Jump to ratings and reviews
Rate this book

Take Me to Your Heart

Rate this book
Bagiku, menemukan cinta semudah memecahkan teka-teki yang hanya perlu dihitung dan diukur probabilitasnya. Tak ada kata “menunggu” dalam kamus hidupku.

Namun, ternyata, masih ada perempuan yang percaya akan kekuatan penantian. Baginya, cinta sejati akan datang pada waktu, di tempat, dan kepada orang yang tepat. Lalu, entah bagaimana, aku ikut terjebak dalam sesuatu yang bertahun-tahun tak mungkin kulakukan: menanti.

Aku harus menanti sirnanya memori masa lalu dan rasa perih. Juga menanti kepingan rasa yang dialamatkan hanya pada hatiku. Kini, harapanku hanya satu: semoga menanti sesuatu yang tepat tak akan pernah membuatku kehabisan hari-hari yang pasti. Namun, ragu semakin menyergapku…

238 pages, Paperback

First published August 1, 2014

52 people want to read

About the author

Yuditha Hardini

3 books11 followers
A perpetual loner and a hopeless romantic.
Not really the best combination.
I also write things from time to time.

Feel free to say hi to me through my twitter account (@udithcuit) or my Instagram (@udithcuit)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (18%)
4 stars
21 (39%)
3 stars
19 (35%)
2 stars
3 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books462 followers
February 7, 2015
Biro Jodoh Dewi Kamaratih tidak pernah gagal sebelumnya. Hampir seratus persen dari klien yang datang padanya mendapatkan pasangan yang dia inginkan. Karena itu Ambar, pemilik biro jodoh tersebut, percaya diri akan menyelesaikan persoalan cinta Raisa yang sudah menahun itu. Tapi siapa sangka. Sebagaimana tidak ada orang yang sial terus menerus, tidak ada pula kesuksesan yang terus menerus. Sampai dua tahun sejak Raisa menginjakkan kaki di biro jodoh Dewi Kamaratih, Ambar masih berkutat dengan klien yang sama dan kegagalan-kegagalan yang sama. Namun Ambar, si perempuan keras hati, tidak menyerah. Dia terus menyodorkan pria pada Raisa. Di tengah usahanya tersebut, dia terpaksa memperhatikan kisah cintanya sendiri tak tak kalah akut.

-----------------------------------



Awal membaca saya mengira akan menyimak kehidupan Raisa sebagai tokoh utama. Ternyata sang pemilik Dewi Kamaratihlah tokoh utamanya. Bahasanya renyah dan realistis. Saya bisa merasakan Ambar, Raisa, Pandu, Daniel, dll berceloteh di sekeliling saya. Sayanya akrab. Hahaha

Twistnya juga keren. Tokoh Daniel ini benar-benar kudaniel ya. Kok ya bisa sepanjang cerita saya ngebayangin Takeshi Kaneshiro setiap kali Daniel muncul.


Keren lah pokoknya. Sekian.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
May 20, 2020

“Cinta terkadang tak cukup kuat mencegah dua orang manusia yang saling mencintai untuk tidak saling menyakiti.”

“Yang namanya jodoh itu sama aja kayak mesin. Nggak bakalan jalan kalau cuma dipelototin. Nggak bakalan dapat kalau cuma mengandalkan takdir. Harus pakai usaha juga. Lo harus mau membuka diri, mencari peluang, dan mencoba kesempatan apa pun demi mendapatkan pasangan hidup idaman lo! Love will find you, if you try!”
—Dina.


Merasa tersindir aku tuh sama kata-kata Dina, kata-katanya menohok sampai ke dasar hatiku... 😁😁. Berasa nasihat itu ditujukan Dina buat aku 😁.

Jadi, sebenarnya nasihat itu.. Dina tujukan untuk sahabatnya, si Raisa, gadis cantik berusia 28 tahun yang bekerja di salah satu bank swasta, menguasai tiga bahasa, dan pendidikan terakhir yang ditempuhnya adalah S2 Human Resource Management di salah satu universitas tersohor di Sydney.

Namun, sayang, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, Raisa belum juga mendapatkan pasangan. Karena hal itu lah, akhirnya Dina menyarankan Raisa untuk pergi ke biro jodoh ‘Dewi Kamaratih’ yang notabene merupakan biro jodoh nomer satu di Jakarta.

Biro jodoh Dewi Kamaratih ini.. dimiliki dan dikelola oleh seorang profesional matcmaker alias mak comblang profesional bernama Irene Ambarwati—biasa dipanggil Ambar.

