Yang Kuei Fei, seorang selir kaisar Cina, melarikan diri dalam kekalutan setelah terbunuhnya sang Putra Langit.
A Lin dan A Sui, dua wanita imigran Cina, tiba di Indonesia pada awal abad ke-20.
Swanlin, seorang gadis pemberani, berdiri tegak di tengah pergolakan kebencian terhadap kaum Tionghoa.
Sebuah gelang giok peninggalan para naga menyatukan bentangan takdir mereka.
Apakah sebenarnya yang tersimpan dalam seuntai gelang bertatahkan giok, sehingga mampu mengurai sebuah kisah sejak masa kekaisaran Cina hingga pergolakan reformasi di Indonesia? Bagaimana sebentuk gelang dapat merangkai takdir empat orang wanita?
Buku ini sudah lama direkomendasikan oleh teman, ternyata kesempatan baru datang saat ini, tapi tidak berpengaruh dengan lamanya waktu karena buku ini bukan jenis buku yang gampang basi. Kebetulan buku ini saya baca di sekitar Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh cocok sekali dengan kisahnya yang menceritakan tentang kehidupan etnis Tionghoa dari jaman kekaisaran di Cina sampai jaman reformasi di Indonesia.
Istimewa nya semua tokoh utama adalah wanita. Wanita-wanita yang menjadi fokus cerita adalah pemilik Gelang Giok Naga , ada pertalian darah diantara mereka walaupun dengan rentang waktu yang sangat jauh dan diperoleh dengan cara yang berbeda-beda. Mereka adalah wanita-wanita yang dapat mempertahankan dan mengisi hidupnya dengan keberanian, keuletan dan perjuangan pada masanya masing-masing.
Bermula dari Yang Kuei Fe seorang selir kesayangan Jia Shi salah seorang kaisar Cina pada masa dinasti Ching sekitar thn. 1723. Ketika sang kaisar terbunuh Yang Kuei Fei yang sedang hamil lari bersama salah seorang Kasim yang bernama Fu. Tidak lupa dia membawa beragam perhiasan termasuk sepasang gelang terbuat dari batu giok murni dengan hiasan naga emas.
Seiring waktu bergulir kira-kira awal abad 20 pengarang menceritakan dua orang wanita bernama A Sui dan A Lin,kehidupan mereka diceritakan secara begrantian dengan lancar dan tidak membuat bingung pembacanya.
A Sui dan A Lin berasal dari keluarga miskin. Pada thn . 1947 A Sui menyusul suaminya ke Batavia, sedangkan A Lin juga pergi ke Batavia karena dijual oleh ibunya , pada saat itu orang tua biasa menjual anaknya karena desakan ekonomi dan mengharapkan perbaikan kehidupan untuk anaknya tersebut.
A Lin ketika datang ke Batavia pada usia 9 thn. Dipekerjakan pada seorang nenek untuk mengurus babi, bahkan makan dan tidur pun di kandang babi. Ketika umur 15 th, dia dijual dan dijadikan nyai oleh seorang Belanda, kehidupannya secara ekonomi dan sosial berubah drastis sampai akhirnya si tuan pulang ke negeri Belanda. Dengan modal dari suaminya yang baru Alin berusaha sendiri dan berhasil meningkatkan perekonomian keluarganya bahkan menjadi rentenir dengan harta yang banyak. Sedangkan A Sui bersama suaminya berhasil membina rumah tangga dengan baik. Akan tetapi sepeninggal suaminya dia jatuh miskin. A Sui berjuang demi kehidupan anak-anak biarpun miskin dia berusaah menyekolahkan anak-anaknya , untuk menyekolahkan anaknya dia menggadaikan harta warisan dari ibunya berupa sepasang gelang giok naga, dan gelang itu digadaikan kepada nyonya kaya yang tidak lain adalah A Lin.
Hubungan A Sui Dan A LIn kurang baik , A Sui menganggap A Lin sebagai orang kaya yang sombong dan A Lin menganggap A Sui sebagai orang miskin yang sombong tidak mau menunjukkan rasa hormat kepadanya. Anehnya anak-anak mereka berteman baik , Anak sulung A Sui dan anak sulung A Lin akrab sejak kecil bahkan mereka membuat usaha bersama di daerah Glodok , usaha mereka maju dan berhasil mempunyai toko dan mobil. Yang paling tak terduga Sui Giok anak bungsu A Sui hamil oleh Bun Kun anak bungsu A Lin. Walaupun kedua orang tua tidak setuju tapi Bun Kun memaksa ibunya untuk melamar Sui Giok akhirnya mereka dinikahkan.
Pada tahun 1976 Sui Giok melahirkan, mereka tidak mau memberi anaknya dengan nama Cina karena takut jika anaknya besar nanti susah masuk sekolah dan mencari pekerjaan , anak itu diberi nama Swanlin gabungan dari A sui dan A Lin nama kedua neneknya. Swanlin tumbuh menjadi gadis pemberani dan tidak sombong meskipun dia dari keluarga berada tidak segan dia menjadikan anak-anak kampung yang menjadi tetangganya sebagai teman sepermainan. Ketika menjadi mahasiswa sekitar thn. 1998 terjadi pergolakan di Indonesia banyak dari etnis Cina yang menjadi korban, Swanlin tidak gentar, dia menjadi salah satu aktifis mahasiswa yang membantu korban-korban kerusuhan .
