Kisah kita serupa dongeng. Dipertemukan tanpa sengaja, jatuh cinta, lalu bersama, dan akan bahagia selamanya. Tanpa banyak kata, kau tahu aku mencintaimu selamanya. Begitulah yang seharusnya.
Namun, ketika setiap pagi kutemukan diriku tanpa kau di sisiku, aku sadar bahwa dongeng hanyalah cerita bohong belaka. Kau pergi, meninggalkanku dalam sepi, dalam sesal yang semakin menikam.
Hidup tak akan sama lagi tanpamu. Apa yang harus kukatakan ketika mata polos gadis itu memelas, memintaku menceritakan dongeng-dongeng yang berakhir bahagia? Kau belum memberi tahu jawabnya untukku.
Kau tahu, kali ini, akan kulakukan apa pun untuk mempertahankanmu berada di sisiku. Pun sejenak. Namun, lagi-lagi, kau hanya ada dalam memori….
Saya punya sejarah panjang membaca karya-karya Mbak Prisca Primasari. Enam tahun, tepatnya--dan selama itulah saya melihat bagaimana karyanya berkembang, getting better and better. Saya kagum, kagum sekali dan akan angkat topi berkali-kali. Ciri khasnya tidak pernah hilang di setiap karya, meskipun selalu berbeda tema dan cerita. :)
Priceless Moment ini, so far, saya rasa adalah bukunya yang terbaik. So here is the review; atau tepatnya komentar-komentar trivial berpoin-poin seperti yang biasa saya tulis.
***
1. Tema ayah dan anak bukan sesuatu yang asing dalam sejarah karya-karya Mbak Prisca. Bisa dibilang, saya sudah membaca banyak sekali karyanya yang mengangkat tema itu. Tapi, karya-karya yang lalu itu lebih melankolis dan penuh drama. Mungkin karena bukan novel, ya. Sedangkan tema itu di Priceless Moment ini dieksekusi secara realistis sekali. Meskipun ada sentuhan dongengnya, tetap saja realistis.
2. Menyentuh? Pasti. Tear-jerker? Jangan ditanya. Banyak scene yang pasti bikin banyak pembaca mbrambang. Saya sendiri lolos dari jeratan air mata atau kaca-kaca, tapi tetap tersentuh banget di beberapa scene, terutama pas di bandara. Jangan bayangin adegan klise mendengar kata "bandara", because it's not.
3. Mbak Prisca masih dengan ciri khas diksinya yang lembut, indah, romantis. Saya merasa susunan kalimatnya diuntai hati-hati sekali; ada emosi di setiap kalimat. Membuai, mendayu, memabukkan.
4. Plotnya rapi banget. Mbak Prisca memang selalu pintar mengemas plot. Dia tahu kapan harus menempatkan adegan ini, kapan harus menempatkan adegan itu--dengan tepat, membentuk kesatuan plot yang utuh dan rapi. Saya khususnya suka dengan bagian pertemuan pertama Yanuar dan Esther yang baru diceritakan di halaman-halaman agak akhir. Sepanjang membaca, saya bertanya-tanya kapan adegan itu dimunculkan, dan saya betul-betul nyengir lebar ketika kisah itu akhirnya ditaruh menjelang halaman belakang. Apalagi teka-teki kalimat yang Lieselotte ucapkan pada Yanuar, haha. Mbak Prisca selalu bisa menyembunyikan suatu fakta yang bikin penasaran dan baru menguaknya di akhir-akhir, membuat pembacanya jadi meneruskan membaca karena penasaran.
5. Penggunaan "saya-kamu" dalam dialog. Ah, itu juga bikin saya nyengir lebar banget. Salah satu khasnya Mbak Prisca; dari dulu nggak berubah. :))
6. Ceritanya yang berbau Jerman. Teman saya yang pecinta Jerman--dan kecewa karena nggak ada seri STPC GagasMedia yang berlatar di Jerman--bakal kegirangan banget baca ini.
7. Saya perhatikan, di novel ini Mbak Prisca cukup sering menggunakan metode "tell", terutama untuk menceritakan kisah-kisah kilas balik. Saya nggak pernah berpikir bahwa metode itu ketinggalan zaman (mengingat terlalu banyak orang memuja-muja metode "show"), dan novel ini adalah salah satu bukti nyata bahwa metode itu masih bisa dikemas secara modern untuk menghasilkan cerita yang bagus.
