir dan pasir." Garda tidak menggubris.
"Namanya juga Bromo. Bukankah lautan pasir ini tampak eksotik? Apalagi kalau kamu menengok ke dalam kawah," ujar Revina bergaya pemandu wisata lokal.
Sudah tiga bulan mereka jalan bareng. Teman-teman mengira mereka sudah jadian. Garda menungggu Revina mengambli inisiatif. Arda menyukai Revina yang humoris dan sering berhasil membuatnya tertawa. Kecuali hari ini. Sebenarnya sedari tadi Revina sudah berusaha membuatnya tertawa. Hanya saja mood Garda memang lagi nggak bagus. Mereka bertemu dan cepat akrab saat Revina meminta Garda menjadi pemancu acara di TV kampusnya. Sejak itu, karier Garda bersinar, mulai dari sampul majalah, hingga pernah dikontrak untuk syuting iklan yang ditayangin di TV nasional. Garda lebih beken ketimbang Revina. Garda respek sama Revina karena berkat dia, kariernya bisa bersinar. Selain itu, Revina punya rasa percaya diri dan bisa menjadi seorang leader.
Revina mengajak Garda berjalan-jalan. Menjauhi teman-temannya yang tengah berkerumun mengitari api unggun. Garda seperti hendak mengatakan sesuatu tapi enggak jadi.
Belum sehari, Garda sudah merajuk, padahal awalnya ia yang paling semangat. Bahkan rela mengubah jadwal pemotretan untuk sampul majalah agar bisa ikut kemping ke Bromo bareng Revina. Bahkan Arda ikut menjadi donatur sebagian kebutuhan logistik dan biaya akomodasi. Piknik yang menyenangkan, batin Arda. Nyatanya kemping hanyalah kegiatan outdoor survival yang menjemukannya. Arda tipe cowok yang mudah berubah pikiran.
Revina tidak mengacuhkan teman-temannya yang bersuit-suit menggoda. Teman-temannya tengah berkerumun mengitari api unggun sambil menikmati makan malam.
Di acara itu, Revina yang memimmpin rombongan ke Bromo. Revina sengaja memilih rute yang berbeda untuk menantang adrenalin. Revina juga menyewakan rombongan sebuah jip hardtop. Sementara, Revina masih setia mengendari motor trailnya. Ia sudah tiga kali menjelajah Bromo menggunakan motor trail, kadang seorang diri. Karena hanya di tempat luas dirinya bisa melajukan sepeda motornya melaju di atas angin. Berada di tempat luas seorang diri membuat Revina merasa lebih tenang, dengan begitu, ia dapat dengan segera melupakan semua masalahnya.
Garda bersedekap seakan jaketnya tidak dapat menghalau angin dingin. Lilitan scarf-nya melambai tertiup angin. Ia mengenakan balaclava warna krem kotor. Sesekali ia menepis debu di celana jinsnya.
"Aku nyesel datang ke tempat ini!" Arda memulai perbincangan.
"Enggak ada yang memaksamu ikut kok," Revina menimpali dengan muka datar.
"Iya, tapi ada cowok lain yang ikut!" Garda keceplosan "Eh, nggak! lupakan aja!" Ia menghindari tatapan Revina.
Tatapan Arda merona. Arda cemburu melihat Revina begitu dekat dengan banyak cowok di kampusnya, meski, Arda yakin Revina cuma menganggap mereka sebagai teman, tidak lebih.
Revinapun tahun, banyak cewek yang terpukau dengan ketampanan Garda. Sering kali Revina melihat pandangan cemburu dari teman-temannya saat ia ngobrol dengan Arda.
"Arda, tetaplah di sini," ujar Revina memeriksa kameranya.
"Aku mau kembali ke tenda aja."
"Eh, eh. tunggu," Revina spontan meraih pergelangan tangan Garda. Tapi, pemuda tampan itu menepisnya. "Maumu apa sih Arda?
Namun, Arda terdiam. Ia mengurungkan niatnya kembali ke tenda. Rasanya lebih aman dan nyaman berada di dekat Revina. Revina kembali mengalihkan perhatian ke atas langit. Langit di atas lautan pasir Bromo yang begitu cerah, tanpa setitik pun awan. Gugusan bintang bertaburan serasa begitu dekat, seakan jemarinya dapat menggapai bintang di atas kepalanya. Angin menerpa permukaan pasir, lalu mengempas ilalang kering setinggi pinggang orang dewasa.
