Keylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.
Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah. Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin. Bau anyir darah tercium dari rumah itu. Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.
Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat. Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus.
Unforgiven: Hantu Rumah Hijau adalah novel kedua karangan Eve Shi yang aku baca.
Ada dua tokoh utama, Kaylin dan Rico. Keduanya teman sejak kecil yang tinggal di kompleks perumahan yang sama. Kebetulan mereka juga bersekolah di SMA yang sama, dan cukup dekat dengan satu sama lain karena sudah lama saling kenal. Ceritanya dimulai menjelang hari pembagian rapor sampai separuh berjalannya masa liburan mereka. Dikisahkan, empat puluh tahun sudah berlalu semenjak terjadinya suatu insiden tertentu di Rumah Hijau, rumah bercat hijau yang terletak persis di sebelah rumah Kaylin. Rumah tersebut sudah lama dikenal angker karena seringnya bergonta-ganti penghuni. Lalu karenanya, hal-hal aneh belakangan terjadi pada Kaylin, Rico, serta orang-orang lain yang merupakan keturunan orang-orang yang pernah terlibat dalam insiden di Rumah Hijau itu.
Ceritanya dibuka dengan menarik dan langsung to the point. Hal-hal ganjil tahu-tahu terjadi, menimpa Kaylin, Rico, serta adik perempuan Kaylin, Cher. Lalu ini semua berujung pada suatu misteri di masa lalu yang berusaha mereka pecahkan sama-sama. Ada suatu feel cerita detektif yang benar-benar kusukai di sini. Sayangnya, ini masih kurang diimbangi penggalian karakter yang kuat, apalagi kalau mengingat ini kalau enggak salah adalah novel ketiga Mbak Eve.
...Eh, tapi ini genrenya horor. Jadi mungkin enggak perlu karakterisasi yang segitunya juga kali ya?
Tapi tetap saja. Itu kekurangan paling pertama yang terasa. Jadi, ada hal-hal aneh berlangsung. Tapi reaksi awal semua karakternya itu terasa sama. Padahal mereka semua adalah pribadi yang dikisahkan berbeda. Rico suka basket, misalnya. Sedangkan Kaylin suka drama. Cher suka Nikki Minaj. Makanya, aku merasa, pola pikir ketiga orang ini mestinya beda 'kan? Tapi dihadapkan pada hal-hal supernatural, reaksi mereka bertiga itu... serasa sama gitu. Mereka sama-sama ragu apa yang baru saja terjadi itu benar-benar terjadi apa enggak. Tapi udah, itu aja. Maksudku, kalau orang beda ngelihat hal yang sama, mereka normalnya keingat dan kepikiran hal-hal yang beda. Jadi, aku menyayangkan kenapa perbedaan ini enggak digali lebih dalam, sebab pada dasarnya di atas kertas mereka bertiga memang menarik.
Keluhan kedua: aku tak yakin apa penyebabnya, tapi narasi di buku ini juga terasa terpatah-patah pada beberapa bagian. Jadi, misalnya, di satu alinea, dijabarkan soal apa yang baru terjadi. Lalu tahu-tahu di paragraf berikutnya, ada deskripsi kalau si hantu muncul. Bukan diceritakan si hantu muncul. Tapi digambarkan kalau ada hantu lagi duduk, begitu saja, di situ. Lalu baru si karakter bersangkutan yang melihatnya kemudian bereaksi.
Argh. Intinya, narasi Mbak Eve di buku ini enggak semulus sebelumnya. Apalagi mengingat, sekali lagi, ini kalau tak salah merupakan novelnya yang ketiga.
Keluhan terakhir: soal kesudahan akhir para karakternya. Aku ngerti ini genre horor, jadi mau ada pesan moral dalam ceritanya atau enggak itu kebebasan pengarang. Tapi jujur, dengan semua yang terjadi (penghantuan, konflik cinta segitiga, balas dendam, tindak kriminal) begitu sampai akhir, secara menyeluruh ceritanya jadi serasa kurang 'nonjok.' Ini terutama paling menggangguku soal apa yang menimpa Yanuar, yang kayak kalau dipikir, intinya jadi dia cuma bernasib 'sial' aja di cerita ini.
