Cerita setahun jalan-jalan keliling dunia Trinity belum berakhir serunya! Masih ada Kolombia, Kuba, Jamaika, Meksiko, Guatemala, dan lain-lain yang menanti.
Apa saja sih yang seru di The Naked Traveler: 1 Year Round The World Trip Part 2 ini? Bersiaplah untuk berdebar-debar menyusup ke pusat kartel Kolombia, nyekar ke makam Che Guevara di Kuba, bertamu ke rumah Bob Marley di Jamaika, diving di gua suku Maya di Meksiko, hingga meluncur di air terjun di Guatemala.
Selain petualangan Trinity ke tempat-tempat yang eksotis itu, kita juga akan disuguhi berbagai cerita yang mengharu biru. Dalam satu tahun, menginap di berbagai hostel dan naik bus dengan bermacam kondisi, dipaksa cepat beradaptasi dengan bahasa yang asing di telinga, dan mengatur menu makan sehemat mungkin, tentu bukan perkara yang mudah. Namun, bukan Trinity namanya kalau tak berhasil mengubah situasi sulit jadi penuh gelak tawa.
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.
Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.
Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.
Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.
Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.
She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.
Yep, masih lanjut baca TNT #RTW yang kedua, karena udah baca yang pertama masa ga dilanjutin? :v #krikkrik . Secara isi, lebih suka yang buku kedua ini karena printilannya jauh lebih asyik, bervariasi dan juga beberapa butuh pemikiran mendalam. TNT #RTW 2 melanjutkan perjalanan Mba T dengan sohibnya Yasmin di negara2 Amrik Selatan, dan kali ini yang ketiban hoki adalah negara Kolombia, Kuba, Jamaika, Guatemala dan Meksiko.
Untuk trip RTWnya, bagian paling bagusnya menurut gw adalah saat dia di Kolombia -karena kerasa merindingnya travel di kota kartel ini-, dan juga Kuba yang terpencil. Bahkan di Kuba aja Mba T sampai ga nginet sebulan. Bisa kah gw kayak gini? Bisa aja sih, malah itu jumlah timbunan bisa - bisa habis kalau gw tinggal di Kuba, karena ga ada gangguan sosmed :P. Kalaupun untuk ngeblog, bisa ditulis di draft post yang nanti tinggal dipublish kalau ketemu inet, hahaha XD. Bukan berarti yang negara lain ga kalah seru sih.
Untuk printilan di luar bagian trip, post tentang cara beribadah, kuliner dan juga biaya yang dikeluarkan untuk RTW yang menarik. Kenapa yang pertama gw ulik masalah ibadah? Oke, Mba T seorang penganut Kristen dan karena negara yang dia kunjungi adalah negara dengan penduduk mayoritas Kristen, maka tidak begitu susah buat Mba T untuk beribadah (walau tetep ada susahnya juga sih). Namun, sohibnya yang bernama Yasmin kan muslim. Nah, tau sendiri toh ibadah kita gimandose? :v Salut sama Yasmin yang tetep full ibadah sholat 5 waktu walau dalam perjalanan(dan gw langsung merasa tersindir parah, makjleb, jleb,jleeeeb) dan juga berusaha makan makanan halal. Puasanya pun full. Keren bingits! XD
Bagian kuliner sih ga usah ditanya, karena walau gw ga ada hasrat untuk travel kemene seje, sebenarnya ada 1 faktor yang bisa bikin gw pengen jalan ke suatu daerah dan itu adalah kulinernya! Lucu banget baca bagian Mba T yang mencari KFC, dimana selera kami juga sama. Suka paha atas original recipe! Gw sendiri kalau pulkam selalu bilang ke sodara, "ntar gw traktir ya, tapi jangan ajak ke KFC, Mekdi, hokben, dll. Bosen!" Ya, karena bisa seminggu sekali makan ke kaepci, apalagi kalau males masak :v #janganditiru. Mungkin kalau gw ke luar negeri, bisa jadi nyari2 KFC karena ga yakin sama makanan setempat :P
Lalu, bahasan tentang berapa duit yang dihabiskan Mba T selama RTW. Emang sih, berasa bener ngiritnya Mba T dan Yasmin di RTW ini, sampai dia aja malsuin kartu pelajar biar dapet diskon pelajar padahal masa pelajarnya aja udah lewat berabad2 :v. Tapi takjub membaca pengeluaran seharinya, yang kalau dikurs rupiahkan rata - rata 270-300ribu rupiah. Terlihat gede sih awalnya, TAPI INI DI LUAR NEGERI. Dan semua biaya dari kantong Mba T sendiri, yang katanya tanpa sponsor (dan ya gw percaya aja). Pengeluarannya dihemat dengan cara memilih metoda transportasi darat dan juga memasak sendiri, and yep, dua hal ini aslinya yang paling makan biaya. Transportasi dan makan! Itu juga kenapa kok RTWnya Mba T cuma beberapa negara aja (hanya 22), karena untuk beberapa negara dia bisa stay sampai 2-3 bulan (sampai visa habis). Bayangin dah puas banget itu muter2nya :v.
