Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cinta/Pergi

Rate this book
"Kamu tahu tentang bunga Wijaya Kusuma, Rei?'

"Maksudnya?"

"Wijaya Kusuma."

"Tidak."

"Itu bunga langka. Warnanya putih, bersih. Bunga ini hanya mekar di malam hari dan cuma hidup beberapa jam."

"Lantas?"

Ia tersenyum.

"Menurutku, kita seperti bunga Wijaya Kusuma."

"Aku makin nggak ngerti."

"Masa remaja kita begitu singkat, Rei. Seprti halnya bunga Wijaya Kusuma yang hanya mekar sebentar saja. Dan pada masa yang singkat itu, kita sering menemukan diri kita berjalan tanpa arah."

Aku terdiam, menyimak perkataannya dengan seksama. Ia pula yang membuatku bertahun-tahun setelahnya, ketika aku harus menghadapi masalah, menjadikanku memiliki keberanian.

Gadis itu bernama Florina. Dan aku tidak tahu di mana ia berada.

181 pages, Paperback

First published July 1, 2014

19 people are currently reading
198 people want to read

About the author

Juno Tisno

1 book20 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (16%)
4 stars
13 (20%)
3 stars
13 (20%)
2 stars
21 (33%)
1 star
5 (8%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
September 21, 2014
Buku ini enggak kurekomendasikan bila yang kamu cari itu bacaan yang bagus.

...Sebenarnya aku merasa agak campur aduk mengatakannya. Sebab sebagai seseorang yang mengenal pengarangnya, aku lumayan menaruh pengharapan terhadap cerita buku ini. Jadi gampangnya, ya, aku lumayan kecewa.

Di atas kertas, ide ceritanya sebenarnya enggak bermasalah. Ada protagonis cowok yang punya masalah dengan ayahnya. Lalu ia bertemu seorang cewek yang kemudian membantu dia mengatasi masalahnya tersebut. Si cowok dan si cewek kemudian saling jatuh cinta, dsb. Tapi yang kemudian merusak segalanya adalah pengeditan buku ini, yang kelihatannya setengah-setengah, dan karakterisasinya yang, entah ya, maksa.

Pengaturan tata letak buku ini terbilang bagus. Itu satu hal yang mesti kupuji. Desain sampulnya menurutku agak aneh, karena kurang nyambung dengan nuansa bukunya. Tapi halaman-halaman dalamnya tertata dengan baik. Setiap bab dibatasi oleh suatu kutipan dari penulis-penulis terkenal.

Cuma masalahnya, naskah cerita novel ini sangat terasa kayak draft pertama sebuah novel yang sama sekali belum diedit atau digarap lagi gitu. Kayak dibikin waktu si pengarang masih baru mulai menulis gitu (padahal kusangka tak demikian?). Sehingga terasa banget gimana konfliknya dangkal dan enggak signifikan. Lalu perilaku para karakternya yang kalau menurutku agak di luar batas kewajaran normal.

Beberapa hal yang menjadi masalah buatku meliputi:
1. Karakter utama yang diceritakan sebagai berandalan tapi enggak kelihatan sebagai berandalan. (Dan lagi, definisi berandalan yang dimaksud di sini itu apa?)

2. Aku enggak tahu Burjo itu apa. Apa maksudnya itu bubur kacang ijo? (Apa ini kasus yang serupa dengan gimana orang Surabaya enggak tahu bala-bala itu apa?)

3. Karakter utama dan ayahnya dikatakan punya hubungan bermasalah, tapi enggak benar-benar dijabarkan masalah yang keduanya punyai itu apa. Cuma si Ibu jadi meninggalkan rumah. Penyebabnya kurang dijabarkan. Maksudku, setahuku banyak orang-orang irl yang punya hubungan lebih bermasalah dari itu, tapi mereka tetap berhubungan. Ini berpotensi membuat cerita novel ini bagi sebagian orang makin menyedihkan, dalam artian buruk.

4. Karakter utama wanita yang... uh... aku ngerti apa yang mau dibidik. Tapi hasilnya masih kurang bagus. Bagaimana sikapnya pada bagian terakhir buku benar-benar enggak jelas dan enggak membantu, dan enggak sesuai dengan latar ceritanya di zaman modern yang udah punya sosmed.

5. Ceritanya juga ternyata cuma segini. Maksudku, masih ada potensi bagi ceritanya untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Kayak isu soal novel Florina yang bisa lebih dilibatkan dalam hubungannya dengan si tokoh utama, walau aku tahu itu pada akhirnya, yah...

Jadi kayak, kalo diibaratkan dengan masakan, semua bahan yang diperlukannya udah ada, cuma pas dimasak, jadinya entah kenapa malah enggak enak.

Selain soal isi ceritanya sendiri, pengeditan naskahnya itu sedemikian kurangnya, sehingga terasa kayak ada begitu banyak hal yang setengah tersampaikan di dalamnya. Ada kalimat-kalimat yang terasa mengambang SPOK-nya dan sejumlah hal kurang jelas lain secara umum. Kayak ada orang lagi ngedit, keinget sesuatu, pindah ngedit ke bagian cerita lain, tapi akhirnya bagian yang pertama diedit tadi lupa diberesin.

Sisi baik novel ini adalah bagaimana seenggaknya si pengarang telah memiliki semacam kekhasan dalam gaya narasinya. Walau menurutku kekhasan ini masih tertutupi oleh kurang matangnya naskah cerita. Jadi kalau misalnya dia udah mematangkan skillnya yang sekarang, bisa jadi buku berikutnya keluaran dia bakalan bagus. Cuma ya itu, buku yang ini masih jelek.

Walau masih kurang dalam banyak aspek, ini buku yang agak lumayan untuk ukuran teenlit. Ada sesuatu kekhasan di dalamnya yang agak sulit dijabarkan. Aku sebenarnya bisa ngasih dua bintang. Ini masih it's okay buatku. Cuma kalau kemudian kubandingin dengan buku-buku lain bikinan teman-teman yang pernah kunilai di GR, kayaknya jadi enggak adil. Dan lagi satu bintang kayaknya lebih baik buat perkembangan si penulisnya.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
February 4, 2016
Tahun 2015 ini berarti sudah empat tahun saya mengenal sang penulis yang biasa saya panggil Om Jun. Saya bisa yakinkan bahwa Om Jun ini salah seorang master di bidang Young Adult, dan saya belajar banyak dari Om Jun soal teknik kepenulisan. Ketika Om Jun mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan novel debutnya, saya senang karena akhirnya Om Jun nerbitin buku!