Selebihnya, ini lagi-lagi keluaran horor yang solid dari Gagas Media. Ada beberapa bagian yang aneh. Tapi ada banyak bagian lainnya yang memang menarik, dan memang mengerikan kalau dibayangin. (Bagian favoritku mungkin ada pada hubungan Kaylin dan Rico dengan teman-teman sekolah mereka, serta pada pemaparan tentang apa yang dialami bapaknya Kaylin.)
Kalau dipandang sebagai cerita horor, ini termasuk lumayan. Tapi kalau dipandang sebagai novel secara umum, ini memang termasuk agak kurang. Meski begitu, aku tetap enggak bisa enggak menyukainya.
Aku serasa jadi ingin menyemangati Mbak Eve untuk novel yang berikutnya.
Kaylin sama Rico ini pasti anak SMA angkatan 2012 atau sebelumnya. Soalnya, penjurusan IPA/IPS baru dilakukan tahun kedua. Sedang anak SMA yang masuk 2013, baru masuk langsung psikotest, sekolah dua minggu, dan langsung (dari hasil psikotestnya) dapet penjurusannya #nyengir jadi udah dijuruskan sejak kelas 10.
Enggak akan banyak komentar, ceritanya serem seperti yang sudah-sudah (dan om Markus di sini ambu bayanginnya seperti Nick Kepala Nyaris Putus di HarPot XDD) dan seperti biasa lagi, cliffhanger. Suudzon ini sudah ada sejak membuka halaman pertama: kali ini apa yang mau di-gantung? Hihi, belum apa-apa sudah berprasangka XDD
Dan, cepet-cepet aja diselesaikan, mumpung masih siang. Hihi
Oya, kira-kira nanti bakal nerbitin buku 'Kumpulan Penyelesaian Kasus Dari Buku-Buku Eve Shi Yang Sengaja Tidak Diselesaikan' engga ya? #nyengir
Singkat saja; Buku ini bagus, mengemas konflik simpel yang kerap diterapkan dalam sinetron dengan sangat bagus (baca: nggak norak dan bikin jenuh ala sinetron pada umumnya), dan narasi rapih, tanpa weeabo sama sekali.
TAPI!! ENDINGNYA! GOD!!
Oke, saya mestinya sudah sadar dari judulnya, tapi tetap saja, begitu tiba di epilog, saya nggak bisa menahan diri untuk tidak meneriakkan nama pengarangnya.
Singkatnya, ini buku bagus, serius, tapi, saat ini saya pingin melakukan INI;
Saya tahu nama Eve Shi udah lama, tapi baca ceritanya baru dari buku kumpulan cerita horror berjudul After Office Hour dan menurut saya ceritanya yang paling bagus dibanding cerita lainnya di buku tersebut.
Dari situ saya langsung cari buku2 Eve Shi lainnya. Dan baca dari yang buku ketiga ini.
Mungkin ini masalah selera aja ya, di buku ini menurut saya masih banyak hal2 tidak perlu yang sengaja dipanjang2kan. Seperti misal perasaan deg degan nunggu penerimaan raport yang terus2an dibahas.
Terus yang paling janggal waktu ayahnya Kaylin mukulin diri sendiri, terbang ke atas kepalanya kena atap2 langit. Seharusnya setelah itu Ayahnya Kaylin (kalau sadar) bertanya apa penyebab lukanya itu. Ibunya juga harusnya bertanya kenapa Ayah jadi berdarah dan memar begitu.
Rico yang juga diceritain berusaha banget buat macarin Jessa, lalu semua berlalu begitu saja.
Untuk penerbit sekelas gagasmedia dan nama Eve Shi untuk novel horror ketiganya, menurut saya ini masih di bawah ekspektasi untuk disebut novel horror yang nyeremin.
Rumah sebelah Kaylin, yg biasanya kosong, sekarang ada penghuni baru lagi. Cowok yg lebih banyak mengurung diri. Rumah yg emang udah dibilang angker, sekarang jadi terasa lebih angker. Tapi bukan itu masalah utamanya. Rumah Kaylin sekarang juga ada hantunya, hantu perempuan jahat yg suka jerit-jerit, mengerikan pokoknya. Ga cuma rumahnya Kaylin, tapi juga rumahnya Rico (teman baik dan tetangga depan rumahnya) sekarang ada hantunya, tapi hantu laki-laki.
