Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cerpen Pilihan KOMPAS #23

Klub Solidaritas Suami Hilang: Cerpen Pilihan KOMPAS 2013

Rate this book
Buku ini membuktikan bahwa regenerasi cerpenis di Indonesia berlangsung secara terus-menerus dan simultan. Karya-karya para cerpenis kawakan seperti Gerson Poyk, Putu Wijaya, Budi Darma, Arswendo Atmowiloto, Gde Aryantha Soetama, dan F Rahardi, bersanding dengan karya-karya para cerpenis yang lebih muda seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Agus Noor, Indra Tranggono, Gus tf Sakai, Triyanto Triwikromo, Damhuri Muhamad, Intan Paramadhita, Noviana Kusumawardhani, AK Basuki, dan Dewi Ria Utari. Bahkan memasukkan juga nama-nama muda seperti Sungging Raga, Guntur Alam, A Mutaqqin, dan Zaidinoor. Karya-karya mereka menumbuhkan optimisme bahwa sastra kita tak pernah mati!

248 pages, Paperback

First published June 1, 2014

24 people are currently reading
191 people want to read

About the author

Intan Paramaditha

20 books200 followers
Intan Paramaditha menulis buku Sihir Perempuan, kumpulan cerita pendek yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2005; Kumpulan Budak Setan (2010), sebuah tribut untuk penulis horor Abdullah Harahap yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad; naskah drama Goyang Penasaran (Intan Paramaditha & Naomi Srikandi, ed, KPG 2013), diadaptasi dari cerpennya dan dipentaskan oleh Teater Garasi di Yogyakarta dan Teater Salihara, Jakarta. Ia mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik Kompas 2013 lewat cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang." Pada tahun 2017 ia menerbitkan Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, novel dengan alur beragam yang terpilih sebagai karya sastra bidang prosa terbaik pilihan Tempo 2017. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Harvill Secker (Penguin Random House UK) dengan judul Apple and Knife dan The Wandering.

Intan Paramaditha juga seorang akademisi, banyak menulis tentang gender dan seksualitas serta kajian budaya, khususnya film. Ia mendapat gelar doktor dalam bidang Kajian Sinema dari New York University setelah sebelumnya mendalami sastra Inggris di Universitas Indonesia dan University of California San Diego. Saat ini ia tinggal di Sydney dan mengajar Kajian Media dan Film di Macquarie University.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (13%)
4 stars
128 (48%)
3 stars
92 (34%)
2 stars
8 (3%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews
Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
April 28, 2015
Banyak cerita pendek menarik di buku ini. Mistis, manis, kritis, imajinatif, sebenernya nggak bisa dibandingkan. Tapi di buku kumpulan cerpen, selalu ada cerita yang lebih mengena dibanding yang lain. Ini cerita-cerita favorit gue:

1. Pengacara Pikun - Gerson Poyk
Ceritanya aneh, bahasanya nggak rapi, endingnya astaghfirullah, tapi gue mendapatkan kesan simetris setelah selesai membaca cerita ini. Dan gue suka yang simetris-simetris.

2. Klub Solidaritas Suami Hilang - Intan Paramadhita
Idenya bagus banget. Gue berharap akan ada cerita panjangnya sih. I mean, letting your love ones go is one thing, but losing them without knowing what really happen is terrifying. How do you know when is the right time to hold on tight to hope, and when is it to let go? Closure is necessary.

3. Ulat Bulu & Syekh Daun Jati - Agus Noor
Gue selalu punya soft spot untuk cerita-cerita tentang 1965, karena topik itulah yang pertama kali membuat gue jatuh cinta pada Sastra Indonesia. Meskipun penuh simbol, tapi nggak terlalu rumit, sehingga masih bisa gue interpretasikan dan pahami dengan baik.

4. Alesia - Sungging Raga
Cerita dari sudut pandang anak yang polos sebagai narator itu selalu terasa lebih dalam. Dan cerita ini manissss banget. Gue suka bagaimana si bocah mendeskripsikan malaikat dan bagaimana ia memberikan "solusi" atas kedatangan malaikat yang tidak diharapkannya.

