Punya hobi jalan-jalan? Nggak boleh absen nonton di bioskop tiap weekend? Selalu kalap kalau ada midnight sale? Rutin ke salon buat jaga penampilan? Suka nongkrong di kafe buat ketemuan sama teman-teman se-gank?
Toss! Kita punya kebiasaan yang sama berarti. Hal-hal yang menyenangkan memang susah banget buat direm. Cari uang, kan, sudah susah, masa mau keluar uang juga masih susah. Hahaha ....
Tapi memang males banget, ya, kalau dengar nasihat teman atau ortu yang nyuruh kita buat berhemat. Buat investasi masa depan, katanya. Masuk akal, sih. Kita nggak mau juga, kan, kerja bertahun-tahun, tapi ternyata digit di tabungan nggak juga bertambah?
So, gimana ya caranya supaya tetap bisa bersenang-senang, tapi aset yang ada terus bertambah? Tenang ... buku ini solusinya J.
Cheers, Dini Senior Financial Executor
***
“Dini seolah tahu apa yang ada di pikiran kita soal uang. Membuka lembar demi lembar buku ini, 'ketakutan' membahas uang cair sedikit demi sedikit.” —Asteria Elanda, Editor in-chief Majalah Good Housekeeping Indonesia
“Serius, buku ini wajib dibaca semua perempuan: yang masih single, lebih-lebih lagi yang udah punya tanggungan.” —VENUS, Blogger and Author @venustweets
“Farah Dini, adalah contoh kongkrit seorang Financial Planer yang cerdas.” —Rani Badri kalianda, Founder & Facilitator The Soul Of Speaking
A cool book about financial stuff. Sebagai orang yang awam di bidang ekonomi, saya merasa terbuka pikiran lebih lebar bahwa ekonomi itu lebih dari sekedar "makin banyak nabung, makin aman masa depan kita". Bagi saya yang kurang melek tentang hal keuangan, mba penulis buku ini enak banget ngejelasinnya, meskipun di bagian saham, reksadana, obligasi saya masih kurang mudheng bahkan saya skip karena agak belibet & sekarang ini belum tertarik. Saya jadi lebih aware dengan penghasilan supaya tidak terbuang begitu saja oleh "latte factor", hal-hal yang semestinya bisa kita tahan untuk tidak mengeluarkan uang karenanya sehingga dibuat menjadi sebuah bentuk penghematan yang cukup signifikan.
Mba Dini yang aktif menulis blog www.fin-chick-up.com ini memberi contoh dari kasus 'pasien' yang sudah ia tangani selama menjadi financial planner sejak tahun 2010, sehingga pembaca ga perlu khawatir dengan teori demi teori yang beliau paparkan. Saya jadi lebih ngeh kalau rasio total kewajiban (total sisa utang keseluruhan) berbanding total aset yang kita punyai harus <50%, karena kalau nilainya lebih dari itu, memang sih terlihatnya harta kita buanyak gitu yah, padahal aslinya mah ngutang semua, seperti yang dijelaskan pada halaman 194. Contoh lainnya, pentingnya kita memiliki dana darurat jikalau terjadi apa-apa yang ga kita inginkan. Perhitungan dana darurat berbeda antara karyawan bergaji tetap dengan seorang profesional atau freelancer yang jumlah gaji setiap bulannya tidak ada angka tetap, seperti yang disajikan mba Dini di halaman 133.
Kunci amannya status finansial kita kembali kepada diri kita masing-masing, apakah benar bersungguh-sungguh ingin masa tua berlangsung indah atau hidup terluntang lantung tidak tenang akan banyaknya hutang, walaupun masa depan tidak ada yang tahu, namun belajar mengatur keuangan inilah yang menjadi salah 1 ikhtiar kita demi masa depan cerah #ihiy :-p Pada akhirnya buku ini akan terasa banget manfaatnya kalau kita aplikasikan langsung, kalau ngga, yang dibaca akan hilang begitu aja ditelan bumi.
Karena buku ini benar-benar bisa mengubah kebiasaan saya. Selama ini saya anti banget sama buku-buku tentang pengaturan keuangan karena kesannya kok apa-apa nggak dibolehin. Buat punya sesuatu ya iya sih kita harus nabung dan tahan diri. Tapi kan capek kerja buat seneng-seneng juga :D
Ternyata Mba Dini ini bisa banget menangkap kegelisahan orang-orang seperti saya. Menurut dia, seneng-seneng itu ngga boleh dilarang atau dibatasi. Yang harus dilakukan adalah mengatur, menjadwalkan, dan cari alternatif.
