Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan

Rate this book
Apa sebenarnya yang terjadi dalam Kerusuhan Mei 1998? Apakah ini peristiwa yang terjadi secara spontan, atau akibat krisis ekonomi dan krisi sosial-politik yang sudah mencapi titik didih?

Menurut pengamatan dan penelusuran Dewi Anggraeni, Kerusuhan Mei 1998 adalah hasil rekayasa dari pihak-pihak yang memanfaatkan krisis ekonomi dan kondisi sosial-politik yang rawan, serta sentimen rasial yang sudah ada dan dibina dengan sengaja. Maka terjadilah perusakan besar-besaran dari tempat usaha maupun tempat tinggal warga etnis Tionghoa, dengan mengorbankan sejumlah besar warga non-Tionghoa terutama yang tidak mampu, yang dihasut dan digiring ke dalam gedung-gedung yang kemudian dibakar oleh mereka yang dengan enteng disebut sebagai "penjarah".

214 pages, Paperback

First published March 24, 2014

10 people are currently reading
103 people want to read

About the author

Dewi Anggraeni

28 books16 followers
Dewi Anggraeni adalah penulis fiksi dan nonfiksi, yang tinggal bersama sebagian keluarganya di Melbourne, Australia. Tulisan tulisan Dewi, dalam bentuk buku, artikel, kolom, dan esai terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, di Australia, Indonesia, Inggris, Hongkong, Malaysia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Sebelum pemberedelan Tempo pada 1994, Dewi adalah koresponden Tempo di Australia. Sesudah itu ia bekerja untuk Forum Keadilan dan The Jakarta Post. Pada 1998 Dewi kembali menjadi kontributor Tempo yang memulai penerbitannya lagi.

Karya-karya fiksinya dalam bentuk buku antara lain Snake, Journeys through Shadows, Neighbourhood Tales, Stories of Indian Pacific, Parallel Forces, dan The Root of All Evil. Buku- buku nonfiksinya adalah Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa (versi bahasa Inggrisnya Breaking the Stereotype: Chinese Indonesian Women Tell Their Stories), Dreamseekers: Indonesian Women as Domestic Workers in Asia, dan Who Did This to Our Bali?

Breaking the Stereotype ditulisnya dengan dukungan logistik nonmoneter dari Faculty of Arts, Monash University, Melbourne, Australia. Stories of Indian Pacific dengan bantuan dana dari The Australia Council for the Arts, dan Journeys through Shadows dengan bantuan dana dari Arts Victoria, Australia. Sedangkan Dreamseekers didanai penuh oleh International Labour Organisation (ILO). Pada saat ini Dewi sedang menulis novel.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (51%)
4 stars
21 (33%)
3 stars
6 (9%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for grace.
165 reviews6 followers
July 28, 2025
pilu, tragis, tegang. itulah tiga kosakata yang menurutku cocok untuk menggambarkan buku ini. berkat buku ini, aku menjadi lebih melek terhadap tragedi 1998. selain itu, aku amat terkesan dengan sifat mendiang habibie yang down-to-earth dan tidak menutup mata terhadap masalah yang terjadi.
Profile Image for nadinosaurus.
277 reviews6 followers
January 18, 2026
Buku ini adalah hasil penelitian dan penelusuran penulis yang merekam perjalanan para aktivis perempuan dalam menyuarakan pemerkosaan massal kala kerusuhan 1998 yang kemudian melahirkan Komnas Perempuan. Gilanya, tragedi ini terus menerus disangkal oleh pejabat dan pihak berwenang yang seharusnya mengusut dan memberikan perlindungan. Rasanya sangat menyakitkan membaca fakta-fakta yang dikumpulkan relawan juga saksi tentang kondisi korban.

"Ternyata mereka diculik Ialu diperkosa beramai-ramai di sebuah mobil Kijang. Setelah diperkosa mereka disiksa lebih jauh dengan dipotong puting susunya, sebelum dilempar keluar dari mobil di pinggir jalan."

Data-data mengenai tragedi ini pun sulit sekali dikumpulkan, karena besarnya trauma yang dimiliki korban dan efek domino yang muncul setelahnya. Tidak banyak korban yang berani melapor dan berbicara, kebanyakan dari mereka menyembunyikan diri dan pergi ke luar negeri, bahkan saking besarnya trauma itu sampai ada yang tidak bisa berbahasa Indonesia lagi. Relawan yang merupakan tim gabungan dokter dan psikolog juga kesulitan menjangkau korban.

