Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dong Mu

Rate this book
5 Juli 2006, Korea Utara meluncurkan rudal uji coba yang jatuh di Laut Jepang. Seluruh dunia gempar karena khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir. Bayangkan bencana besar yang bisa ditimbulkannya!

Insiden internasional ini menyeret Herman, orang Indonesia yang bekerja di Departement of Safeguard International Atomic Energy Agency (IAEA), organ PBB untuk urusan energi nuklir yang bermarkas di Wina. Herman ditugasi menyelidiki keberadaan hulu ledak nuklir ini langsung ke Korea Utara.

Sialnya Korea Utara sudah beberapa lama tidak mengizinkan reaktor-reaktor nuklir mereka diperiksa keamanannya oleh IAEA. Masalah makin pelik ketika Robert Campbell, anggota CIA yang menyamar jadi orang IAEA ditangkap pihak intelejen Korea Utara, dan harus ditebus dengan uranium yang cukup untuk membuat dua hulu ledak nuklir!

Bersama temannya, Prof. Rukayadi---mikrobiolog Indonesia yang bekerja di universitas di Korea, dan bantuan tentara Korea Selatan serta Amerika, Herman terlibat dalam petualangan membebaskan Robert Campbell dan membereskan krisis nuklir yang mengguncang dunia ini.

237 pages, Paperback

First published January 1, 2007

5 people are currently reading
11 people want to read

About the author

Jamal

58 books14 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (6%)
4 stars
19 (26%)
3 stars
29 (40%)
2 stars
18 (25%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
September 13, 2012
Aku suka novel ini..

Dan pada akhirnya dibutuhkan orang Indonesia untuk menyelamatkan dunia..!! menyelamatkan satu anggota CIA sih lebih tepatnya..kisah yang awalnya berlatar belakang konflik Korea..tentang Korea Utara yang terkenal sebagai salah satu negeri paling Introvert didunia ini..mau ngintip mr.simple dinegeri tetangga saja dihukum..tidak menangis dan tidak terlihat berduka pada saat kematian salah satu pemimpin mereka; Kim Il Jong atau Kim Jong-Il..lagi-lagi akan kena hukuman.

Korea Utara..

Bercerita tentang ambisinya mengenai teknologi nuklir..untuk kebutuhan energi dalihnya, tetapi mata dunia menyorot pengembangan nuklir itu untuk rudal yang berhulu ledak..tentu saja hal ini akan mengancam kestabilan keamananan dan pemicu konflik di negara-negara Asia Timur..pada khususnya dan peran Amerika sebagai polisi dunia..lagi..lagi..turut ikut campur dalam masalah ini..biasa kan kesannya..yang beda dari kisah ini adalah tampilnya; James Bond 007..dari desa Talaga, Majalengka, Jawa Barat..dan orang itu bernama..

Herman..seorang Nuclear Safeguards Inspector, International Atomic Energy Agency (IAEA) dengan 25kg Uranium yang dia bawa untuk tebusan sandra, dan Prof. Rukadi mikrobiolog yang membuat tentara Korea Utara pingsan dengan jenis bakteri temuannya ketika mereka berdua menyusup masuk ke tempat penyanderaan Robert ‘Bob’ Campbell, anggota CIA yang diculik..berhasilkah mereka dengan misinya; ditengah para anggota CIA dan Navy Seal yang juga ada disamping mereka..silahkan baca sendiri kisahnya..

Ini adalah kisah fiksi, tetapi tokoh yang sebenarnya memang ada didunia nyata seperti: Suhermanto Duliman IAEA Tokyo yang meng-llhami tokoh Herman dan Yaya Rukayadi microbiologist Seoul yang nama belakangnya dipakai menjadi salah satu tokoh penting dari cerita ini. Membaca kisah ini membuat kita bangga menjadi orang Indonesia..tentang kiprah anak bangsa yang menorerkan karyanya di dunia Internasional..

Salute.. buat mang Jamal..
Profile Image for Nyut.
123 reviews1 follower
June 26, 2024
Radak pusing ye bacanya. Tapi kuakui ide ceritanya cukup menarik, tentang mata-mata dan misi penyelamatan sandera di Korea Utara. Cuma bagiku persiapan penyelamatannya panjang banget, sedangkan bagian klimaksnya kurang menegangkan, dan endingnya kurang ringkas.