Secara detail, buku ini ngajarin kita untuk mendeteksi kapan "bocor halus" terjadi, mencatat pengeluaran dan memetakannya kembali, mencari alternatif-alternatif pengeluaran yang lebih masuk akal, sampai ngajarin gimana caranya investasi.
Berkat buku ini juga, saya udah kena kompor buat ikutan reksadana, konsisten nabung, tapi tetep bisa nonton tiap minggu dan belanja-belanji.
Bicara tentang perencanaan keuangan kini sudah menjadi hal yang mulai dibutuhkan. Kenaikan harga BBM yang tidak diikuti kenaikan gaji pokok jelas membuat kelimpungan. Bagaimana bisa nongkrong kalau pemasukan tetap tapi harga minuman favorit di kafe langganan naik? Biaya transportasi ke toko buku naik. Harus makin banyak jalan kaki nih *Ha..ha.. curhat*
Nah, buku yang ditulis Dini ini bisa menjadi pemandu yang menyenangkan. Dengan gaya bahasa yang ringan Dini mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya melakukan perencanaan keuangan dan investasi. Ia dengan jelas menjelaskan berbagai hal terkait perencanaan keuangan agar tetap punya tabungan tapi bisa tetap menjalankan hobi *nggak..saya nggak bilang hobi belanja lho. Hobi mah bisa apa saja :D*
Dengan gaya bahasa yang ringan –pakai “gue”- membacanya terasa seperti ngobrol seru dengan kawan yang hitungan matematikanya jago banget. Ha..ha.. kok gitu? Soalnya di setiap pembahasan, Dini gak segan-segan menyodorkan contoh kasus dan hitung-hitungannya gimana, jadi lebih mudah dipahami.
Dini membuka pembahasannya dengan bab “Bedah Mindset”. Ini penting karena jika tidak dimulai dengan mindset yang tepat, semua pembahasan berikutnya akan mental lagi. Sia-sia. Sebab ketika seseorang selalu bilang “susah” ya hal yang mudah pun benar-benar akan susah untuk dilakukan. Dini mengajak pembaca untuk memahami fungsi perencanaan keuangan, mindset pembaca tentang uang, membedah pemahaman tentang investasi dan berbagai mitosnya. Setelah semua hal itu jelas, Dini mengajak pembaca untuk menetapkan motivasi dan tujuan keuangan mereka. Ini untuk membangun motivasi sekaligus membangun ilustrasi awal tentang perencanaan keuangan semacam apa yang perlu dilakukan. Setelah itu, dijelaskan tentang berbagai hal terkait perencanaan keuangan personal dalam bab Bedah Pengeluaran, Bedah Utang, Bedah Asuransi, Bedah Tujuan Keuangan, Bedah Tabungan & Investasi, Bedah Cashflow & Networth, Bedah Kendala Perencanaan Keuangan, Bedah Alternatif Penghasilan, dan Bedah Action Plan.
Bagian yang paling aplikatif dan bisa segera dieksekusi adalah bab Bedah Pengeluaran. Di Bab ini banyak “dosa” belanja dan atau jajan yang jadi biang keladi habisnya tabungan tanpa disadari. Namun yang menyenangkan adalah Dini kemudian memberikan tips menyiasati hal ini. Mulai dari mensiasati Latte Factor *apa itu? ha..ha..baca aja di bukunya* sehingga kita tetap nongkrong cantik tanpa membuat tabungan kosong. Ada pula saran untuk mencegah bocor halus yang ternyata jika diakumulasi nominalnya cukup lumayan untuk beli buku baru #eh. Di bab itu juga Dini memberikan saran untuk membiasakan diri melakukan belanja bulanan. Ia memberikan tips-tips yang jelas agar pengeluaran bisa terus terdeteksi dan tidak membengkak mendadak. Selain itu, Dini juga menyarankan bagi para ladies untuk membuat tabungan centil yang khusus digunakan untuk belanja demi penampilan dan hobi. Jika tabungan ini habis? Maka jangan berani-berani menyentuh pos tabungan lain yang akan digunakan untuk membayar cicilan rumah atau kartu kredit. Nah, pembahasan tentang kartu kredit dan cicilan seperti Kredit Pemilikin Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor pun dibahas cukup lengkap. Disertai saran dan tips yang membuat pembaca bisa lebih cerdas saat akan memutuskan menggunakan kartu kredit atau pun mengajuk kredit ke bank. Pembahasan lain dalam buku ini pun cukup lengkan dan bisa menjadi pengantar awal bagi yang tidak banyak tahu tentang dunia keuangan.
