Mei 1998, masa ketika aku genap berusia 21 tahun. Usia yang matang memang, apalagi untuk memahami kenapa api tiba-tiba datang membakar harapan dan kebahagiaan. Teriakan dan bau penderitaan itu, aku tak ingin membahasnya. Namun, satu hal, aku hanya ingin sejarah tak meminta waktu untuk mengulang kejadian yang sama. Seperti cinta dan rasa sakit.
Tapi, apa yang bisa kulakukan ketika waktu punya kuasa penuh untuk menentukan takdir? Saat anakku tiba-tiba menjadi diriku, mengalami hal yang sama, dan jatuh cinta pada orang yang berbeda warna kulit, mata, dan keyakinannya. Aku tak punya kekuatan. Namun, satu yang pasti, cerita ini membutuhkan akhir.
Dua Masa Di Mata Fe Cerita flashback dari kisah masa lalu Fe. Setting cerita di tahun 1998. Kebetulan tahun 1998 saya sudah lahir dan merasakan kejadian kerusuhan saat itu (tapi, please jangan tanya umur saya :D ). Fe yang secara sengaja menceritakan pada Christie, putrinya, tentang kisah cintanya dengan Raish, karena kekhawatirannya kisah cintanya dngan Raish akan teulang lagi pada Chistie. Fathir, teman dekat christie, yang berstatus sama dengan Raish dahulu, seorang muslim,sementara Christie seorang keturunan China. Fe takut jika cinta Christie dan Fathir akan berakhir sama seperti kisah cintanya dengan Raish. Bedanya kisah cinta Fe diawali dengan sebuah kerusuhan dan tanpa sengaja Raish menyelamatkan Fe kembali pada keluarganya. Cinta yang tumbuh saat pencarian keluarga Fe bersama Raish makin terasa. Buat saya kisah cinta ini bikin gregetan. Saling mencintai, tapi tidak bisa saling memiliki. Uhuk. Kisah DMDMF ini seperti kembali ke masa remaja saya (please, jangan bilang saya udah tua sekarang). Lagu-lagu pengantar kisah cinta Fe dan Raish membuat saya gagal move on dan menghayati kisah keduanya. Savage Garden-Trully Madly Deeply, Tony Braxton-Unbreak My Heart, Bon Jovi-Always. Oh, no...Mbak Dydie berhasil bikin hati saya meleleh. Tapi maaf, Mbak Dydie, ada sedikit kritik dari saya :) : -Setting kerusuhan 1998, kurang diangkat ketika berada di Cimahi. Suasananya tidak seperti tahun 1998. -Typo di halaman 156. Nama Raish menjadi Raih. Memang hanya satu huruf yang twrtinggal tapi artinya jadi berbeda. ;) -Alur cerita yang kurang masuk akal di halaman 163. Saat Raish mencari alamat Oma dan Opa Fe. Disitu seharusnya Raish menemukan rumah Oma dan Opa Fe dengan alamat baru, bukan alamat yang diberikan Ko Asen. -Akhir cerita yang kurang memberikan jawaban sehingga kesannya kurang nyambung antara kisah Fe dengan Christie. Tapi saya pernah baca keterangan dari Mbak Dydie bahwa sebenarnya Fathir itu anaknya Raish. Sayangnya hal itu tidak diceritakan di dalam cerita DMDMF. Itu aja kritikannya. Secara keseluruhan saya suka cerita DMDMF. Dan ada satu quote yang saya suka: "Kompas hati tidak pernah keliru dan selalu menunjukkan belahan hati kita dengan tepat." Bahkan saya berkhayal jika kisah ini di filmkan, saya siap membantu mengaudisi pemeran Fe dan Raish. Haha....Semoga khayalan saya jadi kenyataan, yah, Mbak Dydie.
Judul: Dua Masa di Mata Fe Penulis: Dyah Prameswarie Halaman: iv+220 hlm ISBN: 979-795-872-8 Penerbit: Moka Media
~Blurb~ Mei 1998, masa ketika aku genap berusia 21 tahun. Usia yang matang memang, apalagi untuk memahami kenapa apo tiba-tiba datang membakar harapan dan kebahagiaan. Teriakan dan bau penderitaan itu, aku tak ingin membahasnya. Namun, satu hal, aku hanya ingin sejarah tak meminta waktu untuk mengulang kejadian yang sama. Seperti cinta dan rasa sakit.