Menceritakan tentang misi Herman, seorang pengawas penggunaan nuklir dari sebuah departemen di bawah naingan PBB, untuk menyelamatkan temannya, seorang agen CIA, yg ditangkap oleh pihak Korea Utara. Misi ini dibantu oleh beberapa pihak, termasuk agen intelijen Korea Selatan, tentara Amerika, juga seorang profesor mikrobiologi asal Indonesia yang bekerja di Korsel. Dari bagian ini aja aku udah gak terlalu tertarik sebenarnya, karena ini bukan genre yang biasanya aku nikmati. Tapi kupikir sekali-sekali bolehlah aku keluar dari zona nyaman, kali aja cocok.

Setelah kubaca, ya memang aku gak terlalu suka. Mungkin karena bukan seleraku, trus juga karena agak perlu efort untuk memahami beberapa bagian karena ada istilah-istilah yang gak biasa buatku yang perlu kuingat. Selain itu juga dibagian klimaksnya, kurasa keberhasilan mereka terlalu konyol dan mudah karena adanya tokoh profesor gila dengan percobaan-percobaan ilmiah yang dia lakukan. Ini aku menyebutkannya sebagai konyol bukan karena bagiku lucu, tapi karena kurasa terlalu maksa aja buatku. Jadi berasa kaya misi penyelamatannya gak seserius dan semenegangkan yang aku harapkan.

Meskipun aku gak terlalu suka, tapi ada bagian-bagian yang cukup ngena bagiku. Terutama ketika tokoh-tokoh ini menyindir tentang Indonesia. Contohnya tentang orang pintar, seperti profesor atau ilmuwan, yang gak akan menghasilkan dan dapat apa-apa kalau kembali ke Indonesia. Juga tentang seorang pemimpin Indonesia yang suka menyingkirkan dan membungkam lawan politiknya dengan cara yang tidak baik.
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
November 16, 2008
“Dong mu” dalam bahasa Korea bermakna sama seperti kamerad dalam bahasa Rusia. Kira-kira dalam bahasa kita artinya kawan (rekan). Biasanya dipakai sebagai panggilan akrab sesama anggota partai komunis. Ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI karya Arifin C.Noor yang sangat populer di paruh tahun 80-an? Dalam dialognya, sesama anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) saling menyapa dengan sebutan “kawan” (Kawan Sam, Kawan Aidit, dll). Kurang lebih seperti itulah arti kata “dong mu”.

Dong Mu menjadi judul novel kelima Jamal karena mengambil setting cerita di Negeri Ginseng. Tokohnya seorang pria Indonesia, Herman, staf Departemen of Safeguard International Atomic Energy (IAEA), sebuah organisasi PBB yang mengurusi energi nuklir. Bermarkas di Wina, Austria, IAEA bertugas mengawasi penggunaan tenaga nuklir di setiap negara agar tidak dipakai sebagai senjata pemusnah yang membahayakan umat manusia.

Korea Utara adalah salah satu negara yang memiliki reaktor nuklir cukup besar di Asia. Pada 5 Juli 2006, negeri di bawah pimpinan Presiden Kim Jong Il itu diam-diam meluncurkan peluru kendali (rudal) dalam rangka uji coba di Yongbyon. Rudal tersebut ternyata jatuh di laut Jepang. Peristiwa tersebut sangat mengejutkan dunia, khususnya Amerika Serikat selaku negeri adi kuasa yang selalu merasa diri sebagai polisi dunia itu. Seluruh dunia khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir yang apa bila meledak dapat mengakibatkan bencana besar bagia kemanusiaan.

Kejadian itu membawa Herman tiba di Seoul, Korea Selatan, untuk mengulik kebenaran fakta langsung dari sumbernya. Namun, alih-alih memperoleh informasi yang diperlukan, Herman malah terseret dalam sebuah upaya pembebasan seorang agen CIA, Robert Campbell, yang diculik oleh pihak intelejen Korea Utara. Mereka meminta tebusan berupa uranium sebanyak 50 kilogram. Jumlah yang sangat cukup untuk menghancur-leburkan dunia.