***
Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh buku Finchickup. Yang paling utama adalah gaya penulisan. Dengan menggunakan bahasa tutur dan bertabur emoticon dan bahasa yang up to date, maka buku ini jauh dari kesan berat. Pembahasan tentang keuangan tidak lagi terasa membosankan dan bikin kepala pusing. Dini berhasil menyajikan penjelasannya dengan runut dan jelas. Bahkan kelebihan lainnya adalah adanya contoh kasus dan ilustrasi perhitungan yang bisa menjadi contoh bagi pembaca untuk ikut menghitung dan merencakan keuangan mereka.
Tampilan isi buku pun menarik dengan adanya gambar karikatur orang serta sisipan beberapa halaman yang berwarna. Ini memanjakan mata pembaca. Membuat buku ini tidak menjemukan meski bahasannya cukup serius. Adanya beberapa kutipan yang ditulis dengan warna orang dan font yang lebih besar di pojok atau di bagain bawah halaman membuatnya semakin menarik dibaca.
Sebagian besar pembahasan di buku ini benar-benar aplikatif. Pembaca bisa dengan mudah mempraktikkan sendiri saran-saran Dini. Mengevaluasi kembali keuangannya sendiri dengan contoh yang diberikan oleh Dini. Bahkan bagi saya pribadi pembahasan tentang KPR, kartu kredit, dan asuransi jelas akan menjadi catatan yang berguna di masa depan. Awalnya saya tidak paham dan bahkan tidak tahu sama sekali mekanisme ketiga hal tersebut. Tapi kini setelah membaca Finchickup saya bisa lebih cerdas dan berhati-hati saat mengambil keputusan terkait hal-hal tersebut.
Sayangnya, di dalam buku ini alternatif investasi jangka panjang yang disarankan lebih banyak berupa saham. Beberapa contohnya pun menggunakan perhitungan saham untuk memperjelas tentang nilai investasi di masa depan. Padahal bagi muslim seperti saya, pasar saham itu haram *ini tergantung masing-masing personal. Tapi keharaman tentang pasar saham sudah dinyatakan cukup jelas oleh sejumlah ahli fikih seperti Yusuf as-Sabatin, Ali as-Salus, dll.
Alternatif investasi dalam bentuk rumah, emas, dan tanah kurang diekslporasi. Dorongan untuk mengajak pembaca untuk menjoba jalur wirausaha sebagai investasi pun tidak begitu terasa di buku ini. Selain itu, dalam hal editing ada beberapa kesalahan penempatan kutipan yang tidak sesuai dengan bagian pembahasannya. Sepert di halaman 37, tertulis kutipan yang menarik berwarna orange di sisi kanan, “Kamu harus bisa bedakan, mana kebutuhan, mana keinginan (needs vs wants)” yang awalnya saya pikir sengaja ditempatkan di halaman tersebut. Namun di halaman 40 muncul tulisan yang secara gamblang membahas hal tersebut. Kemudian kesalahan berikutnya adalah saat kutipan tentang perlunya mempersiapkan dana liburan tercantum di halaman 122 dan baru di halaman 126 hal itu dibahas.
Namun, dengan mengesampingkan kekurangan buku ini, saya pribadi menganggap buku ini sangat bermanfaat sebagai pengetahuan dasar untuk melakukan perencanaan keuangan sendiri. “Goals are dreams with a deadline” (Hal. 181)
Pertama-tama, saya sadar bahwa ketika saya memberikan rating, saya sangat terpengaruh oleh suasana hati. Ketika saya membaca buku di waktu yang tepat, sesuai dengan kondisi/kebutuhan saat itu, maka biasanya saya akan memberikan rating lebih tinggi, karena ketika saya menuliskan reviewnya, ataupun memberikan rating, saya masih terpengaruh rasa bahagia setelah saya menyelesaikan buku tersebut.