Kaylin dan Rico cukup stres menghadapi kemunculan hantu2 di rumah mereka, terutama Kaylin, karena hantu di rumahnya lebih berbahaya, lebih mengganggu, sampe2 Cher, adiknya Kaylin, terluka karena diganggu hantu itu. Kaylin dan Rico kemudian menyelidik, berusaha mencari tahu, tentang penghuni rumah sebelah, ke orang tua mereka, ke tetangga, ke Pak RT, dan mereka menguak masa lalu yg kelam. Bahwa kakek nenek mereka terlibat dalam sebuah masalah yang berkaitan dengan menghilangnya sepasang suami istri di rumah sebelah. Dan sekarang pasangan hantu itu menuntut balas.
-oo-
Dibandingkan dengan dua buku sebelumnya, ada beberapa perubahan signifikan di buku ini. Pertama, sekarang meskipun karakter utamanya masih cewek remaja, kali ini dia ga berjuang sendiri, karena ada karakter lain yg cowok yg jg menghadapi masalah yg sama. POV dari sisi Kaylin dan Rico terbagi rata, juga ada sesekali POV dari Cher dan Yanuar, penghuni rumah sebelah.
Lalu hantu-hantu di buku ini jauh lebih ganas. Sampe kontak fisik dan mencederai orang-orang. Menurut gw ini menyeramkan, karena hantu-hantu ini udah bertindak di luar batas dari yg harusnya sekedar menampakkan diri dan menakuti, atau membawa ke alam lain, tapi ga sampe mencederai langsung. But still, something kinda missing. Kurang merasakan seramnya. Mungkin karena gw udah kebal cerita hantu. Tapi seperti komen di atas, gw yakin, kalo dibikin film dan dengan penanganan yg tepat, bakal jadi film horor yg bagus dan menyeramkan.
Beberapa gangguan yg ditimbulkan. - Gagang pintu bergeretak dan kebuka sendiri - penampakan tangan, lalu jejak kaki dan bekas tanah di lantai - TV nyala sendiri, lampu ruang tamu mati sendiri. - Ada orang di sofa (ga dikenal) - penampakan kepala di lantai - kamar mandi terkunci, dan ada sentuhan tangan oleh hantu - tangan ditarik, dan ini yg bikin Cher kepleset dan cedera
Selain itu, ada efek lain dimana Kaylin atau Rico mendadak seperti berada di kota mati, yg sepi banget, ga ada orang sama sekali. Bisa jadi mereka terbawa ke alam lain (seperti di LOST), dan ada juga sewaktu mereka melihat/mendengar orang2 yg waktu itu terlibat di masa lalu. Ada juga Kaylin tiba2 terpisah dari Rico, kemudian muncul lagi. Mungkin juga ini perangkap waktu, dimana mereka terbawa ke waktu lain (sampe ke waktu kejadian di masa lalu)
Sebagai buku yg bergenre teen-horror, suasana sekolah juga dimunculkan, kali ini karakter cowok, Rico yg dikasih porsi lebih, karena dia punya gebetan temen sekelasnya, Jessa, yg anak basket, dan bisa ngeliat hantu juga.
Tak lupa, ada beberapa referensi yg disisipkan penulis tentang artis2 jaman sekarang. Paramore, Nicki Minaj, Noah, Arifin Putra, Godzilla, Chris Evans. Temukan nama2 mereka di buku ini :D
Setelah membaca Lost beberapa waktu lalu, saya seperti dibuat penasaran oleh karya Mbak Eve Shi selanjutnya. Pasalnya, jarang ada penulis Indonesia masa kini yang mampu meramu cerita horor sebaik Mbak Eve Shi. Kalaupun ada, nggak murni horor. Pasti ada komedi-komedinya. Maka, jadilah saya membeli buku Unforgiven ini meskipun gambling karena belum tahu sama sekali isinya bercerita tentang apa, yang ternyata isinya masih tidak terlalu berbeda jauh dengan Lost.
Masih menggunakan tokoh utama berupa remaja, kali ini dua orang bernama Kaylin dan Rico. Keduanya bertetangga sejak kecil. Rumah Kaylin tepat berada di samping rumah hijau, rumah yang selama ini dianggap angker oleh warga sekitar, meskipun Kaylin sendiri tidak percaya. Sampai akhirnya teror hantu di rumah hijau mengganggu Kaylin dan keluarganya sampai-sampai mencelakai Cher, adik Kaylin.