Keterlibatan Herman karena ia diminta pihak Korea Utara sebagai perantara yang akan menyerahkan barang tebusan tersebut. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Herman tak sanggup mengelak dari “tugas” yang penuh risiko itu. Bersama tentara Korea Selatan dan Amerika, ia melaksanakan operasi pembebasan Campbell. Turut serta dalam petualangan itu Prof.Rukayadi, ahli mikrobiologi Indonesia sahabat Herman yang telah lama menetap di Seoul.

Lagi-lagi, Jamal yang asli Ciamis ini membuat cerita berlatar belakang luar negeri. Kali ini ia (mencoba) berkelana ke Korea meskipun ia belum pernah menginjakkan kaki di negeri yang diramalkan akan menjadi salah satu Macan Asia ini. Permasalahan politik yang berakar pada soal ideologi antara Korea Utara dan Selatan “dimanfaatkan” Jamal untuk memperkaya novelnya ini. Tidak cukup dalam sih, karena memang Dong Mu tidak berambisi menjadi sebuah novel politik.

Tema yang kali ini diusung Jamal lumayan berat sebetulnya. Tetapi sayangnya tidak lalu menjelma novel yang cukup berbobot. Malah cenderung cetek dan enteng-enteng saja. Usahanya menghadirkan plot beraroma thriller tak cukup berhasil kendati telah disiasati dengan gaya cerita spionase ala James Bond. Penyelesaian masalah yang mestinya cukup serius itu terkesan terlalu gampang.

Yang menarik “spionnya” adalah Herman, orang Melayu; sedangkan korbannya adalah Campbell, agen CIA. Menarik sebab selama ini Amerika dengan CIA-nya nyaris selalu digambarkan sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Namun, dalam Dong Mu, dengan usilnya Jamal menjungkirbalikkan gambaran tersebut.

Sebenarnya jika penulis yang juga dosen ITENAS ini mau membebaskan diri dari keharusan menyampaikan pesan moral tentang bahaya penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah, barangkali Dong Mu akan jauh lebih asyik dinikmati sebagai semata-mata novel spionase. Tentu dengan menggali lebih dalam lagi informasi dan data bagi kisah dengan tema besar ini. Di sini, ia jadi tidak fokus lantaran sibuk mengampanyekan perdamaian dunia dan anti senjata nuklir.

Jamal juga terlihat kelewat nasionalis dengan menjadikan Herman dan Prof.Rukayadi sebagai pahlawan. Boleh saja sih berbangga-bangga dengan negeri sendiri sepanjang itu rasional dan sesuai fakta. Tetapi jika sebaliknya, apa malah tidak akan jadi lelucon saja?***
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
January 16, 2012
Ada dua brita yg membuat saya menjadi tertarik mengambil buku ini dari tumpukan buku yang belum dibaca yaitu peristiwa mangkatnya presiden Korea Utara Kim Jong-il dan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran. Tema dari novel 'Dong Mu' berkaitan dengan nuklir.

Nuklir selain bisa menjadi pembangkit tenaga listrik bisa digunakan untuk senjata pemusnah. Sejarah mencatat bagaimana buruknya pemboman Nagasaki & Hiroshima oleh Amerika Serikat. International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai badan internasional memantau setiap reaktor-reaktor nuklir di dunia. Herman bekerja di IAEA sebagai nuclear safeguards inspector. Tugas utamanya sebagai 'watch dog' reaktor-reaktor nuklir di dunia. Namun seperti badan-badan PBB lainnya sulit sekali menghilangkan pengaruh Negara adikuasa, Amerika Serikat. Jika ada Negara yang melakukan penggayaan Uranium yang lebih jauh dari sekadar pembangkit listrik seperti Iran dan Korea Utara, Ia akan meradang sekalipun ada pengecualian dalam kasus nuklir Israel yang dibiarkan bebas sekehendak hatinya. Korea Utara memiliki masalah dengan supply uranium. Dahulu sewaktu perang dingin karena kesamaan ideologi, Korea Utara didukung oleh Uni Soviet dan China. Uni Soviet bubar sementara China lebih mementingkan kepentingan domestik mereka.

5 Juli 2006, Korea Utara menguji coba tujuh rudal nuklirnya yang jatuh di perairan Jepang. Tindakan Korut memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga, Korea Selatan dan Jepang. Herman ditugaskan untuk ke semenanjung Korea. Sebenarnya Herman sudah pernah diusir dari Pyongyang,jadi kedatangannya sudah diperkirakan akan sia-sia saja. Namun ketika di Seoul Herman terlibat dengan urusan intelijen Korut-Korsel-Amrik.