Jadi baiklah, di usia saya yang ke25 ini, saya menyatakan ingin bertaubat dari tindakan menghambur-hamburkan uang. So, mulai Juli ini saya berniat menjadi lebih bijak. Tahun 2017 ini, karena sekali lagi saya sadar usia saya akan menjadi 25 di tahun ini, saya merasa into sekali dengan perencanaan keuangan. Apalagi ayah saya mengambil keputusan untuk pensiun dini, jadi semakin terbayang saja bagi saya yang namanya dana pensiun, dana pendidikan anak, dll. Saya belakangan sangat tertarik dengan isu investasi, dan memutuskan untuk belajar lebih dalam.
Buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Keren deh mbak Dini.. Bahasanya mudah dipahami, contoh-contohnya jelas, dan yang paling penting: memotivasi.
Saya akan melanjutkan membaca buku keduanya. Segera.
Agak kurang sreg sama pemilihan judul/covernya yang entah somehow menurut aku ngurangi segment pembaca yg bisa "disasar" sama buku ini.
Tertarik sama buku ini krn emg lagi demen sama dunia financial, udah dengerin podcast sana sini, update ilmu dari sosmed, nonton video, tapi dasar tipikal orang yg harus ngerti basic dulu baru tenang jiwa raga, searching sana sini akhirnya terhenti pada buku ini. Alasan kenapa aku penasaran luar biasa sama buku ini adalah kekuatan dr penulisnya, kak Farah Dini.
Ini buku yang luar biasa menurutku, bener-bener ngasih penjelasan basic tentang keuangan beserta produk-produknya. Hanya beberapa bagian aja yg spesifik membahas ttg finansial wanita, selebihnya buku ini menurutku cucok untuk gender apa aja :). Bahasanya ringan, aku sampai nggak habis pikir bisa-bisanya ngebut sebuah buku financial dlm 1 hari, gilak! Salut sama kak Farah, luar biasa banget pembahasaannya. Bener2 ngebuka wawasan, cocok buat first jobber, rekomen dan otw baca yg kedua.
Eniwe agak disayangkan perpaduan warna "abu2 sama merah" untuk kutipan2 dalam buku ini sangat2 tidak nyaman dipandang, tp tdk mengurangi kualitas dari konten yg disajikan.
Educating book in a fun way. Buku pertama yang berhasil bikin melek soal financial planning dan berhasil ngasih motivasi buat belajar invest. Selama ini males banget mau mulai baca buku soal finance, karena biasanya bahasa yg dipake terlalu baku dan malah jadi kayak kuliah 😂 Tapi buku ini beda dari buku finance kebanyakan, bahasa yang dipake santai banget! Tapi justru itu yang bikin nggak berenti buat baca dan belajar, seolah-olah kayak ngobrol sama temen sendiri! Malah baru tau kalo ternyata pengarangnya tuh cofounder Jouska dari buku iniiiii hihi. Definitely will buy the second book from mbak Farah soon! 😘
Suka banget sama bukunya, bener-bener mudah buat beginner macem gue yang baru banget mikirin ini uang musti diapain? ini bukunya basic banget sih, emang cuman buat basic knowledge dulu aja gitu. Tapi dengan ini aja udh komplit buat gue personally, karena dibedah dari segala macem sisi. Dan yg terpenting sih jd ada bgt bikin otak gue kebuka ttg perencanaan apa aja yg perlu gue pikirin buat uang sendiri. Bahasa penulisnya jg santai dan bahkan ada beberapa jokes yg bikin isinya gak kaku, ada beberapa contoh penghitungan sederhana juga yg bikin lebih mudah untuk ngebayanginnya. Financial 101 sih
Simple tapi ngena banget. Siapa disini suka bingung sendiri mau mulai dari mana untuk berinvestasi?
Selalu mikir, duitnya kurang untuk investasi tapi selalu ada buat barang sale...hahaha.
Setelah baca buku ini jadi terilhami bagaimana kondisi keuangan saya sekarang ini, membuat saya memulai kehidupan finansial saya sesuai dengan kebutuhan bukan lagi keinginan semata.
Dulu banget sempet masukin buku ini ke dalam wishlist karena mikir "wah seru nih bisa nabung sambil masih jajan-jajan unyu", eeeh long story short sempet tanya jawab sama authornya yang sekarang jadi Vice CEO Jouska, Kak Dini! Makin sadar melek keuangan itu penting banget, apalagi buatku yang punya banyak kemauan tapi bukan dari keluarga sultan. A must read!