8. Flowing-nya... yah, saya yakin banyak pembaca yang bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. :)
9. Karakternya realistis dan relate-able. Novel ini--mungkin karena latarnya yang di Indonesia--adalah novel Mbak Prisca yang bagi saya cerita (dan latar)nya paling mudah dibayangkan, begitu pun kehidupan karakter-karakternya. Tentang kehidupan Yanuar sebagai manajer perusahaan, semua rasa stres dan frustrasinya, bahkan kehidupan kotanya (khususnya Jakarta). Terasa lokal dan lebih terjangkau dibandingkan novel-novel sebelumnya yang berlatar di luar negeri semua. Apalagi karakter Hafsha dan Feru, bagus sekali penokohan kekanakannya. Mereka sangat adorable. :3
10. Kisah cintanya begitu manis. Kadarnya pas, nggak berlebihan sama sekali. Chemistry Yanuar dan Esther, serta Yanuar dan Lieselotte, dibangun perlahan-lahan dengan hati-hati. Dan ending-nya... Bikin pengin teriak-teriak lega, "OMG I love this pairing!"
11. Bersih dari salah ketik atau salah eja, dan saya betul-betul senang karena novel ini menggunakan font yang biasa aja, nggak seperti novel Mbak Prisca sebelumnya.
12. Poin terakhir ini nggak penting, tapi... setelah menemukan June (Iparis) yang lahir pada bulan Juli, dan August (Pullman) yang lahir pada bulan Oktober, di novel ini saya menemukan Yanuar (Adhyaksa) yang lahir pada bulan Juli. :))))) Sebuah nama sungguh bisa menipu!
***
Novel ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang mencari cerita keluarga yang sendu tapi manis--dan oh, bagi yang suka dongeng, serta hal-hal berbau Jerman. :)
Saya menyangka novel ini bertemakan romance. Ternyata saya salah. Ada sih romannya tapi tipis-tipis saja.
Yanuar baru saja ditinggalkan oleh istrinya, Esther. Esther meninggal karena kecelakaan saat menjemput anak-anak mereka, Hafsha dan Feru dari sekolah. Seketika dunia Yanuar berubah, seperti hampa. Tapi Yanuar mencoba bertahan demi kedua anaknya. Kepergian Esther semakin menyadarkannya bahwa dirinya sudah menjauh dari keluarga karena kesibukan di tempat kerja. Dia merasa kehilangan waktu dalam masa tumbuh anak-anaknya. Sepotong salmon goreng menyadarkannya akan hal itu.
Novel ini lebih banyak bercerita bagaimana Yanuar mencoba menebus kekurangannya sembari melanjutkan hidup. Ada seorang wanita yang sempat menarik perhatiannya, namun dia tahu saat ini bukan itu prioritas utamanya. Lagipula dia belum bisa menahan gadis itu di dekatnya. Saya menyukai perubahan karakter Yanuar secara perlahan. Usahanya membangun kedekatan emosional dengan anak-anaknya sampai kedua anaknya bisa menganggap dirinya penting dan utama. Aah... cerita tentang seorang ayah memang selalu membuat hati menjadi hangat.
Judul: Priceless Moment Penulis: Prisca Primasari Penerbit: Gagas Media Halaman: 304 halaman Terbitan: Agustus 2014
Sinopsis
Yanuar tidak pernah menyangka bahwa Esther, istrinya akan pergi begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa kata-kata perpisahan. Tanpa tanda apa-apa. Esther meninggal.
Kepergian Esther menyadarkan Yanuar bahwa ada begitu banyak kekosongan dalam rumah tangganya. Waktu-waktu yang seharusnya bisa dia lewatkan dengan keluarganya, tapi justru habis karena pekerjaannya di sebuah perusahaan furnitur.
Berusaha membayar semua kesalahannya, Yanuar belajar untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan kedua anaknya, Feru dan Hafsha. Dia harus belajar mendongeng dari Wira, adiknya, rela izin terlambat datang ke rapat untuk menjemput anaknya, hingga bermain dengan mereka.