Kim Song Gi dan pasukannya menculik Robert Campbell, agen CIA, mengawasi transaksi illegal perdagangan uranium dan meminta tebusan 50 kg uranium. Pangkalan Amerika Serikat di Yongsan,Seoul membentuk tim penyelamatan Robert Campbell. Anehnya,nama Herman disebut oleh Kim Song Gi diperintahkan sebagai mediator. Kim Song Gi yang merupakan intelijen korea utara terkenal dengan kelicinannya dalam perdagangan uranium illegal di daerah Asia Timur. Tentu saja melenceng jauh yang dari ditugaskan kantor pusat IAEA. Walaupun bukan tugas utamanya, Herman bersama sahabatnya Prof Rukayadi ikut serta dalam tim penyelamatan Robert Campbell bersama kapten Park dan Kang Jin Sob. Pelarian Robert Campbell dibantu oleh Koh Chol Hoyn,ahli nuklir Korea Utara yang sejak lama ingin keluar dari Korea Utara.

Novel ini memberikan informasi yang menarik seputar nuklir. Dari segi cerita, saya kecewa karena novel ini tidak sesuai ekspektasi saya. Rasanya janggal saja alur ceritanya berubah. Contohnya penyelamatan Robert Campbell yang merupakan agen CIA, hubungan antara Herman dan Robert Campbell tidak begitu dekat tetapi Herman ikut repot menyelamatkan Robert. Sementara dimana CIA? Masa dia membiarkan agennya dipancung musuh. Tugas utama Herman untuk mendatangi reaktor nuklir Korut tidak disinggung-singgung lagi. Apa Herman tidak dimarahi atasannya? Aneh saja kantor IAEA tidak menegur tindakan Herman. Lalu di ujung cerita ada bumbu-bumbu kisah cinta dr Linda dengan prof Rukayadi, yang menurut saya agak maksa. Saya tidak mendapatkan feelnya jika memang novel ini ingin menghadirkan kisah spionase.
Profile Image for Arya Nasoetion.
Author 2 books2 followers
Read
December 9, 2007
Sedikit kecewa setelah menghabiskan buku ini, karena perkiraan awal ketika membeli adalah konflik utama akan berputar di sekitar peluncuran rudal nuklir Korea Utara dan dampaknya bagi stabilitas regional.

Ternyata, topik utamanya itu ditinggalkan di tengah jalan, dan cerita utama justru dibangun dari sesuatu yang sifatnya sampingan, menyelamatkan agen CIA yang menyamar sebagai agen IAEA. Ketika saya baca review2nya, saya pikir tokoh utama itu akan berpartner dengan si agen CIA tersebut, tapi lalu agen itu tertangkap dan bergantung pada tokoh utama yang orang Indonesia itu untuk menyelamatkannya.

Ternyata, si CIA tertangkap di tempat terpisah, di tempat yang lepas sama sekali dari topik yang digadang-gadang sebagai daya tarik novel ini, yaitu peluncuran nuklir Korut.

Merasa tertipu juga dengan komentar di sampul depan yang bilang, "...petualangan detektif tingkat dunia." Di dalam novel ini tidak ada cerita detektifnya. Agen rahasia mungkin, tapi bukan detektif.

Bagian awalnya bertele-tele dan bagian akhirnya pun dragging. Sehingga penyelesaian bukan dijadikan sebagai akhir, tapi masih dilanjutkan dengan adegan-adegan yang menurut saya bisa dipotong demi menjaga adrenalin pembaca: Tegang-klimaks-penyelesaian-tamat, dan bukannya Tegang-klimaks, penyelesaian-adegan 1-adegan 2-adegan 3- Tamat. Terlalu lama, sudah hilang sisa-sisa rasa tegangnya.

Begitupun, novel ini menyajikan tema yang menarik. Tarik menarik kepentingan antar beberapa negara dan instansi, nasionalisme, serta tentu saja sarat dengan politik. Untuk itu, bintang tiga bolehlah saya berikan.

