Kalau diharapkan jadi bacaan pada umumnya yang menghibur, yang bisa bikin pembaca merasakan yang tokohnya rasakan, yang naratornya sampaikan, novel ini nggak berhasil-berhasil amat. Tokohnya klise, nggak dalam, serba jahat serba baik, singkat kata: dangkal. Aksi yang tidak seheboh novel silat, kembara yang tidak semegah novel petualangan, bikin Pacar Merah Indonesia I mudah dilupakan.
Tapi...
Kalau diharapkan jadi lensa untuk menerka isi kepala orang Hindia-Belanda pada latar waktu 30-an, menerka angin ekopolsosbud-nya, menebak-nebak sejarah episode mana yang mampu ditambal Matu Mona sang penulisnya atas sejarah arus utama seperti termaktub pada gerbong babon Sejarah Nasional Indonesia, novel ini boleh juga.
Saya jadi mampu meraba semangat Pan-Melayu saat itu, bahwa Indonesia hingga Siam adalah sebangsa adanya. Atau semangat internasionalis para buruh seperti yang dialami Djalumin dan rekan sekerja kelasi kapal, yang dibentuk oleh ideologi berdasarkan kesadaran kelas (dicari sendiri aja deh ideologinya). Saya juga jadi tahu, beberapa ungkapan yang sekarang menyempit bahkan memburuk penggunaannya, seperti "Diktator" yang di novel ini disematkan dengan penuh penghormatan kepada Pacar Merah, atau ya Tan Malaka itu sendiri, oleh para kameradnya.
Untuk membaca zaman pergerakan, terutama pasca kudeta gagal PKI 1926-1927, dalam kapasitasnya sebagai sumber sezaman, novel ini pantas jadi bacaan alternatif. Seperti yang disinggung Honxuan Lin di Ummah yet Proletariat, novel---sebagaimana karya sastra lainnya---mampu menunjukkan semangat zaman. Dan novel ini pun Honxuan gunakan untuk meraba semangat zaman ketika sosialisme dengan berbagai variannya bisa berdampingan atau bahkan manunggal dengan Islam---dua makhluk yang disabung rezim Suharto sejak berdirinya.
Ya, Honxuan benar. Di banyak kesempatan, Matu Mona menempatkan tokoh memeluk Qur'an dan Manifesto Komunis dalam satu dekapan. Djalumin dan Ivan Alminsky (sudah barang pasti, ini Alimin) adalah dua diantaranya. Ada adegan Alminsky ingat Allah saat sedang rada berahi dengan nona Prancis. Dan Djalumin yang ogah kobam di kapal laut bareng kapten berkebangsaan Jerman. Dan jelas, Pacar Merah sendiri pun digambarkan seorang muslim.
Balik ke paragraf pertama, dari segi ceritanya sih, "meh banget" menurut saya. Pacar Merah kayak nabi. Menang mulu, berhasil kabur mulu. Padahal, bahkan nabi pun, menangnya susah, banyak kalahnya dulu. Yah, itulah, kekurangan novel ini: "antagonisnya" kurang jahat, dan kurang dalam diceritakan perkara kejahatannya (kenapa dan bagaimana dia bisa jadi jahat---motivasi tokoh lah, istilahnya).
Tapi overall, asyik juga ini barang. Saya bakal lanjut ke Buku II (kabarnya, sedang diupayakan pencarian Buku III dan IV---seri "Pacar Merah Indonesia" ada empat buku yang merentang sampai Revolusi Kemerdekaan atau babak akhir dari Pacar Merah atau Tan Malaka yang ironisnya, ada di ujung bedil bangsanya sendiri, bangsa yang diperjuangkannya dengan jaminan nyawa mabur-mabur dari Batavia ke Paris, dari Bangkok ke Palestina).