Apa jadinya kalau traveler yang sudah menghabiskan ribuan jam di atas pesawat ternyata menyimpan ketakutan terhadap transportasi udara, seorang polisi yang menemukan bahwa tempat wisata favoritnya adalah lokasi populer untuk bunuh diri, atau traveler yang membayar mahal demi kenyamanan tapi terpaksa tertahan belasan jam di atas pikap pengangkut sapi?
Setiap traveler pasti memiliki tantangannya tersendiri dalam menaklukan setiap medan. Jalan terjal yang harus dilalui memang tak pernah sama. Tapi mereka memiliki tekad yang serupa: harus sampai ke tempat tujuan.
Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh ke-15 traveler dalam buku ini. Latar belakang mereka yang begitu beragam, mulai dari wartawan, penulis novel, peneliti, hingga polisi membuat cerita-cerita yang dituturkan menjadi penuh warna.
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.
Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.
Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.
Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.
Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.
She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.
Buku ini walaupun yang ditulis sama mbak Trinity cuma satu bagian depannya aja, tapi worthed kok buat dibaca. Yaah ngga rugi ngasih royalti ke penulisnya biar mereka ngga kapok jalan-jalan lagi terus dijadiin buku biar saya serasa keliling dunia padahal daritadi cuma di meja, hehe.
Salah satu favorit saya adalah yang berjudul Tipu-Tipu Ala India. Kenapa saya suka? karena dekat sekali dengan realitas di Indonesia, ngga pukul rata deh, tapi saya sering mengalami yang hampir serupa pas masih kuliah di Bintaro dulu walaupun ngga separah India. Dulu, kalau kita ngasih pengemis, biar anak kecil yang sendirian sekalipun entah gimana dia akan manggil temen-temennya biar ngerubungin kita minta dikasih juga. Ternyata di India ada juga, bahkan lebih parah. Padahal dulu di Bintaro saya sering kesel sendiri ngadepinnya, nggak kebayang kalau harus ngadepin yang lebih parah.
Terus yang Serunya Pasar Loak di Dubai. Setidaknya ini membuat saya punya gambaran lain lah selain Dubai yang lebay, yang mahal, yang semua harus serba gede, tinggi, luas, hihi. Ternyata ada pasar loak juga disana, ya meskipun ngga saya yakin bentuknya lebih bagus daripada Pasar Senen. :p
Dan yes, selalu ada saat pertama buat traveling, dan saya menantikan kapan saya pertama kali berani buat ke luar negeri, suatu saat nanti.
"There is always first time" salah satu judul kisah dalam buku kumpulan cerita atau antologi ini. Dan membaca buku travelling, merupakan "first time" buat saya. Kisah ini menjadi salah satu favorit saya, walaupun sang penulis sekaligus traveller tersebut baru berpelesir diusia yang tidak lagi muda, tapi keberanian dan jiwa spontannya ia dan sang istri melakukan perjalanan yg spontan dan tanpa persiapan yang matang. Bisa terbayang, mereka terus bertemu momen "first time" nya.
Atau salah satu kisah lain yang berjudul "Tipu-Tipu ala India". Kisah ini benar-benar cocok menjadi panduan yang mau berpelesir ke negeri Taj Mahal dengan segala tipsnya.
"Banyak 'Dewa' di Koh Samui" kisah yang penulisnya sama dengan kisah sebelumnya ini menceritakan perjuangan seorang backpacker di Thailand.
Seluruh cerita dalam buku ini punya kemenarikannya masing-masing yang ditambah dengan pengalaman sang penulis.
Satu lagi jenis antologi, ceritanya orang traveling. Haha.. mengingatkan pada buku antologi terbitan FLP dulu tentang pertama kali jatuh cinta, pertama kali berjilbab, dll. Satu rasa. Keseruan & beragam pengalaman yg diceritakan jd pemikat untuk membacanya sampai tuntas.
Ceritanya ringan, cocok jd bacaan selingan dr buku-buku berat.
