Kalau suatu hari Ibu datang ke Sapporo, ingatlah aku dan kereta salju.
Ibu, saat ini musim dingin, ingin kuajak ibu menikmati aroma musim dingin pada tanah air yang telah lama ibu tinggalkan. Aku ingin kita berdua menikmati olahraga motor salju di Snow Mobile Land Sapporo. Kita menikmati olahraga dinginnya salju yang suhunya di bawah 10 derajat celcius.
Sebelum tiba di sana ibu mampir sebentar ke kota Furano dengan naik kereta api milik Hokkaido Railway Company ke stasiun. Ibu mampirlah sebentar di rumah yang pernah menjadi rumah masa lalu ibu: tempat di mana aku pernah dititipkan.
Setiap akhir bulan aku selalu menengok makam Chichi di Kyoto dan makam Mameha yang telah pergi. Meskipun aku belum pernah melihat wajah Chichi, tapi ini sebagai bentuk baktiku untuk orang-orang yang berperan dalam hidupku. Aku menyayangi mereka dan aku merindukan ibu ada di sampingku dan kita akan menari bersama kerinduan yang tak tertahankan.
Aku ingin menari bersama ibu...
Itu secarik catatan harian Sakura. Sebuah kerinduan yang teramat besar terhadap ibunya yang berada jauh di kota Paris. Sakura ingin menari bersama ibu, tapi apakah wanita yang selalu dirindukannya itu mendengar doa dari seorang gadis yang hidup bersama segala kerinduannya yang bercabang semakin tahun?
Bersama judul cerpen lain, kumpulan cerpen SAPPORO ini memberikan sebuah warna lain lewat cerita yang ditulis dengan beragam gaya, cerita dan juga dari latar belakang 14 penulis berbeda.