Jump to ratings and reviews
Rate this book

Berpayung Tuhan

Rate this book
Katanya, setelah seseorang meninggal dunia akan dihadapkan pada sebuah layar besar. Di mana akan ditampilkan setiap adegan dari pertama kali lahir ke dunia hingga akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Maka, disinilah Khalil berada. Di ruangan serba putih yang sepi, sunyi, dan hanya diisi oleh dirinya sendiri dengan sebuah televisi berukuran besar.

Khalil Syailendra, laki-laki berusia 25 tahun, penyair dan penulis yang memulai kariernya 7 tahun yang lalu. Sebelum ulang tahunnya yang ke 26, ia menggunakan tangannya untuk merenggut nyawanya sendiri. la pikir, segala penderitaannya akan berakhir apabila ia mengakhiri hidupnya, lalu Ibu dan Bapak akan berbahagia, dan keduanya pun akan tetap menjalani hidup seperti biasanya. Namun, ternyata ia salah, Ibu dan Bapak tak lagi pernah berbahagia. Jiwa keduanya seperti ikut mati dan terkubur bersama Khalil.

Lantas, setelah menyaksikan setiap adegan yang diputar bagaikan klip film itu, apa yang dirasakan oleh Khalil Syailendra?Apa yang ia rasakan setelah menjadi bagian dari sebuah kematian yang ia rencanakan?

252 pages, Paperback

Published February 14, 2025

14 people are currently reading
165 people want to read

About the author

Jaquenza Eden

4 books14 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (55%)
4 stars
10 (23%)
3 stars
3 (6%)
2 stars
4 (9%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Alvin.
5 reviews
April 10, 2025
Review Novel "Berpayung Tuhan" oleh Jaquenza Eden ✨📖

Sinopsis Singkat:
Berpayung Tuhan adalah novel yang mengangkat tema family angst dengan pendekatan yang emosional dan reflektif. Novel ini mengikuti perjalanan seorang penulis muda bernama Khalil, yang di usia 25 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, setelah kepergiannya, ia dibawa ke sebuah tempat misterius di mana ia menyaksikan ulang seluruh perjalanan hidupnya melalui layar besar. Dari momen ia lahir, tumbuh besar, hingga saat ia memilih untuk menyerah. Melalui pengalaman ini, Khalil menyadari betapa besar arti keberadaannya bagi orang-orang yang ia tinggalkan, terutama orang tuanya. Penyesalan pun menghantui, tapi tak ada jalan untuk kembali. 😢💔

Review:

Dari awal, novel ini udah kerasa berat dan dalem banget. Gaya nulis Jaquenza Eden tuh puitis, emosional, dan beneran bikin nyesek. Banyak kalimat yang nusuk ke hati, salah satunya yang ini nih:

"Jangan pulang sebelum dijemput, ya. Ada banyak halte yang harus kau tuju. Sebelum tiba pada tempat terakhir guna berpulang." 🛤️💭

Kalimat itu kayak tamparan halus, ngingetin kita kalau hidup itu perjalanan panjang yang nggak bisa kita putus sendiri. Ada fase yang harus dijalani, ada waktu yang harus ditunggu, sebelum akhirnya kita benar-benar "pulang". ⏳🌿

Tapi novel ini bukan cuma soal seseorang yang nyerah sama hidup, melainkan tentang refleksi, harapan, dan gimana kadang kita nggak sadar betapa pentingnya kita buat orang-orang di sekitar. Cara Jaquenza menggambarkan perasaan Khalil, gimana keluarganya yang ditinggalkan ngerasain kehilangan, dan betapa pahitnya penyesalan itu terasa real banget. 🥺💙

Dari segi alur, ceritanya ngalir pelan tapi tetap bikin nagih. Ada bagian yang bikin dada sesek, ada juga yang bikin pembaca larut dalam rasa kehilangan dan getirnya penyesalan. Novel ini tuh kayak perjalanan emosional yang bakal ninggalin bekas setelah selesai dibaca. 📖✨

Kesimpulan:
Buat yang suka novel dengan tema emosional, reflektif, dan penuh makna, Berpayung Tuhan adalah bacaan yang cocok banget. Ini bukan sekadar cerita, tapi juga pengalaman yang bisa bikin kita lebih menghargai hidup dan orang-orang di sekitar kita. Tapi siap-siap aja, novel ini bakal ninggalin bekas di hati. 💖😢
Profile Image for gq .
122 reviews
October 5, 2025
tw: suicide

akhirnya kelarr jugaaa wkwk. jujur awal tertarik buku ini karena cover, judul, dan blurbnya yang sangat menarik perhatian. terus pas baca review goodreads ngerasa 'wah lumayan nih', jadi makin mantap buat beli bukunya. awal-awal baca masih ngerasa oke, lama-kelamaan mulai ngerasa gak nyaman dengan kata-katanya yang boros dan bakuuu banget even buat dialog. baku di narasi oke lah ya, tapi baku di dialog tuh untuk ukuran novel bukan latar belakang jadul ya.... jujur ga banget. mungkin emang penulisnya sengaja biar kerasa lebih emosional atau puitis, gitu kali ya? cuman jadinya canggung, gak nyaman dibaca. tapi tentu aja ya temen2 ini balik lagi ke selera masing-masing, cuman kalau dari aku... akan lebih baik kalau dialog lebih luwes sedikit. plus, mungkin bisa lebih dicermati narasinya ya... banyak kalimat boros dan bertele-tele. untuk puitis gak harus dengan boros kata, kok.

