What do you think?


Seratus Tahun Kebisuan
“Referensi penulis tentang kebisuan dengan latar Bugis sangat kuat sehingga mampu mengeksplorasi nilai lokal dengan kental”
Prof. Dr. Agus Nuryatin
“Dalam novel Seratus Tahun Kebisuan, karakterisasi tokoh disajikan dengan lugas”
Dr. Seno Gumira Ajidharma
“Penulis mampu mengemas problematika sosio-religi-kultural dengan cukup berani menajamkan konflik batin”
Prof. Dr. Suminto A. Sayuti
Prof. Dr. Agus Nuryatin
“Dalam novel Seratus Tahun Kebisuan, karakterisasi tokoh disajikan dengan lugas”
Dr. Seno Gumira Ajidharma
“Penulis mampu mengemas problematika sosio-religi-kultural dengan cukup berani menajamkan konflik batin”
Prof. Dr. Suminto A. Sayuti
174 pages, Unknown Binding
Published January 1, 2025
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
April 6, 2025
Senang rasanya bahwa buku ini dapat menjadi bahan referensi dalam mengeksplor nilai lokal khususnya di Soppeng, SulSel. Terlebih jika buku ini nantinya bisa dibicarakan di forum yang lebih luas :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
May 8, 2025
Betapa berat rasanya ketika keinginan berbicara tak diikuti dengan kemampuan untuk mengatakan, yang ada hanya kebisuan.
Cukup kaget ternyata buku ini mengambil setting di Soppeng, kota yang cukup familiar buat saya, ini membuat ceritanya jadi lebih personal walaupun pemahamanku tentang bissu tidak ada sama sekali.
Sebuah tulisan eksperimental yang mengangkat budaya lokal Sulawesi Selatan ini menceritakan pengalaman dan gejolak mental seorang bissu. Cerita tentang mimpi dalam mimpi dalam mimpi ini cukup intriguing dan sempat membuat saya bertanya-tanya yang mana yang real dan mana yang mimpi. Begitu pun dengan sosok narator di tiap-tiap cerita yang cukup membingungkan, hingga tiba di penghujung buku saya cukup terkesima dengan pengungkapan endingnya.
January 23, 2026
Menurut keyakinan saya, leluhur suku Bugis itu "ahead of their time". Di masa kini, di mana masyarakat memandang gender itu biner (pria dan wanita) justru orang Bugis di masa lalu telah memiliki sistem sosial yg kompleks dan inklusif terkait gender. Mereka mengenal lima kategori gender: Oroane (laki-laki), Makunrai (perempuan), Calalai, Calabai, dan Bissu.
August 16, 2025
Obrolan kami dengan penulisnya bisa di simak di sini.
May 8, 2026
This novel is rich with the culture of the Bugis people. I really appreciate how the writer manages to blend cultural traditions, religion, psychology, and fantasy into one story.
I actually tried to read this twice on my own because the plot is very complicated. I also noticed some typos in the suffixes, specifically with the use of "-ku." Because of those errors, I had to reread many sections many times just to understand whose perspective was being shown.
I would say this is not a book for beginners. To truly understand the story, you need to have a lot of empathy to grasp the perspectives of the different characters.
I actually tried to read this twice on my own because the plot is very complicated. I also noticed some typos in the suffixes, specifically with the use of "-ku." Because of those errors, I had to reread many sections many times just to understand whose perspective was being shown.
I would say this is not a book for beginners. To truly understand the story, you need to have a lot of empathy to grasp the perspectives of the different characters.
January 31, 2026
Sampai selesai baca pun tetap bingung bedain mana yang nyata dan mana yang mimpi..
Btw, ini penulisnya pernah bingung juga tdk ya selama nulis buku ini? 🤣
Btw, ini penulisnya pernah bingung juga tdk ya selama nulis buku ini? 🤣
Displaying 1 - 6 of 6 reviews