5. Aku, Pembunuh Munir - Seno Gumira Ajidarma
BAGUS BANGET INI PARAH! Memaparkan fakta kasus pembunuhan Munir dari sudut pandang pembunuhnya, tapi masih dengan identitas yang dirahasiakan. Keren banget sih! Gue harus baca karya Seno Gumira Ajidarma yang lain ini mah.
Profile Image for Nadia.
7 reviews4 followers
August 31, 2014
Cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang" membuat kumcer kali ini punya rasa yang beda. Setting dan tema sangat internasional, sementara Kompas biasanya punya preference ke cerpen2 yang mengangkat isu relevan lewat tema lokal. Cerpen ini khas Intan Paramaditha banget. Sederhana di permukaan, tapi politis dan penuh layers. Dingin, seolah tidak berbahaya, tapi kalo dibaca berulang-ulang ketahuan deh sadisnya. Cerpen "Klub" nggak horor seperti cerpen2 (dan bahkan drama) dia sebelum2nya, tapi tetep keren dan "Intan" banget. Gue nggak mengira aja ini sesuai dengan selera Kompas yang gue kira lebih predictable, hehe...

Dalam kumcer ini gue juga suka cerpen Seno Gumira (meskipun sebenarnya bisa lebih keren lagi sih, secara penulis Penembak Misterius gitu loh) dan the greatest Budi Darma tentunya. Tadinya nggak berharap banyak dari cerpen Arswendo, tapi ternyata 'ngena' juga ya. Karya Jokpin belum level maestro kayak puisi-puisinya, tapi di kumpulan ini terasa segar.

Btw, dengan semua pasang surutnya, gue tetap pembaca setia kumcer pilihan Kompas. Meskipun dari tahun ke tahun sering curiga juga sih... Apakah beberapa nama masuk hanya karena mereka populer atau sudah terlanjur langganan jadi nominasi? :)
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
August 9, 2015
Barangkali cerpen yang nggak bernuatan positif cuma 3 atau 5 aja. yang lain, sangat politis. saya belum sempat baca esai yang menyertai kumcer ini, hingga kenapa cerpen Intan menjadi cerpen utama. padahal cerpen 'aku pembunuh munir' benar-benar menjadi gong yang mengentak *sembah empu SGA*. anyway, suka banget sama Alesia, Amin, dan tentu saja, Aku Pembunuh Munir. terus terang, saya menyelesaikan buku ini dalam waktu yang cukup lama, karena, sumpah, susah banget moveon dari masing-masing cerpennya T_T. rada jarang saya sampai begini. well, will review it in my blog, as usual.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 6, 2017
Kumpulan Cerpen pilihan Kompas 2013 yang dibaca akhir tahun 2015...baiklah.

Merupakan cerpen-cerpen yang dimuat dalam harian Kompas. Dipilih sebagai karya-karya terbaik sepanjang tahun dan diterbitkan pada tahun berikutnya .Merupakan tradisi yang baik dan membantu juga untuk orang-orang seperti dirikuh yang pengennya sih tetap membaca karya sastra yang baik namun kekurangan waktu, walaupun harian Kompas hadir dirumah setiap hari.

Dengan cerita-cerita yang semuanya menarik, gaya penceritaan beragam memberikan kesan yang berbeda-beda.

Bravo untuk penulis sastra Indonesia
Profile Image for Novia Anggraeni Iskandar.
21 reviews12 followers
August 12, 2017
Kesuluruhan terdapat 23 cerita pendek yang sarat akan pesan dan makna yang tersimpan. Setiap kalimat yang ada di cerpen pilihan ini seperti punya magnet sendiri yang membuat pembaca lekat dengan kisah-kisah yang dibawakan. Salah satu cerpen yang berjudul Serpihan di Teras Rumah berhasil membawa imajinasi saya ke daerah pedesaan yang harus menjadi tumbal kekurangan air karena aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan tanpa sekalipun menyisipkan satu kata kutukan yang mengungkapkan ketidakrelaan. Melalui sastra sebuah kritikan pedas pun bisa disulap jadi indah.

Akupun berhasil dibuat geram oleh karakter Biang di Sumpah Serapah Bangsawan. Ia sangat menjunjung status kebangsawanannya tanpa tendeng aling-aling seakan-akan menjadi bangsawan adalah segalanya. Ia bahkan tidak gentar untuk meneror rumah tangga anak perempuannya yang menikahi pria biasa hingga terjadi perceraian. Ia lalu berniat untuk mengembalikan status "bangsawan" putrinya itu dengan merencanakan pernikahan dengan sepupu dari putrinya sendiri. Tanpa cinta, tanpa rasa suka, hanya demi anaknya dapat menjadi "bangsawan" lagi.

Kumpulan cerpen Kompas ini mungkin tidak akan memanjakan angan-angan pembacanya dengan rantai kalimat yang romantis. Justru sebaliknya, tiba-tiba tertegun, kaget, kesal, marah, geram, dapat begitu saja muncul menyaksikan sajian fenomena dan kritik sosial yang disampaikan para penulis.