selain itu, aku juga kecewa sama judul dan covernya. arti dari 'berpayung tuhan' ini gak dijelasin, terus covernya gak sesuai karena ceritanya gak ada tentang paus-paus atau laut atau aquarium sama sekali. pantai ada sih disebut, tapi cuman 'aku ke pantai', udah. jadi kenapa ada aquarium di cover? kenapa ada paus..? kenapa berpayung tuhan...? oh, iya.. ini pure penasaran... judulnya berpayung tuhan dan salah satu judul subbab 'di akhir perang' kan salah dua judul lagu dari nadin amizah ya.. apakah gapapa kalau gak ada credit sama sekali?

tapiii aku suka sama premis ceritanya. ceritanya potensial bangettt... menarik walaupun beberapa ada yg aku kurang setuju. kdg org bundir tuh bukan hanya tentang, 'nanti yang ditinggal sedih' tapi lebih kompleks dari itu. dan alasan orang suicide tu gak pernah sederhana ya.. cuman buku ini kurang menyingkap alasan kenapa tokoh utama kita memilih buat bundir. mungkin daripada deskripsi yang bertele2 di bagian lain, lebih baik buat eksplor alasan bundir itu sendiri.
2 reviews
December 15, 2025
"Berpayung Tuhan" review.

Novelnya pendek, jadi cepet bacanya. Cuma penokohannya kureng kuat, di cerita ini semua karakternya kaya ga punya what it makes them to be human gitu. Bapak ibunya terlalu sempurna, Khalil juga selain bundir ya ga punya dosa lain? Jadi kaya ga relate aja gitu.

Part tergong pas lagi nangisin si Khalil yang mati, lumayan sedih cuma ya gitu aja. Di ending ada plot twist but tbh idrc.

Pas awal langsung si Khalil bundir, gw kaya, ga peduli anjir, kenal juga kagak. Endingnya ok sih, cuma ya gw ga rooting for Khalil in the first place, jadi ga peduli gw.

Overall keknya emang cocok buat remaja, soalnya ringan banget masalahnya. Cuma mungkin bisa lah dikasih gambaran kalo si Khalil udah ke psikolog atau psikiater, intinya nyari bantuan profesional. Soalnya di ceritanya si Khalil ngaku udah ngelakuin segala cara biar ga kepikiran buat bundir, tapi ga minta bantuan profesional? Like? Really?

Ini juga beberapa kali nyebut kata gila, terus juga agak rasis ya karena ada karakter sampingan yang rambutnya keriting disebutnya Keriting Gila, bahkan ga dikasih nama samsek, ya iya sih ga penting cuma kaya too harsh aja gitu.
Profile Image for Puteri Tasha.
11 reviews
January 6, 2026
Reading Berpayung Tuhan felt like stepping into our parents’ hearts, and into the lives of those we leave behind. It reminds us that what feels overwhelming and heavy to us may only be a small chapter in a much larger life. That beyond the weight we carry, there is always something kinder, something better, waiting ahead. I cried quietly reading this. Not so much for Khalil, but for his parents. For the love, the care, and how our selfish choices ripple through the lives of those who have always made us the centre of theirs.
Profile Image for Thee.
7 reviews
July 17, 2025
Biasanya aku tutup buku karena bosen. Tapi,,,,, ga berlaku buat buku ini, aku tutup buku karena capek nangis! Yap, setiap lembarnya berhasil bikin air mataku jadi kek air terjun, bantal sampe basah, tisu abis setengah kotak. Dari buku ini aku dapet pelajaran penting, bahwa orang tua akan selalu sayang sama anaknya sampai kapanpun, meski anaknya itu sendiri merasa dirinya ga berguna atau bahasa kasarnya hidupnya layak disebut sebagai beban orang tua.
Profile Image for Sydney.
5 reviews
January 14, 2026
Hal pertama yang saya pertanyakan adalah mengapa judulnya "Berpayung Tuhan"? Selain itu, alur ceritanya bagus. Intinya buku ini menjelaskan kalau kita pulang duluan, kita akan meninggalkan rasa sakit dan seribu pertanyaan kepada orang-orang di sekitar, terutama keluarga. Semua orang punya masalah masing-masing, tetapi semua masalah itu sama beratnya (tidak ada yang lebih ringan atau lebih berat).

Masih banyak misi yang belum dilakukan, masih banyak juga tempat yang belum dikunjungi. Jadi, jangan pulang sebelum dijemput.
Profile Image for Tia Semut.
1 review
February 2, 2026
Menangis dimulai dari bab awal hingga akhir. T_T
Cara penulis menggambarkan setiap kejadian terasa sangat jelas, seolah-olah saya ikut berada di sana sebagai saksi.
Semoga buku seperti ini selalu menemukan saya. :)
Terima kasih, penulis, sudah menulis buku ini.
3 reviews
March 4, 2026
IMO narasinya dramatis banget dan terkesan berlebihan. But so far bukunya seru, bener-bener dibikin nangis dari halaman awal sampai selesai. Dan plot twist juga ternyata haha
Displaying 1 - 15 of 15 reviews