Tapi, apa yang bisa kulakukan ketika waktu punya kuasa penuh untuk menentukan takdir? Saat anakku tiba-tiba menjadi diriku, mengalami hal yang sama, dan jatuh cinta pada orang yang berbeda warna kulit, mata, dan keyakinannya. Aku tak punya kekuatan. Namun, satu yang pasti, cerita ini membutuhkan akhir. ~ ~ Dua Masa di Mata Fe ini mengisahkan hidup pahit seorang anak keturunan Tionghoa. Fe namanya. Usianya masih 21 tahun ketika kejadian nahas itu terjadi. Rumahnya, hartanya dan yang paling berharga baginya, keluarganya, ikut hamcur terpanggang di dalam kobaran abi akibat amukan penjarah yang tak beperikemanusiaan. Hanya Fe seorang yang selamat dari musibah itu. Fe tak akan pernah tahu bahwa itu semua terjadi dengan cepat. Malam itu, ketika semua orang panik, ayahnya, Asen menarik Fe ke dalam mobil untuk bersembunyi. Dengan cepat Asen menuliskan sesuatu di secarik kertas dan sebuah kotak kayu bermotif bunga. Fe bisa merasakan ketakutan dan gemetar dari diri ayahnya.
Saat keadaan sudah aman. Raish, entah dia disebut penyelamat atau pembohong. Ia lalu mengambil mobil Asen dan cabut. Hingga Raish mendengar lirihan batuk dari arah belakang. Awalnya Raish mengira itu adalah suara dari luar. Setelah diperiksa, ternyata Fe masih bersembunyi di bagasi mobil. Raish lalu mendiamkan Fe yang ketakukan dan membawa Fe ke Surabaya untuk menemui keluarg Fe. Tapi sebelum ke Surabaya, mereka ke Bandung, rumah Raish untuk beristirahat.
Perjalanan mereka pun tidak selamanya mulus. Sampai Fe dan Raish merasakan hal aneh yang tersemat di dadanya. Jatuh cinta. ~
"Fe, kamu sembunyi di sini. Jangan pernah keluar sampai keadaan aman. Simpan baik-baik kotak ini. Biaya kita untuk ke Surabaya ada di dalam kotak ini. Dan alamat keluarga kita di Surabaya juga ada di sini. Ingat, jangan pernah keluar dari bagasi sampai keadaan aman." (Hal. 74) Aku bisa tahu getar takut yang Fe dan ayahnya rasakan. Penulis bisa menghidupkan karakter dengan kuat. Mereka seolah ada. Membaca novel ini jujur cukup membuatku tegang dan semakin penasaran bagaimana akhirnya. Alur dan plotnya menurutku seperti cocok untuk di filmkan. Semua kejadian, latar, karakter dibangun dengan baik sehingga aku benar-benar seolah ada di dalam cerita.
Ada beberapa adegan yang sungguh membuatku gregetan dan emosi sendiri. Adegan ketika Fe dan Raish dalam perjalanan ke Surabaya dan mobil mereka mogok akibat karburatornya yang rusak. Mereka harus menginap di rumah warga karena hari sudah semakin malam. Tapi sayangnya, anak dari pemilih rumah yang Fe dan Raish tempati, Didik namanya, ternyata orang tidak benar. Ia berusaha menodai Fe ketika Raish pergi membeli karburator. Dan yang paling aku sebeli adalah, pemilik rumah itu, Pak Djun justru menganggap enteng hal itu dan malah membela anaknya, Didik yang jelas-jelas bersalah. Pak Djun malah berkata.
"Tapi belum diperkosa toh? Baru digerayangi?"(Hal. 136)
Wah... rasanya pengen ambil bensin lalu bakar nih orang! Aku jadi ikut emosi sendiri. Tapi pada akhirnya, Raish mengalah dan lekas meninggalkan desa itu.
"Kita nggak bisa mengatakan dua orang sama hanya karena mereka mengenakan baju yang sama, bukan?" (Hal. 218) Setuju banget! Bahkan jika ada orang yang berpakaian urak-urakan dan bertato, belum berarti dia adalah seorang preman. Siapa tahu aja dia seniman. Atau hanya karena ada seseorang yang mirip mantan kitam bukan berarti sifatnya juga mirip, *eh
Membaca ini, kalian akan diberikan sensasi yang cukup mendebarkan. Tapi, di dalam cerita ini tidak ceritakan secara gamblang bagaimana anak Fe, Christie mengalami hal yang serupa dengan Fe. Overall, semua alur, plot, karakter dan latar aku suka dan i enjoyed.
Mhmm...di awal aku mendengar novel ini yang menyinggung perbedaan ras dan seting tahun 1998, akan terbayang sesuatu konflik yang kuat. Bukan konflik politiknya yang kumaksud, tapi konflik batin dari para tokohnya. Terlebih aku memang sedang mencari referensi cerita yang tokoh utamanya memiliki perbedaan ras.
