Jump to ratings and reviews
Rate this book

Al Dente: Waktu yang Tepat untuk Cinta

Rate this book
Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.

Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan. Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan? Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku. Usah sisipkan kata cinta di dalamnya. Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

256 pages, Paperback

First published June 1, 2014

3 people are currently reading
114 people want to read

About the author

Helvira Hasan

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (9%)
4 stars
15 (19%)
3 stars
30 (39%)
2 stars
19 (25%)
1 star
5 (6%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Rara Purnomo.
283 reviews28 followers
November 21, 2014
Fiuh... akhirnya selesai juga baca buku ini!

Sebenarnya, aku baca buku itu untuk menyenangkan diri sendiri, tapi akhir-akhir ini mencari kesenangan dalam buku susah banget. Masalahnya selalu nyangkut di karakter utama ceweknya yang f*cker.

Beberapa minggu ini selalu aja uring-uringan tiap baca buku, yang bikin roommate ku ikutan kesel juga, dia bilang, "Duh, udah deh nggak usah dibaca kalau emang bikin stress kayak gitu! Tujuanmu baca kan buat relaksasi, kalau yang terjadi malah sebaliknya, mending tutup aja bukunya."

Satu-satunya hal yang menahanku buat nggak ngebakar buku ini hanyalah karena ini buku yang dengan baik hati dipinjamkan oleh teman.

Bercerita mengenai perjodohan antara Cynara dan Benjamin. Pernikahan yang tidak hanya dimaksudkan untuk mempersatukan Cynara dan Ben, tapi juga mempersatukan 2 keluarga yang sudah sangat akrab. Sejauh yang aku tahu, Ben menerima perjodohan itu dan mencoba PDKT ke Cynara, dan gadis itu menerima setelah orang yang ditunggunya nggak pernah menghubunginya lagi. NGGAK ADA yang maksa dia nikah sama Ben, meskipun memang pernikahan yang diharapkan keluarganya maupun keluarga Ben.

Ini dia bagian yang bikin heran sekaligus jengkel:
Cynara jealous setelah tahu Ben membawa-bawa album foto yang ada banyak foto Milly, cewek yang pernah ditaksir Ben. Okelah, namanya juga pengantin baru ya.. cemburu wajar, apalagi kalau cemburunya sama 'seseorang yang pernah mendapat tempat spesial' di hati suamimu. Terus nggak sengaja dia ketemu si 'masa lalu' itu.
but why the f*ck dia nyalahin Milly sama Ben??

CYNARA yang suka jalan sama El, sampe lupa waktu, sampe nggak perduli sama suami sendiri. Tapi dia marah kalau Milly telpon Ben, Hell-owh~~ Jelas-jelas Ben udah bilang dia sama Milly cuma temen. Iya Ben emang pernah suka sama Milly, tapi dia udah ditolak, Milly bahkan udah nikah, meskipun pernikahan itu berakhir setahun kemudian.
So what? Cynara boleh punya masa lalu, boleh punya orang spesial tapi Ben enggak?! c'mon, Have a life! Dunia ini nggak berputar mengelilingi dirimu!
Dia masih aja bertahan sama attitude gue-benci-si-Milly-dari-masa-lalu-elo-Ben, meskipun Ben udah ngajak dia ketemu Milly, biar masalahnya beres dan dia nggak ngambek-ngambek gak jelas, but she refused!! Maunya apa coba?! Just go die and rot in hell.

She doesn't want to talk things over with Ben, to clarify just what the f*ck is actually going on, and she still called him ignorant. She really is a f*cker!

Dia sama sekali nggak memperlakukan Ben selayaknya suami. Cynara ngambek terus nangis bombay, by the way it happened almost all the time, kalau Ben ngingetin dia bahwa dia itu udah jadi istri Ben jadi nggak pantes dia jalan nggak tahu aturan sama laki-laki lain. Dan Ben, ya ampun.. dia bahkan nggak ngelakuin apapun ngeliat istrinya selingkuh! Just what the hell!

Kalu dipikir-pikir, Cynara ini mungkin mengalami penyakit kejiwaan. Aku yang baca juga jadi ikutan sakit jiwa.


