Jung Ji-Hye : Hidupku normal-normal saja sebelum ada masalah terbesar datang. Dan parahnya, masalah terbesarku adalah kenyataan bahwa aku takut pada tetangga depan rumahku sendiri. Aku takut pada penguntit, kupu-kupu, jembatan, dan sekarang pada tetanggaku? Apa yang terjadi? Maksudku, dia tidak mengerikan dan bukan pembunuh. Jadi, kenapa aku harus takut?
Lee Joon-Ho : Aku kembali ke Seoul setelah satu tahun menetap di Indonesia. Sekarang kami tinggal di Yuseong-gu. Kurasa ini dilakukan ayah karena SMU Yuseong punya tim basket terburuk sepanjang masa. Ayah memang tidak pernah menyetujui keinginanku untuk bermain basket. Dan ternyata di sini ada masalah lain juga, tetangga depan rumahku yang phobia banyak hal selalu berlari saat melihatku. Kenapa dia harus takut padaku?
FLAZIA, nama pena yang diambil dari akronim nama lengkapnya sendiri--Fildzah Izzazi Achmadi. Sangat mencintai nama pemberian orangtuanya, tapi akhirnya memutuskan untuk membuat nama pena sendiri karena nama lahirnya sedikit sulit untuk dibaca dan diingat. Memilih menulis sebagai kesenangan pertama sekaligus kewajiban kedua. Paling menyukai perpaduan antara Yogyakarta, buku, hujan, dan hari libur.
Phobia. Novel dengan judul berbau psikologis, bertema romantika anak sekolahan, berlatar korea (karena di sampul depannya ada karakter korea dan nama tokohnya pun khas korea), dan mengandung unsur olahraga -terutama basket- ini unik! Keunikannya bisa dibilang beragam. Pertama, sudut pandang semua tokoh ada disini, tidak hanya tokoh utama saja, namun "pemain pembantu" pun diceritakan dengan baik. Kedua, novel ini memberikan gambaran setting tempat dengan cukup baik, sehingga pembaca dapat membayangkan seperti apa lingkungan yang ditinggali oleh si tokoh. Secara tidak langsung memperoleh gambaran tentang kehidupan di korea beserta tempat-tempatnya. Ketiga, sesuai dengan judulnya, phobia yang dialami tokoh Ji-Hye ini benar-benar unik, segala macam phobia dia punya. Bisa dibilang termasuk phobia teraneh yang pernah ada, phobia bila rasa cintanya akan semakin besar, dan.. dampaknya, ya secara otomatis tubuh merespon buat menjauhi marabahaya, jadinya dia ngejauhi si Joon-Ho tanpa tau kalo dirinya phobia sama jatuh cinta (persis sama quote yang nampang di sampul depan novel). Emang namanya jatuh itu pasti sakit, makanya wajar kalo "jatuh" cinta butuh keberanian yang lebih, hahaha. Keempat dan kelima, temanya yang ringan bikin enak banget buat dibaca. Cocok buat ngisi waktu santai tapi sarat ilmu. Dibilang sarat ilmu, soalnya banyak penggambaran kejadian di novel berdasarkan kejadian nyata. Itung-itung tambah pengetahuan umum. Ga cuma itu, olahraga basket dikupas dengan baik dinovel ini, sampai-sampai bab aja bertemakan basket. Skrip puisi juga turut disematkan diawal bab, mempercantik novel dengan gaya khas anak sekolahan, rada-rada suka galau sendiri. Masa SMA itukan masih masa transisi, jadi wajar banget kalo agak labil dan hobi bikin begituan.
Cuma, buat yang nggak terlalu terbiasa baca dengan banyak sudut pandang bisa bingung. Terkadang nama asing bagi sebagian orang juga susah untuk diingat. Novel ini juga kadang mengecoh pembaca, pembaca dibawa naik turun - klimaks antiklimaks klimaks antiklimaks - soalnya banyak detail cerita yang dinarasikan. Dikira udah mau kelar, ternyata masih ada cerita penyambungnya. Tapi, justru dengan detail cerita itu, eksekusi akhir cerita jadi cantik. Endingnya dapet banget.
Hal yang paling suka keingetan dari novel ini, bagian dimana Joon-Ho selalu berulang kali meminta hal yang sama ke Ji-Hye, padahal itu permintaan sederhana. Hanya "Izinkan aku mengenalmu". Ah, dasar si nomor punggung satu ini :)