Bagian tentang perbandingan pariwisata (dan terutama transportasi) antara negara - negara Amrik Selatan dan Indonesia sebenarnya menarik buat dibaca. Bagian ini juga sebenarnya tamparan keras buat pemerintah Indonesia saat itu dan PR untuk yang sekarang. Eniwei, saat Mba T bilang orang Amrik cuma bisa bahasa Inggris, itu beneran kok :v. Soalnya teman2 Gudrids gw yang asalnya amerika pada ngaku kalau cuma bisa bahasa Inggris, dan beberapa bisa sedikit bahasa latin. Bandingkan sama orang Indonesia yang selain bisa bahasa Indo, bisa juga bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Jepang dll, yang walau dipelajari dari hasil kursus, nunjukin kalau kita tuh aslinya bisa karena mau berusaha. Plus ditambah bahasa daerah masing2! Jadi, kalau ada orang Amrik yang ngejek grammar kalian, sindir balik aja, yang bersangkutan bisa bahasa lain ngga? Waka waka waka #ketawapuas
Baca buku Mba T ga bisa sekali dan emang asli nagih. Ini aja kedua buku RTW "tereak2" ke gw buat di-read :v. Sempat kena reading slump phase selama beberapa bulan (parah ini rekornya), buku Mba T bikin mood baca naik lagi. Thanks a lot Mba T yang udah berbagi pengalamannya melakukan perjalanan keliling dunia. Ayo traveling lagi biar makin banyak cerita serunya :D
Akhirnya tuntas sudah baca pengalamannya Trinity menjelajahi Amerika Selatan. Tidak hanya detail dalam menyajikan berbagai pengalaman uniknya di banyak tempat, Trinity juga termasuk kritis. Banyak muatan kritik sosial dalam tulisannya.
Saat pertama membaca the naked traveler, saya langsung suka. Ketika tahu bahwa naked traveler adalah seorang traveler aseli Indonesia, adik kos saya berkomentar, "kalo orang bule travelling biasa, tapi kalo orang Indonesia yang traveling, itu orang pasti tajir"
Ternyata, Trinity sama seperti kebanyakan orang, dia merupakan masyarakat kelas menengah. Namun dengan minatnya terhadap traveling, yang dia tuliskan di blog dan buku buku spektakulernya, dia telah menyebarkan "wabah" traveling kepada berbagai kalangan di Indonesia. Trinity juga lah yang membuat travel bloger dan travel writer jadi banyak banget.
Dengan banyaknya bacaan tentang traveling, saya baru menyadari bahwa tema traveling bukanlah favorit saya untuk membaca. Kecuali dia dikemas ke dalam kisah novel. Gak banyak buku dan blog traveling yang saya baca. Diantara sekian buku traveling, buat saya, tetap trinitylah jagonya. Saya suka sekali dengan gaya ngablaknya di buku dan twitternya. Beberapa orang ada yang tersinggung dan gak suka dengan gaya trinity, tapi buat saya, kondisi apa adanya itulah yang bikin saya seneng banget sama dia. Setelah baca buku trinity, saya bahkan sering nyeritain kisah-kisah di dalamnya ke suami saya seakan-akan saya denger langsung trinity cerita.