#bookreview #temanbuku #sabtubelajar #satbythereader #2017readinglist
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
February 5, 2015
Cerpen yang dijadikan judul utama buku ini ternyata gak sekeren yang saya bayangkan. Entahlah, saya awam secara teknis. Tapi memang ada hawa lain ketika membacanya. Hawa yang sedikit berbeda yang tak bisa dijelaskan oleh panca indera saya. Meskipun begitu, cerpen karya Intan Paramaditha ini tetap keren. Walau gak sekeren yang saya kira sebelumnya.

Beberapa cerpen sudah pernah saya baca (ya, saya pembaca kronis cerpen-cerpen-Kompas).

Semuanya tentu punya benang merah, yaitu kebanyakan soal isu poleksosbudhankam. Ada yang diceritakan secara eksplisit, ada juga yang diceritakan secara implisit (khas sastra Indonesia).

Agaknya saya lebih menyukai tulisan-tulisan yang maskulin, gak menye-menye dan gak banyak mengandung kalimat puitis. Itulah sebab saya merasa agak "risih" membaca cerpen Noviana Kusumawardhani, meskipun ya sama sekali gak jelek.

Disebabkan saya bukan orang sastra, jadilah ada beberapa cerpen yang menurut saya absurd. Ya, layaknya gado-gado, selalu ada paling tidak satu jenis sayuran yang sebenarnya gak kamu suka tapi ketika kamu memakannya berbarengan dengan sayur yang lain, alhasil semuanya terasa nikmat kan? Begitulah kiranya perasaan sayasetiap kali baca buku kumpulan cerpen.

Dan di antara segala naik turunnya rating cerpen-cerpen di dalamnya, saya akhirnya sudi kasih 4 dari 5 bintang untuk ke-24 cerpen dari 24 cerpenis yang masuk. Layak dibaca dan dikoleksi!
Profile Image for Faisal Chairul.
268 reviews17 followers
January 21, 2022
14 - 2022

Di antara dua puluh tiga cerita pendek di dalam antologi cerpen pilihan Kompas 2013 ini, beberapa cerpen favorit gw di antaranya:

1. Lelaki Ragi dan Perempuan Santan - Damhuri Muhammad
Alasan menyukai cerpen ini bias sih, karena permainan kalimat untuk menggambarkan hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan menggunakan kiasan makanan tradisional kampung halaman, Sumatra Barat :)

Apa jadinya lemang tanpa tapai? Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai. - halaman 158

Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi pani-aram, lepat-pisang, atau limping-rebus, dagangan emakmu yang lain. "Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini," dalihmu. Selalu. Perihal selera tentu aku bersetuju. Tapi, pernahlaj kau menimbang asal mula pasangan lemang-tapai yang hakikatnya saling bertolak-belakang? Bukankah lemang ditanak dengan pati santan, hingga usianya tiada lebih dari satu hari? Bila tak lekas disuguhkan, tentu akan terbuang sebagai sipulut basi. Sementara bukankah tapai matang karena ragi? Makin diperam makin ajaib rasa manisnya. Tapai senantiasa melesat menuju aras keabadian, sedangkan lemang mundur ke ranah kesementaraan.

"Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu," ikrarmu. Selalu.
- halaman 158

Kau tahu, di kampung ini hantaran gulai kentang adalah bahasa pinangan paling santun. Mungkin tampak murah dan sederhana sebab tanpa campuran daging tapi ia mengandung kiasan yang kedalamannya hingga kini belum tergantikan. Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu. - halaman 158-159

2. Amin - F Rahardi
Sebuah parodi yang menggambarkan paranoid aparat negara dan pengultusan masyarakat dalam merespons perilaku ganjil seseorang, yang duduk bersila di trotoar Jalan Merdeka Utara depan Istana Merdeka dan menjawab setiap pertanyaan dengan 'Amin'. Sikap paranoid aparat yang memandang laki-laki tersebut sebagai orang yang berpotensi berbahaya (hanya karena merespons setiap pertanyaan maupun umpatan dengan kata 'Amin') tercermin dari upaya intimidasi yang dilakukan dengan segala cara, dimulai dengan tendangan, pukulan popor bedil, mengangkat tubuh dengan tenaga orang, forklift, helikopter, hingga kendaraan lapis baja. Sementara itu, sikap pengultusan masyarakat tercermin dari massa yang terus berdatangan ke tempat laki-laki tersebut dan seorang di antara mereka berorasi mengobarkan kalimat berikut:

"Saudara-saudara semua, di depan kita ada 'satrio piningit'. Lihatlah, ia sakti, matanya terarah lurus ke pintu Istana Merdeka, ialah Ratu Adil yang akan memimpin negeri ini." - halaman 15-16

3. Klub Solidaritas Suami Hilang - Intan Paramadhita
Klub Solidaritas Suami Hilang tak menemukan yang hilang, tetapi menghidupi kehilangan. - halaman 69

Di Klub Solidaritas Suami Hilang, kita mengingat yang tak hadir lewat cerita berulang. Kita bisa berangkat dari titik mana pun, baik secara linear- dari awal pertemuan sampai hilangnya suami- maupun dengan alur mundur. Sebagian memilih teknik in medias res. - halaman 71

Mengangkat cerita-cerita terpisahnya istri dari suami mereka dengan berbagai macam sebab, ada yang terpisah oleh maut, terpisah akibat terjebak situasi dan kondisi politik, maupun terpisah oleh situasi medis.

Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang lain, pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib, sebagaimana yang kau pelajari dari Dona Maunela, Soonyi, dan Klub Solidaritas Suami Hilang. - halaman 77

4. Serigala di Kelas Almira - Triyanto Triwikromo
Mengangkat cerita tentang kesabaran dan keteguhan hati seorang guru ketika mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Cerita tentang bagaimana kesabaran guru tersebut yang harus menyesuaikan bahasa dan pendekatan psikologisnya dengan 'bahasa' dan tingkah laku murid-muridnya yang berbeda satu sama lain.

"Ajari aku agar tetap ikhlas memberikan pelajaran apa pun kepada malaikat-malaikat kecilmu yang indah ini, ya Tuhan. Sungguh memandang mereka aku seperti memandang wajah-Mu yang teduh," kau mencoba mendesiskan doa. - halaman 112

5. Piutang-piutang Menjelang Ajal - Jujur Prananto
Bercerita tentang sifat manusia yang suka menunda penyelesaian suatu permasalahan, dan baru diselesaikan ketika waktu sudah tersisa sedikit. Diceritakan seorang tokoh bernama Chaerul, yang memiliki utang pinjaman terhadap pamannya. Pamannya itu sudah mendekati ajal, namun selalu terucap dari bibirnya terkait penyelesaian piutang-piutangnya.

"Sebulan terakhir ini Papa (paman Chaerul) beberapa kali bicara soal piutang-piutangnya." - halaman 81

"Bang Amri kemarin mengembalikan tiga lukisan Papa yang selama ini dipajang di rumahnya. Mbak Rosa mengembalikan dua almari antik kesayangan Papa. Vina transfer dua puluh juta buat membayar utangnya waktu dia perlu membiayai operasi usus buntu anaknya. Tinggal Bang Chaerul yang belum. Pembayaran utang Abang benar-benar ditunggu karena kami mulai kekurangan dana untuk menutup biaya rumah sakit." - halaman 85

Penulis di dalam cerita ini menyisipkan satu paradoks sifat manusia terkait penyelesaian masalah utang-piutang yang mungkin umum dimiliki namun berbahaya bagi dirinya sendiri karena perbuatan tersebut adalah dosa.

"Tapi sampai kapan pun utang tetap utang," kata istrinya.
"Tapi kamu sendiri tahu sampai kapan pun aku tau kita tak akan pernah mampu membayarnya!"
"Jadi kita harus bagaimana?"
"... Masalah ini akan terselesaikan oleh berjalannya waktu."
"Maksudmu?"
"Cepat atau lambat Om Sur (paman Chaerul) akan meninggal dunia. Begitu meninggal dunia urusan utang-piutang dengan beliau aku yakin akan sirna dengan sendirinya."
- halaman 84

6. Aku, Pembunuh Munir - Seno Gumira Ajidarma
Permainan kalimat baik untuk mendeskripsikan identitas tokoh, yang sepanjang cerita dipertahankan anonim, maupun kronologis kejadian, yang dibuat oleh penulis dalam cerita ini, dipadu dengan kumpulan fakta yang diselipkan di dalamnya, sungguh mengagumkan.
Profile Image for Pujiyanto_x.
428 reviews7 followers
October 5, 2014
beberapa ada yang 'jleb' beberapa masih biasa, tapi secara keseluruhan masih kalah epic dengan edisi tahun sebelumnya.
separo lebih isi buku berasa sangat biasa, kemudian baru pada bagian akhir, beberapa novel penutup bagaikan sengaja sebagai klimaks buku ini, terutama untuk Cerpen yang berjudul 'Eyang' yang menyimpan ironi sejelas gajah di pelupuk mata -- halah --
lalu cerpen Nenek Grendi Punya HP, tapi Berharap Sungai yang selain kisahnya unik jug disampaikan dengan prosa yang indah. Cerpen nomor tiga yang aku suka adalah Cerpen Pada Jam Tiga Dini Hari, begitu mistis tapi dengan twist yang indah di bagian akhir.
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
July 22, 2015
Belakangan aku mulai beralih membaca kumpulan cerpen.
Padat isinya, dan singkat waktu bacanya...itu yang penting.

