“Wahai makhluk fana, ini adalah kedatanganku yang terakhir. Jika kalian berkehendak mendapatkan sesuatu yang akan menjadikan kalian melebihi makhluk fana manapun, bahkan keabadian, berikanlah apa yang layak kalian berikan padaku.”
Demikianlah, tanduk naga itu menyimpan legenda. Menyimpan kisah duka dan selalu mengundang pertikaian... Siapakah sebenarnya yang berhak dan layak untuk memiliki tanduk naga yang legendaris ini?
Saya suka novel ini. Dari segi cerita, novel ini sudah dibuka dengan prolog menarik yang merupakan asal mula konflik cerita.
Semua bermula ketika Tarviatus melakukan pertukaran dengan seekor naga. Dia menginginkan tanduk tersisa dari tiga tanduk yang dimiliki sang naga. Mengapa dia menginginkan tanduk itu? Tentu saja ada sebabnya, tapi saya tidak akan beri tahu, karena cukup mudah ditebak. Singkat cerita, jika sang naga berkenan memberikan tanduk tersisanya, maka Tarviatus akan menghadiahkan dua makhluk langka di dunia, seekor unicorn bersayap dan seekor yeti. Ada perdebatan yang terjadi antara unicorn dan sang naga. Unicorn tidak setuju sang naga memberikan tanduk tersisanya sebab tujuan Tarviatus tidak baik, namun sang naga tak peduli, karena semua adalah rencana Sang Pencipta. Biarpun tanduknya akan menghancurkan dunia, maka biarlah dunia hancur karena itulah kehendak Sang Pencipta. Demi mencari jalan keluar, unicorn menyerang yeti yang spontan menghantam unicorn dengan kekuatan dahsyatnya. Keduanya mati seketika, maka batallah pertukaran itu, sebab unicorn dan yeti tidak lagi hidup untuk layak ditukarkan. Sang naga akan pergi, tapi Tarviatus menangkap tanduk tersisa. Sang naga menghembuskan napas, maka terhempaslah Tarviatus dan matilah dia. Namun, sang naga akan tetap memberikan tanduknya, bukan kepada Tarviatus maupun keturunannya, melainkan manusia lain di dunia. Invictus, anak Tarviatus, murka dan dia akan membolak-balikkan seisi dunia demi mendapatkan tanduk tersisa.
Kisah berlanjut setelah belasan tahun kemudian, mengarah pada tiga pemuda, Luz, Bid, dan Dei. Mereka menemukan desa mereka dibantai prajurit kerajaan sepulang berburu. Kemudian mereka menuju penjara kerajaan untuk menyelamatkan teman-teman lain yang ditangkap. Tapi perjalanan mereka berubah arah dan dipandu tokoh-tokoh lain yang muncul kemudian. Mereka terombang-ambing tanpa arah dalam perjalanan mereka, tapi semua akan terjawab di akhir cerita.
Novel ini menggabungkan unsur mistis, supernatural, dan silat dalam kisahnya. Semuanya cukup padu dalam gaya cerita dan kelogisan cerita.
Dari segi latar tempat dan waktu, novel ini mengambil latar tempat fiksional dan latar waktu dunia pertengahan berupa kerajaan. Entah mengapa, bagi saya dunia ciptaan ini memberikan kesan oriental, seperti berada di wilayah Asia daripada wilayah Eropa. Kadang kala saya malah mendapati perpaduan antara Asia dan Eropa.
Kekurangan novel ini berada pada peta. Mengapa? Dalam buku sebenarnya tidak disertakan peta, tapi justru itulah kekurangannya. Novel ini unggul dalam hal luasnya dunia dan banyaknya tempat yang dijelajahi. Dunianya begitu kompleks dan berpotensi menjadi latar tempat terbaik dalam fiksi fantasi Indonesia. Saya sempat beberapa kali bolak balik halaman hanya untuk melihat kembali nama tempat. Akhirnya, saya bisa memetakan dengan jelas batasan dan nama tempat pada dunia itu. Tapi, saya lebih berharap ada peta, karena bisa saja ada pembaca yang kesulitan memetakan dunia itu dalam pikiran.