Butuh kurang dari sehari bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. buku ini begitu menarik, merangkum pengalaman travelling dari 15 penulisnya termasuk Trinity, penulis The Naked Traveller. ke-15 penulis ini memiliki background pekerjaan yang berbeda-beda namun mereka memiliki dua kesamaan yakni senang travelling dan senang berbagi kisah di blog.
karena ke-15 penulisnya adalah seorang blogger maka gaya bahasa dalam penulisan ini begitu menarik untuk dibaca, sanking menarik nya sampai sulit rasanya untuk jeda sejenak membaca buku ini. itu sebabnya saya katakan butuh kurang dari sehari untuk menyelesaikan buku ini.
buku ini berisi pengalaman lucu, menarik dan berkesan dari ke-15 blogger saat perjalanan travelling mereka. mereka tidak hanya berbagi pengalaman tetapi juga berbagi tips dan trick.
seusai membaca buku ini, saya langsung memutar kembali memori liburan saya dan mencari apakah saya juga punya memori lucu dan berkesan saat saya liburan yang bisa jadi kita anggap tidak penting namun dengan gaya bahasa yang baik, cerita tersebut justru malah menjadi menarik.
jujur, seusai membaca buku ini. saya yang juga memiliki akun blog. segera mengupdate tulisan saya dengan sebuah cerita tentang pengalaman liburan saya yang paling berkesan. in the end, buku ini tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi
By having a 'The Naked Traveler' name, this book fells less extraordinary. The concept is very good: combining stories from Indonesian travelers in a book named The Naked Traveler Anthology. Yet, the compilation wasn't mesmerize me a lot. It is okay with the first and couple stories in the beginning of the book, but when it reaches middle to the end, I realized this book is so dull and mediocre. Two memorable stories in this book, which are very good in my opinion are Trinity's story (as the owner of 'The Naked Traveler' trademark) which is so appealing, and it is so Trinity's way of telling. As usual, it also gives thrills and excitement. The second one which is very good is the story which tells about a hot spring as a place to commit suicide. I have just heard about the author's name but it was told really well.
Naked Traveler Anthology ditulis oleh berbagai macam orang, dengan profesi yang berbeda-beda, dengan cerita unik yang berbeda-beda. Ada beberapa cerita yang menurutku mengasyikkan, ada yang membosankan juga sih. Tapi kebanyakan ceritanya seru-seru. Apalagi ditulis dengan latar belakang penulis yang berbeda-beda, tapi dengan satu tujuan: sampai di lokasi wisata. Ada beberapa penulis disini yang juga pernah menerbitkan buku panduan jalan-jalan.
Anthology ini kira2 buku Mbak Trinity yang paling cepat saya tamatkan dalam waktu 3 jam saja :)) Alasannya karena memang saya selalu suka gaya bahasa buku-buku Mbak Trinity yang begitu ringan dan mudah dicerna. Tulisan-tulisan penulis lain di buku ini juga begitu beragam & banyak tips2 yang bisa diambil jika suatu saat saya ada niat untuk mengunjungi beberapa tempat yang disebut di buku ini :)
Buku ini habisa saya dalam waktu 4 jam. Sebagai pencinta tulisan mba Trinity, buku ini cukup membawa saya kembali ke tulisan2 mba Trinity di buku buku sebelumnya.
Selain mba Trinity ada juga penulis2 lain yang turut menyumbang tulisannya pada buku ini. Buku ini menarik, banyak memberikan informasi tentang tempat2 wisata yang belum saya kunjungi. Semoga diawali dengan membaca buku ini, saya bisa pergi ke tempat2 wisata yang diceritakan di buku ini.
Buku ini memang bukan sepenuhnya karya Trinity. Tapi, buku ini cukup mengobati rindu saya untuk membaca karya-karyanya. Toh, dari semua karya yang juga diedit oleh Trinity ini cukup menarik untuk dibaca.
Traveling selalu menjadi hal yang menarik untuk saya. Bertemu orang baru. Melihat keragaman yang ada. Dan segala hal unik lain yang bisa saya temui di tempat baru.
Seru! Dari buku ini setidaknya sedikit belajar Geografi. Mengajarkan kita jangan bolos kelas geografi. Meski saya 'belum' bisa traveling seperti mereka, saya sudah merasa kalau saya sedang traveling dengan mereka mereka. Sungguh seru, terkadang menegangkan, dan tak terlupakan!
I love all their stories, but I think the greatest is The Most Dangerous Hot Spring. I've been living in Sumatera for 20 years, but I didn't know the fact or mystic of Gunung Kerinci Hot Spring. ^_^
Tulisannya keren dan bahasanya sederhana, menyenangkan membaca pengalaman perjalanan orang lain....berasa sedang ikutan dalam rombongan perjalanan tersebut.
Buku ini merupakan kompilasi cerita dari beberapa penulis dan isi petualangannya kurang seru sih menurut saya kalau dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman traveling Trinity sendiri
Baca kisah pertama pas di pesawat Lion Air BDJ-BPN, beegghh yg dibahas masalah pesawat trouble..hahaa luar biasa rasanya.. Alhamdulillah selalu dilindungi..