Nala bertemu dengan Rama yang mempertanyakan jati dirinya sebab asanya terpaksa ditenggelamkan demi tanggung jawab yang harus diemban. Banyak hal direlakan, lebih dari yang dibayangkan. Rama bersama dengan Nala yang mencari jati dirinya atas segala ekspektasi yang–tidak benar-benar–ingin dipenuhi. Padahal hanya selalu berujung pada rasa frustrasi. Keduanya ingin mencoba duduk dan bernapas sejenak, tanpa harus terus berlari hanya untuk berebut ruang di setiap harinya.
Karena aku baca buku ini tanpa baca review sama sekali, aku pikir buku ini akan hanya fokus ke romance, ternyata salah besar.
Buku ini fokus utamanya bicara tentang Rama dan prosesnya berdamai dengan kehilangan dengan posisinya sebagai anak pertama dengan 2 adik kembar.
Nala yang awalnya selalu punya Kala—kakaknya—sebagai tempat dia bercerita apapun, semakin tumbuh, semakin merenggangkan jarak. Nala merasa tumbuh dengan bayang-bayang kakaknya, yang menurut Nala, selalu lebih pintar dalam segala hal dan bisa diandalkan.
Nala merasa nggak bisa diandalkan, padahal dia mau. Terlebih ketika menjadikan kakaknya panutan tapi di beberapa hal dia selalu merasa gagal jadi seperti Kala.
Lebih dari itu, buku ini banyak membahas hal-hal lain yang sangat dekat dengan kehidupan kita.
Aku suka penokohannya yang sangat realistis tanpa banyak drama, nggak terkesan lebay sama sekali.
Jujur, aku beneran clueless soal siapa yang bakal naksir duluan dan nggak nyangka juga bakal begitu confessnya wkwk. DAAAN, HALAMAN-HALAMAN SETELAHNYA JUSTRU BIKIN AKU AMAZED, penulis sama sekali nggak menghilangkan fokus utama dan yep. POKOKNYA APA YA, ROMANCE-NYA TUH REALISTIS PARAH.
Penulis membangun kedekatan Rama & Nala nih nyata dan apa adanya. Nggak yg ujug-ujug deket.
Karena pakai pov 1 dengan 2 tokoh secara bergantian. Kita bisa liat perkembangan arti keberadaan satu sama lain untuk mereka ini.
Dan kita ngikutin banget kalau mereka berdua ini beneran saling bantu membantu tapi nggak menggurui satu sama lain. Aku suka banget romance kayak gini.
Rama dengan kekurangannya, Nala pun begitu. Mereka beneran 2 manusia yang belajar lewat satu sama lain, bareng-bareng.
Aku suka sekali kehangatan keluarga Kala ke Rama.
Dan untuk Rama, jujur, banyak banget hal relate dari dia. Kuat & luas banget hatinya huhu.
Nala juga begitu.
Perkembangan karakter 2 tokoh ini pelan tapi di akhir beneran bikin terharu.
Tokoh lain yang muncul seperti Kala, dan Naura juga huhu. Naura, kamu ga salah, ga ada yang salah. Semua tokoh-tokoh di sini punya peranan yang pas untuk perkembangan 2 tokoh utamanya.
Menurutku, poin paling besar dari buku ini adalah, dalam proses menerima, ga ada tahapan tertentu. Kita bisa aja ikhlas hari ini, marah besok, lebih lapang besoknya lagi, lalu kecewa lagi.
Kita cuma manusia.Terima aja fakta bahwa dalam proses penerimaan pun, kita bisa gagal berkali-kali.
Buku ini menjadi salah satu buku pembuka yang cukup manis untuk aku baca di awal tahun. Jadi sebenarnya, bacaan ini sudah aku selesaikan dari tiga bulan lalu namun baru sempat aku review. Buku ini merupakan spin off dari judul pertamanya ‘My Youth’ yang menceritakan tentang tokoh bernama Rama dan Nala yang merupakan sahabat dan adik perempuan dari Gyanendra Kala.
Menceritakan tentang perasaan dan hari-hari Rama yang kosong setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Ia mau tidak mau harus terus melanjutkan hidupnya walau terus dengan perasaan yang masih mengambang tertinggal di masa lalu, demi kedua adik kembarnya yang masih kecil, Janeeta dan Janeisha.
