Saya punya firasat. Membaca buku ini bersamaan dengan berkumandangnya takbir lalu solat idulfitri lalu bersungkem saling meminta maaf akan memberikan pengalaman membaca yang paripurna. Ternyata, benar. Setiap baitnya bagai doa-doa yang mengudara dengan penuh pengharapan sekaligus keputusasaan. Setiap baitnya menyadarkan saya bahwa sebagai manusia yang selalu dibolak-balikkan hatinya, adakalanya haqqul yaqin masuk surga tapi sering juga merasa lebih pantas di neraka. Hingga mungkin manusia akan pasrah dengan apa yang akan terjadi di kemudian; masuk neraka tak apa masuk surga lebih bagus. Tapi abaikan racauan ini. Yang pasti, meski personal, seperti sedang menilik doa-doa milik orang yang tak saya kenal, saya bisa turut serta merasakannya—merayakannya.