Menyebalkan rasanya membaca novel yang tebal tetapi isinya tak sesuai yang diharapkan. Waktu terbuang percuma rasanya.
Makanya aku mulai beralih mencari buku cerpen.

Ah iya...ini buku kedua kumpulan cerpen yang kukoleksi.
Dan keduanya belum dapat memuaskanlah. Seleraku mungkin terlalu sederhana yaa.
Di buku ini banyak cerita tentang kematian. Mati dibunuh, mati dalam arti hilang. Hampir semuanya sendu. Ada juga tidak kumengerti apa maksudnya.
Hadeuh...ternyata gak sesederhana persepsiku. Ingin ringkas, tapi malah puyeng.

Cari kumcer yang lain lah..
:)
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
June 29, 2022
Cerpen dalam kumcer Kompas kali ini terasa lebih "urban" dibanding tahun-tahun lainnya. Bagi saya, tidak ada yang benar-benar mindblowing dari cerpen-cerpen di sini, lebih ke sesuai ekspektasi "standard Kompas" yang kualitasnya tak diragukan lagi. Dari sekian banyak, yang masih terngiang tetap cerpennya Joko Pinurbo, "Laki-laki Tanpa Celana". Bahasanya mengalir, dengan dua sudut pandang, dan referensi puisi Sapardi dan Jokpin sendiri. Jenakanya dapet, tapi syahdunya juga dapet. Ditambah sedikit percikan horror-ngeri, buat saya ini cerpen yang adonannya paling pas.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
December 18, 2017
FAVorit:
1. Aku, Pembunuh Munir
2. Piutang-Piutang Menjelang Ajal
3. Eyang
4. Amin
5. Rumah Tuhan
Profile Image for Febri Hasanah.
Author 1 book7 followers
November 25, 2024
Memaafkan bukan berarti meniadakan kesalahan. Keadilan hanya mungkin bila kesalahan tidak hanya dimaafkan. - Ulat Bulu & Syekh Daun Jati


Sampai saat menulis ulasan ini, saya masih belum bisa move on dari cerpen-cerpen terpilih di buku ini. Setiap cerpen rasanya tetap saja membuat saya tercengang dengan ciri khas masing-masing penulis. Seperti Klub Solidaritas Suami Hilang, aku melihat sisi lain dari tulisan Intan Paramaditha yang tidak kutemukan di dalam novel Malam Seribu Jahanam. Atau mengunjungi tulisan Jokoo Pinurbo yang banyak menyebutkan Sapardi di dalam ceritanya.

Aku sulit memilih yang mana yang terbaik, namun kisah Alesia masih melekat erat. Realitas yang disuguhkan oleh Noviana Kusumawardhani dalam cerpen Kota Tanpa Kata dan Air Mata juga menjadi pengingat bagi pembacanya untuk tetap berpijak pada interaksi dan keterhubungan secara utuh dalam sebuah pertemuan. Membicarakan kehilangan yang menjadi sebuah terapi untuk berdamai dalam menyikapi hal-hal yang tidak dapat kita kontrol, termasuk suami hilang. Kumpulan cerpen ini worth to buy. Silakan memilih, ada banyak cerita yang patut kita telusuri lebih jauh.
Profile Image for Tike Yung.
174 reviews5 followers
November 22, 2024
Suka sama paragraf pertama di cerpen "Rumah Tuhan"

Ibuku adalah perempuan pemilik jiwa yang hangat. Rasa cinta pada sesama telah dibungkusnya dengan rapat, ikhlas, tanpa ada cela bernama pamrih yang bisa mendesak dan merobeknya. Dia perempuan yang pernah menikmati bahagia bagi dirinya sendiri dan telah merasa puas. Kini bahagianya sudah mencapai tingkat sempurna, merasa tanpa merasa. Kebahagiaan orang lain adalah pula miliknya, begitu juga dengan kesedihan dan kesaktian mereka.
Profile Image for daffaakbar om.
32 reviews1 follower
December 24, 2022
Cerpen-cerpen yang dimuat di buku ini tak lekang relevansinya, seolah merupakan kumpulan potret kondisi sosial dan politik di sekitar para penulisnya maupun di negara ini pada umumnya. Membacanya pun seperti mengikuti sebuah petualangan yang apik, dipandu oleh penulis-penulis dengan berbagai macam latar belakang serta jam terbang, dibantu dengan kekhasan kurasi a la Kompas.