Korban yang berani muncul dan berbicara tanpa disadari harus menghadapi gelombang pembungkaman. Ita Martadinata, sebelum keberangkatannya ke PBB untuk bersaksi ditemukan mati mengenaskan di rumahnya karena perampokan—kata aparat. Sebagian aktivis juga mendapatkan terror baik langsung maupun lewat keluarga mereka.

Bagian awal buku ini mencantumkan kesaksian-kesaksian para aktivis pada 12-15 Mei beserta respon dan pergerakan mereka. Membacanya benar-benar membuat aku terharu, kalau bukan karena wanita-wanita perkasa tersebut... bagaimana nasib perempuan Indonesia saat ini?

Sebelum Komnas Perempuan lahir, sekelompok aktivis perorangan maupun yang berasal dari banyaknya organisasi hak asasi perempuan bersatu sebagai Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan sebagai reaksi terhadap tragedi 12-15 Mei untuk menggapai perhatian pemerintah. Mulanya mereka menghubungi Menteri Pertahanan dan Keamaanan juga Panglima ABRI, Jenderal Wiranto, namun tidak ditanggapi, lalu akhirnya menyurati Presiden Habibie, dan terjadilah sebuah pertemuan di Bina Graha pada 15 Juli 1998. Tragedi yang diceritakan begitu kejam, seperti di film-film, sehingga Pak Habibie sempat tidak percaya dan menyamakan kejadian ini seperti tragedi Tiannamen 1989 di RRC. Sampai akhirnya, beliau teringat kesaksian serupa dari keponakannya yang merupakan dokter bernama Saraswati 🥹🤧 buku ini membuatku menangis bukan hanya karena sesak, tapi juga terharu.

Dalam satu bab sebelum penutup. Penulis mengumpulkan karya-karya dari para seniman yang kala itu dipamerkan dan diciptakan sebagai bentuk empati dan suara dari pemerkosaan massal Mei 1998. Ada cerpen berjudul "Clara" dari Seno Gumira Ajidarma, puisi berjudul "Doa Perempuan" ciptaan Lies Marcoes, juga lukisan-lukisan yang dipamerkan di Roma dg tema Women in the Realm of Spirituality. Karya2 di pameran tersebut seketika berubah total sebagai efek dari tragedi tersebut.
Profile Image for Astala.
100 reviews
March 31, 2024
Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan
by Dewi Anggraeni

⭐4,8
Buku yang berisi data mengenai dampak kerusuhan Mei 1998 yang dituturkan oleh para tokoh/relawan pejuang keadilan dan pembela HAM, utamanya pada perempuan. Buku ini juga menjelaskan mengenai terbentuknya Komnas Perempuan.

Kekacauan masyarakat Indonesia pada akhir masa pemerintahan Soeharto salah satu dampaknya yaitu banyak terjadi penyerangan dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa khususnya, dan perempuan² diluar darah tionghoa umumnya. Perkosaan massal di tahun tersebut dari data yang dipaparkan, terdapat (sangat amat) banyak korban dan bahkan banyak lagi korban yang enggan melapor yang disebabkan oleh masyarakat patriartikal dan keapatisan aparat saat itu, miris!.

Bagaimana upaya B.J Habibi yang memulihkan kekacauan orba dan mengembalikan demokrasi juga cukup disinggung melalui upaya yang dilakukan para relawan pejuang keadilan yang memperjuangkan terbentuknya Komnas HAM.

Kisah yang sangat miris dan pilu. Penggambaran caosnya pemerintahan kala itu, perkosaan massal dimana², kebisuan aparat, pembunuhan tragis salah satu relawan Komnas HAM (Ita Martadinarta), kekerasan dimana², pembakaran, penjarahan, dan lain sebagainya, cukup membuat tercengang dan tidak bisa berkata selama membacanya.

Menuju penutup buku, diselipkan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Clara, dan itu sangat amat bangus sekali, cerpen yang dapat menimbulkan perasaan benci pada "babi berseragam" kala itu, dan/atau bahkan sampai sekarang(?).

Buku sakit! :")
Tapi karena buku ini juga, jadi tau latar belakang pembentukan Komnas Perempuan.
Profile Image for Shahnaz.
196 reviews
July 20, 2014
Menggambarkan dengan cukup komprehensif cerita terbentuknya komnas perempuan, diangkat dari tuturan para pendirinya mengenai perkosaan perempuan (dan laki-laki juga) di mei 1998 yang hingga sekarang belum terungkap pelakunya.

sepertinya buku ini diterbitkan pada tahun 2014 untuk menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia yang sedang merayakan pilpres untuk menuntut pada presiden yang baru agar kasus ini dapat diselesaikan, setidak-tidaknya pemerintah Indonesia mau mengakui terjadinya perkosaan ini dan meminta maaf dengan sangat. Hal ini tentu akan menjadi obat bagi mereka yang telah menjadi korban, serta menjadi pil pahit yang harus kita telan bersama: supaya kita sembuh dan menghargai HAM serta setiap suku dan ras di Indonesia, juga tak lupa, menghargai sejarah yang sebenar-benarnya
Profile Image for Muhammad Nuril.
41 reviews1 follower
December 20, 2025
Buku ini dimulai dari cerita pertemuan antara Presiden B. J. Habibie dengan kelompok Masyarakat Anti-Kekerasan terhadap Perempuan di Bina Graha pada 15 Juli 1998. Meskipun alot sejak awal dan diwarnai berbagai dinamika tetapi pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan oleh pemerintah yang menyesal secara mendalam atas berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sebelum, saat, dan sesudah Kerusuhan Mei 1998, serta komitmen pemerintah yang akan proaktif memberikan perlindungan dan keamanan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tak terulang kembali.

Berangkat dari situ, para aktivis, akademisi, dan pendamping Korban yang hadir di pertemuan tersebut kemudian menceritakan Kerusuhan Mei 1998 berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Mulai dari yang baru kembali ke Jakarta dan terkesiap saat ia tiba di stasiun yang sepi hingga berbagai teror yang dihadapi para pendamping Korban. Surat terbuka untuk Menteri UPW oleh Melani Budianta menjadi bagian favorit saya. Melalui berbagai skenario yang runut, beliau memprotes sikap diamnya Menteri UPW kala itu.

Apa yang terjadi pada Kerusuhan Mei 1998 bukanlah spontanitas belaka. Warga tidak mampu dan warga etnis Tionghoa, sejak awal memang direkayasa menjadi dua kelompok untuk dikorbankan karena dalam pandangan para perekayasa kedua kelompok ini tidak akan membawa ke situasi yang sulit bagi mereka. Pakar ekonomi Mayling Oey-Gardiner yang sejak 1996 mengawasi sekaligus merasakan kepengapan Orde Baru, mengibaratkan kerusuhan Mei 1998 adalah meletusnya isi bejana yang terus-menerus memanas tetapi ditutup dengan tutup yang ditekan tanpa ampun.

Dewi Anggraeni sebagai penulis menegaskan di prakata bahwa buku ini bukan proyek atau pesanan dari pihak-pihak tertentu. Penegasan ini menjadi penting mengingat apa yang dilakukan Fadli Zon belakangan yang secara grusa-grusu meluncurkan buku, "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global". Penulisan ulang sejarah nasional ini sarat dengan kepentingan penguasa untuk mencuci tangannya yang sudah penuh darah. Sejak awal proyek ini dimulai, berbagai kontroversi yang muncul sebenarnya sudah terjadi juga di masa lalu. Misalnya, penyangkalan Fadli Zon terhadap adanya pemerkosaan masal dalam kerusuhan Mei 1998. Penyangkalan serupa juga muncul kala itu dari para pejabat. Pada 17 Agustus 1998, Kapolri Rusmanhadi menuduh sejumlah LSM dan para relawan pendamping telah menyebarluaskan berita bohong dan mengancam akan menggugat mereka ke pengadilan apabila mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti tentang pemerkosaan masal itu.

Para pendamping Korban sangat memahami dilema yang mereka hadapi: jika tidak mau mengungkapkan identitas Korban, maka keraguan akan muncul di banyak orang. Mereka menjadi sangat resah dan frustasi. Namun, setelah mereka mengetahui lebih lanjut kondisi para Korban yang didampingi, mereka bertekad untuk menjaga kerahasiaan identitas para Korban. Para pendamping paham betul mendapat kepercayaan dari para Korban adalah hal yang sulit sekaligus rumit sehingga kontak dengan pihak di luar lingkar kepercayaan Korban hanya akan membawa risiko yang berbahaya. Pembunuhan Ita Martadinata menjadi salah satu contoh risiko yang dihadapi oleh Korban yang bersiap untuk memberi kesaksiannya ke dunia internasional. Tidak cukup diperkosa dan dibunuh secara keji, framming buruk dari APH pun ditujukan ke ia yang telah tiada.

