Semua orang memuji Luthfi Syahbana pria yang cerdas, hebat, dan jago komputer. Semua orang juga selalu bilang Sassy sangat beruntung bisa mendapatkannya. Tapi bagi Sassy, menikah dengan Luthfi adalah kerja keras untuk beradaptasi menerima segala hal menyebalkan dalam diri pria itu. Meski genius, Luthfi sangat cuek, berantakan, dan tidak romantis. Pria itu lebih senang bermain game hingga lupa waktu, lupa menjemput Sassy, bahkan lupa hari ulang tahunnya.
Bagi Luthfi, sejak awal, pernikahan mereka adalah kesalahan besar. Meski berhasil mempersunting Sassy yang dipujanya sejak lama, ia tahu hati perempuan itu tidak pernah utuh untuknya.
Benarkah pernikahan mampu menyatukan dua insan yang sangat bertolak belakang? Jika tidak, haruskah Sassy menerima Adit, pria yang pernah membatalkan pernikahan mereka, atau tetap bertahan untuk membayar lunas utang cintanya pada Luthfi?
Akhirnya kelar juga. Buku ini saya baca dengan (lagi-lagi) ekspektasi yang tinggi. Pertama kali baca back cover, saya langsung tertarik. Cerita pernikahan cowok flegmatis dan cewek sanguinis – ngingetin saya sama divortiare-nya Ika Natassa. Dan review di goodreads pun katanya bagus, mengaduk-aduk emosi. Jadinya, okelah. Mari kita baca novel ini.
Pada bagian awal saya suka, meskipun meskipun blurb di belakang buku sedikit kontradiksi dan udah ngasih bocoran ke prolog dan bab pertama. Saya lumayan suka dengan Sassy yang ceplas-ceplos,.... tapi ternyata saya salah.
Sassy ini ababil banget. Sedikit-sedikit nangis, marah, ngambek. Nggak ngertiin suami, maunya diturutin, manja. Nggak dewasa. Dan nggak berpikiran panjang. Saya masih ngerti soal minta bantuan Adit pas di Jogja. Tapi pas Nisa ilang dan ia minta bantuan Adit? Itu bego. Nyari masalah. Oke, Ambar yang notabene sahabatnya lagi nggak ada, tapi memangnya nggak ada teman lain? Haruskah Adit? Terus di bagian Adit menemukan Nisa dan Sassy memaksanya makan di rumah Neneknya Luthfi? Hellow? Sassy ini nggak berpikiran panjang atau gimana sih, ini udah pasti nyari masalah. Makan siang di rumah neneknya suami lo dengan mantan calon suami lo? Ngebanding-bandingin Luthfi sama Adit? Okelah, Luthfi memang nggak perhatian. Workaholic. Tapi serius, nih? Dibandingin sama laki-laki yang membatalkan pernikahan anda? Come on, Sassy! Kalo saya sih, Adit udah saya buang jauh-jauh. Dan Sassy ini ya, jelas-jelas Luthfi marah karena cemburu. Jelas-jelas situ yang salah kenapa masih pergi sama mantan calon suami yang jelas-jelas masih suka sama anda, dan malahan situ yang marah-marah sama Luthfi karena cemburu. Mbak Sassy, Luthfi berhak marah. Apalagi anda kayak ngode gitu ke Adit. Sampai cerita segala tentang betapa si mbak nggak cucok sama Luthfi (tapi anehnya Sassy nggak bisa cerita sama Ambar). Dan ketika Adit minta balikan sama Sassy, Sassy juga yang marah-marah. Heh, mbak. Situ udah ngode, pas kodenya berhasil, situ malah marah. Maunya apa mbak? You, missy, have no sympathy from me.
Dan herannya, Adit yang membatalkan pernikahan Sassy-Adit, tapi kenapa Sassy nggak kelihatan benci sama dia? Cuma sekali disinggung bahwa Sassy benci Adit karena egois dan meninggalkannya. You heard me, sekali. Nggak wajar. Kalau saya sih, bisa-bisa marah, benci dan nggak mau liat Adit sampe mati. Apalagi alasan batalin pernikahannya karena kerjaan. Dude, seriously? Kalo gitu mah nggak usah ngajak kawin. Itu tandanya Adit nggak serius. Saya sama sekali nggak enjoy bacanya. Sassy ini little miss whining. Umurnya 26, tapi kelakuan kayak remaja ababil. Ngambek, nangis, marah, dibaikin Adit, hayuk aja.