Well, sorry to say, Mbak Helvira... heroine anda merusak segala penilaianku tentang buku ini. Aku nggak bisa bilang sebuah buku itu bagus kalau aku bahkan sama sekali nggak menikmatinya. Satu-satunya kesalahan di buku ini cuma Cynara. Makhluk paling konyol dan Irrational. Dia bahkan nggak pantes dapat happy ending dan maaf dari Ben. Terus terang aja, alur yang terakhir rada maksa. Penulisnya maksa biar heroine sialan ini bahagia. Haha *jedotinkepalaketembok*

Ngasih 1 bintang aja nggak ikhlas rasanya.
Profile Image for Nephente D Glory.
36 reviews
October 17, 2019
Al dente. Di dalam pikiran saya langsung muncul beberapa pasta ha ha ha

Sama seperti pasta yang butuh proses sampai Al dente, hidup pun seperti itu. Sama-sama butuh proses.
saya suka tentang bagaimana cerita ini menggambarkan proses yang harus dilalui. Dan gaya penulis menuturkan katanya juga ringan jadi enjoy saya bacanya. sampaiiiii tokoh utama cynara yang bikin gemesss hmmmmm

sebenarnya mungkin memang penulis ingin membuat karakter cynara seperti itu. tapi jujur saja, saya kurang suka dengan sosok cynara. maaf, benar-benar maaf. saya tidak protes dengan jalan cerita dan pesan yang tersampaikan dengan baik, yang saya sesalkan adalah tokoh utama perempuan.

jadi saya hanya bisa memberi bintang 3 untuk karya ini. sebenarnya 3,5 :")
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
January 21, 2024
Awalnya nggak tahu kenapa saya tertarik banget sama kovernya. Bertekstur tapi nggak overwhelming, berantakan tapi rapi, bold tapi nggak nusuk mata. Dibilang simpel nggak, ribet di detail juga nggak. Pas takarannya. Nggak tahunya kover ini didesain Dwi Anisa Anindhika dan diselaraskan Levina Lesmana—dua desainer kover yang karya-karyanya kerap mencuri perhatian saya. Ya, pantas aja, ternyata ini collab-nya mereka 😁

Al Dente mengambil tema ujian pernikahan di tahun-tahun awal, atau lebih tepatnya selama dua bulan pertama. Dengan waktu sesingkat itu, ceritanya juga dapat cepat dihabiskan. Paling ada beberapa kali flashback di awal yang menjelaskan hubungan Ben dan Nara sebelum menikah (my best friend's brother trope). Selebihnya, pergulatan hati Nara dan perjuangan Ben mempertahankan hubungan mereka dikulik sampai akhir.

Nara sepertinya sengaja dibuat untuk menyusahkan Ben, Dita, dan pembaca. Namun, kesengajaan itu bikin saya bertahan baca hingga akhir demi mengetahui perkembangan karakternya. Ben sendiri berusaha sekeras mungkin sampai dia menemukan apa love language Nara. Sebagai sahabat dan ipar, Dita sudah melakukan sesuai kapasitasnya. Dan ketimbang sifat labilnya Nara, alasan Ben dan Nara dijodohkan yang ada hubungannya dengan orang tua mereka membuat saya berpikir, kenapa harus memakai itu dulu untuk sadar?

Nyebelinnya Nara sudah diwanti-wanti pengulas lain, tapi buat saya El juga sama saja. Percuma lulusan Harvard kalau nggak bisa pasang batas ke wanita bersuami 😠 ya syukurnya langsung di-ulti Ben wkwk. Ending-nya... biasanya saya cukup puas cuma sampai bagian berbaikan, tapi di sini saya ingin tahu apa Nara benar-benar menepati janjinya itu because Ben deserves better. Jangan sampai dia balik lagi plin-plan dan menyalahkan hal nggak nyambung kayak Milly (walau di satu sisi ada janji Ben kepadanya yang takes too far). Pengertian "al dente" yang terus diulang kadang saya lewati, tapi pasti ada pembaca yang akan suka mengutipnya.

Kalau nggak keberatan sama FL yang dirancang menyebalkan, ingin membaca marriage life yang bikin emosi kita mendaki gunung lewati lembah, tapi tetap aesthetically pleasing dengan bahasa yang lugas yang rapi, cobalah Al Dente.
Profile Image for Lanny.
58 reviews1 follower
May 20, 2018
pen ngegaplok cynara 🙄🙄.... sebenernya ceritanya ok...tapi cynara membuatku kasih bintang tiga!! ngeselin 😒😒😒. masih adakah Ben di real world? masih adakah ending seperti ini? hah!! horrraaa mungkiiin 😛😛😛. this cruel world has only savage ending 😏...
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
January 8, 2015
Ah, novel ini berhasil mengaduk2 perasaanku. Membuat ku duduk diam selama 2,5 jam tanpa berpaling pada yg lain. Cekit2 di hati terasa sepanjang aku membaca novel Al Dente. Cerita tentang kehidupan pernikahan dan cinta masa lalu disuguhkan mbk Vira dengan sangat lancar. Mengalir dan bikin aq nggak bisa berhenti baca sampai halaman terakhir. Pokoknya aku suka :). Review lengkap nya menyusul yaaa...

update 12 Juli 2014

"Ben memang tak pernah kuinginkan menjadi suamiku. Namun langit senja tak pernah menginginkan semburat jingga. Tangan yang lebih kuasa-lah yang menggambarkan semburat jingga di langit senja. Mungkinkah Ben memang semburat jingga itu..di langit senjaku? (pg. 4)

"Kurasa cinta itu seperti pasta, Ben. Bukankah cinta selalu datang tepat waktu?"
"Tapi, kita nggak pernah tahu kapan waktu yang benar-benar tepat ketika cinta itu datang. Jadi..,the real only time for love is...to feel it"
(pg. 254)


Nara dan Ben. Dipersatukan oleh perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka. Tidak ada paksaan dari orang tua, untuk menyetujui pernikahan itu. Awalnya Nara masih terkejut dengan perjodohan itu, dan lebih terkejut lagi ketika Ben juga menyetujuinya. Ben memang bukan orang asing, ia mengenal Ben sejak kecil. Bahkan pernah naksir Ben pas masih SD. Tapi semakin lama Nara mengenal Ben, ia sadar lelaki itu tipe lelaki pendiam yang cenderung cool. Lebih suka membaca daripada terlibat obrolan yang ribet. Dan saat dewasa pun ia tidak terlalu dekat dengan Ben, makanya gadis itu kaget dengan setujunya Ben atas perjodohan itu. Dan, well akhirnya toh Nara menerima perjodohan itu walaupun ia masih belum bisa menghapus bayangan sesorang dari masa lalunya.

Pernikahan tidak sempurna tanpa cobaan bukan? dan dimulailah cobaan dalam mahligai rumah tangga Nara-Ben dari sebuah album foto. Album foto milik Ben. Dan di dalam foto itu banyak foto sahabat wanita Ben yang bernama Milly dan sebuah surat dari gadis itu. Kedua hal itu sudah cukup membuat Nara ragu akan perasaan Ben. Dari situlah dimulai kecurigaan2 Nara akan perasaan Ben yang sesungguhnya. Juga tentang masa lalu Ben. Nara merasa banyak hal yang Ben sembunyikan dari dirinya.

Lalu muncullah sosok Elbert, lelaki yang menjadi mimpi Nara di masa lalu gadis itu. Apalagi Elbert datang bagai pelepas dahaga akan kehausan perhatian yang dirasakan Nara karena sikap cuek Ben. Ya, walaupun sebenarnya Ben bukannya cuek, tapi hanya menghindari pertengkaran. Hingga pada satu titik tertentu, Nara memutuskan untuk bercerai dengan Ben karena merasa pernikahannya sudah tidak dapat diselamatkan. Tapi tidak dengan Ben. Lelaki itu malah berjuang keras untuk mempertahankan pernikahannya, karena ia tau, bahwa ia mencintai istrinya. So, gimana akhirnya pernikahan mereka? Akankah usaha yang Ben lakukan untuk mempertahankan pernikahannya berhasil? silahkan menikmati novel yang Al Dente ini ;).

Pertama kali baca, ngrasa agak de javu dengan CoupL(ov)e nya Rhein Fathia. Tapi beda di eksekusi. Mbk Vira kereeen. Karakter2 yang dibuat mbk Vira benar2 membuatku terhanyut. Ben terutama. Ya ampun, cowok ini sabar banget ngadepin Nara. BAyangkan, apa kamu masih bisa menerima melihat pasangan kamu sering jalan, makan bareng dengan sosok mimpinya di masa lalu?. Kalau aku pribadi sih, nggak!. Tapi Ben bisa menerima sikap Nara itu. Ya, Ben hanya protes, tapi dia tidak melarang Nara sekalipun, saat istrinya itu keluar dengan El. Dan cowok itu bahkan masih berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan mahligai pernikahan mereka. Tapi Nara? seakan tutup mata dan hati melihat perjuangan itu. Mungkin Nara bersikap begitu, karena ia sendiri masih ragu akan perasaan Ben yang sesungguhnya juga ragu atas hatinya sendiri. Tapi disitulah letak kekuatannya. Mbk Vera pandai sekali meramu konflik sehingga bikin pembacanya bisa kesal sekaligus terharu. Di akhir cerita konfliknya agak banyak juga ya, tapi penyelesaiannya rapi dan nggak buru2. Aku suka. Walaupun kupikir, penyelesaiannya agak kurang dramatis. Mengingat kejadian2 di sepanjang cerita yang emosional banget. Walau kurang dramatis, tapi endingnya maniiiis banget. Rasional.

