Penulis yang menghasilkan banyak karya berupa cerpen, terkadang menggabungkan cerpen-cerpen yang telah ada di buku kumpulan cerpen (kumcer) sebelumnya ke dalam buku kumcer yang terbit kemudian. Seperti Seno Gumira Ajidarma yang sudah memiliki beberapa kumcer, lalu tahu-tahu menerbitkan (lagi) cerpen-cerpennya dalam kumcer berjudul "Senja dan Cinta yang Berdarah". Kenapa, ya? Bagi penggemar berat si penulis, kembali ke Eka Kurniawan, barangkali tak akan keberatan mengoleksi semua buku karya beliau meski banyak cerpen terbit di dua buku berbeda. Kalau saya, seandainya nanti ada buku "Koleksi Lengkap Cerpen Eka Kurniawan", sudah pasti akan membeli buku tersebut dan mengabaikan kumcernya yang lain.
Kumcer karya Eka Kurniawan yang berjudul Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya ini pun serupa. Terdiri dari delapan belas cerpen yang sembilan di antaranya merupakan cerpen baru, sedangkan sembilan lainnya merupakan cerpen yang sudah pernah terbit di buku kumcer Corat-coret di Toilet. Saya sudah membaca Corat-coret di Toilet, jadi tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan membaca sembilan cerpen baru di kumcer ini.
Terhadap karya Eka Kurniawan dalam bentuk cerpen, saya tidak bisa bilang sesuai selera saya banget karena saya lebih menyukai/menikmati karya beliau dalam bentuk novel. Itu dari segi jalinan kalimat dan cara berceritanya, ya. Sedangkan untuk ide/tema/isu yang diangkat, saya sepakat dengan kalian bahwa Eka Kurniawan ini keren.
Berdasarkan hal tersebut, beberapa cerpen dalam kumcer ini juga menjadi favorit saya karena ide/isu/tema yang diangkat unik bagi saya. Ini dia:
1.
Lelaki Sakit. Cerpen ini bercerita tentang laki-laki yang sengaja sakit agar diputuskan oleh tunangannya. Heu? Rasanya unik saja. Pertama, saya belum pernah baca cerita tentang orang yang sengaja sakit supaya dijauhi orang lain. Sakit itu bukannya tak enak, ya? Kenapa tidak dengan cara selingkuh saja? Selain terjamin akan ditinggalkan oleh tunangan, selingkuh tentu tak sesakit sakit.
2.
Bercinta dengan Barbie. Cerpen ini, somehow, lucu. Seorang laki-laki mengetahui mantra untuk mengubah boneka menjadi manusia dan mengubah manusia menjadi boneka. Dengan kemampuannya, ia memantrai boneka Barbie untuk dijadikan teman bercinta. Barbie tentu lebih menarik daripada istrinya yang gembrot dan tidak menggairahkan. Lama kelamaan, ia terpikir untuk mengambil keuntungan dari kemampuannya itu. Ia pun memantrai banyak boneka Barbie lalu menjadikan mereka pelacur di tempat protitusi yang ia buka. Bukan main. *tepuk tangan*
3.
Corat-coret di Toilet. Sesuai judulnya, cerpen ini salah satu yang sudah pernah terbit di kumcer berjudul sama, dan tetap jadi favorit saya. Tempat mencurahkan keluh kehidupan (karena buruknya pemerintahan) ternyata bukanlah anggota dewan yang adalah wakil kita itu, melainkan dinding toilet. :))
Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan sebab kebersihan merupakan sebagian dari iman. Toilet bukan tempat menampung uneg-uneg. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-ibu anggota dewan, please ...." --hal. 118
*
Masih banyak cerpen-cerpen Eka Kurniawan dengan tema unik, dan saya yakin akan beri kalian pengalaman yang sama sekali baru ketika membacanya. Penggemar militan Eka Kurniawan tentu harus membaca kumcer ini, tetapi bagi pencinta cerpen pada umumnya, beberapa cerpen dalam kumcer ini termasuk yang wajib baca.
3,5 bintang untuk kumcer ini.
***