Sakti Perdana, eksekutif muda, master lulusan universitas terkemuka di Amerika, masih sendiri di usianya yang ke-32. Kedua orangtua, saudara, dan teman-teman berlomba mencarikan jodoh untuknya. Laki-laki pertama yang dikenalkan oleh orangtuanya adalah Ardan. Hampir setiap hari Ardan mencoba menjalin hubungan lebih dekat dengan Sakti. Yang terjadi, semakin didekati, Sakti semakin menjauh. Laki-laki kedua adalah Dimas, teman Aning, sahabat Sakti. Aning berharap Sakti bisa mengikuti jejaknya menemukan tambatan hati di sebuah kelompok pengajian para eksekutif muda. Namun, Sakti antipati pada Dimas yang menurutnya lelaki pelit dengan keringat berbau kecut. Laki-laki ketiga adalah Abdul Soleh, dosen honorer di sebuah perguruan tinggi swasta di pinggiran Jakarta, merangkap guru ngaji di sebuah musala. Bahasanya formal. Gaya berpakaiannya tak sesuai dengan Sakti. Sakti langsung merasa mual, sebal, dan sakit kepala. Kegundahan membawa Sakti menemui Eva, sahabatnya, yang menikah tanpa cinta tapi kemudian berhasil membangun rumah tangga yang bahagia. Terinspirasi dengan kisah Eva, Sakti bertekad untuk hijrah. Hijrah dalam pola pikir, sikap, dan perilaku yang kurang baik ke segala sesuatu yang lebih diridai Allah Azza wa Jalla. Dalam proses hijrah itu, berbagai godaan datang, membuat Sakti goyah dan bimbang…. (
Saya suka alur cerita buku Hijrah. Meski, Sakti (tokoh utama) digambarkan penulis sebagai seseorang yang ber'hijrah' atau bermetamorfosis dengan sangat cepat. Tapi perubahan karakter Sakti, tidak mengurangi pesan-pesan penting yang ingin disampaikan penulis. Atau mungkin, tujuan perubahan karakter Sakti yang cepat tersebut untuk mempertegas pesan yang ingin disampaikan si penulis (?).
Diluar itu semua, buku ini baik dibaca untuk mereka yang sedang mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan.
Bagus sih walau ada beberapa bagian yang agak dipaksakan. Mungkin jika saya membacanya beberapa tahun lalu saya akan menyukainya. Saya awalnya tidak menyukai pemikiran Sakti yang melihat seseorang dari fisiknya tapi disitulah hijrah yang akan dilakukan Sakti dan saya kurang suka dengan penulis yang langsung menuliskan berbagai hal negatif untuk membuat kesan bahwa seseorang itu tidak layak untuk Sakti. Seperti seorang eksekutif muda yang bau kaki, yang keringatan dimana2 dan hal lebay lainnya. Membaca buku ini seperti membaca diary dan terkadang membuat saya lelah dengan paragrafnya yang lumayan panjang.
Dari bahasa yang digunakan dalam novel ini, saya yakin mbak penulis memiliki perbendaharaan kata yang sangat banyak. Dari novel ini juga saya bisa belajar, terutama soal Hijrah. Hijrah dari yang kurang baik ke yang lebih baik, dan Hijrah dari satu tempat ke tempat lain. Saya suka dan setuju banget quote imam syafi'i dijadikan penutup novel ini. Ah iya sayang banget, masih ada beberapa typo bertebaran. Novel ini bahasanya sudah keren, jadi typonya mudah terlihat dan terasa.