Walaupun dengan jalan yang berliku akhirnya Swanlin disetujui menikah dengan seorang teman sesama aktifis, mahasiswa keturunan Batak bernama Ruli. Pada hari pernikahan itulah kedua nenek yang kerap berseteru duduk berdampingan . Pada saat itu pulalah A Lin mengeluarkan sepasang gelang Giok Naga yang ternyata selama ini masih disimpannya, dengan persetujuan A Sui dia memberikan gelang itu kepada Swanlin.
Swanlin bersama Ruli suaminya sempat pergi ke negri Cina ke negri leluhur Swanlin, cerita selanjutnya bergulir dan berakhir diluar dugaan…....di akhir cerita Gelang Giok Naga itu dapat dilihat di sebuah museum.
Gelang Giok naga yang melambangkan kekuatan dan kelembutan menjadi benang merah dalam kisah ini, tentang kekuatan dibalik kelembutan , tentang keberhasilan dibalik kerapuhan wanita. Pengarang berhasil menceritakan kisah tentang perkembangan adat budaya etnik Cina; dimulai dari cerita tentang batu giok, legenda naga, cinta dan intrik di jaman kekaisaran Cina , kehidupan mereka di Batavia pada masa penjajahan Belanda sampai kehidupan yang dialami pada masa reformasi di Indonesia dengan segala macam problem yang harus dihadapi, tapi pengarang sebagai seorang etnis Tionghoa pun tidak lupa melakukan otokritik terhadap kebiasaan mereka yang sukar untuk berbaur.
Seseorang pernah berkata, menjadi Cina di Indonesia sungguh susah, kau harus menunjukkan kalau kau lebih nasionalis dari pribumi asli.( Hal. 280)
Batal berburu Vlekke, malah kelar buku ini. Thx to cekot-cekot seharian.
Mau nulis review panjang, masih mencoba mengumpulkan kesan. Kesan dominan yang saya dapat dari buku ini adalah selipan tone satire yang tajam. Ada beberapa joke seperti itu, di beberapa kalimatnya. Saya menemukan beberapa, hanya ketika menyadarinya ada di sejumlah halaman, malah lupa menghitung dan menentukan letaknya. Buku pinjeman soalnya, gak berani menandai dengan gaya saya.
Kesan kedua: ada pertalian karakter antara Swanlin dan dua neneknya. Namun, semua itu ketemu dalam satu hal: ternyata "gigih" berbatas tipis dengan "keras". Keduanya mengacu pada ketidakcengengan yang terasa dalam dialog antar tokoh di novel ini, terasa kelugasan mereka. Bahkan kelugasan dan kejujuran itu ada dalam diskusi kecil tentang aforisma Gibranian yang dikutip ketika Swanlin bersinggungan dengan pria-pria dalam hidupnya.
Sementara dua itu dulu. Selain buku ini tentunya sangat informatif. Berbicara melalui tiga (atau empat?) suara, buku ini cukup menarik. Ketiga tokoh dalam novel ini, A Lin, A Sui, dan Swanlin,wanita yang mewakili zaman dan semangat dan latar belakang yang berbeda. Ketiganya bertalian pada gelang giok naga untuk mewakili citra ideal wanita, serta tanah Tiongkok yang memberikan persamaan sekaligus perbedaan pada ketiganya.
Maunya kasih bintang 5, tapi ketebalan bukunya kurang. Sempat menghayal, "jika, andaikata, sekiranya, Leny Helena menuliskannya lebih panjang dan detil, buku ini akan sempurna." Dengan drama yang dibangun lebih intens, dari ketiga tokoh wanita yang jadi mata bicara penulisnya. Tentunya saya akan lebih terngungu-ngungu sejak awal, bukan hanya di akhir yang tidak terduga. Ah, terbantai dengan sempurna, meski tetap puas. Akhir yang "bagus", biarpun saya tidak sepakat. Hiks! (loh spoiler! hehehe)
Meski terbilang "pendek" namun ada informasi tentang Tangerang yang kebetulan sempat saya diskusikan dengan seorang teman yang sedang mengkaji sejarah Kota Tangerang. Sepintas tentang Benteng Makassar dan wilayah Pintu Air dan Sewan. Serta beberapa nama kelenteng yang ada di Tangerang. Buku ini bisa direkomendasikan untuk teman saya itu.
Pengennya nulis serius, tapi sekarang sedang "otak encer" akibat flu berat. Jadinya yah segini dulu. Saya juga harus hatur tenkyu ke Vera (yang rekomen buku ini) dan Roos (yang minjemin bukunya yang masih tersegel).
