Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perundungan Maut

Rate this book
DENDAM HARUS DIBALASKAN, BAHKAN SETELAH MATI .

Suatu hari, Mia tak sengaja memergoki perundungan di sekolahnya. Dia memilih bungkam karena takut berdampak pada dirinya jika melapor. Namun, siapa sangka, perundungan itu berujung fatal. Tujuh tahun kemudian, Janu, sepupu Mia, sekolah di SMA yang sama. Beberapa kali Janu diganggu sosok yang jelas bukan manusia. Sementara itu, para perundung yang dulu dipergoki Mia tewas satu per satu.

Mata dibalas mata. Sang korban perundungan tak akan berhenti sebelum dendamnya terbalas sempurna. Maka, Mia pun berpacu dengan waktu, sebelum Janu dan dirinya sendiri menjadi korban berikutnya.

160 pages, Paperback

Published February 3, 2025

2 people are currently reading
17 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (10%)
4 stars
2 (20%)
3 stars
7 (70%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Readingwithhirai.
241 reviews6 followers
October 20, 2025
“Apakah nyawa harus dibalas dengan nyawa?”

Perundungan Maut merupakan buku horor yang tipis hanya terdiri dari 160 halaman saja namun mengangkat isu menarik seperti perceraian orang tua, bullying, praktek perdukunan dan juga persahabatan. Kita akan bertemu dengan tokoh bernama Mia, dalam cerita ini dia berperan penting sebagai saksi sebuah tragedi perundungan temannya namun dia memilih bungkam sampai korban tersebut akhirnya meninggal. Masa sekolah yang seharusnya menjadi masa menyenangkan justru menjadi bayang-bayang menakutkan bagi Mia. Dia terlalu lama berpikir sampai waktu berjalan merenggut kesempatannya untuk bersaksi.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana awal permulaan hantu tersebut menuntut balas dendam, praktek perdukunan, kemampuan seseorang melihat atau merasakan kehadiran hantu dan juga kejadian teror mencekam. Uniknya di sini mengapa teror justru dirasakan Mia saat kembali ke daerah sekolahnya dulu padahal selama di tempat baru Mia aman tanpa gangguan. Begitu juga dengan bagaimana hantu tersebut tahu hubungan Mia dan Janu? Kayak kalau bisa bisikin Mia aku bakal minta dia tak perlu balik ke daerah itu lagi.

Namun yang namanya hukum karma, sebab akibat atas tindakan yang dilakukan sekecil apapun pasti membutuhkan pertanggungjawaban bukan? Mungkin itu tujuan dari buku ini sebagai reminder bagi para pembaca. Alurnya memang campuran sebagai penjelas suasana dan kasus yang diangkat. Pikiran Mia kalut mengenai masalah kedua orang tuanya belum lagi dirinya harus bersaksi atas kematian orang yang sudah bertahun-tahun lamanya. Buku horor yang lumayan mencekam untuk dibaca dalam sekali duduk. Gaya bahasa yang digunakan juga cukup santai dilengkapi cuplikan isi pesan pendek dari masing-masing tokoh untuk memperjelas latar suasana yang ingin dibangun. Tokoh-tokohnya memang banyak namun sebagian besar hanya diceritakan sekilas sebagai penunjang cerita saja jadi tidak membingungkan.

Meskipun buku ini kurang menjelaskan detail penting seperti balas dendam yang dilakukan keluarga korban, nasib Janu dan beberapa hal yang dibiarkan menggantung namun mampu menghadirkan plot twist yang cukup mengagetkan. Sepertinya dendam itu masih terus berlangsung entah mencari korban baru dalam perangkap maupun dibiarkan binasa ke dalam cerita legenda sekolah dari masa ke masa.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
• Isu yang dibawa menarik yakni bullying, praktek balas dendam dengan bantuan dukun, indigo dan juga perceraian orang tua.
• Detail kengerian teror yang diberikan cukup berasa.
• Penyelesaian dendam dan balas dendam yang nyata.
• Plot twist yang cukup mengagetkan tentang bagaimana kelanjutan nasib Mia serta orang-orang lain yang terlibat di dalamnya.
• Ceritanya ringan dengan alur yang mudah dipahami meskipun masih menyisakan beberapa tanda tanya karena dibiarkan menggantung.

Pelajaran yang Didapatkan:
Jangan pernah melakukan perundungan pada siapapun karena pada dasarnya kita memiliki kedudukan sama tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi. Semua siswa memiliki hak kenyamanan sama di sekolah jadi lebih baik saling mendukung tanpa menghakimi. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi saksi atas segala hal yang aneh dan tidak benar meskipun resiko memang mengintai. Kalau merasa tidak mengerti harus melakukan apa cukup rekam dan laporkan jangan lupa lindungi dirimu juga jangan sampai jadi korban selanjutnya. Bukan selalu mengenai teror hantu namun rasa bersalah akan selalu bersemayam seumur hidup.

Untuk Siapa Buku ini Wajib Dibaca?
Buku ini cocok dibaca untuk semua pecinta horor ringan dan tema perundungan sebagai reminder diri bahwa setiap hal yang dilakukan pasti ada sebab akibat di dalamnya.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books93 followers
March 14, 2025
Bacaan horor ringan yang cukup memikat saya hingga bisa menyelesaikannya dengan lumayan cepat. Memikat, karena bagi saya premisnya menarik. Tokoh utama (Mia) kembali ke kota tempat tinggalnya dulu karena ingin menjauh dari konflik antara kedua orang tuanya. Namun, ia malah terlibat lagi dalam peristiwa perundungan yang ia saksikan dulu sewaktu SMA. Mia memilih diam saja saat itu, dan ujung-ujungnya si korban perundungan, Yudit, tewas. Kini, para pelaku perundungan mulai tumbang dalam kematian tidak wajar. Apakah Mia juga akan menjadi sasaran dendam arwah Yudit?

