KAU PERNAH mendengar nama Bulan Merah? Atau setidaknya mengetahui sedikit saja cerita tentangnya? Aku harap belum. Jangankan engkau, orang-orang yang usianya jauh di atas usia kita dipastikan tak banyak yang mengetahui cerita tentang Bulan Merah. Yang tahu pun akan mencibir setiap kali nama Bulan Merah disebutkan.
Tak bisa disalahkan, memang. Tak semua orang pernah menyaksikan Bulan Merah. Mungkin karena tidak ada yang bisa menduga keberadaannya. Satu hari, berita mengatakan kalau Bulan Merah sedang berada di satu kota, tapi hari berikutnya tiba-tiba ada yang bilang kalau justru berada di kota lainnya. Itu membuat Bulan Merah seperti mitos. Semakin diperbincangkan semakin keberadaannya adalah misteri. Dan sebagai salah satu orang yang pernah menyaksikan pertunjukan Bulan Merah, Kakek lalu menceritakannya padaku.
Kata Kakek, Bulan Merah bukanlah kelompok musik keroncong biasa. Dibentuk sekelompok anak muda di tahun tiga puluhan. Pertunjukannya selalu digelar tiba-tiba, tanpa bisa diduga. Itu karena beberapa penonton yang datang juga bukan penonton biasa. Penonton yang tak biasa itu rupanya menyimak dengan saksama setiap lirik lagu yang didendangkan Bulan Merah. Lirik-lirik lagu yang ternyata telah disisipkan pesan-pesan rahasia di dalamnya.
Pesan-pesan rahasia itu kemudian akan berbalas dengan pesan-pesan rahasia lainnya. Semua terjadi begitu cepatnya. Harus cepat, sebelum patroli kolonial Belanda datang dan membubarkan pertunjukan. Sayang, sejarah tak sempat mencatat perjuangannya.
Jadi, nyamankan saja posisi dudukmu. Pastikan kopi terisi penuh di cangkir kesayanganmu. Karena aku akan menceritakan apa yang telah Kakek ceritakan padaku.
***
Bulan Merah adalah satu dari sembilan Novel Terpilih Beasiswa Kepenulisan Antitesa Mizan 2013.
aku ga pernah ragu untuk memberi bintang 5 pada buku ini. sukak! pake banget kalo perlu. soal resensi... tunggu habis tanggal 15 ya... habis acara Komunlis dan dimuat dulu di Kabar Probolinggo.
Dan inilah resensiku yang dimuat di Kabar Probolinggo, Jumat, 14 November 2014...
Setiap cerita abadi oleh karena kisahnya. Namun dia ternikmati oleh titian bahasanya. Bulan Merah mempertemukan dua kekuatan itu. –-- Tasaro GK, penulis novel Galaksi Kinanthi dan Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan.
Sepakat dengan apa yang disampaikan Tasaro dalam endorsmennya untuk novel ini, saya juga berpendapat bahwa gaya bahasa yang dipakai Gin –nama pena Ginanjar Teguh Iman, pada Bulan Merah adalah gaya bahasa yang unik; gaya bahasa kuat, berkarakter, serta belum pernah saya jumpai sepanjang perjalanan saya bergelut dengan fiksi, sastra Indonesia khususnya.
Gin punya style. Finalis Eagle Awards 2009 ini punya ‘gaya selingkung’. Meski ia masih terbilang muda, namun secara pribadi saya melihat, Gin sudah matang sebagai penulis. Ia punya gaya menulis yang khas, yang bahkan tak banyak dimiliki oleh para penulis senior.
Simak saja paragraf pembukanya:
Aku buka cerita ini di sebuah pesta pora. Alun-alun menggelar pasar malam seminggu suntuk. Entah itu tahun berapa. Pastinya, untuk bisa masuk ke dalam pasar malam, orang-orang belum menggunakan rupiah. (hal. 1)
Atau pada bab berikutnya (baca: Bab 2), yang menggugah rasa penasaran saya:
Aku mendapatkan cerita Bulan Merah ini dari Kakek setelah ia mendapatiku mati kebosanan oleh cerita-cerita yang sering ia kisahkan kepadaku sedari kecil. Cerita-cerita seperti kancil yang suka mencuri ketimun atau dongeng senggutru yang berisah tentang mahluk sebesar jari kelingking yang dimakan raksasa hijau, tak mampu lagi membuatku tercengana. Cerita-cerita itu mulai mengusang di telingaku.