Tenkyu sadayana... *berbahasa campur-campur meski lokal ala Mevrouw Ulrike*
Batu Giok dan Naga, adalah dua hal yang melekat dalam kehidupan orang Cina.. Batu Giok yang juga memiliki nilai tinggi layaknya permata, dipercaya sebagai menangkal bala, menyembuhkan penyakit dan juga simbol status sosial. Sedangkan Naga adalah simbol yang sangat kompleks dalam kosmologi Cina. Naga bisa bertindak sebagai pelindung sekaligus pembawa bencana. Semenjak dinasti Han (300 SM) naga dijadikan lambang kekaisaran sebagai kekuasaan yang absolut dari seorang kaisar, bahkan kaisar-kaisar Cina dipercaya sebagai keturunan langsung dari naga. Bukan itu saja secara luas masyarakat Cina juga sering menyebut diri mereka sebagai keturunan naga.
Giok dan Naga, dua hal inilah yang oleh Leny Helena disandingkan dalam sebuah kisah dimana Giok dan Naga berpadu di dalam sepasang gelang. Gelang Giok Naga dalam novel ini seperti diungkapkan oleh penulisnya, juga bisa diartikan sebagai simbol dimana gelang melambangkan dunia materialitas dimana penampilan fisik sering dijadikan parameter, khususnya bagi para wanita. Giok melambangkan bagaimana wanita dihargai layaknya permata, namun juga rapuh, bisa pecah dan hancur, namun wanita juga bisa memilih untuk berjuang dan bertahan bagaikan naga yang pada akhirnya akan disegani.
Dalam novel ini dikisahkan Kaisar Jia Shi menghadiahi selir kesayangannya - Yang Kuei Fei - sepasang gelang yang terbuat dari batu giok murni dengan hiasan naga emas didalamnya. Pada tahun 1723 Kaisar Jia Shi berencana memperluas daerah kekuasaannya hingga ke Korea. Rencana ini didukung oleh beberapa menteri dan jenderal, namun beberapa menteri lainnya menentang keinginan sang Kaisar karena mereka menganggap situasi di dalam negeri banyak yang masih harus dibenahi. Kasim Fu termasuk petinggi istana yang menentang rencana kaisar. Untuk itu ia membujuk Yang Kuei Fei untuk memata-matai dan membujuk Kaisar untuk membatalkan niatnya.
Suatu malam ketika sedang berdua dengan Yang Kuei Fei, Kaisar Jia Shi terbunuh karena seseorang telah menaruh racun dalam semangka yang dimakannya. Karena ketakutan dituduh telah membunuh Kaisar, Yang Kuei Fei melarikan diri bersama Kasim Fu. Dalam pelariannya ia tak lupa membawa perhiasan-perhiasannya termasuk sepasang Gelang Giok Naga pemberian sang Putera Langit. Tak hanya itu, dalam rahimnya ia juga membawa benih cinta antara dirinya dengan sang Kaisar !.
Gelang Giok Naga ternyata terus tersimpan dan diwariskan dari generasi ke generasi, uniknya gelang ini selalu diwariskan kepada anak perempuan. Entah pada generasi keberapa akhirnya gelang ini diberikan pada A Sui di tahun 1937 ketika ia hendak menyusul suaminya ke Batavia.
Di tahun yang sama, di Batavia A Lin, gadis cina miskin dijual oleh orang tuanya untuk dijadikan penghibur. A Lin akhirnya dijadikan seorang 'nyai' bagi seorang meneer Belanda bernama Cornell van der Beek.Walau awalnya hidup bahagia sebagai nyai dan memiliki anak kembar, A Lin akhirnya harus hidup sendiri setelah Cornell dan kedua anaknya kembali ke Belanda. Namun A Lin tidak meratapi nasibnya, daripada dijual kembali untuk menjadi Nyai ia memutuskan untuk menikah dengan seorang Cina hingga akhirnya memiliki anak dan menjadi pedagang yang sukses.
Berbeda dengan A Lin, kehidupan A Siu di Batavia tak berlangsung mulus, setelah kematian suaminya, A Siu hidup menderita dengan ketujuh anak-anaknya. Untuk menyambung hidupnya A Siu menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya pada salah seorang wanita Cina kaya di batavia. Dan wanita itu adalah A Lin.
Secara tak terduga anak A Lin dan A Siu berteman hingga akhirnya putra A Lin menghamili putri A Siu sehingga akhirnya mereka harus menikah. Dari pernikahan ini lahirlah Swanlin yang namanya diambil dari kedua nama neneknya (A lin dan A Siu). A Lin dan A Siu kini terikat dalam ikatan keluarga. Namun mereka tidak pernah akur, karenanya A Siu tak pernah menanyakan keberadaan gelang giok naga yang pernah digadaikannya pada A Lin yang hingga kini belum pernah ditebusnya. Demikian pula dengan A Lin, ia tak pernah sedikitpun menyinggung soal gelang itu pada A Siu. A Siu hanya berpesan pada cucunya - Swanlin agar memberitahu padanya jika ia melihat nenek A Lin kedapatan memakai gelang giok naga.
Cerita terus melompat maju hingga Swanlin dewasa dan bergaul dekat dengan teman-teman diluar etnisnya. Ia juga membantu mencari keberadaan kedua anak A Lin dari buah cinta neneknya di masa lalu dengan Cornell. Selain itu Swanlin dan kedua neneknya juga melewati saat-saat genting dalam dunia politik dimana Indonesia mengalami pergolakan reformasi dan etnis tionghoa menjadi sasaran amuk massa yang tak terkendali.