Masuk rak favorit :D
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
January 4, 2015
Tidak butuh waktu lama untuk menuntaskan buku ini, cukup 3 jam saja karena bahasanya yang ringan dan konflik yang juga ringan. Genre domestic drama kuat sekali di novel ini meski saya tahu penulisnya menulis novel ini sebelum dia menikah.

Berikut kesan-kesan saya setelah membaca novel ini:

1. Covernya cantik dengan tulisan Al Dente yang langsung menohok pembaca untuk minimal memegangnya sebelum memutuskan membeli. Gambar pasta-pasta di sekeliling tulisan judul juga menambah cantiknya cover buku ini.

2. Judul Al Dente rasanya tepat dipilih sebagai judul novel ini, sesuai dengan jalan ceritanya dan tagline yang ditulis: waktu yang tepat untuk cinta. Setelah melalui perjodohan, pernikahan, dan kembalinya masa lalu, pasangan utama dalam buku ini akhirnya menyadari kalau mereka saling mencintai. Pas, Al Dente.

3. Hanya saja, menurut saya, novel ini sangat datar, ditambah adegan atau kalimat yang sering diulang-ulang. Padahal daripada mengulang adegan atau kalimat, misalnya mengulang-ulang bahwa Cynara masih mencintai Elbert, alangkah lebih baik ada satu bab khusus yang menceritakan secara lengkap, kronologis, bagaimana pertemuan Cynara dan Elbert. Juga sekalian tambah satu bab khusus cerita tentang Ben dan Milly biar adil. Jadi setidaknya cerita dalam novel ini tidak mutar-mutar di seputaran pernikahan Ben-Cynara saja. Ada flashback yang lengkap, agar pembaca tidak jenuh. Atau sekalian ada 3 kisah yang diceritakan sekaligus: Ben-Cynara, Ben-Milly, Cynara-Elbert, dalam porsi yang sama. Mungkin konfliknya jadi naik-turun dan jadi tidak sedatar yang sudah terbit ini, hehehe.

4. Cynara itu sungguh menyebalkan ya! Rasanya mau lempar dia pakai asbak biar sadar. Tapi well, kalau pembaca sampai sebal sama satu tokoh sampai seperti itu, berarti penulis berhasil membangun karakter. Vira memang berhasil membangun karakter yang sangat menyebalkan! Tapi jujur kalau saya jadi penulis novel ini, Cynara akan saya buat sengsara seumur hidup: ditinggalkan Elbert dan Ben sekaligus! sayang sekali penulis memilih happy ending. Jadi bertambah datar lah novel ini. Sorry to say.

5. Tapi dari segi sudut pandang tokoh yang bolak-balik Ben-Cynara saya akui Vira berhasil juga menuliskannya dengan rapi. Kronologisnya jelas dan terlihat perbedaan sudut pandang laki-laki dan perempuan.

Over all, novel ini layak dapat bintang tiga sebab karakternya kuat, sudut pandang bagus, kronologis rapi, cover cantik. Dua bintang lagi saya simpan untuk novel selanjutnya agar Vira bisa membuat novel yang lebih bagus lagi, tidak datar konfliknya. Terus berkarya, girl!

Profile Image for Bagus Tito.
Author 2 books6 followers
October 21, 2014
Gue kurang ngerti sebenarnya apa relevansi antara kata 'al dente' dengan cerita utama dalam novel ini. Well, menurut gue sang author rada 'maksa' memasukkan unsur al dente dalam novel ini. Sebab inti sebenarnya novel ini bukan soal filosofi pasta yang cocok jika disandingkan dengan hal serupa cinta.

Soal ceritanya, novel ini bertema marriage. Tentang gonjang-ganjing yang terjadi setelah sang tokoh utama menjalani pernikahan. Well, sebenarnya gue bisa nebak sih dari awal, kemana perguliran kisah Cynara dan Ben. Premis orang ketiga yang dihadirkan dalam kehidupan sang tokoh utama bukan sesuatu yang baru. Bahkan, jujur gue ngaku kalau gue boring waktu baca novel ini. Banyak adegan perseteruan antara Cynara dan Ben yang kesannya diulang-ulang dan tak memberikan makna yang mendalam.

