Hidup itu seperti berlari maraton, tak ada pemberhentian, dan selalu butuh perjuangan untuk sampai pada satu titik bernama impian.
***
Rio telah lama meninggalkan sesuatu yang bernama rumah. Mencoba menemukan pemberhentian untuk langkah yang semakin tak tentu arah. Namun, masih saja kecewa yang ia temukan dalam nyala mata orang yang ia kasihi, mengguratkan luka. Perih.
Rio pun hanya bisa menelan rasa kecewa, dan paling parah ia menyimpan kecewa kepada diri sendiri.
Kini, ia ingin berlari, dan terus berlari.
Berharap di ujung sana, ada kemenangan yang dapat ia raih dan berikan kepadanya. Juga kepada perempuan itu, yang selalu mengirimkan cinta dan rasa percaya, bahkan ketika Rio tak lagi percaya kepada dirinya sendiri.
Kau harus menyelesaikan apa yang telah kau mulai. Rio tercenung. Mencoba memperkuat pijakan kakinya.
Benarkah masih bisa kau temukan impian dan semangat saat segala-galanya sudah terlalu penat?
"selesaikan apa yang telah kamu mulai" itu pelajaran pertama yang saya dapat dari buku ini. mungkin karena pernah berada dalam situasi yang mirip dialami oleh Rio, jadi ada keterikatan dengan ceritanya. pelajaran kedua yang saya dapat adalah "lakukan semua hal sebaik mungkin, agar bisa jadi suatu kebanggaan, minimal untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa membanggakan yang lain misalnya keluarga"
baca buku ini jadi ingin lari juga. karena istilah-istilah dan tips lari di dalamnya bikin penasaran.
Sebuah kisah indah dan mengguggah. Saya mendapat pelajaran baru tentang dunia lari. Ternyata tidak sesederhana yang sering kita pikirkan. Butuh persiapan yang matang. Tentang Rio yang selama hidupnya belum pernah menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Gairah dan perjuangan untuk menunaikan impiannya begitu menyentuh dan membuat hati hangat. Beberapa bagian saya sempat menangis. Disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mengalir. Lelucon yang hadir di tengah-tengah cerita memang berhasil membuat gelak tawa.
“Sebagai pelari, kita harus visible. Itu salah satu alasan penting kenapa baju lari yang ada itu warnanya gonjreng-gonjreng.”
Alih-alih plot ceritanya, yang lebih menarik dari novel ini justru sederetan trivia tentang race dan lari maraton.
Benar bahwa tidak banyak yang tahu kalau saat sedang lari—terutama di jalan raya—sebaiknya kita melawan arah (run against traffic) karena penting bagi keselamatan. Dengan berlari lawan arah, probabilitas kita tertabrak kendaraan dari belakang akan berkurang, sekaligus membuat kita lebih awas terhadap kendaraan yang melaju di depan.
Sukaa!!! Gile, paket bukunya baru sampe kantor tadi pagi, sekarang, pukul 21:12 waktu laptop saya, udah selesai bok dibaca!
Ceritanya sebenernya simpel tapi ngena. Ada humornya juga. Ninit Yunita sama Adhitya Mulya mirip nih gaya humornya.. sama-sama garing. Hahahaha.. *dikeplak*
Dan masih seputar hubungan ayah-anak. Gagasmedia akhir-akhir ini lagi seneng ngangkat tema ayah-anak ya, yang menurut gue menarik banget. Dan cerita-cerita yang dibukukan juga sejauh ini bagus. Mulai dari Sabtu Bersama Bapak, Priceless Moment, trus ini.