Namun, sayang sekali, saya justru ngerasa kayak kehilangan sentuhan magis Om Jun di buku ini. Cerita-cerita YA Om Jun selalu lancar, lembut, dan mengalir, tapi di Cinta/Pergi ini saya mengernyitkan dahi begitu banyak.

Mungkin karena banyak typo yang bertebaran yang mungkin terselip waktu proses pengeditan. Om Jun orang yang ejaannya paling rapi dan paling menurut dengan kaidah EYD, satu kualitas yang saya suka darinya. Makanya ketika saya melihat banyak typo dan ejaan yang kurang tepat, saya sedikit kaget. Seperti yang sudah ditunjukkan di:
Halaman 1: lesung pipit seharusnya lesung pipi
Halaman 5: eksekian seharusnya ke sekian
Halaman 8: memporakporandakan, memahamii, mempercayainya seharusnya memercayainya
dan seterusnya

Kebetulan juga saya mendapat kesempatan untuk mendengar ide cerita novel ini secara langsung dari Om Jun, dan saya berharap begitu banyak dari ide yang Om Jun lontarkan. Menarik sekali, dan ide yang menarik itu masih terlihat di buku ini. Seorang berandalan bertemu dengan gadis yang terus-terusan membuntutinya dengan alasan untuk mempelajari karakter si cowok yang hendak ditulis dalam sebuah novel oleh si cewek. Interaksi di antara keduanya membuat kedua dunia mereka saling bertubrukan hingga akhirnya mereka sadar bahwa yang satu saling memengaruhi yang lain.

Sayang sekali, hasil akhir dari novel ini terasa belum matang. Misalnya, saya masih merasa aneh ketika Reizo setuju untuk dibuntuti oleh Florina dengan alasan untuk menulis novel. Menurut saya, ini masih bisa diperjelas dan diperdalam lagi karena jika saya menjadi Reizo, saya belum tentu mau dibuntuti oleh orang asing, kecuali bahwa Florina adalah penulis terkenal, misalnya, yang tulisannya masih bisa dipertanggungjawabkan. Reizo juga menurut saya masih terlalu lunak untuk seorang berandalan meski saya sudah cukup mengenal karakternya. Reizo ini karakter yang kompleks dan masih bisa diperdalam lagi. Saya juga menyukai perkembangan karakternya meskipun karena buku ini tipis, rasanya sedikit terburu-buru dan kurang tereksplorasi.

Satu hal lain yang cukup mencolok yang biasa saya baca dari karya Om Jun sebelumnya adalah kalimat Om Jun biasanya mengalir, efektif, dan tepat sasaran. Namun, entah mengapa saya merasa narasi dan kalimat-kalimat yang ditulis di buku ini terasa canggung dan patah-patah.

Hal yang saya suka dari buku ini adalah layout-nya yang cantik serta kutipan-kutipan yang ada di awal setiap bab, menunjukkan bahwa Om Jun adalah pembaca yang kaya. Hehe.

Secara keseluruhan, saya bisa meyakinkan kalian semua bahwa ini bukan karya terbaik dari Om Jun, tetapi saya bisa menjamin bahwa karya Om Jun berikutnya akan jauh lebih baik daripada ini. Selamat membaca! :D
Profile Image for Furiame Keisha.
2 reviews
Read
August 22, 2014
pertama kali lihat di gramed, wuiiiiihhh covernya full color. tapi pas baca sinopsisnya... aku langsung mau muntah. gaya bahasanya itu lhoo...... ga nahan.. ( buat muntah ) Dxxx parahh banget.
aku ga gitu suka sama gaya bahasa yg terlalu puitis... helowwww.... sekarang bukan zaman mira w ato jaman ibuku masih remaja...

memangnya ada anak remaja zaman sekarang yg ngobrol sama temennya pake bahasa puitis?
apa ga bakal di ketawain sama temennya gara2 bahasanya yg terlalu jadul?? klo aku yg ngomong sama temen pake bahasa puitis... di jamin aku bakal di ketawain dan malllu abisss

tolong di perbaiki gaya bahasanya dan ceritanya.... cuma liat sinopsisnya aja aku ga bakal mau beli. ini bukan novel yg bisa untuk di koleksi atau di baca berulang2.

aku ga ngerekom banget buat di beli
Profile Image for Heru Zainurma.
11 reviews5 followers
October 14, 2014
Mengecewakan.

Saya dengar kabarnya, katanya ini naskah terlalu banyak diutak-atik oleh editor. Well, saya belum baca naskah versi aslinya, jadi saya nilai berdasarkan apa yang memang sudah terbit saja. Toh, hasil jadi ini merupakan kompromi antara penulis + editor. Dan sang penulis tentu sudah siap dengan segala timbal baliknya ketika naskah itu telah terbit menjadi buku. Kalau memang hasilnya "buruk", itu karena sang penulis yang terlalu kompromis dengan "kemauan" editor.

Masuk ke review.

--

Sampulnya sederhana, tapi eyecatchy ... khususnya dari segi warna. Langsung dapat kesan "cinta", "remaja". Dari desainnya, bagaimanapun, tampak terlalu polos. Kedua karakter utama dimunculkan, namun kurang mampu merepresentasikan mereka, disebabkan kecilnya gambar itu. Seperti thumbnail sahaja.

Dan bagian blurb ... what the! Ini spoiler?! Kenapa detail endingnya malah ditulis di blurb?? :v

--

Cerita berawal ketika Florina, gadis yang mengaku sedang menulis novel, muncul di hadapan Reizo dan "mengganggu" pemuda itu. Si gadis hendak mengamati keseharian Reizo yang termahsyur sebagai seorang pemuda berandal, berhubung gadis tersebut memang tengah menulis novel bertemakan itu. Dari sana, bermulalah hubungan aneh antara Reizo-Florina. Reizo akhirnya mengizinkan Florina membuntutinya selama sepekan sahaja demi mengumpulkan materi novel.

Kemudian cerita beralih, menitikberatkan pada Reizo yang tengah menyelesaikan permasalahan keluarganya, dengan Florina sebagai gadis penolong.

Bagian plot ... err, semua terasa datar. Jadi konfliknya apah? Begitu saya tersadar, ternyata sudah tamat. Oh, jadi itu konfliknya? (... loading ....) Lah, jadi HANYA ITU konfliknya?