Dan saya nggak suka Nisa. Nisa kabur begitu aja, meninggalkan surat yang isinya minta nenek dan Luthfi supaya dewasa dan ngertiin bahwa ia mau pacaran dengan Alfin. Tapi, Nisa sendiri nggak dewasa. Kalau dia dewasa, dia nggak akan kabur. Ia akan membicarakannya baik-baik. Entah kenapa, semua tokoh wanita di sini nggak menarik simpati saya
Beberapa hal yang missed dari novel ini. 1.Sassy. Nuff said. 2.Di undangan depan, ditulis kalo nama bapak ibunya si Sassy adalah Bpk.Prasetyo dan Ibu Winarsih. Sementara nama bapak dan ibunya Adit adalah Bpk. Arifin dan Ibu Sartika. Tapi di belakang-belakang, malahan kebalik. “ sejak dulu bahkan sejak awal berteman dengan Sassy, dia (Luthfi) menikmati kehangatan keluarga Arifin,” lah? 3.Bahasa Sunda yang nggak ada terjemahan atau footnote-nya. Ngg.... jujur saya nggak ngerti bahasa Sunda. 4.Penggambaran setting yang kurang detil. Saya nggak merasa ada beda atmosfir ketika perpindahan lokasi. Lokasi Bandung, Jakarta dan Jogja sama sekali nggak kelihatan bedanya. 5.Penyelesaian Luthfi dan Mama Papanya yang berkesan kelewat cepat. Ibunya yang tiba-tiba dari ketus jadi merasa bersalah. 6.Nggak ada grand gesture apa-apa dari Sassy. Rasanya flat banget, ... kayak terima jadi aja gitu.
Tapi terlepas dari semua itu, ada beberapa bagian yang saya suka. Menjelang ending saya suka. Apalagi pas Luthfi mengingat-ingat kehadiran Sassy di rumah. Itu manis. Gaya penulisannya juga suka. Nggak menye-menye.
Pada akhirnya, buku ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya. Bukan karena merasa connected, lebih banyak keselnya sama Sassy. Hmm, mungkin karena saya belom married, jadi nggak bisa konek kali ya? Jadi, satu setengah bintang yang dibulatkan jadi dua. Satu bintang untuk Luthfi, setengah lagi untuk blurb pada back cover yang menggoda.
Ps. By the way, what’s with this thing? My hUsbAnD calling... tHe_Aditz calling...
pusing bacanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membosankan, iyes. Karakternya juga nggak ada yg menarik hati aku. Dan yang paling menyebalkan adalah kesenangan penulisnya memasukkan bahasan atau info yang nggak perlu utk menyambung-nyambungkan (yang seringnya malah nggak nyambung) scene. Contoh, info ttg gaya rambut pegawai bank dengan kantor lainnya hanya untuk membuat scene tokoh utama cerita rambutnya lepek krn keseringan disanggul. Utk ngasi info rambut lepek aja, mbak penulisnya butuh 2 atau 3 paragraf, dan ini nggak terjadi cuma sekali. Ada banyak yg begini. Ibaratnya mau ke supermarket, kudu muter dulu jauh kemana-mana, padahal supermarketnya berjarak 2 rumah dari rumah kita. Lelah. Jadi wajar aja aku butuh sedikit kerja keras utk menyelesaikan baca.
Karakternya nyebelin semua, sumpah. Apalagi karakter utamanya.
Penulis hebat sih, berhasil bikin gue kesel sama si Sassy sampe segitunya. Pengen gue unyel-unyel dan buang ke laut saking manja dan ngeselinnya. Kayaknya semua yang dia lakuin tuh salah aja di mata gue.
Satu-satunya yang membuat gue bertahan sama cerita ini karena gaya ceritanya yang enak. Soal ceritanya, mainstream dan rada ngebosenin. Mirip-mirip buku pernikahan bertema sejenis lah. Subplotnya juga apa-banget-dah.
Terus yang bikin gue tambah kesel, kenapa tulisannya masih alay-alay gitu sik? Gile mbaksis, it’s like a decade ago, deh.
