Buku ini bercerita tentang Zhafira, seorang anak indigo intradimensional. Ia pindah ke sekolah di bandung yang dulunya sekolah tersebut merupakan bangunan sebuah sekolah pada zaman Belanda dulu. Bangunan itu menyimpan sebuah cerita tentang seorang gadis yang bunuh diri di aula. Hingga cerita itu terus melekat sampai sekarang, yang mana sebenarnya itu merupakan kesalahpahaman. Zhafira diminta oleh gadis itu untuk membantunya meluruskan kesalahpahaman selama ini dengan kemampuannya.
Cerita ini menurut saya sangat menarik jika kalian ingin mengetahui seperti apa anak indigo itu. Karena di dalamnya ada beberapa penjelasan bagaimana seseorang bisa berintradimensi, ataupun bagaimana sebenarnya perasaan seorang anak indigo yang memiliki kemampuan seperti itu. Saya sendiri begitu menikmati penjelasan-penjelasan tersebut karena saya juga salah satu anak indigo. Sehingga bisa menjadi tambahan ilmu bagi saya.
Alur cerita ini menggunakan alur maju dan mundur, karena juga menceritakan kisah di masa lalu. Tokoh dan lingkungannya khas anak remaja. Ada juga cerita percintaan antara Keira dan Aldi—teman kelas Zhafira—yang membuat saya jadi senyum-senyum sendiri waktu membacanya. Hebatnya, ini pertama kali bagi saya membaca sebuah novel tanpa merasa ada salah penulisan di naskahnya. Entah itu saya lupa atau ada bagian yg terlewat, tapi selama saya membaca terasa begitu mengalir tiap kalimatnya.
Namun, yg namanya sebuah karya pasti ada kekurangannya juga. Beberapa tokoh di cerita ini menurut saya kurang kuat penokohannya, sebab setelah selesai membacanya tidak ada satupun tokoh yang begitu melekat di benak saya. Jadi selesai baca, langsung lenyap begitu saja. Terlebih di bagian endingnya, menurut saya kurang greget. Seperti ketika ingin membaca bagian selanjutnya namun ternyata cerita ini sudah habis. Kesel atuh digantungin:"
Tapi, buat yg sekedar ingin baca santai cerita ini, nggak ada salahnya kok. Ceritanya seru, serasa berpetualang ke zaman dulu. Juga banyak amanat yg bisa diambil dari cerita ini.