Mungkin ide ceritanya sudah bagus, hanya saja penggarapan yang kurang matang membuat itu terasa kurang waw. Cenderung datar, malah. Secara garis besar ada dua konflik utama:



Sayangnya kedua konflik itu kurang terbawakan secara sempurna. Kurang dibangun, mencapai puncak secara prematur, dan berakhir dengan begitu saja.

--

Mungkin pengaruh juga di hal-hal lain seperti karakterisasi.

Berandal di sini terasa kurang "berandal". Reizo dikatakan berandal, tapi sesungguhnya saya tidak melihat kelakuan berandalan dari dirinya. Adegan berkelahi pun hanya 1-2 kali. Bahasa yang digunakan cenderung sopan. Tak ada aksesoris berandalan yang tersemat di penampilan. Sekalipun kerjaannya hanya bolos, itu tidak serta-merta menjadikan seseorang berandal. Hanya pemalas :v

Karakter kedua adalah Florina (yang nama belakangnya sungguh aneh). Err ... sampai sekarang saya masih kurang mendapat gambaran seperti apa karakterisasi Florina sesungguhnya. Terlebih, Reizo sebagai narator sangatlah tidak bisa diandalkan. Dia hanya menyebutkan Florina menyebalkan dan menyebalkan, tapi cantik, tapi menyebalkan, tapi tetap cantik ..., dan seterusnya, tanpa pernah menjabarkan detail perasaannya. Yah, setidaknya dari tindak-tanduk yang ditampilkan Florina, kita bisa menebak kalau Florina itu

--

Penggunaan narasi ... ya, narasi! Ini yang paling bermasalah!

Terlalu banyak penjabaran pada detail yang tidak penting. Misal:

//Aku mau begini. Tapi kalau aku begini, jadinya akan begitu. Walaupun begitu, begini harus tetap kulakukan. Mengapa aku begini biar begitu? Akhirnya aku pun begini saja.//

Nah, itulah dia. Penjelasan logika-nalar Reizo membuat alur narasi menjadi sangat kaku. Cenderung redundan, berulang-ulang, terus terjadi, redundan, berulang-ulang, kembali terjadi, seperti ini. Padahal pembaca, menurut saya, tidak terlalu membutuhkan detail nalar si Reizo; pembaca lebih ingin melihat Reizo beraksi. Toh, ini bukan novel detektif.

--

Tpoy.

Tpoy adalah typo berlapis; ketika typo biasa tidak lagi mampu menggambarkan separah apa "kekacauan" yang ada di novel ini. Untuk sebuah karya terbit, bahkan satu typo pun sudah terlalu banyak. Namun jikalau memang terjadi satu typo, yah ... anggaplah itu hal manusiawi. Sebaliknya, ketika typo itu menggunung, bahkan dicampur dengan aneka rupa kesalahan editing lainnya ...

TPOY!

---
---

Ah, sudahlah.

Kesimpulan saya. Novel ini punya cerita yang lumayan, tetapi digarap dengan sangat tidak profesional. Wahai editor, mungkin engkau perlu mengevaluasi diri lagi: Apakah teknik editingmu itu (baca: teknik bongkar-pasang naskah) sudah mumpuni atau butuh ditempa seribu palu lagi?

Saya tahu sang penulis mempunyai kemampuan yang jauh di atas ini. Itulah yang saya sayangkan. Seharusnya novel pertama Herjuno Tisnoaji lebih dari ini!
1 review
August 22, 2014
Untuk buku yang dibaca "in one go", this is good.
ringan, enjoyable, dan bisa dibilang "i can't put it down"
dan entah kenapa agak ngingetin saya dengan karya-karya makoto shinkai.
fokus pada 2 karakter utama, hampir seluruhnya berisi interaksi antar kedua karakter, dan konflik yang ada bukan berawal dari hubungan keduanya, melainkan konflik yang sudah dimiliki oleh karakternya sebelum novel ini dimulai.
Sayang, jujur saya merasa datar ketika membacanya. Entah mengapa, emosi dari karakter-karakternya tidak berhasil menggerakkan saya. saya juga merasa cerita ini agak "rush" dimana sepertinya saya baru baca

untuk epilognya sendiri, sebenarnya epilog seperti ini yang merupakan favorit saya. tapi entah mengapa kesannya seperti dipaksakan. dan alasan heroine untuk saya rasa kurang kuat. terlebih dari apa yang telah mereka lakukan, masa mau gitu aja mutusin hubungan secara total? saya awalnya malah mengira heroine akan mati atau apa, tapi kalau hanya sekedar well... apa harus segitunya?

Dan fakta kalau heroine entah mengapa hampir tidak ada efeknya sama sekali menurut saya. untuk sekedar membangun emosi mungkin? dan lagi menurut saya heroine itu sendiri kurang diekspos. cuma difokuskan di bagian terakhir setelah konflik MC selesai, itupun sekedar dari surat yang ditinggalkan heroine.
it feels like... read sunshine becomes you 180 pages version.

ah ngomong-ngomong ini semua pendapat pribadi saya yak >.<
enggak penting, toh saya juga bukan siapa-siapa, sekedar suka baca aja >.<
mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.

terakhir, saya membaca tulisan-tulisan anda di kemudian, dan jujur... saya sangat suka tulisan anda.



terima kasih banyak karena telah menyajikan sesuatu yang luar biasa.

salam~

Profile Image for Pentapetals.
29 reviews2 followers
December 30, 2014
"Tapi, Rei, kita mau bikin klub apa?"
"Gimana kalau namanya Klub Memandang Langit?"
"Hah?"
"Iya!" Sahutku bersemangat. "Klub Memandang Langit. Jadi yang kita lakukan hanya, yah, memandang langit. Kita bisa melakukannya sambil melakukan kegiatan lain, misalnya, kamu bisa sambil ngelanjutin bukumu atau apalah. Pokoknya kegiatan utama klubnya itu; ngelihatin langit."


ummm

DNF @67%
Rei, lebih lengkapnya Reizo, adalah cowok penyendiri yang dicap 'berandal' biarpun tidak ada yang bisa membuktikan keberandalan bocah satu ini. Oh, sure, dia katanya akrab dengan tawuran. Tapi ya cuma itu, katanya. Ada satu adegan dimana dia menunjukkan 'keberandalannya' but even that was hilarious at best.

Ia dikuntit oleh cewek bernama Florina yang mengaku ingin menggunakan Rei sebagai model untuk novel yang ia garap. Meskipun ogah-ogahan, Rei akhirnya setuju untuk diamati Florina selama seminggu.

