Jaka, seorang mahasiswa tingkat II, belum pernah merasakan cinta. Rasa sepi itu membuatnya mudah jatuh cinta pada wanita. Sayangnya, wanita tidak mudah jatuh cinta pada Jaka.
Ditemani Oded, sahabat jeniusnya, dan Guti Gurniwa, sang bibi yang juga seorang ibu kos, Jaka harus menghadapi setiap penolakan dengan mengubah dirinya jadi lebih baik daripada kemarin. Semua dia lakukan dengan satu tujuan: merasakan cinta.
Spin-off dari Jomblo: Sebuah Komedi Cinta (2003) ini menghadirkan generasi selanjutnya dari keluarga Gurniwa dengan cerita tentang mahasiswa jomblo yang mencari jati diri dan cinta sejati
Adhitya Mulya (Adit) aspires to be a story-teller.
At early age, Adit learned and enjoyed story telling thru visual mediums like movies and drawings. This, inspired little Adit to take up drawing as a child, and later photography in his teen years.
As a young adult, Adit tries to expand his storytelling medium thru novels. Jomblo (2003) is his first novel (romantic comedies) and was national best-seller - and later made into a movie by the same title (2006). He went on to write another rom-com novel Gege Mengejar Cinta (2004).
Adit uses novels as a medium to try new genres. Travelers Tale (2007) was the amongst the first Indonesian fiction novels with traveling theme before becoming mainstream in Indonesia. Mencoba Sukses (2012) was his effort to try on horror-comedy which later found, not working very well.
He released Sabtu Bersama Bapak (2014), a family themed novel which again became national best seller, well received, and also made its' way into motion picture (2016).
His latest novel, Bajak Laut & Purnama Terakhir (2016) - is his effort in learning how to make a thriller-history novel.
Adit's passion towards storytelling branches out from drawing, photography to novel and move scripts, which amongst other are, Jomblo (2006) Testpack (2012) Sabtu Bersama Bapak (2016) Shy-Shy cat (2016).
Aku sempat skeptis waktu mulai baca buku ini—kukira cuma rom-com receh yang 'menye-menye'. Tapi ternyata isinya 'daging', bahkan sarat refleksi tentang hidup, perubahan diri, dan pencarian makna personal dari sudut pandang anak muda kuliahan yang (katanya) “medium ugly”.
Medium Ugly karya Adhitya Mulya bercerita tentang Jaka, seorang mahasiswa biasa—gak populer, gak fashionable, gak begitu taat agama. Tapi justru dari berbagai pengalaman pribadi, terutama yang melibatkan perempuan-perempuan di sekitarnya, ia mulai tergerak untuk upgrade diri. Bukan untuk tampil lebih oke di mata orang lain, tapi karena ia ingin merasa utuh dan layak.
Format penyajian novel ini juga menarik: tiap bab diberi label ala skripsi (Bab 1, Bab 2, dst.) lengkap dengan footnotes lucu khas Adhitya Mulya. Gaya bahasanya ringan, natural, dan tidak menggurui. Cocok untuk pembaca remaja dan dewasa muda yang lagi ada di fase quarter-life crisis.
Beberapa bagian memang cukup dramatis—terutama bagian ketika Jaka jatuh cinta dengan kakak dari murid les privatnya, yang ternyata sudah dekat dengan orang lain. Tapi drama ini tetap terasa menyenangkan karena dibalut humor dan kejujuran emosi yang bikin dekat dengan pembaca.
Bagian yang cukup membuatku geli adalah karakter Oded, sahabat jenius Jaka yang cara bicaranya freaky banget. Tapi di sisi lain, tipe orang seperti Oded itu emang sering banget kita temui di dunia nyata—yang kadang eksentrik karena saking pintarnya.
Dari sisi relevansi budaya, ceritanya terasa "Indonesia banget". Dari dinamika organisasi kampus, danus (baca: dana usaha), sampai tekanan sosial soal pencapaian dan religiusitas. Bahkan secara moral, novel ini cukup kuat pesannya, bahwa: untuk menemukan pasangan yang baik, kita harus jadi pribadi yang utuh dulu.
Tapi tentunya novel ini tetap punya kekurangan. Ada beberapa typo yang lumayan mengganggu. Beberapa istilah Sunda juga digunakan tanpa terjemahan, jadi bisa membingungkan bagi pembaca non-Sunda–termasuk saya sendiri. Untungnya hal ini tidak terlalu mendistraksi plot dari cerita.
Dari segi pacing, novel ini mengalir enak, tidak terlalu cepat atau lambat. Tidak banyak repetisi dan tidak ada plot hole besar yang membuat ceritanya pincang. Walaupun tetap ada kesan klise—misalnya dari konflik dan penyelesaiannya—tapi masih dalam batas wajar dan justru jadi daya tarik buat sebagian pembaca yang mencari hiburan ringan tapi mengena.
