Buku ini menceritakan tentang kehidupan Jenaka setelah berhasil kembali ke masa depan. Ia berusaha melanjutkan hidup, dan mengubur rasa rindu pada Pram yang mungkin tak akan pernah bisa ditemui lagi. Tetapi, takdir kembali mempertemukannya dengan Pram setelah tujuh tahun perpisahan. Mereka pun mencoba menata perasaan yang masih tertinggal, serta menikmati momen pertemuan tersebut.
Namun saat hubungan keduanya mulai menemukan arah, sebuah surat misterius datang meminta mereka kembali. Awalnya Jenaka ragu, tapi disisi lain ia juga rindu pada masa lalu. Lantas, keduanya pun pergi melintasi waktu tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi.
–
Aku nggak nyangka bakal langsung segini emosinya sejak membaca halaman awal buku ini. Ceritanya dibuka dengan pertemuan antara Pram dan Jenaka setelah berpisah selama tujuh tahun. Kebayang nggak sih, udah bertahun-tahun berpisah dan nggak tau apakah masih bisa bertemu lagi. Jadi pas akhirnya mereka saling tatap muka, aku beneran ikut terharu. Gimana nggak, ibaratnya aku jadi saksi pertemuan sampai perpisahan mereka, lalu ternyata semesta ngasih kesempatan kedua buat mereka bertemu lagi.
Walau begitu, aku juga paham kalau akan ada terselip perasaan asing yang mereka rasakan. Karena gimana ya, perasaanya mungkin masih sama, tapi sensasinya pasti udah berbeda. Apalagi Pram yang datang dari masa lalu, harus beradaptasi dengan dunia yang udah berubah jauh dari yang dia kenal. Tapi demi Jenaka, dia berusaha keras untuk mengenal masa depan.
Sementara Jenaka sendiri juga nggak diem aja. Sebagai perempuan yang terkenal mandiri dan ambisius, yang hidupnya cuma berputar di pekerjaan, bahkan jarang deket sama laki-laki. Kehadiran Pram tentu bikin keluarganya bertanya-tanya. Nah, dibagian inilah kita diperlihatkan effort keduanya. Jenaka yang selalu melindungi Pram dari pertanyaan sulit dan ngenalin soal dunianya. Sedangkan Pram selalu punya cara buat meluluhkan hati keluarga Jenaka. Tapi momen ini nggak berlangsung lama karena ketika sebuah surat misterius datang meminta mereka kembali ke masa lalu, cerita sesungguhnya baru dimulai.
Dari segi alur, buku ini pakai alur maju yang disusun dengan rapi dan jelas, jadi nggak bikin bingung. Meskipun ceritanya terdiri dari dua masa, transisinya tuh halus banget. Nggak ada bagian yang terasa lompat-lompat, semuanya mengalir dengan ritme yang pas. Akan tetapi di bagian saat Pram berusaha mengenal masa kini, pace ceritanya agak sedikit lebih lambat.
Yang bikin buku ini makin asik diselami, deskripsi settingnya terasa hidup banget. Atmosfer Batavia tahun 1930-an nya benar-benar terasa nyata. Aku jadi merasa ikut mereka berpetualang di masa itu juga. Penggambaran setiap detailnya tuh pas dan nggak berlebihan, tapi malah bikin nuansanya lebih kuat. Hal ini didukung dengan narasinya yang ringan, ngalir, dan bahasanya juga simpel, jadi lebih gampang dicerna.
Salah satu hal yang paling aku suka dari buku ini adalah penokohannya. Untuk karakter, Jenaka tuh masih sama kayak di SUJ, keras kepala ditambah selalu ngikutin logika daripada kata hati. Jarang banget tokoh perempuan punya karakter kayak gini, tapi justru hal inilah yang bikin dia menarik. Akan tetapi, di sini kita diperlihatkan sisi lain Jenaka. Semua yang dia alami bikin dia goyah, bahkan hampir nyerah. Tapi yang aku suka harapannya nggak pernah padam. Dan setelah melewati semua itu, dia tumbuh jadi sosok baru yang lebih tangguh untuk melawan ketidakadilan.
Kalau ngomongin soal karakter Pramoedya, duh di mana ya nyari cowok kayak begini?! Pram tipe cowok yang terlalu sempurna, eh tapi manusia kan gak ada yang sempurna haha. Maksudnya terlalu sempurna buat ada di dunia nyata! Dia tuh pengertian, sabar, lembut tapi juga tegas, dan selalu punya cara tersendiri buat nunjukin rasa sayangnya. Pokoknya tiap Pram muncul aku tuh langsung kesemsem banget, tapi sayangnya hatinya bukan untukku, dan semua perlakuan itu khusus untuk Mbak Jenaka seorang😌
Lalu tokoh yang nyuri perhatianku adalah Jetis, kakak Jenaka. Kalau di SUJ karakternya kurang tereskplor alias cuma jadi tokoh sampingan, di sini dia lumayan punya andil besar dalam ceritanya. Hubungan kakak-adik antara mereka tuh realistis banget, saling sayang tapi nggak jarang juga saling berdebat. Meskipun begitu, Jetis akan selalu jadi orang pertama yang khawatir kalau adiknya kenapa-kenapa.
Menariknya, buku ini nggak cuma menghadirkan momen manis antara Pram dan Jenaka aja, tapi juga momen lucu antara Pram dengan Jetis dan ayah mereka. Gimana keduanya selalu naruh rasa curiga ke Pram yang bukannya bikin tegang, malah jadinya lucu banget. Terus bagian yang paling kocak tuh pas Jetis bersikap sok tegas, tapi ujungnya tetap kalah kalau udah debat sama Pram😆 Akan tetapi, bagian paling menarik justru waktu mereka balik ke masa lalu. Momen-momen menegangkan yang mereka alami suskes bikin aku deg-degan, takut endingnya gak sesuai harapan😭
Oh iya, di buku ini romansa antara Jenaka dan Pram bukan jadi fokus utama cerita. Di sini isu mengenai perempuan di masa kolonial lebih mendominasi. Tentang bagaimana perempuan pribumi yang selalu di pandang sebelah mata, nggak bebas bersuara dan menentukan pilihan, serta nggak di dengar. Rasanya ketika baca bagian ini tuh nyesek banget, karena gimana ya, bahkan sampai sekarang kayaknya masih ada yang diperlakukan begini🥲
Overall, buku ini jadi salah satu bacaan yang berkesan buatku, dan kalau kalian suka cerita romance dengan nuansa sejarah, ditambah karakter perempuan yang punya pendirian kuat, aku saranin buat baca Kembali ke Batavia✨️