Kisah Gelang Giok Naga pada awalnya merupakan cerita bersambung yang diikutsertakan dalam Sayembara Mengarang Cerber Femina 2004. Cerber yang awalnya berjudul Gelang Giok ini berhasil memenangkan sayembara tersebut. Seperti diutarakan oleh penulisnya, novel Gelang Giok Naga merupakan pengembangan cerita dari versi cerbernya.
Tampaknya ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh penulisnya dalam novel ini. Novel ini bisa dikatakan novel yang sarat dengan muatan historis-sosiologis. Di halaman-halaman awal pembaca akan disuguhkan cerita mengenai legenda Naga, lalu beralih ke keadaan kekaisaran Cina dimasa Dinasit Ching di abad 18. Kehidupan kaisar dan intrik politiknya, kehidupan selir-selirnya, hingga proses pengebirian pria yang hendak dijadikan kasim untuk menjaga harem istana terungkap di bab-bab awal novel ini.
Sesuai dengan panjangnya bentangan waktu dalam novel ini (1723-2001) aspek-aspek kultural masyarakat tionghoa dari masa kemasa dalam novel inipun ikut terungkap. Setelah pembaca diajak memahami situasi Cina di abad ke 18, maka ketika cerita bergerak di tahun 30-an kita akan diajak menyimak bagaimana kondisi sosial masyarakat etnis Tionghoa di Batavia di dimasa itu. Salah satunya mengenai Nyai. Ternyata yang bisa dijadikan 'nyai' bagi para meneer Belanda bukan hanya wanita pribumi saja. Gadis-gadis Cina yang kurang beruntung harus rela dijual sebagai 'Nyai'.
Selain itu novel ini juga memotret perilaku dan gaya hidup etnis Tionghoa dari masa kemasa. Karena novel ini ditulis juga oleh seorang etnis tionghoa maka apa yang selama in dirasakan dan dialami oleh seorang Tionghoa sebagai warga minoritas terungkap dengan jelas, hal ini terwakili oleh apa yang dialami dan menjadi pemikiran tokoh Swanlin, mulai dari ejekan sebagai Cina celeng, ketakutan kesulitan mencari pekerjaan jika masih memakai nama cina, korban penjarahan jika ada kerusuhan hingga anggapan umum bahwa etnis tionghoa adalah pencuri rezeki kaum pribumi, dll. Namun dengan bijak penulis juga melakukan otokritik terhadap etnis Tionghoa antara lain sifat ekslusif dan sulit berbaur dengan lingkungannya.
Novel yang dituturkan oleh tiga orang wanita (A Lin, A Sui dan Swanlin) ini juga menyinggung semangat eksistensi keperempuanan yang cukup kental. Ketiga tokoh wanita dalam novel ini mencerminkan para wanita yang ulet dan tidak menyerah pada nasib atau hanya bergantung pada lelaki. A Lin digambarkan sebagai wanita tegar dan pandai, baik ketika ia menjadi Nyai maupun ketika tuannya meninggalkannya. Sosok A Lin sebagai Nyai yang cerdas dan mau belajar banyak hal, akan mengingatkan kita pada tokoh rekaan Pramoedya AT - Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia. A Sui juga digambarkan sebagai wanita yang berhasil mengatasi kesulitan hidup ketika ditinggal mati suaminya untuk menghidupi ketujuh anaknya. Swanlin mewakili wanita masa kini digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, melawan tradisi harus menikah dengan laki-laki sesukunya, ikut mendaki gunung sebagai satu-satunya peserta wanita, dan turut memainkan peran dalam perjuangan reformasi.
Selain tercermin dalam ketiga tokohnya, semangat perlawanan eksistensi keperempuanan juga tampak pada keberadaan gelang giok naga yang selalu diwariskan pada anak perempuan, hal yang tak lazim karena masyarakat cina yang patrilineal lebih mengutamakan anak pria terlebih dalam meneruskan simbol keluarga.
Rentang waktu yang panjang (1723-2001) yang menjadi setting kisah ini merupakan salah satu keunikan novel ini. Novel ini dibagi dalam 16 bab berdasarkan tahun. Sayang lompatan tahunnya tak konisiten. Kadang lompatan tahunnya begitu rapat, kadang melompat jauh 10 tahun bahkan hingga ratusan tahun (1724-1935).
Lompatan cerita yang terlalu jauh dalam novel ini menyebabkan adanya bagian-bagian yang tak terceritakan yang sebetulnya akan lebih menarik bila bisa diungkapkan. Selain itu kisah Gelang Giok Naga dalam novel ini seolah tenggelam dalam cerita ketiga tokoh wanitanya. Akan lebih menarik jika diungkap bagaimana serunya dan dramatisnya gelang ini berpindah dari generasi ke generasi. Dalam novel ini kita hanya mendapat cerita bahwa gelang ini berpindah dari tangan kaisar ke selirnya, lalu ke tangan orangtua A Siu dan diwariskan pada A Siu, digadaikan kepada A Lin dan akhirnya diberikan pada Swanlin. Kisah perpindahannya sendiri tampaknya tak terlalu didramatisir oleh penulisnya sehingga keberadaan gelang giok naga ini seolah hanya sekedar benang merah tipis yang mengikat keseluruhan cerita.