Tapi mungkin ekspetasiku yang terlalu besar mbak heehehe, karena yaa memang ringan (seperti yang sudah disinggung saat peluncuran kemarin)
Plotnya menarik, mengkilas balikkan kisah pedih Fe sebagai seorang keturunan yang menjadi korban dalam kerusuhan 98. Seluruh keluarganya meninggal karena kejahatan sepihak dan berpandangan sempit. Lalu harus kembali diingatkan dengan sosok anak lelaki yang mirip dengan seseorang di masa lalu, yang justru mengingatkannya pada kejadian itu.
Plot yang menarik semenarik judul yang ditawarkan 'Dua Masa di Mata Fe' hhehehee. Mungkin itu juga yang membuat pembaca memberikan ekspetasi bahwa novel ini akan kaya dengan pergulatan emosi para tokoh, sebagai korban minoritas dan tokoh mayoritas, yang serba salah dengan posisi dan apa yang telah dilakukannya. Akan terbayang emosi dan pergolakan jiwa yang terbentur pada sebuah kalimat 'kita berbeda ras' - khususnya aku.
Tapi setelah membacanya, sedikit kurang menggali lebih dalam apa yang menjadi harapan pembaca (aku hehehehe) . Terasa dibatas aman dan berasa ingin mudah menyelesaikan konflik.
Ada beberapa adegan yang sedikit mengganjalku. Adegan saat penjarahan dan pembakaran itu, terlalu vivid (jelas) untukku, tapi detail penggambaran emosi Fe saat dia melihat 'kejadian itu' kurang terlihat.Mungkin bisa disamarkan seperti adegan dimulai setelah pembakaran terjadi dan tidak terlihat jelas adegan penjarahan itu yang mungkin berusaha untuk dilupakan. Jadikan itu sejarah, tak perlu diungkit. Emosi Fe setelah pembakaran itu kurang dalam, hanya diam karena trauma, tapi tidak menggambarkan sesak perasaan dia.
Dan sosok polisi muda, entah bagaimana, kurang pas digambarkan. Seperti hanya disebut nama depannya saja. Mungkin kalau ditambah dengan kata Petugas Bagus dan Petugas Ghani, terasa lebih menyanjung sosoknya sebagai Polisi, karena sempat terpikir mereka bukan polisi karena hanya dengan nama depan saja yg tertulis.
Penggunaa nama kota di jawa tengah sebagai kota yang sempat menjadi mimpi buruk Fe, mungkin juga lebih baik disamarkan, karena takutnya memberi imej jelek ke penduduk lokal kota itu. Mungkin bisa disebut dengan...., "sebuah kota kecil di jawa tengah yang Raish sendiri tidak tahu apa namanya...."
Juga..., hubungan Fe dengan keluarga ayahnya , tapi maaf kalau saya yang kurang cermat membacanya - bukankah orang tua Fe sudah diusir kakek neneknya saat menikahi ibu Fe ? tapi kenapa setelah dua puluh tahun berlalu tidak ada sisa emosi meminta maaf karena telah menyia-nyiakan Asen dan cucunya. Tokoh Angelique juga seperti tokoh yang tiba-tiba muncul dan membalikkan keadaan begitu saja. Alurnya terlihat sangat cepat di adegan di rumah engkongnya.
Untuk ending yang mempertanyakan Fathir itu anaknya siapa sudah cukup pas, biarkan menjadi persepsi masing-masing pembaca hehehe karena kalau diceritakan malah jadi ga seru yaaa kaaaan ??? ehehehehehe sip lah
Jadi... keseluruhannya...., plot dan ide cerita sangat menarik, hanya masih bisa digali lagi untuk konflik batin para tokoh, juga penokohan para tokohnya non utamanya. Yang terasa jelas, hanyalah tokoh Raish, yang begitu detail akan perasaan dan isi kepalanya.
Tapi sempilan cerita komik kesukaan Fe 'Candy-Candy' juga lagu yang dinyanyikan Raish 'Dewa 19' membuat novel ini kembali ke bumi, oh bener ini kejadian tahun 98 dengan segala kebiasaan dan brand brand yang ada di tahun itu-- membuatku tersenyum kulum, karena aku juga mengalaminya hehehehe - aku suka komik Candy Candy dan suka lagu Dewa 19 *ketahuan umurnya hahahahah.
Tapi percayalah, mbak, aku akan selalu membeli novel barumu yang terbit - beli nggak minjemmm heheehehehehe ---- i learnt from you and i'm your fan :)
"Kompas hati tidak pernah keliru dan selalu menunjukkan belahan hati kita dengan tepat."