Kaylin tentu tidak bisa tinggal diam karena keluarganya diganggu. Bersama Rico, ia mencoba memecahkan misteri yang sebenarnya terjadi 40 tahun lalu di rumah hijau. Tapi Kaylin tidak punya pentunjuk. Hanya sosok laki-laki dengan kepala nyaris putus yang ia tahu…
Well, dibandingkan dengan Unforgiven, saya masih lebih suka lost. Unforgiven ini menurut saya kayak lebih kurang rapi dan terlalu rumit ya, dengan begitu banyak tokoh-tokoh di dalamnya. Kedua tokoh utamanya juga punya konflik masing-masing yang sejujurnya nggak terlalu bermanfaat selain sebagai penambah ketebalan buku ini. Ya, memang tidak mudah menulis cerita misteri. Terus juga yah saya agak kesal dengan cerita yang menggantung misalnya tentang hubungan Rico dengan Jessa, Kak Raymond dan Kaylin. Buat apa kedua tokoh ini (Jessa dan Raymond) hadir yah? Pun Jessa digambarkan bisa melihat hantu tapi ternyata dia tidak begitu membantu dalam kasus ini. Huft…
Meskipun begitu, saya tetap mau baca karya-karya Mbak Eve Shi lainnya kok.
Salah satu hal yang patut dipuji dari buku ini tentu saja kaver dan sinopsis di belakang bukunya. Sukses menghadirkan aura negatif yang membangkitkan bulu kuduk.
Oh iya, buku saya ada kesalahan cetak di halaman 106 yang berakibat kehilangan satu part cerita yang nampaknya penting. Saya sudah melaporkan hal ini kepada pihak penerbit dan alhamdulillah direspon dengan baik. Namun, dasarnya saya tidak ingin berurusan dengan segala keribetan. Pada akhirnya saya terima saja nasib buku saya meskipun setelahnya saya jadi sempat ogah-ogahan meneruskan baca. Nggak tahu deh, punya kalian begitu juga nggak?
"Unforgiven: Hantu Rumah Hijau" bercerita tentang misteri rumah hijau yang letaknya tidak jauh dari rumah Kaylin dan Rico, dua sahabat yang duduk di bangku SMA. Sejak kepindahan seorang pria ke rumah itu, Kaylin dan Rico mulai mengalami berbagai kejadian aneh. Ada sesosok pria dan wanita yang mengganggu kehidupan mereka, membahayakan nyawa mereka dan orang-orang yang mereka cintai.
Ini novel kedua Eve Shi yang saya baca. Sebelumnya pernah baca "Aku Tahu Kamu Hantu" (review) dan sejujurnya saya lebih suka novel pertamanya itu.
Ada kesan kurang fokus pada novel "Unforgiven" ini. Sub-plotnya banyak yang tidak perlu, seperti soal alasan Yanuar pindah ke rumah hijau, atau kemampuan Jessa, gebetan Rico, melihat makhluk halus. Sub plot-sub plot ini memberikan kesan penting bagi cerita, tapi sebenarnya tidak punya dampak signifikan ke plot besarnya.
Narasinya juga kadang tidak fokus. Yang paling terasa itu di bagian akhir cerita. Bagian antara Rico dan Kaylin sepertinya terpotong-potong. Mungkin hasil revisi yang kurang rapi? Entahlah.
Karakter-karakternya juga terlalu mirip. Cara mereka bertindak dan berpikir terlalu seragam, padahal mereka digambarkan punya ketertarikan akan hal yang berbeda-beda.
Tapi, buat saya, yang paling kurang dari novel ini adalah ceritanya. Saya kurang paham dengan alasan dimulainya teror yang Kaylin dan Rico alami. Ini bicara tentang akhir ceritanya Jadi, kalau kamu tidak mau kena spoiler, jangan buka bagian ini.
Secara keseluruhan, saya tidak puas dengan novel ini. Seramnya biasa saja, tokoh kurang menarik, plot kurang rapi, dan akhir ceritanya malah menimbulkan lebih banyak tanda tanya yang tidak perlu.