Hingga pada satu kunjunganku yang terlambat, aku dapati Kakek sedang mendendangkan sebuah lagu:
Wahai dewi nan djoewita Tjahjamoe merekah bak boelan djelita Dekat pada toean hamba nestapa Boekan rajoe tapi rindoe tak bernama Tjeritamoe tjeritakoe tak bersama
......
Lalu entah bagaimana kemudian, tiba-tiba meluncur begitu saja nama Bulan Merah dari mulut kakekku. Aku menjadi penasaran. Dan penasaranku bermuara pada ketakutan-ketakutan Kakek, apalagi aku terus mencecarnya, Kakek, apa itu Bulan Merah? Aku ingin tahu.”
Demi melihat binar yang lama tak Kakek temukan di mataku, yang mengingatkannya pada masa-masa kecilku dulu ketika cerita kancil atau dongeng senggutru selalu menarik perhatianku, maka bertanyalah balik kakek kepadaku, “Bre, kau pernah mendengar nama Bulan Merah sebelumnya? Atau setidaknya mengetahui sedikit saja cerita tentangnya?” Aku mengerutkan kening, seperti yang Kakek harapkan setiap kali akan bercerita.
“Jangankan engkau, Bre, yang beru memasuki usia dua puluh, orang-orang yang usianya jauh di atas usiamu dipastikan tak banyak yang mengetahui cerita tentang Bulan Merah karena mungkin sejarah tak sempat mencatatnya. Dan aku dengan sangat terpaksa menceritakannya kepadamu, Bre.”
Kini giliranku bertanya: Apakah engkau pernah mendengar kisah tentang Bulan Merah? Atau mengetahui sedikit saja cerita tentangnya? Aku harap belum. Karena aku akan menceritakan kepadamu atas apa yang Kakek ceritakan kepadaku. Jadi, nyamankan saja posisi dudukmu. Pastikan kopi terisi penuh di cangkir kesayanganmu.
Did he had you at the first ‘halo’? Bagi saya, ‘ya’, lewat novel pertamanya ini, Gin telah sukses meninggalkan kesan yang sangat membekas –di hati saya, sejak pertama kali saya membaca kata demi kata yang ia torehkan. Gin tak banyak bermain-main dengan idiom tapi berhasil menciptakan suasana yang kaya dalam kalimat-kalimatnya.
Jujur, seandainya saya tidak mengenal salah satu penerima beasiswa akademi #5plus1 Antitesa Mizan 2013 ini secara personal, pasti saya mengira Bulan Merah adalah novel yang dibuat era Mas Marco Kartodikromo atau Marah Rusli.
Belum lagi soal analogi yang digunakan. Gin menggunakan banyak analogi baru yang tak pernah terlintas di benak saya sebelumnya; baik dari istilah-istilah keroncong, semacam: voorspel untuk intro, tussenpel untuk isi lagu dan kadensa untuk coda –yang juga ia gunakan sebagai setting kisah, maupun soal ‘angin’ yang notabene memiliki arti khusus bagi warga kota di mana saya tinggal. Angin adalah pembawa kabar-kabar bahagia yang menyerbukkan bakal-bakal mangga, hingga ia lebat berbuah.
Maksud saya, biasanya para penulis cenderung klise untuk melukiskan perasaan tokohnya lewat cuaca. Misal, menggunakan suasana yang panas terik untuk melukiskan perasaan marah. Atau hujan ketika para tokohnya bersedih. Tapi Gin berbeda, sebagai contoh, ia menggunakan angin untuk melukiskan keadaan Rawi (paman Bumi dan Siti, dua tokoh utama dalam novel Bulan Merah) yang sekarat.