Oke, gue benci sama sang tokoh Utama, Cynara. Andai gue menemukan sosok seperti dia dalam dunia nyata, mungkin gue bakal menjambak-jambaknya. Cynara bisa dibilang sebagai perempuan labil yang nggak punya ketetapan hati. Di awal cerita, diceritakan bahwa Cynara menerima perjodohan antara dirinya dengan Ben (meski dia sendiri nggak nyangka kalau mereka bakal jadi sepasang suami-istri)dan berjanji kalau ia akan mencintai suaminya itu. Namun ketika ia berjumpa Elbert, ia malah nyangkut sama itu cowok. Yeah, mungkin sang penulis mau menunjukkan gimana kegamangan hati Cynara saat ia harus berhadapan dengan pilihan cinta masa lalunya atau suami yang tidak dicintainya. Hanya saja, i dont know why, gue benci aja sama itu tokoh. Itu saja.

Ben juga begitu. Di mataku, dia tak ubahnya cowok lempeng yang kayaknya datar dan nggak punya emosi. Berulang kali Cynara menghabiskan waktunya dengan Elbert, dia diam saja. Oke, mungkin penulis mau bikin imej cowok (suami)penyabar dan pengertian. Tapi, itu terlalu khayal gitu loh. Sesabar-sabarnya cowok dalam dunia nyata, nggak kayak Ben juga kali.

Terus si Elbert. Si pengganggu yang merusak hubungan Cynara dan Ben. Tapi malah mundur dengan entengnya menjelang ending.

Berbicara soal ending, sang penulis juga kayaknya kehabisan ide di detik-detik terakhir. Ending Al Dente benar-benar membuat saya mengerutkan dahi dan berkata 'hah, cuma begitu saja?'.

Okey, gue nggak mau lagi bahas kejelekan buku ini. Setidaknya, novel ini cukup worth lah buat ngisi waktu luang.
Profile Image for Odet Rahmawati.
Author 2 books10 followers
August 17, 2015
Tokoh utamanya kelewat labil. Diawal dia bilang kalau satu-satunya hal yang tidak dia inginkan adalah menikah dengan Ben. Namun, dia malah langsung ngambek ala abege ketika menemukan foto mantan gebetan suaminya. Yang saya rasa bukan atas dasar kecemburuan, tapi dipaksakan saja supaya terlihat ada konflik batin pada tokoh utamanya. Belum lagi masalah kecil lainnya yang sering dipermasalahkan. Padahal barangkali hal-hal mengenai kebiasaan satu sama lain dapat didiskusikan untuk saling mengenal. Bukankah tujuan pernikahan mereka adalah itu, salah satunya?

Selain itu, masalah kedatangan mantan gebetan si tokoh utama yang mengguncang batinnya, ini sangat konyol. Kalau dia memang laki-laki baik dan bertanggungjawab, mengapa tidak sejak awal membicarakan kepastian hubungannya dengan si tokoh utama? Kan semua bisa diperjelas sebelum berangkat kuliah di Boston. Apalagi ketika dijelaskan dia datang kembali untuk si tokoh utama dan melepas karier barunya di sana. Menurut saya ini sangat tidak masuk akal untuk laki-laki sekelas dia. Maksud saya, ngapain harus mengundurkan diri? Kenapa tidak cuti dan ajak si tokoh utama ke Boston dan bekerja di sana atau apa gitu. Biar dianggap berkorban? Pffft. Untuk karier yang katanya tak akan ditolak oleh siapa pun rasanya sangat mustahil. Lagian kalau emang si tokoh utama berarti buat dia, masa selama mengejar karier tak bisa meluangkan waktu untuk sekadar memberi kabar.


Terakhir, si tokoh utama selalu mengumbar dia ingin belajar menjadi istri yang baik untuk Ben. Namun, pelaksanaannya? Yah begitulah. Makna dari pasta dan istilah yang digunakan untuk judulnya pun terlalu memaksakan tampaknya.


Ben juga terlalu lempeng sebagai suami, jadi wajar saja diperlakukan begitu sama istrinya.
Profile Image for Anggita Sekar Laranti.
104 reviews33 followers
August 11, 2014
Oh, Cynara!

Dia punya suami tampan, sukses, kalem, sabar, pengertian, dan romantis (mau masak makanan kesukaan Cynara, candle light dinner waktu Cynara bete...). Dan tetap saja dia menuduh Ben masih punya rasa sama teman dekat Ben, padahal Cynara sendiri...

That scumbag Cynara!

Entah penulis mau membuat tokoh Cynara itu seperti apa. Tapi kalau penulis memang mau menggambarkan Cynara sebagai wanita yang egois, kekanak-kanakan, keras kepala, berpikiran sempit, mau menang sendiri (eh, sama kayak egois ya?), dan sifat-sifat menyebalkan lain, ya, penulis berhasil.

Namun jika penulis ingin menarik simpati pembaca untuk Cynara lewat narasi kegalauannya, sepertinya, err... gagal. Aku betul-betul ingin menenggelamkan Cynara di rawa.