Sebenarnya materi cerita dan ragamnya tema yang diangkat oleh penulis, berpotensi besar untuk menjadikan novel ini sebagai novel yang monumental yang membahas sejarah panjang masyarakat etnis tionghoa di Indonesia lengkap dengan uraian historis sosiologiosnya. Andai saja penerbit atau penyuntingnya lebih sabar untuk tidak menerbitkan dulu novel ini dan memberikan kesempatan pada penulisnya untuk memberikan sentuhan dramatis pada perjalanan gelang giok naga dan memperdalam ekplorasi cerita, tokoh-tokohnya dan memperdalam muatan budayanya, bukan tak mungkin novel ini akan menjadi semakin menarik dan menjadi novel yang terus dibaca orang terutama bagi mereka yang ingin memahami bagaimana kehidupan kaum minoritas etnis Tionghoa yang telah memiliki sejarah panjang dan membentuk budayanya sendiri di bumi Indonesia.
Namun terlepas dari kekurangan di atas. Leny Helena, seorang warga negara indonesia yang kini tinggal di Houston USA telah berhasil mengangkat nilai-nilai kultural leluhurnya dalam tema lokal dengan balutan cerita menarik dengan plot yang enak diikuti dan enak dibaca. Ragamnya tema yang terungkap dalam novel ini (gender, intrik politik dan kekuasaan di zaman Dinasti Ching, kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, konflik identitas, reformasi 1998 dan kisah cinta lintas etnis) tentunya menjadikan karya ini tidak sekedar menjadi hiburan semata. Nilai-nilai informasi yang bertaburan didalamnya otomatis akan memperkaya pembacanya dalam banyak hal.
Buku ini sebenarnya sudah lama berada dalam rak buku saya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sabtu kemarin saya pun mulai melahapnya. Padahal saya pernah berjanji pada diri sendiri setelah membaca Snow Flower, buku ini akan menjadi buku berikutnya. Setidaknya kedua buku itu punya latar belakang yang sama, kehidupan perempuan China. Di luar dugaan, buku ini hampir sama menariknya dengan Snow Flower. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan setiap lembaran di dalamnya.
Giok dan naga menjadi dua kata yang menarik perhatian saya saat melihat sampul depan buku ini.
Selama ini saya selalu menginterpretasikan Giok dengan sebuah batu berharga berwarna hijau. Semua hal itu terlihat di film silat berseri seperti 8 dewa dkk yang ngetop ketika saya masih SD. Dari buku ini, saya akhirnya tahu giok tak hanya didominasi oleh warna hijau, lebih jauh lagi ternyata giok dijadikan sebagai lambang kemewahan.
Berpindah ke Naga,walau hanya hidup dalam sebuah legenda, naga tetap dianggap penting. Setidaknya di China, Naga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka. Naga yang dimaksud jauh dari kesan mengerian yang kapan saja mampu mengeluarkan api, dari mulut mereka. Sebaliknya, Naga yang ada dalam legenda China dikenal sebagai sosok yang memastikan bahwa tak satupun roh jahat yang akan membuat kekacauan di tahun baru. dijadikan sebagai simbol kekuatan Bahkan dipercaya bahwa para naga sangat berjasa karena merekalah yang membantu menurunkan hujan disaat manusia mengalami kekeringan. Yang terakir adalah cerita yang tertulis dalam prolog di buku ini yang telah diceritakan secara turun temurun.
Seperti legenda, gelang giok naga ini pun diturunkan dari saat Negeri China diperintah oleh kekaisaran sampai ketika akhirnya setiap jengkal daerah tersebut dikuasai oleh pemerintahan komunis.
Yang Kuei Fei, seorang selir kaisar China, mendapatkannya langsung dari tangan sang putra langit sebagai hadiah. Sebagai selir, Yang Kuei Fei termasuk salah satu yang beruntung karena diantara ratusan selir yang ada, ia mampu menarik perhatian kaisar. Keadaan yang berubah dalam waktu sekejap, membuatnya harus meninggalkan istana
Beratus tahun berlalu, A Sui, seorang wanita memutuskan untuk menyusul suaminya yang bekerja di indonesia. Di tangannyalah gelang giok naga tersebut kini berada. Tahun - tahun pertama di negara yang masing masing ini dilaluinya tanpa hambatan yang berarti. Kendala bahasa dapat hanya masalah waktu.
Gejolak politik di indonesia dengan cepat membuat kehidupan A Sui dan keluarganya berubah. Usaha suaminya akirnya bangkrut. Harta yang tadinya lebih dari cukup sedikit demi sedikit habis bahkan dengan terpaksa gelang warisan ibunya digadaikan pada seorang wanita rentenir, A Lin.
Pertemuan singkat yang diharapkan A Lin menjadi yang terakhir itu berlanjut menjadi pertalian keluarga. kedua anak bungsu mereka secara diam –diam menjalin hubungan. Padahal dengan keras A Lin telah mewanti-wanti anak-anaknya untuk menjauhi keluarga A Sui yang miskin. Nasib berkata lain.
