Di suatu malam pada sebuah pertemuan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan K.H. Agus Salim -- Tan Malaka yang hadir tanpa diundang kemudian berkata lantang:
"Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian atur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku... Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen...."
***
Cita-cita Tan Malaka agar Indonesia merdeka 100% juga pernah dirumuskan dalam sebuah brosur politik- ekonomi berjudul Politik yang ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945. Selain brosur Politik, di tahun yang sama Tan Malaka juga menulis dua brosur lainnya, yaitu Muslihat dan Rencana Berjuang.
Nah, buku yang telah ada di tangan Anda ini merupakan gabungan dari tiga brosur politik-ekonomi Tan Malaka yang saat itu beredar dengan sangat terbatas. Buku ini cukup relevan saat ini dan bisa mengugah kesadaran kita akan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Sehingga kita pun patut mempertanyakan, apakah kita saat ini sudah benar-benar merdeka 100%?
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
Pada aku, karya ini tidak cukup umph dan memikat dari karya-karya Tan Malaka yang lain seperti Pandangan Hidup juga Madilog. Entah kenapa aku lebih menggemari tulisan Tan Malaka yang filosofikal-teoritikal berbanding strategi politiknya. Mungkin buku-buku itu menggambarkan keluasan pembacaan dan pemikiran Tan Malaka, yang bukan sekadar aktivis, tetapi juga teoritikus yang kritis. Mungkin juga strategi politik adalah sesuatu yang sentiasa berubah-ubah dan tidak semestinya boleh dipakai pada setiap zaman.
Meskipun gaya penulisan dalam buku ini diolah dalam bentuk dialog/drama, ianya masih tidak cukup enak. Maafkan aku, kepada peminat-peminat Tan Malaka. Bahkan dalam strategi politik, Soekarno-Hatta walaupun tidak serevolusioner Tan Malaka, mereka lebih bijak dan berjaya berbanding Tan Malaka. Meskipun mereka tidak mengumandangkan Merdeka 100% atau Merdeka Dengan Darah dan Api seperti pemuda-pemuda di Malaya (antaranya seperti Boestamam waktu yang berdekatan), Indonesia akhirnya berjaya. Soekarno-Hatta memilih jalan tengah antara Musso-PKI dan Tan Malaka-Murba/PARI. Dan ini yang membuahkan kejayaan mereka. Sungguhpun tidak dinafikan yang Soekarno sangat terkesan dengan Tan Malaka, tetapi di akhirnya Soekarno-Hatta yang berjaya berbanding Tan Malaka.
Muslihat, Politik dan Rencana Ekonomi Berjuang adalah sekumpulan pamflet yang berisikan dialog antara Toke, Pacul, Godam dan Denmas beserta Mr. Apal mengenai konsep-konsep yang berhubungan dengan gagasannya mewujudkan Indonesia Merdeka 100%. Dalam buku ini begitu banyak protes keras Tan Malaka terhadap kesenjangan kelas proletar dengan kaum kapitalis yakni Belanda yang pada masa sebelum itu menjadi kekuatan yang baru saja dikalahkan.
Baginya Belanda (bersama Inggris) muncul lagi ke Indonesia pada medio November-Desember 1945 disertai dengan beragam muslihat. Salah satu yang menonjol adalah ketika Inggris membuat ultimatum pada rakyat Indonesia agar segera melucuti senjata Tentara Jepang. Inilah yang dinamakan muslihat, bahwa dengan secara de facto Indonesia telah merdeka dari bangsa manapun, rakyatnya atas izin negara diperbolehkan untuk memanggul senjata rampasan yang seharusnya sudah menjadi milik bangsa ini. Akan tetapi inilah yang dilanggar oleh Tentata Sekutu Inggris yang diboncengi NICA.
Di bagian lain buku ini dijelaskan bagaimana membangun pondasi pemerintahan (yang mana dalam hal ini berbicara tentang POLITIK), pada masa awal setelah memastikan kemerdekaan. Harus ada sinergi yang kuat antara beberapa sektor yang dibagai Montesquieu yang kita kenal sebagai Trias Politika. Konsep ini dipadukan dengan bagaimana komunisme muncul sebagai salah satu kekuatan partai politik. Meskipun keinginannya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara partai Tunggal seperti Uni Soviet pada masa itu.