TNT 1 Year Round The World Trip ini merupakan buku yang saya tunggu-tunggu karena memuat cerita perjalanan Trinity selama lebih dari setahun. Dan seperti yang saya duga, kisah-kisahnya hillarious!! Mungkin karena proses editorial yang lebih ketat, saya kurang merasakan kengablakan trinity yang bisa bikin ngakak njengkang di buku ini. Tapi tetep dong buat saya bintang 5 *****. Namun, dibanding buku-buku sebelumnya, TNT RTW lebih informatif. Ibarat orang, tulisan-tulisan trinity semakin mature.
Saya tertarik dengan kata sambutan Trinity dimana Trinity mengucapkan terima kasih kepada kompetitornya, karena keberadaan kompetitornyalah trinity berusaha tidak stay di zona nyaman dan membuat sesuatu yang kreatif dan berbeda dengan karyanya, salah satunya dengan perjalanan 1 tahunnya dengan paspor hijau ini. Ayo ayo dibeli bukunya, biar TNT jalan-jalan lagi, biar terbit buku-buku bertema seperti TNT goes to Africa atau TNT in middle east, hihihi...
Maafkan komen saya yang begitu dangkal di buku RTW 1. Karna memang saya blom baca the naked traveller 1-4, karna saya juga blom begitu dalam membaca kisah perjalanan mbak trinity. She's an amazing woman! That's all i can think after i finish the book.
Soal bagaimana terkadang saya merasa mbak tnt terlalu mendiskreditkan negara sendiri? Well, terkadang saya masih merasa begitu di beberapa halaman, tapi di akhir buku pikiran saya menjadi jelas dan terang-benderang. Bahwa yang dimaksudkan mbak tnt adalah agar indonesia menjadi jauh lebih baik dalam segala hal. Saya setuju tuh sama prinsip "saya cinta indonesia, tapi tidak cinta paspornya" hehee.. Kalo indonesia bisa menjadikan paspor garuda itu menjadi paspor sakti yg bebas visa ke segala negara, saya akan jadi salah satu orang yang mengantri paling depan utk urusan travelling mesti musti nabung makan garem tiap hari supaya bisa liburan (lebay..) Btw, saya suka gregetaan sendiri kalo mbak tnt mendeskripsikan cowok-cowok latino ganteng yang dia temui di sepanjang perjalanan. Cowok-cowok brazil satu negara ganteng semua? Ya Allah, kirim saya ke brazil.. Amin.. Hehee.. Omong-omong mbak tnt, cowok dengan pantat menggemaskan itu kayak apa? Jadi penasaran.. Sayang tidak ada bukti visual di buku mbak :) :) :)
Yang doyan traveller, ini buku wajib baca. Salah satu bentuk motivasi juga buat kita, bahwa utk keliling dunia itu gak perlu mahal dan gak perlu mewah. Yuk, yuk, jalan-jalan yuuuk... :) :)
It still amazed me how this woman travelled through South America, blatantly told her experience in a book, and published it. Sometimes I was scared for her as she truly mentioned every single thing, even the ones I wasn't sure were okay to be put in a book. Nonetheless, she successfully made me even more envious that she's got to achieve so much up to this day. She's inspired me a lot, seeing myself as an aspiring traveller and all (saving up money is still in process). You don't find a lot of women like her, travelling the world with only a best girl friend and a backpack.
I love the chapter where she described her friendship with her best friend. It's not common to have someone who has the same dream and is willing to go through any hardship in "unknown" countries.
I love how she completely broke down after they finished the trip and took different flights. I would, too.
Like I said in my review for Part 1, I'd be willing to pay more if this book had more photos in it!
Tamat sudah pengembaraan "saya" bersama Trinity mengelilingi dunia.
Pengalaman yang menakjubkan. TNT benar-benar bercerita hal mengembara. Apa yang dilihat, dan apa yang boleh dikaitkan dengan diri. Kembara beliau bukan setakat melihat-lihat, tapi memandu fikiran mentafsir apa yang ditempuhi. Cabaran fizikal, mental dan emosi. Dan bagaimana setiap halangan dijadikan peluang, bukan dipandang sebagai masalah.