Sebagai Mak Comblang profesional, Ambar nyaris tidak pernah gagal dalam mencarikan pasangan untuk para kliennya. Hanya butuh waktu satu atau dua bulan. Paling lama tiga bulan. Dan semua klien yang dijodohkan oleh Ambar selalu berhasil mempertahankan hubungan hingga ke jenjang pernikahan.

Tapi siapa sangka, keahlian Ambar tersebut terpatahkan oleh kehadiran Raisa. Raisa adalah klien Ambar yang untuk pertama kalinya membuat Ambar merasa bukan lagi sebagai mak combalang profesional.

Bagimana tidak, dalam waktu tiga bulan, Ambar tidak mampu membuat Raisa memilih salah satu orang pun dari beberapa kandidat yang disodorkan Ambar untuk menjadi pasangannya. Hingga sampai dua tahun ketemudian, Raisa masih menjadi klien tetap Ambar. Hingga akhirya mereka dekat dan menjadi sahabat.


Ini pertama kalinya aku baca karya mbak Yuditha Hardini. Dan cukup menarik. Walau—menurutku pribadi—tidak terlalu mengaduk-aduk emosiku sebagai pembaca. Tapi novel ini sangat bisa dinikmati.

Jujur saja, aku terkecoh saat membaca novel ini. Awalnya aku menebak-nebak akan seperti apa kisah dalam novel ini. Tapi ternyata tebakanku salah. Ku pikir, saat pertama kali membaca, kisah Raisa lah yang menjadi point utama dalam novel ini. Eh, ternyata justru Ambar lah yang menjadi point utamanya.

Aku tidak berpikir sejauh itu loh.. 😁. Ya.. Pikirku, Raisa adalah tokoh utama yang—seperti biasa—akan menjadi tokoh yang mewakili ku sebagai lajang, yang mengungkapkan unek-unek—suka duka—menjadi lajang. Ternyata aku benar-benar salah.

Tapi keren loh ini, menyamarkan tokoh utama yang sesungguhnya di balik tokoh sampingan. Dan, porsi antara keduanya pun pas. Tidak jomplang satu sama lain, antara karakter Ambar dan juga Raisa sama-sama kuat.

Mungkin yang disayangkan dalam novel ini tuh... Di bagian klimaks-nya kali ya... Soalnya menurutku, klimaks yang dibuat penulis nggak berasa greget gitu. Terkesan terlalu buru-buru. Penulis seperti ingin segera mengakhiri cerita.

Ada tokoh, yang harusnya akan sangat melengkapi tokoh utama, malah justru hanya seperti angin lalu. Penulis kurang menggali tokoh tersebut. Coba kalo digali lebih dalam lagi, pasti bakal lebih oke lagi ceritanya.

Well, di luar kekurangan yang kusebut tadi, novel ini sangat layak untuk kalian nikmati. Bacaan ringan yang pas menemani kalian.. disaat masa pandemi seperti ini. Sebagai hiburan untuk membunuh kejenuhan.. ketika kita dituntut untuk tetap #dirumahaja.

So, buat kalian yang penasaran, akankah Ambar akhirnya berhasil menemukan pasangan untuk Raisa? Dan, seperti apa kisah Ambar selaku tokoh utama di novel ini? Cuus.. Tunggu apa lagi, segera baca novel ini... 😊
Selamat membaca... 🤗
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
February 26, 2016
review lengkap http://kubikelromance.blogspot.com/20...

"Yang namanya jodoh itu sama aja kayak mesin. Nggak bakalan jalan kalau cuma dipelototin. Nggak bakalan dapat kalau cuma mengandalkan takdir. Harus pakai usaha juga. Lo harus membuka diri, mencari peluang, dan mencoba kesempatan apa pun demi mendapatkan pasangan hidup idaman lo! Love will find you if you try!"

Dina, sahabat Raisa sejak SMA prihatin dengan sahabatnya yang diumur 28 tahun masih saja melajang tanpa alasan jelas, dia menyarankan agar Raisa mendatangi biro jodoh yang cukup terkenal, biro jodoh nomor satu di Jakarta, siapa yang mencari jodoh di sana dipastikan akan langsung ketemu dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menikah. Biro jodoh tersebut cukup eksklusif karena kalau mau menjadi klien harus atas rekomendasi dari mantan klien terdahulu, pemiliknya sangat mementingkan bibit, bebet, bobot. Latar belakang klien di biro jodoh ini jelas, mampu berkomiten, dan berkualitas tinggi. Nama biro jodoh tersebut adalah Dewi Kamaratih, pemiliknya adalah mak comblang nomor satu di Jakarta, professional matchmaker, Irene Ambarwati.

Tingkat keberhasilan Ambar dalam menjodohkan kliennya sangat tinggi, tidak pernah gagal mencarikan pasangan bagi tunaasmara, apabila tidak berhasil garansi uang kembali. Waktu yang dibutuhkan untuk mencarikan jodoh bagi Raisa adalah tiga bulan. Dalam tiga bulan tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satu contohnya adalah menganalisis kecocokan klien dan calon pasangan melalui sebuah aplikasi komputer yang didesain khusus oleh Ambar sendiri. Klien-klien yang tingkat kecocokannya paling tinggilah yang akan saling diperkenalkan. Setelah berkenalan dan cocok mereka akan berkencan minimum tiga kali, setelah itu terserah kepada klien apakah ingin melanjutkan hubungan atau minta dijodohkan dengan calon lain yang mungkin lebih disukai. Jadi, rahasia Ambar dalam meraih kesuksesannya selama ini adalah dia bekerja secara logika, bukan dengan perasaan.

"Tidak selamanya perasaan yang kita miliki itu benar. Terkadang, perasaan malah mendorong kita memilih pasangan yang salah. Manusia, kan, sebenarnya hanya memilih sesuatu berdasarkan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan."

Sayangnya, aplikasi yang dibanggakan Ambar tidak berhasil pada Raisa, banyak macam calon dengan tingkat kecocokan tinggi yang ditawarkan tetapi dia selalu harus mengembalikan biaya yang sudah Raisa keluarkan. Dua tahun Ambar menjodohkan Raisa tanpa hasil, dua tahun dia frustrasi karena belum bisa menemukan pasangan yang tepat untuk Raisa, dua tahun dia berhadapan dengan klien paling keras kepala di dunia. Raisa cantik dan sangat menarik, bukan sesuatu yang susah menemukan lelaki yang tertarik padanya, masalahnya dia terlalu banyak keinginan dan alasan dia menolak calon yang dikenalkan padanya tidak masuk akal. Sebagai mak comblang legendaris, tentu kasus Raisa adalah sebuah tantangan, nama baiknya dipertaruhkan, hidupnya tidak akan tenang karena Raisa Rahmad menjadi noda hitam dalam kariernya yang cemerlang.

Kalau mengunakan bahasa statistik, Raisa tidak ubahnya sebuah data ekstream di luar kurva normal. Outlier. Penyimpangan. Data anomali yang tipikal dengan data lain sehingga perlu ditransformasi agar dapat dimasukkan kembali ke dalam basis data.
Dan, Ambar sudah punya strategi untuk itu. Strategi yang ia yakini akan menaklukkan sifat keras kepala Raisa, juga membuat kliennya itu akhirnya menyerah. Strategi rahasia yang sudah ia persiapkan sejak satu tahun belakangan ini. Strategi yang ia percaya mampu mengubah Raisa, si Data Anomali, menjadi normal kembali.

Sama halnya Ambar yang dibuat frustrasi oleh Raisa, saya dibuat penasaran akan Yudhita Hardini, ini cerita mau dibawa kemana? Kebiasaan saya membaca buku, terutama romance adalah saya suka sekali menebak jalan cerita, endingnya nanti akan seperti apa, di novel ini penulis benar-benar mengecoh saya. Awalnya saya sempat bosan karena penulis terlalu sering membicarakan biro jodoh, bukan tokohnya sendiri, tidak jarang mengulang kalau keberhasilan biro jodoh tersebut 100%, terlalu panjang pengenalannya. Saya sampai berpikir, please, jangan sampai saya rugi karena beli buku yang nggak sesuai harapan saya, saya sempat sebel karena saking bosannya saya sampai ketiduran.

Saya pikir tokoh utama novel ini adalah Raisa, tapi makin ke belakang fokus cerita berubah menjadi Ambar dengan biro jodohnya, dengan masa lalunya, dengan obsesinya menemukan pasangan untuk Raisa. Cerita yang awalnya saya kira bakalan seperti kebanyakan cerita yang mengambil tema tentang biro jodoh ternyata jauh dari perkiraan saya. Bisa dibilang Yudhita membuat cerita yang orisinil, yang tidak mudah ketebak, yang tidak saya temukan di buku lain. Di saat itulah cerita novel ini berubah menjadi menarik.

Saya menganggap tokoh Ambar lah yang menjadi tokoh utama buku ini. Dia digambarkan seorang perempuan yang tanpa lelah mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan saking seringnya menjodohkan Raisa dan memantau perkembangan perjodohan tersebut mereka menjadi bersahabat. Bagian dia menguntit bersama Bayu, partner kerjanya cukup seru dan menghibur, terutama waktu di bioskop, hehehe. Saking sibuknya mengurus kisah cinta orang lain, Ambar sampai tidak sempat mengurus kisah cintanya sendiri, ada bagian dari masa lalu yang disesali Ambar, ada pengorbanan yang harus dia ambil.

Sedari dulu, Ambar adalah orang yang tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaanya sendiri.
Buat apa? Ambar sudah sering melihat perasaan manusia kerap membutakan seseorang. Membuat orang itu mengambil keputusan yang tidak seharusnya diambil. Perasaan adalah hal yang rumit dan susah diartikan. Perasaan sering kali membuat seseorang tersesat dan menyesal di kemudian hari. Nothing good happens if she follows her feeling.

Buku ini menarik ketika tokoh Bayu muncul, lebih seru lagi kalau bagian Daniel diperbanyak. Saya suka karakter Daniel, dia tipikal cowok playboy yang menyegarkan suasana. Oh ya, saya suka penulis tidak melupakan bagian latar belakang Ambar membuat biro jodoh, bagian di mana dia lebih percaya logika daripada perasaan, alasan utama Ambar selalu menilai sebuah hubungan perlu diperhitungkan dan diukur sejak awal, tanpa dibutakan rasa cinta, kasih sayang dan perasaan yang manusiawi. Ada sebab-akibat konflik utama buku ini. Cukup disayangkan memang penulis terlalu berlama-lama di awal cerita tentang pengenalan biro jodoh, penginnya penulis lebih mengembangkan cerita yang berada di bagian akhir, soalnya lebih seru. Tapi, saya puas sekali dengan ending cerita ini :D.

Cinta terkadang tak cukup kuat membuat sebuah hubungan bertahan.
Cinta terkadang tak cukup kuat mencegah dua orang manusia yang saling mencintai untuk tidak saling menyakiti.
Cinta terkadang berlalu cepat tanpa meninggalkan jejak. Dan, cinta yang menghilang tanpa peringatan itu ternyata menyakitkan sehingga bisa membuat sesesorang merasa begitu kesepian.

Ini adalah kali kedua saya membaca tulisan Yudhita Hardini, setelah saya mencicipi tulisannya yang renyah di Kekasih (saya lupa apakah sudah pernah baca Orang Ketiga, hehehe). Pertama kali membaca tulisan penulis, saya langsung menyukai, gaya tulisannya mirip dengan Ika Natassa dan Nina Ardianti, ceplas ceplos, campur aduk dengan bahasa Inggris, menampilkan tokoh cowok yang playboy, banyak kejutan yang dia sisipkan di cerita. Tulisannya bikin nagih! Setelah membaca buku ini, yang sedikit memiliki kesamaan dengan novella-nya di Kekasih, saya mulai memahami style penulis, dia suka sekali membuat cerita yang mengarah ke sad ending. Bukan cerita yang tokohnya mati sih, tetapi tidak sesuai harapan saya, sering bikin tokohnya patah hati.

Buku ini bercerita tentang seseorang yang menempatkan perasaan setelah logika, yang percaya kalau cinta bisa dikalkulasi.

Perhitungan seakurat dan secanggih apa pun, kalau urusannya terkait manusia, tetap saja hasilnya nggak terduga.

Mungkin inilah definisi jodoh. Someone that you just can't refuse.

Yang merasa sebagai tunaasmara, buku ini cocok banget buat kalian baca karena banyak tips tentang kencan pertama, dari mak comblang nomor satu lagi. Oh ya, yang suka menolak perjodohan juga wajib baca buku ini karena nggak ada salahnya kok, serius *ngaca* :D

4 sayap untuk Dewi Kamaratih.
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
January 21, 2015

Review on my blog: http://kandangbaca.blogspot.com/2015/...

Pada suatu masa, tersebutlah seorang gadis cantik bernama Raisa (“Hai, Raisa…”). Raisa ini selain cantik, usianya juga sebaya dengan saya (kalau baca bukunya nanti pasti tahu kok). Dan sama seperti saya, dia juga jomblo. Owh. Tatian… *nangis bareng yuk, Raisa* *Raisa: “Ogah, yaaa.”*

Raisa sebenarnya tak memiliki masalah dengan status single-nya. Tapi tahu kan, masyarakat kita kayak gimana? Itulah mengapa Dina, sahabat Raisa, dengan penuh semangat berusaha meyakinkan Raisa untuk mencari pacar lewat… *siap-siap, bakalan deramak ini…* LEWAT BIRO JODOH! Eww. Hari gini, pake jasa biro jodoh buat ngedapetin pacar? No! A VERY BIG NO! Begitulah reaksi Raisa pada awalnya. Tapi berhubung Dina punya kemampuan ajaib dalam hal meyakinkan orang lain, maka Raisa pun terpaksa menyetujui saran Dina. (Ah Raisa, begitu mudahnya dirimu berubah pikiran).

Adalah Dewi Kamaratih, nama biro jodoh yang direkomendasikan oleh Dina. Dewi Kamaratih adalah biro jodoh ekslusif yang selalu berhasil mendapatkan pasangan yang cocok bagi para kliennya. Hampir semua klien yang menggunakan jasa biro jodoh Dewi Kamaratih nasibnya berakhir indah di pelaminan. Pemilik Dewi Kamaratih adalah Ambar, yang juga dikenal sebagai Mak Comblang nomor satu di Jakarta. Dewi Kamaratih disebut sebagai biro jodoh ekslusif karena tak sembarang orang bisa menggunakan jasa biro jodoh tersebut. Untuk menjadi klien, calon klien harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari klien sebelumnya. Ambar, si Mak Comblang, juga akan menilai apakah calon kliennya itu cukup pantas untuk memakai jasanya, sebab calon pasangan yang nantinya akan dicarikan oleh Ambar juga bukan sembarang orang. Kualitas top deh, pokoknya. Maka dari itu tarifnya juga tidak main-main. Muahal!

Dan untungnya, Raisa cukup pantas untuk mendapatkan perhatian Ambar. Lantas bagaimanakah nasib Raisa? Berhasilkah ia mendapatkan jodoh melalui biro jodoh Dewi Kamaratih? Pada bagian ini biasanya saya akan menulis, “baca sendiri bukunya, ya!” atau something like that. Tapi, belum, saya masih akan sedikit bercerita tentang buku ini (diusahakan nggak memberi spoiler yang krusial).

Dari ringkasan cerita di atas, mungkin pembaca akan menduga kalau tokoh utama novel ini adalah Raisa. Tapi sama seperti kalian, saya juga keliru. Saya pribadi menganggap novel ini punya dua cerita utama dengan dua tokoh utama. Tokoh pertama adalah Raisa, sebab cerita dimulai dari sudut pandangnya. Tokoh kedua, bisa ditebak, adalah Ambar. Yep, sebagian besar porsi cerita novel ini mengambil sudut pandang Ambar. Fokus ceritanya adalah usaha keras Ambar untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk Raisa, sebab ternyata mencarikan jodoh yang sempurna untuk gadis cantik itu tidaklah mudah. Raisa adalah klien pertama Ambar yang luar biasa keras kepala, yang selalu saja menemukan kekurangan dari setiap lelaki yang disodorkan oleh Ambar pada kencan pertama atau kedua (progres percomblangan bisa dibilang separo berhasil apabila para klien telah sampai pada kencan ketiga).

Berbulan-bulan telah berlalu namun belum ada tanda-tanda Ambar akan berhasil. Seiring berjalannya waktu, Raisa dan Ambar pun menjadi sahabat. Namun tetap saja, Ambar tak ingin menyerah mencarikan laki-laki yang sempurna buat Raisa. Bagaimanapun, nama baik biro jodoh Dewi Kamaratih sedang dipertaruhkan—biro jodoh yang katanya tak pernah gagal menjodohkan orang itu. Belum juga sukses dengan perjuangannya mencari jodoh untuk Raisa, Ambar harus berjuang mengatasi cinta masa lalu selalu membayangi dirinya dalam sosok pria yang selama ini menjadi rekan kerjanya di Dewi Kamaratih. Kesendirian Ambar pun dipertanyakan. Apa kata dunia apabila seorang Mak Comblang nomor satu di Jakarta justru tak becus dengan urusan percintaannya sendiri?

Nah, berhasilkan Ambar mendapatkan jodoh bagi Raisa? Selain itu, berhasilkan Ambar menemukan kebahagiaannya sendiri? Baca sendiri bukunya, ya! (finally, ngetik kalimat itu juga, hehehe).

***

Sebelum mereview buku ini lebih lanjut, saya mau ngucapin terima kasih buat Oky @ www.okydanbuku.com yang telah merekomendasikan buku ini ke saya. Pertama kali ditunjukin cover buku ini sama Oky, saya langsung jatuh hati. Covernya keren banget. Hanya saja, sewaktu tahu isi ceritanya banyak mengulas seluk-beluk perjodohan lewat biro jodoh, jujur saja saya sempat merasa kurang tertarik. Namun setelah membaca sendiri buku ini, ternyata saya sangat menikmatinya.

Ide ceritanya mungkin tak terlalu istimewa, namun yang membuat buku ini menarik adalah cara penulis menyampaikan ceritanya. Percakapan-percakapan dalam buku ini sangat cerdas. Melalui tokoh-tokoh di dalamnya, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama berdiskusi tentang percintaan, juga cara pandang perempuan terhadap laki-laki dan apa yang mereka harapkan dari laki-laki secara umum. Saya pun yakin banyak pembaca yang akan merasa relate dengan dengan beberapa adegan dalam buku ini. Pernah mengalami indahnya perasaan deg-degan saat jatuh cinta pada sahabat sendiri, tapi kemudian harus mengalami patah hati saat memutuskan lebih baik berteman saja? Nah, itu salah satunya. #bukancurhat

Take Me To Your Heart adalah buku pertama dari Yuditha Hardini yang saya baca, dan secara keseluruhan saya sangat menikmatinya. Ceritanya sangat mengalir. Penggemar buku-buku Ika Natasha kemungkinan besar akan menyukai gaya bercerita dalam buku ini. Saya, salah satunya. Sepanjang membaca buku ini, saya dibuat tersenyum oleh tingkah laku dan celutukan cerdas (terkadang bodoh, sih) para tokohnya. “Cute” mungkin adalah kata yang tepat untuk mendiskripsikan buku ini.

Meski demikian, ada yang ingin saya keluhkan dari buku ini. Pertama, bagian awal ceritanya agak sedikit membosankan. Syukurlah makin ke belakang, ceritanya makin seru. Dan saya berkali-kali terkecoh. Awalnya saya coba-coba mengira ceritanya akan mengarah ke mana, namun berkali-kali saya salah. Penulis cukup pintar untuk memberi kejutan yang tidak terduga bagi pembaca. Nice job, Mbak penulis! Keluhan kedua, adalah endingnya. Spoiler: endingnya bahagia kok, dan sama sekali di luar tebakan saya. Hanya saja, menurut saya penulis agak terburu-buru mengakhiri ceritanya. Padahal saya ingin proses menuju ending bahagia itu dibuat sedikit lebih berliku.

Overall, I really enjoyed this book. Saya suka dengan buku yang meninggalkan perasaan hangat di hati sewaktu menutup lembar terakhirnya. Dan buku ini sukses membuat saya merasakan kembali pengalaman tersebut. Pembaca yang tengah mencari bacaan ringan yang menghangatkan hati, silakan pilih buku ini. Buat pembaca cowok yang bingung bagaimana membuat kesan baik pada kencan pertama, buku ini juga punya tipsnya. :)

Saya jadi tak sabar menanti karya-karya Yuditha Hardini selanjutnya.
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
November 27, 2015
Dua setengah bintang yang dibulatkan jadi tiga.

Beli buku ini karena penasaran, karena review para penghuni goodreas yang banyak memberikan 4 bintang. Lagi butuh bacaan metropop juga, jadi akhirnya buku ini masuk dalam kantong belanjaan saya.

Sebenernya, buku ini punya potensi untuk jadi bintang 4, atau bahkan bintang 5. Idenya unik, bahasanya enak dibaca, dan plot twistnya juga oke. Cuma, mungkin ini masalah selera aja sih, jadi ada beberapa hal yang mencegah saya memberikan nilai sempurna.

1. Mungkin penulis ingin memberikan 'ujung' cerita yang nggak tertebak. Tapi sampai saya membaca 3/4 buku ini, saya nggak tahu ceritanya mau dibawa kemana! I had no clue at all. Pacenya cukup lambat dan ceritanya singkat banget. Jadinya, ya... nggak taulah. Endingnya sih, memang cukup jelas. Cuma kurang greget. Nggak ada 'oomph-factor'-nya. Penyelesaiannya kelewat mudah. Jadi Aftertaste bacanya kosong aja gitu.

2. Baca dialog Ambar yang scientifically speaking about love bikin saya balik baca text book ke jaman kuliah. Bukan menceramahi sih, si Ambar ngomong dengan bahasa yang cukup enak kok. Tapi rasanya penulis menjelaskan tentang cinta itu dengan cukup dalam dan rumit. Padahal menurut saya, rasanya bisa dikasih penjelasan ringkas aja deh. Dan ini terjadi berkali-kali, bukan hanya sekali dua kali.

3. Kesamaan gaya bicara Raisa, Ambar dan Daniel. Satu-satunya yang beda hanya Bayu. Terutama Raisa dan Ambar sih.

4. Klimaksnya nggak greget. Ya, itu tadi... singkat dan rasanya bisa dielaborasi lebih lanjut. Sumpah, pas saya tau itu klimaksnya, saya mengerutkan alis, 'heh? udah nih?'

5. chemistry-nya hambar. saya nggak begitu mengerti kenapa Ambar-Bayu bisa sedalam itu. Memang dijelasin sih, cuma rasanya belom nendang. Daniel juga kayak angin lalu doang.

6. Typonya cukup banyak! Terus bahasa inggrisnya ada beberapa yang off, dan rasanya sedikit janggal.

terus yang paling saya nggak suka... kenapa Bayu digambarin sebagai cowok cengeng sih! Sebagai penggemar alpha-male, jelas saya ilfil berat. Tapi ya sekali lagi... ini masalah selera kok.

Jadi 2,5 bintang yang dibulatkan jadi 3.

ps.
by the way, saya kok nggak ngerasa Daniel ini charming ya? aura nyebelinnya juga saya nggak dapet. Maybe this book is just not my cup of tea.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
October 17, 2014
Tiga kata: SUKA BANGET ENDINGNYA.
Sama satu lagi, ding: Who can resist the cover?

Yap, menurut saya, dua hal itulah yang jadi VERY STRONG POINT dari TMtYH. Jarang--atau karena memang referensi saya yang kurang, mengingat saya tak begitu akrab dengan Metropop--cerita cinta yang saya baca berakhir sememuaskan ini. Juga kavernya, yang mengingatkan saya sedikit sama desain sampul To All the Boys I've Loved Before-nya Jenny Han. Tapi pas ditilik lagi, ternyata itu font, bukan coretan spidol. Apik.

Bagaimana dengan yang lain? Premisnya bagus, dan banyak yang bilang unik, dan saya setuju. Alurnya juga jelas, maju dan semua kilas balik dikisahkan narator atau dari karakter yang sedang bercerita. Semua karakternya terbayang. Raisa tahu betul cara 'mengerjai' Ambar, dan interaksi mereka jadi favorit saya di sini. Semua itu adalah STRONG POINT yang berdasarkan selera saya.

Kalau yang ini mungkin saya yang harus belajar baca dari PoV orang ketiga, karena kadang saya bingung batasannya. Namun sebetulnya tidak ada masalah di sini, kok. Typo, duh, sudah bisa ditemukan di halaman awal-awal. Inilah NOT-SO WEAK POINT-nya. Selain itu, chemistry tokoh dengan love interest-nya tidak begitu saya rasakan (keterbatasan halaman juga sih, kalau lebih tebal pasti lebih ngena) dan bahasanya Ambar dan Bayu agak-agak mirip. Apa karena mereka soulmate?

Tapi serius, endingnya itu suka pake banget banget (iya, bangetnya dua kali). Terima kasih Mbak Yuditha sudah menulis cerita ini. Kalau penasaran, mending buruan baca. Nggak akan nyesel, insya Allah :D
Profile Image for Naomi Chen.
229 reviews14 followers
September 11, 2014
I guess I know why I love this book so much. I just read the biography of the author, and kindly surprised when know that she has same background with me. She also studied Psychology. That's why I think that this story is interesting.

At first, I thought the heroine is Raisa, but I was wrong. Actually the heroine is Ambar. Well, I really give two thumbs up to the writer because she can make me to not stop reading this book since I received it from delivery package (well, I got this for free, promotional purpose from the publisher). The plot is interesting, but once again, she can described them in 'real' setting, just as the usual standard from the publisher. She can make me laugh and scream (actually, not really as you think : lebay) when read some scenes that made me really want to kick the heroine while say "Why you're so stupid?" Hahahahaha *that's me, expressive reader. Even people can laugh when watching me while reading some fiction*

I think I'll end my review here, because if I eager to continue, I'll ended up with spoiler-ing. Well, I gave 4 stars for this novel, because the story is worth to read and enjoyed. 'Make-sense' plot, and not cliche. Worth read! Well done, writer!
Profile Image for Titi Sanaria.
202 reviews37 followers
September 4, 2015
Menilik genrenya, ini aku pake banget, secara, ini romcom yang gak bikin gagal untuk ketawa-ketiwi dan senyum-senyum gaje. Dua jempol untuk percakapan-percakapan yang sukses bikin nyengir.
Harusnya, bintangnya bisa 4 atau malah sempurna 5 oleh subyektifitas genre tadi, hanya saja, entahlah, ada sesuatu yang kurang. menurutku, kekuatan conversationnya tidak diimbangi oleh pendalaman karakter tokoh-tokoh di dalamnya. Di awal kisah, kupikir si Raisa dengan petualangan mencari jodohnya yang menjadi first female character-nya. Tapi malah Ambar. Ini akan lebih enak dibaca seandainya penulis memakai POV 1 dengan Ambar sebagai tokok 'Aku'. Tapi bila seandainya penulis berkeras memakai POV3 untuk mengemukakan lebih banyak pikiran karakter yang ada, pendalaman cerita sisi Bayu harusnya lebih digali dan karakter Daniel yang begitu menarik, mbok yah dimunculkan di awal hingga tidak terkesan tempelan dan berperan sebagai penyelamat Ambar dari sakit hati akibat rasionalitas dan kejombloan tingkat kronis.
anyway, I really enjoyed this book dan recommend untuk yang lagi cari bacaan ringan, menyenangkan dan bisa bikin ketawa....
36 reviews
September 18, 2014
Baru menyelesaikan buku ini dan... sukaaaaa!!!
*Mungkin bakal menimbulkan Spoiler, jadi yang nggak pengen tahu spoiler jangan baca review ini.*

Cerita diawali dengan Raisa yang sudah berusia 28 tahun tapi masih lajang. Oleh karena itu dia (dipaksa) minta bantuan biro Jodoh yang terkenal selalu akurat. Pemilik biro jodoh itu, Ambar.
Ternyata hingga 2 tahun, Raisa masih belum dapat jodoh. Ambar dan Raisa jadi dekat banget dan Ambar pun masih keukeuh jadi mak Comblang Raisa. Dia mengenalkan berbagai macam tipe cowok ke Raisa tapi selalu saja ada alasan untuk ditolak oleh Raisa.

Eitss.. tapi jangan kira novel ini cenderung bercerita tentang Raisa, novel ini cenderung bercerita tentang Ambar dan segala kehidupan percintaanya yang secara tak langsung akhirnya berhubungan dengan alasan mengapa dia begitu mengutamakan Logika dibangding perasaan dalam menjadi mak comblang. Dari novel ini pula kita mendapatkan semacam" trik untuk kencan pertama, dll.

Gaya bahasa sendiri, aman, nyaman, tentram, asik.


4 STARS!!!
1 review
January 15, 2015
I promised the author to drop some lines about her latest novel.

Objectively said, this is her best novel so far. Ceritanya lebih dewasa. Plotnya ga ngebosenin. Kalimatnya enak dibaca, jarang ada typonya. Dan selalu, she knows where to put sharp quotes! :))

The best part is....somehow beberapa bagian di cerita ini bikin mewek (bacanya pas melow soalnya:p). Itu artinya, novel ini sukses bikin pembaca tenggelam menikmati setiap sudut dan sisi.

Congrats to the author! Menunggu novel dirimu selanjut :*



Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
January 7, 2015
Penulis cakeeep!!. Di awal cerita aku agak bosan membaca alur ceritanya. Memang masih semacam pengenalan tokoh, latar belakang cerita di bagian awal novel. Tapiiii, kalau sudah melanjutkan hingga pertengahan cerita, aku berasa nggak bisa berhenti membacanya. Dialog2nya pintar tanpa ada kesan menggurui. Cara penulis meramu cerita cakeep!! Temanya juga beda dari novel romance lainnya. Cara pikir tokohnya juga nggak bisa ditebak sama sekali. Kece deh pokoknya :)))
Profile Image for fanny fredlina.
21 reviews
October 9, 2014
novel yg keren banget. Padahal pas liat covernya kurang sreg tapi baca sinopsisnya kayaknya menarik sih. Akhirnya beli dan saya nggak kecewa.Emang bagus. Kisah biro jodoh yg dimiliki cewek yg masih single itu termasuk tema yg langka. Cara penulis menjelaskan bahwa jodoh tidak bisa ditentukan oleh program semata juga keren. Simple dan maknanya dalam.

Bintang lima deh buat novel ini.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
November 17, 2014
Kalau pakai sudut pandang orang pertama, mungkin akan lebih greget!! Kurang dapet emosinya, ceritanya soalnya udah termasuk pasaran.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.