Perkenalkan, nama saya Soultan Alif Allende. Saya siswa sekolah menengah pertama. Saat mendapat tugas pelajaran bahasa Indonesia untuk menceritakan siapa tokoh idola saya, yang ada di pikiran saya adalah sosok Abah. Ya, Abah. Abah itu panggilan untuk ayah dalam keluarga yang umumnya kental dengan budaya Arab di Indonesia.
Abah saya bernama Munir. Nama lengkapnya Munir Said Thalib. Sedangkan ibu saya Suciwati dan adik saya Diva Suukyi. Abah, menurut saya, orang biasa yang memiliki keberanian luar biasa dalam memperjuangkan kaum yang tertindas. Beliau sangat dekat dengan buruh serta korban tindak kekerasan, penculikan, dan penghilangan paksa oleh para pelanggar hak asasi manusia (HAM).
Beliau kukuh memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas. Keberaniannya yang luar biasa dalam memperjuangkan HAM itulah yang membuat saya mengidolakan Abah.
Grafisnya memang nggak cantik. Terkesan kaya coretan untuk komik anak-anak malah (bahkan masih lebih banyak komik anak yang tampilan visualnya jauh lebih bagus daripada novel grafis ini). Tapi yang menarik adalah karena ini karya "ringan" tentang Munir yang bisa saya temukan hingga saat ini.
Novel grafis ini membantu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Munir dan yang lebih penting:siapa dan apa peran dari seorang Munir yang kasus kematiannya sempat menghebohkan media nasional hingga internasional pada tahun 2004. Jujur sampai nama Pollycarpus tiba-tiba mencuat dulu, saya tak pernah tahu siapa Munir. Saat itu saya baru masuk SMA. Persoalan berita politik jujur tidak terlalu menarik bagi saya.
Mengapa ia sampai dibunuh? Seberbahaya apakah dia? Buku ini menjelaskan sepak terjang Munir dari beliau lulus kuliah dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Waw. Orang Malang. Bahkan sampai beberapa waktu yang lalu, saya baru ngeh kalau beliau adalah orang Batu (dari selebaran program seleksi puisi untuk Munir yang sempat saya dapat dari grup WA).
Sulaiman Said mengambil pendekatan yang terasa lebih menyentuh dan membumi, yakni mengambil sudut pandang anak Munir: Alif (Soultan Alif Allende) yang di sini digambarkan sepertinya masih SD atau SMP (dalam salah satu adegan, celana seragam sekolahnya diwarnai biru downker). Alif panik karena lupa mengerjakan PR mengarang dari gurunya yang bertema "Idolaku". Ketika ia dipanggil maju ke depan, dengan berbekal kertas kosong, Alif pun berimprovisasi dan bercerita panjang tentang idola sumber inspirasinya: Abah Munir.
Bahkan di akhir masa kuliahnya, Munir masih memikirkan nasib rakyat kecil. Ia menggerakkan para petani untuk mengobarkan demo terhadap pihak universitas yang saat itu hampir saja melahap lahan milik petani untuk perluasan wilayah. Aksinya itu untungnya tidak mempersulit proses kelulusannya. Begitu lulus, pada tahun 1989 Munir menjadi sukarelawan di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Malang. Di sana Munir terus mengoorganisir dan memberi pelatihan serta pemahaman kepada para buruh tentang hak dan kewajibannya berdasarkan UU. Di LBH Surabaya, Munir kemudian bertemu dengan Suciwati yang kemudian menjadi istrinya.
Sepanjang karirnya Munir terus membela rakyat kecil memperjuangkan haknya. Buku ini memberikan gambaran ringkas dan jelas tentang kasus-kasus yang sempat ditangani oleh Munir. Mulai dari kasus PHK Buruh PT. Sido Bangun pada 2001, kasus Marsinah pada 1993, kasus Tanjung Priok, kasus Talangsari, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, dan masih banyak lagi. Akhirnya pada tahun 2000 Munir mendapatkan penghargaan The Light Livelihood Award, penghargaan nobel alternatif dari Swedia atas inisiatifnya dalam mendirikan KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) pada tahun 1998. Pada tahun 2004 Munir mendapatkan beasiswa S2 di Utrecht Universiteit Belanda dan ketika menuju Belanda pada September 2004 itulah, di atas Pesawat Garuda, Munir "dilenyapkan".
Membaca novel ini membuat saya jadi tersadar betapa mengerikan dan opresifnya rezim pemerintahan serta dominasi militer dan aksi badan intelijen di negara ini pada masa Orde Baru, bahkan pada masa Reformasi (Megawati di sini disebut-sebut sebagai orang yang menyetujui status darurat militer di Aceh). Banyak buruh, aktivis, atau mahasiswa yang menghilang diculik jika terlalu berani bersuara atau bersikap kritis pada pemerintah. Arogansi militer yang sampai menghilangkan nyawa begitu banyak orang karena sedikit-sedikit main dor.
Dan betapa Munir dengan kekuatan retorikanya sanggup mengerahkan dan menggerakkan banyak orang yang mungkin sebelumnya dibutakan oleh rasa takut untuk menuntut keadilan yang sudah jadi hak mereka. Luar biasa bagaimana seorang Munir yang terlihat kurus dan tanpa senjata itu bisa begitu ditakuti oleh banyak pihak sampai-sampai akhirnya dilenyapkan dengan racun arsenik.