TNT juga jelas, banyak "mempertikaikan" hal-hal seperti "jika negara ini boleh, kenapa Indonesia tidak?". Hal-hal bersangkutan pelancongan, dan juga hal-hal pentadbiran dan penguatkuasa. Saya memahami apa yang diluahkan TNT, kerana apabila saya membaca bahagian sebegitu, perkataan "Indonesia" itu bagai tanpa disuruh bertukar menjadi "Malaysia".
Bunyinya begitu "serumpun".
:)
Saya tidaklah begitu bercita-cita tinggi mahu mengelilingi dunia. Untuk melawat 10 negara juga masih belum tentu. Tetapi saya sentiasa mahu mengembara. Dan buku TNT ini memudahkan caranya. Terima kasih.
Mengikuti perjalanan Trinity dan Yasmin selama satu tahun mengelilingi dunia di buku 5 dan 6 adalah sebuah pengalaman luar biasa. Saya bahkan seolah ikut merasakan perjalanan keduanya menjelajahi pelosok Amerika Latin dan Karibia, dua kawasan yang jarang dibahas penulis Indonesia kecuali dalam terjemahan novel-novel sastra. Dibanding seluruh seri naked traveler, dua buku ini menurut saya yang paling favorit: tebal, halaman bewarna, dan tujuan wisatanya banyak yg baru. Trinity pun menulis dengan gaya bersambung bak novel sehingga terasa sekali membaca buku ini sebagai buku perjalanan yang tidak hanya memaparkan, namun juga mengajak pembaca merasakan. Ketika Trinity dan Yasmin mengakhiri trip keliling dunia, serasa ada rasa kepuasan namun juga ketidak relaan karena perjalanan panjang itu akhirnya berakhir. Dari buku dan Travelling kita jadi belajar bahwa kita hidup di Bumi yang sama dengan orang-orang yang begitu beraneka ragam, dan itu tidak masalah.
Habis baca The Naked Traveler: 1 Year Round The World Trip Part 1, harus lanjut ke bu #2 dong. Kalau di 2 buku ini yang dibahas banyakan negara di Amerika Selatan. Jadi nggak beneran keliling dunia ya... meskipun demikian perjalanan Trinity dan Yasmin sebagai backpacker sudah memiliki banyak cerita menarik.
Ada banyak fun fact dan cerita di setiap negara yang dikunjungi Trinity dan Yasmin. Misalnya di Kuba yang tidak bisa main facebook karena internetnya kacrut, tapi akses pendidikannya gratis, atau belajar menari Salsa di Kolombia. Masih ada beberapa tips dari perjalanan Trinity. Kalau dibaca sekarang ini di masa pandemi bisa menjadi obat kangen untuk jalan-jalan sih ya...
This book deserves my mega shout out! Woohooo! Mimpi saya banget inii keliling dunia sama sahabat. Sayangnya ga kesampean buat saya (curcol). Keren banget ya Trinity sama Yasmin yang sampe jual rumah (Yasmin kah? atau Trinitynya ya?) buat keliling dunia ini. Keren bangeeet! Suka banget bagian mereka travelling ke Amerika Selatan, saya jarang-jarang denger cerita soal travelling ke Amerika Selatan yang ternyata keren juga ya. Buku ini juga banyak warnanya, ga monoton, dan informatif banget. Mungkin nanti kalo jalan2 keluar negeri saya baca2 ini lagi kali ya hehe.
Salut banget sama Ci Trinity ! Hebat berani keluar untuk "hajar" travel selama setahun. Setelah nyangkut lama setahun juga ini buku di lemari, akhirnya dibaca juga dan kelar dalam sehari :) Edisi kedua buku ini masih sama menceritakan pertualangan Ci Trinity dan Mbak Yasmin dalam pertualangannya keliling dunia dalam setahun. Tulisannya seru dan fun untuk dibaca. Yang punya semangat travel jadi kepingin juga travel ke antah berantah. Recommended !