Walau Feru dan Hafsha dapat membantu mengobati luka kepergian Esther, namun Yanuar tetap merasakan kekosongan dalam hatinya. Hingga dia bertemu dengan Liselotte, desainer baru di tempatnya bekerja. Lis yang dingin dan sulit membaur menarik perhatian Yanuar. Tapi sadar akan kepergian istrinya yang baru saja, serta perasaan kedua anaknya, Yanuar bimbang akan hatinya sendiri.
Review
Novel yang cukup sibuk lalu-lalang di lini masa Goodreads saya. Membaca review yang positif dari para pembacanya membuat saya ingin mencoba buku ini juga. Untungnya saya mendapat kesempatan untuk memilih buku ini waktu menang GA September yang lalu. Akhirnya malah dapat versi bertandatangannya :)).
Saya jujur mengakui bahwa bagian awal novel ini sedikit membosankan untuk saya. Walau penulisannya baik dan banyak bagian yang berusaha memancing emosi, tapi saya justru datar-datar saja membacanya. Untungnya hal ini tidak terus berlanjut hingga akhir.
Ada 2 bagian narasi yang saya anggap istimewa di buku ini. Yang pertama waktu Yanuar mengingat suatu peristiwa ketika Esther membawa makanan ke kantornya, lalu mereka mengalami "momen spesial" di dalam ruangannya Yanuar (hush, bukan "spesial" seperti itu). Buat saya itu bagian yang terkuat dalam menunjukkan perasaan Yanuar pada Esther.
Yang kedua, waktu Yanuar mengingat seperti apa kondisi awal pernikahan mereka, lalu bagaimana keuangan mereka semakin membaik, tapi jarak mereka justru meregang sebagai gantinya (hal. 210).
Secara keseluruhan, buat saya ini adalah sebuah novel yang hangat. Suka banget melihat bagaimana Yanuar berusaha untuk menjadi ayah yang lebih baik lagi. Suka juga sama cerita selingan kehidupan adiknya, Wira. Mungkin lain kali bisa dibuat novel khusus untuk Wira ini? :D
Tapi, untuk kisah cinta Yanuar dan Lis, saya justru kurang bisa menangkap perasaan mereka. I don't know. I just don't buy it. Walau, kisah mereka ditulis dengan baik oleh Mbak Prisca.
Heartwarming (again) and I cried. This is love story about father and children. Seorang ayah yang selalu sibuk bekerja, ditinggal meninggal istrinya. Bagaimana ayah itu bertahan?
Tulisan ringan yang indah, hangat, menyentuh, menginspirasi, dan manisss. Dengan membaca ini, aku rindu pulang 😭
"Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharga hal-hal yang mereka miliki?" (hlm. 151)
Lebih suka Priceless Moment daripada French Pink. I found myself shed a few tears in some parts while reading this book, it reminds me soo much with my father (lagi homesick ceritanya saya pas baca ini) and i realize that parents love is really really priceless, and made me want to spend a lot of time with my parents. I love the characters' name in this book, lieselotte, hafsha, feru, it's beautiful!. Recommended to read! (walaupun digadang-gadang sama temen kalau bisa lebih mewek lagi pas baca eclair)
Dari awal bawaannya udah sendu, tapi nggak buat bosan.
Heartwarming sekali ceritanya, nggak hanya membahas tentang kehidupan pernikahan, tetapi juga tentang ikatan saudara, hubungan ayah dengan anaknya, dan juga bagaimana bangkit dari keterpurukan (kehilangan seseorang yang disayang).
Ada beberapa bagian yang buat hati mencelos, pas di bandara. Itu lumayan nyesek.
Aku suka, tapi bagian happy-happy-nya dikit banget wkwk. Walaupun gitu, ceritanya tetap menyenangkan untuk dibaca.
