Jump to ratings and reviews
Rate this book

Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis

Rate this book
Buku ini berisi cerpen karya A.A. Navis sejak tahun 1955 hingga tahun 2002 dan 2 cerpen yang tidak diketahui tahun pembuatannya. Antologi ini sengaja diterbitkan sebagai bentuk penghargaan terhadap salah satu tokoh di dunia sastra Indonesia ini.

776 pages, Paperback

First published January 1, 2004

20 people are currently reading
287 people want to read

About the author

A.A. Navis

31 books97 followers
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
55 (45%)
4 stars
50 (41%)
3 stars
11 (9%)
2 stars
3 (2%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
November 29, 2008
Mempertanyakan Keberpihakan Tuhan

Pernahkah terlintas dalam benak anda, jika anda percaya akan keberadaannya, seperti apakah neraka itu? Orang seperti apa yang masuk ke sana? Kenapa orang masuk ke sana? Ibadah dan agama adalah salah satu bagian utama dari kehidupan bangsa kita Indonesia, jadi sejak kecil istilah surga dan neraka bukanlah hal yang asing bagi telinga kita.

Cerpen yang ditulis tahun 1956 ini sedikit banyak memberikan pandangan akan pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan lebih jauh lagi, menegur kita manusia yang sepertinya lupa hal terpenting dalam beragama tersebut. AA Navis sepertinya melihat kecenderungan yang mengarah pada keadaan ini dan menuangkannya dalam sebuah kisah yang tidak lekang dengan waktu.

Di sebuah desa, ada seorang kakek yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Baginya bukan suatu masalah jika ia tidak berkeluarga, hidup sendiri tanpa istri yang berada di sisinya saat suka dan duka atau keturunan untuk disayangi dan dikasihi. Menyembah dan mewartakan nama Tuhan adalah segalanya dalam hidupnya.

Ini sudah menjadi keputusan si kakek, bukan karena dorongan orang lain atau keadaan yang memaksanya demikian. Baginya memukul beduk mengingatkan orang lain untuk sembahyang, membaca ayat-ayat suci di Kitab dan memuji nama Tuhan jauh lebih penting daripada kekayaan dan rumah yang megah. Intinya, hidupnya hanya berkisar pada Tuhan, termasuk menjaga surau yang ada di desanya tersebut.

Dengan ahli AA Navis, yang bertindak sebagai narator penghubung dalam kisah ini, memunculkan tokoh Ajo Sidi. Keberadaannya di desa itu populer karena dia pintar membuat banyak kisah dengan karakter orang di desa itu menjadi inti ceritanya. Orang mungkin menyebutnya si pembual namun, karena sejak dahulu manusia selalu tertarik dengan kisah-kisah menarik, orang-orang desa tetap mendengarkan bualan Ajo Sidi tersebut. Kali ini yang menjadi tokoh cerita Ajo Sidi adalah karakter yang menggambarkan si kakek penjaga surau.

Dia mengisahkan seorang yang, seperti halnya si kakek, menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Tokoh ini, yang diberi nama Haji Saleh, sangat meyakini bahwa tiada tempat baginya di akhirat selain di surga. Dengan penuh percaya diri dia menunggu gilirannya untuk ikut rombongan yang masuk ke surga sambil mencibir pada mereka yang masuk ke neraka. Inti terpenting dari cerpen ini dibuat dalam bentuk dialog menarik antara manusia percaya diri dengan Tuhan sendiri. Dalam setiap percakapan kita bisa melihat dan merasakan sedikit demi sedikit Haji Saleh mulai kehilangan kepercayaan dirinya padahal apa yang ditanya oleh Tuhan hanyalah apa yang dikerjakannya selama dia hidup.

Haji Saleh dimasukkan ke neraka, bahkan di saat-saat akhir interogasi Tuhan pun dia sudah merasakan hawa panas di tubuhnya. Dia tidak bisa mengerti mengapa dia yang selama hidupnya hidup untuk Tuhan bisa berada di tempat yang seharusnya, menurutnya, untuk orang-orang yang tidak beribadah dan mengenal Tuhan. Dan dia bukan satu-satunya. Merasa bingung dan tidak puas dengan pengaturan tersebut, Haji Saleh dan sekelompok orang yang berpikiran sama pun kembali menghadap Tuhan. Sekali lagi terjalin percakapan menarik dan kali ini Tuhan menjelaskan mengapa bukan surga yang layak untuk mereka tempati.