PS:
Buku ini juga gagal menjelaskan tentang penyatuan dua bangsa yang terpisah tidak selamanya membawa keuntungan. Jerman disebut menjadi makmur setelah penyatuan, padahal Jerman bagian Barat hampir bangkrut untuk membiayai penyatuan Jerman. Tapi ini, tentu saja, tidak terlau penting pada buku nonfiksi. Kecuali kalau ini adalah sebuah buku teks.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
March 10, 2010
5 Juli 2006, Korea Utara meluncurkan tujuh rudal percobaan. Rudal itu jatuh di perairan antara laut Jepang dan Semenanjung Korea. Seluruh dunia gempar karena khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir. Insiden internasional ini membuat badan International Atomic Energy Agency (IAEA), salah satu organ PBB untuk urusan energi nuklir yang bermarkas di Wina segera mengambil langkah strategis sesuai tanggung jawabnya sebagai badan yang mengawasi pemanfaatan energi nuklir.

Eero Heiskanen , kepala Departemen of Safeguards IAEA menugasi Herman, satu-satunya staff IAEA asal Indonesia yang bekerja di departemen tersebut untuk berangkat ke Korea guna menyelidiki ada tidaknya hulu ledak nuklir yang terpasang di rudal percobaan tersebut.

Di Seoul Herman bergabung dengan Kang Jin Sob, counterpart-nya di Korea Atomic Research. Ia juga bertemu dengan kawan lamanya, Prof Rukayadi – mikrobiolog Indonesia yang bekerja dan mengajar di sebuah Universitas di Seoul. Belum lagi Herman dan Kang Jin Sob melakukan tugas resminya tiba-tiba Herman memperoleh informasi kalau Robert Campbell, agen CIA yang sedang menyamar menjadi agen IAEA diculik oleh Kim Song Gi, agen intelejen Korut yang korup. Kim menuntut nyawa Robert Campbell ditukar dengan 50 kg uranium, jumlah yang cukup untuk dipasangkan di dua rudal berhulu ledak nuklir.

Tanpa diduga Kim menginginkan Herman sebagai mediatornya. Karena menyangkut warga negara Amerika maka markas tentara Amerika di Seoul menugaskan Mayor Snyder menyusun misi penyusupan ke Korut untuk pembebasan Robert Campbell. Untuk itu Mayor Snyder membentuk tiga tim (A,B,C), Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, dan Park Yong Chul, seorang tentara korsel, masuk dalam Tim C yang bertugas untuk mengiriman uranium ke sarang penculik.

Belum lagi operasi yang dipimpin Mayor Synder menjalankan tugasnya, tiba-tiba pihak Pentagon membatalkan rencana operasi tersebut. Pentagon memiliki rencana lain, mereka menginginkan operasi militer besar-besaran dari wilayah Korea Selatan untuk membebaskan Campbell. Tentu saja ini beresiko memancing perang terbuka dan memicu pihak Korut untuk menggunakan rudal nuklirnya. Pihak Korsel sendiri tampaknya keberatan dengan operasi militer ini.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di benak Prof Rukayadi. Ia mengusulkan untuk menyusup secara diam-diam ke Korut dan membebaskan Robert Campbell mendahului operasi militer Amerika. Jika mereka berhasil membebaskan Campbell, tentu saja tidak diperlukan lagi operasi militer besar-besaran. Jika tidak berhasil, nyawa mereka taruhannya dan kemungkinan terjadinya perang dan Korut menggunakan rudal nuklirnya semakin terbuka.

Ide gila ini akhirnya dilaksanakan, Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, Park Yong Chul menyusup ke wilayah Korut dengan membawa 25 kg uranium (setengah dari yang dituntut si penculik). Petualangan yang benar-benar berbahaya. Diantara keempat orang ini hanya Park Yong Chul yang berlatar belakang militer dan mahir menggunakan senjata, sementara yang lainnya hanya bermodalkan tekad dan keberanian semata.

Kisah diatas adalah inti cerita dari Dong Mu , novel ke 5 dari novelis produktif – Jamal - , karya-karya sebelumnya yang telah diterbitkan adalah Lousiana-Lousiana (Grasindo,2003), Rakkaustarina (Grasindo,2004), Fetussaga (Grasindo, 2005), Epigram (Gramedia, 2006), dan yang akan segera terbit, novel ke 6-nya yang berjudul : Darul (Bentang Pustaka).