Arda hanya menghela napas. Tampak bosan. Jarinya mulai sibuk memainkan tombol ponsel. Earset nirkabel menyumpal sebelah telinganya. Sesekali Arda membetulkan kerah jaket yang menutupi lehernya dan memutar deretan lagu Rihanna, lalu memilih lagu Diamonds.
Revina masih saja mengintip melalui lensa kamera, "Kalau beruntung malam ini kita bisa merekam hujan meteor itu."
"Apa sih asyiknya hujan meteor?!!" Garda melirik dari sudut matanya ke langit. Kini, seakan langit menjadi pesaing terberatnya mencuri perhatian Revina. Serasa tidak masuk di otak Arda, mengapa Revina lebih tertarik melihat langit daripada menatap dirinya. Kalau saja Arda mampu membaca hati Revina, mungkin tak akan protes.
"Malam ini akan terjadi hujan meteor Perseids. Kamu pernah dengan legenda demigod Perseus? Putra Zeus yang membunuh Medusa?"
"Jadi, kamu mengajakku ke sini hanya untuk melihat meteor?"
"Hujan meteor adalah momen yang berharga, Arda."
Garda tidak menyahut. Revina menyerah, ia mengeluarkan ponsel dan menyalakan berita dari internernya. Terdengar bunyi berkeresap sekilas, lalu terdengar suara lelaki penyiar berita.
"Halo sobat komunitas Indospace... dikabarkan hujan meteor Perseids meleset beberapa menit dari perkiraan. LAPAN memantau meteor-meteor itu memiliki gerak yang tidak biasa... hal senada juga diberikan NASA... meteor itu seperti melewati jalur Cincin Api Pasifik... keanehan ini..."
Tiba-tiba sinyal ponsel menghilang. Padahal sejak tadi, sinyal kondisinya baik.
Meteor yang gak biasa? Gumam Revina. Tepat ketika ia hendak memasukkan ponselnya, terdengar gemuruh nyaring dari atas langit, seperti guruh yang terdengar merambat mendekat. Ia tercengang melihat ratusan cahaya meteor di atas langit, menorehkan ratusan garis cahaya di langit malam. Bintang-bintang seperti runtuh.
Ia tahu, hujan meteor Perseids telah terjadi.
Revina segera meyelipkan ponsel ke saku celana. Tidak sekalipun ia mengalihkan pandangannya dari langit. Handycam di tangannya terus merekam momen berharga itu.
Setelah beberapa menit kemudian, ratusan titik cahaya meteor di angkasa kian membsear.
Apa yang terjadi? Gumam Revina.
Ia menyingkirkan handycam dari wajahnya, demi melihat lebih jelas hujan meteor itu. Kemudian ia mulai menyadari keanehan itu. Tidak mungkin meteor itu membesar kalau tidak tengah mendekat ke arahnya!
Revina langsung meraih tangan Garda. "Lari! Cepat lari!"
"Apalagi sekarang, hah?!!" Garda belum menyadarinya. Wajahnya masih tidak lepas dari layar ponselnya. Ia tengah memposting status bernada kesal di jejaring sosial. Lebih kesal lagi karena setelah status pending karena sinyal terputus.
"Lihat!" Revina panik menunjuk ke angkasa.
"Duh, lepasin!" Ia menepis tangan Revina. "Aku nggak tertarik menonton hujan meteor!"
"Meteor itu akan menghantam kita!" Revina menyeret Garda dari tempat itu..
"Kamu udah sinting apa?!" Garda meronta.
Di kejauhan, teman-teman Revina juga menyadarinya. Mereka melambai-lambai panik dan beseru-seru "Cepat ke jip! Lari!"
"A...apa yang terjadi?" Garda gagap lalu mendongak ke atas. Wajahnya pucat pasi melihat ratusan meteor yang menuju ke tempatnya, ia buru2 memasukkan ponsel ke dalam satu celananya. Earset terlepas dari telinganya.
Revina belum sampai ke api unggun ketika salah satu meteor melintas tidak jauh di belakang mereka. Bunyi menderu bagai pesawat yang tengah landing, terdengar tepat di atas kepala mereka. Disusul dengan bunyi dentuman keras yang memekakkan telinga. Meteor sebesar mobil VW menghantam bumi. Lautan pasir Bromo bergemuruh kencang, mirip gempa tektonik. Pegangan tangan mereka terlepas. Tubuh Arda dan Revina terhempas ledakan meteor. Mereka terjerembab di pasir, telinga berdenging.
