Kalian tahu… Aku berhasil mencuri dengar dari balik celah pintu-pintu itu.
Tentang suatu ruang yang tak memiliki pintu keluar bila siapapun terjebak di dalamnya.
Tentang keberadaan seorang staf hotel yang misterius dan menakutkan.
Dan juga kisah sepasang mata yang tampak selalu mengamati dari sebuah jendela penginapan di Pulau Para Dewa.
Kemari… Mendekatlah…
Di balik celah ini aku dan kamu bisa melihat semua kisah bersama.
Buku ini merupakan seri kedua dari buku The Ho[S]tel, berisi tentang pengalaman para penulis menginap di hotel, hostel, maupun penginapan ketika traveling. Pengalaman-pengalaman yang tertulis dibuku kedua ini lebih beragam dan menarik. Mulai dari kisah konyol dengan staf, kisah menyebalkan karena fasilitas, kisah dengan tamu unik lain sedunia maupun ‘beda’ dunia.
Beli karena suka dengan buku pertama dan gagal ikutan proyek penulisan buku kedua ini :) Makanya jadi penasaran, tulisan seperti apa sih yang bisa terpilih.
Baik, paragraf pembuka (semacam) review diatas ini sudah mengukuhkan bisa jadi ulasan ini sangat subjektif dan ada perasaan balas dendam atau gak rela karena gagal jadi kontributor buahaha. Gak gitu juga kali ya :) *nah nah mulai ngelantur*
Cuma mau bilang, bukunya bagus. Buku keroyokan kayak gini memang kayak pisau. Bisa jadi kelebihan dan kekurangan dalam waktu yang bersamaan. Begitu nemu cerita yang ditulis dengan sangat baik, jadinya suka. Teuteuuppp... perasaan "Kok cerita kayak gini bisa lolos ya?" akan selalu ada (terlepas aku adalah orang yang gagal jadi kontributor tersebut loh ya haha, karena yang ikutan proyek ini RATUSAN, jadi apakah yang lainnya kurang bervariatif atau salah dimana, kurang paham juga).
Yang jelas lebih suka buku pertama karena ditulis oleh dua orang dan pembagiannya jelas. Ariy menulis tentang penginapan yang biasa, sedangkan Sony yang nulis penginapan super bikin iri *lol*
Terlepas dari itu semua, bukunya tetap menarik untuk dibaca. :)
Membaca kisah perjalanan penulis ho(s)tel ini serasa mengunyah gado-gado, berbagai macam rasa. Para penulis rata-rata menulis dengan gaya kocak masing-masing. Yang sedikit mengganggu justru sampulnya yang terlihat 'seram', meski ketika dibuka terlihat gaya kocak gambarnya. Tapi tetesan air warna merah di bagian atas cover, seakan darah menetes-netes, belum lagi sosok rambut hitam panjang berbaju putih.... Ih, ga heran jika buku ini masuk satu deret dengan novel horor lokal di satu toko buku. Oya, gara-gara ini pula, kita-para joglosemar, penikmat kisah kismis jadi kepikiran membaca kisah horor urban legend lokal bareng-bareng. Saya sih, ayookk aja. :D
Buku udah lama di rak buku tapi baru kelar dibaca kemarin2.. Gue kira buku ini ceritanya horror karena kover dan tagline 'Ssst... 'mereka' kembali', tapi ternyata buku ini gak melulu horror.
Buku ini nyeritain pengalaman para traveler nginep di penginapan (kebanyakan) murah dengan pengalaman2 ajibnya.