Rama yang harus terus berusaha kuat dan banyak tersenyum di depan adiknya untuk mengusahakan segala sesuatu, membuat dia menjadi lebih tertutup akan emosi yang dimiliki, juga mengabaikan segala rasa kehilangan yang sebenarnya masih menyelimuti. Ia sudah kenal lama dengan Nala, adik dari sahabatnya bersama Kala sejak di bangku sekolah. Keluarga Nala sudah menganggap Rama sebagai bagian dari keluarga.
Nala yang kala itu tengah merasakan patah hati karena Dika, kekasihnya yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri membuat ia menjadi sering bermain ke Kafe Akshaya, tempat di mana Rama bekerja. Nala banyak menghabiskan waktunya dengan melamun di kafe itu. Dari situlah mereka berdua menjadi sering berinteraksi.
Selalu dan selalu, tulisan Kak Gia tuh punya tempat tersendiri buat aku. Kalau My Youth isinya penuh inspirasi dan aku jadi kagum sama kedua karakter utama, buku yang kali ini tuh rasanya aku seperti dipeluk, tentang bagaimana seseorang harus menghadapi kehilangan, menjalani hidup setelahnya, pun termasuk apabila kamu menjadi tempat bersadar seseorang yang baru saja mengalami kehilangan.
Tulisannya sangat hangat, alur cerita yang nyaman dan detail, surprisingly nggak bikin ngantuk! Dan menariknya, novel ini tuh kasih kamu pengalaman yang baru, karena di pertengahan cerita, novelnya bisa dibalik, LITERALLY KEBALIK! Kok ya, bisa kepikiran? Kak Gi, stop keren EH NGGAK DENG kamu memang keren terus. Isi cerita dan pesannya banyak sekali tapi tidak berkesan menggurui, cocok untuk kamu yang pengen baca buku yang ringan tapi juga hangat, selamat membaca!
Ga nyangka dari yang aku kira ceritanya mungkin sebatas romance aja, tapi makna dan character development masing2 dalem banget. Ada banyak hal yang relate juga.
Seperti pengingat akan “tanggung jawab, bukan beban” dan “memanusiakan diri lebih baik” sebelum berfokus memastikan yang lainnya baik baik saja rasanya nyes…. Baru kali ini aku merasa dipahami.
Highly recommend this to be read. Khususnya para sandwich generation.
Mari kita belajar mengambil jeda, memberanikan diri meminta bantuan, dan mengasihi diri lebih baik ❤️
My universe menceritakan bagaimana cara Ramadhika Kheirrizad Adipraya hidup berdampingan dengan kehilangan, proses pengelolaan emosi dan mengenal dirinya. Rama selalu menempatkan diri sebagai seorang kakak, keponakan, cucu, juga teman yang baik. Tapi ia lupa bagaimana caranya hidup sebagai seorang "Rama". Juga proses Gyaneeka Nala Paramitha untuk menerima dan menghargai segala usahanya sendiri, bukan hanya menganggap semua usahanya hanya untuk menyeimbangkan posisinya dengan sang kakak, G. Kala Pramadita.
Aku sedikit banyak relate dengan Rama dan krisis jati dirinya, tentunya dengan masalah dan pengalaman yang berbeda. Selalu hidup untuk orang lain, lupa dengan diri sendiri, merasa harus memenuhi peran ini dan itu, juga tidak bisa banyak bercerita tentang diriku padahal aku butuh. Dan benar, aku butuh sosok seperti Nala dalam hidupku!!!
Gimana ya ngomongnya, kalo cuma ngomong "bukunya bagus banget" tuh rasanya kuraaaaaang. Dengan desain cover yang dan konsep buku yang unik, experience baca my universe tuh bener bener SESUATUUU gitu.
Secara isi pun wah jangan ditanya. Latar belakang dari Nala dan Rama yang begitu beda tuh kayak saling melengkapi dan klop. Character development dari masing masing tokoh juga OKE banget. Emosionalnya selalu dapet, nangisin ini buku tuh kayak effortless banget gt tbtb air mata udah jatoh aja.. brp kali aku nangisin my universe di tj T__T.
This entire review has been hidden because of spoilers.