Revina tak putus asa, ia lalu bangkit untuk meraih tubuh Garda. Melindunginya dari guyuran debu pasir yang terlempar ke arah mereka. Udara dingin langsung berubah hangat. Garda merapat ke pelukan Revina ketika bunyi ledakan beruntun terdengar berkali-kali di sekeliling mereka.
"Aku nggak mau kehilangan seseorang lagi. Ya, Tuhan! Jangan sampai aku kehilangan Garda!" batin Revina sembari memapah Garda yang masih tampak syok. Garda hanya pasrah membiarkan dirinya digotong oleh kekasihnya.
SEANDAINYA: - Karakter-karakternya lebih genah, - SPOK-nya lebih rapi, - Logikanya lebih masuk akal, - Ilustrasi di dalamnya lebih sesuai dengan urutan adegan dalam narasi, - Pertempuran-pertempurannya lebih seru, - Ada satu saja deskripsi raksasa yang jelas, - Bos terakhirnya enggak K.O dalam rentang dua halaman,
buku ini layak dapat tiga, bahkan mungkin 4 bintang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini tidak menghibur. Itu hal pertama yang terlintas setelah saya mencapai halaman belasan.
Sayang sebenarnya, karena sebuah cerita yang ide awalnya menarik, dan penulisannya cukup rapi seperti ini ternyata harus 'jatuh' - setidaknya dalam pendapat pribadi saya karena hal-hal yang mungkin tidak dimaksudkan untuk membuat kesal, tapi ternyata malah berefek sebaliknya.
Pertama-tama, sifat Garda sebagai tokoh utama bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kalau ingin membuat karakter cowok yang baik, menurut saya reaksi serta dialog Garda dan Revina malah menjadikan Garda sebagai orang tidak peka yang asal buka mulut, dimana setiap kata yang keluar dari mulutnya hanyalah gombal belaka.
Ya. Dialog dalam buku ini kebanyakan sangat tidak 'pas'. Saya tahu buku ini fiksi, tapi tolong, jangan jadikan genre sebagai alasan untuk membuat dialog-dialog BURUK. Belum lagi penempatannya, seperti adegan Garda menggombal di saat meteor menyerang. Kalau ini dimaksudkan sebagai novel lawak, saya akan menerimanya dengan senang hati. Pertanyaannya, apakah INI NOVEL HUMOR?
Selain itu, kalimat-kalimat pun seringkali menunjukkan 'God Hand'. Banyak situasi dimana seharusnya si tokoh belum tahu apa atau siapa dan kenapa, tapi kata-katanya mengindikasikan dirinya paham. Jika ini dimaksudkan sebagai plotpoint, misalnya, Garda punya kekuatan atau naluri tajam, saya akan terima. Tapi sekali lagi, APAKAH MEMANG DEMIKIAN?
Terakhir, yang saya sangat tidak nyaman adalah penempatan Garda sebagai penjantan tunggal, dan langsung diberi situasi harem.
Maaf. Saya suka perempuan, saya suka anime atau komik yang banyak gadis manisnya, tapi, secara pribadi jenuh dengan situasi harem seperti ini.
Harapan saya, penulis bisa berkembang pada buku berikutnya.
Saya kebetulan hari ini sedang bosan dan nulisnya lagi rada stuck, jadi saya memutuskan untuk membereskan utang2 review. Masalahnya ada review yang kelamaan ditinggal jadi udah lupa. :v Maka saya mulai dari yang paling terakhir saya baca aja.
Pertama-tama saya mungkin perlu kasih info dulu bahwa novel ini pernah menjadi satu dari 15 finalis lomba fiksi fantasi Diva Press 2013. Kalo melihat bahwa novel ini akhirnya diterbitkan oleh Tangga Pustaka, setelah pengumumannya keluar sepertinya pengarang merombaknya dan mengirimkan naskahnya ke penerbit lain.
Mari kita membahas dari ... kovernya.
Salah satu review kalau tidak salah menjabarkan tentang tulisan judul yang kebanyakan, terutama sub-judul-nya (apakah sub-judulnya adalah Ksatria dari Cassiopeia atau Perebutan Kristal Langit) dan review lain berkomentar tentang penggunaan font yang beda-beda untuk judul utama dan sub-judul.