Sayangnya, bagi saya, buku ini kurang fokus dalam menggelar eksekusi ide di atas. Banyak betul hantu, makhluk gaib, atau apalah sebutannya, dimunculkan, tanpa ada benang merah yang benar-benar menyatukan mereka. Kalau benang merahnya adalah 'hantu-hantu di sekolah', lalu kenapa memunculkan hantu di jembatan segala? Kenapa Janu, sepupu Mia, malah dihantui arwah tentara Jepang? Memang apa hubungannya si arwah dengan Yudit? Apakah mereka sudah bersepakat bahu-membahu mengganggu target-target tertentu? Ya entahlah kalau di alam nyata (ha!) bisa-bisa saja ada sejumlah hantu koeksis secara random di satu tempat, tidak perlu membentuk jalinan apa-apa, tapi dalam dunia cerita seperti ini, rasanya jadi riuh semata tanpa begitu jelas efeknya ke plot utama.

Horor yang tersaji di buku ini juga terasa kurang menggedor justru karena reaksi yang ditunjukkan karakter-karakternya. Mereka saja cenderung biasa-biasa saja, lalu mengapa kita pembaca harus takut? Seharusnya kengerian yang mereka rasakan gara-gara peristiwa aneh yang menimpa mereka bisa dipampangkan dengan lebih menggerakkan pembaca. Belum lagi reaksi kurang wajar yang ditunjukkan Mia ketika Irwan, salah satu pelaku perundungan, lompat dari jembatan. Okelah kalau dia tidak percaya polisi sehingga ogah menghubungi lembaga yang satu itu, namun baik Mia maupun pengemudi taksi yang ia tumpangi tidak tergerak mencari pertolongan setidak-tidaknya dari penduduk sekitar untuk mencari, bahkan mungkin menyelamatkan, Irwan. Mia hanya mengabari teman-teman sekolahnya dulu lewat grup WA, lalu menunggu saja sampai ada berita jenazah Irwan ditemukan di sungai. Ditambah lagi kemudian akhir cerita Mia yang bagi saya terlampau abrupt, tiba-tiba. Padahal perkara mengapa Janu masih diikuti hantu tentara Jepang juga belum terjawab. Mungkin maksudnya ingin dibiarkan menggantung? Namun, rasanya malah hanya menambah daftar ketidakjelasan di buku ini. Belum lagi perkara orang tua Yudit yang sempat muncul di awal. Saya berharap tadinya ada lanjutan penjelasan tentang apakah benar segala peristiwa itu adalah buah dari perbuatan yang mereka lakukan di pembuka itu, ternyata tidak.

Satu lagi yang kurang memuaskan saya adalah masalah konflik orang tua Mia akhirnya hanya seperti alasan untuk 'memindahkan' karakter Mia dari Jakarta kembali ke Malang untuk bertemu arwah Yudit. Saya kira, akan lebih baik seandainya segala peristiwa yang dialami Mia akibat arwah Yudit digambarkan berujung juga pada, misalnya, cara ia menyikapi masalah dalam keluarganya itu. Ternyata tidak juga (tapi koreksi saya bila ada hal yang kelewatan saya baca, ya!).

Menurut bio pengarang, ini adalah debut Ranissa Tya untuk penerbit Elex. Moga-moga ke depannya sosok baru penulis horor/misteri kita ini bisa menerbitkan lebih banyak lagi buku yang makin menarik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for aynsrtn.
574 reviews23 followers
February 16, 2026
Mia tidak pernah menduga bahwa menjadi bystander perundungan yang dialami oleh Yudit—yang mengakibatkan Yudit ditemukan meninggal di sekolah—dapat membawa petaka dan teror dalam kehidupan Mia. Dendam harus terbalaskan bagaimana pun caranya.

Sejujurnya cerita di buku ini sangat potensial. Menggabungkan cerita tentang perundungan yang berujung pada teror, horor, dan kematian. Namun, sayangnya tidak dieksplor terlalu mendalam. Bukunya tipis hanya 160 halaman dan terlalu banyak “lubang” kemudian tetiba epilog aja. Antara prolog dengan cerita utama tidak berkesinambungan, tak kira akan ada jawabannya di epilog. Tetapi nggak juga. Prolognya apa, cerita utamanya apa, epilognya bahas apa. Padahal kalau dibuat 200 halaman atau 250 halaman, mungkin ceritanya lebih bisa ajeg dan solid.

Ini adalah karya debut, jadi penulisnya masih banyak kesempatan untuk belajar bagaiman mem-build up cerita lebih matang lagi. Efek horornya sudah baik. Bisa ditingkatkan lagi. Semangatss.

Kalau kalian butuh bacaan horor yang bisa dibaca sekali duduk, bisa baca buku ini.

🌹 3 bintang untuk jembatan.
64 reviews2 followers
February 9, 2025
Kesekian kalinya gue baca novel tentang bullying. Tapi yang beda di novel ini adalah mengulik pov Mia, saksi bullying yudith yang dilakukan geng leo. plotnya enak dibaca sampai akhir. mana tipis 156 hal aja. bisa dibaca sekali duduk.
sayangnya, menyisakan dua tanya di benak gue. arwah yudith kok tau si janu sepupu mia? kenapa yudith menyerang janu? kenapa yudith ganggu mia di sekitaran jembatan juga? biasanya hantu itu cuma berpusat muter2 sekitar tempat dia meninggal.

terus nih tau-tau epilog aja -_-
Displaying 1 - 4 of 4 reviews