Bersamaan dengan itu, angin-angin kemudian kembali ribut di luar sana. Seribut kesehatan Rawi yang semakin digerogoti sakti tubuhnya. (hal. 36)
Atau untuk melukiskan sebuah proses pencarian dan penerimaan akan hidup:
“Setiap tempat memiliki angin-anginnya sendiri. Ada baiknya kita menyatukan terlebih dulu angin-angin itu dengan angin yang kita bawa dri tempat sebelumnya agar semua baik-baik saja,” jelas Giok Han.
“Seperti orag Jawa yang selalu memmbawa tanah dari tempat sebelumnya untuk disebarkan di tanah yang baru dipijiaknya kemudian.” Bumi mereka-reka. (hal. 80)
Membaca Bulan Merah, mengingatkan saya pada Big Fish. Sebuah film yang diangkat dari novel Daniel Wallace berjudul serupa, yang dibintangi oleh Ewan Mc Gregor dan mengantongi banyak nominasi Golden Globe. Senada dengan Big Fish, Bulan Merah menceritakan ‘kemuakan’ Sang Cucu, Bre, terhadap kisah-kisah bualan kakeknya selama ini, karena ia sudah beranjak remaja.
Pertanyaannya, “Apakah Bulan Merah benar-benar ada?”
Dalam resensi ini saya tidak ingin mengambil jatah itu. Saya tidak ingin menjawabnya. Biarlah jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi bagian dari tugas Gin, lewat bukunya. Namun yang pasti, bagi saya, kelebihan lain Bulan Merah adalah dari segi tema yang diangkatnya.
Gin berani mengambil tema yang tak biasa. Yakni, grup keroncong pembawa pesan kemerdekaan. Tema yang selama ini cenderung dihindari oleh para penulis fiksi karena dianggap bukan kisah arus utama; hanya kisah sempalan yang tak menarik untuk diceritakan. Mereka –para penulis fiksi sejarah umumnya, cenderung memilih untuk menulis tokoh atau sejarah yang memang sudah ada. Sudah dikenal luas ketokohannya. Sudah nyata keheroikannya.
Tapi Gin berbeda. Yang dilakukan eks-labiopalatoschizis ini malah sebaliknya. Ia mengangkat hal yang sederhana, hal yang kelihatannya tak penting dalam sejarah perjuangan bangsa, namun ternyata, setelah kita baca dan cermati, segala sesuatu yang nampaknya sederhana dan tak penting itu justru merupakan suatu hal yang sangat krusial dan penting dalam perjuangan bangsa Indonesia mengusir pemerintah kolonial. Sebab, sama seperti mereka (baca: pejuang) yang berjalan melalui jalur konfrontasi dan diplomasi, nasib sang pembawa pesan ini pun juga tak luput dari ancaman “diciduk” dan “dibungkam”.
Judul novel ini, Bulan Merah, diambil dari nama grup keroncong yang didirikan Bumi dan Siti, suatu hal yang membuat Bre diliputi rasa penasaran pada Sang Kakek karena keberadaannya grup tersebut serupa misteri.
Keberadaannya tak lebih dari misteri karena tak semua orang pernah menyaksikan pertunjukannya. Sejarah juga tak sempat mencatat perjuangannya. (back cover)
Bersetting Indonesia pra kemerdekaan sampai setelah kemerdekaan, atau sekitar tahun 1930 - 1960’an, Bulan Merah hadir bak agen intelijen negara yang bertugas memecah (decode) dan menyusun kembali (recode) kode rahasia untuk dapat diteruskan dan disebarkan melalui syair lagu mereka. Sedang Bumi, mengingatkan saya pada sosok agent Ethan Hunt yang harus mampu memimpin kawan-kawannya dalam melaksanakan misi di Mission Imposible. Bagi penggemar cerita yang berlatar agen rahasia, Bulan Merah sungguh mengasyikkan.
Kelebihan berikutnya dari novel setebal 255 halaman ini adalah konflik yang bertingkat. Semula saya mengira kisahnya akan selesai ketika kemerdekaan telah diraih. Setelah Ratna Melati berhasil menyelamatkan Bulan Merah dari ‘tragedi’ di Batavia. Namun sekali lagi saya salah. Ternyata, kisahnya semakin legit ketika Bulan Merah terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Anggapan bahwa Bulan Merah tendensius dan terlibat pada salah satu gerakan politik zaman Orde Lama kembali menghantam eksistensi Bulan Merah.