Highly recommended!! Emosi campur-aduk ga menentu baca kisah Lutfi dan Sassy. Pas lagi seru2nya malah banjir air mata dan bikin hidung mampet!
Cara bercerita dgn bahasa apa adanya (ga perlu ngenglish2lah), alur yg mengalir sehingga pembaca seperti saya terbuai dgn perseteruan yg melibatkan Lutfi dan Adit, chemistry Lutfi-Sassy yg dapeeeeet banget! Pokoknya bagi saya buku ini bagus. Soale mampu membuat saya menitikkan air mata plus hati kebat-kebit
Konfliknya sederhana kok; missunderstanding dlm pernikahan. Yg satu berutang ungkapan cinta dan yg satunya berutang ekspresi cinta. Yg satu ceriwis dan yg satunya pendiam. Yg satu ekspresif, eh satunya impulsif. Tapi ternyata mereka tak rela saling melepaskan. Ahhh, intinya teknik permainan emosi pembacalah yg bikin kisah ini mantuuul! Ending-nya? Ga biasa! Tapi bikin puaaaaas!
Asik banget buat dibaca walaupun ide ceritanya gak terlalu spesial sih Aku suka sama gaya penulisannya kecuali itu kenapa sih si Sassy nyimpen kontaknya pake tulisan gede kecil gtu? Gak ngerti aku apa tujuan author bikin kayak gtu 😭 Lumayan suka sih sama konfliknya yang yaaa masalah cewek2 yg capek dicuekin 🤣 Cuma ya gitu, aku ngerasa endingnya kurang greget aja, kayak aku gak paham sama jalan pikiran Sassy dan Luthfi, terutama Luthfi sih Pesan penulis ttg perasaan cinta Luthfi ke Sassy yang akhirnya membuat mereka itu gak nyampe aja ke aku Overall, novel ini cukup menghibur dan worth to read kok
Tokoh-tokohnya emang nyebelin semua. Kenapa nggak bisa ngomong satu sama lain sih kalau sedang ada masalah? Di sini ada pasangan menikah (Luthfi dan Sassy), mantan calon suami yg pengacara keren (Adit), sahabat lama, dan rekan kerja (Ambar, Gerry, dll), keluarga dekat (Nisa)... tapi suasana cerita kayak jalanan Kebumen jam 7 malam. Sepiii...
Tapi setidaknya, metropop ini aman, gak pake ada adegan ranjang yg suka bikin jengah karena dilakukan di Indonesia, oleh pasangan orang Indonesia yg belum menikah. Iya, saya masih sekolot ini :)
Suka sama ceritanya, karakter Sassy dan Lutfhi benar-benar bertolak belakang tetapi saling melengkapi. Pengen banget dibanyakin cerita sebelum pernikahan mereka, masa-masa mereka masih jadi sahabat, pasti seru. Endingnya juga suka.
Sangat mengajarkan bagaimana cinta itu yang sesungguhnya, bahkan ketika kita tidak sadari... Saya belajar banyak untuk lebih menghargai sebuah hubungan, setiap perkataan setiap perbuatan dari pasangan. hehe
Udah lama baca baru komentar sekarang. Ya maklum menikmati liburan tanpa ngapa-ngapain terlebih ngetik itu membuat gue luar biasa malas. Bahkan Babah pun sudah mulai bertanduk melihat kemalasan akut anak perempuan satu-satunya yang di rumah. Yang satunya lagi udah balik ke negeri ronggeng.
Gue gak bias mengomentari isi ceritanya yang menurut gue biasa aja. Hahaha. saking sering baca Watty gue sampai gak bias berkomentar buat metropop ini.
Tema yang di angkat juga menurut gue biasa aja. Gue kira ini masuk ganre Amore karena lebih ke kehidupan berkeluarga.
Yang membuat gue sedikit geram yaitu penulisan alay di sini. Tolong dong siapa pun penulisnya kalau sudah masuk dalam dunia kerja atau rumah tangga di rubah. Masa kalah sama keponakan gue yang masih smp. Bahkan sepupu-sepupu gue yang sma juga ngetik nggak alay.
Ya walaupun ini cuma cerita tetap aja membuat gue sedikit jengkel.