"Kebebasan finansial bukan berarti kita harus menjadi super-duper-kaya macam Donald Trump, melainkan ketika aset investasi yang kita punya sudah bisa membiayai semua pengeluaran tanpa kita harus mengeluarkan keringat untuk bekerja sama sekali." – halaman 227
Finchickup: Financial Check Up for Ladies mempunyai 12 bab yang terdiri dari Prakata (kisah singkat penulis dan pengalamannya mengelola keuangan), Bedah Mindset (penjelasan dan contoh tentang keuangan dan investasi), Bedah Pengeluaran (The Latte Factor dan bocor halus lainnya), Bedah Utang (KPR, KPM, KTA), Bedah Asuransi (asuransi Jiwa, Kesehatan, dll), Bedah Tujuan Keuangan (dana pendidikan, properti pertama, liburan, dll), Bedah Tabungan & Investasi (tabungan, reksadana, obligasi, saham), Bedah Cashflow & Networth (strategi mengatur pengeluaran, alokasi aset dan utang), Bedah Kendala Perencanaan Keuangan (menunda dana darurat, investasi, pembayaran tagihan utang, shopaholic), Bedah Alternatif Penghasilan (online shop, garage sale, reseller), Bedah Action Plan (baca buku dan cari info) dan Penutup. Di sela-sela penjelasan, penulis menyertakan contoh tabel perhitungan kredit beberapa aset, utang dan investasi lengkap dengan jumlah angkanya. Lalu ada juga kutipan-kutipan, baik poin utama dari penjelasan penulis dan tokoh-tokoh yang berpengaruh dan ahli, mengenai keuangan, investasi dan hal-hal lainnya tercantum dalam kombinasi warna merah, abu-abu tua dan muda serta ilustrasi imut.
Aku bersyukur banget nemuin dan baca Finchickup: Financial Check Up for Ladies di umur yang relatif muda. Walaupun aku belum punya penghasilan sendiri, rajin menabung (cieeee) dan bisa menahan nafsu belanja barang yang tak penting, aku punya keinginan untuk beli rumah dan kendaraan bermotor di kemudian hari. Beban dan jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah, tapi buku ini menyakinkanku bahwa semua itu bisa dicapai. Banyak banget ilmu dan pengetahuan penting yang berguna untuk mengatur dan mengevaluasi keuanganku sekarang dan kelak. Penjelasannya memang agak membingungkan, banyak istilah baru yang kadang aku hindari dan bahkan takuti sebelumnya dan jumlah nol yang muncul di beberapa contoh tabel perhitungan itu bikin lemas. Tapi penulis menyampaikannya dengan detail yang pas dan bahasa yang tidak terlalu kaku. Lucunya, penulis dan aku punya nama yang sama. Jadi poin-poinnya lebih ngena, hahaha
“Kebebasan finansial bukan berarti kita harus menjadi super-duper-kaya macam Donal Trump, melainkan ketika aset investasi yang kita punya sudah bisa membiayai semua pengeluaran tanpa kita harus mengeluarkan keringat untuk bekerja sama sekali.” (Halaman 227)
Kutipan itu secara tepat menghujam jantung saya (JLEBB!!). Saya jadi berpikir dan merenung apakah saya sudah sampai pada tahap itu?? Bertahun-tahun bekerja apakah aset investasi yang saya miliki bisa membiayai semua pengeluaran tanpa harus keluar keringat? Well, kita sering mendengar pakar ekonomi dan motivator mendengungkan istilah KEBEBASAN FINANSIAL. Apalagi kalau MLM sedang melakukan prospek dan pendekatan terhadap calon anggota baru, istilah kebebasan finansial menjadi iming-imingnya yaitu suatu kondisi seseorang yang sudah mencapai tahap kemapanan dimana dia dapat menikmati hidup dari investasinya tanpa harus membanting tulang dan jungkir balik (istilah kerennya orang bilang selonjoran kaki dan kipas-kipas doang sambil menikmati hidup).
Kita tak bisa memungkiri bahwa “Uang memang bukan segalanya, TAPI segala hal butuh uang”. Kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal serta kesenangan (leisure) macam kendaraan, gadget (alat elektronik), bahkan liburan tentu segalanya butuh uang. Cara mendapat uang beraneka cara bisa dengan bekerja, berdagang, wirausaha, dan 1001 cara lainnya. Tapi bagaimana cara mengontrol uang agar tidak terbuang percuma dan nganggur tanpa ada hasil?