Ini pertama kalinya saya baca novel genre horor. Namun saat membaca ini, saya justru tertarik dengan misteri yang disajikan penulis. Pada bagian horornya, saya justru kurang merasakan ketegangan meskipun penulis sudah memaparkannya dengan rapi, tapi pemaparannya kurang mendetail menurut saya. Meski begitu saya menikmati membaca novel ini, namun ketika sampai babak akhir saya justru merasakan ada kesan yang seperti dipaksa untuk selesai, dan endingnya membuat saya berkata 'hah!'. Novel ini mungkin cocok buat yang baru mau baca genre horor.
Kaylin percaya rumah bercat hijau di sebelah rumahnya tersebut berhantu. Rico, sahabatnya dari kecil, semula tidak percaya. Akan tetapi, keanehan-keanehan mulai muncul mengganggu mereka berdua. Dan, itu semua terjadi sejak rumah hijau yang semula kosong itu ditempati oleh pria misterius.
Keanehan-keanehan yang ada semakin hari semakin mengerikan. Kaylin dan Rico mulai diganggu oleh penampakan hantu pria dan wanita. Tak hanya menganggu, hantu-hantu tersebut juga mulai bertindak jauh. Sewaktu Cher—adik Kaylin—celaka akibat ulah salah satu dari mereka, Kaylin tidak bisa berdiam diri saja.
Dia dan Rico pun mencari tahu kenapa hantu-hantu itu mengganggu mereka. Tak disangka, kehadiran para hantu itu ada kaitannya dengan kejadian empat dekade yang lalu, melibatkan kakek-nenek Kaylin dan Rico. Selain itu, sosok tetangga baru Kaylin pun masih misterius. Kenapa kehadirannya malah membuat hantu-hantu itu muncul setelah sekian lama?
Bagi yang belum membaca buku ini, ada sedikit early warning dari saya: buku ini yang bertanggungjawab atas rusaknya jam tidur malam saya. Gara-gara kengerian yang hadir di bagian awal buku, saya tidak bisa tidur sampai berhari-hari.
Memang, banyak adegan yang mampu mendirikan bulu kuduk. Misalnya:
“Ia menuju ke ruang tengah. Acara sedang diselingi iklan. Kepala di atas sofa itu berambut pendek, berarti memang bukan Bunda. Makin dekat Rico menghampiri sofa, kepala itu makin ditelengkan ke arah lain, seolah menghindari kontak mata dengan Rico.” (hal. 26)
Atau yang ini:
“Di tepi bawah kursi ruang tamu, sebuah kepala manusia separuh menyembul keluar. Helai-helai rambut hitam pekat bertebaran di lantai. Mata yang hanya tampak satu mendelik tepat pada Cher.” (Hal. 66)
Dengan cukup mahir, Eve Shi berhasil mencungkil keluar rasa takut di kepala kita sewaktu membaca adegan-adegan tersebut. Dan, makin lama penampakan hantu-hantu tersebut semakin sering dan semakin jelas. Lebih mengerikan? Buat saya, justru di situ masalahnya.
Saya termasuk orang yang lebih suka dengan horor atmosferis dan yang hantunya jarang muncul. Kalaupun muncul saya lebih suka yang tidak terlalu kentara, seperti dua adegan yang saya kutip di atas. Buat saya, justru ketidakpastian akan hadir atau tidaknya hantu itu lebih mengundang rasa deg-degan ketimbang saat hantu sudah muncul.
Dan, saat kedua hantu tersebut sering muncul dengan jelas, maka rasa takut itu mulai luntur sebab saya sudah “terbiasa” dengan kehadiran mereka. Kengerian yang saya rasakan di awal-awal perlahan-lahan berkurang. Mbak Eve lebih mengandalkan kemunculan hantu untuk menarik rasa takut tetapi tidak dibantu dengan deskripsi setting, suasana, dan penggalian emosi. Akhirnya pembaca gagal diceburkan ke dalam teror yang mencekam.
Tapi, mungkin itu cuma saya. Saya yakin di luar sana banyak pembaca yang tersiksa karena para hantu itu mulai rutin bergentayangan di halaman-halaman Unforgiven.
Lalu hal lainnya yang saya sayangkan adalah bagian konflik, klimaks, dan penutupnya yang kedodoran. Di awal, Kaylin dan Rico sudah seperti duet detektif remaja yang asyik untuk diikuti sepak terjangnya. Sayang, bagian klimaksnya seperti kehilangan fokus sehingga tidak terbangun dengan solid.