Aku suka kehangatan perkembangan Yan sebagai ayah dengan istri yang meninggal. Namun, merah muda Yan dan Lis terasa kurang bisa kurasakan (ini masalahku aja sih mungkin, merasa mereka kurang terkoneksi)
khas Prisca Primasari dengan pengetahuan sastra dan musik Eropa (kali ini Jerman). ada beberapa adegan yang menurut saya penggambarannya 'sangat manga/anime'.
yang menurut saya agak aneh adalah semua orang di novel ini kesannya kayak tahu (dan paham) tentang sastra dan musik Jerman, padahal sastra dan musik Jerman tidak sepopuler 'itu' di Indonesia. Kpop yang udah menjamur aja belum tentu diketahui semua orang.
tapi secara keseluruhan, saya cukup menyukai buku ini. cukup karena entahlah, rasanya ada yang kurang dan flat. apa mungkin karena saya kurang bersimpati pada tokoh-tokohnya yang sudah orang dewasa ya? sementara bacaan saya biasanya remaja dan dewasa muda. yasudahlah. tetap worth it untuk dibaca dan dikoleksi, terutama kalau kamu penggemar Prisca Primasari.
hangat. lembar demi lembar nggak berasa dan tau-tau aku merasakan banyak sekali emosi penuh melankoli selama membacanya. membaca buku ini membuat aku berniat dalam hati untuk selalu memprioritaskan keluarga apapun yang terjadi. seperti judulnya, waktu-waktu untuk bersama keluarga itu priceless. kita nggak tau kapan orangtua akhirnya pergi, atau pasangan. kita juga hanya punya waktu satu kali seumur hidup untuk melihat anak-anak bertumbuh. kadang kita memang perlu sebuah kehilangan untuk menyadari priceless moments itu, dan aku nggak mau terlambat menyadarinya. buku ini berhasil bikin mewek, terharu, bahagia, merasa kehilangan dan macam-macam. akupun heran melihat bagaimana emosiku bisa teraduk-aduk sedemikian rupa. aku suka. sangat suka buku ini. terimakasih Kak Prisca sudah menuliskannya :")
Gaya menulis Prisca bikin hati terasa hangat, ya. Suka sekali sama karakter-karakternya. Untuk karakter cowok, saya suka sekali sama Wira hehehe... jadi iri sama Inez...
Adegan favoritku itu waktu Acha batal pergi ke San Fransisco karena mau sama papa dan Feru aja. Waktu Yanuar nangis bahagia, aku jadi ikut berkaca-kaca.
Terus sempat sedih karena mengira Yanuar dan Lotte nggak akan jadi... habisnya lama banget 11 tahun ya ampun... tapi untunglah endingnya mengobati dan saya nggak jadi sedih lagi. Hehe.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tinimbang novel Mbak Prisca yang sebelumnya saya baca, ada bagian di novel ini yang hilang entah apa. Saya kehilangan bagian khas Mbak Prisca di buku ini. Namun, hubungan orangtua - anak memang nggak pernah nggak menarik untuk diceritakan, rasa emosionalnya tentu jauh berbeda dengan novel romance lain. Ada sesuatu yang harus dipelajari untuk menulis novel keluarga dan Mbak Prisca mengeksekusinya dengan baik, ditambah kenyataan bahwa Mbak Prisca menambahkan bingkai romance Yanuar - Lieselotte dengan sangat apik. Great job, Mbak Prisca.
Saya tidak menyangka akan menemukan buku ini di antara tumpukan buku-buku di Big Bad Wolf Jakarta 2018, dan merasa sangat senang sekali karena ada beberapa buku kak Prisca yang masih saya hunting. Saya menangis sepanjang membaca cerita ini jujur saja, pahit manis indah semua porsinya pas. Saya suka sekali interaksi Yanuar dengan anak anaknya, dan bagaimana dia berusaha untuk berubah menjadi lebih baik demi anak-anaknya, dan demi waktu yang tidak mungkin bisa dia kembalikan. Novel ini hangat, dan sangat kak prisca sekali :")
Menyadari tropenya adalah... Duda anak 2 yang istrinya telah tiada. Dan kali ini diolah oleh mbak Prisca! Aku penasaran pendekatannya bakal kayak apa kali ini berhubung trope ini gak pernah gagal buat aku 🤣. Secara karakter untuk di awal aku belum nemu hal2 yang spesial ya but meskipun Lotte tampak punya potensi untuk jadi karakter yang menarik.
Aku merasa tema keluarganya memang lebih ditonjolkan untuk novel ini. Konflik antara Yanuar dan kedua anaknya, juga antara Yanuar dan adiknya yang lebih dekat dengan anak2nya. Momen2 mengharukan mulai dimunculkan, bagaimana Yanuar berusaha belajar untuk menjadi ayah yang lebih baik.