Would I Recommend? Yes, terutama buat pembaca usia 17–30-an yang lagi dalam masa pencarian jati diri. Novel ini menyenangkan, menghibur, dan secara tidak langsung bisa jadi dorongan kecil buat kita yang juga pengen “naik level” sebagai pribadi. Nggak eksplisit, nggak vulgar, jadi aman buat dibaca remaja.
TL;DR: Novel ini lucu, reflektif, dan surprisingly bermakna. Cocok buat kamu yang pengen baca rom-com lokal dengan sentuhan self-development ala mahasiswa pencari jati diri. Tidak sempurna, tapi patut dicoba.
'Mendium Ugly' bercerita tentang Jaka Gurniwa, seorang mahasiswa yang hopeless romantic tapi ditolak terus oleh gebetannya. Alasannya: Jaka ini medioker, baik dari sisi kepintaran, kemapanan, apalagi ketampanan (Makanya disebut 'Medium Ugly' :'))) Menariknya, setiap kali ditolak, Jaka justru jadi introspeksi diri dan berusaha untuk berproses jadi lebih baik. Ibarat kata fall 7 times, raise 8 times gitu deh. Kira-kira bagaimana perjalanan hidup Jaka? Apakah dia akan menemukan cinta sejatinya? Silakan dibaca!
Buat saya novel ini kocak banget, betul-betul bikin saya ketawa, apalagi di awal-awal (karena makin ke belakang, makin lebih serius). Meski demikian, saya nggak tahu apakah komedi ini cocok untuk semua demografis atau nggak, hahaha. Saya punya semacam feeling, "Ini jokesnya anak ITB banget nggak sih?" Apalagi settingnya memang masih di UNB seperti novel 'Jomblo'. Ada beberapa setting yang bikin saya langsung kangen kampus, tapi di sisi lain juga bertanya-tanya, generasi yang lebih muda apakah masih relate?
Selain itu yang jadi catatan buat saya, novel ini fast-paced banget. Hidup Jaka dalam beberapa tahun dihighlight dalam bab-bab secara singkat. Memang bagus untuk menggambarkan pesan kuat, "Usaha tidak mengkhianati hasil", namun jadinya terlalu instan kalau menurut saya.
Anyway, buku ini menyimpan banyak pesan baik untuk cowok-cowok usia awal 20-an yang sedang akan menavigasi hidup, terutama soal perkuliahan, karir, keluarga, dan percintaan. Untuk pembaca yang lebih matang, bisa jadi bacaan yang menghibur.
Ini bukan sekedar novel komedi. Ini buku pengembangan diri untuk cowok2 di masa kuliah. Pesan2nya untuk cowok2 yang mau dapet pasangan bermutu. Elonya juga harus naik kelas dong. Bagus banget, dan dikit2 ngakak bacanya. Recommended!
Awalnya baca 1 bab lalu DNF. Trus entah mengapa melihat tumpukan tbr yg banyak, memulai kembali buku ini. And voila 2 jam selesai. Bener2 nasihat yg baik buat generasi masa kini, bahwa skill ga akan pernah bohong, akan nge lead kita ke kehidupan yg lebih baik. Cocok dibaca buat cowo2 yg sedang mengupayakan jodoh dan karir yang baik. Visualisasi character card makin membuat pembaca membayangkan masing2 karakternya.
Sebagai pembaca karya-karya Kang Adhit sejak Jomblo, betapa senangnya ada novel barunya yang bikin kangen suasana kuliahan yang gokil seperti di Jomblo dulu.
Pas tau ini spin off nya, penasaran banyak hal. Karena ditulis dalam rentang waktu lebih dari 20 tahun. Pas baca Kata Pengantar, jadi paham kenapa.
Tumbuh bersama tulisan-tulisan Kang Adhit, rasanya melihat satu babak lagi, di mana perjalanan karya seorang penulis tidak lepas dari pengalaman dan perjalanan pemikiran penulisnya. 20 tahun rentang buku ini. Mungkin jadi 20 tahun lagi begini pula yang terjadi ke anak aku. Sehingga sekarang saat yang tepat buat aku baca.
Seperti Jomblo yang kubaca ketika masih kuliah. Tumbuh bareng dengan segala ceritanya. Rasanya jadi bisa nostalgia, dan sangat menyenangkan bisa balik lagi mengingat masa2 kuliah ketika ini kubaca 20 tahunan kemudian.
Buku ini cocok buat semuanya, karena tidak berat tapi berbobot. Kasih insight buat yang sedang dalam perjalanan (dan persimpangan pemikiran). Khususnya yang masih kuliah.
