tbh, aku belom baca hilmy dan cello, ini pembelian impulsive waktu ke gramed hahaha. IMHO, ini buku ringan sekaliii... ceritanya tentang rifan dan anya clbk, dan gmn mereka pada akhirnya bisa saling realize kalau, "ohhh you're the one."
for plot wise, aku merasa eksekusinya ok aja. aku suka cara kak nadia sederhanain penyelesaian konfliknya, sesuai porsi cerita slice of life, meski reveal "dalang"-nya tiba-tiba, dan pembaca pun ga diajak buat bikin asumsi dulu siapa penyebabnya, kenapa, dan apa yg terjadi. hint-nya ga ditebar. imo ini bikin alurnya stagnan dari awal sampai akhir, tp aku pun mengerti karena konflik "itu" sptnya hanya jadi katalis supaya anya dan rifan hubungannya maju. so it's ok 👍🏻
secara karakter, rifan dan anya nonjol banget! i love them. rifan tuh kayak orng yg let his intrusive thoughts win every time hahaha, racauannya lucu, kadang garing jg, tp justru itu emphasize karakter dia yg bawel. sbg anak bungsu, aku paham stance nya rifan, dan penulisnya portrayed itu dgn cukup baik. konfliknya rifan ini menurutku okay aja, aku ga inget katalis yg bikin dia mau segera "damai" sama kondisinya apa, karena dari awal stakesnya tuh kurang kuat untuk semua hal. jadi waktu adegan di solo itu bener-bener, "oh, okay, good for u." tp bukan sesuatu yg dinanti-nanti. Sama halnya Anya, dia anaknya perlu validasi, ga bisa, "aku A," tp harus dibantu, "iya, kamu tuh A!" konfliknya anya juga okay, kebanyakan di telling ya, dijelasin cmn lewat satu paragraf soal ortu anya, rumahnya, knp dia milih tinggal di apartemen, dll. aku pribadi merasa teknik ini digunain terlalu sering, sehingga aku kurang bisa nempatin diri di posisi anya. tp yg aku appreciate dari anya adalah dia ga jadi "beban" di antara rifan dan teman-temannya. she's looks like someone who's fun to hang out with. satu yg aku kurang suka, karakter hillmy-cello dan pacar2nya ga dikenalkan dulu. sbg pembaca baru setelah bukunya ditutup aku masih ngerasa ga kenal sama mereka. dan karena rifan nih bener bener lucu banget aku sulit buat tertarik sama dia sbg romantic ally, dari awal sampe akhir aku liatnya rifan as platonic.
dari sisi bahasa, penyampaiannya enak, jokesnya ditulis spontan, dan LUCU. narasinya cenderung basa-basi, imbas dari karakter rifan yg bawel. jd conversationnya cukup penuh sama keseharian.
hanya saja, aku beberapa kali nemu kalimat yg canggung, karena dua hal: 1) kalimatnya ngegantung, contoh: "walau tanah tetap tergenang karena hujan, bintang akan tetap bersinar di sana tanpa peduli"... tanpa peduli apa? hehe. sptnya masih butuh konteks atau kalimatnya dibalik. 2) maksa pake kata dasar, contoh: "tuju baru yang tidak disangka-sangka." kata tuju ngebuat kalimatnya kerasa janggal.
selain itu, aku nemu penulisan angka yg ga sesuai kaidah, ada di awal kalimat "8 orang..." ada juga yg di tengah, "...3 suap..." setauku, angka harusnya ditulis menggunakan huruf kalau dibawah 100, dan ga boleh ditaruh di awal kalimat sebagai pembuka. sayang sekaliii kesalahannya minor, tapi cukup banyak 🥲 untuk typo, aku ga inget, sptnya ga ada.
aku jarang sekali baca buku dari au, jd ini pengalaman yg cukup seru hahahaha. bukunya cocok sekali buat remaja dan atau dewasa muda, pesannya cukup "nyentil" kalau di umur 20 itu banyak chaosnya but we will eventually be okay someday, pesan itu tersampaikan dgn baik. ilustrasinya banyak dan covernya lucu. u did a good job kak nadia! i might read your another book hihi 🤓🤓