Lotte gak berbuat banyak secara garis besar cerita untuk memberikan dampak signifikan ke Yanuar dan anaknya. Tapi untuk chemistry dan ketertarikan satu sama lain sudah bisa ditebak.
Aku bs memahami pola mba friska utk pendekatan di trope ini. Seperti sihir, beliau punya cara utk aku terus membaca halaman demi halaman krn ada sebuah pertanyaan yg terus muncul dibenakku selama membaca tulisannya.
Ada misteri yg menggiringku utk terus bertanya2 bagaimana hubungan Yanuar dan Lotte dalam cerita ini. Apa? Apa yg membuat kedua tokohnya nanti bisa terhubung, kalau bersama.
Rasanya semua hal dalam cerita ini terasa realistis. Sehingga berekspektasi mereka bersama menjadi agak susah. Tapi kalau mereka akhirnya bersama, aku dibuat penasaran bagaimana mba Prisca akan mengolah hal tersebut.
⚠️ semi spoiler
Lisoette memiliki ayah yg ditinggal istrinya, dan melihat kedukaan sang ayah selama bertahun2 lamanya, ia paham betul bahwa mencintai lelaki yg begitu mencintai istrinya adalah sebuah kesia-siaan. Mungkin begitulah Lotte melihat Yanuar, spt cerminan sang ayah. Melihat ayahnya bs mengenang ibunya dgn penuh cinta mungkin adalah hal yg seorang anak kagumi. Tp bagaimana jika org yg sama adalah seseorang yg ia jatuhkan hati kepadany? Jadi aku paham kenapa Lotte tdk menaruh harapan.
Lalu semakin ke belakang kok jadi... Gelap 🥲
Kepergian almarhumah istri Yanuar ternyata meninggalkan begitu banyak penyesalan, sehingga membuka hati untuk wanita baru dalam hidupnya pun jadi terasa gak adil.
Disini aku jujur aja udah hopeless sama perkembangan dinamika romansanya. 😫😭
Aaaah aku tahu kenapa Lieselotte kemudian menjadi tokoh yang istimewa untukku 😭. Selama aku membaca cerita ini, mengenal Esther yang sempurna, aku diajak memahami alasan Yanuar begitu mencintai istrinya. Dan sekalipun ada banyak penyesalan di akhir perjumpaan mereka, tapi hubungan mereka diawali dengan keindahan. Sempurna. Mereka adalah pasangan too good to be true tp kemudian mereka harus dihadapkan ujian yg sangat menyakitkan.
Berbeda dengan Lieselotte. Gadis ini adalah seorang gadis yang tegar, dia bukan gadis yang ceria, ia selalu tampak muram, sendu, dan sedikit gelap. Tapi di dalam sisi2nya yang terasa dingin, sebenarnya ia hanyalah seorang gadis kecil yang rapuh. Ia hanya nggak tahu caranya meminta tolong. And it hurts me. 🥲
Lieselotte vibesnya kayak lagu indie.
Cengeng banget aku. Novel2nya mba Prisca rata2 selalu adaaa aja bagian yang bikin aku ngga bisa kalau air matanya ditahan 😭.
Overall, novel ini lebih menonjolkan sisi keluarganya. Bagaimana seorang ayah menebus kesalahannya yg ga pernah ada utk keluarganya meskipun dia sangat mencintai keluarganya itu. Tentang penyesalan yg hadir karena disadarkan oleh kehilangan. Itu nyesek sih tapi ya gimana, jalan hidupnya begitu. Bagaimana aku sbg pembaca diajak untuk ikut memahami luka dan melalui anak2nya aku diajak melihat bagaimana single parent, seorang ayah, menyembuhkan luka2 batinnya.
Yanuar serta anak2nya bertumbuh selama cerita ini dan itu mengharukan, menyakitkan, tapi indah.
Novel ini memiliki akhir yang pas. Cukup. Benar-benar sebuah akhir dari kisah panjang yang berat dan penuh luka. Sebuah akhir yang layak. Dan aku mengakhiri novel ini ditemani lagu2 yang mendayu. Makannya jd dikit2 mewek deh hehe.