Bagaimanapun juga, novel ini berhasil membuatku nggak bisa berhenti baca, karena penasaran apa yang akan terjadi pada Ben dan Cynara. Tapi sepertinya, aku akan senang kalau Cynara mengalami kejadian buruk =))

Namun, kalau buat novel 'agak dewasa' (?) begini, rasanya sayang kalau konfliknya hanya berkutat masalah kegalauan si tokoh. Itu... abege sekali. Elbert juga... ah! Tidak mengungkapkan perasaannya selama ini karena menunggu waktu yang tepat? Astaga. ASTAGA!

Dan waktu si Elbert bilang ke Cynara, "Dua tahun kebersamaan kita di kampus nggak cukup bikin kamu sadar, ya?"

MEMANGNYA DIA PIKIR CYNARA ITU APA???? CENAYANG???? HAAAAAHHHH???? JAWABBB!!!! MAU MEREKA BERSAMA SEJAK JAMAN TANAM PAKSA JUGA KALAU NGGAK BILANG MANA CYNARA TAHUUUUUU!!!!

Emosi, deh!

Anyway, terima kasih atas bukunya, Kak Vira ^^
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
August 20, 2014
Cynara ‘Nara’ Pratita dan Benjamin ‘Ben’ Farid sudah saling kenal dari kecil. Nara bersahabat dengan adik Ben, Anindita (Dita), begitu pula dengan kedua keluarga mereka. Perjodohan dirancang saat mereka dewasa dan mereka pun menikah. Nara menerima perjodohan karena dia yakin Ben memang ditakdirkan untuknya. Sedangkan Ben baru menyadari semenjak dulu dia sudah menyukai Nara. Dia menunjukannya dengan sebuah janji, di setiap tanggal pernikahan mereka, dia akan memasak makanan kesukaan Nara, pasta.

Di bulan pertama pernikahan mereka, Nara menemukan album lama milik Ben yang memuat foto yang cukup akrab antara Ben dan seorang perempuan bernama Milly. Nara menuduh Ben masih punya perasaan untuk Milly. Saat itu pula, laki-laki impian Nara muncul lagi. Dia adalah Elbert ‘El’ Octavio, kakak tingkatnya semasa kuliah.

Al Dente: Waktu yang Tepat untuk Cinta ini sepertinya tidak ‘dimasak’ secara sempurna. Banyak bagian yang membuatku bosan, bingung, bahkan kesal sendiri. Padahal aku suka sekali dengan premis perjodohannya. By the way, aku selalu suka dengan cerita perjodohan. Jadi begitu makna perjodohan tersirat di bab pertama, aku langsung tenggelam ke dalam ceritanya, apalagi gaya bahasanya lumayan enak dibaca. Tapi makin dalam, aku tidak tertarik lagi. Karakter Nara ini menyebalkan. Dia tidak begitu antusias menerima Ben sebagai suaminya, lalu marah-marah karena Ben punya keakraban dengan perempuan lain, tapi dengan datarnya pergi ‘berkencan’ dengan laki-laki lain.

Baca review selengkapnya di sini -- http://bit.ly/1n8xLbq
Profile Image for Viona.
185 reviews6 followers
November 14, 2014
Al Dente sendiri artinya adalah: tidak lengket di gigi. Rasanya pas, tidak lembek, tapi di masak dengan kematangan yang pas.
Al Dente biasanya akan diungkapkan seseorang disaat ia telah melahap habis pastanya, spagethi maupun fettucini. Jika menurut mereka rasanya pas dan tidak lengket di gigi, maka rasanya AL DENTE.
Lalu, apa hubungan dari Al Dente dengan isi cerita pada buku ini?
Mirip seperti ALL YOU CAN EAT nya Chrismo yang menggambarkan bahwa tokoh utamanyasuka memasak, di buku ini, tokoh utama wanitanya, Cynara suka makan pasta. Tentu saja, pastanya harus Al Dente. Nggak semua orang bisa membuat pasta yang Al Dente. Bahkan, suami Cynara pun nggak bisa. Dan nggak bisa bukan berarti nggak mau belajar terus.
Benjamin, suami Cynara berjanji untuk memasak pasta untuk istrinya setiap hari jumat.

Ternyata, menjalani sebuah rumah tangga itu sesulit membuat pasta yang rasanya Al Dente. Baru menikah dan memasuki minggu ke-2, hubungan keduanya meregang. Masing-masing orang dari masa lalu mereka muncul ke permukaan. Belum lagi kehadiran Elbert, senior yang pernah ditaksir Cynara datang dan menemuinya lalu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Nara.
Di sisi lain, Milly, sahabat Ben sewaktu SMA yang selalu menelepon Ben membuat Nara cemburu dan memikirkan ulang tentang pernikahannya dengan Ben.