Nah, buku Finchickup bisa menjadi panduan bagi kita, khususnya kaum hawa yang suka “lapar mata” alias “kalap” saat berbelanja (shopaholic) agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Menurut financial planner dari Zeus Consulting, Farah Dini Novita, dalam bukunya Finchickup menulis bahwa walau harus bisa berhemat tapi tak sampai harus mengorbankan kesenangan kita. Tak apa jika sesekali meluangkan diri untuk windowshopping, hang out dengan teman, dan nongkrong di caffe. Penulis tak pelit berbagi ilmu tentang berbagai investasi yang dapat menambah aset kita plus tips and trick untuk memilih investasi yang sesuai dengan minat dan kemampuan finansial kita.
satu hal yang paling saya suka banget dari buku ini adalah dari segi gaya bahasa dan penulisannya yang seperti sedang mengobrol dan juga penjelasannya yang mudah banget diserap otak saya.
hal lain yang saya sukai lagi adalah, beberapa pembahasan dan contoh kasus yang dibahas di buku ini juga anak muda banget serta masih bisa di sejajarkan dengan kondisi saat ini (karena ini terbitan 2014), jadinya saya bisa dapat visualnya dengan baik.
kalau bukunya mbak Ligwina dulu pembahasannya lebih ke masa depan yang sampai menikah-menikah. contoh kasus yang diberikanpun jarang ada yang cocok dengan kondisi sekarang (mungkin karena terbitan lama tapi saya bacanya baru-baru ini). tapi secara keseluruhan, baik buku mbak Ligwina maupun buku ini beneran berhasil membuat saya melek dan nggak takut lagi dengan masalah uang meskipun perencanaan keuangan saya juga masih kacau banget sih wq
sekarang, mari kita lanjut baca buku milik mbak Prita!
oh iya, kekurangan di buku ini ada di desainnya. ada tulisan font warna merah, backgroundnya abu-abu. bikin sakit mata banget T_T dan seperti beberapa review lain, di buku yang saya miliki juga ada kesalahan halamannya,tapi cukup bisa diterima sih,hehe
Nggak nyesel baca buku ini, nyeselnya kenapa nggak beli dari kemarin-kemarin :') Buku ini beneran bikin aku lebih membuka mata dan lirik dompet+tabungan. Bikin sadar diri, selama ini terlalu boros dan nggak tahu malu gara-gara keseringan minta uang ke orang tua buat hal-hal yang sifatnya konsumtif. Dan sebagai tambahaan, jadi semangat buat belajar banyak tentang finansial dan beberapa produk investasi yang dibahas di buku ini.
Akhirnya, setelah lama mencari buku yang setidaknya bisa menjadi panduan ngelola finansial, ketemu juga dengan buku ini. Buatku yang sangat amatir soal financial management, buku ini cukup menjadi pencerahan. Ditulis dengan bahasa yang santai dan lugas, hal-hal yang njelimut pun bisa lebih mudah dimengerti. Sangat membantu!
Buku yang menarik. Mengupas secara singkat namun mendalam mengenai financial planning dengan gaya yang menyenangkan. More review please visit http://ladypink73.wordpress.com/2014/... thank you :)
semalam ga bisa tidur, gw liat ini buku ( yg dibeli cewe gw beberapa bulan yg lalu ) iseng ane baca (padahal dari judulnya aja ni buku buwat wanita) hahaha ane baca sampe habis dri jam 12 sampe jam 5 pagi, isinya lumayan lah gampang dicerna.
bagus banget buat cewek-cewek yang lagi belajar ngatur penghasilan sendiri. bahasanya ringan dan mudah dipahami. terus ada contoh case juga. good book. sayang kurang tebel nih :P
Buku yang selama baca selalu nyebut dalam hati "iya juga ya". Hahaha... Tersindir habis nih baca buku ini. Jadi sadar ternyata selama ini bocor halus dimana-mana. Hahaha.. Buku ini keren banget!!!
It took a while for me to finish it since I read it part by part. Beforehand, as a fresh graduate that suddenly have money to be spent, I have no idea how to spent it wisely & plan to have any asset. This book really woke me up & enlighten me about how to manage & plan my financial.