Epilog dari Prof. Bambang Sugiharto (Guru Besar Estetika Unpar, Bandung) merangkum baik berbagai perasaan yang dapat muncul setelah membaca kumpulan cerpen ini. Selebihnya, biarkan interpretasi dan imajinasi masing-masing bermain untuk memahami cerita-cerita di dalamnya.

Beberapa cerita favorit saya di antaranya 'Percakapan' (Budi Darma), 'Klub Solidaritas Suami Hilang' (Intan Paramaditha; juga diambil menjadi subjudul buku ini), dan 'S A I A' (Djenar Maesa Ayu). Sebagai catatan, saya pernah menggunakan cerpen 'Percakapan' untuk sebuah tugas analisis cerpen di masa sekolah.

Barangkali buku ini bisa menjadi pengantar yang baik menuju back catalogue kumpulan cerpen Kompas yang terbit setiap tahun dan sudah memasuki tahun ketiga puluh penerbitannya.
Profile Image for Gump.
16 reviews
June 29, 2025
The book that has accompanied me, aside from Sihir Perempuan and Sepasang Sepatu Tua. This book holds a special place in my heart. Sometimes, I still manually search for some of its works online because there are many that I’ve forgotten.
Profile Image for Deta NF.
234 reviews6 followers
November 2, 2017
Sebagian sangat memukau. Sebagian tampak sederhana. Sebagian lagi, menikam pikiran tanpa ampun hingga terkulai.
Profile Image for Tubagus Kenzie.
9 reviews
February 28, 2025
Top 5 Cerpen

1)Serpihan Di Teras Rumah - Zaidinoor
2)Malam Hujan Bulan Desember - Guntur Alam
3)Serigala Di Kelas Almira - Triyanto Triwikromo
4)Amin - F Rahardi
5)Alesia - Sungging Raga
Profile Image for Larasestu Hadisumarinda.
188 reviews34 followers
July 9, 2015
Pas buka segelnya langsung jatuh cinta sama covernya yang indah & dibikin timbul. Sayang pembatas bukunya gak dibikin timbul-timbul juga (maunya).

Rumah Tuhan karya Ak Basuki, cerpen pertama dalam buku ini yang langsung meremas-remas jantung-hati saya. Si ibu bikin saya jatuh cinta, kayak lihat sosok perempuan lain dengan hati serupa soalnya, hatinya lembut, penuh cinta, padahal udah dikhianati, tapi "satu-satunya pintu memang telah ditutupnya, walaupun cinta tentu saja tak pernah mati." Saya percaya hal ini. Ya, disamping saya emang suka karakter semacam ibu ini sih, teguh tapi lembut.

28 Juni 2015 00:00

Kota Tanpa Kata Dan Air Mata, karya Noviana Kusumawardhani. Gilak, tapi makin ke belakang kualitas cerpennya makin bagus. Cerpen kedua yang saya komentari karena isinya menggambarkan betul kehidupan jaman sekarang, manusia korban teknologi, lupa segala-galanya pas udah pegang hape, sibuk sendiri, gagasannya simpel tapi dipaparkan dengan dalam.

Terus gatel mau ngutip.. habis bagus..

"Kota ini begitu sunyi. Banyak hati kering. Rapuh, tanpa suara tanpa tatapan mata. Tanpa air mata. Karena hanya tatapan mata yang mampu melahirkan air mata. Bumi yang paling subur adalah bumi yang menyimpan banyak air dan dikeluarkan menjadi air mata. Jiwa yang kerontang adalah jiwa yang tak mampu mengeluarkan air mata. Semua hal di kota ini harus mempunyai fungsi. Semua yang fungsional selalu diperintahkan otak, tanpa otak, hati hanya sebuah kesia-siaan. Mungkin begitulah syarat untuk menjadi penduduk kota ini. Perempuan tua itu masih di sana bercakap gembira dengan seorang penunggu kereta di bangku peron itu. Sesekali aku melihat matanya mengeluarkan suara melebihi suaranya yang tersengal parau. Mata yang bahagia karena menemukan suara untuk berbagi semua hati yang ada di mata.

"Ah, kesinilah bergabung bersama kami. Kita bisa saling bicara tentang bunga rumput yang selalu kuat menyimpan kemarau, atau sekedar bicara tentang apa warna mimpimu nanti malam. Bicara apa saja tak jadi soal, asal dengan suara dan mata."