Tokoh Jaka adalah si medium ugly itu. Jaka mungkin adalah sebagian besar kita, yang biasa-biasa saja. Gak punya sesuatu untuk ditonjolkan, gak punya privilege, gak punya kehebatan apa-apa, terutama tampang. Gak menarik. Gak dilirik.
Tapi apa itu medium ugly? Gak bener2 ugly. Artinya bisa berubah. Bisa dinaikkan levelnya. Ini yang dilakukan Jaka. Sebagai seorang bocah, menjadi seorang pria dewasa yang punya karakter dan kepribadian kuat.
Di awal sebenarnya agak terganggu dengan nama karakter, Jaka, yah kok jaka lagi sih, perasaan baru pakai nama jaka juga di yang buku bajak laut, tapi gapapa deh.
Ternyata buku kang adhitya mulya juga punya universe kekeluargaan sama buku jomblo dan si paling aktor.
Bilangnya cerita komedi, tapi banyak nilai kehidupan yang diberi. Kayaknya emang semakin berumur, penulis jadi banyak nulis tentang nilai kehidupan yang didapat selama ini yang dirangkum dari cerita si Jaka dalam mencari cinta dan berakhir dengan upaya memantaskan diri.
Walaupun namanya fiksi, tapi kalau yang pernah di Bandung kayaknya tau nama kampus terafiliasi ke universitas mana.
Ada banyak pelajaran berharga dari buku ini. Thanks banget kang adhit.
Karya Adhitya Mulya selain penuh kelucuan juga penuh pelajaran. Jelas terlihat itu berdasar pengalaman hidup yg tak main-main.
Jadi aja bacanya ganti-gantian antara tertawa dan berkaca-kaca. Kudu dibaca jika ingin hidupnya lebih baik dan ingin berusaha untuk terus menjadi lebih baik.
Baca buku ini karena rekomendasi Henry Manampiring, dan ternyata benar sekali, buku ini adalah buku pengembangan diri yang dibungkus dengan cerita fiksi.
Buku ini menceritakan tentang Jaka, si lelaki medioker yang terus melakukan perbaikan diri setelah cintanya ditolak berbagai alasan. Semakin banyak alasan, semakin banyak pula perbaikan diri yang ia lakukan. Dan di ujung cerita, kita bisa menyaksikan bagaimana si medioker melesat menjelma menjadi seorang lelaki bintang lima (atau mungkin empat setengah).
Apa yang saya sukai dari Medium Ugly karya Adhitya Mulya adalah bagaimana buku ini penuh dengan pelajaran berharga tentang pentingnya seorang pria menyelesaikan dirinya terlebih dahulu agar menjadi pribadi yang utuh, sebelum bisa mendapatkan wanita yang juga utuh. Proses perbaikan diri Jaka yang konsisten dan realistis menjadi cermin bagi banyak pria yang sedang berjuang dalam pencarian jodoh.
Saya juga sangat mengapresiasi ending buku ini, di mana Jaka akhirnya memilih wanita yang menghargai proses, bukan hanya yang mementingkan hasil akhir semata. Ini memberikan pesan mendalam bahwa cinta dan hubungan yang sehat dibangun dari penghargaan terhadap perjalanan dan usaha bersama, bukan sekadar pencapaian instan.
Selain itu, buku ini sangat quotable. Banyak bagian yang bisa distabilo, digarisbawahi, dan diingat karena mengandung kata-kata yang mengena dan penuh makna, menjadikannya sumber inspirasi yang bisa dibuka ulang kapan saja untuk motivasi.
Medium Ugly sangat penting dibaca oleh siapa saja yang masih dalam perjuangan mencari jodoh, karena buku ini tidak hanya menghibur dengan balutan komedi romantis, tetapi juga memberikan insight tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dan siap untuk cinta sejati.
Singkatnya, Medium Ugly bukan sekadar novel biasa, melainkan panduan halus dan menyentuh tentang perjalanan menjadi versi terbaik dari diri sendiri dalam konteks cinta dan hubungan. Sangat direkomendasikan untuk dibaca dan dibagikan!
Beli buku ini Katanya spin-off Jomblo. Kupikir bakal meneruskan ceritanya Agus Gurniwa, atau mungkin anaknya. Tenyata ponakannya, yang sama-soma koclaknya kaya kelakuan Agus. XD Kesan pertama orang lain (LHO?) pas liat aku baca buku ini adalah ngetawain sambil heran, karena baru halaman-halaman awal aku udah ketawa-ketawa, sambil minum kopi di Tomoro di depan Gramedia (spesifik, ya Bun!). Karena memang selalu terhibur dengan punch-linenya Kang Adit yang bener-bener mengalir. Kayaknya setiap Kang Adit nulis cerita tuh dia kayak kerasukan tokoh utama, jadi semuanya mengalir dengan natural, senatural orang tiba-tiba beli perintilan gak penting di meja kasir supermarket.