Jamal yang kerap mengambil setting luar negeri di tiap novel-novelnya kini mengajak pembacanya berkelana ke negeri ginseng Korea. Berbeda dengan novel-novel terdahulunya yang kerap berlatar belakang kisah cinta, dan geger budaya tokoh-tokohnya selama hidup di luar negeri, kini Jamal menghadirkan kisah petualangan spionase yang dibalut dengan krisis nuklir di semenajung Korea.

Seperti halnya tokoh Herman, dan kawan-kawannya dalam novelnya ini yang nekad melakukan misi berbahaya, Jamal yang dalam kesehariannya mengajar sebagai dosen desain interior di sebuah univeritas swasta di bandung termasuk penulis yang nekad mengarang sebuah cerita tentang krisis nuklir. Sebuah tema yang jauh dari kesehariannya dan juga juga tema jarang atau bahkan tidak pernah disentuh oleh pengarang kita yang lain.

Selain ceritanya yang seru, novel ini banyak menyajikan dialog-dialog yang menambah wawasan pembacanya dalam hal nuklir. Salah satu keistimewaan jamal dalam novel-novelnya adalah menyajikan materi-materi yang tampaknya berat menjadi ringan karena dikemas dalam bentuk dialog antar tokoh-tokohnya. Demikian pula dalam Dong Mu, semua yang ingin disampaikan jamal pada pembacanya dikemas dalam dialog yang ringan dan mudah dipahami.

Dong Mu sendiri adalah frasa dalam bahasa Korea yang bisa berarti Kamerad, atau juga bisa diartikan sebagai teman. Judul yang tepat karena memang novel ini menceritakan pertemanan Herman dengan Prof Rukayadi dan sepak terjangnya dalam membebaskan seorang agen CIA yang diculik atas perintah Dong Mu (Kamerad) Kim Song Gi.

Salah satu yang menarik dalam novel ini adalah materi tentang kebijakan nuklir, baik kebijakan di negara-negara maju pemilik senjata nuklir, juga kebijakan nuklir di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam novel ini terungkap bahwa Indonesia sebenarnya memiliki tambang uranium di Kalimantan Barat, namun kita hanya bisa menggalinya untuk kemudian diekspor ke negara maju. Sayangnya "…petinggi negeri kita dan masyarakat belum melihat nuklir sebagai energi alternatif, karena kita masih punya yang lain seperti gas alam atau panas bumi yang melimpah…..Padahal bila dipakai energi listrik, tidak akan terjadi byar pet seperti yang selama ini terjadi. Energi nuklir itu sangat efisien. " (hal 32) .

Pembangunan reaktor nuklir di negara berkembang jika dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan memang sangat bermanfaat, namun energi nuklir juga memiliki resiko yang besar jika dikelola dengan serampangan. Untuk itu melalui tokoh Herman dalam makalahnya yang disampaikannya di Konferensi Energi Nulir di Wina Austria terungkap bahwa pembangunan nuklir di negara berkembang memiliki resiko karena umumnya disiplin dan etos kerja yang relatif lemah . Kelemahan ini bagi reaktor nuklir sangat berbahaya karena diperlukan rutinitas dengan disiplin tinggi untuk pengawasan dan pemeriksaan instalasi. (hal 52).

Disinggung pula bahwa negara-negara berkembang yang tidak memiliki energi minyak sangat layak menerima bantuan dan kesempatan dalam mengurangi ketergantungan kepada minyak, dengan demikian utang mereka akan berkurang, dan itu artinya kemakmuran bangsa dan neraga miskin dapat diraih. (hal 53).

Selain tentang kebijakan nuklir dan manfaat pembangunan nuklir di negara-negara berkembang, novel ini mengungkap pula soal diplomasi nuklir, pertikaian politik tingkat dunia sehubungan dengan ambisi pengembangan nuklir, pasar uranium gelap, peta rudal-rudal yang dimiliki Korut, lanskap daerah perbatasan korea utara dan selatan, kritik terhadap kebijakan politik Amerika, dll. Dan yang tak kalah menarik adalah kisah petualangan Herman dan kawan-kawannya menyusup ke Korea Utara. Dalam hal ini jamal menyajikannya dengan seru, lengkap dengan kejutan-kejutan di akhir cerita seperti novel2 spionase umumnya.