Bermula dari situ, Rei dan Florina membentuk suatu hubungan yang tidak biasa.

Pfft, "Tidak biasa" mungkin harusnya diganti "Ganjil/Aneh".

Oke, dari segi karakternya dulu.

Rei
Our protagonist. Dia adalah cowok dengan masalah keluarga dan untuk melampiaskannya, dia jadi berandalan. Tapi dia adalah berandalan paling malas yang pernah gue baca. Kerjaannya cuma tiduran, menatap langit, makan di burjo, tiduran lagi, dan menatap langit lagi. Oiya, sama bolos.

Gak ada yang sangar dari ini cowok.
Kalo ngegigit kaya digigit anak kucing 2 bulan. Gak sakit.

Novel ini dari POVnya dia. Dan ini malah membuat dia tidak terlihat sebagai siswa yang berandalan. He's too.... soft.

Saat gue ngebaca bahwa Rei di cap sebagai berandalan, gue mengharapkan dia bakalan beneran jadi anak badung. Ngerokok kek, pake tindikan kek... Heck, maybe even dyeing his hair red like those alay kids.
But, Nope.


Florina
Cewek ini.... gak ada kepribadiannya.
Ketika sepertinya mulai terkuak bagaimana hidupnya si Florina ini, gue udah keburu hilang minat sama ini novel.
Dia adalah tipikal heroine dari komik shoujo. Ceria, persistent (annoyingly so), imut(at least that's what Rei said), punya masa lalu 'kelam' dan terlalu, terlalu baik. Putri Salju aja kalah.

Tapi jangan tertipu. Dia ini Stalker mantap.

"Kemarin, aku ngikutin busmu"


Bahkan Rei sendiri bilang gitu.
Kenapa pula sih aku harus bertemu dengan cewek satu ini terus-terusan?

Florina terus dan terus membuntutiku

[...]Florina rasanya selalu bisa menemukanku


Cerita berfokus pada dua orang ini saja. Sisanya hanya sebagai background atau digunakan untuk melanjutkan plot. Ugh, gue tahu ini mau bercerita tentang keluarga, tapi masa iya dua remaja ini gak punya teman sama sekali?

Untuk Rei gue masih bisa paham. He comes off as a loner. Tapi florina? Gak sekalipun ada disebutkan dia berinteraksi dengan siswa lain.

Moving on to other things,
Typonya cukup menganggu sebenarnya dan cukup mengecewakan berhubung gue tahu seharusnya dengan sekaliber Mas Juno, typonya tidak akan sampai sebanyak itu.

Two-star karena sebenarnya gue suka dengan gaya bahasa novel ini. Saat baca blurbnya, I was actually very excited, it was so poetic.
BUT!! Ada satu pembicaraan yang aneh:

"Flo, kamu inget sama kata-katamu tentang bunga Wijaya Kusuma."
"Ya."
"Kita, Flo."
"Tentu saja. Memang kenapa?"


description
???????????

Speaking of weird... Buku ini bertebaran nuansa komik shoujo (Komik shoujo adalah komik untuk remaja perempuan usia 19-18 tahun ke bawah). Ayah dan ibu yang kelewat baik (Orangtua Flo) , pembicaraan heart-to-heart mengenai masa muda dan cinta yang kelewat corny, daaaaannn tentu saja:


Nongkrong di atap berdua memandangi langit biru.

Gue gak tahu gimana di sekolah kalian, tapi sekolah gue jelas gak akan mungkin naik ke genteng dan pacaran disana. Keburu ditimpuk sandal sama pak guru atau malah keburu jatuh nyungsep.
Elemen-elemen ini malah jadi aneh dan tidak realistik untuk novel yang bersetting di Indonesia.

Selain itu, gue selalu harus berhenti membaca karena gue bingung dengan posisi-posisi para karakter selama mereka berbicara, berjalan atau bahkan saat mereka sedang duduk sekalipun. Bingung pake bingits.

Mereka ini lagi hadap-hadapan, sebelahan, apa kayang bareng-bareng? Rei tadi pergi ke burjo jalan kaki, naik ojek, angkot, atau manggil elang raksasa?

Pendeskripsian yang kepanjangan tentang penampilan karakter tentu menyebalkan, tapi kalau gak ada sama sekali seperti di novel ini juga jadi bikin gerah. Satu-satunya deskripsi tokoh yang diberikan hanya tentang penampilan Florina. Udah itu aja. Jangan tanya mukanya rei kaya apa, gak akan ada.

Saran gue, Bayangin aja kaya gini
yummm
Hehehehe

All in all, gue tadinya punya ekpektasi yang lumayan tinggi buat novel ini apalagi ini adalah teenlit/YA non-fantasy indonesia pertama setelah sekian lama gak baca genre ini. Tapi, yah, akhirnya cukup kecewa juga.
Tapi gue mungkin tetap akan ngecek novel-novel selanjutnya dari pengarang ini. He's got potential.
Lanjutkan berkarya, Mas Juno! I know you can do it!
Profile Image for Anggita Sekar Laranti.
104 reviews33 followers
August 21, 2014
Baca ini, mau nggak mau kebayang novel ini Lovhobia by Elsa Puspita .
Formulanya mirip. Tokoh utama cowok juga punya masalah sama ayahnya karena beliau bersikap jahat pada ibunya, tokoh utama cewek membantu si cowok berbaikan dengan ayahnya...

Kesalahan editnya bertebaran merata-rata ._. Salah tanda baca, salah ejaan, panggilan yang nggak konsisten antara "Re" dan "Rei", dan kayaknya keselip POV 3 entah di halaman berapa gitu. Tapi karena sudah diperingatkan oleh review user lain, aku jadi berhasil mengabaikan hal tersebut sehingga bisa membaca dengan cukup nyaman. YEAY! (9^v^)9

Oh iya, beberapa dialog "Oke." yang diucapkan Florina kok disusul dengan dialog "Oke" yang lain ya? Itu memang kedobel atau Reizo juga balas berkata "Oke"? Dan sebaliknya juga.

Bahasanya enak dibaca, menurutku. Setelah mulai beranjak dewasa(?) aku suka aja sama novel-novel yang pakai bahasa baku. Kesannya elegan gitu. Ya, pokoknya begitu.