Itulah semua kelebihan novel ini: gaya bahasa, cerita yang tak biasa dan konflik yang bertingkat. Namun tentu, di balik semua kelebihan yang sudah saya ceritakan di atas ini, Bulan Merah pun tak terlepas dari kelemahan. Jujur saya geregetan ketiga logat Cina Giok Han (kawan ayah Bumi dan Siti) hilang di bab 8, padahal sebelumnya (bab 4) logat Cinanya kental sekali. Hal yang sama juga terjadi pada Ku Chen (kekasih Siti). Ku Chen sebelumnya digambarkan sangatlah Indonesia, sangatlah berbahasa baku Indonesia, tapi kenapa tiba-tiba di bab akhir justru jadi memiliki dialek Cina ketika bertemu dengan kakek Bre?
Di akhir, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, saya beranggapan bahwa novel ini layak mendapat penghargaan, layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Bukan karena penulisnya adalah orang yang saya kenal, tapi, lebih kepada, karena jalinan ceritanya yang disampaikan kepada kita, benar-benar mengajarkan makna perjuangan yang sesungguhnya, makna perjuangan yang sekarang ini telah luntur dan tergerus zaman.
*) Stebby Julionatan, penulis, tinggal di Probolinggo - Jawa Timur, aktif dalam Komunitas Menulis (Komunlis) dan KSSI. Dapat disapa melalui akun twitter @sjulionatan atau email: sjulionatan@yahoo.com
Jarang-jarang saya membaca novel sejarah yang anti-mainstream seperti ini. Mengangkat seni sebagai alat perjuangan melawan penjajah. Review saya bisa dibaca di https://butirbutirhujan.wordpress.com...
Mungkin mudah menerima maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Tapi melupakan apa yang telah dilakukan? Mungkinkah?
Ini adalah poin krusial yang saya petik setelah membaca novel Bulan Merah karya Ginanjar Teguh Iman, atau biasa disapa Gin.
Bulan Merah bercerita tentang perjalanan kelompok musik keroncong di era penjajahan yang membawa misi perjuangan. Kok bisa? Gimana bentuk perjuangannya? Pasti lewat lirik yang disampaikan? Semacam lirik yang sengaja diciptakan untuk membakar semangat para pejuang?
Ya, awalnya saya menebak seperti itu. Terbayang beberapa lagu perjuangan seperti Sepasang Mata Bola dan sejenisnya akan hinggap di dalam cerita Bulan Merah ini. Tapi tunggu, setelah kembali menekuni bagian blurb, ada satu kalimat yang menggelitik. Lirik-lirik lagu yang ternyata telah disisipkan pesan-pesan rahasia di dalamnya.
Ya, kata ‘rahasia’ semakin menumbuhsuburkan kekepoan saya. Terlebih, ada kalimat lagi di bawahnya: Pesan-pesan rahasia itu kemudian akan berbalas pesan rahasia lainnya. Tak pakai lama, saya angkut novel ini ke kasir.
Oke, kembali ke isi cerita dari Bulan Merah. Seperti judulnya, Bulan Merah yang merupakan nama kelompok musik keroncong di era kemerdekaan 1930-1950 berisi sekumpulan anak muda yang sebelumnya berhasil dikumpulkan oleh Bumi dan Siti, dua kakak beradik yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Dalam perjalanannya, Bulan Merah yang tujuan awalnya adalah meneruskan perjuangan kelompok musik serupa milik Rawi (paman Bumi dan Siti) mengalami beberapa kejadian menarik pada saat melakukan aksi dan misinya. Mulai dari menggelar pertunjukan yang tiba-tiba, harus kucing-kucingan dengan patroli kolonial, hingga harus menelan tuduhan sebagai kelompok kiri disajikan secara lengkap dan apik oleh Gin, sang penulis. Ketegangan juga saya rasakan ketika membaca bagian Bulan Merah bermain di Kebon Djati, di mana para biduan harus membakar lipatan kertas berisi pesan rahasia ketika Bumi menyadari ada patroli yang sedang mengawasi pertunjukan mereka. Ketegangan lain berhasil dibangun Gin saat menceritakan para anggota Bulan Merah menyusuri gelapnya hutan Wonolelo yang mencekam.