Seharusnya Mbak Eve bisa membangun konflik dan klimaks dengan baik andaikata lebih efektif memanfaatkan bagian awal dan pertengahan cerita. Banyak sekali hal-hal yang menurut saya kurang tergali bahkan malah bisa diedit atau dibuang. Misalnya kesukaan Cher dengan Nicki Minaj yang tidak menambah karakterisasi si Cher sendiri. Atau cerita tentang murid yang tewas karena tertimpa genting. Atau cinta-cintaan Rico-Jessa-Devara yang kurang solid sehingga malah jadi distraksi, terutama di bagian akhir.
Dan penutupnya, meski terbilang realistis, justru menjadi blunder tersendiri. Rasanya sedih sekali melihat Kaylin dan Rico yang sedari awal berjuang untuk menguak misteri, tapi di ending mereka tersisihkan serta cuma mengetahui penyelesaiannya dari laporan orang lain. Ibarat sudah berusaha keras tapi hasilnya diklaim oleh orang lain. Absennya keterlibatan kedua tokoh utama kita inilah yang membuat Unforgiven ditutup dengan hambar.
Untungnya, di bab terakhir Mbak Eve Shi memberi satu adegan yang kembali berhasil mengundang satu kengerian terakhir. Ending-nya memang sedikit gantung. Dari beberapa resensi yang saya baca, banyak juga yang kecewa karena ending gantung tersebut. Tapi, saya sendiri tidak mempermasalahkannya.
Saya tipe pembaca yang menyukai ending gantung yang menyisakan imajinasi bukan meninggalkan pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ending Unforgiven adalah ending tipe pertama. Dia menyisakan misteri yang menggelitik imajinasi pembaca tapi ceritanya memang sudah rampung. Petualangan Kaylin dan Rico telah selesai. Misteri yang ada sudah terjawab tuntas. Jadi, bolehlah dibilang jika saya suka dengan penutup novel ini.
Yang jelas, bagi mereka yang mencari novel horor remaja, Unforgiven bisa menjadi pilihan. Terlebih, ini bukan sekadar novel horor di mana hantu-hantunya mengganggu tanpa sebab dan tokohnya cuma menjerit-jerit ketakutan. Mbak Eve Shi mengonsep kasus yang dengan cukup matang.
So, selamat menikmati dan selamat bermimpi buruk!
UNFORGIVEN: HANTU RUMAH HIJAU Penulis: Eve Shi Penerbit: GagasMedia Hlm. + Ukuran: vi + 262 hlm; 13 x 19 cm Terbit: 2014 (cetakan pertama) ISBN (10): 979-780-730-4 ISBN (13): 978-979-780-730-6 Genre: Horor Penilaian: 2/5
Buku genre horor ke 3 karya Eve Shi ini bercerita tentang makhluk-makhluk astral yang tiba-tiba mengganggu ketika sebuah rumah, berwarna hijau yang sempat kosong dihuni oleh seorang pemuda. Cerita diawali saat Kaylin yang pulang sekolah mengatakan kecurigaannya pada sahabatnya, Rico, yang tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Kaylin curiga dengan seorang pemuda yang baru saja pindah di sebelah rumahnya, rumah berwarna hijau. Awalnya memang Kaylin lebih mencurigai bahwa pemuda tersebut adalah buronan, namun kemudian ceritanya berkembang tentang isu bahwa rumah bercat hijau itu berhantu.
Rupanya isu itu bukan sekedar isapan jempol, setidaknya bagi Kaylin, juga Rico. Karena sejak membicarakan rumah bercat hijau itu Kaylin dan Rico tiba-tiba mendapatkan gangguan. Awalnya masing-masing dari mereka, hanya merasa bahwa gangguan itu hanyalah halusinasi belaka, namun semakin lama ketika ternyata orang di sekirar mereka juga merasakan, mereka pun mulai mencari sebab mengapa mereka diganggu.
Perjalanan mereka dalam menguak sebab mengapa mereka tiba-tiba diganggu ternyata membuka cerita lama yang membuat mereka terkejut. Karena rupanya semua memang berkaitan dengan keluarga mereka, di masa lalu.