Saya berharap akan ada lagi karya-karya dokumenter dalam format pop culture yang bisa menyajikan kisah sepak terjang seorang Munir dengan lebih lengkap. Kini saya jadi tahu mengapa Munir dianggap sangat berpengaruh. Hingga sampai sekarang. Keberadaan seorang pemberani dan tegas serta taktis sepertinya memang langka.
Ada halaman-halaman sisipan tentang isi UU Hak Asasi Manusia di Indonesia. Sangat informatif. Sayang halaman-halaman itu ditampilkan dengan warna biru dan merah gelap sehingga agak susah dibaca. Ada juga beberapa komik parodi coretan tentang kasus-kasus kekerasan oleh pihak militer yang pernah terjadi. Tapi digambar dengan lebih ngasal lagi. Entah apa itu hasil coretan Sulaiman Said juga atau diambil dari media tertentu.
Bila dilihat dari tampilan grafis, maka buku ini tidak terlalu istimewa. Yang menarik adalah bagaimana Sulaiman Said sebagai penulis membingkai kisah Munir dari sudut pandang Soultan Alif Allende, anak yang kehilangan abahnya. Kisah dibuka dengan Alif yang lupa membuat tugas mengarang dari guru. Ia membawa kertas kosong untuk dibacakan di depan kelas dan ia berkisah tentang abahnya. Cerita dimulai dari awal sepak terjang abah Munir sampai penerbangan terakhirnya. Di sela-sela cerita ada sisipan komik lain yaitu tentang Marsinah, Peristiwa Tanjung Priok dan Penculikan aktivis 1998. Komik - komik sisipan ini dibuat dengan nuansa berbeda, bermaksud menghibur dengan skenario alternatif yang terasa garing sebetulnya. Saya kutipkan kata pengantar dari mbak Suciwati : Buku ini hadir dengan harapan agar anak - anak kita mempunyai banyak pilihan dan mampu memprotes secara kritis bila "dianggap atau dipaksa tiada pilihan". Dan saya pun sedih sekali setelah membaca novel grafis ini. Sedih yang sempat tertunda.
Kenapa 2? Buku ini unik karena penceritaannya dari sudut pandang Alif (anak dari alm. Munir), setidaknya memberi cukup informasi buat yang masih bertanya "Munir? Siapa tuh?", dan bentuknya yang novel grafis hahaha, karena saya lebih suka lihat gambar sebenarnya dari pada tulisan.
Kenapa hanya 2? Saya punya ekspektasi cukup tinggi sama buku ini, saya kira bakal lebih serius, dan menjelaskan sosok Munir lebih dalam lagi, tapi ternyata nggak. Namanya novel grafis, tapi grafisnya sendiri nggak begitu mendukung penyampaian cerita , datar.
Baru pertama kali ini saya baca novel grafis lokal, apa lagi yang ngangkat cerita mengenai orang yang berpengaruh. Gimana pun juga buku kaya gini harus ada lebih banyak, dan buku ini harus dibaca sama banyak orang. :)
Munir, sang aktivis pembela HAM. Sejak kematiannya 2005 lalu namanya tak pernah luntur disuarakan oleh banyak orang. Ya, semoga tak akan pernah kita lupakan. Makin sering baca cerita sejarah negeri ini, makin rasanya sedih. Walau begitu tetap gak boleh kehilangan harapan lah ya, tentu saja bukan berharap pada pemerintah :D
Semoga banyak Munir-Munir baru yang hadir sebagai pengganti semua peran beliau yang sudah-sudah.
membaca kemarin pagi di lapak buku anak-anak. seperti pasarnya, mudah dimengerti dan dipahami. cukup lengkap juga peristiwa HAM yang ditangani munir beserta sejarah singkatnya. tapi humor di beberapa komiknya ketinggalan zaman dan jatuhnya cringe 😬 suka suasana bacanya, karena membaca bersama anak-anak selepas shift malam. dan mengingatkan lagi tentang materi HAM di bangku sekolah dulu.
Saya senang ada novel grafis yang menceritakan sejarah indonesia, hingga sejarah tidak lagi membosankan. Saya salut dengan Sulaiman Said yang mengusahakan lahirnya buku ini. Tapi in sort of way, saya ketipu sama covernya. Kalau lihat cover buku ini saya teringat jurnalis perang yang membuat komik tentang Palestina, Joe Sacco. Dia salah satu komikus favorit saya, dengan gambar yang detail dan sangat cantik. Karena saya pikir grafisnya akan mirip, saya beli buku ini. Eh,,, ternyata grafis di dalamnya sangat sederhana hingga saya bertanya di mana kesungguhan penulis.
Ada plot yang tiba-tiba melenceng juga, tapi cukup lucu. Yah, tidak semua novel grafis sejarah harus serius ya. Tapi secara singkat buku ini cocok untuk anak SD SMP SMA yang ingin mengenal Munir tapi merasa malas membaca buku2 yang kelewat serius.
Dengan mengambil sudut pandang anak sulung Munir, novel grafis ini adalah salah satu upaya 'melawan lupa'. Menurut saya pribadi, rasanya buku ini kurang padat dan terlalu singkat. Hal ini sesuai dengan konsep novel di mana narator utamanya adalah anak Munir yang menceritakan kisah sang ayah dan sejumlah kejadian penting dengan bahasa yang sederhana. Direkomendasikan untuk orang yang ingin mengenal sosok Munir secara ringkas tanpa harus buka laman Wikipedia ( + ilustrasi menarik).