Saya akan menambahkan bahwa "Sebuah Novel Fantasi" di bagian paling atas plus nama pengarang pun menggunakan font yang berbeda dari judul dan sub-judul. :)) Kalo kata teman yang dari grafis desain, kebanyakan font itu tidak lantas bagus. :v
Daaan ada sebuah fitur tersembunyi, yakni di belakang huruf "R" dari judul "GARDA" ada sebuah kristal yang ketutupan. Kayaknya kalo kristal itu nggak ada gak bakalan bikin kovernya jadi jelek kok.
Ringkasan cerita di bagian belakangnya bagus, IMHO. Singkat, padat, jelas, dan memancing penasaran.
Nah isinya sendiri gimana?
Perasaan saya setelah baca buku ini
Sejujurnya saya menyelesaikan buku ini dengan perasaan jengkel. Jengkel berat kayak nemu lembaran seratus ribuan tapi kondisinya super kotor dengan entah udah kena apaan aja itu duit. :v :v :v
Premis cerita ini bagus dan dia mengusung tema superhero yang mana belum umum di ranah fiksi-fantasi lokal (novel lain yg mengusung tema superhero adalah Beast Taruna, udah saya review juga) tapi karakternya bikin saya sebal dan alurnya meskipun runutannya dapat dipahami, runutannya terasa salah.
Karakter
Minta diinjek2 semua karakternya. :v
Ada pelajaran menarik juga yang saya ambil dari sini sbnrnya: untuk urusan karakteristik, sebisanya hindari menyebutkan (tell) karakternya seperti apa.
Alasannya? Mari saya jabarkan.
Di sini, protagonis kita, Garda Kejora digambarkan sbb: umur 19 tahun, jangkung, otot proporsional (terbentuk dari hobi basket katanya), kulit kecokelatan (karena sering menjelajah berbagai tempat dengan motor trail), bintang Taurus, ortunya capcus entah ke mana, kuliah di Malang, pny kakak yg kerja di pabrik (Garda sendiri part-time-nya banyak), humoris, punya rasa percaya diri, dan bisa menjadi seorang leader.
Humoris katanya.
"Wah.. Via. Kamu berat juga ya." <-- lagi ngebopong temen ceweknya yg lemas setelah nyaris ketiban meteor
"Wah, jaketmu berubah warna! Keren!" <-- Garda pertama kali nerima jaket pelindung yg warnanya bisa berubah mengikuti aura tubuh (buat apaan tapi berubah warnanya yak?) dari Gaby Mikaila dari Bangsa Angela, Klan Gabrill; mungkin Garda lagi gak ngelawak, tapi kayaknya dia ngelawak, tapi gak lucu :v
"Seperti kena kutukan yah? Kalau begitu nggak akan bisa menggoda cewek dong! Apalagi pergi berkencan." <-- reaksi Garda ketika dikasih tahu kalo berubah wujud dia bakalan bertaring, bercakar, dan kulitnya berubah jadi hitam; setelah semua sikap seriusnya di depan, dia mulai bisa bersikap "humoris" lagi
"Kalau begitu, kita pasangan serasi dong!" <-- Garda lagi, ngomong ke Gaby setelah dibilang bahwa ada kemungkinan dia bisa hidup abadi selama si kristal masih ada di badannya
(pada titik ini saya merasa harusnya trait Garda adalah "cowok yang sebenarnya ganteng dan bakalan banyak yang suka, seandainya dia tidak suka kegeeran sendiri di hadapan cewek")
"Jadi aku akan memanggilmu Super Nova sekarang?" <-- setelah Noca Spica dapat kekuatan (yang katanya membuat Nova memiliki tanda bintang di bawah lehernya, tapi dia kan lagi terbang, apa dia sempat keluarin cermin dan ngecek perubahan wujudnya?)
"Pakai tembakan api dari dadaku?" <-- Garda menawarkan diri nyalain api. Khusus bagian ini, sbnrnya lucu, tapi nembakin api dari dada itu sesuatu yang "we te ef" arah lucunya, jadi salahkan siapapun yg membuat skill Garda begitu
Itu contoh2 usaha Garda untuk jadi humoris (terutama banget di paruh akhir buku, seolah2 yg ngarang baru inget kalo dia nyebut bahwa Garda itu humoris). Rasanya separuh akhir buku kayak nonton TMNT series tahun 2012, tapi karakter utamanya cuma Michelangelo "Mikey" doang, tanpa Leo, Raph, dan Donnie. :v Jadinya menyebalkan.