Demikianlah sampai ufuk menjelang kami saling bercerita apa saja, tentang mimpi-mimpi yang terjaga sebelum waktunya, tentang matahari yang berwarna ungu. Bicara apa saja. Berhari-hari kami masih saling bicara. Kami pun saling berjanji untuk selalu bertemu di waktu-waktu tertentu hanya untuk saling bicara tentang mata tentang suara yang kini semakin lancar mengalir dari hati. Bahkan sampai haro kematian perempuan tua itu, kami masih saling bicara banyak hal. Tentu saja dengan suara dan dengan mata. Karena tanpa tatapan mata, suara tidak akan bisa terdengar oleh hati dan tanpa suara maka kejernihan hati tidak bisa dilihat oleh jiwa. Suara hati adalah matadari hidup ini."

Kayaknya saya pernah baca cerpen yang mengangkat masalah serupa, tapi lupa apa judulnya & siapa yang nulis.

28 Juni 2015 00:43

Yang diambil buat judul buku, Klub Solidaritas Suami Hilang karya Intan Paramaditha, saya pikir tadinya ditaruh di akhir buku, ternyata gak. Komentar saya cuma, pemilihan katanya sakti. Langsung jatuh cinta sama twistnya, sekaligus menampar saya supaya bikin judul yang bagus tiap bikin cerpen mulai sekarang.

"Berbaju hitam, kau dan kawan-kawanmu pergi ke restoran Korea seusai pemakaman. Suamimu belum ditemukan. Barangkali kau tidak mencintainya, tapi itu tidak penting. Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang laib, pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib, sebagaimana yang kau pelajari dari Doña Manuela, Soonyi, dan Klub Solidaritas Suami Hilang."

28 Juni 2015 01:22

Saya gak tahu apa yang spesial dari Trilogi karya A Mutaqqin berhubung pas baca saya sama sekali gak ngerti jalan ceritanya, otak saya kayaknya gak sampai. Saya nulis review ini karena tokoh Ngataji mengingatkan saya pada seseorang yang saya temui 1 tahun lalu dan memilih jalan hidup yang sama (jadi pengen nulis sekuelnya deh, hm..)