Kehadiran tokoh Prof. Rukayadi sebagai sahabat Herman yang bekerja sebagai mikrobiolog juga turut menyemarakkan novel ini, selain sedikit disinggung soal penelitian kandungan berbagai tanaman indonesia yang digunakan sebagai jamu , Prof Rukayadi dengan keahliannya sebagai mikrobiolog juga turut berperan penting dalam operasi penyelamatan Robert Campbell.

Hanya saja awal keterlibatan Porf Rukayadi dalam operasi ini terlihat sedikit dipaksakan. Saat Herman dijemput oleh pihak militer Amerika untuk dibawa ke Yongsan, Herman mendesak agar Prof Rukayadi ikut menemaninya. Hal ini langsung disetujui oleh orang yang menjemput Herman tanpa berkonsultasi dengan atasannya. Sungguh tindakan yang ceroboh bagi sebuah operasi intelejen. Padahal untuk operasi rahasia yang melibatkan CIA, Amerika, dan militer Korea Selatan, rasanya tak mungkin dapat dengan begitu saja melibatkan orang seperti Prof Rukayadi yang jelas-jelas kehaliannya berbeda dengan operasi ini. Namun untunglah kejanggalan ini kelak tertutupi oleh peran penting Prof Rukayadi dalam menjalankan operasi ini.

Satu lagi yang mungkin terasa kurang digali dalam novel ini adalah dampak lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan senjata nuklir. Tampaknya novel ini lebih condong ke arah politik dibanding ke dampak lingkungannya. Jika saja Jamal memberikan deskripsi yang agak detail untuk kerusakan lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan dampak lingkungan jika sebuah negara melakukan uji coba rudal berhulu ledak nuklir, tentunya novel ini akan semakin lengkap, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui soal kebijakan dan pertikaian nuklir tapi mengetahui juga akibat bagi lingkungan yang rusak dari pemanfaatan energi nuklir yang salah.

Di novel kelimanya ini juga, tampaknya Jamal meninggalkan ciri khasnya di keempat novel terdahulunya. Biasanya Jamal selalu menyelipkan unsur-unsur desain bangunan atau produk dalam tiap novelnya. Di novel Dong Mu, ciri khas Jamal ini tak muncul, padahal ada yang sedikit bisa diangkat seperti desain lokal/tradisional di korea seperti istana, atau mungkin bangunan-bangunan modern yang terdapat di korea dll.

Terlepas dari kekurangan diatas, novel ini secara umum sangat bermanfaat dalam memperluas cakrawala berpikir pembacanya dalam hal kebijakan nuklir . Selain itu melalui tokoh utama dalam novel ini, yaitu Herman sebagai lulusan Fisika Kuantum di Universitas Tokyo yang bekerja sebagai staff IAEA, dan Prof Rukayadi sebagai mikrobiolog yang bekerja dan mengajar di Korea Selatan tentunya akan membangun kesadaran pembacanya bahwa cendekiawan Indonesia ternyata bisa juga berkiprah dan diakui kepakarannya di negara-negara maju.

Tokoh Herman dan Prof Rukayadi bukanlah tokoh fikif, mereka benar-benar tokoh riil yang ‘dipinjam’ Jamal untuk menghidupkan novelnya ini. Herman adalah karakter dari Suhermanto Duliman yang kini bekerja di Nuclear Safeguards Inspector International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina Austria. Sedangkan Prof Rukayadi, adalah karakter dari Yaya Rukayadi, seorang microbilogist, dan penerima Seoul Honorary Citizenship, yang kini tinggal dan mengajar di Seoul Korea Selatan.

Apa yang diangkat oleh Jamal dalam novelnya kali ini, baik soal nuklir dan kiprah manusia Indonesia di negara maju patutlah dihargai. Tak heran jika novel ini mendapat apresiasi yang baik dari Kusmayanto Kardiman, selaku Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam endorsmentnya Menristek Kusmayanto menulis bahwa : "….buku ini mengasyikan untuk dibaca sampai tamat dan pembaca akan dapat banyak pelajaran dan kebanggan dari kisah kiprah anak-anak Indonesia yang berkarya nyata di luar negeri, khususnya Korea".

salam,
h_tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
January 8, 2019
Ya Tuhan, buku ini sudah lama selesai saya baca tapi ternyata masih di currently reading.
Saya bingung kenapa buku ini ratingnya rendah padahal menurut saya buku ini menawarkan konsep yang fresh dan jalan cerita yang ngga cuma enjoyable tapi juga sarat makna dan pengetahuan. Tema politik dikemas dalam fiksi.