Yang membuat gue suka di sini itu penggingatnya dengan sepatu. Bahkan gue aja lupa sepatu apa pertama kali gue pakai saat kuliah, pergi ke banda aceh buat ujian atau liburan ke jogja. Hebat loh tokoh utamanya bahkan saat pergi kencan pertama dengan Adit dia tahu waktu itu pakai sepatu apa.
Udahlah gue berkomentar. Masih banyak list novel yang perlu gue kasih bintang.
Well, actually I 've finished read this book two weeks ago and now I've time to review it. I Owe You Love mengangkat cerita sepasang suami-istri, Luthfy dan Sassy. Tema yang diangkat cukup ringan dan lumayan sering diangkat. Kehidupan rumahtangga yang harus berhadapan dengan masa lalu. Tapi bukan tentang itu saja, dalam novel ini masalah yang sebenarnya malah lebih tentang Luthfy dan Sassy. Bagaimana Luthfy yang sangat berbeda dengan Sassy dan bagaimana Sassy yang selalu bermasalah dengan sikap cuek Luthfy.
Walaupun di awal cukup membosankan tetapi sejujurnya saya lumayan kaget saat membaca novel ini. Kalian bisa menyebutnya 'di luar ekspektasi'. Saat membaca blurb yang ada di belakang novel, saya berkeyakinan kalau nantinya Sassy yang akan menjadi tokoh yang membuat pembaca menjadi jengkel mengingat hubungannya dengan Adit, sang mantan calon suami. Tapi yang terjadi justru sikap Luthfy yang bikin gemmes. Tentunya saya tidak akan menceritakan detailnya di review ini. :)
Cerita tentang pengantin baru dengan kesibukan luar biasa. Si istri adalah customer service sebuah bank, sementara suaminya adalah owner dari perusahaan IT. Isinya tentang konflik. Antara suami dan istri, istri dan mertua, dan kehadiran mantan yang membuat suasana semakin meruncing. Ketidakpercayaan dan ketidakpedulian suami menjadi titik terberat yang harus dilalui sang istri. Atau lebih singkatnya, suaminya kelewat cuek. Ditambah tuntutan dari beberapa pihak tentang momongan sementara keduanya belum sepakat akan hal itu.
Sebenarnya buku ini bagus. Cuma bagi penikmat novel yang teliti, akan menemukan beberapa kejanggalan. Pada awal novel dan bagian tengah novel, nama Bank tempat Sassy bekerja berbeda. Nanti, di akhir novel, nama Bank-nya kembali sama dengan nama Bank di awal Novel. Kedua, pada bagian ke delapas belas, halaman pertama disebutkan project yang tengah dikerjakan Luthfi adalah Phoenix Warrior, namun di baliknya projectnya berubah menjadi phoenix tower. Kok bisa? Mungkin hanya kesalahan dalam pengetikan saja. (Perlu menanyakan editor kenapa bisa kecolongan?)
i think it's my first time reading your book , sarah. dan sepertinya setelah novel ini saya akan memburu novel sarah dezaky yang lain... saya tidak tahu kenapa akhir-akhir ini selalu tertarik dengan novel yang bertema pernikahan hahahaha i feel dizzy suddenly. no okay back to the review. fisrt. i love lutfhi's personality. such a kind of man that i would love to marry someday.. hahaha.. alurnya mengalir.. sampai saya nggak sadar sudah tengah malam dan membuat saya begadang. well done mbk sarah. dari awal page sampai seterusnya seperti ada shock therapy. tenatang undangan sassy dengan adit. tap kemudian jutsru menikah dengan lutfi. saya mencoba meraba konflik seperti apa yang akan menanti di halaman selanjutnya. konflik bermula dengan manis.. secara berurutan dan beruntun. dan perlahan semua terkuak tentang apa yang menyebabkan sassy-adit membatalkan pernikahan sampai pada cerita sassy-luthfi menikah. and thank you for made me in love with sassy's personality too. it look like me. hahahah.. ringan tapi berkelas.
Ini buku kesekian kalinya yang aku baca tentang pernikahan , mantan ,perselingkuhan , dan jogja tapi lagi-lagi nggak buat aku jadi bosan. nggak pernah tahu kenapa aku nggak bosan sama model cerita yang begini tetap suka dan melekat di hatiku terdalam.