Aku malah kurang suka sama tokoh-tokohnya. Reizo sama Florina oke, sih. Tapi orang tua mereka kok rasanya kurang... apa ya? -_- Normal? Realis? Alami? Jus buah kali, alami -_- Rasanya orang tua mereka itu kelakuannya diset supaya jalan cerita mengalir seperti itu. Eh, gimana sih? -_-

Dan ibunya Rei itu... WHY BUNDA???? WHY???? KENAPA MAIN KABUR-KABUR AJA SENDIRIAN DAN HOW CAN YOU NINGGALIN ANAKMU BERSAMA AYAH??? HOW CAN YOU NGGAK NELPON REIZO DAN NGGAK KHAWATIR SAMA SEKALI?!? BUNDA JAHAAAT!!!! BUNDA NGGAK SAYANG SAMA REIZO LAGI!!!

Ih. Satu lagi.



Yaaaa paling tidak, aku betah baca novel ini ^^ Semoga novel-novel berikutnya lebih baik :3
Profile Image for Aletheia Agatha.
Author 1 book5 followers
September 27, 2014
Novel ini mengisahkan si Cowok berandal bernama Reizo dan cewek bernama Florina.
Jujur, saya juga agak kecewa dengan ceritanya mengingat saya sempat mengharapkan sesuatu yang "lebih" dari penulisnya.
Sebenarnya saya menyukai masing-masing sifat karakter tokoh-tokoh yang disebutkan, seperti berandal, tengil, dan mungkin juga rasa benci Reizo yang harusnya bisa jauh digambarkan.
Karakter Reizo yang berandalan yang sering disinggung di sini membuat narasinya cukup "tell" menurut saya. Sementara sifat tokoh seperti ini buat saya akan cukup ngena waktu dibaca dengan menggunakan "show". Scene-scene yang menunjukkan Reizo itu berandal kurang banyak mungkin atau karena kurang dieksplor makanya bagi saya nggak berkesan. Saya awalnya berharap karakter Reizo di sini sebagai bongkahan es yang nggak begitu saja cair :v dan semakin saya baca novel ini hingga selesai, saya pun bertanya-tanya: Reizo itu cowok apa cewek?
Kedua yaitu karakter Florina yang awalnya disebut cewek tengil sama Reizo. Yeah, kalau saya jadi Reizo, saya bakal ngasih sebutan sama Sifat Florina bikin saya gemas setengah mati. Kenapa? Saya cewek soalnya, dan itu sudah menjelaskan semuanya. #halah
Oke, itu soal karakter, selanjutnya soal cerita. Temanya umum, nothing special. But, well, yeah ini cukup manis. walaupun endingnya bikin saya pengen ngobrak-abrik kamar
Ketiga, Seriously, ada apa dengan penyuntingannya? Saya kesel banget ada typo bertebaran di mana-mana. Nggak cuma itu, beberapa dialog pendek diulang padahal nggak perlu. Ada juga yang semestinya dialog yang diucapkan dua orang yang berbeda dipisah, tapi malah disambung. Seolah-olah yang saya baca ini masih berisi naskah mentah -_-

buat Herjuno, selamat udah terbit novelnya :3 Dan maapkan kalau reviewnya ada yang berkenan. Saya tunggu karya berikutnya yang lebih baik
Profile Image for Riski Oktavian.
462 reviews
July 31, 2022
"Selama ini, aku terlalu sibuk berkutat dengan sesuatu yang tidak bisa kumengerti, dan membuatku menjadi orang yang begitu dungu." -hal. 152

Awalnya aku agak nggak enak untuk memberikan rating segini karena kesannya kejam banget, tapi setelah melihat beberapa review di Goodreads juga mostly memberikan rating dengan angka yang sama. Dan kayaknya kita (bagi para 2 stars rated squad) sama-sama setuju apa hal yang membuat novel ini agak sedikit kurang.

Untuk secara cerita sebenarnya ceritanya tergolong ringan bahkan mungkin bisa selesai dalam sekali duduk (kalau aku pribadi nggak sekali duduk juga sih, butuh dua hari untuk melahap habis novel ini), yang mana kukategorikan sebagai novel yang memang ringan gaya berceritanya.

Namun entah mengapa konflik di dalam sini agak sedikit mengambang kalau menurut aku, seperti tidak dijelaskan atau dijabarkan yang membuat kita nggak berhenti-berhentinya mengernyitkan kening.

Kemudian penggambaran tokoh yang menurutku kurang kuat. Karena di sini tokoh utama laki-lakinya digambarkan sebagai berandalan, namun aku (dan juga beberapa review lain) setuju kalau tokoh "berandalan" ini terlalu soft untuk berandalan. Ya mungkin kalau dibuat beneran bad boy jatuhnya kayak wattpad yang... you know... predictable dan semacamnya.

Untuk tokoh perempuannya juga aku merasa aneh, karena bagaimana sikapnya di awal dan juga di akhir seperti dua orang yang berbeda. Agak sedikit nggak sinkron. Dan aku nggak bisa bilang itu sebuah perkembangan karakter sih. Dan juga mengenai tokoh cewek ini yang kadang membalas percakapannya tuh kayak nggak make sense dan terlalu sering ngomong oke oke aja.

Kemudian kita akan membahas faktor utama novel ini kurang di aku, yaitu narasinya. Meskipun aku tadi bilang ini cukup cepat phase nya, tapi penulisan kalimat atau kata-katanya tuh masih banyak yang salah dan beberapa kalimat juga berantakan. Bukan menghina atau bagaimana, tapi di bagian kata pengantar aku merasa kasian aja sama penulisnya, karena mengatakan naskah novel ini benar-benar digarap oleh editor. Tapi... kenapa seperti ini? Dan aku meragukan bagaimana "naskah asli" dari novel ini? Sekali lagi, bukan menjelekkan.

Dan setelah aku pikir-pikir lagi, rasa-rasanya ada banyak hal-hal yang tidak nyambung dengan cerita secara keseluruhannya yang kurasa tidak perlu dimasukkan ke dalam novel ini. Dan semakin ke belakang tuh jujur kita dibuat bingung karena ini sebenarnya konflik utamanya itu apa? Dibilang novel romance juga enggak juga sih menurutku. Nggak tahu deh bingung.

Novel ini sedikit banyak mengingatkanku sama Hujan Kemarin karyanya Orina Fazrina yang mana message nya sebenarnya bagus tapi jujur cara penyampaiannya itu agak kurang. Dan juga aku mendapati di kedua judul ini, baik judul dan juga covernya tuh agak kurang matching. Kenapa sih sekarang novel-novel suka pakai cover yang nggak matching (warnanya) dengan isi ceritanya?