Yang hebatnya dari buku ini adalah semua kasus tentang mencari jodoh, dan segala isu yang menempel di sana, yang berseliweran di reels ig atau tikt0k ada jawabannya di sini. Mungkin hal itu juga yang membuat aku cocok banget sama buku ini, karena pemikiranku sama kayak Kang Adit di novel ini. Penyampaiannya selalu sopan memasuki kepala, tanpa menggurui, hanya menampilkannya dari pengalaman si tokoh.
Buku ini cocok banget dibaca sama anak kuliahan yang baru masuk, atau bahkan mungkin yang sudah bekerja, karena menurutku tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selama kita mau, sama kayak nasib si Jaka.
Aku (selalu) menunggu karya-karya Kang Adit yang lain.
"Nemenin dari nol bukan tugas pasangan. Berangkat dari nol itu kewajiban semua orang. Kita ketemu di tengah aja."
Setuju sih *insert emoticon jempol
Buku ini tuh sebenarnya tentang sharing sudut pandang laki laki tentang perjuangan berproses di kehidupan, jatuh bangun-nya Jaka ini seru dan mengharukan. Ditolak perempuan pun Jaka legowo dan menjadikan itu lecutan untuk jadi versi diri dia yang lebih baik, bukan untuk siapa siapa tapi untuk dirinya sendiri.
Dan oke saya mengerti sama seperti penulis yang mengerti, Gpp banget kok perempuan mau cari pasangan yang sesuai standarnya, mau cari yang ganteng dan mapan tapi Gpp juga kan kalau laki laki mau cari pasangan yang mau diajak berproses (berproses ya..bukan yang dari 0..ingat itu Ki Sanak)
Mantaplah..semoga saya juga nanti bisa seperti Oded yang menghapus air mata pakai uang 100 Euro :))
pertama kali membeli buku ini bayangannya seperti membaca novel lupus jaman dulu. ternyata setelah dibaca, tidak hanya ringan menghibur tetapi banyak nilai2 yg terkandung. mantaaap.
ini kyknya harus jadi bacaan wajib anak laki2ku. agar karakter yg terbentuk bisa seperti jaka. suka bgt sama karakter yg dibentuk penulis. buku yg banyak mengajarkan hal2 positif dan optimisme.
jujur takut review soalnya kenal sama yang nulis wkwkwkwkwk. the good thing is the structure definitely. the rest is pseudo-fascist rhetoric and a misunderstanding of Indonesian college process. maaf banget 🙏🙏🙏
Novel yang ditulis Adhitya Mulya ini bagiku awalnya memang kocak. Lalu di tengah-tengah mulai sebel tapi ada beberapa bagian yang bikin, “iya lagi, iya lagi.” Berakhir dengan, aku mengerti atas pilihan Jaka 🔥.
Sapaan-sapaan Jaka dan Oded amat nyeleneh. Belum lagi penelitian obat-obatan Oded yang ga masuk akal dan kalau dipikir membahayakan. Namun, itulah Oded yang optimis.
Belum lagi soal Bibi Jaka yang dulunya hobinya montoran. Jelas bagian lucunya bagiku karena dua hal ini. Banyak tingkah komedi yang benar-benar bisa membuatku tertawa tipis. Kalau penasaran baca sendiri deh.
Nah, soal kisah cinta Jaka ini yang bagian mengandung kasian tetapi memang benar adanya, sekaligus mengingatkan seorang lelaki maupun perempuan.
Jaka yang mulanya memang mahasiswa biasa saja bahkan kalau pun ada perempuan yang didekati tentu saja ditolak. Namun, Jaka bagiku orang yang memiliki keberanian untuk menanyakan, apa kesalahan atau kekurangannya sehingga ia ditolak oleh pujaan hatinya?
Jawaban pujaan-pujaan hatinya itulah yang membuat Jaka termotivasi menjadi lebih baik. Benar, Jaka yang dulu bukanlah yang sekarang. Jaka lebih menjaga dirinya belajar lebih giat.
Hasilnya siapa yang enggan menolaknya? Tak ada. Jaka seakan dikejar-kejar oleh orang yang sukai dulu.
Namun, Jaka menolak dua orang yang ia taksir dulu. Walau keduanya yang membuatnya ia menjadi diri yang sekarang tetapi keduanya hanya melihat hasil dari prosesnya.
Soal hal-hal yang standar dan biasa menjadi kriteria seseorang mencari pasangan. Namun, apakah ada orang yang melihat dan mencari tahu bagaimana proses mencapai hasil? Orang itulah yang menjadi kekasih Jaka.
Tak salah Jaka memilih orang yang menghargai prosesnya. Walau mungkin pembaca sudah kesal duluan.
Kurasa kita bisa paham dengan Jaka. Orang seperti Jaka mungkin adalah kita sendiri atau ada di sekitar kita. Hidup Jakaaa... .