28 Juni 2014 01:54
Profile Image for Nurfaida Muhammad.
7 reviews3 followers
Read
February 10, 2015
Saya selalu suka cerita absurd, berisi kumpulan cerpen dari penulis berbagai latar belakang. Membaca kumpulan cerpen seperti mebelah otak yang terlalu banyak menyimpan memori hasil menghayal di siang hari. Berisi cerita istri yang tergabung dalam perkumpulan dibentuk sebagai wadah berbagi solidaritas mengatasi kesedihan suami yang hilang ditinggal pergi tak ada kabar, menjadi DPO karena tak sanggup menuangkan hasrat pada satu wanita, kemalangan mereka sama suami hilang tak beralamat menjalani kehidupan tak sempat pamit memberitahukan kapan akan kembali pulang ke rumah. Cerita lain tentang kota sepi banyak penghuni miskin kata, miskin suara, karena semua telah diramaikan dengan kepala menunduk menjalani rutinitas saling berbicara melalui teks di layar sentuh hasil teknologi jaman modern, juga berisi cerita lain tentang sumur yang mengeluarkan air bermata merah yang tak lain diyakini darah dari arwah perempuan malang yang diperkosa lelaki gila yang menenggelamkan diri karena tahu bahwa sumur adalah tempat paling aman menyembunyikan diri dalam permainan petak umpet.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
January 25, 2015
Tidak semua cerpen dalam buku ini berkesan bagi saya. Tetapi dari keragaman tema dan pesan yang disampaikan dalam cerpen penulis-penulis hebat ini benar-benar memperkaya pemahaman kita akan media cerita pendek. Salah satu yang bagi saya menarik tentu saja cerpen Seno Gumira Ajidarma, 'Aku, Pembunuh Munir' yang diceritakan dengan ringkas dan penuh sarkasme. Selama saya membacanya saya membayangkan, 'apa yang dirasakan oleh pembunuh Munir sebenarnya ya, kalo dia baca cerpen ini?' hehehehe. Beberapa penulis senior seperti Putu Wijaya dan Arswendo menulis karya yang sederhana dalam kaitannya dengan relasi sosial manusia dalam hidupnya. Penulis-penulis muda seperti Sungging Raga dan Guntur Alam tampil memukau juga dalam tema surealisnya. Gabungan antara penulis senior dan muda dalam buku ini benar-benar menunjukkan pada kita bahwa sastra kita begitu kaya. Dan sudah sepantasnya kita bangga.
Profile Image for Bambang.
26 reviews1 follower
December 13, 2015
"Politik adalah sebuah permainan dan permainan itu ada seninya. Jika ingin membungkam dan menghentikan Munir, seni itulah yang dimainkan dan itulah yang semestinya dilakukan dalam politik. Ngomong sana dan ngomong disini, ngomong begini dan ngomong begitu. Jujur maupun licik, lugu maupun pura-pura lugu, tipu daya macam apapun sahih, asalkan tidak melanggar hukum dan dikau bisa berpikir sendiri apakah pembunuhan dengan cara seperti itu melanggar atau tidak melanggar hukum" hal (217). Kumpulan cerita dengan dominasi warna darah, yang menghibur dan menelisik dengan aneka misteri dan ambiguitas tersembunyi, membuat pembaca (saya) kadang harus membaca ulang dari awal saat sampai di ujung cerita agar benar-benar paham, meski kadang harus lanjut dan pindah ke cerita berikutnya karena tidak dapat paham penuh. Hehe
Profile Image for Dila Putri.
Author 1 book3 followers
January 12, 2015
Ini kuncer Kompas pertama yang saya baca, singkat kata saja, hampir semua cerita saya suka yang karenanya layak mendapat tiga bintang dari saya. Namun, satu bintang tambahan untuk cerita-cerita yang paling membekas di hati saya: Pertama, cerpen "Serpihan di Teras Rumah" (Zaidinoor) yang menempatkan sudut pandang tentang hal besar dari mata terkecil seorang nenek dengan kenangannya akan sebuah pohon yang sangat menyentuh; kedua, "Eyang" (Putu Wijaya) yang berhasil membangun sosok Eyang yang sangat menyenangkan; ketiga "Nenek Grendi Punya HP Tapi Berharap Sungai" (Arswendo); "Piutang Menjelang Ajal" (Jujur Prananto) yang lumayan kocak; lalu "Malam Hujan Bulan Desember" (Guntur Alam) yang sebenarnya bikin saya sedih dan marah.
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
January 3, 2016
Baca ini sehabis menyelesaikan kumpulan cerpen Bondan Winarno yang Pada Sebuah Beranda. Tak adil memang membanding kedua kumpulan cerpen ini, tapi pengalaman membaca kumcer Bondan Winarno begitu kuat sehingga saya merasa terjengkang ketika mulai membaca ini. Saya mulai membaca dari kata pengantar (dan akhirnya tidak selesai karena menurut saya bertele-tele), lalu cerpen yang menjadi jawara. Cerpen Intan asyik diikuti, tapi sayangnya tidak diikuti cerpen-cerpen yang lain. Jujur saja, saya tidak selesai membaca semua cerpen dalam buku ini. Hanya beberapa, dan setelahnya buku ini tersingkir oleh magnet Game of Throne.

Dan sayangnya lagi, nama-nama besar juga tidak bisa menambah daya tarik kumpulan cerpen ini.
Profile Image for Bakhtiar Arifin.
7 reviews
February 10, 2015
Pertama kalinya baca kumpulan cerpen kompas. Hasilnya luar biasa. Antara bingung, kagum, aneh, dan banyak perasaan yang campur aduk saat membaca cerpen cerpen di dalam buku ini.

Jujur saya belum terbiasa dengan cerita sastra yang butuh kemampuan lebih untuk menangkap maksud maupun pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui cerita. Bahkan sebagian besar cerita baru saya ngeh maksudnya setelah baca epilog buku di bab terakhir.

Tapi overall saya sangat menikmati pengalaman baru ini dan tidak sabar untuk membeli buku kumpulan cerpen kompas lainnya.
Profile Image for Taufik Ramadhan.
16 reviews12 followers
August 27, 2015
Seperti juga dipahami banyak orang, cerpen-cerpen Kompas bukanlah cerpen yang punya tujuan menghibur. Tapi, lebih cenderung bisa membuat pembacanya makin murung, berefleksi, dan berpikir soal cerita yang jarang bisa dipahami dalam satu kali baca.

Saya sendiri masih kesulitan memahami cerpen-cerpen absurd, yang kental nalar imajinatif rumit. Atau memang jangan-jangan, tiap penulis tak pernah bermaksud tulisannya dipahami dalam satu tafsir. Saya terkesan pada para sastrawan yang telah dengan fasih merumuskan makna hidup, dari cerita-cerita yang mereka tuliskan.
Displaying 1 - 30 of 55 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.