Saya selalu punya ketertarikan dengan inner problem seorang manusia. Bertanya-tanya, bisakah sebuah cerita berjalan dengan digerakkan oleh problem dari dalam diri si tokoh dan bukan dari luar? Lupakan tokoh antagonis (nenek sihir, polakor, ortu jahat), ingat kalimat 'diri sendiri adalah musuh yang sebenarnya'. Jadi, saya tertarik dengan buku ini. Sebab 7 deadly sin tentu akan menjabarkan tentang manusia yang bergumul dengan problem internal dalam dirinya. Dari series 7 deadly sins ini, Dangerously Perfect adalah buku pertama yang saya baca. Soo, here we go.
WARNING ---SPOILER---SPOILER---
1. Tema
Temanya menarik sekali bagi saya. 'pride', apalagi dalam sebuah hubungan, adalah hal yang perlu dikompromikan.
2. Tokoh dan penokohan
Tokohnya sedikit, tapi 'jadi'. Kita akan berkutat dengan Luki (sang suami) dan Sasa (istri), ditambah tokoh-tokoh teman kantor Sasa juga Luki. Tokohnya konsisten, bahkan sampai akhir. Sasa konsisten gengsinya, bahkan sampai akhir. Dan Luluk konsisten mengalahnya, bahkan sampai akhir. Wkwkwk...Di sini saya merasa kurang. Sebab di awal, saya punya ekspektasi bahwa Sasa akan menyadari jika gengsi bukan hal yang baik untuk dipertahankan, apalagi dalam hubungan suami istri. Tapi sampai akhir saya nggak menemukan perubahan kesadaran dalam diri Sasa. Apa? Ketika Sasa 'mengalah' untuk menghubungi Luki di problem terakhir itu? Hmm...kalau memang itu menjadi sinyal perubahan pola pikir Sasa, akan lebih lengkap ditambahkan narasi tentang 'Rara yang sudah sadar jika gengsi nggak baik untuk dipelihara' tapiii...itu sama sekali nggak ada. Bikin saya mikir jika Sasa akan begitu ketika dia sudah dalam keadaan terpojok, kangen banget sama Luki. Dan itu, akan berulang di masa depan nanti. Lalu, dibagian mananya dia mengalami perkembangan karakter?
Untuk kategori setia? Entahlah. Wkwkwk...dia punya niat selingkuh lho sama Niko. Untuk membalas perlakuan suaminya, dia berniat selingkuh sama Niko, walaupun di akhir-akhir, dia tetep kekeuh pada Luki. Dan kelyan cyuman dan Luluk ngga ngerti huhuhuuu...
Luluk juga, aku justru kasihan sama dia. Kenapa, kenapa di akhir itu harus dia lagi yang mengalah? Walaupun, gue rada sebel ketika dia pulang ngga bilang-bilang dan nyalahin Sasa. Hadeuh, yang ada gue muter bola mata terus-terusan. Aku kira, yang punya problem gengsi di sini nggak cuma Sasa. Luluk pun punya. Well, pride adalah salah satu sifat manusia, kan. Semua manusia punya pride.
Niko? Hmm...Dia cowok nggak baik. Bisa-bisanya dia nyium cewek yang dia tahu udah punya suami. Huhuhu...aku nggak memaafkan gairah mudamu, Nak.
Overall, seluruh tokoh yang ada di buku ini hidup dan mempunyai ciri khas masing-masing.
3. Alur
Hmm...novel ini memakai alur maju. Runut dan hampir sempurna. Hampir, kecuali bagian tiba-tiba si Dono muncul, itu kesan 'kebetulan' nya terlalu kentara.
4. Latar
Latar yang digunakan nggak banyak. cuma seputar rumah, kantor, rumah, kantor, kafe. It is good, tho. Nggak ada masalah dengan latarnya. Justru meringkas isi cerita.
5. Suasana
Suasananya dapet. Aku bisa merasakan gengsinya si Sasa, bisa merasakan Luki yang tertekan, bisa merasakan atmosfer kantor Sasa yang begitu kompetitif.
6. Sudut pandang
Penulis memainkan sudut pandang yang begitu kreatif. Memadukan POV 3 dari Sasa sekaligus mempersilahkan pembaca mengintip surat-surat pribadi Luki yang otomatis memakai POV 1 luki. Serius, it,s great. Aku pikir cara ini cara yang sempurna untuk menyampaikan problematika masing-masing tokoh kepada pembaca.
7. Amanat
Well...begini,
Membaca blurb dan judul, pikiranku tertarik dengan kesimpulan yang akan dibawa di akhir buku ini. Tapi Sasa ternyata masih belum merubah pola pikirnya, dan Luki kembali jadi lelaki yang sayang istri dan memilih mengalah. Walaupun, ada beberapa hal yang aku dapat dari buku ini. Tapi, big punch nya aku nggak dapat. But overall, this book is good.