Bedanya, kali ini hubungan ayah-anak menjadi tema sekunder. Tema utamanya sih tentang pengembangan kepribadian. Rio ini beneran cowok cemen banget! Nggak bisa apa-apa. Kebiasaan dimanjanya membuat dia nggak pernah berhasil menyelesaikan apa yang udah dia mulai. Les piano sebentar, berhenti gara-gara udah ga minat. Les karate, berhenti. Kuliah juga DO. Padahal dia kuliah di jurusan yang dia pilih sendiri, dan males kuliah karena katanya salah jurusan. Ya gimana bapaknya nggak murka? Emang semua nggak pake duit? Gue aja pengen ngejambak si Rio baca bukunya!!! *apaan ini emosi sendiri?*
Akhirnya, si Bapak memutuskan membuang Rio. Rio harus bertahan hidup sendiri. Beruntung ada Bayu, sahabat Rio, yang sekarang sukses bisnis dealer mobil. Bayu mau menampung Rio di basement dealernya dan memberi pekerjaan sebagai salesman di dealer tersebut. Tapi lagi-lagi dasar si Rio manja, dia malah gelagapan menghadapi pembeli. yang ada pembeli keburu ilfil sama dia dan batal beli mobil.
Perubahan mulai terjadi ketika ibu Rio, satu-satunya orang yang masih menaruh harapan ke Rio, meninggal dunia. Sebelum meninggal, Ibu bersama Ayah yang sama-sama bekas atlet lari nasional, berencana ikut Bromo Marathon. Rio pun termotivasi untuk menggantikan sang Ibu di marathon tersebut. Perlahan-lahan, Rio berusaha memenuhi harapan ibunya: ya marathon, ya lulus kuliah, pokoknya menjadi manusia yang sukses menyelesaikan apa yang dia telah mulai.
Penuturan Ninit Yunita asyik diikuti. Bahasanya nggak njelimet, ceritanya juga to the point, nggak muter-muter. Perkembangan karakter Rio berasa banget, padahal buku ini tipis lho. Cuma 180 halaman. Dan terutama, pesannya dapet tanpa kesan menggurui dan kebanyakan kalimat-kalimat mutiara.
Intinya selera gue banget deh. Hehe
Trus kenapa 4 bintang? 1 lagi ke mana? Ilang karena banyak kesalahan tulisnya. Ada yang lupa tanda kutip, ada yang lupa titik, ada juga yang salah sebut. Masa Asian Games jadi ASEAN Games? Untuk negara-negara anggota ASEAN mah acara olahraganya namanya SEA Games, di mana SEA adalah South East Asia alias negara-negara di wilayah Asia Tenggara. Kalo ASEAN itu organisasi negara2 SEA itu.
Tapi yaa... 4 bintang untuk lainnya.
Satu lagi... jadi pengen lari deh abis baca buku ini. Lari dari kenyataan hahahaha... *becanda. Larinya sih serius tapi*
Setelah baca-baca bab awal, lgsg suka sama isu yg diangkat di sini: selain soal lari marathon (tips-tipsnya, sejarahnya, dkk), ada juga topik ttg passion, cara kita bisa memotivasi ambisi kita dalam melakukan sesuatu, menyelesaikan apa yg kita mulai, sama topik tentang parenting--menjalin ulang hubungan baik antara org tua dan anak. Suka! Karakternya juga berasa real bangeeet, meskipun cara bercerita di sini terkesan buru-buru jadi saya sbg pembaca ga begitu merasa tersentuh. :'(
Sentilan karena sekarang sudah hampir gak pernah lari hehehehe 'menyelesaikan apa yang telah kamu mulai,' itu ngena banget... Isi buku ini berhasil bikin mbrebes mili di bagian finish race (full marathon Bromo Marathon itu), karena tulisan Teh Ninit bikin flashback ke zaman finish 10K race tahun lalu. Memang semerinding itu dan Teh Ninit berhasil mewujudkan versi tulisannya! TOP. Cuma sayang banyak pesan sponsor di novelnya dan ceritanya ringaaan sekali seperti cerpen.
Quite good story for binger-reading, but it dont have some gripping point that makes readers don't want to put it down. Mari Lari feels like some light reading, which only suited for library books, not a book that we will buy and add it to our own collection
coba percaya diri kamu dulu. buat dirimu bangga dulu itu yg penting. jika kamu bs lakukan itu kamu bisa buat bangga orang orang yg sayang sama kamu ( hlmn 25)