Kemudian di bagian akhir, yakni pamfletnya yang berjudul 'Rencana Ekonomi Berjuang', Tan Malaka membuat perhitungan-perhitungan yang detil dan teliti. Tan Malaka menekankan betapa buruh diintimidasi melalui pemberian gaji. Hal lazim yang masih membelenggu buruh hingga saat ini. Baginya ini adalah akibat efisiensi yang diterapkan oleh kaum kapitalis untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya yang mana hasil laba tersebut akan kembali ke kantong pribadi.
Dan akhirnya, poin penting yang bisa diambil dari buku ini adalah Kemerdekaan yang telah dimulai oleh beberapa Bapak Bangsa kita ternyata tidak cocok dengan idealisme Bapak Bangsa Indonesia kita yang satu ini. Terbukti ketika sebuah prolog mengatakan bahwa Tan Malaka tidak tertarik dengan kemerdekaan yang dirancang oleh Sukarno cs., karena hanya akan mensejahterakan segelintir kaum saja. Dan ternyata terbukti ketika penerus Sukarno melegalkan konglomerasi dan liberalisasi perdagangan. Hal inilah yang semakin menindas Kaum Murba yang terus ia perjuangkan bahkan hingga teriakan-teriakannya dalam kubur yang makin lantang!
(+) Tan Malaka mengemasnya dengan gagasan-gagasan, terinspirasi dari ragam karya dari pemikiran Barat. Socrates pun tak luput dalam sebutannya di dalam buku ini. Hal ini membuat saya makin tertarik untuk memiliki dan membaca buku yang ia sebut tadi.
(-) Tan Malaka tidak pandai membuat skrip drama, jauh jika dibandingkan Sukarno menulis skrip Teater Kelimutu. Bapak Bangsa Indonesia ini lebih terasa terbaca gagasannya ketika ditulis selayaknya karya-karya lain. Tapi hal ini dapat dimaklumi karena tulisan-tulisannya dalam buku ini merupakan pamflet-pamflet yang disebar di Surabaya untuk doktrinasi sekaligus membendung pengaruh ultimatum Inggris.
Salah satu buku bersejarah bagi Bangsa Indonesia... Setting waktu buku ini adalah ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II dan tentara NICA berusaha masuk kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu. Lewat tulisan-tulisan Tan Malaka yang dirangkum dalam buku ini, saya merasa bahwa penulis adalah seorang pemikir strategis yang sangat mencintai bangsanya yang masih melawan penjajah. Cara penulisan yang berupa percakapan antara Godam, Pacul, Toke, Denmas, dan Mr. Apal yang mewakili elemen-elemen masyarakat pada waktu itu menurut saya sangat kreatif....
Berisi tiga brosur politik Tan Malaka agar Indonesia merdeka 100% yang ditulis beberapa saat setelah proklamasi. Sebab, bagi Tan Malaka, meski proklamasi sudah dinyatakan, namun kemerdekaan baru diperoleh sebagian kecil kalangan. Sehingga, sebuah aksi revolusioner mesti dilakukan guna meraih kemerdekaan hakiki. Cukup asyik membaca buku ini karena disampaikan dengan bahasa dialog serupa drama. Pemikiran Tan Malaka dinarasikan dalam gaya naskah percakapan antara lima tokoh, yakni; Godam (kaum buruh), Pacul (kaum tani), Denmas (kaum priyayi), Toke (kaum pedagang), dan Mr. Apal (kaum intelektual). Hasilnya, membaca buku ini akan terasa seperti menikmati drama wayang atau membaca cerita fiksi. Sungguh pilihan cerdas. Ditutup oleh si Godam, "Camkanlah, bahwa kekayaan Indonesia yang istimewa itu mengizinkan kita bertarung lama dengan hidup miskin. Semua kekayaan dan kemegahan Indonesia itu, kelak akan jatuh kembali ke tangan kita apabila kita sudah menang! Semboyan kita: RENCANA EKONOMI BERJUANG! KEMERDEKAAN 100%! RENCANA EKONOMI SOSIALIS!"