Dari kedua anak mereka, lahirlah Swanlin. Cucu perempuan yang lahir di tahun naga dengan cepat menyadari bahwa kedua neneknya, popo Sui dan popo Lin,tak pernah berhenti bersaing dalam berbagai hal. Ia tumbuh menjadi perempuan yang percaya bahwa sosok wanita yang kuat,yang tak pernah letih berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan hidup diantara orang –orang yang tak henti-hentinya mengecam kelompok hanya karena mereka warga keturunan.
Seakan menjadi saksi biksu, gelang giok naga hadir ditengah kehidupan perempuan-perempuan yang berusaha bertahan hidup di jalan terjal yang telah digariskan oleh takdir.
Tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini sungguh membuat saya kagum. Sosok mereka terlihat begitu kuat padahal kehidupan yang mereka hadapi tidaklah ramah.
Tak diperlukan badan seperti Xena untuk bertahan hidup.
Cerita bersambung yang digubah jadi novel. Roman fiksi sejarah yang asik banget. Latar waktu membentang dari jaman dinasti Tang (thn 1723) sampai paska kerusuhan 1998 (thn 2001).
Inti ceritanya adalah perjuangan empat wanita tokoh utama, para pemilik Gelang Giok Naga, yang tersambung secara garis keturunan (Yang Kuei Fei-A Sui-Swanlin) maupun garis nasib (A Lin). Perjuangan para wanita berdarah cina, untuk survive pada masanya masing-masing, dengan perannya (dalam keluarga dan masyarakat) masing-masing.
Ceritanya mengalir dengan lancar, dengan plot, setting dan pemilihan kata yang "menyenangkan", dalam arti bisa gue mengerti dan resapi dengan mudah. Yah, soalnya gue kan rada-rada bolot kalo udah pake bahasa2 sastra yang tinggi2...nggak mudeng...hehehe....
Yang terasa agak kurang dari novel ini adalah kisah yang sedikit kurang mendalam. Masih ada bagian-bagian yang membuat gemas dan menimbulkan pikiran "aaah...kok cuma begitu sih?" Dilain pihak, penulis mungkin memang sengaja membuatnya demikian, supaya cerita tidak berjalan lambat dan bertele-tele. Teringat Kisah Klan Ottori buku 4 yang nggak tamat, buku ini adalah kebalikannya. Anyway, toh kisah ini asal mulanya dibuat sebagai cerita bersambung yang pastinya punya batasan-batasan tersendiri (*sok tahu mode on*).
Sedikit (banget) pengganggu lainnya adalah beberapa kata asing dari bahasa belanda & china (istilah, judul lagu, dll) yang nggak dikasih terjemahan ataupun penjelasannya. Beberapa ada yang penjelasannya masuk di badan cerita, tapi beberapa lainnya nggak sama sekali, bikin sedikit "blank".
All in all, buku ini gue kasih 4_1/2 bintang, kalo ada 1/2-nya. :)
Yang mengejutkan, tadi pagi waktu buka goodreads ada satu friend request nunggu di-approve. Ternyata dari Leny Helena! Gue mikir dan ragu2, apa karena gue sedang baca bukunya ya makanya doi nge-add gue? Apa gue ignore aja ya? Hehehe....becanda deh...tentu saja dah gue approve.
Salam kenal ya mbak Leny...dan jangan khawatir, sudah terbukti kok, seorang Leny Helena bisa nulis! :)
Pertama kali liat buku ini karena ada komen-nya Andrea Hirata di sampulnya. Well, karena aku fan Andrea, aku pikir boljug. Ternyata bukunya emang bagus, jadi ga nyesel belinya. Buku ini bercerita tentang warga keturunan Tionghoa, gimana nenek moyangnya bisa ada di sini, juga cerita cinta, pengorbanan dan derita yang dialami oleh orang2 Cina daratan yang hidup miskin untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tanah yang samasekali asing buat mereka, Pulau Jawa. Akhir ceritanya sendiri sih tentang cewek keturunan gitu, yah.. bagus lah buat dijadikan bacaan.
Pepatah mengatakan jangan menilai buku dari covernya, tetap saja dari sisi coverlah yang membuat saya pertama kali tertarik pada buku ini. Terutama gambar naga yang melingkar.Buku ini sendiri terdiri dari 16 bab dimana setiap bab memuat tahun kejadian serta 1 prolog dan epilog.
Tokoh utamanya semuanya perempuan. Dimulai dari seorang selir kesayangan, keturunan yang kesekian, hingga cucu perempuan dari dua orang nenek yang saling bermusuhan!
Cerita dimulai pada tahun 1723, dimana saat ini di Cina, Dinasti Ching-lah yang memegang kekuasaan. Sang Kaisar, Jia Shi memiliki seorang selir kesayangan yang diberi nama Yang Kuei-Fei, selir Paviliun Bunga Mei.
Seperti cerita mengenai kekaisaran yang lain, seorang kasim juga menampakkan peranannya disini. Kasim Fu yan mengatur agar sang kaisar, putra langit lebih sering mengunjunginya dibandngkan dari sekitar 300 selir lain yang berada diistana. Sebagai imbalannya, sang selir hanya perlu memberitahukan apa saja yang sedang dipikirkan dan akan dilakukan oleh kaisar. Serta menyampaikan, atau tepatnya mempengaruhi kaisar agar mau mengikuti keinginan kasim Fu dan teman-temannya. Guna memperlancar usahanya, Kasim Fu juga memberikan buku Istana Musim Semi, yang merupkan literatur rahasia, bahkan di istana pun tidak semua orang berhak membacanya.
