Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ketika Makkah Menjadi Seperti Las Vegas: Agama, Politik, dan Ideologi

Rate this book
Ketika agama menjadi empty shell, kekosongannya akan segera diisi oleh hal-hal yang bersifat keduniawian dalam segala bentuknya. Agama dengan simbol-simbol tradisionalnya akan berubah menjadi sekadar "formula sukses" dan Tuhan cuma diperlakukan sebagai, dalam bahasa Fromm, “a partner in business.”

Demikianlah, ketika kekuatan kapitalis mendistorsi konsep agama, agama terancam tinggal menjadi semacam tubuh yang kehilangan kepala dan jantung hatinya, tinggal menjadi wujud tanpa signifikansi. Agama terkooptasi; kekuatannya justru merongrong misi sucinya, bahkan boleh jadi malah menjadi pelindung agen para pendosa. Agama menjadi apa yang oleh Leo Yang Agung disebut sebagai a respectable cloak for sin, “jubah mulia bagi berbagai dosa", kehilangan moralitas, kehilangan yang “suci”, “baik” dan “adil”. Lalu, yang tertinggal hanyalah serangkaian kepercayaan, ritualisme kosong makna, atau paling banter semacam etiket. Ketaatan terhadapnya malah menjadi ironi bagi misi sucinya.

Ketika Makkah Menjadi Seperti Las Vegas adalah suara keprihatinan yang mengajak kita untuk menegakkan agama sebagai rahmat bagi semesta.

452 pages, Paperback

First published April 1, 2014

5 people are currently reading
48 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (26%)
4 stars
8 (53%)
3 stars
2 (13%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (6%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Farid Akram.
109 reviews17 followers
June 28, 2017
Buku ini secara umumnya menjadi cermin kepada pemikiran Islam moderat yang berkembang dan menjadi wacana hampir keseluruhan negara Islam khususnya Indonesia.

Berdasarkan tajuknya, saya kira semua bersetuju akan sikap rakus keluarga Saud telah menghilangkan wajah sederhana 2 kota suci sebagai pusat kerohanian umat Islam.
Profile Image for Wirawan Sukarwo.
31 reviews6 followers
October 6, 2014
Tulisan Mirza Tirta Kusuma yang kemudian menjadi judul buku ternyata hanya satu dari sekian banyak tulisan yang ada di dalam buku. Bahkan, tulisan Mirza mengenai pembangunan arsitektur Mekkah yang ultra-modern itu tidak memiliki kaitan dengan tulisan-tulisan berikutnya. Sebagian besar penulis dalam buku ini justru mendedikaskan tulisan mereka untuk memperingati hari ulang tahun ke 60 Prof. Amin Abdullah yang dikenal sebagai tokoh intelektual Islam.

Ketika membaca ulasan dari Mirza mengenai Mekkah yang sudah seperti Las Vegas, kita diajak untuk menunjuk pemerintah Saudi Arabia sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas semua hal tersebut. Pembangunan di bawah rezim Wahabi membuat banyak situs-situs bersejarah terkait peninggalan peradaban Islam dihancurkan. Ritual ibadah haji yang memiliki makna egalitarian bagi seluruh umat berubah menjadi ritus perayaan kapital bagi mereka yang memiliki modal lebih untuk menikmati sarana ibadah yang lebih baik.

Ulasan dari Mirzam sungguh menarik dan perlu untuk disebarluaskan. Namun, sayangnya, hanya dia saja yang secara khusus membahas tema tersebut. Sisa tulisan dalam buku ini tidak sama sekali membahas hal yang menjadi judul buku.

Pada bagian-bagian selanjutnya, penulis seperti John L Esposito, Martin Van Bruinessen, dan Karel Steenbrink malah sahut menyahut meninggikan kelompok pluralis sebagai kelompok pembaharu. Lebih spesifik lagi, kelompok pluralis itu disematkan pada mereka yang berani melakukan studi kritis terhadap al-Quran melalui metode hermeneutika. Bagi pembaca yang selama ini sudah mafhum terhadap gelagat kelompok liberal Islam, pasti bisa mencerna arah dan sistematika tulisan-tulisan dalam buku ini.

Tidak ketinggalan, para tokoh intelektual Islam seperti Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, dll juga turut menyumbangkan pemikiran mereka terhadap tantangan umat Islam hari ini. Semuanya menulis dengan napas yang sama, yaitu semangat pluralisme beragama. Untuk melengkapi intensi mengenai kerukunan umat, penulis dari non-Islam juga menyumbangkan tulisan dalam buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini bisa memberikan banyak masukan mengenai ide kerukunan umat beragama di Indonesia. Namun, semangat untuk memasukkan metode kritis dalam studi al-Quran tampaknya masih terlalu dini. Hal ini bukan disebabkan karakter masyarakat Indonesia yang jauh dari peradaban intelektual, tapi justru karena karakter para intelektual itu sendiri yang kerap berdiri di menara gading akademis.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.