Entahlah, saya jadi bertanya-tanya apakah benar Bulan Merah itu ada. Mungkin karena Gin berhasil menggiring pembaca untuk masuk ke dalam cerita yang dibangunnya. Mungkin juga karena risetnya yang benar-benar serius.
Ada satu bintang yang saya kosongkan untuk buku ini. Itu karena saya sebagai pembaca merasa tak bisa dekat dengan tokoh utamanya, Bumi dan Siti, terutama di bagian awal hingga tengah cerita. Apa yang dilakukan dua tokoh itu selalu diceritakan secara bersamaan.
Misal: 'Bumi dan Siti mencoba meraba lagu yang sedang Rawi bawakan' (hal 21), 'Mata Bumi dan Siti langsung menyala penasaran' (hal 23), 'Bumi dan Siti terpejam' (hal 24), 'Bumi dan Siti tersenyum kecil ...' (hal 24), 'Bumi dan Siti terus menyimak' (hal 24), 'Bumi dan Siti sedikit tergelak...' (hal 25), 'Bumi dan Siti mengakui ....' (hal 26), 'Bumi dan Siti mengangguk setuju...' (hal 27), 'Bumi dan Siti memang merasa ...' (hal 28) dan masih cukup banyak di halaman-halaman selanjutnya bahwa si Bumi dan Siti ini melakukan dan merasakan sesuatu secara bersamaan, bahkan sama persis. Mereka seperti satu orang yang hidup dalam dua raga. Sebagai penggemar karakter tokoh dalam novel, saya jadi tak bisa merasakan karakter khas dari Bumi maupun Siti. Karakter yang cukup kuat justru saya temukan pada tokoh Priambodo, yang langsung bisa 'dibaca' dari gesture melalui deskripsi yang disampaikan oleh Gin.
Hal lain yang menggelitik juga saya temukan pada Ku Chen. Di awal-awal hingga tengah cerita, Ku Chen ini logatnya biasa saja. Baru di akhir-akhir cerita si Ku Chen menggunakan logat warga keturunan pada umumnya.
Tapi, semua yang mengganggu itu menurut saya tak mengurangi kekerenan isi dari buku ini. Tema yang diangkat tergolong sangat berani, tapi justru itulah yang membuat buku ini minta banget untuk ditekuni. :D
Selamat ya, Gin! Saya menunggu karyamu selanjutnya ;)
"Bulan Merah itu tidak ada. Selebaran tentang pertunjukannya cuma main-main saja. Aku tak pernah menemukan mereka yang tersebut di sana. Omong kosong itu Bulan Merah!" (Hal. 234)
Bulan Merah, sebagian menganggapnya sebagai mitos, namun ada segelintir orang dalam negeri yang sempat menonton pertunjukan kelompok musik keroncong musik legendaris ini. Tetapi, kelompok musik yang dipimpin oleh sosok bernama Bumi ini bukanlah kelompok musik biasa karena Bulan Merah mengemban amanah yang besar yakni sebagai fasilitator pesan-pesan rahasia antar para pejuang yang bekerja keras untuk meraih kemerdekaan. Pesan-pesan rahasia tersebut disisipkan dalam lirik lagu gubahan mereka sendiri dan melalui cara lain. Singkat kata, Bulan Merah adalah saksi bisu gejolak perjuangan para muda-mudi Indonesia dalam merebut kedaulatan dari tangan kolonial Belanda hingga Jepang.
Jujur saja hal pertama yang membuat saya tertarik untuk membeli Bulan Merah adalah sampulnya yang misterius di mana ada empat siluet yang seolah tengah berlari di temaram bulan merah dengan menggenggam instrumen musik masing-masing di tangan mereka, belum lagi tertulis, 'Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia'. Usai membaca ringkasan di sampul belakang akhirnya saya termotivasi untuk membelinya, lebih-lebih setelah paham bahwa setting yang diusung oleh penulis dalam fiksi ini adalah pada masa pra-kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan. Meskipun kental dengan tema historisnya, Bulan Merah tak melulu berbicara tentang sejarah atau politik, penulis dengan cerdas meletakkan bumbu-bumbu roman di dalamnya, dan bagi saya inilah yang menarik karena masuk dalam hitungan 'rumit' dan bagi orang awam (termasuk saya) sulit dimengerti. Bukan dalam maksud sebenarnya tentu saja, lebih ke arah, "Kenapa sih si A mengambil keputusan seperti ini padahal dia sangat mencintai si B dan itu jelas bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan?". Dan ya, sayangnya cinta memang seperti itu.
