Ketika membuka mata, tiba-tiba saja Matthew sudah berada di sekolah lamanya, SMA Polaris. Dia tidak ingat bagaimana caranya bisa sampai ke sekolah tersebut, padahal SMA Polaris sudah ditutup.
Di tengah gelapnya sekolah itu, ponsel di tangan Matthew bergetar. Bukan, itu bukan ponsel Matthew, tapi benda itu berada dalam ranselnya tadi. Mungkin ada seseorang yang dengan sengaja memasukkannya ke sana. Pemuda itu menyalakan ponsel, dan pesan di layar berbunyi, Sebutkan nama orang yang kalian bunuh tahun lalu!"
Wah, aku bilang buku ini keren sih! Habis baca buku ini malah jadi bahan obrolan sama suami dan anak anak 🫶🏻
Matthew Bennet tiba-tiba terbangun di gedung lama SMA Polaris yg sudah ditutup. Ia tidak ingat bagaimana sampai di situ dan menemukan ponsel asing di dalam ranselnya berisi pesan yg menakutkan:
“Sebutkan nama orang yg kalian bunuh tahun lalu!”
Matthew tidak sendiri. Ia bersama empat mantan teman sekelas, Courtney, Eli, Shelby, dan Brian, yg semuanya pernah merundungnya dulu. Mereka sekarang terperangkap dalam “permainan” teror yang disusun Victor, si penculik. Setiap orang harus menyebut “nama korban pembunuhan” agar bisa bertahan hidup.
Di sinilah cerita mulai bergulir dengan nuansa mencekam dan penuh tekanan psikologis. Novel misteri yang dibalut dengan tema bullying dan balas dendam.
🔸🔸🔸
L. Zeth menulis novel ini dengan gaya narasi yg mengalir dari sudut pandang bergantian para tokohnya. Pendekatan ini membuat pembaca bisa merasakan ketegangan dan konflik batin dari masing-masing karakter secara lebih dekat dan emosional.
Meski alur cerita di awal memang terasa lambat karena banyak pengulangan dan tekanan emosi yg dipaparkan terus-menerus, dan aku merasa sedikit bosan sebelum konflik utama berkembang, tapi banyak banget pelajaran yg bisa diambil.
🔹 Perlu memilih lingkaran pertemanan yg tepat. Jika circle-mu bermasalah, tentu saja kau akan terseret arusnya. Sama halnya seperti penjual parfum, dekat dengannya kita akan ikutan wangi.
🔹 Perilaku bullying ini perlu mendapatkan edukasi secara gamblang. Nggak cuma untuk pelaku dan korban, tapi juga pihak ketiga yg ‘melihat’ jangan dibiarkan diam saja. Berikan pertolongan dengan meminta tolong pada yg mampu jika tak mampu melakukannya sendiri.
🔹 Hidup memang terkadang sulit dan tidak adil, jika kita semua terus berjuang dan tidak menyerah terhadap kehidupan, barangkali suatu hari nanti kita akan menengok ke belakang dan bersyukur karena tidak pernah menyerah. Selama masih hidup, selama itu pulalah ada harapan.
Jujur, baca novel ini tuh kesannya kayak baca buku terjemahan. Mulai dari nama tokohnya yang 'bule' banget, trus deskripsi gedung sekolahnya pun lebih ke gedung sekolah yang biasa aku nonton di film² barat (bukan tipe gedung sekolah indo), dan secara kalimat per kalimat, bahasa buku terjemahan banget. Aku malah sempat mikir apa ini awalnya ditulis english trus diterjemahkan ke indo, wkwkw Mungkin kalo sebelumnya aku belum tau kak El, aku pasti bakal ngira ini buku penulis luar yang diterjemahkan. . Novel ini pake multiple pov, semua tokohnya dapat bagian untuk menyuarakan isi kepalanya, termasuk isi kepala dari si penculik. Jadi ini yang buat suasana menegangkannya tuh kerasa banget. Gimana mereka pura-pura berani, padahal ketakutan setengah mati. Rasa ketakutan mereka ini nyampe banget ke aku, berasa aku juga ikut kena teror.
Ketegangan gak cuma di penculiknya, tapi juga di sesama mereka. Karena ga merasa pernah bunuh orang, jadi mereka saling nuduh. Agak gregetan disini, bukannya mikir malah ribut melulu, ckck.
Dari awal udah tegang banget sampe menuju akhir, tapi endingnya malah dikasih sesuatu yang heartwarming, yang bikin kita merenung sejenak.