So, pada akhirnya, bagaimana keadaan pernikahan mereka?


Novel debut yang 'cukup baik'

Read more: starlibrary.wordpress.com
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Mikayla Fernanda.
Author 1 book1 follower
August 7, 2014
Yang hobi baca romance, hayuk baca Al Dente. Recommended pokoknya!

Novel ini ditulis dengan filosofi kata "Al dente". Ibarat Spagheti, menurut novel ini konsep cinta harus tepat, sempurna dalam takaran. Konsep itu diramu dengan bagus di novel ini, dengan karakter-karakter yang menawan hati.

Jalan cerita mantap. Filosofi dapet. Emosi? Wuih, dapet banget. Karakter Ben baik beneran. Tipe cowok setia lah pokoknya. Sedangkan aku menahan diri buat tidak menjewer si Cynara yang reseh dan tukang galau. Si Elbert juga rasanya pengin aku timpuk, secara datang pergi nggak tahu diri. Gebleknya si cewek nurut lagi! Sampai rela nerima cowok itu balik.

Anyway... aku agak terganggu dengan karakter Ben yang menurutku agak "kurang laki-laki". Mungkin karena ditulis dengan POV "aku" untuk dua karakter utama (Ben dan Nara). Ini trik yang bagus buat mendapat insight dari keduanya, tapi penulis harus hati-hati supaya suara dari masing-masing karakter jangan sampai terlalu mirip. Naaah... ini yang harus diperbaiki dari Vira di novel selanjutnya. Karena karakter cowok mellow/melankolis tetap harus lebih laki-laki dari seorang cewek tomboy. Speech dan gerak-geriknya pun berbeda. Ini point yang menurutku kurang dari novel ini.

But overall... 4 bintang dari saya. Good job, Vira!



Profile Image for haerani.
21 reviews2 followers
August 9, 2014
salah satu novel yang bikin emosi banget >< sampai 3/4 bagian sudah pengen ngelempar nih novel dan nggak pengen ngelanjutin lagi, tapi di dorong rasa penasaran akan endingnya jadinya saya lanjutin sampai akhir.

Tema ceritanya sebenarnya salah satu tema favorit aku tentang perjodohan. Nara dan Ben akhirnya menikah setelah orang tua mereka menjodohkan keduanya. Nara walaupun sempat ragu akhirnya menerima perjodohan ini, sedang Ben tanpa keraguan sedikitpun langsung nerima2 saja. Pernikahan yang baru seminggu itu awalnya berjalan lancar, sampai kemudian Nara dilanda cemburu dengan kehadiran seseorang dari masa lalu Ben, begitu pula dengan masa lalu Nara.

Sumpah gregetan banget ama Nara yang selalu melimpahkan kesalahan ama Ben, padahal jelas2 yang hatinya bermasalah dia. Nara terlalu egois, dia gelap mata sampai nggak pernah mengerti perasaan Ben. Pokoknya saking kesalnya ama Nara, pengen ending yang jelek buat dia hahahaha...

Buat debut, novel ini lumayanlah. lumayan bikin emosi walaupun begitu selesai bacanya aku gak dapat kesan apapun. just saying aja..
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
June 27, 2014
Walah, gue jadi the first reviewer dan rater hehehe :p.

Sebelumnya terimakasih dulu untuk penulis dan pihak Gagas yang udah ngirimin buku ini ke gue sebelum bukunya diedarkan. Let's reviewwwwwww!

Tadinya mau ngereview banyak, tapi setelah dipikir-pikir, jangan deh. Biar kalian penasaran, beli dan baca sendiri aja. Gue tulis kesan-kesannya aja, ya.

Bagussss. I enjoy it. Ben-nya gue bangettttt. Buat yang suka sama karakter cowok kalem-ganteng-kutubuku-pinter-pendiem-ga romantis-statis-lempeng-setia setengah mati: i suggest u to buy and read this one. Hihihiw.