Ini yang membuat aku lama kelamaan makin nggak tertarik untuk baca novel romance. Yang membuat beberapa penulis romance hebat lainnya jadi nggak kesentuh sama minatku.

Kalaupun ada hal yang menarik, aku menyadari di sini memang sedikit disentilnya sisi psikologis manusia terutama mengambil dari kacamata anak yang berada dalam kondisi "broken home". Selebihnya kalian baca sendiri untuk cari tahu.

(Untung novel ini pinjam, jadi nggak terlalu kesel. I mean... kesel sih)

2,5 stars.
Profile Image for Aulia Prameswari.
5 reviews2 followers
Read
June 20, 2024
Jujur beli buku ini udah lamaaaaa banget mungkin jaman smp atau sma
Sepertinya saya hobi membeli buku bukan membaca buku hehe
Karena tahun ini ada gairah lagi dalam membaca buku alhasil melihat tumpukan buku yang masih belum dibaca
Lagi pingin baca buku yang ringan dan tralala akhirnya memilih buku ini

Dari cover terlihat lucu karena menggunakan warna yang menyegarkan mata ahaha
Mencoba memulai membaca masih oke..
Tapi tak berapa lama rasanya tidak nyaman karena mungkin gaya penulisan(?) Lalu ada cukup banyak typo. Waktu membaca bikin hah?! Kok?! Hmm...

Jadi saya memutuskan berhenti membaca setelah beberapa halaman

Yah... siapa tahu nanti mau mencoba membaca kembali hihi
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
August 24, 2014
Two stars means it was okay. Apa yang "oke" dari novel ini? Hm, ceritanya secara keseluruhan: oke. Meski tidak sampai membuat saya suka atau bagaimana--alasan yang membuat tidak bisa suka nanti akan saya jelaskan, mohon bersabar dengan resensi ini, hehe. Ceritanya adalah tentang Reizo, seorang remaja SMA berandalan yang menyimpan amarah kepada orangtuanya, terlebih ayahnya. Perpisahan ayah-bundanya menyebabkan dia menyimpan luka hati sehingga kehidupannya menjadi buruk. Kemudian datang seorang Florina, teman satu sekolah beda kelas yang kemudian "setia" menjadi bayangannya, dengan dalih ingin mengamati Reizo sebagai contoh cowok berandalan yang akan dituliskan di novelnya. Mati-matian Reizo menolak keberadaan Florina dalam hari-harinya, toh cewek itu enggan pergi. Akhirnya Reizo pun membiarkannya menguntitnya. Dan, klasik saja, Reizo berbalik menjadi tergantung kepada Florina. Flo ini serupa malaikat penolong bagi Reizo, yang kemudian mengajarkannya banyak moral baik sehingga Reizo dapat berdamai dengan keluarganya. Ide ceritanya bagi saya, cukup menarik.

Jika saja yang saya baca ini masih berupa naskah yang belum terbit, saya akan berbusa-busa mengomeli penulis karena banyak sekali keteledorannya ketika menyusun naskah ini. Ini kesalahan yang sering saya temukan--tidak akan terlalu detail karena kali ini saya sungguhan malas mencatat apa saja contoh salahnya, hanya ingin menjadi pembaca bukan pengoreksi:

1. Typo alias salah tulis huruf.
2. Penulisan ejaan tidak sesuai KBBI
3. Penulisan huruf kapital yang luput, misalnya kalimat baru setelah titik tapi diawali huruf kecil.
4. Penggunaan tanda baca yang tidak semestinya (kebanyakan koma, tidak ada titik tapi langsung kalimat baru yg ditandai dengan huruf kapital).
5. POV yang sering kepeleset. Dari awal sudah pakai POV 1 dan secara keseluruhan begitu, sang tokoh membahasakan dirinya sendiri dengan "aku", tapi sering kepeleset jadi POV 3.
6. Peralihan subjek yang tidak jelas dari kalimat sebelumnya.
7. Banyak kata-kata yang hilang dalam satu kalimat sehingga pembaca harus menyimpulkan sendiri.

Itu tadi kesalahan-kesalahan yang sering saya temukan. Mau contohnya? Baca aja sendiri novelnya! (promo macam apa ini?!) Nah seperti yang saya bilang, saya ingin mengomeli penulis mengenai hal ini, ANDAI SAJA ini masih berbentuk naskah, belum diterbitkan jadi buku. Namun berhubung ini adalah buku yang sudah terbit, maka.... Halo penyunting dan penyelaras akhir yang namanya tercantum dalam buku... bagaimana sih kok bisa salah banyak begini? Sebenarnya proses pemeriksaan naskah yang kalian lakukan bagaimana sih? Ini murni salah kalian, lho! Kalau nggak suka dengan naskah penulis yang masih kacau, ngapain diterima? Kalau sudah diterima penerbit dan kalian diminta memeriksa, lha kok malah hasilnya masih berantakan? Serius, deh!

Pernah nonton film di bioskop, kan? Sebagus, se-box office apa pun film yang sedang kita tonton. Namun bayangkan kalau sebentar-sebentar ada penonton lain hilir-mudik lewat di depan layar, suara film sering hilang-muncul, atau mendadak layarnya sering buram.

Masih bisa menikmati filmnya nggak, sih? Oh, bisa aja kayaknya ya kalau dipaksakan. Ya, begitulah yang saya rasakan saat baca novel ini. :(

Ooh, satu yang membuat saya tertarik dengan novel ini adalah sampulnya yang keren dengan perpaduan tiga warna. Itu yang membuat saya memilih novel ini untuk dibaca pertama dari tiga buntelan yang diberikan Moka. Seandainya ya tim penyunting dan penyelaras akhir bekerja sebaik pendesain sampul. :/

24082014: baru meralat tentang hal baik lain di novel ini yaitu sampulnya yang keren dan colorful, eh Abbas kasih tahu kalau kovernya terinspirasi sama novel "Me and Earl and The Dying Girl". Pas coba browsing, yaelah bener, pola tiga warna dan susunannya, juga ada awan dan matahari. sama. pffffft. -_-
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books71 followers
December 9, 2014
Saya suka covernya. Warnanya manis banget. Dari gambar cover saya bisa menarik kesimpulan awal, bahwa novel ini tentang remaja di SMU. I like the colour :)

Novel ini bercerita tentang seorang remaja pria bernama Reizo (namanya unik) yang dikatakan di sini bahwa dia berandalan. Oleh karena keberandalannya itu, Florina, seorang gadis teman sekolahnya Reizo, penasaran dan ingin menulis novel tentang Reizo.