Namun suatu hari, kaisar terbunuh akibat memakan buah semangka yang dikirimkan oleh permaisuri untuk Yang Kuei-Fei. Bersama dengan Kasim Fu, Yang Kuei-Fei yang sedang hamil harus melarikan diri agar selamat. Seluruh perhiasan dan barang berharga mereka bawa, termasuk gelang giok berukir seekor naga yang belum lama diterimanya sebagai hadiah
Selanjutnya kisah bergulir mengenai perjalana gelang giok naga. Pada awal abad ke 20, dua orang wanita tiba dengan cara yang berbeda. A Sui datang untuk bertemu dengan suaminya yang berdagang di Batavia. Sedangkan A Lin, harus lari agar sang nenek tidak menjualnya ke rumah pelacuran!
A Lin yang akhirnya menjadi seorang nyai, kemudian menikah lagi dengan Loi Kun, pada tahun 1954 telah menjadi seorang lintah darah yang sukses. Sedangkan A Sui justru menjadi seorang janda dengan tujuh orang anak! Betapa dunia mereke sudah berbalik.
Ke dua tokoh ini bertemu ketika A Sui menggadaikan gelang giok warisan keluarganya seharga seratus rupiah! Jauh di bawah harga sesungguhnya. Selanjutnya mereka menjadi besan karena Sui Giok anak bungsu A Sui menikah dengan Bun Kun putra bungsu A Lin. Ke duanya mendapatkan Swanlin sebagai cucu.
Nama Swanlin diambil dari gabungan nama kedua neneknya. Walau seakan tidak menanyangi Swanlin, namun saat Swanlin dihina oleh seorang anak, sang nenek menunjukkan rasa kasih sayangnya. Saat itulah ia pertama kali melihat gelang giok yang sering diceritakan oleh nenek A Sui. A Sui memang berpesan padanya agar melihat-lihat apakah A Lin masih memiliki gelang giok naga yang dulu digadaikannya.
Swanlin hidup diantara kedua neneknya yang saling curiga. Bahkan saat sakit pun ia tidak berani mengambil bubur yang dibawakan kedua neneknya. Ia merasa jika salah satu mangkok diambil terlebih dahulu akan menandakan nenek mana yang paling disayanginya.
Sempat dikisahkan juga bagaimana sepak terjang Swanlin dalam alam reformasi, peranannya dalam kehidupan bermasyarakat di sekitar rumah tinggalnya, hingga berdepatannya dalam menghadapi tekanan pembauran.
Tahun 2000, Swanlin menemukan cinta sejatinya dan melangsungkan pernikahan. Pernikahan yamh juga awalnya ditentang kedua neneknya, persis pernikahan kedua orang tuanya. Alsannya kali ini adalah karena Ruli, calon suaminya bukan keturunan Cina, namun bersuku batak dengan marga Parulin.
Sebagai hadiah pernikahan A Lin memberikan sebidang tanah di depok, sedangkan A sui memberikan sepasang giwang giok warisan leluhur. Sbagai hadiah tambahan, ternyata Swanlin mendapat hadiah gelang giok naga yang selama ini disimpan oleh A Lin.
Walau akhir cerita tidak berakhir bahagia, namun susah rasanya meletakkan buku ini sebelum selesai. Kisah mengenai A Lin, A Sui dan Swanlin yang dibumbui perjalanan gelang giok naga , sangat menarik! Gelang itu sendiri mengakhiri perjalannya di musium.
how to say about this book is COOL! I could say nothing but above, coz bagaimana yaa, saya sendiri sulit merangkai kata2nya. bener2 menggambarkan keadaan zaman dulu, khususnya di masyarakat Cina/Tionghoa itu sendiri. diceritakan pula mengapa masyarakat Cina menggunakan simbol naga. memberikan pengetahuan baru bagi saya yang hanya menganggap naga berupa simbol 'kekuatan' dan 'kekuasaan'.
tapi, selain banyak pesan moral dan dibumbui kenyataan, pada anti-klimaks terkesan cepat diselesaikan, tapi kembali mengikuti alur saat ending.
Overall, buku ini bagus untuk dibaca. kalau menurut saya pribadi, buku inipun bisa sebagai sarana anti-konflik di Indonesia karena pandangan negatif mengenai masyarakat Cina sendiri tidak sepenuhnya benar.
Rekomendasi untuk di koleksi.....Nilai 4 dari 5 bintang..... Namun kisahnya akan lebih menarik, jika kejadian yg terjadi didalam istana ditulis berdasarkan sejarah asli. Seharusnya kaisarnya adalah kaisar Yongzheng,dan kematiannya terjadi pada tahun 1735. Penyebab kematiannya, karena diracun oleh putra keempatnya, pangeran Hongli alias Qianlong....