Kembali ke Bulan Merah, saya kagum dengan gaya bahasa yang digunakan oleh Gin Teguh untuk mengemas kisah Bulan Merah. Diksinya indah, terkadang disisipkan syair lagu keroncong tempo dulu yang menurut saya tak kalah outstanding. Ini adalah salah satu jenis novel yang harus anda coba baca setidaknya satu kali. Bukan ide pasaraan, berbumbu historis, cocok untuk dibaca di Bulan Agustus ini.
Bermula dari keterlambatan Bre mengunjungi sang kakek, ia secara tak sengaja mendengar kakek menyanyikan sebuah lagu dengan sungguh-sungguh. Penasaran, Bre bertanya tentang lagu itu, namun kakeknya hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Lalu tak lama Bulan Merah keluar dari mulut sang kakek, membawa mereka ke masa silam. Ke masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
---
Rawi, seorang pemilik kelompok musik keroncong yang kemudian mewariskan kelompok musiknya pada dua kakak beradik, Bumi dan Siti.
Setelah Rawi meninggal, Bumi bertemu Giok Han dan Bumi menemukan sebuah cara untuk melanjutkan kelompok musik keroncong itu: dengan menjadikannya sebagai pembawa pesan perjuangan, bernama Bulan Merah.
---
Sebenarnya cerita ini agak sedikit kabur di awal, namun pembawaan penulis yang unik dan agak 'melayu' membuat saya melanjutkan membawa buku ini. Lalu semakin jauh ke dalam cerita, barulah tampak latar cerita dan apa sebenarnya masalah yang ada di buku ini.
Musik keroncong yang awalnya hanya berfungsi sebagai pembawa pesan kemerdekaan, pada akhirnya bubar setelah kemerdekaan. Namun, salah satu anggota musik keroncong Bulan Merah kembali tak berapa lama dengan seseorang yang ternyata penganut politik 'kiri' --Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Meski pada awalnya para anggota Bulan Merah sepakat untuk tidak ikut serta dalam kegiatan politik apa pun, nyatanya kerjasama mereka dengan Lekra membuat kisah mereka harus berakhir dengan status: Bulan Merah adalah kiri.
Sangat disayangkan sekali, perjuangan musik keroncong Bulan Merah yang susah payah dibangun harus berakhir seperti itu. Tapi itulah poin menarik dari buku ini. Dengan mengambil latar 'kabur' penulis berhasil menghidupkan sejarah dengan caranya tersendiri.
Beberapa minggu lalu saya membaca Lingkar Tanah, Lingkar Air-nya Ahmad Tohari. Memang tidak akan sopan membandingkan dua novel ini, Ginanjar Teguh Iman dan Ahmad Tohari tidak bisa dibandingkan. Semuanya memiliki ciri masing-masing dan tulisan orang dalam negeri tidak bisa serta merta dibandingkan. Karena jatuhnya akan subjektif selera masing-masing. Namun kedua novel ini memiliki message yang sama, yakni gelora semangat patriotisme. di Bulan Merah menungkap kecintaan Rawi, Bumi, dan Siti kepada negara. Pun di novel Ahmad Tohari tersebut.
Keroncong Bulan Merah menjadi mata tombak perjuangan mereka. Menggubah pesan-pesan rahasia para gerilaywan menjadi lagu dan kemudian dipentaskan. Lebih dari itu BUlan Merah juga didirikan oleh orang-prang terpelajar yang memiliki daya peka akan permasalahan sosial.