Ini kisah tentang Fe, seorang wanita Tionghoa yang mempunyai putri beranjak dewasa bernama Christie. Di hari specialnya, Christie mengundang teman-teman terdekatnya, salah satunya bernama Fathir. Entah kenapa sejak awal melihat Fathir, Fe menampakkan ketidaksetujuan bahkan terkesan "melarang" Christie untuk mengenal lebih dekat sosok Fathir. Ternyata ada alasan di balik itu.
Melihat Fathir, seakan membuka kisah masa lalu Fe. Masa lalunya yang pahit bertahun-tahun lalu. Sosok Fathir mengingatkannya akan sosok Raish, seorang pria yang dulu pernah begitu sangat dekat dengannya.
Layaknya kotak pandora, kehadiran Fathir membuat Fe mengenang kembali kisah perjumpaannya dengan Raish dan sejuta kenangan tentang kerusuhan Mei 1998 yang membuatnya kehilangan semuanya.
Sebagai pembaca, aku diajak Fe untuk mengenang kisah kerusuhan yang merenggut keluarganya, membuatnya menjadi yatim piatu. Suasana yang cukup mencekam dihadirkan, menjadi minoritas kala itu merupakan tantangan terberat bagi Fe dan keluarganya. Melihat rumahnya terbakar dan keluarganya dibunuh didepan matanya meninggalkan trauma yang sangat mendalam.
Untungnya Fe berhasil selamat saat kerusuhan itu, karena dia berhasil bersembunyi di bagasi mobilnya. Tapi itu tetap saja menjadi trauma berat untuknya. Hingga kemudian dia bertemu dengan sosok Raish, seorang pria yang awalnya dipikirnya sebagai malaikat penolongnya tetapi ternyata tak lebih dari salah seorang tersangka.
Fe perlahan-lahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Raish. Perjalanan dan interaksi mereka berdua dalam pelariannya hingga proses pengantaran Fe ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarga ayahnya menumbuhkan bunga-bunga cinta bermekaran. Dan ketika rahasia Raish pun terkuak, apa yang terjadi????
Membaca novel ini menarik, aku begitu menikmati proses membaca novel ini. Aku seakan melihat sendiri proses kerusuhan Mei 1998 bersama kisah Fe. Kerusuhan yang begitu mencekam dan meninggalkan trauma dimana-mana khususnya kaum minoritas seperti Fe.
Sayangnya hingga akhir, aku amat sangat tidak puas dengan endingnya. Rasanya terlalu anti-klimaks, masih ada yang seakan "menggantung" dalam kisah Fe ini. Yang baru kuketahui memang sengaja disimpan oleh penulis dan dibiarkan berakhir seperti ini...
Plotnya mengalir lancar, sayangnya bagian konflik batin terkait Christie dan pasca perpisahan Fe dan Raish itu kurang dieksplor lebih jauh. Novel ini malah lebih menekankan kisah flashback kehidupan Fe saat kerusuhan Mei 1998.
Masih sering ditemui typo dan sedikit kejanggalan saat Fe dan Raish mencari alamat opa dan omanya, seharusnya itu alamat baru yang didapatkan, bukan alamat yang dikasih oleh Koh Asen, ayahnya Fe.
Overall, 3 bintang kusematkan untuk kisah hidup Fe...
First, I want to praise the author, because she did excellent research. She can describe her story in very good detail, even I still found some terms that I think can be replaced and more adjusted with the Chinese culture itself, like "Oma" and "Opa", maybe it can be changed into "Ama", "Popoh", or "Engkong", "Kungkung", which made feels like 'more Chinese' (I know it very well, because I have Chinese blood and familiar with that. Hehehe)
Let me give comment for the packaging. Actually I feel that the cover wasn't attractive at all, but due to my curiosity (the Book theme's is May 1998's cases, and I really love book about them) and also the writer's promotion itself..hehehe... I finally decided to buy and read this book.
Honestly, this is ordinary story. Falling in love with wrong person, but because the detail described well, I can't stop read them. But actually bit unsatisfied with the ending, and I find something 'unfinished' after reading the whole story. I don't know what actually the writer's objective, but.. yeah... that. I can't describe the feeling well about that.
Last, after thinking and thinking over, I decided to give this book 3 stars. Well done Mbak Dyah :D
baca kisah ini ingat cerita 47 Ronin ttg Kai dan siapa sih itu namanya Puteri Jepang itu. Ayako ya?
bagian awal nyaris mirip dengan bagian awal film Merry Riana. sama2 ttg kerusuhan tahun 1998. gemess banget sama papanya Fe yg ga memutuskan langsung pergi meninggalkan Jakarta tapi menunggu pagi dulu. bagian mencekamnya peristiwa 98 sih dapat... tapi sayang judul dan blurbnya seperti tidak sesuai dengan isi ceritanya. fe juga sepertinya mudah saja move on kan. anaknya sekarang udah umur 15 tahun aja...