Jump to ratings and reviews
Rate this book

Opera Bulu Tangkis 1995

Rate this book
1995. Pada ulang tahun kelima puluh prolamasi kemerdekaan Repulik Indonesia, dunia dikejutkan dengan munculnya Bajang Kirek. Pemain bulu tangkis yang tak diketahui asal-usulnya (makanya isu sekitar kelahirannya berkembang: anak gubernur, jenderal atau presiden), menjadi hero dalam dunia yang sepi dari tokoh internasional.

1995. Bajang Kirek memperkenalkan permainan bulu tangkis kreatif. Tapi juga memulai Gerakan Assalamualaikum-Merdeka, proklamasi kemerdekaan yang menyerukan dunia ini satu keluarga besar. Memberikan alternatif mengenai pembangunan tanpa merusak alam dan lingkungan dalam memerdekakan perbudakan dan ketergantungan.

1995. Pakta Warsawa, Nato, Anzus, MEE, Asean, utara-selatan, kaya-miskin, negara maju-berkembang-miskin, berubah peta permasalahannya. Tahun di mana mega-teror yang dilahirkan pada dasawarsa sebelumnya menjadi monster yang mengerikan.

1995. Bajang Kirek main bulu tangkis dengan raket tanpa sponsor, dengan dua raket panjang dan pendek, dengan mata tertutup, dan duel menentukan dengan robot.

1995. Tahun diproklamasikan keagungan manusia.

1995. Sebentar lagi kita alami...

Titi Nginung kembali menunjukkan gaya opera dengan tokoh serba nakal, mega-bintang yang urakan. Cerita ini pernah dimuat bersambung di harian Kompas, seperti juga Opera Jakarta yang diangkat ke layar putih. Karyanya yang lain yang sudah dibukukan adalah22-1-19, serta Elizabeth Ngatini alias Tiger.

421 pages, Paperback

First published January 1, 1985

3 people are currently reading
84 people want to read

About the author

Titi Nginung

7 books4 followers
In the late 1980's Arswendo Atmowiloto wrote a series of novel that use sport as a background story. Titi Nginung was one of his pseudonyms.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (34%)
4 stars
14 (40%)
3 stars
8 (22%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
August 29, 2016
"Opera Bulu Tangkis 1995" bercerita tentang Bajang Kirek, seorang pebulu tangkis dengan asal-usul yang miseterius, serta gaya main yang eksentrik. Kehadirannya membawa angin segar bagi bulu tangkis Indonesia, tapi dengan imbas yang tak kalah besarnya bagi percaturan politik dunia.

So over the top, but so good. Rasanya seperti baca manga bertema olahraga, seperti "Captain Tsubasa", "Prince of Tennis", atau "Kuroko no Basket". Sama-sama penuh kegilaan dan aksi nyentrik di lapangan.

Pertarungan bulu tangkisnya berhasil digambarkan dengan baik. Berbagai drama di dalam dan luar lapangan menunjukkan betapa beratnya hidup para atlit itu.

"Satu-satunya yang kuperoleh sebagai pelajaran dalam soal bulu tangkis ini, ternyata orang harus lebih memperhatikan faktor-faktor non-bulu tangkis." (hal. 190)


Tema besarnya tidak hanya tentang olahraga 'tepok bulu' itu, tapi juga bicara tentang kemerdekaan. Pas sekali temanya untuk bacaan Agustusan. Apalagi bulu tangkis Indonesia baru saja memberikan emas di Olimpiade. Wah, kebetulan yang sempurna.

"Saya akan membuktikan bisa hidup seadanya seperti sekarang ini. Dan sesungguhnya inilah makna dari kemerdekaan. Kemerdekaan menjadi manusia. [...]

Yang menentukan nasibnya sendiri. Yang emoh dijejali dengan penjajahn. Penjajahan masa kini dengan tawaran barang-barang, dengan gelimang uang, dengan kekuasaan atas bangsa lain yang halus, pemaksaan kehendak ke dalam diri kita." (hal. 345-346)


Ceritanya di bagian akhir yang sempat berubah dari bulu tangkis ke masalah politik dan ekonomi sempat membuat kagok, tapi bagian ini berhasil diramu dengan baik sehingga tetap menarik.