Buku ini adalah penjaga ingatan kolektif masyarakat dan penangkal atas upaya-upaya pemerintah yang terus-menerus menciptakan penyangkalan sambil berharap setidaknya yang awalnya tidak setuju dengan mereka pun akhirnya melupakan apa yang terjadi.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,095 reviews17 followers
March 28, 2024
Buku yang membahas tentang latar belakang dibentuknya Komnas Perempuan ini menjadi bacaan yang menambah pengetahuan saya. Sebab, ketika masih sekolah, Tragedi Mei 1998 yang sering dijelaskan hanya penurunan Suharto dari jabatannya menjadi presiden. Padahal, banyak sekali konflik yang terjadi pada masa itu, seperti penembakan mahasiswa, kekerasan seksual kepada perempuan keturunan Tionghoa, dan penculikan kepada para aktivis.

Dari buku ini, saya pun mendapatkan cukup banyak informasi tentang tokoh-tokoh perempuan yang memperjuangkan Tragedi Mei 1998, khususnya masalah pemerkosaan massal yang dialami perempuan etnis Tionghoa. Dalam menyelidiki masalah tersebut, awalnya banyak pejabat yang meragukan karena dianggap tidak adanya bukti. Bersyukur, saat itu Presiden B.J. Habibie segera mengambil tindakan tegas dan mengakui bahwa pemerkosaan massal benar-benar terjadi, sehingga dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) supaya menyusun bukti-bukti dan keterangan lebih lanjut.

Selain itu, buku ini juga bisa sebagai pengingat bahwa negara kita memang memiliki sejarah kelam dan kita harus mempelajarinya supaya kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan.
Profile Image for Rizki Febriani.
58 reviews
April 3, 2024
Ketemu buku ini secara tidak sengaja saat mengerjakan tugas membuat esai. Tema esai yang harus kutulis adalah Women's Rights as Human Rights dan kupikir Mei 1998 adalah salah satu contoh kasus yang tepat untuk diangkat. Aku sendiri lahir di tahun 1997, sehingga apa yang kupelajari mengenai Mei 1998 sangat terbatas dan terpecah-pecah karena sumber bacaan yang bisa kuakses menurutku cukup terbatas. Buku ini adalah salah satu buku yang menurutku bisa menggabungkan secara runut bagaimana penanganan Mei 1998 hingga lahirnya Komnas Perempuan.

Tentu saja, aspek-aspek lainnya yang menyelimuti Mei 1998 juga disinggung disini. Hanya saja menurutku masih kurang dalam. Ini juga diakui oleh penulis di akhir bukunya, mengenai bagaimana misalnya marjinalisasi etnis Tionghoa sendiri tidak terlalu dibahas. Penulis mengatakan explorasi etnis Tionghoa yang menonjol perlu di bahas dalam kesempatan lain. Jadi, menurutku buku ini cukup untuk menjelaskan bagaimana aspek perempuan dalam Mei 1998 tapi kalau mau memahami aspek ras dan/atau etnis dalam Mei 1998 sumber bacaan lain akan diperlukan.
Profile Image for Andita.
314 reviews4 followers
June 6, 2025
"Ternyata mereka diculik lalu diperkosa beramai-ramai di sebuah mobil Kijang. Setelah diperkosa mereka disiksa lebih jauh dengan dipotong puting susunya, sebelum dilempar keluar dari mobil di pinggir jalan."

Semakin dibaca semakin menyesakkan. Melihat sisi lain sejarah Indonesia is always make me sick.
Profile Image for aiko.
24 reviews1 follower
August 6, 2025
It was really difficult for me to read this book. Berat banget jujur, bahkan ada kalanya menangis. Buku ini bener-bener mengulik sejarah tragedi 1998 yang bahkan hampir seluruhnya belum pernah aku tahu sebelumnya.

Rasa sedih, rasa marah, rasa muak menyatu. Bener bener campur aduk perasaan selama baca ini.
Profile Image for her&there.
7 reviews
January 3, 2026
it's an eye-opening book for those who want to learn the broader context of 1998 tragedy, terutama pelecahan dan kekerasan seksual massal yang terjadi saat itu dari pov activis dan pekerja sosial. I thinks it's important for us to understand that this is the reality of our country's history.
Profile Image for ATS.
84 reviews
September 13, 2021
A history lesson with a lot of fact-checkings needed.
Profile Image for Princessa Laura.
3 reviews
January 15, 2025
Buku yang menceritakan bagaimana terbentuknya komnas HAM melalui tragedi Mei 1998. Dimana etnis tionghoa yang mendapatkan pelecehan.
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
January 18, 2017
Miris.

Satu kata itu yang terlintas di benak saya mengetahui fakta di balik kerusuhan 1998. Dulu, ketika masih sekolah dan ada pelajaran sejarah, saya ke mana? Tertidur, barangkali. Sampai-sampai saya tak tahu kalau ada tragedi pahit yang melukai perempuan Indonesia pada umumnya.