Awalnya Reizo tentu saja menolak! Mana enak diikuti orang kemana-mana. Ruang gerak pasti akan terbatas jadinya. Tapi karena Florina cantik dan sepertinya Reizo terkesan sama gadis ini (saya sedikit risih membaca kata 'cewek' kok kayaknya gimanaaa gitu) akhirnya Florina diperbolehkan mengikutinya dan menjadikannya bahan riset untuk novelnya.

Suatu hari, mereka terjebak di sebuah tawuran, dan Reizo melindungi Florina dari kejaran anak-anak tawuran. Setelahnya, Florina berkata kalau dia tidak akan melanjutkan lagi risetnya karena Reizo sudah menyelamatkan dia, which means, sebelumnya mereka sudah punya perjanjian bahwa gadis itu akan berhenti mengikuti Reizo, kalau Reizo ternyata harus menyelamatkan dia.

Selanjutnya, hari-hari Reizo menjadi sepi karena ketidakhadiran Florina. Biasanya gadis itu selalu mengikutinya, kini Reizo kemana-mana sendiri. Yah, biasa deh, kalau sudah kehilangan kan baru berasa memiliki. *curcol dikit*

Anyway, Reizo yang sejak awal bermasalah dengan ayahnya, akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah setelah bertengkar. Reizo meminta Florina untuk mengijinkannya menginap di rumah gadis itu. Dan setelah kedua orang tua Florina setuju, Reizo pun tinggal bersama keluarga Florina.

Secara keseluruhan, novel ini seperti berisi kegalauan. Saya jadi ingat novel yang judulnya The Catcher in the Rye, karangan J.D. Salinger. Isinya tentang anak remaja pria yang galau abieeesss... Nah, novel ini kurang lebih sama deh gitu. Isinya jalan pikiran Reizo.

Tetapi kadang saya dibingungkan dengan adegan di dalamnya. Saat Reizo sedang ngomong sama Florina, pernah seperti sedang ngomong sendiri. Kalau soal typo nggak usah diragukan lagi. Buanyak!! Ini nih memang masalah besar kalau tidak diperhatikan dengan seksama *PR buat editornya ya :)*

Untuk plot, novel ini cenderung datar memang. Tidak ada konflik yang gimana gitu. Gregetnya jadi kurang. Padahal kehidupan seorang berandalan kan mestinya naik-turun seperti roller coaster, mungkin kalau dieksplore lagi bisa dapet yang 'menggigit.' Reizo juga tampak seperti anak SMU galau biasa. Nggak berasa berandalannya.

Bahasanya untuk novel remaja, terlalu baku dan berbunga-bunga. Kurang cocok dengan pangsa pasarnya yang mungkin lebih pas kalau pakai 'lo' 'gua'. Tapi kalau memang sedang cari novel yang super-ringan-tanpa-konflik-tanpa-mikir, boleh lah baca novel ini.
20 reviews1 follower
September 24, 2014
Saya baru baca semalam setelah lebih dari dua minggu yang lalu membeli novel ini. Masalahnya saya cukup lapar dan perasaan itu mengganggu tiap memegang buku ini. Rasanya saya mau menghabiskan covernya. Terlihat menggiurkan kalo tulisan cinta/pergi tidak diacuhkan. jadi setelah dengan perasaan kenyang saya baru berani membaca buku ini.

Untuk 30 halaman pertama penulisnya cukup membuat saya penasaran dengan Florina dan Reizo. Terlepas dengan satu kata yang tidak sesuai dengan gambaran bahasa baku yang digunakan. Saya beneran berusaha terbiasa penggunaan kata cewek dicerita itu diantara dialog yang aku saya dan kamu di buku ini dan ternyata ada inkonsistensi ditengah dan akhir cerita ini kadang menggunakan cewek kadang gadis.
Ketika sudah sampai halaman 90 saya menikmati perkembangan cerita. Jujur akhirnya tidak terlalu seperti yang saya duga dan itu berarti bagus, karena kalau sampai sesuai berarti saya beru saja membaca sinetron yang dibukukan. setengah selanjutnya sebenarnya sudah mulai ketebak arahnya. Saya mencoba tidak meng skip, tapi ngeliat sisa halamannya tinggal sedikit rasanya sayang juga di skip. Jadi saya tetap membacanya.

Salah satu bab favorit saya adalah yang ke sebelas. Jujur saya hampir nangis tapi ternyata tidak jadi. Mungkin eksekusi dibagian saat emosi Rei dan ayahnya ngobrol perlu lebih dikuatkan. sayang sekali karena penulis jelas sudah berusaha membangun chemistry yang bagus di sana.

Oh iya Ada quote di awal bab itu menggambarkan apa yang akan kita temui nanti, Walau saya berharap judul buku qoute juga tulis, itu salah satu bagian yang suka.

Tapi ada yang membuat saya berpikir kalau ini jaman sekarang dan memilih untuk tidak saling berkomunikasi. Itu kan aneh, apalagi ada yang namanya sosial media. Jadi saya ngerasa aneh aja Rei kehilangan kontak padahal masih bisa mencari tahu soal si Flo ini. Jadi seakan akan akhirnya sebenernya bukan ini tapi di rubah jadi ini. Tapi ini cuma perasaan saya aja sih.

Hmm sepertinya ini saja. Novelnya pendek dan konfliknya sebenernya cuma satu. saya tidak berasa baca novel sih ini.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Natalia.
17 reviews1 follower
February 4, 2017
Tanggal 4 buku ke-4 tahun ini!

Saya baca buku ini karena bukunya ada di atas meja (kakak saya yang pinjam dari perpus) dan saya tahu penulis adalah teman kakak saya di komunitas menulis, dan saya penasaran gimana hasil karya beliau.

Ini adalah satu karya teenlit dalam negeri yang lumayan betah saya baca sampai selesai selain Fairish karya Mbak Esti Kinasih dan Kana di Negeri Kiwi karya Mbak Rosemary Kesauly karena gaya bahasanya. Satu hal yang baik karena dalam kasus novel-novel teenlit dalam negeri, seringnya habis baca halaman pertama saya ogah nerusin, terus saya lempar bukunya jauh-jauh (nggak jauh-jauh amat sih tapi beneran saya lempar).

