Keindahan & kesedihan berdampingan bagai sepasang sandal ditinggalkan entah siapa di pantai yang lengang. mereka tidak mengejutkan kita. Itulah kehidupan paling alami bagi kita akhir-akhir ini. kau melihat rimbunan semak di tepi jalan & kau berpikir: andaikan kesedihan bisa dilepaskan seperti kulit ular. kadang-kadang: kau langit biru, aku cuaca buruk; kau ranting hanyut di batang air, aku kelereng berkilau di taman. kadang-kadang: kita segala sesuatu yang bukan kita.
Menurut saya, puisi adalah medium yang luar biasa. Dalam jumlah karakter yang relatif singkat ia harus bisa memikat pembacanya; merayu mereka untuk bermurah hati dalam menginterpretasi makna dan rasa yang ingin disampaikan.
Menurut saya, Aan Mansyur adalah penulis puisi yang luar biasa.
Puisi-puisi di buku 'bahasa pohon-pohon tumbang' menguarkan duka yang kuat, sekalipun mungkin dimaknai berlainan oleh pembaca yang berbeda. Saat membaca buku ini, sulit bagi saya melepaskan bayangan berita-berita genosida yang terjadi di Palestina. 'bahasa pohon-pohon tumbang' bagi saya adalah tentang kematian massal dan tragedi-tragedi di planet ini, harapan-harapan yang samar kalau pun ada, serta cinta yang bertahan.
"kami sungguh telah lelah bahkan dengan kehidupan berikutnya nasib baik cuma mampir dari hampir ke hampir ..."
❝aku bangkit & menghubungi nomor teleponku sendiri halo. halo. siapakah kau hari ini? berapa jauh jarak tanganmu dari sesuatu yang kau sebut dunia?
(...) lutut kita telah bertahun-tahun belajar, tetapi tetap tidak dapat membedakan antara memohon & menyerah❞
Aan Mansyur tetap dalam kepiawaiannya menunangkan kata-kata; pisau dan risau, hutan dan Tuhan, ke segala arah dan ke segala darah, melintasi badai demi badai dan melintasi andai demi andai.
Bahasa Pohon-pohon Tumbang secara mendalam serta terang-terangan menyoroti kondisi dunia saat ini dari sisi kemanusiaan; bagaimana kita memaknai kehidupan di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Dalam beberapa puisi, Aan Mansyur bahkan kerap menempatkan bagaimana wujud dunia yang sedang dihuni anak kembarnya. Aku menangkapnya sebagai sebuah kekhawatiran orang tua terhadap dunia tempat anaknya akan terus tumbuh; di saat perampasan terjadi di mana-mana, ketika hari demi hari kita mendengar berita tumpahnya darah saudara-saudara kita yang tak berdaya dalam perjuangan mereka mempertahankan hak masing-masing.
Ada banyak puisi bagus dalam buku ini, tetapi yang cukup membekas buatku adalah yang ditulis Aan Mansyur untuk mendiang Lily Yulianti Farid:
❝detik ketika kau lepas dari detak jantungmu aku sangat jauh dari detak jantungku❞
Aku selalu suka sih puisinya Aan Mansyur. Aku merasa kata per kata yang dituliskan terasa dalam gitu. Walaupun di buku ini agak bingung menentukan mana judul favorit, tapi potongan bait bait di berbagai judul rasanya cukup dalam untuk dimaknai perlahan.
Mungkin harapan saat membaca kumpulan puisi Aan Mansyur ini tidak realistis sejak awal, karena membayangkan akan membaca puisi-puisi seperti dalam “Melihat Api Bekerja” dan “Tidak Ada New York Hari Ini” yang gayanya mendayu dan tema-temanya sederhana seperti ennui, kesendirian dan cinta yang patah. Tema-tema tersebut meskipun tetap ada, tidak terlalu menonjol di kumpulan puisi ini, alih-alih puisi-puisi di sini sebagian besar berisi perenungan atas kematian, penindasan negara dan—kalau tidak salah mengartikan—derita akibat perseteruan dunia. Memang nadanya tidak semarah dan sesuram puisi-puisi dalam “Cinta Yang Marah” namun keresahan yang sama tetap ditemui di sini. Ini pun sebenarnya membuktikan bahwa Aan Mansyur bukan penulis yang hidup dalam gelembungnya sendiri, malahan aktif menunjukkan keberpihakan atas masalah sosial politik yang menerjang negara ini.