Saya tertarik membeli buku ini karena sebelumnya menemukan beberapa novel di rak toko buku yang menggunakan latar belakang kerusuhan Mei 1998. Apa yang sebenarnya terjadi? Kerusuhan Mei 1998 yang direkayasa telah menimbulkan luka di mana-mana. *gasp*

Terlepas dari itu, buku ini membuka mata saya agar lebih peka terhadap segala hal yang terjadi di sekitar. Jumlah korban perkosaan 1998 tercatat ratusan. Itu pun banyak yang belum melapor. Tragis sekali. Pemerintah abai, menganggap kejadian tersebut minim bukti karena korban tidak mau muncul ke publik. *Ya tentu saja karena beban psikologis yang diemban begitu berat :(. Saya jadi kesal dengan pemerintah dan aparatnya ketika peristiwa itu terjadi. Begitu apatis. Apalagi pernyataan Jenderal Wiranto di TV sbb:
"Saya sudah mengunjungi beberapa rumah sakit, termasuk di Penang, tetapi saya tidak menemukan korban perkosaan, maka tidak terjadi perkosaan di tengah kerusuhan."

Ugh. Pernyataan tersebut mengandung cacat logika yang menurut saya fatal: "... mengunjungi beberapa rumah sakit..." Jumlah beberapa itu tidak menunjukkan kuantitas yang valid. Lalu bagaimana bisa dengan mudahnya membuat generalisasi bahwa tidak terjadi perkosaan, padahal para relawan menemui dan mendampingi langsung para korban? *geleng-geleng kepala*

Budaya patriarki yang masih melekat di Indonesia begitu mendominasi. Para perempuan korban kekerasan seksual masih ada yang terabaikan, belum sepenuhnya mendapatkan perlindungan hingga kemudian dengan penuh perjuangan, para aktivis kemanusiaan membentuk Komnas Perempuan.

Di halaman 176, diselipkan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Clara. Cerpen tsb meskipun tidak panjang, cukup mewakili apa yang terjadi pada banyak perempuan beretnis Tionghoa ketika kerusuhan terjadi pada tahun 1998.

Sesak juga begitu saya mengetahui fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku ini.

Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih untuk penulis atas uraian informasi yang selama ini tak saya ketahui.
Profile Image for Juinita Senduk.
121 reviews3 followers
May 27, 2025
Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan sesuai dengan judulnya, memaparkan tentang bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh kaum perempuan dalam membela para perempuan yang menjadi korban saat tragedi Mei 1998.

Perjuangan yang dilakukan atas keprihatinan bersama oleh beberapa organisasi perempuan, atau lebih tepatnya beberapa tokoh perempuan yang menjadi motor penggerak, seperti Myra Diarsi, Ita Fatia Nadia, Rita Serena Kolibonso, Kamala Chandrakirana (Nana), Carla Bianpoen, Smita Notosusanto, Chusnul Mariyah, Saparinah Sadli, Karlina Leksono, Melly G. Tan.

Walaupun tidak selengkap dan serinci buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data dan Analisa, setidaknya buku ini bisa memberikan tambahan pengetahuan kepada generasi yang tidak mengalami peristiwa Mei'98 ataupun yang masih tidak mau mengakui peristiwa pemerkosaan masih berlanjut, bahkan hingga di bulan Juni'98.

Dewi juga memaparkan tentang analisa mengenai peristiwa Mei'98, bahwa ini semua sudah direncanakan, bahkan beberapa tahun lampau oleh beberapa tokoh, dengan mendiskreditkan kaum Tionghoa. Sehingga ketika 'peralihan kekuasaan' terjadi, kaum Tionghoa dijadikan sebagai korban. Dan bukan hanya kaum Tionghoa saja, tapi mereka yang secara ekonomi berada di garis kemiskinan.

Sayangnya buku ini terlalu ingin memasukkan semua informasi, sehingga terkesan seperti laporan reportase.
Profile Image for jessie.
170 reviews9 followers
June 14, 2025
Ngeri.

Itu yang saya rasakan saat membaca buku ini. Di beberapa bagian, terutama pada bagian pembunuhan Ita Martadinata, saya bergidik. Siapa yang tega melakukan hal semacam itu? Apakah ia masih pantas disebut manusia? Untuk apa ia melakukannya? Atas dasar apa?

Ini sejarah kelam yang masih sering diragukan oleh banyak orang. Bahkan negara pun meragukannya. Salut saya untuk para relawan dan aktivis yang dengan tegar membantu para korban meski banyak ancaman dan teror menghadang.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.