Menceritakan tentang Matthew Bannet, anak beasiswa miskin yang bersekolah di sekolah elit, SMA Polaris. Selama bersekolah, Matthew selalu jadi anak yang selalu dirundung karena miskin. Suatu ketika, dia tiba-tiba terbangun di gedung sekolah lama yang sudah lama ditutup. Matthew tidak ingat kejadian mengapa dia bisa ada di gedung itu. Di dalam tasnya, dia menemukan sebuah ponsel yang bukan miliknya.
Ponsel itu memberikan sebuah pesan: sebutkan nama orang yang kalian bunuh tahun lalu.
Matthew yang merasa dirinya selalu menjadi korban perundungan, tidak pernah tahu atau merasa membunuh seseorang di sekolah.
Dan ternyata di gedung itu, Matthew tidak sendirian. Dia terjebak bersama empat teman sekolah lainnya: Shelby, Courtney, Eli, Brian. Mereka semua diculik oleh seseorang yang bernama Victor. Mereka dituntut untuk menyebutkan siapa nama orang yang mereka bunuh. Kalau mereka gagal, merekalah yang akan dibunuh.
Baca buku ini alurnya mengalir dan mencekam. Namun, dari aku yang kurang bisa nyaman dengan banyak tokoh dan karakteristiknya terlalu mirip, aku jadi sulit untuk membayangkan sedang ada di pov siapa ketika membaca. Semua karakter digambarkan sama, yang membedakan hanyalah case mereka. Misalnya, Shelby anak kaya. Courtney yang gampang disuruh, dll. Jadi mungkin aku agak ketuker-tuker sama pov siapa.
Buku ini ringan, tapi sepertinya tidak bisa diingat dalam jangka panjang.
Matthew terbangun di sebuah ruangan sekolah lamanya. Dia diculik oleh seseorang. Lalu, dalam sebuah telepon, seseorang memintanya menyebutkan satu nama siapa yang ia [mereka] bunuh tahun lalu. Matthew tidak pernah ingat nama itu. Matthew tidak pernah merasa membunuh siapa pun. Dan dalam waktu terbatas, Matthew diberikan dua pilihan: menyebutkan nama atau hidupnya berakhir di tangan sang penculik.
Kalau tidak melihat nama penulisnya, aku sudah akan mengira bahwa buku ini adalah buku terjemahan. Nama-nama tokohnya: Matthew Bennet, Courtney Morrison Elijah Scott, Shelby Delaney, Brian Williams. Setting-nya di kota bernama Polaris. Sungguh rasanya seperti berada di nuansa thriller belahan dunia barat.
Premisnya cukup menarik. Mengingatkanku pada sebuah film berjudul Ekskul (2006). Tema besar yang diangkat yaitu perundungan dan segala implikasinya, menambah getir sekaligus ngeri karena dibalut dengan adegan-adegan sadistik dan cukup berdarah-darah.
Namun, sayangnya tidak ada efek kejut. Tidak ada twist. Dari awal kita sudah disuguhkan pelakunya siapa. Motifnya pun sudah terlihat. Paling dibuat deg-degan menantikan siapa yang akan [...] selanjutnya, lalu bakal diapain, dan petunjuk-petunjuknya apa. Udah itu aja.
Konsep prolog dan epilog yang ada unsur magical realism/fantasy menurutku penting nggak penting sih. Karena di tengah cerita nggak ada bridging-nya. Jadi, kesan "taruhan" itu pun cuma sekadar tempelan aja. Dan akhir penyelesaiannya pun dibuat cepat. Agak dragging sih.
Meskipun demikian, bukunya cukup seru buatku. Salut buat penulisnya yang membuat narasi dengan lebih dari 3 sudut pandang. Voice-nya pun beda-beda. Kerasa ini memang Matthew yang lagi ngomong, ini Courtney, ini Shelby, dan yang lainnya.
Matthew, Shelby, Courtney, Eli, dan Brian terbangun di sekolah lama mereka yang sudah tidak terpakai. Tanpa cahaya, tanpa sinyal telepon. Sang penculik—Victor—meminta mereka menyebutkan satu nama yang telah mereka bunuh jika ingin keluar dengan selamat dari tempat itu.
Premis tentang pembalasan dendam untuk perundung selalu menarik minatku. Apalagi belum lama ini aku baca Reset karya Kak L. Zeth dan sangat memuaskan. Jadi aku berekspektasi tinggi dengan alur yang muter muter menegangkan.