***
Jika dibandingkan buku pertama dan kedua, saya lebih suka buku ketiga ini. Dari mulai bagaimana Eve Shi membuat pembacanya penasaran, sampai dengan gangguan-gangguan yang saya rasa dalam buku ini lebih terasa mencekam. Karena saya sudah membaca lost, kejadian-kejadian seperti saat Kaylin dan Rico merasa bahwa kompleksnya kok terlalu sepi, tidak seperti biasanya atau saat Kaylin dan Rico berada dirumah yang sama tetapi mereka tidak bisa menemukan satu sama lain seperti mendapatkan jawaban tersendiri.
Untuk beberapa bagian, lompatan-lompatan cerita masih sedikit berasa, namun tidak membuat sampai harus kehilangan moment. Dalam cerita ini Eve Shi menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi secara keseluruhan Eve Shi lebih banyak menggunakan sudut dari Kaylin tapi sudut pandang selain Rico yang juga bisa dikatakan jadi tokoh utama juga ada dari sudut pandang Cheer, adik Kaylin. Juga ada sudut pandang Yanuar, pemuda yang menempati rumah bercat hijau.
Cerita dalam buku ini tidak melulu berisi cerita horor, juga diselipkan bagaimana hubungan Kaylin & Rico dengan keluarganya, kehidupan sekolah mereka berdua. Walau memang porsi horrornya mendominasi, tetapi semua menjadi tetap seimbang.
Setelah selesai membaca, saya membayangkan bagaimana jika buku ini difilmkan. Horrornya benar-benar dapat, tapi jika pun diangkat menjadi film sebaiknya cerita tidak perlu dibuat berlebihan. Disamakan saja dengan cerita dalam buku ini, tanpa dilebihkan atau dikurangkan.
Sebenarnya, Kaylin dan Rico adalah anak kelas 10 SMA. Ceritanya juga nggak hanya berpusat di kasus horor keluarga dan rumah mereka saja, tapi juga kisah-kisah khas anak SMA. Tentang Rico yang ingin dekat dengan Jessa—anak basket yang cantik, hingga niat Kaylin mendekatkan keduanya. Sayangnya, aku merasa bagian-bagian tentang kehidupan sekolah mereka, baik Kaylin, Rico, maupun Cher ‘hanya’ sekadar penambah cerita, karena... ya sudah ya, takut spoiler.
Hal yang cukup seru sekaligus greget adalah aku merasa tertantang untuk ikut merangkai petunjuk demi petunjuk yang disuguhkan penulisnya. Meski seringkali nggak ngeh sama bagian tertentu, fokusnya kembali lagi ke rahasia itu. Hosh...
Di buku ini sendiri, ada empat bagian besar yang kemudian dipaparkan ke dalam 35 bab. Banyak? Nggak kok, karena seingatku ada satu bab yang hanya menulis sekitar 2-3 halaman, benar atau nggaknya silakan cek sendiri ya. Hehe... Ada satu halaman yang entah disadari atau nggak, koreksi editor (atau mungkin proofreader) masuk ke dalam ceritanya. Padahal, jalan cerita lagi edisi tegang lho, eh... ada satu kalimat menclak disitu. Yah, mungkin Teh Dyah—fyi, aku pinjam bukunya—harus menukarkan buku ini, sebab ada satu halaman yang teksnya sama dengan halaman sebelumnya, dimaklum saja kekeliruan produksi.
Aku tipe orang yang menyukai genre horor, terlepas dari takut atau nggaknya sama hantu yang muncul di dalam cerita. Tapi, aku merasa kurang puas dengan akhir yang disuguhkan. Mungkin, ceritanya belum selesai, mungkin juga memang sudah selesai tapi penulis membebaskan pembaca menentukan endingnya yang kita mau. Itu nggak salah, pembaca (seperti aku) nggak mempermasalahkan apakah happy ending atau sad ending di bagian akhir cerita, tapi kami hanya butuh good ending. That’s it! Maaf juga ya kalau review-ku kurang lengkap :D
Sepertinya, Unforgiven adalah buku pertama penerbit ini yang kutemukan tidak ada typo (kalaupun ada, satu-dua, mungkin). Penuturan terasa pas. Tidak lebay, tidak pula terlalu berdarah-darah sadis.
Aku kurang sreg dengan editannya. Ada beberapa kalimat yang menurutku aneh kalau dibaca (baik dalam hati maupun dibaca langsung), dan ada bagian yang kayaknya "hilang", kayak ketika Kaylin dan Rico ke rumah Yanuar dan Kaylin sempat "ngilang", tahu2 kok sudah ngobrol lagi dengan Yanuar. Mungkin ada beberapa bagian yang dipotong?