Pertanyaan saya: mengapa hanya lirik-lirik lagu Keroncong Merah yang ditulis dalam ejaan lama? Bukannya kalau lagu (produk kebudayaan masa itu) diejakan lama, maka seharusnya tuturan juga demikian. Heeeheee ini sih yang mengganjal dari awal. Heeehee
Perjuangan kemerdekaan bangsa ini berhasil dicapai berkat kerja keras para pejuang kita. Perjuangan tidak hanya dengan menangkat senjata, tapi juga bisa dengan cara lain. Salah satunya dengan cara menjadi pembawa pesan rahasia.
Tugas utama pembawa pesan rahasia adalah menyampaikan informasi kepada dan dari para pejuang. Para pembawa pesan perjuangan berpindah-pindah dari satu titik perjuangan ke titik perjuangan lainnya. Sebentar menjadi pedagang dipasar, lain waktu menjadi kuli kasar. Apa saja dilakoni untuk mencari informasi tentang tentara.
Seperti juga para pejuang, pergerakan para pengirim pesan juga tak semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Ada yang ketahuan, lalu ditangkap dan ditahan. Bahkan ada yang ditembak mati. Atau yang paling tak berperasaan, digantung di tanah lapang untuk disaksikan banyak orang.
Boleh saya bilang secara ide cerita, setting dan konsepnya bagus. Baru kali ini juga saya baca cerita yang ada soal keroncongnya. Karya ini hampir berada di antara bacaan ringan dan "sastra" menurut saya.
Kelemahannya buat saya, bila ada suatu adegan, penulis terlalu banyak menceritakan keberlangsungan adegannya, detil memang perlu tapi kadang terlalu banyak yang dituliskan seolah2 penulis mengira pembaca gak akan mampu menangkap hal tersirat yang hendak disampaikan, makanya dituliskan seluruhnya.
Endingnya gak ketebak sih, dan itu bagus. Lalu efek tidak dituliskan tahun kejadian bikin ilmu sejarah yang bisa didapatkan pembaca berkurang menurut saya.
Tapi saya suka hampir semua nama karakternya. Apalagi Siti. Entah kenapa meski namanya terdengar biasa, tapi Siti amat sangat menonjol dalam ingatan. :)
idenya menarik (meski bukan genre fav sy sih) bahasanya rapi dan pilihan kata-katanya juga keren alurnya runtut meski agak lambat di awal, dan mendadak cepat di tengah serasa ada yang hilang karena alur yang mendadak berubah cepat ini mungkin karena faktor sudut pandang aja kali ya agak terganggu sih, dengan timeline ceritanya kyaknya terlalu panjang, sejak belum merdeka (sekitar 1930-1940an) hingga terakhir, masa 1965an berarti usia tokohnya panjang, tetapi tidak banyak yang diceritakan selain tentang bulan merah sayang aja, kayak ada yang hilang tapi suka endingnya, twist-nya keren paling tidak endingnya cukup menyelamatkan cerita dan membuat sy cukup puas membacanya
trims bang gin masuk wishlist sejak 2015 lalu, tapi baru sempat baca sekarang
"Aku jadi bertanya, merdeka itu apa? Ini yang aku takutkan, Bumi. Masa-masa sekarang. Masa-masa ketika yang menjadi musuh kita bukan lagi penjajah, melainkan bangsa kita sendiri." -halaman 215
Baru kali ini saya baca novel fiksi tapi temanya tentang perjuangan. Kesan pertama ketika beli novel ini, penasaran dengan judulnya makanya saya beli. Terbukti saya puas dan tidak sia-sia membeli dan menamatkan novel ini. Saya beri bintang lima (kalau bisa lebih dari lima pun saya beri).
Saya suka novel ini karena membuat penasaran akan akhir dari kisah bulan merah. Semua diceritakan secara lengkap dan tidak menggantung di akhir. Novel ini pun mengawali mood baca saya yang sempat turun dan tidak tuntas dalam membaca belakangan ini.
Sebuah novel pada range yang saya suka. Tidak hambar, namun tidak pula membuat tersesat di belantara kata-kata sastra.
Overall, saya sangat menikmati novel ini. Ada banyak hal baru yang saya tahu. Jembatan antar babak dikemas dengan rapi. Dan pengangkatan tema yang menarik, keroncong. Meskipun ini bukan novel pertama yang saya baca dengan timeline perjuangan kemerdekaan dan geger politik setelah proklamasi.