Awalnya bagus, menjanjikan, tapi pas bagian tengah, ngebut banget ceritanya. Sejarah berdarah etnis Cina di Indonesia yang kompleks namun tidak dieksekusi maksimal oleh penulis (mungkin ia membatasi pada sejarah-sejarah tertentu saja), tapi itu tadi: ngebut. Aku sempat membayangkan ini bisa menjadi "Lisa See" Indonesia, karena bagian awal kisah, tentang kehidupan A Lin dan A Sui di negeri Cina, penggambaran latar, alur, dan masalah sangat baik dan konsisten dengan mengangkat unsur budaya dan politik RRC, tapi pas bagian latar Indonesia, justru unsur yang menjual tersebut yang kedodoran. Sekali lagi, mungkin penulis membatasi masalah cerita (di Indonesia-nya) pada ranah drama keluarga saja. Tapi justru itu menjadi kelemahan fatalnya, menurut saya.
Catatan: 1. Pada bab Swanlin terasa seperti novel "pop", terlalu mendramatisir dan entahlah, saya banyak skip bacanya, dramanya berlebihan, misalnya adegan pas mendaki gunung. 2. Ada banyak dialog yang ditulis "campur kode" dengan bahasa Betawi, dan aku memandangnya dengan kesan seperti "ada yang dipaksakan" dengan cara dialog yang demikian. Kecuali penggunaan-penggunaan istilah tertentu, kalau memang perlu, itu mendukung nilai dan latar "tipikal" dari ceritanya.
Selebihnya aku suka novel ini karena masalah yang diangkatnya, masalah yang jarang bahkan sedikit sekali ditulis oleh penulis Indonesia, khususnya penulis Cina.
Kematian. Kata tersebut mengandung kebenaran. Kebenaran yang sering kita abaikan karena rasa takut dan kengerian yang menyertainya. Secara luas, jika setiap orang selalu mengingat kematiannya, akankah dunia menjadi lebih baik, atau llebih buruk? Karena hidup terlalu ringkas untuk disia-siakan.
Banyak orang menginginkan kematian orang yang dia benci atau untuk pemenuhan ambisi tertentu. bahkan tidak segan-segan mengganti posisi Tuhan dalam mengambil ajal. Tetapi, bagaimana jika kematian tersebut menyangkut orang-orang yang kita kasihi. Akankah kiita berhenti mengasihi karenanya? Atau mungkin kematian itu sendiri adalah titik balik. Kita barumenyadari betapa kita sangat mengasihi orang yang meninggal itu. Seperti para ibu yang menyesal setelah mengaborsi, dan para anak durhaka yang tidak sempat meminta maaf. (Helena, 2006: 209)
Sebenarnya buku Gelang Giok Naga ini sudah lama banget saya dapatkan dari hadiah giveaway Ren @ Ren's Little Corner. Tapi baru tahun ini tergerak untuk membacanya.
Gelang giok naga merupakan perpanjangan dari cerita bersambung yang dimuat di majalah Femina dengan judul yang sama. Buku ini punya nuansa Tionghoa yang sangat kental sejak halamana pertama. Prolognya bahkan memberikan sedikit dongeng tentang naga.
Bicara tentang karakter, buat saya karakter di buku ini semua tampil begitu adanya sesuai dengan jaman dimana karakter itu hidup. Bahkan untuk karakter A Sui dan A Lin tampak berusaha untuk bisa selaras dengan kondisi jaman sekarang. Alurnya pun tak berbelit-belit.
Nemu buku ini beberapa hari yang lalu waktu lagi liat obralan di gramedia bandung, 15ribu perak. tadinya tidak terlalu tertarik, tapi jadi tertarik membaca back cover menyatakan bahwa buku ini pemenang sayembara CERBER Femina [biasa nya cerber femina bagus-bagus]. dan akhirnya saya membaca buku ini. wow... speechless dan ga bisa berenti. suka detailnya, salut buat leny helena... hampir semua karakternya 'kuat'. tentu saja saya paling suka dengan swanlin, karakter yang sangat menarik...
Gelang Giok Naga benar2 inspiratif, kental akan mitologi tidak hanya melegenda tapi juga mendarah daging dalam etos kerja dan semangat hidup pribadi2 oriental yg sepertinya abadi dalam tiap generasi.
Abis baca ini jadi tertarik sama segala sesuatu tentang giok. Udah lama bacanya, jadi agak lupa detailnya. Yang jelas ceritanya bagus dan tokoh2nya yang hidup di berbagai era punya 1 kesamaan karakter: menggemaskan, with their own ways.. ^^
gambarkan kehidupan masa kini dan masa lampau yang saling berhubungan.Kisah ini mengajarikan kita untuk lebih menghargai kehidupan kita saat ini dibandingkan kehidupan masa lampau tanpa melupakan adat istiadat dari tradisi yang kita memilki saat ini.
saya punya mimpi mempunyai 9 tatto naga di tubuh saya. sekarang, baru 1 tatto naga di tubuh saya. semoga dengan membaca buku ini, 8 naga lainnya saya temukan.
Buku yang luar biasa menggabungkan histori dan kisah fiksi. Saya sangat menikmati saat membaca buku ini, seolah pembaca dibawa masuk berabad-abad lalu terbawa ke dalam suasana oriental.