Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yang Pergi, yang Tinggal

Rate this book
Arjani, gadis 18 tahun yang pincang dan buta, menjalani hari-harinya sendirian di kaki gunung Merapi. Ayahnya telah pupus, dan ibunya pergi meninggalkannya karena tidak kuat menghadapi cibiran orang-orang karena memiliki anak difabel sepertinya. Satu-satunya teman Arjani adalah Pongo, anjing berkaki tiga yang ia temukan saat masih kecil.

Pada Oktober 2010, gunung Merapi meletus. Arjani panik mencari Pongo. Di tengah kalut, ia terjatuh ke sebuah ngarai kecil. Abu bergulung, ajal begitu dekat, dan Arjani mengalami kembali mimpi terburuk bagi seorang anak, yaitu saat ia ditinggalkan ibu dan ayahnya.

106 pages, Paperback

Published January 1, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (40%)
4 stars
2 (40%)
3 stars
1 (20%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
51 reviews
July 15, 2025
Buku ini membuatku berpikir ulang tentang orang-orang yang memutuskan untuk menyerah. Selama ini sudut pandang orang-orang menyerah selalu diabaikan.

Ketika mengatakan, "Kenapa kamu menyerah? Kamu tidak lihat aku berjuang."

Barangkali orang-orang yang menyerah itu telah berjuang seperti kita dan ia memutuskan untuk berhenti. Ia menorehkan luka pada kita, tetapi mungkin juga mereka tidak kalah terlukanya.
34 reviews
July 18, 2026
3,5/5

Positif:
Cerita alegoris yang bagus mengenai trauma turunan, ditolak sebagai individu, dan sulitnya untuk menyembuhkan diri dari semua rasa sakit itu. Buku ini memberikan commentary yang cukup bagus mengenai perlakuan negatif yang mungkin diterima perempuan saat menikah serta dampak buruk dari terlalu ikut campur dan menghakimi orang lain tanpa benar-benar tau kondisi mereka sebenarnya.

Ending, walau agak tiba-tiba, tetap berhasil mengantarkan puncak dan inti dari tema dan pesan cerita dengan baik.

Kritik:
Namun prosa yang dipakai umumnya agak terlalu minimalis untuk selera saya sehingga kurang memorable secara estetika sebagai karya sastra, dan pilihan kata yang dipakai sering terasa agak terlalu irit sehingga menimbulkan kesan repetitif.

Terkadang beberapa logika cerita agak aneh/kurang nyambung tanpa justifikasi yang cukup. Perkara sepele, tapi bisa bikin imersi rusak.

Tema utama cerita juga disampaikan secara repetitif, seakan agak memaksa pembaca untuk tau kalau, "Ini cerita sedih, loh!"
Displaying 1 - 2 of 2 reviews