Buku ini sebenarnya menarik, ide utamanya segar. Kisah tentang kelompok keroncong yang ternyata ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka menyampaikan pesan-pesan rahasia di setiap penampilan mereka. Alur ceritanya mengalir dan sederhana, seperti sebuah memoar. Pengarang juga kelihatan sekali sangat paham dengan keroncong, terlihat dari pemakaian istilah musik keroncong dan lirik lagu yang ditulis menggunakan ejaan dan gaya bahasa lama. Intinya buku ini punya pesan kalau berjuang itu tidak harus angkat senjata; buktinya dengan musik pun bisa juga. Sayangnya, buku ini menurutku ceritanya terlalu singkat. Masih banyak yang bisa dieksplor lagi oleh penulis, terutama alur ceritanya. Dalam cerita, masa jayanya Bulan Merah hanya ketika penjajahan Jepang, lalu kelompok ini hiatus. Menjelang akhir cerita, Bulan Merah sebenarnya hidup lagi, tetapi dimanfaatkan oleh PKI hingga mereka mengalami akhir tragis. Nah, bagian ini sebenarnya bisa diperluas lagi, bisa dengan menceritakan kaitan Bulan Merah dengan Lekra atau konflik batin Bumi yang kurang suka dengan PKI. Cukup banyak referensi mengenai seni yang dipolitisasi pada masa ini. Toh apalagi Bulan Merah yang ada 'merah'-nya juga terkesan kiri sekali.
Kesimpulan: buku ini cocok buat kamu yang suka fiksi sejarah (apalagi Indonesia) yang lebih fokus pada aspek sosial-budayanya, bukan perang. Memang sayang, sebagian besar orang Indonesia hanya tahu sejarah negaranya sebatas pada perang, tentara, pemerintah, dan kekuasaan.
Buku yang sudah lama saya punya, dan sudah dibaca ulang beberapa kali. Saya senang novel ini karena ceritanya mudah diikuti, penulisannya nikmat, dan para tokoh utama terasa hidup.
Alurnya berjalan dengan mulus, namun di ujung cerita semua seakan berjalan begitu cepat. Selain itu walaupun judulnya adalah Bulan Merah, namun lebih seperti kisah beberapa tokoh saja ketimbang Bulan Merah tersebut.
Tokoh-tokoh pendukung kebanyakan terasa begitu kosong dan terlalu dua dimensi kalau dibanding para tokoh utama. Seakan mereka ada hanya untuk mengisi peran.
Saya senang dengan sifat dan penulisan para tokoh utama, hubungan diantara mereka terasa pas bagi saya, sehingga setelah membaca tidak ada ganjalan. Yah ada satu, tentang seorang tokoh utama yang sudah dua kali terlalu pengecut. Tapi sudahlah.
Penulisan para tokoh utama tidak terlalu kompleks, tapi tetap memiliki kedalaman karakter. Bagi saya itu penulisan yang efektif terutama untuk novel yang hanya 200 halaman dan selesai dalam satu buku. Selain itu tidak banyak misteri tersisa sehingga ketika selesai membaca tidak ada ganjalan.
Bulan Merah bercerita tentang sekelompok anak muda yang berjuang untuk kemerdekaan lewat musik keroncong. Pertunjukan yang mereka lakukan bukanlah pertunjukan biasa karena selalu digelar tiba-tiba, dengan lagu yang sebagian tak dikenal orang. Karena sebenarnya ada lirik-lirik berisi pesan rahasia yang ingin disampaikan kepada para penerima.
Sekalipun setting kolonialnya tidak begitu kerasa, tetapi untuk sebuah novel debut, ini adalah sebuah novel yang bagus. Buku selanjutnya dari penulis yang sama, layak untuk dinantikan.
saya baru sadar belum list buku ini di rak "read", buku ini cukup bagus ceritanya,flashback gitu, hampir saya percaya grup musik di cerita ini memang ada. Lagi-lagi yang bikin saya suka adalah karena setting waktunya masa lampau, sebelum kemerdekaan. Nice one :)