Menurutku buku ini sangat sempurna untuk dibaca, bukan hanya berisi hal2 yg sangat heartwarming tapi, porsi cerita setiap tokoh juga pas. Aku suka bangetttt alur yg ada di buku ini, tidak tergesa-gesa dan sesuai porsinya. Beberapa part benar2 menyentuh sekaligus menyayat hati, lis dan yanuar juga momentnya sangat pas. Andai saja saat part awal2 buku ini hanya membahas lis dan yanuar saja mungkin saya akan berhenti membacanya, tapi untungnya tidak seperti itu dan tentu sajaa buku ini sangat pantas untuk diberi bintang 5. Selalu terkagum2 dengan karya mbak prisca, memang jagonya membuat buku heartwarming seperti karya2 yg lainnya juga
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pilihan saya untuk buku yang bisa dibaca cepet, sangat tepat! Buku ini, seperti buku-buku mbak Prisca lainnya, sangat page-turning. Dengan topik tidak melulu tentang romans, untaian kata dan kalimat yang manis, jadilah buku ini menjadi salah satu favorit untuk bisa dibaca ulang satu hari nanti.
Novel ini akan terasa lengkap dan nyata karena mengandung cerita hubungan ayah dan anak. Menceritakan perjalanan ayah dan dua anaknya untuk pulih dari luka kematian sang ibu/istrinya. Aku tidak cukup puas dengan ending dari novelnya, meski aku lebih menikmati cerita hubungan ayah dan anak-anaknya. Tapi, karena sudah menambah bumbu romansa si ayah, kukira aku akan mendapatkan lebih banyak tentang hal tersebut. Tak terpikir bahwa akan memiliki ending seperti itu. Terimakasih Mba Prima!!
Sering baca cerita yang nyeritain dari sudut pandang ibu tapi nggak banyak yang cerita dari sudut pandang ayah.
Udah lama sebenernya baca buku ini, belum sempet re-read. Tapi cerita di dalemnya masih membekas, apalagi bagian-bagian awal dimana istrinya baru-baru meninggal. Mungkin karena penggambaran Yanuar juga yang emang pada dasarnya hampir mirip papa kali ya, jadi aku bisa ikut bersimpati.
Buku yang sangat heartwarming! Benar-benar ciri khas Kak Prisca. Pada bab-bab terakhir, aku sedikit ingin menitikan air mata melihat hubungan Yanuar dengan kedua anaknya. Suka! Suka sekali dengan cerita yang diangkat dan bagaimana Kak Prisca menuliskannya. Sepertinya buku ini akan masuk dalam top 3 buku Kak Prisca favoritku :D
Its such a heartwarming book. Hubungan antara anak dan ayah yang sangat menyentuh hati, apalagi di scene Acha dan Yanuar di bandara, haduh melting banget. Keberadaan Esther yang selewat-lewat justru bikin penasaran, tentang POV yang dia rasakan, dan mungkin karena itu aku jadi nggak bisa menikmati hubungan Yanuar dan Lis, idk kayak ada yang salah aja.
Cerita yang khas dari seorang Prisca berupa kelembutan, keindahan, kecintaan akan sesuatu serta hanyutnya pribadi dalam suatu momen yang berkesan. Kali ini latar Jerman sebagai alasan bersambungnya dua hati antara Yanuar dengan Lieselotte.
Seperti biasa novel ini disuguhkan dengan aroma manis semanis pertemuan keduanya berbelas tahun kemudian. Hangat sekaligus mengharukan.
Sebenernya buku ini udah lama aku punya tapi baru kebuka bungkusnya karena stok buku lainnya abis dan ceritanya ketika sekali baca aku langsung suka. Ceritanya ringan tentang seirang duda, aku suka endingnya! Dan menurutku itu keputusan bagus untuk nggak ngebuat kita benci sama karakter utamanya!
Cocok untuk yang suka alur bertempo lambat dengan rangkaian kata-kata indah. Untuk saya, alurnya bisa ditebak dengan mudah. Namun, novel ini tetap bisa dinikmati untuk dihabiskan sekali baca.
Baca Priceless Moment ini, suasananya mirip waktu aku baca Evergreen. Meskipun keduanya bertema hubungan ayah-anak, keduanya malah bikin aku inget Mamah. Hmm. Ceritanya haru biru. Ya, haru biru.