MELAWAN LUPA BERSAMA MAYA
(RESESNSI INI TERBIT DI HARIAN TRIBUN JOGJA, 9 FEBRUARI 2014)
MELAWAN LUPA! Barangkali seperti itulah kata yang pas untuk menggambarkan apa yang ingin disampaikan oleh Ayu Utami dalam karya-karyanya. Termasuk Maya, karya terbaru Ayu yang terbit di penghujung tahun 2013. Maya merupakan novel ketiga dalam serial Bilangan Fu, lanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa dan Lalita yang telah direncanakan Ayu akan terbagi menjadi 12 bagian.
Masih berseting pada warisan budaya nusantara, kali ini Ayu memilih Candi Sewu sebagai setting latar kisahnya –setelah sebelumnya Ayu menggunakan candi-candi di Jawa Timur untuk di seri buku pertamanya (Manjali dan Cakrabirawa) dan Borobudur di seri buku kedua (Lalita). Namun jangan berharap kisah cinta segitiga antara Parang Jati, Marja dan Sandi Yuda akan kembali Anda temui dalam buku ini. Sebab kalau Anda berharap demikian, Anda pasti kecewa.
Maya mengembalikan ingatan kita pada Yasmin dan Saman, para tokoh utama Ayu dalam fragmen novel perdananya Saman yang mengukuhkan dirinya sebagai pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Juga pada Larung, kelanjutan fragmen tersebut yang terbit 3 tahun setelahnya. Yang semakin mengukuhkan Ayu sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di negeri ini. Karya-karyanya banyak mendapat ulasan, tak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai di luar negeri. Puncaknya, penulis kelahiran Bogor 21 Nobember 1968 ini menerima Prince Claus Award di tahun 2000.
Alkisah bermula saat Yasmin menerima tiga pucuk surat dari Saman, eks rohaniawan yang telah dinyatakan hilang di tahun 1996. Bersama surat tersebut, Saman yang notabene adalah aktivis hak asasi manusia dan kekasih gelap Yasmin, menyertakan juga sebutir batu akik dalam sebuah suratnya. Siapa yang tak senang mendengar kekasihnya bangkit dari kubur? Namun sayang, keberadaan tiga pucuk surat tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan Yasmin. Di manakah Saman sekarang?
Kisah ini bersetting tahun 1998. Tepat dua tahun setelah Saman dan Larung dibungkam timah panas aparat dalam upayanya melarikan tiga orang aktivis reformasi ke luar negeri. Nah, untuk menjawab beragam peristiwa misterius itu, Yasmin yang seorang rasional terpaksa pergi ke Padepokan Suhubudi, ayah Parang Jati. Di Padepokan Suhubudi tersebut, Yasmin justru terlibat dalam suatu kejadian lain yang baginya merupakan perjalanan batin untuk memahami diri sendiri, cintanya dan juga negerinya.
Seperti yang saya sampaikan di awal, bahwasannya buku ini dibuat sebagai kitab melawan lupa. Di dalam novel setebal 249 halaman ini, Ayu Utami merekontruksi kembali legenda Lara Jongrang yang sudah kita kenal –bahkan mungkin juga melekat di benak kita, sebagai legenda berdirinya Candi Sewu atau Prambanan.
Bangsa ini gampang melupakan kejadian... Perhatikan namanya: Lara Jonggrang. Ataukah Prambanan? Kita tak tahu lagi namanya yang semula. Lihatlah para pemandu yang membagikan fotokopi dan legenda kepada para turis. Mereka sungguh tolol dan tidak memberi perspektif. Mereka Asyik bercerita tetnang seorng putri jelita yang dikutuk menjadi arca... Lara Jonggrang. Artinya: Dara Semampai. Ia cantik berwibawa, misterisus, membisu.... Legenda Lara Jonggrang hanyalah satu lapis cerita. Selapis yang lebih muda. Tapi lapisan cerita yang lebih baru ini barangkali tercipta untuk memaknai satu kawasan candi kuno yang telah terlupakan pula. Jadi orang-orang yang menuturkan legenda tentang perempuan cantik menjelma batu sesungguhnya juga tidak tahu lagi tentang asal mula candi ini.
Kompleks candi ini sesungguhnya dibangun di sekitar abad ke-8 atau ke-9. Kira-kira pada masa yang bersamaan dengan Borobudur (yang juga tak kita ketahumi hamanya yang semula). Tapi oleh sebab-sebab yang belum pasti –barangkali letusan besar merapi pada abad ke-10 atau ke-11 kerajaan-kerajaan di Jawah Tengah berpindah ke Jawa Timur. Candi-candi di Jawa Tengah pun ditinggalkan. Barulah setelah lewat satu dua abad, perlahan-lahan terjadi arus balik ke Jawa Tengah. Angkatan baru ini menemukan kembali candi-candi Jawa Tengah seperti generasi yang asing. Mereka tak tahu sebab-sebab candi ini dibangun. Maka mereka membangun legenda mereka sendiri untuk memaknai masa lalu yang telah asing. Bangsa ini menutup kelupaan mereka dengan cerita yang baru.