Yang terdalam dari ini buku versi aku 1.kharakter sang suami meskipun cool ,misterius dan susah di tebak sebenarnya ,sama dengan laki-laki pada umumnya . 2.Sang suami rela berubah demi sang istri 3.sang istri ikhlas sabar dengan bermacam rupa perilaku sang suami demi bahagia hubungan pernikahannya
Yang biasa banget dari buku ini versi aku
1.ciri-ciri cowok yang di gambarkan biasa 2.ciri-ciri perempuannya juga biasa
dah itu aja review yang bisa aku buat , maaf kalau nggak suka tapi saya membuat apa adanya.
Agak membosankan. Konfliknya kurang greget, penggambaran tokohnya biasa saja dan cenderung berulang--seperti nggak ada tanda lain yang bisa ditonjolkan(Adit ganteng, pakain seperti eksekutif muda; Luthfi muka genius, tidak terlalu tampan). And don't forget 'bout the 'alay' name on the phonebook. Saya rasa penggunaan nama alay itu udah soooo yesterday banget deh, apalagi untuk orang yang sudah bekerja dan sudah berumahtangga. Saya yang masih kuliah saja sudah berhenti menulis alay sejak lama kok. Menurut saya yang alay-alay begini benar-benar sangat mengganggu. Tadinya mau kasih 1,5 bintang aja, tapi karena nggak ada, akhirnya saya kasih 2 bintang karena tersentuh cerita Luthfi kepada orangtuanya. Udah, segitu aja reviewnya. Nggak mau spoiler, kalau mau tau gimana ceritanya, mending baca sendiri aja ;)
selesai cuma dalam dua jam. gak ada jeda sama sekali.
Gue memilih untuk mengesampingkan kisahnya Adra dan Harsya dalam His Wedding Organizer - Retni Sb yang udah lebih dulu gua pretelin segelnya dan udah gua baca beberapa halaman demi buku yang cover dan blurb-nya asik asik joss ini.
Dan ternyata ga salah pilih.
Superb.
Gilsyaw, keren abiss. Suka luar biasa sama Sassy, apalagi sama Luthfi Syahbana ❤ hahaha. Beberapa bab-bab akhir menguras emosi luar dalem. Bikin yang baca jumpalitan ngebacanya.
Kayaknya ini novel debut, ya? Oke, kalau gitu buku-buku Sarah Dezaky yang selanjutnya akan masuk ke daftar perburuan.
Damn highly recommended
Ehiya, i just realized kalo di novel ini ga ada halaman ucapan terimakasih dan biodata singkat penulis.
I was wondering if I should give it 3 stars or 4 stars rating. Dari awal baca, jujur agak terganggu sama penulisan hUsBand dan sejenisnya yang berkaitan dengan phone book contact, trus beberapa typo dan kesalahan penulisam yang gak konsisten, as I said before, kayak Ambar yang di awal temen sejak SMP, trus tiba tiba di belakang jadi temen sejak SMA. Trus juga beberapa bagian yang agak gak terlalu penting buat diceritain jadi skimming juga gak masalah Tapi pas bagian sekitar mungkin diwahan 100 halaman terakhir, mulai mendingan sih perasaan, ditambah bagian akhir waktu Luthfi nya minta maaf. Kebeneran lagi nulis model chicklit gini juga dan edisi minta maaf pasangan gtu bikin bawa perasaan. Abaikan aja bagian ini. Jadi, mau gak mau penilaian nambah dikit. After all, 3,4 it is :)
I Owe You Love, novel Metropop yang berkisah tentang hubungan suami istri. Mengangkat konflik perbedaan karakter, cara pikir dan rasa cemburu di dalam sebuah rumah tangga. Memang udah mainstream banget, ya? Tapi, cara bercerita penulisnya, juga pilihan diksinya yang nggak picisan, bikin novel ini asyik banget. Sampai-sampai aku cuma butuh setengah hari buat menyelesaikannya. Hubungan Luthfi dan Sassy membuat aku iri. Pertengkaran-pertengkaran mereka malah terkesan bikin interaksi mereka terasa intim. Apalagi cara Luthfi membujuk Sassy agar berhenti ngambek. Es krim, ya… Luthfi membelikan Sassy es krim. Sederhana memang, nggak terlalu manis tapi kok malah ngena, ya?