Konsekuensi dari kebanyakan ngelawak itu seperti yg pernah diucapkan Mikey juga: "Nobody takes me seriously!" Benar sekali. Ketika seseorang berlebihan bercandanya, orang mulai tidak menganggapnya serius. Garda, di paruh akhir buku, mulai saya anggap tidak serius lagi, terlepas di depan dia menunjukkan kualitas karakteristik yg layak dan pantas.
Memperparah persebaran "humoris" yg tidak merata, joke yg dilontarkan Garda jatuhnya garing kalo di saya, padahal ekspektasi saya akan seorang protagonis yg "humoris" jauh lebih tinggi daripada sekedar joke garing. Mendingan sekalian nggak usah disebutkan bahwa Garda itu "humoris" dari awal, biar pembaca yg memutuskan karakteristiknya lewat guyonan garingnya aksinya.
Karakter lain?
Euh, yeah. Mereka. Gaby Mikaila dari Bangsa Angela, Klan Gabrill ("Aku punya kemampuan hipnotis." - quote by Gaby krn sering banget dia ucapkan), Revina Korona, Nova Spica, Antares-tanpa-nama-belakang (yg namanya keren, tapi scr ilustrasi, dia adalah mas2 jagawana pada umumnya).
Ini Antares, ngomong2:
Yang cewek2 (Gaby, Revina, Nova) kayaknya suka Garda terus saingan sendiri, terutama sih Revina dan Nova, terlepas dari Revina pas udah kesurupan meteor (istilah ngawur apa ini?) tetep ngaku2 bahwa Garda cuma suka dia padahal kayaknya pas situasi itu gak ada perlu2nya dia mancing2 Nova dgn ucapan itu. :v
Antares adalah antagonis kroco pada umumnya. Innocent bystander yg dicomot jadi penjahat oleh pihak antagonis, lalu dikalahkan protagonis, lalu sadar, dan life goes on dia kembali jadi mas2 jagawana pada umumnya.
Cerita
Coba saya ringkas:
- Garda pergi ke Bromo - Garda ketempelan meteor saat hujan meteor goes wrong - Antares dicomot jadi anak buah pihak musuh - Garda bingung lalu kena tuduhan polisi bahwa dia terlibat pembunuhan (kenapa bukan karena dia kabur dari RS aja sih? kan katanya pembunuhannya tidak mgkn dilakukan manusia, plus para polisi kayaknya bukan kroco antagonis hasil comotan) dan ditolong Gaby - Garda kena hantam tombak listrik Antares setelah tawar menawar dgn Nova Spica sebagai tawanannya - Garda hidup kembali, burung phoenix ato sesuatu dr Bangsa Finnix nebeng badan Nova - Garda kabur bersama Gaby dan Nova katanya sih buat dilatih - Garda feat duyung2 vs Antares - Garda vs Revina feat Kraken ... ato vs Kraken feat Revina? - Catatan Gaby Mikaila Bangsa Angela, Klan GabrillEpilog
Garda feat duyung vs Antares itu makan 1/2 bab, Garda vs Revina feat Kraken/Kraken feat Revina itu 4 halaman. Garda gak ngapa2in pas ngelawan Antares pertama kali dan makan 4 halaman saja.
Punah sudah semua harapan saya bahwa novel ini bakalan full-action! Bahkan kejar2an antara mobilnya Wasabi dan microbot-nya Yokai di Big Hero 6 jauh lebih seru (plus lucu) daripada action (plus joke) di sini digabungin semuanya!
... Ato ekspektasi saya yg ketinggian. Entah.
Tapi Beast Taruna berantemnya rame lho! *mulai ngebanding2in, habisnya sesama superhero dan sesama fiksi-fantasi lokal kan*
Setting
Settingnya sangat lokal, yaitu di daerah sekitar kota Malang dan pulau Krakatau.