Pokoknya, bagi pembaca novel fantasi, novel ini bagus. Sayangnya, kurang promosi, jadi tidak banyak yang tahu keberadaannya. Oh, saya juga berharap sekuelnya segera terbit. Apa? Benar, novel ini hampir bisa dipastikan ada sekuel karena akhir ceritanya sangat gantung, di situlah petualangan yang sesungguhnya bermula.
Ucap saya ketika selesai membaca buku ini. Endingnya mengecewakan sekali. Kenapa? Kenapa saya kecewa sekali dengan epilognya? Oke. Saya kasih tahu.
Pertama. Endingnya benar-benar gantung. Mungkin bisa disebut Happy-End(?) karena disini Dei sudah dihormati dan diberi keagungan semacam itu. Tapi menurut saya kurang....... benar-benar kurang. Ekpektasi saya, setidaknya, karena Luz diculik dan katanya masih hidup, tolonglah dibuat cari sampai ketemu, jangan malah buru-buru ending ajaaa. Bahkan Dei by one sama raja invictus aja tidak ada bagian itu lho.. bagaimana bisa saya tidak kecewa, saudara-saudara.
Kedua. Apalah maksudnya kita dikasih tahu kalau ayahnya Dei ternyata masih hidup, ibunya Dei yang ternyata bukan ibu kandungnya itu titipan ibu kandungny. (haha apasih skip aja maaf). Tapi akhirnya mereka belum juga ketemu sama sekali dari awal sampe akhir cerita. Emoji saya
Ketiga. Tujuan mereka awalnya kan buat cari teman-temannya yang dari Quirt? Kenapa jadi melipir.. Luz gak jadi ketemu sama pacarnya, dong.
Keempat. Jalan ceritanya terlalu bertele-tele. Itu bikin saya skip beberapa bagian. Dan juga ketidak-naturalan si tokoh utama yang tiba-tiba bisa merapal mantra. Padahal sebelumnya dia nggak pernah berguru sama siapapun LHO SAY.
Apalagi ya? Kayaknya nggak ada. Saya cuma kecewa sama empat point di atas DOANG kok, tapi yaa tetep aja itu yang bikin stress kawan. BTW kalau ini single novel (maksudnya nggak ada sequelnya gitu) maka novel ini adalah ending tergantung yang pernah saya baca. Bener. Lebih gantung daripada hubungan saya dengan si dia #lemparkursi
2 stars. Saya tambahin bintangnya kalau ada buku kedua, kabarin ya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Secara keseluruhan, saya cukup tertarik dengan cerita dalam novel ini. Novel ini menyajikan cerita fantasi tentang kekuatan tanduk naga terakhir, penuh dengan petualangan, aksi serta unsur persahabatan.
Saya pribadi kurang tertarik dengan terlalu seringnya para tokoh berpindah dari satu tempat ke tempat. Walaupun esensi dari cerita ini adalah petualangan, tetapi saya merasa bahwa waktu/lama tokoh menetap di suatu tempat terlalu cepat, sehingga terkesan dipaksakan agar ceritanya berjalan dengan cepat.
Saya senang dengan bagaimana penulis menggambarkan setiap aksi dan perkelahian yang terjadi dalam cerita. Mudah dipahami dan dibayangkan. Menurut saya aksi pertarungan dalam novel ini digambarkan seperti pertarungan-pertarungan dalam film-film laga asia (China/Indonesia) yang secara pribadi saya kuran begitu tertarik karena para tokoh dideskripsikan seperti orang barat. Yang terakhir, begitu cepatnya sang tokoh utama menguasai kekuatannya cukup menjadi poin minus bagi saya, karena dalam cerita, tokoh utama tidak tahu apa2 dan hidup normal hingga usianya menginjak 16 tahun saat desanya diserang. Sekali lagi saya rasa terkesan dipaksakan.
Oh ya. Akhir cerita ini menggantung, seperti dibiarkan untuk seri berikutnya. Tetapi saya tidak tahu apakah akan dibuat novel lanjutannya atau tidak. Saya sendiri tidak bisa menemukan informasi terkait