thx Uda Aldo yang udah membelikan kemaren.
Buku yang menarik meski sempat membuat saya berkerut dahi. Dari hasil skimming kemaren, buku ini adalah kumpulan naskah yang ditulis oleh Pakubuwono VI. Ada thesis yang menarik dari buku ini. Tentang pusat dan pinggiran. Bila naskah babad biasanya diidentikan dengan pusat (keraton), naskah ini pun punya sisi demikian karena yang menulisnya memang seorang raja. Namun penulisannya adalah ketika ia dalam masa pembuangan. Periode ketersingkiran Pakubuwono VI dari istana usai kekalahan P. Dipanegara. Tulisan seorang raja yang terbuang. Pusat yang tengah menafakuri keterpinggirannya? Lakon yang ada di dalamnya cukup menarik dan populer, Babad Jaka Tingkir. Cerita Seorang Mas Karebet yang keturunan Ki Ageng Pengging yang merupakan salah satu sentrum pinggiran dari Demak sebagai pusat. Yang lain? Cerita dua orang anak "haram" Brawijaya V(?) yang bermasalah dengan ketelanjangan (kelugasan?).
Sosok PB VI juga cukup unik dilihat dari personalitasnya. Diangkat sebagai raja pada usia 16 tahun atas saran dari bapak angkat(asuh)-nya: Patih Sosrodiningrat (teuing yang ke berapa). PB VI dianggap anak bau kencur yang dapat dikendalikan sesuai kemauan Belanda. Apalagi dengan kegemarannya berbusana ala barat dan berkehidupan barat, meski konon ia adalah penari wals yang buruk. Namun pengambilan tanah keraton yang dilakukan oleh Belanda menjelang dan saat berakhirnya P. Diponegoro, PB VI menunjukan sikap yang tidak mudah diatur oleh Belanda. Penangkapannya saat berziarah ke Imogiri yang berlanjut dengan pembuangannya ke Ambon merupakan penuntasan ala Belanda atas sikap PB VI yang sulit diatur.
Bagaimana orang buangan dan sulit diatur oleh Belanda menuliskan kisah masa lalu leluhurnya dan menggambarkan masa depan? Nampaknya itu yang dijanjikan oleh Nancy K. Florida. Suatu gambaran pusat dari keterpinggiran orang pusat di pembuangan. Menarik!