Terlepas dari kita tahu dewan perwakilan di Indonesia bikin kita geleng2 kepala, tapi bukan berarti profesi lain boleh digambarkan bikin geleng2 kepala juga kan? :v
Misalnya:
- Bius total; di sini diceritakan pakai sapu tangan yg dikasih obat bius--ini bukan penculikan, bukan, gak ada plot Garda diculik kan di atas? Saya yg non-dokter aja tahu kalo bius total itu gak gitu caranya. :v Terakhir saya pake kapas dikasih kloroform adalah untuk ngebius kodok buat dibedah di lab jaman praktikum biologi di SMA, itu pun kayaknya ada kodok yang tewas. Emangnya Garda kodok makanya pake saputangan dikasih kloroform?
- Bius gak mempan? Ya udah kita tetap harus mengirisnya! Dengan atau tanpa bius! <-- ini tidak diucapkan, tapi terjadi waktu Garda dimasukin UGD. Adik saya operasi hernia aja dibius total, ini cuma mau dibius lokal dan setelah bius lokal gagal (jarum suntiknya gak bisa nusuk), malah mau langsung diiris2. Mau ikutan adegan di District 9 di mana Wikus mau di-vivisect oleh tim peneliti? :V
- Polisi di sini apa2an banget sih. Mau interogasi orang itu bawa ke kantor, supaya kakinya bisa diinjek pake kaki kursi ato bisa digebukin kalo orgnya gak mau ngaku! Kalo di dalam mobil kan susah mah ngehajar orang yang gak mau ngaku! Katanya pembunuhan yg terjadi di kampus itu bukan perbuatan manusia, tapi udahnya cepet banget mereka mengaitkan bahwa Garda terlibat padahal meskipun dadanya udah ketempelan meteor, Garda masih berwujud manusia kan?
Yang ganggu banget dari buku ini
Selain karakter dan ceritanya?
Ilustrasinya.
Lucu. Lucu banget. Biasanya saya pengen lebih banyak ilustrasi di sebuah buku, tapi khusus buku ini saya merasa ilustrasinya malah justru kebanyakan. Dan semua ilustrasinya kalah keren sama Garda yg jadi kover.
Dan ilustrasinya juga bukan ilustrasi yang paling indah yang pernah saya lihat. :v
Lalu ada yang terasa tidak konsisten: gada Gakasha/Garda.
Yang bener yang mana tuh gadanya?
Dan mungkin banyak yang memperhatikan bahwa armor Garda di kover dengan armornya di ilustrasi di atas beda jauh. Kalo yg di kover dibilang "elegan" masih okelah, tapi kalo yang di ilustrasi gak elegan ah. :v
Terlalu banyak hal mengganggu yg bikin saya gak enjoy baca novel ini, jadi di akhir setelah gamang antara kasih 1-2 bintang, saya cenderung kasih 1.
VadisReview Garda – Perebutan Kristal Langit Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Pengkhianat, Buronan dan Pahlawan Kali ini, giliran Sang Musafir yang dikunjungi para “tamu” dari dunia lain, tepatnya dari Planet Aress di Gugusan Bintang Cassiopeia. Hujan meteor Perseids di Gunung Bromo, Jawa Timur telah membawa seorang buronan, para pengejarnya dan para pelindung si buronan itu. Buronan bernama Gakasha itu “membonceng” meteor Kristal Langit, mengincar seorang mahasiswa, Garda Kejora yang kebetulan ada di lokasi jatuhnya di Bumi. Lantas, ia memilih manusia biasa itu hingga menjadi seorang superhero. Sebenarnya Gakasha datang ke Bumi untuk sembunyi, namun apa daya, mungkin kebocoran informasi menjerumuskannya dalam kejaran banyak raksasa. Sehebat apapun Gakasha, ia masih harus menyesuaikan diri dalam raga baru “inang”-nya ini. Untung ada dua “meteor pendukung”, Gaby Mikaila dan Nova Spica yang membantu Garda-Gakasha menghadapi lawan-lawan berat (dan besar-besar). Para pengejar yang jumlahnya lebih banyak juga merasuki atau berubah wujud menjadi manusia samaran. Gaby menjelaskan pada Sang Musafir sebagai duta dari Bumi, sebagai sumber kekuatan utama di Aress, Kristal Langit pantas jadi rebutan. Apalagi kini kristal itu menyatu dengan Gakasha dan terbenam di dada Garda. Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan pertarungan seru antara tim Garda, Gaby dan Nova melawan para raksasa Bangsa Azura yang dipimpin oleh dua ksatria digdaya, Karen Lezalel dan Antares. Sebenarnya pihak Garda sempat mengalami kekalahan yang memupuskan harapan, namun datangnya bantuan tak terduga mampu membalikkan keadaan. Sebagai peliput dari Bumi, Sang Musafir cukup terpukau dengan konsep dan plot novel ini yang cukup “alami”, logis dan detil. Sekilas Sang Musafir jadi teringat pada para Transformers, robot-robot raksasa dari Planet Cybertron yang hampir kiamat, yang “mengungsi” ke Bumi dan melanjutkan peperangan mereka di Bumi. Bedanya, Transformers menyamar menjadi benda-benda mati seperti mobil, para raksasa Aress menyamar jadi para manusia yang sengaja mereka pilih untuk dirasuki. Ada pula yang tak menyamar, langsung mengkonfrontir para protagonis dengan wujud asli mereka. Satu lagi alasan Sang Musafir untuk terpukau adalah latar belakang dari unsur-unsur mitologi Yunani, Nordik, Nusantara (Pewayangan) dsb yang dipadu dengan pengetahuan umum, astronomi dan berita-berita fenomenal dalam kisah Garda ini. Jelas sekali sang kreator dan penulis Garda, Ahmad Sufiatur Rahman sudah melakukan riset yang tak terlalu mendalam tapi cukup matang untuk “meramu” latar belakang ini. Contohnya, foto Justin Ng di www.justinngphoto.com/tag/eastjava meliput hujan meteor Eta Aquarid di atas Gunung Bromo, Jawa Timur, Mei 2013. Entah apakah ini fakta atau hoax (tipuan), namun sangat bisa dimanfaatkan sebagai sumber ide untuk kisah fantasi superhero. Salut! Satu lagi nilai plus adalah drama yang terjadi antara dua sejoli, Garda dan Revina dengan karakter yang konsisten. Garda yang menyukai sifat-sifat tertentu dalam diri Revina mulai curiga saat menemukan “kejanggalan” dalam diri gadis yang ia sukai ini. Namun cinta memang buta, dan itu hampir merenggut nyawa seorang superhero – dan harapan seluruh rakyat planet yang jauh. Nah, selama meliput sepak-terjang Garda ini, Sang Musafir sempat beberapa kali mengerutkan dahi. Pasalnya, adegan-adegan pertarungan yang terjadi seharusnya diceritakan lebih detil lagi, sehingga perimbangan kekuatan Garda dkk dengan para super-villains jadi nyata. Kalau tidak, salah satu pihak jadi terkesan mudah sekali kalah, dan adegan action yang seharusnya amat vital dalam novel action superhero ini jadi terkesan “numpang lewat” saja. Banyaknya bantuan dari luar, termasuk senjata yang terlalu kuat membuat ciri khas kekuatan Garda sendiri jadi kabur atau mudah terlupakan. Apakah Kristal Langit hanya membuat seseorang menjadi super-human atau berkekuatan raksasa saja, atau ada lagi yang lain? Dari segi penamaan, Sang Musafir harus kembali berpegang pada pakem Superheroisme, yaitu: Nama superhero rata-rata adalah nama samaran, bukan nama asli penyandangnya. Kalaupun mau sama dengan nama penyandang, pemilihan nama sebaiknya lebih “alami”. Misalnya dari Marvel ada Dr. Strange, Luke Cage, Kitty Pryde, Emma Frost dan para agen S.H.I.E.L.D. Nama-nama yang terlalu “keren” seperti Garda, Gaby Mikaila, Nova Spica dsb seharusnya jadi nama superhero, nama alias atau nama kecil (nickname), dan nama-nama tokoh manusianya sebaiknya sesuaikan dengan trend di Indonesia. Misalnya si Garda inangnya bernama Ahmad, dsb. Yah, kadang Sang Musafir sendiri juga “usil”, menggunakan nama-nama kode / asli yang “menjurus” macam Shinta Devi, Rania Giselda dsb. Tentang tokoh-tokohnya, karena rata-rata mereka satu kampus dengan atau sengaja “terkait” dengan Garda, variasi karakter protagonis dan antagonis kebanyakan adalah mahasiswa, dosen dan polisi. Kecuali mungkin Antares yang jadi tokoh sentral yang beda sendiri. Berikut para tokoh utama “Garda”: Garda Kejora: Tipikal pemuda tampan idola wanita yang mendapatkan kekuatan super dari meteor Kristal Langit yang jatuh di Gunung Bromo. Kecerdasannya biasa-biasa saja, namun keberanian dan kenekadannya patut diacungi jempol. Kekuatan super itu adalah dari Gakasha dari Klan Finix, pecahan dari Bangsa Azura yang jadi bangsa tersendiri. Revina Korona: Gadis cantik, love interest Garda yang manja namun artistik. Mendapatkan kekuatan super panah api dan es dari Bangsa Azura. Gaby Mikaila: Wanita dewasa yang sesungguhnya adalah samaran dari pendukung dan penolong Garda, pejuang Bangsa Angela. Penyembuhan secara sihir termasuk kekuatan supernya. Nova Spica: Teman sekampus Garda yang terkesan kutu-buku dan jenius. Ia juga mendapatkan kekuatan super dari meteor, yaitu api abadi burung Phoenix (Klan Finix). Antares: Pemuda di Pulau Gunung Krakatau yang mendapat kekuatan super dari meteor, yaitu prana petir-api dan Tombak Petir Gungnir dari Bangsa Azura. Kesimpulan akhir, kesan yang bakal cukup melekat dalam kenangan Sang Musafir tentang Garda adalah gambar-gambar yang “berkilauan”, khususnya desain kostum Zirah Garda pada cover depan dan beberapa artwork buatan Sutadi (dan Ahmad S.R.), motor trail tunggangan Garda Kejora dan usaha yang amat gencar dan passionate dari sang kreator untuk mempromosikan tokoh Garda, di antaranya lewat media sosial dan merchandise seperti mug kopi, action figure, T-shirt, cover buku omnibook, dsb. Sedangkan dari sisi ceritanya sendiri, mungkin saja Garda bakal muncul kembali dengan format komik, kisah-kisah baru dan musuh-musuh yang lebih menantang. Ditambah dengan penulisan adegan tarung yang lebih detil, segala tipe pembaca akan lebih mudah mengingat Garda dengan kekuatan super yang unik, bersama teman-temannya menjadi superhero baru Indonesia yang punya fan-base yang kokoh dan daya jangkau penggemar yang tak terbatas. Maju terus, Garda! Bercahayalah bagai Kejora!
Salam buat bang ahmad...lebih baik ikuti nasehat para pembaca agar dalam membuat novel tidak dikritik lagi....JUJUR saya juga KECEWA setelah membaca isi sebagian buku GARDA..saran saya untuk kedepannya dalam membuat karakter harus sesuai dengan narasinya dan kalau bisa digabungkan dengan karakter GOLD SAINT dalam manga anime SAINT SEIYA (hehehe) ...karena saya tidak suka dan agak tersinggung dengan petikan dalam novel yang berbunyi ""Tombak petir itu lebih panas dari api magma. Dan dapat menembus apa saja. Bangsa kalian menyebutnya Vasavi Shakti/Konta Wijaya. Bangsa Norwegia menyebutnya Gungnir, tombak Odin. Bangsa Yunani menyebutnya tombak petir Zeus. Kami pernah memperlihatkan tombak ini pada nenek moyang mereka. Dan mereka membuatnya jadi berbagai macam versi"" disini mas Ahmad terlalu merendahkan kekuatan tombak Gungnir, coba mas Ahmad tonton film anime SAINT SEIYA-SOULD OF GOLD by Masami Kurumada, Pasti anda akan kaget dengan kekuatan Tombak Gungnir. Semoga kritik dan saran saya ini bisa diterima oleh sang Penulis buku Garda Is Ahmad Sufiatur R. NB: saya akan lebih senang kalau ditambahin Karakter Saint Athena di anime SAINT SEIYA by Masami Kurumada. ^_^ hehehe
Bagian yang saya nikmati dalam buku ini adalah ilustrasi yang berlimpah dan dalam ukuran yang lumayan banyak. Beberapa gambar terasa aneh, tidak sesuai dengan uraian dalam teks, ada pula yang tidak konsisten. Tapi lumayan untuk hiburan.
Dan kalimat yang paling saya sukai adalah, "Walau ia sudah memiliki perpustakaan digital di tabletnya. Membaca dari buku cetak dan menyentuh setiap lembaran halamannya merupakan kepuasan tersendiri."
Saya memberikan bintang 2,5 dibulatkan menjadi 3. Pemberian nilai tertinggi pada upaya menggabungkan unsur lokal dalam kisah ini.