Sayangnya, ga sesuai harapanku.
How do i say it? Setiap aspeknya cukup predictable. Untukku.
Mulai dari kenapa Matthew bisa ada di situ, siapa yang akan mati dan urutannya hingga siapa yang bisa selamat itu udah terbaca. Jadi, enggak bikin timbul rasa bertanya tanya yang bikin deg deg an. So flat. Sangat susah buat baca 2-3 paragraf secara utuh because even though i only read the first and the last sentences, i can understand what is written.
Not bad buat yang mau membaca cepat. Tapi karena ini tipis, jadi rasanya kek kurang puas aja.
Oh, buku ini ditulis dengan pov 1 dari masing masing tokoh. Jadi ada 6 sudut pandang di sini baik dari pelaku maupun korban penculikan. Ini seperti pisu bermata dua.
First i was like, bjir ganti ganti tokohnya how i suppose to remember them lah. And then i was like, oalah ini bocah bocah gendeng emang beneran berengsek. Karena aku jadi tau gimana sudut pandang dan pemikiran masing masing tokoh.
Manusia itu menyeramkan. Tapi rich spoiled brat itu adalah spesies paling menjijikan. Ewww!!
Lalu, either i missed something, or there is something that belom jelas ini umur tokohnya. Awalnya aku kira dari cara bicara, pergaulan dan penggambarannya aku kira mereka tuh udah kuliah. Sampe akhirnya di scene yang bahas umur shelby ketemu Courtney itu baru ngeh they're just 16yo.
Lalu, i cas say buku ini termasuk gore ya. It's giving 2016 wattpad stories ketika kamu cari keyword psychopath or gore. Mirip gitu sat set sat set dan bunuh bunuh ctas ctass csszzz!!!
Overall, ini buku yang fun but not special for me. Yeah.
gue suka idenya. 4 pelaku bullying+1 korban dari mereka berempat diculik di SMA Polaris tempat mereka bersekolah. sekolahnya ini udah terbengkalai karena pindah gedung. mereka dituntut sebut 1 nama orang yang mereka bunuh tahun lalu. sayangnya mereka nggak ada merasa bunuh orang. satu per satu dari mereka mati.
nopel ini make pov "aku" dengan 6 tokoh berbeda. jadi pembaca tau isi kepala dan karakter tokoh. sayangnya ini malah bertele2 banget. sampe 80 hal aja masih stuck di situ2 aja. gue nyaris DNF karena membosankan. untungnya mulai 90 hal ke atas mulai seru.
plotnya lebih lurus dibanding nopel L.. zeth terdahulu. sayangnya menyisakan tanda tanya, "klo si korban yang mati itu nggak punya siapa2 lagi, kenapa pihak sekolah pas kematian korban menghubungi si pacar korban? apa pacar korban yang menanggung biaya sekolah korban? Kenapa penculik cuma ngebet banget pengen 5 orang ini nyebut nama?"
Awal baca merasa terganggu dengan gaya bahasa penulisannya yang terkesan seperti karya terjemahan, sampai aku cek berulang-ulang untuk memastikan ini bukan karya alih bahasa. Selain itu, nama-nama tokohnya juga kebaratbaratan. Tapi selain hal-hal itu, buku ini menawarkan 'petualangan' balas dendam yang menurutku seru dan cukup intens. Ada satu deskripsi kejadian yang trigger warning menurutku, tapi sangat bisa dimaklumi karena jalan ceritanya.
I don't know maybe I set my expectation high, but there was something wrong with the story. The murderer seems to have sympathy and its weird because he also knew that he was wrong all the time. There was no such as plot twist. Ugh why they don't do that at first if someone knows the name after all.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya menurut saya gak terlalu mengejutkan namun alurnya sangat bikin penasaran, terutama saat Matthew harus berurusan dengan si penculik. Karakter setiap remaja ini khas banget sehingga tak sulit untuk tahu akhir ceritanya bagaimana.
Peran Victor terlalu antagonis dan cara mengeksekusinya dengan hanya meminta menyebut nama korban terkesan terlalu dangkal untuk sekadar membalas dendam.
awal baca bukunya agak sedikit bosenin, tp semakin dibaca semakin pengen tahu apa penyebab masalah mereka diculik, sama jujur agak kesal sama semua tokohnya yg saling menyalahkan satu sama lain. Tapi pas mau bagian endingnya sedih lihat courtney 😭