What do you think?


Sajak Ladang Jagung
Katak rawa-rawa
Menyanyi sendiri
Pii
Wii
Serangga pepohonan
Daun Bermerahan
Angsa menggelepar
Daun berbunyi
Pii
Wii
Judul buku puisi ini memantulkan impresi sang penyair ketika ia mengikuti Iowa Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Sebagian sajak-sajaknya ditulis di sana. Iowa City adalah kota kecil di tengah kawasan peternakan dan ladang jagung terluas di benua itu.
Menyanyi sendiri
Pii
Wii
Serangga pepohonan
Daun Bermerahan
Angsa menggelepar
Daun berbunyi
Pii
Wii
Judul buku puisi ini memantulkan impresi sang penyair ketika ia mengikuti Iowa Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Sebagian sajak-sajaknya ditulis di sana. Iowa City adalah kota kecil di tengah kawasan peternakan dan ladang jagung terluas di benua itu.
- GenresIndonesian Literature
80 pages, Paperback
First published June 1, 1973
About the author
Taufiq Ismail
26 books81 followersTaufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequence stopped as a teacher by government. He compiled many of poems, the famous are Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya : Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bored with his serious style, in 1970 Taufik created his poems mixed with humor. Taufik has many of regards, such as Cultural Visit Award from Australia government (1977) and South East Asia Write Award from king of Thailand (1994).
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
October 27, 2021
maksud hati memeluk gunung
apa daya gunungnya meletus
terima kasih ipusnas [lagi]
April 30, 2020
Taufiq Ismail adalah juru potret dan juru warta, dan ini jelas terlihat pada citra-citra sajaknya yang bersifat visual. Membaca berbagai puisi dalam buku ini serasa ikut menghayati alam. Favorit saya adalah Aku Ingin Menulis Puisi, Yang.
"Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada."
"Aku ingin menulis puisi yang mencegah kemungkinan pedagang-pedagang Jepang merampoki kayu di rimba dalam Kalimantan, melarang penggali minyak dan penanam modal mancanegara menyuapi penguasa yang lemah iman, dan melarang sogokan uang pada pejabat bea cukai serta pengadilan."
"Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada."
"Aku ingin menulis puisi yang mencegah kemungkinan pedagang-pedagang Jepang merampoki kayu di rimba dalam Kalimantan, melarang penggali minyak dan penanam modal mancanegara menyuapi penguasa yang lemah iman, dan melarang sogokan uang pada pejabat bea cukai serta pengadilan."
November 13, 2022
"Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan, guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada".
- Aku Ingin Menulis Puisi, Yang (Taufiq Ismail)
- Aku Ingin Menulis Puisi, Yang (Taufiq Ismail)
March 27, 2019
Suka banget buku ini!
Bisa dibilang ini karya2 Taufiq yang termasuk di awal masa kepenulisannya. Reflektif, syahdu, galau anak muda... Agak menyindir situasi sosial namun belum setajam Tirani dan Benteng, misalnya.
Kapan2 gampang nih mau pinjam lagi, walau buku aslinya udah susah ditemukan. Terima kasih, iPusnas.
Bisa dibilang ini karya2 Taufiq yang termasuk di awal masa kepenulisannya. Reflektif, syahdu, galau anak muda... Agak menyindir situasi sosial namun belum setajam Tirani dan Benteng, misalnya.
Kapan2 gampang nih mau pinjam lagi, walau buku aslinya udah susah ditemukan. Terima kasih, iPusnas.
February 7, 2018
Taufiq Ismail membawa pembaca 'membaca' rencam manusia - suara-suara kecil melalui puisi terhadap dunia. Gulat seantero dunia, dari sebuah ladang jagung di Amerika Syarikat sehingga kemanusiaan di Saigon, Vietnam. Mahupun harapan pada Indonesia - tanah air sendiri. Dan katanya, sajaknya ingin dijadikan penawar untuk manusia. Mudah-mudahan!
May 17, 2018
Aku ingin menulis puisi yang membuat orang berumur 55 tahun merasa 25, yang berumur 24 merasa 54 tahun, di mana pun mereka membacanya, bagaimanapun mereka membacanya: duduk atau berdiri.
Aku ingin menulis puisi bagi para pensiunan yang pensiunannya dipersulit otorisasinya, tahanan politik dan kriminal, siapa juga yang tersiksa, sehingga mereka ingat bahwa keadilan, tak putus diperjuangkan.
Aku ingin menulis puisi bagi para pensiunan yang pensiunannya dipersulit otorisasinya, tahanan politik dan kriminal, siapa juga yang tersiksa, sehingga mereka ingat bahwa keadilan, tak putus diperjuangkan.
May 9, 2022
di akhir, puisi yang judulnya "aku ingin menulis puisi, yang" menggambarkan semua puisi yang sebelumnya di baca. barang kali, ada yang gak di mengerti semua di jelaskan. overall bagus, beberapa sajak geografis dan keresahan entah mencangkup indonesia atau dunia🌱 aku pribadi paling suka "kembalikan indonesia padaku" hal. 72
August 16, 2020
Jadi kangen kampung halaman
October 11, 2013
menarik meski dibaca berulang-ulang.
December 9, 2014
Bagus! kita diajak berkeliling ke beberapa negara bersama barisan-barisan sajak Pak Taufiq Ismail, tentunya dengan latar tahun sebelum era milenium. seperti mengadakan kunjungan ke masa lampau
September 13, 2015
"Engkau campur-baur dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba, melupakanmu."
September 18, 2015
Ketika membaca buku ini saya jadi sadar bahwa puisi bisa membawa pesan harapan sekaligus pelipur lara. Judul 'Aku ingin menulis puisi' adalah favorit saya.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews












