Arjuna, perempuan muda, bersama suaminya, Jean-Claudie van Damme, Pastor Jesuit yang “insyaf” itu, akhirnya berbulan madu di Bandung, kota yang sejak zaman Belanda punya istilah Bandoeng is Goed Voor pas getrowde paar (Bandung adalah kota kembang yang baik untuk pasangan yang baru nikah).
Berdua mereka menelusuri keragaman masa kini, mengaca pada masa silam, kemudian mengangkut sejumlah pelajaran kehidupan Sunda, Cina, Belanda, Jawa, Manado, Batak, dan etnik-etnik lain.
Setelah sukses dengan “Filsafat dalam Fiksi (Perempuan Bernama Arjuna), Remy Sylado melanjutkan kisahnya bertema “Sinologi dalam Fiksi”. Dan sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina),mendapatkan porsi dominan karena ilmu-ilmu Cina memang sudah lama masuk ke bumi Nusantara. Di Jawa Barat, pemakaian istilah Ci, seperti Cicadas, Ciroyom, Cimahi, Cilaki, Cihampelas, menjadi petunjuk sejarah yang jelas.
Novel ini sangat baik untuk menambah vitamin pemikiran sejarah dan merangsang gairah pengetahuan budaya nasional. Isinya seputar potret kehidupan “Parijs van Java”, yang menukik pada masalah “prasangka rasial”, “pri non pri”, “engkoh-encik”, “pembauran”, “masakan Cina”, “muslim Cina”, “musik Cina”, “obat Cina”, hingga seputar “nyetun”, “purenva di Saritem,” yang pokoknya terasa “edun suradun”,….
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.
Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.
Dalam sekuelnya ini penulis melanjutkan kisah Arjuna seorang mahasiswi filsafat dan suaminya Jean-Claudie van Damme, pastor Jesuit yang 'bertobat' saat sedang berbulan madu di Bandung. Seperti telah disinggung dalam novel sebelumnya Arjuna dan suaminya menemui Kan Hok Hoei untuk meminta petuah-petuah soal sex dari sudut pandang budaya Cina. Di buku keduanya ternyata pertemuannya dengan Kan Hok Hoei tidak hanya melulu membicarakan soal sex melainkan merambah ke Sinologi dan pengaruhnya di bumi Nusantara mulai dari tradisi, masakan, obat, musik, penamaan daerah, dll hingga akhirnya mengerucut pada hal-hal yang menyangkut prasangka rasial, soal pri-non pri, dan politik rasial di jaman Orde Baru beserta dinamika dan usaha pembauran orang-orang Cina di masa Orde Lama hingga kini.
Pada dasarnya semua hal yang menyangkut pengetahuan sinologi tersaji dalam novel ini, namun seperti dalam buku pertamanya walau buku ini disebut sebagai novel tapi kita tidak akan menemukan sebuah peristiwa dramatik dengan plot yang menukik seperti pada novel-novel Remy Sylado atau novel-novel pada umumnya. Seperti penulis lebih mengutamakan materi pengetahuan dibanding membuat sebuah kisah dramatik. Dengan demikian semua paparan sinologi dalam novel ini terurai lewat dialog antar Arjuna dengan tokoh-tokoh yang ia dan suaminya temui selama di Bandung.
Tampaknya seri Arjuna ini masih akan berlanjut, di dua bab terakhir novel ini dikisahkan Arjuna beserta suami dan ibunya berada di Semarang sehingga sepertinya di kisah petualangan Arjuna selanjutnya penulis akan menyajikan Javanologi dalam fiksi. Jika jeli kita juga akan menemukan clue bahwa setelah Javanologi maka akan terus berlanjut dengan bahasan mengenai Minahasalogi dalam fiksi. Jika ini bisa terwujud tentunya seri Arjuna ini akan menjadi satu-satunya novel berseri di Indonesia yang masing-masing memberikan pengetahuan baru dalam tiap serinya.
Di banding buku pertamanya yang menyajikan filsafat dalam fiksi, novel keduanya ini lebih mudah dipahami karena seperti kita ketahui budaya China telah melekat dalam kebudayaan dan tradisi kita sehari-hari sehingga apa yang terungkap dalam novel ini adalah apa yang kita jumpai dalam keseharian kita. Selain itu jika dalam buku pertama catatan kaki tersaji dalam halaman khusus maka di buku kedua ini catatan kakinya ada di bawah halaman kata yang ingin dijelaskan sehingga pembaca lebih mudah membacanya dibanding novel sebelumnya dimana pembaca harus bolak-balik halaman untuk membaca keterangannya.. Sebagai tambahan, novel ini juga menyertakan tabel Kronologi Singkat Sejarah Cina mulai dari Dinasti Xia (2100-1600 SM) hingga era RRC (1949- )
Di balik segala kebaikan dan banyaknya pengetahuan Sinologi yang didapat di novel ini sayangnya walau kisah dalam novel ini bersetting di kota Bandung penulis kurang memaksimalkan sejarah atau kiprah mengenai orang2 Cina di Bandung padahal keberadaan orang-orang Cina di Bandung memiliki sejarah dan kisah-kisah yang tidak kalah menarik dan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dan sejarah berdirinya kota yang pernah dijuluki Parijs van Java ini.
Namun terlepas dari hal itu, sebagai sebuah buku yang hendak memberikan pengetahuan Sinologi secara umum kepada pembacanya dalam bahasa dan kalimat yang mudah dipahami novel ini saya rasa sudah berhasil mewujudkan apa yang menjadi keinginan penulisnya untuk memudahkan masyarakat dalam memahami pengetahuan ilmiah dengan cara yang mengasyikan. Walau bukan bacaan ringan namun dengan menuliskannya dalam bentuk fiksi kesulitan dalam memahami Sinologi akan teratasi
Rasanya bukan Remy jika tidak menyelipkan kritik-kritik atau sarkasme dalam tulisannya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah soal bagaimana kedutaan RRC menyuruh kepada media pers Indonesia untuk mengeja Cina menjadi China. Menurut Remy, kedutaan RRC ini berlebihan karena membongkar-bongkar bahasa Indonesia dengan selera prejudis. Dan sadar atau tidak, karena hal itu pula, Cina telah memerkosa bahasa Indonesia dengan menyuruh bangsa Indonesia mengganti lafal Melayu dengan lafal Inggris.