Juga tidak adil rasanya untuk mengabaikan ambisi kreatif penulis dan berharap mereka menulis dengan gaya dan tema yang itu-itu saja. Mungkin pula Aan bermaksud keluar dari jebakan kemandekan kreatif di sini melalui pemakaian gaya concrete poetry / visual poetry yang tidak hanya mengandalkan kata-kata untuk menyampaikan sensasi dan pesan tapi juga melibatkan design tipografi dan layout. Sekali lagi ini masalah pilihan kreatif, namun secara pribadi saya lebih menyukai puisi-puisi sederhana yang semata mengandalkan kekuatan pemilihan kata—bolehlah dibilang ini selera yang tradisional dan ketinggalan jaman.
Ada beberapa eksperimen yang menarik sebenarnya, yaitu beberapa puisi serupa haiku yang diberi judul seperti “img_2512.jpg”. Aan pun pernah beberapa kali menampilkan karya semacam di laman medsos-nya. Tampaknya ini semacam takarir buat foto-foto yang tidak kelihatan, namun bisa memberikan sensasi yang mengesankan apalagi bila kita berhasil mengira-ngira foto apa yang menjadi inspirasinya. Contoh:
anak berbaring di pangkuan ibu mereka bertatapan seperti pertanyaan siapa gerangan sumber cahaya
Dalam layout seperti pohon cemara, ini tentang foto bunda Maria dan Yesus kan?
Ditulis dengan indah, hati-hati, dan telaten. Banyak isu-isu yang diangkat. first time i read mas aan mansyur's works and i'm excited to read his another masterpiece
Bahasa Pohon-Pohon Tumbang adalah buku puisi terbaru dari Aan Mansyur. Seperti buku-buku sebelumnya, buku ini juga masih berpegang pada judulnya, yaitu "pohon" dan "tumbang". Karena itu, buku ini banyak memberikan metafora tentang alam, kesedihan, kebahagiaan, serta juga kehilangan.
Dalam kemasannya, buku ini cukup berbeda dengan buku-buku Aan Mansyur sebelumnya. Kita biasanya melihat bukunya memiliki gambar atau juga menggunakan sampul keras (hard cover), tapi buku ini sedikit unik karena tidak menggunakan semua itu. Buku ini hanya seperti buku biasa pada umumnya, dengan kelebihan bahwa beberapa halamannya memiliki warna yang lembut.
Tidak ada gambar di dalam buku ini, tidak seperti buku-bukunya yang sebelumnya yang biasanya disertai gambar-gambar indah seperti pada Melihat Api Bekerja atau Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau. Sebagai gantinya, kita diberikan halaman-halaman berwarna dengan tulisan-tulisan yang menggambarkan isi halaman tersebut. Misalnya, pada salah satu halaman dituliskan bahwa ada rangkaian bunga warna-warni yang tergantung pada pohon mati. Sangat menarik untuk direnungkan.
Lanjut kepada bagian isi, puisi-puisi Aan Mansyur entah kenapa terasa semakin menjauh dari kemampuan saya untuk menginterpretasikan maknanya. Saya harus membacanya berulang kali untuk bisa memahami metafora yang digunakannya. Mungkin hal ini karena metaforanya sudah berkembang, atau mungkin saya yang kurang bisa mengikuti bagaimana puisinya dibentuk.
Puisi-puisi dalam buku ini tetap menarik. Misalnya, pada puisi yang berjudul "Hari-Hari yang Lumrah", Aan menyentuh kehidupan yang sebenarnya menyedihkan, tapi karena sudah dianggap wajar, maka tidak ada lagi yang mempedulikannya. Hal ini bisa kita lihat dalam kutipan berikut:
"Apakah kita hanya memberi makan kesedihan— apakah kita membiarkan kesedihan semakin kuat— dengan mengharapkan lebih banyak kegembiraan?"
Dalam puisi lain, dia juga menulis seperti ini:
"Kita bisa melupakan hal-hal yang tidak pernah menyentuh kita. Barangkali itu sebabnya kita berpikir air mata orang lain tidak asin dan hangat seperti air mata kita sendiri."
Ada banyak sekali puisi dalam buku ini yang masih sangat mencerminkan gaya khas Aan dalam menulis, terutama dengan tema-tema yang akrab dia gunakan dalam puisinya seperti api, ibu, pohon, dan kematian.
Namun, untuk orang-orang yang baru ingin mencoba membaca buku puisi Aan Mansyur, saya merasa bahwa buku ini cukup berat untuk dinikmati. Orang-orang ini mungkin bisa memulai membaca buku lain yang lebih ringan dari penulis yang sama, seperti Tidak Ada New York Hari Ini atau Melihat Api Bekerja.