Aku juga kurang sreg dengan karakternya. Aku rasa cerita ini lebih bagus setting-nya di luar negeri. Maksudku begini, ada banyak tokoh yang entah melihat, mendengar, menghidu yang aneh-aneh, tapi masa iya semua reaksinya serupa. Semua menyangkal, dan berpikir mereka halusinasi/kecapekan. Masa tidak ada satu pun yang: berdoa/baca ayat-ayat suci, atau memanggil orang lain untuk memastikan yang dilihatnya nyata atau tidak.
Karena aku kebayang kalau, kalau misalnya melihat yang aneh2, mungkin akan memanggil orang lain untuk memastikan. "Eh cium bau aneh nggak? Lihat sesuatu nggak? Dengar gedebak-gedebuk itu nggak?"
Di Indonesia sepertinya cerita hantu atau aneh-aneh itu lumayan diterima ya. Kurasa nyaris semua dari kita pernah mengalami, mendengar, atau kenal seseorang yang berpapasan dengan yang aneh2 seperti ini. Mungkin di luar negeri, di tempat tertentu yang mengutamakan logika dan tidak percaya pada hal gaib, reaksi ini lumrah, tapi menurutku untuk orang Indonesia, agak janggal.
Aku juga masih belum paham kenapa mereka (hantu) menanti selama puluhan tahun baru nongol. Hubungan pertalian darah itu menurutku kurang kuat. Apa sebenarnya buku ini akan ada sekuelnya? Semoga begitu, jadi beberapa misteri di buku ini bisa dipaparkan di sana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Totally enjoy this book. Having read the other two haunted stories in Eve's horror series, I must say this is one of my favorite.
Two best friends, Rico and Kaylin, found out that their respective houses are suddenly haunted the same time as their neighbor's house became occupied.
While at first denying that ghosts exists, they became determined to solve the case as the hauntings became dangerous.
The story unfolds in the old fashioned Famous Five style - smart kids who try to solve problems without adult's help. In between scary scenes, there are some light romance, sibling problems, and mystery digging. Fun and engaging.
Bathroom scenes will make me think twice to go to toilet at night without turning on the light!
Light Spoiler Ahead
I was a bit skeptical at first because the haunting felt at first unreal. Why would a 'house' send ghosts to haunt its neighbors. As the story nicely unfold, the connection between the three houses and the three house owners became clearer. Everything is set in a nice pace. It's not a chunk of scariness then pages of explanations (as most ghost stories tend to do). I totally love the ending with Rico's grandma and the surprise at the end.
The only bad thing is that there's a misprint in my copy. When Kaylin and Rico first visited Yanuar (the new neighbor), one page was printed twice and one page is missing.
Some questions are left answered, but is easily overlooked by the whole nice package.
eg: Major spoiler:
Why would Theo bury the woman in his friend's place? He was supposed to protect them.
And what's gonna happen to Yanuar's case? This is my own curiosity ;) oot from the real story hahaha
Good cover design, good layout, minimal typos, simple plot... overall, this is a nice reading. It has similar atmosphere to Aku Tahu Kamu Hantu, Eve Shi's first book. For me, this is really fun. Except... for one fatal mistake. Page 106 is missing!! Whoo... are you playing mysterious? Believe me, that's not intriguing, that annoying! Fortunately, the author is kind enough to give us the missing page: http://lilac-eve.net/?p=258
Oh, one more thing, I like that the story is broken into 4 parts: lurk, intrude, counter, and settle. Just by reading those parts, I can predict the ending :))
Ternyata gue lebih suka cerita Eve Shi yang sebelumnya. Yang ini lebih horor sih memang (mungkin itu juga kenapa gue lebih jaga jarak dengan buku ini, mencoba nggak emotionally involved)
Tapi totally worth the read! Bacalah di saat kamu sendiri dan rumah sebelah kosong... Muahahaha...!
Gaya bahasanya ringan dan meremaja, mudah dimengerti. Flow juga sangat mengalir. Kover juga cukup membuat merinding. Hanya saja saya menangkap halaman yang hilang (atau ke-double). Jadi 3 bintang.