BIASA BANGET! Ini cerita gak ada greget nya. yahh... biasa banget. Cerita tentang Lutfi dan Sassy yang konflik dengan masa lalu nya adit. Gaya penulisannya juga gak ringan. Lutfi yang keras kepala dengan background dunia games nya dan Sassy yang perhatian dengan background bankirnya. Ya wajar aja sih klo menurut aku seorang cewek akan gerah kalau pasangannya gak perhatian, cuek, apalagi itu sudah berstatus suami istri. ALur akhirnya juga bisa ketebak. Bakal Happy ending. 3 bintang dari 5 untuk penulis debut ini. Karena overall pengambaran dunia gamesnya cukup detail, kurang mengaduk emosi di setiap konflik yang di gambarkan dalam novel ini.
Saya histeris baca novel ini, seriusan deh tokoh utama (Lutfi) bikin saya flashback sama perasaan saya dengan seorang laki-laki di masa lalu :') sifat mereka benar-benar mirip sampai nangis karena kangen banget sama cinta masa lalu saya hahaha #abaikan. Oke, kita mulai dari prolog tentang masa lalu Sassy, lalu dibab 1 ternyata yang kita temukan adalah Sassy sudah menikah dengan Lutfi. Laki-laki yang sangat berbeda dengannya. Intinya sih, konfliknya ya, JANGAN TERLALU CUEK DENGAN PASANGANMU. Overall I like this story!
awalnya saya pikir buku ini hanya akan bercerita tentang perempuan yang sakit hati gak jadi nikah sama pasangannya terus move on dan dapet pasangan yang lain. gitu aja, paling ya tambahan romansanya disitu aja.
ternyata, ceritanya enak buat dibaca, apalagi bagian tengah hingga akhir. ini lebih ke cerita dimana ada dua orang manusia yang berbeda banget memutuskan untuk menikah dan mereka berdua menghadapi banyak kesulitan untuk 'cocok'. tapi disanalah letak serunya konflik yang diangkat dalam novel ini.
ceritanya masuk akal, konfliknya pas dan endingnya pun sip menurut saya.
Cukup 6-7 jam doang baca ini novel. RECORD!! Gemes banget sama Lutfhi dan Sassy! Apalagi kalo mereka lagi berantem. Hebat banget bikin karakter si Lutfhi yang konsisten keras kepala dan nggak mau ngalah. Gemes banget waktu Lutfhi gak pernah mau tau penjelasan dari apa yang dia denger ataupun yang dia lihat. Bener-bener keras kepala. Tapi sedikit bingung sama kemunculan si Adit yang sedikit gak jelas alasan ttiba-tiba muncul lagi. Kayak mau deketin Sassy tapi kayak nggak niat deketin juga.
Pertama kali tertarik sm buku ini karena covernya yg simple. Tapi kecewa stlh baca buku ini. Penggunaan bahasanya yang nyampur2 (antara bahasa lo-gue, aku-kamu, saya-kamu), jadi rasanya anehas baca. Dan entah kenapa awal-cerita saya ga bisa masuk ke ceritanya, ceritanya gak nendang. Agak lumayan pas ending2nya pas puncak konflik. Tp overall alur dan cara penceritaannya kurang nendang.
Heemm..kenapa kasih cuma 2 bintang? Karena entah kenapa saya merasa bosan ketika baca novel ini. Butuh kemauan extra untuk akhirnya bisa selesai baca sampai halaman terakhir. Mungkin cara penceritaannya yang terlampau datar (IMHO) yang membuat konfliknya jadi kurang greget.
Don't read this book. It has bad plot, whiny and self-absorbed protagonist, and basically annoying cliche twists.
I actually read this book just BECAUSE I had to make a summary of a book with a marriage problem in it (and this book has LOTS of them) for school assignment. So yeah.
Akhirnya setelah sekian lama ada lagi metropop yg bagus dan bikin ga mau berpaling sampe selesai baca jam 12 malem.Konfliknya nggak banyak tp penjabarannya okeh..
Membuka buku ini dengan ekspetasi yang (kelewat) tinggi. Jatuhnya sakit juga. :| Tidak bisa menikmati ceritanya sama sekali. Terlalu banyak side story yang nggak perlu dibandingkan cerita utama.