Tapi ternyata setelah saya baca sampai selesai, rasanya ampang. Seharusnya cerita ini bisa bagus tapi ampang. Kenapa?? Saya jadi ingat tips menulis yang pernah saya baca di suatu situs yang kira-kira berbunyi: "show" not "tell". Dan si Rei (tokoh utama) ini kebanyakan "tell" yang bikin saya hanya bisa bayangin orang-orang tanpa wajah dan garis-garis ala kadarnya sebagai ruang di latar belakang. Emosinya hampir nggak ada, ya ampang itu tadi. Belum lagi typo parah yang bikin saya mikir ni editor makan gaji buta, ya?

Setelah saya baca review teman-teman goodreads tentang buku ini yang menyebutkan ada campur tangan editor yang menurut perkiraan saya tidak sepatutnya terjadi, saya turut menyayangkannya. Yah, pembaca yang lain mana tahu?

Kira-kira itu saja yang ingin saya sampaikan karena saya tidak pandai membuat review, lagipula beberapa review yang sudah ada cukup rinci dan bisa menjelaskan dengan lebih baik apa yang juga saya rasakan.

Semangat, Mas Herjuno! Saya tunggu karya selanjutnya, semoga bisa lebih baik lagi.
Profile Image for Eka Situmorang-Sir.
171 reviews26 followers
September 1, 2014
Suka deh sama cover buku ini. Sederhana tapi penuh warna. Persis kayak masa-masa remaja :).

Novel perdana dari Herjuno Tisnoaji ini berkisah tentang persahabatan Florina dan Rei. Cewek dan cowok satu sekolah yang dekat karena ada project pembuatan novel. Saat mulai membacanya langsung terlontar pertanyaan di kepala. Ada gitu cinta platonis dalam persahabatan lain jenis? Dan pertanyaan saya terjawab di akhir cerita. Hehe.

Menggunakan plot maju, ide novel ini orisinil walaupun tema besarnya adalah tema yang sangat umum dalam dunia remaja. Mengenai jalan ceritanya sendiri, menurut saya terlalu lambat tapi mengingat ini adalah one-go-novel saya pun maklum.

Novel ini juga terlalu deskriptif, terlalu banyak pemikiran-pemikiran di dalam kepala tokoh utama yang andai saja diterjemahkan menjadi dialog-dialog akan membuat novel ini terasa lebih hidup.

Sesungguhnya saya berharap banyak dari novel ini melihat cover-nya yang menarik banget itu. Saya pikir saya akan dapat bernostalgia dengan masa-masa SMA saya. Tapi saya salah :) Ada banyak sisi emosional para tokohnya yang kurang digali. Contohnya adalah sisi berandalan si Rei, tokoh utama. Dari awal hingga akhir novel saya tidak mendapatkan gambaran yang tegas soal berandalannya. Yang terbaca malah Rei ini lemah lembut amat. Lalu kesannya dunia cumamilik Rei dan Flo aja, nggak ada teman lain yang dekat yang membumbui cerita.
Namun ada satu yang menyenangkan. Twist di ending cerita cukup membuat sedikit hentakan dan gumaman... "Oooh ceritanya begini toh."

Profile Image for Rio Pambudi.
Author 2 books
May 3, 2016
Saya baru pertama kali ke Gramedia sekitar tahun 2014, dan langsung melihat novel ini. Melihat nama pengarangnya yang cukup saya kenal di Kemudian.com, saya enggak berpikir dua kali untuk membelinya (lagipula harganya cukup murah). Sekitar 24 jam kemudian, novel ini sudah saya baca sampai habis, dan sudah saya berikan masukan ke penulisnya langsung lewat pesan Facebook.

Sekarang saya memutuskan untuk menuliskan masukan itu di Goodreads juga (karena baru bikin akun Goodreads).

Manis sekali novel ini. Tapi, mungkin, akan lebih manis kalau tidak banyak yang salah ketik. Konon (setelah konfirmasi ke penulis) salah ketik itu muncul baru setelah naskah berada di tangan penerbit. Pascaediting. Saya sudah menduganya, karena saya tahu Mas Herjuno jarang sekali menyisakan salah ketik. Hal lainnya yang berubah pascaediting adalah warna kesukaan Rei. Kata Mas Herjuno, warna kesukaan Rei adalah "biru". Tapi tahu-tahu diubah jadi "awan" oleh editor.

Ngomong-ngomong soal nama Rei, juga tokoh lainnya. Kenapa namanya justru kebarat-baratan? Kenapa anak panti asuhan namanya begitu? Surabaya sempat disebut-sebut, tapi kota yang menjadi latar cerita itu malah tidak disebutkan sama sekali.
Profile Image for Sari Widiarti.
68 reviews3 followers
August 20, 2020
Resensi ini amat sangat mengandung spoiler karena aku akan mengadakan kuis di twitter, jadi spoiler bertujuan untuk membuat pembaca menjadi penasaran.

Cinta / Pergi merupakan novel remaja yang menggunakan POV 1 yaitu menceritakan kehidupan Reizo Maruta Cendekia (Rei) yang tiba - tiba bertemu dengan seorang cewek bernama Florina Utami (Flo). Di mata Rei, Flo merupakan cewek yang paling menyebalkan karena setiap hari selalu mengikuti Rei kemana ia pergi. Flo selalu mengikuti Rei karena Rei merupakan subjek pengamatan untuk novel yang sedang ditulis oleh Flo. Hmm... apakah tujuan Flo selalu mengikuti Rei hanya untuk menulis novel?

Mau tidak mau dan berhubung Flo seakan memiliki radar yang selalu berhasil menemukan Rei kemanapun ia pergi. Akhirnya, mereka berdua memiliki kesepakatan. Flo bisa mengamati Rei sepuasnya higga batas yang ditentukan. Tapi, nayatanya perjanjian itu justru mengubah seluruh kehidupan Rei.


Selengkapnya : http://resensibukublog.blogspot.com/2...
Profile Image for Dodi Prananda.
Author 18 books41 followers
August 25, 2014
(+)Manis, tapi sayang sekali, begitu tipis.
(-)Typo bertebaran di mana-mana, menganggu.
(-)Katanya Reizo berandalan, tapi nggak ada yang menunjukkan itu...
(-)Karakter ayah dan bunda Reizo begitu ajaib.
(+)Gaya penuturannya mengalir. Aku suka.
Profile Image for Vannessa.
2 reviews
August 22, 2014
Halaman 5 " aku tidak kuat "
Nessa memang tidak kuat bacanya.
1 review
March 9, 2015
judulnya menarik
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.