Sebelumnya saya udah baca karya Jamal yang lain Epigram. Kece juga. Novel novelnya Jamal ini tipikal novel novel cerdas.
Profile Image for ReSti.
18 reviews4 followers
October 29, 2008
Lumayan pusing baca di awal, selanjutnya...ga juga ternyata :D
Belajar (sedikit) geografi,(sedikit) sejarah, (sedikit) iptek, (sedikit) politik, (sedikit) militer...serba sedikit karena memang dibahasnya sedikit-sedikit.
Mungkin di awal membaca terlalu berharap akan ada kisah menegangkan mengenai peluncuran rudal oleh Korut tapi ternyata ga... :(
Ada sedikit ketegangan saat Herman mesti jadi mediator tapi ga berlanjut alias cepat berlalu...
Begitu juga saat Prof Rukayadi diinterogasi tentara amerika,sepertinya lewat gitu aja ketegangannya.

^_^
Profile Image for free.
61 reviews21 followers
November 18, 2016
warga negara indonesia, orang sipil, bekerja untuk badan tenaga atom internasional, yang pengalaman militernya adalah latihan dasar kemiliteran bersama sebuah instansi selama 2 minggu (itupun di sela-sela dia cuti pulang kampung), berusaha membebaskan agen cia yang diculik agen korea utara, di perbatasan korea utara-korea selatan, dan dia berhasil!!!

agak berat juga masuk ke akal saya...

atau jangan-jangan, ini cuma inferioritas saya, yang kebanyakan nonton film hollywood, yang jagoannya keseringan orang dari belahan dunia sana, jadi susah menerima jagoan dari belahan dunia sini?
Profile Image for Diza Permatasari.
67 reviews1 follower
January 22, 2012
saya selalu suka buku2 karangan kang jamal karen ide dan konsepnya lain dari pada yg lain, kreatif dan segar.
Di buku Dong mu kali ini, lagi2 kang jamal memiliki konsep dan ide cerita yang unik. namun sayangnya kurang pengembangan cerita. klimaksnya agak kurang greget.
But still, two thumbs up for the idea :)
Profile Image for Niken.
35 reviews1 follower
January 28, 2010
bener2. awalnya bingung krn alurnya loncat2. tp lama2, bisa jg ngikuti. bener2 tersadarkan menjelang akhir cerita. tersadarkan oleh keharusan menimba ilmu ke luar negeri, dan mewujudkan cita2 besar utk bangsa. nuhun mang jamal!
Profile Image for A. Moses Levitt.
193 reviews16 followers
August 13, 2011
Akhir-akhir ini, dalam beberapa novel dengan seting internasional dan kisah2 Spionase (seperti james bond dan Robert Langdon), tokoh2 fiksi indonesia juga ikut terlibat....
*perkembangan susastra yang luar biasa.
Profile Image for Monsterikan.
3 reviews4 followers
Read
January 18, 2008
bukunya gitu aja. ngalor ngidul soal gimana anak negeri bisa bertaji di dunia secara global. ide yang ga jelek, tapi kalau disampaikan std-std aja ya jadinya std-std aja dan pesannya kurang sampe.
Profile Image for Citra.
103 reviews
April 28, 2009
Cukup memikat dengan covernya, lalu ditambah dengan jalan cerita yang tidak biasa. Salah satu novel yang berbobot dan dibekali riset mendalam. Sebuah karya yang sangat bagus!
Profile Image for Mohyiyi Abas.
13 reviews
February 13, 2017
Ia orang Indonesia-negeri yang punya koneng gede, lengkuas, temulawak, yang khasiatnya tidak kalah dari ginseng!
~Herman (tokoh utama, orang Sunda asli Talaga Majalengka)
Profile Image for Siska Yuniar.
8 reviews
Read
April 8, 2013
Ga nyangka beneran ada ahli bakteri yg kerja diluar.. Kang Yaya sukses terus kang ngutak atik bakterinya...
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.