Keegoisan manusia digambarkan AA Navis sebagai hal yang membuat beberapa orang bernasib bertolak belakang dengan harapan mereka. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja keras di dunia yang dipersiapkannya. Hidup bersama dengan orang lain dan saling membantu layaknya sesama manusia. Sayang ada orang yang menjadikan Tuhan sebagai intisari kehidupan mereka dan tiada hal lain yang penting. Bahkan mungkin saja ada orang yang rajin ibadah bukan karena kepercayaannya namun karena rasa takut masuk ke neraka, jadi dia beribadah lebih dari orang lain supaya bisa masuk ke surga. Mereka lupa inti terpenting dalam kehidupan tersebut yakni beramal di samping beribadat, dan bagaimana bisa beramal ketika mereka tidak mencari nafkah dan malah menelantarkan keluarganya demi kepentingan diri mereka sendiri di akhirat nantinya.

Cerpen ini membuat kita mempertanyakan kembali diri kita sendiri sekaligus berpikir mengapa Tuhan bersikap seperti itu, apa yang sebenarnya salah dalam pemikiran orang-orang seperti si kakek dan Haji Saleh. Ternyata Tuhan memiliki caranya sendiri dan walau kita menggunakan semua rasio yang kita anggap benar, AA Navis mengingatkan kita bahwa tidak demikian adanya.

Bagaimana dengan si kakek? Awalnya dia sangat marah dengan Ajo Sidi. Sama seperti Haji Saleh yang bertanya pada sang malaikat pengiringnya, kakek bertanya pada dirinya sendiri apakah salah menyembah Tuhan seperti yang mereka lakukan itu? Sepertinya si kakek menemukan jawaban dari semua pertanyaannya dan memilih jalan yang paling jelas untuk dilakukan.


catatan: tulisan ini dibuat setahun yang lalu di kelas basic writing for media sbm
Profile Image for Aenearisfine Gmailcom.
9 reviews4 followers
January 25, 2010
Ali Akbar Navis dalam alter ego sebagai si Dali. Tentu dengan keegoisan seorang Pengarang yang seenak udele menggambarkan konsep surga dan agama dalam tuntunan bukan TUNTUTAN dengan Dali, alter egonya ataupun tokoh dr pengamatan matanya yg lain.

Sesederhana itu kah ia mengkritik satu dan beberapa pandangan dalam masyarakat? Tidak. Bagi seorang Navis, satu konsep yang dianggap dan diterima sebagai yang layak tak semudah diterima sebagai kelayakan. Namun tidak dengan kritikan yang semata mengkritik kosong, Navis bercerita dengan cara yang lucu, satire dan diakhiri anggukan kita sebagai pembaca.

Pada beberapa bagian cerpennya ia benar-benar hadir sebagai seorang Navis, yang apa adanya, yang tak tunduk pada pemimpin. 'buat apa aku memaksakan pakai batik hanya untuk bertemu Presiden. Lebih baik TIDAK', seorang tua yang tak berusaha bijak mengucap kalimat yang terdengar menggelitik kita yang cenderung memakai topeng demi bertemu dengan Pemimpin.

Mungkin karena lahir dan besar di lingkungan yang 'bukan Jawa', hingga tidak ada kata 'menjilat' di kamusnya.

Perjalanan hidupnya yang sederhana, yang penuh petualangan di jaman perang menjadikan ia cukup sebagai gambaran realitas seorang tua yang dengan kerut2 wajahnya bisa temui di pintu rumah dan berdongeng.

Apa kita biasa menyebutnya? KAKEK... ya KAKEK.



tuk Kakek Dali



terima kasih telah mewariskan 85 Cerpen dalam antologi nya.
Profile Image for Boyke Rahardian.
356 reviews23 followers
February 4, 2025
Gaya bahasa yang dipakai A.A Navis mudah untuk dikenali. Mungkin karena seperti yang ditulis dalam pengantarnya, ia mengaku selalu merasa kesulitan untuk menulis dalam bahasa Indonesia. Makanya pengaruh dialek Minang terasa sekali dalam tulisan-tulisannya. Saat membaca cerita yang ditulis di tahun 50-60an kita seperti dibawa melalui lorong waktu merasakan pengalaman, kebiasaan, hubungan sosial dan adat istiadat pada masa tersebut: ia banyak menggali tema dari periode pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan pemberontakan PRRI di Sumatera. Tentu saja tidak semua cerpennya bertema perang, seperti contohnya "Robohnya Surau Kami" yang termasyhur itu. Banyak pula yang menggali tema repotnya berurusan dengan birokrasi, pejabat, partai politik dan tentu saja korupsi, yang sialnya masih saja terasa relevan saat ini.
Profile Image for Imam.
10 reviews
January 14, 2011
Dulu di multiply saya pernah tulisa mengenai buku ini, buka yang berisi elok bahasa dan kedalaman makna. Ini tulisan saya dulu:

sebulan ini gw lagi baca buku antologi cerpen dari A.A. Navis. buku ini gw beli di pameran buku, lumayan diskonnya. dulu waktu gw pengen banget beli kalau gak salah harganya diatas 80 ribu, tapi waktu itu cuma 50 ribuan lah. lumayan lah, worth it, sebab gw tau kalau penulis ini kalau udah nulis isinya nancep banget ke batin dan kasih pengertian baru tentang banyak hal dalam kehidupan.
Buku ini jadi begitu penting ketika gw seringkali harus merelaksasikan otak gw setelah mencoba mengolah proposal research fellowships yang cuma empat halaman tapi bisa bikin kepala lebih pusink ketimbang waktu gw kerjain skripsi. maka jadilah gw baca buku itu tiap malam. gw baca buku itu dengna melompat-lompat halaman, tiap cerpen biasanya satu malam..lama-lama gw terhanyut dalam emosi navis..dia semakin provokatif menyuguhkan
setelah gw baca beberapa cerpen..gw nangkap satu kata kunci dalam tulisan a.navis. dia bicara penyesalan. gw sempet diskusiin ini sama temen satu kos gw, samsul manusia lawas penggila sastra lawas juga. ia juga mengiyakan kalau navis banyak menulis tentang penyesalan. apa mungkin juga gw bisa hanyut kedalam emosi tokoh karena bicarakan tentang emosi penyesalan..
sekitar jam sebelas malam, gw baca ulang beberapa cerpen..lantas gw sadar bahwa navis juga bicara tentang pengikhlasan..a navis memberikan gw pengertian hidup sebulan ini..bahwa segalanya pasti akan melewati itu masalah, penyesalan, dan pengikhlasan...begitu juga gw sekarang sedang merangkak menjalani fase itu..menemukan masalah, penyesalan, dan terakhir yang sekarang gw lakukan adalah pengikhlasan..ya pengikhlasan..

6 Desember 2007
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
January 31, 2017
Keistimewaan buku ini untuk saya bukan terletak pada seberapa banyak cerpen karya A.A Navis telah terkumpul dan juga terdokumentasi dengan baik dalam buku ini. Juga bukan pada cerpen legendarisnya seperti Robohnya Surau Kami. Pada bagian pengantar telah diceritakan soal bagaimana usaha-usaha pengumpulan kembali tulisan-tulisan A.A Navis. Mulai dari pencarian dan penelusuran kembali karya-karya beliau yang tececer pada beberapa publikasi.

Dalam tulisan pembuka itu dapat ditarik sebuah konklusi bahwa kita sebagai bangsa tidak pernah punya sistem dokumentasi yang baik untuk karya sastra. Bahkan, Pusat Dokumentasi HB Jassin sekalipun. Peran perpustakaan Nasional pun tidak ada sama sekali dalam membantu penyusunan antologi ini.

Beberapa persoalan diatas adalah sebuah kritik atas ditemukannya satu karya A.A Navis dalam sebuah mikrofilm di Perpustakaan Nasional Australia. Dengan demikian, terkumpul sudah semua cerpen karya A.A Navis. Tentu hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk berkaca soal kedaulatan negeri ini atas karya-karya sastranya sendiri.
Profile Image for Reyhan.
43 reviews11 followers
April 1, 2008
Buku ini berisi seluruh cerpen-cerpen AA Navis. Mulai dari yang tidak diterbitkan hingga yang terakhir ia tulis sebelum meninggal.
Yah, beliau adalah salah satu penulis cerpen yang saya kagumi karya-karyanya. Dengan adanya buku ini kita dapat mengetahui perjalanan karya-karyanya dan menelisik apa hal-hal tersirat yang ingin disampaikan oleh beliau sepanjang hidupnya melalui cerpen.
Pastinya tidak ada yang bisa melupakan Robohnya Surau Kami karyanya yang menggemparkan pembaca dan kalangan sastra Indonesia (mungkin juga kalangan agamawan yang "tersentil"). Tapi ternyata tidak hanya satu karyanya yang mengusik kesadaran kita akan makna beragama. Coba saja baca Man Rabbuka yang ada di antologi ini.
Dengan membaca antologi ini kita dapat mendapatkan pengalaman sastrawi yang tak terkira (tentunya dengan gaya bahasa dan cerita khas AA Navis) dan tentunya moral dibalik cerita yang akan menambah pemahaman kita akan kehidupan dan segala hal kemanusiaan.
2 reviews1 follower
December 21, 2009
budaya minang tercecer dimana-mana. "man rabbuka" yang misterius itu ternyata cuma biasa2 saja, kalah jauh sama "robohnya surau kami"
Profile Image for Tyas.
Author 38 books90 followers
July 5, 2009
One of the best short-story writers in Indonesia.
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.