Jadi arca perempuan ini bukan Lara Jonggrang?
Tahukah kau siapa dia?: perempuan yang berdiri di atas seekor hewan, bertangan delapan, memegang senjata segala dewa? Dia adalah Durga Mahishashuramardini. Artinya Durga yang mengalahkan Mahishashura. Mahishashura adalah yang bahkan para dewa tak bisa mengalahkannya. Hanya seorang perempuan yang mampu; dialah Durga, shakti dari Syiwa.
Jadi, apa yang dikenal sebagai Prambanan atau Lara Jonggrang adalah kompleks percandian Hindu aliran Syiwa. Tiga candi utama menggambarkan Trimurti, dengan pengutamaan pada Syiwa. Candi Syiwa adalah yang terbesar dan terletak di pusat, diapit candi Brahma dan Wishnu. Arca . Durga Mahishashuramardini terletak di salah satu garbagraha candi Shiwa. Tapi, dua tau tiga abad setelah pembangunannya, generasi baru di Jawa telah lupa siapa Durga Mahishashuramardini. Dan mereka membut mitos baru tentang Lara Jonggrang... (hal. 161 – 164)
Begitulah bunyi penggalan-penggalan percakapan antara Yasmin dan Larung mengenai Candi Sewu atau Candi Prambanan atau Loro Jonggrang yang hadir sebagai muara peristiwa di novel ini. Sedangkan judul Maya-nya sendiri mengacu pada nama salah seorang anggota penari cebol Klan Saduki yang kerap memerankan tokoh Sinta dalam lakon Ramayana, yang kisahnya terpahat pada relief-lelief candi Prambanan.
Selain itu, di novel ini Ayu juga merekontruksi kisah Ramayana. Dimana dalam kisah Ramayana versi Jawa, tak ada bagian mengenai Sinta Obong dan pemotongan telinga dan hidung Surpanakha.
Orang Jawa nampaknya mengganggap kisah ini terlalu kejam. Betapa aneh! Rama justru menyuruhh Laksamana mengasingkan istrinya yang tengah mengandung ke hutan. Sinta pun tinggal di padepokan Resi Valmiki dan melahirkan putranya di sana. (hal. 216)
Sejarah mengenai Supersemar dan peristiwa Mei 1998 pun tak luput dari tinjauannya. Itu tadi, rupanya sang penulis, Ayu Utami ingin kita tidak lupa pada sejarah.
Tak banyak typo dalam buku ini. Satu-satunya typo yang saya temukan ada di paragraf kedua di halaman 220 untuk kata “untuk”. Retak yang lain, bagi saya yang ada di buku ini adalah di bab kedua, Dulu –ketika tokoh Saman kembali dibangkitkan oleh Ayu. Jujur saya merasa jengah ketika awal kali membacanya. Tanpa mengetahui jebakan misteri yang telah dipersiapkan oleh Ayu di belakang, saya menyayangkan kenapa tokoh Saman harus kembali dibangkitkan? Bab ini bahkan sempat saya lewatkan dahulu. Penilaian yang sangat subjektif mungkin. Tapi untungnya, Ayu bukanlah penulis simsalabim ala sinetron-sinetron televisi dimana dengan gampangnya orang buta yang kejedot pintu bisa melihat kembali. Atau seorang tokoh protagonis yang khusyuk ibadahnya, tiba-tiba mendapatkan banyak sekali keajaiban dalam hidupnya karena amal ibadahnya itu.
Segala yang menjadi misteri itu, dibuka oleh Ayu selapis demi selapis di bab terakhir, Kelak.
Terakhir, sebagai penutup resensi ini, sama seperti di Lalita, saya juga sangat terpukau dengan cover Maya. Kejeniusan Ayu dalam memilih perlambang yang pas untuk mewakili keseluruhan isi novel juga merupakan upayanya untuk menolak lupa. Yakni dengan merekontruksi kembali lukisan dua ahli botani Indonesia, Amir Hamzah dan Mohamad Toha yang semasa hidupnya bekerja pada Herbarium Bogoriense, Kebun Raya Indonesia, Lembaga Pusat Penelitian Alam, Departemen Pertanian. Kali ini Ayu memilih menggambar kantung semar (Nepthenes sp.) sebagai cover novelnya.
*) Stebby Julionatan, penulis, tinggal di Probolinggo - Jawa Timur, aktif dalam Komunitas Menulis (Komunlis) dan KSSI. Dapat disapa melalui akun twitter @sjulionatan atau email: sjulionatan@yahoo.com