Anw, saat baca buku ini, gue saranin lo sedia pasta instant dulu deh. Pendeskripsian pasta yang 'al dente' di buku ini sukses bikin pembacanya kebayang-bayang dan ngidam makan pasta saat itu juga hehehe.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
July 13, 2014
membaca novel ini sebenernya sebuah paksaan, dan pas selesai baca gak ninggalin 'scar' alias biasa aja. kekurangan ada di cover yang un-eyes-catching, konflik yang berkutat disatu masalah alias gak berkembang , ditambah karakter Nara yang bikin gue yakin dia cabe-an #eh. alur plus karakter kuat dari Ben yang bikin gue lanjut baca, kekuatan lain ada di pembagian cerita yang dari sinopsis gue pikir cuman bakalan diceritain dari POV si cew ternyata dari si cow juga. novel ini masih mending lah dari Monte Carlo atau Casablanca (serial STPC jidil 2), dan Sabtu Bersama Bapak yang belom tuntas atau mungkin males lanjut gue baca. oia pemilihan judul sebenernya gak begitu related sama cerita si menurut gue :))))) coba mba karakter Ben dikembangin jadi cerita lainnya #advice. merci.
Profile Image for Rie_dominique.
664 reviews66 followers
September 3, 2014

2,5*

Ben dan Cynara menikah karena perjodohan. Tapi itu bukan berarti mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Cynara dan Dita, adik Ben, malah berteman akrab, begitu pula para orangtua mereka. Tetapi tetap saja, ketika kedua orangtua menjodohkan mereka, Cynara sangat terkejut, Ben sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Yang lebih mengejutkan Cynara, Ben malah menerima perjodohan tersebut.

Setelah berpikir panjang dan memutuskan untuk berhenti mengharapkan cinta yang tak kunjung datang, Cynara akhirnya menerima perjodohan tersebut. Ben bukanlah lelaki yang diimpikannya untuk menjadi suami tetapi takdir mungkin sudah menuliskan seperti itu.

Full Review baca disini
Profile Image for Zulazula.
19 reviews2 followers
September 12, 2014
Review ini bukan semata karena gue temenan ya hihi. Al Dente, bukan buku yang membahas tentang pasta melulu. Mengisahkan cinta dengan balutan berbeda. Harus merasakan keraguan terlebih dahulu baru tahu saling cinta begitulahh. Tokoh - tokoh yang ditulis Helvira antara satu dan lainnya memiliki karakter berbeda tentunya. Mulai yang sabar sampai ngeselin (kalau udah baca tahu deh siapa tokoh yang ngeselin itu) jujur saja gara-gara tokoh tersebutlah Zula menunda-nunda menyelesaikan novel ini. Capek bacanya. Tapi dipertengahan kamu mulai dibuat penasaran dan itu pula pertanda bahwa harus membaca novel ini sampai selesai! Penasaran? Beli aja :)
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
August 26, 2014

Pengen ngasih 3,5 sebenernya. Tapi pengen ngasih 4 bintang juga.. Tapi karena ga ada 3,5 bintang disini, jdnya 3 aja. 1 bintang utk gaya nulisnya yg bagus banget, setengah bintang utk covernya yg lucu, 1 bintang untuk quotes ttg cinta nya yg nge jleb banget sukses bikin berenti baca buat mikir. 1 lagi untuk sikapnya Ben! Heran aja lah sama Nara
Profile Image for Alberta Adji.
Author 4 books12 followers
November 17, 2014
Acungan jempol untuk bahasanya yang mengalir, dan membuat siapa saja jatuh cinta dengan sosok Ben yang penuh tanggung jawab, sopan, tegas, dan romantis. He is such a great character to write about!
Pastinya, nggak rugi dapat buku ini buat menambah koleksi bacaan roman.
Simple, calm, and yet so touching.
Bravo Mbak Helvira Hasan!
122 reviews2 followers
September 8, 2014
dianugerahi suami baik hati, mapan, tampan, sayang, cinta dan mau masak buat Cynara. ternyata nggak cukup buat dia. Cyanara terlalu keras kepala, keras hati dan egois, menurutku.

konyol aja sama si Cynara.. :/

tapi endingnya mendingan lah, Ben dapet balesan yang setimpal, setelah berusaha mempertahankan rumah tangganya.


kasih dua bintang dengan tidak ikhlas ...
Profile Image for Anna Rakhmawati.
Author 2 books10 followers
December 6, 2014
Baru nyadar kalo selama ini saya salah kaprah denfgan Al dente, seperti halnya BEn, yang menganggap Al dente adalah enak, padahal artinya adalah gigi dalam bahasa italia, hehehe. Konfliknya ringan, mengalir, renyah, al dente! slllrrpp Nah jadi pingin pasta carbonara >_<
Selamat menikmati :)
Profile Image for Atika Salsabila.
14 reviews
September 9, 2014
Yah,seperti yang beberapa review lain bilang baca bukku ini tuh bawaannya emosi. Rasanya mau udahan aja bacanya karena si Cynaranya itu ngeselin banget!!Yah, 2,5 bintang buat buku ini.
Profile Image for Amalia.
72 reviews8 followers
October 21, 2014
Quotes-nya bagus-bagus. Tapi jalan ceritanya (agak) de javu.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.