Setiap kali Kak Aan merilis buku baru, saya diingatkan kembali alasan kenapa Kak Aan menjadi salah satu penulis favorit saya. Saya merasakan buku ini dipenuhi kepedihan, kepedulian, ketidakberdayaan, ketidakadilan, kekuatan dan duka cita yang sangat dalam. Saya masih mendengarkan retakan patahan dalam hati saya sembari mengetik review untuk buku ini. “bahasa pohon-pohon tumbang” tepat sekali untuk jadi judulnya.
Salah satu bagian favorit saya pada buku “mengapa luka tidak memaafkan pisau” yakni surat yang ditujukan untuk Anna. Puisi romansa yang tidak terlalu manis tapi indah sekali. Dalam buku ini juga ada, tapi tidak ada yang manis, puisi yang dituliskan untuk perayaan ulang istri Kak Aan, “udara penuh kepunahan” nuansanya kelam sekali namun tetap indah. Penuh kemarahan dan keputusasaan akan keadilan tapi tetap ada setitik harapan. sedih sekali. (oh, to have someone writing poems for you).
Ada beberapa puisi pada bagian-bagian akhir yang sudah pernah saya baca dan terasa familiar. Ternyata membacanya duluan tidak memberikan kesan yang lebih baik meskipun ada beberapa yang saya senang setelah membacanya kembali karena memang puisinya sekeren itu, seperti: malam itu dan hari-hari setelahnya, gema—atau kita akan mati dua kali (keren mampus🔥) dan jika kita bahasa.
terima kasih Kak Aan telah menerjemahkan bahasa pohon-pohon tumbang kedalam puisi-puisi yang semoga kami pahami dan terus menyentuh hati kita agar tidak padam & diam di dalam rasa aman.
"kata-kata menghancurkan semua yang ingin kita katakan. tidak ada, tidak ada yang bisa dihancurkan kata-kata--bahkan ketiadaan."
seperti kutipan di atas, semua yang ingin saya katakan tentang buku ini ikut dihancurkan, hanya sempat menjadi: hebat. hebat. hebat. cukupkah kata hebat merangkum kerasnya suara-suara yang ditempatkan dalam tebalnya buku ini? saya hanya bisa berharap. semoga buku ini memang tebal sebab, seperti kutipan di atas juga, sang penulis juga melawan kata-kata untuk mengatakan semua yang dia inginkan.
/
"words destroy everything we want to put into words. nothing, nothing can't not be destroyed by words--not even nothingness."
like the quote above, everything i want to put into words about this book is destroyed, only got to become: great. great. great. is great enough to summarize the loud voices living in the thickness of this book? i can only hope so. i hope the thickness of this book, like the quote above, is the writer battling his own words to tell everything he needed to.
Puisinya indah, penuh metafora, dan dikemas dengan format tulisan yang beragam (miring, mendaki, menurun, selang-seling, dll).
Tema yang diangkat memuat tentang alam, kepunahan, kesendirian, kebahagiaan, kehilangan, dan masih banyak lagi.
Aku suka part udara penuh kepunahan.
Hari ini hari ulang tahunmu. Udara penuh kepunahan.
Hidup telah berlangsung bertahun-tahun dan kita bertahan. Kita telah jauh berjalan dan berhasil melewati pos-pos kekalahan. Tetapi bagaimana cara menghangatkan keningmu tanpa mengingat pucat wajah-wajah bayi sekarat?
Tujuh puluh sembilan ribu mayat. Seratus tiga puluh delapan ribu mayat—
Suka banget sih, pengalaman membaca yang sungguh membekas :") Beberapa puisinya pernah dimuat di Substack-nya M. Aan Mansyur, mungkin terasa seperti pertemuan yang familier. Selain puisi-puisinya yang khas dengan diksi sederhana tetapi selalu mengena, aku suka tata letak potongan-potongan puisinya yang tidak biasa, terasa seperti memasuki sebuah pameran.
"ada laut—luas & dalam—yang tidak sanggup aku seberangi bergemuruh di jantung setiap huruf & tanda baca
“Bagaimana aku akan membawa ketanpaan kau di masa depan?” “Kehidupan meminjam ayahmu dan lupa mengembalikannya” “Kita tidak pernah sanggup mengatakan cinta tanpa sekaligus meminta maaf…” Beberapa orang patah hati tampak indah dari jarak tertentu. Buku ini bercerita dibalut diksi yang jikalau kita paham, makna dalamnya akan sampai. Tentang kehilangan, pengharapan dan pohon pohon tumbang.
I read this after intense workshops on the issue of disappearances and loss. Some of the poems hits me so hard and they affect me emotionally. The book came timely for me.
finished this in one sitting. selalu suka karya beliau, terutama caranya menjelaskan rasa sakit dan duka (grief) dengan sangat apik. bacaan yang ringan, tapi cukup bikin ngerasa DEG di dada.