Saya jujur mengaku kalau saya lama panas membaca novel ini. Babnya yang pendek-pendek dengan arah cerita yang kurang jelas di awal membuat saya lambat sekali membaca 1/3 pertama buku ini. Mungkin ini imbas dari format cerita harian yang merupakan medium awal novel ini.

Beberapa karakternya terasa dangkal. Misalnya Kate, wartawan yang suka dan juga disukai Bajang Kirek. Karakternya tidak berkembang dan hanya ada untuk objek percintaan. Lalu Yungki, pebulu tangkis mirip Bajang, yang keberadaannya... ah, sudahlah.

Secara keseluruhan, "Opera Bulu Tangkis 1995" adalah novel yang menghibur. Bagian bulu tangkisnya sangat menarik. Sayangnya butuh cukup lama untuk bisa masuk ke ceritanya dan ada beberapa karakter yang kurang dkembangkan.
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
December 7, 2022
Awalan yang menarik, sebenarnya. Aku suka tiap bagian bermain bulutangkisnya. Jika saja hanya fokus di dunia olahraga tepok bulu itu. Namun, olahraga yang dicampur politik dkknya menjadi sebab mengapa membacanya jadi tersendat dan kurang bisa kunikmati 😞
Agak hiperbolis di beberapa bagian jika dibandingkan dg keadaan sekarang, misal ga mau pakai baju sponsor lantas berakibat fatal, matahin semua raket, ga pakai baju, push up dulu di lapangan, tapi aku tak tahu juga bgmn kondisi indo tahun 85 saat buku ini ditulis. Mungkin pada saat itu hal-hal demikianlah yg terjadi. Dan hal-hal nyeleneh dan hiperbola yg terjadi (misal bajang kirek disamakan dg Gandhi) itulah diberi judul Opera. Omong-omong kupinjam buku ini di iPusnas.
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
May 7, 2008
Entah mengapa, biarpun sudah bertahun-tahun yang lalu saya baca novel ini, keasyikan membacanya masih teringat jelas sampai sekarang.
Mungkin karena saat itu prestasi bulutangkis indonesia masih jaya, sementara novel ini yang (saat itu) bertema futuristik (ditulis 1985) dengan tokoh future indonesian badminton hero yang nyeleneh sebagai central figure, ditambah drama yang menegangkan dan mengharu-biru, membuat kesan yang lumayan mendalam.

Harus dibaca ulang dan dirasakan kembali nih....
1 review
July 4, 2020
Pertama baca ini ketika dimuat secara berseri di harian Kompas. Waktu itu masih SD dan tertarik ngikutin ceritanya.
Alhamdulillah setelah puluhan tahun bisa dapat bukunya.
Keren ceritanya, tentang kecerdikan, kenakalan, tapi lebih dari itu tentang kemanusiaan, harga diri dan kemerdekaan hakiki.
Saya bukan penulis, tapi kebayang deh gelora rasa ibu Titi Nginung saat menulis novel ini, terutama di bagian2 tertentu.
1 review
Read
October 4, 2020
Bacaan saya jaman kecil, inspirasi kemajuan bulu tangkis Indonesia. Bajang Kirek.👍👍👍
Profile Image for Ready.
Author 58 books19 followers
April 15, 2015
Kekuatan novel-novel Titi, selain suspens yang terjaga, adalah gaya bahasa yang memikat. Kalimat-kalimat pendek yang ia gunakan penuh tenaga dan tidak terkesan artifisial. Meluncur begitu saja tanpa terpengaruh konteks ruang dan waktu. Dengan luwesnya ia melompat dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Dunia yang dilahirkannya bukan dunia kenyataan, tetapi dekat dengan pembacanya.
Lebih dari itu, Titi ingin mengajak kita untuk jujur, sekalipun dalam lamunan. Sebab bahkan, bukan tidak mungkin dalam lamunan pun kita tidak bisa berlaku jujur. ~ “Lamunan-Lamunan Lepas yang Menemukan Bentuk”, Harian Kompas, 1988.

Selengkapnya: https://www.goodreads.com/author_blog...
Profile Image for NdNewara.
12 reviews
December 16, 2015
Saya masih menunggu tahun 1995, 50 tahun Indonesia merdeka, kebangkitan Indonesia kedua kali, dan menjadi negara yang didengar...
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.