Jadi kepikiran buat #rtw deh. Makasih, Kak Trinity buat inspirasinya! Setahun itu cepat ya, secepat gue baca dua buku ini dalam waktu kurang dari 2 minggu. :)
Masih lanjutan dari yang pertama, dan di buku kedua aku makin semangat karena ceritanya adalah Amerika Selatan. Sangat menarik karena Kak Trinity selalu bercerita secara gamblang dan gokil.
bener-bener bikin ngiler pengen nyoba traveling sendiri 🤤 setelah sekian banyak hack buat hemat budget kayaknya saya mulai tumbuh keberanian untuk mencoba 😁
Sekitar sebulan setelah menamatkan bagian pertama, saya usai melahap bagian kedua dari seri #TNTRTW ini. Sebagaimana saya tuliskan di reviu sebelumnya, buku yang memuat sisa perjalanan dari Amerika Selatan menuju Amerika Serikat, Malaysia, dan pulang ke Indonesia ini tetap membawa gaya unik Trinity yang blak-blakan tentang apapun yang dilihat, dirasakan, dan dialaminya sepanjang perjalanan keliling dunia.
Bagian kedua ini secara khusus juga memuat beberapa printilan cerita serta tips yang memang baik untuk ditempatkan sendiri, seperti pengalaman makan, beribadah, serta rekomendasi objek wisata maupun kiat-kiat traveling. Satu tulisan yang membekas bagi saya adalah cerita tentang Yasmin dan bagaimana Trinity berdinamika bersama "konco kentel"nya ini selama satu tahun berkeliling dunia, hingga pada akhirnya mereka harus mengakhiri perjalanan bersama ini.
Sangat banyak cerita yang dapat dipetik dari #TNTRTW. Selanjutnya saya ingin menyelesaikan #TNT7 dan #TNT8 serta beberapa buku Trinity lain yang belum saya koleksi. On to the next journeys!
Mba TNT sukses bikin ngiri! Mau keliling dunia juga aaa~ Btw, TNTrtw part 1 & 2 ga terlalu kocak. Entah saya merasa buku part 2 ini baru terasa mba TNTnya banget di sepertiga (seperempat?) bagian terakhir. Buku TNT #3 teteup menurut saya paling jawara. #TNTrtw dua-duanya teteup bikin mupeng travelling, kita jadi mengetahui banyak hal di belahan terutama benua Amerika yang jarang disinggahi orang Inodesi :-))) Bagian Amrik Selatan bagian yang saya tidak banyak tahu, ternyata..... huaaa. Pengen ke tempat yang disebut "The End of The World", ke danau luas itu (apa ya namanya, nanti saya buka buku lagi), ke bagian yang ada saljunya, ke padang gurun/rumput sewaku mba TNT bisa lihat angkasa penuh bintang di malam hari, lalu ke United States di mana kehidupan sebagai buruh kasar saja terjamin. Huhu, mba TNT, tanggung jawab :"/ #KerjaKerjaKerja #NabungNabungNabung
Mba TNT juga banyak kasi tips di TNTrtw gimana cara bisa hemat biaya buat travelling. Mulai dari share kamar dengan mba Yasmin, jadi freelancer contributor, masak sendiri, giat cari hostel murah, dll dkk.
Yang paling sangat terpenting, akhirnya ada juga 1-2 bahasan yang selama ini saya tunggu-tunggu banget saat baca TNT mana pun yang ternyata akhirnya muncul juga di TNTrtw part 2, tentang Yasmin! Saya merasa saya jadi ngefans mba Yasmin juga ♥ Pengen punya temen travelling seperti mba Yasmin deh ^^ Memang bener kata sebuah pepatah, bukan jalan ke mana, tapi jalan dengan siapa. Ke tempat biasa aja udah senang, apalagi tempat yang warbiyasak! x-D
Akhirnyaa, selesai juga baca dua part bukunya mbak Trinity jalan-jalan :D Seru, keren, dan jujur banget ngomongnya, sampe gebetan aja diomongin. Saya sih lebih suka baca buku yang kedua ini entah kenapa, ya ngga beda jauh sih sama yang pertama tapi ngga tau kenapa lebih nyangkut aja di otak. Bagian yang paling saya suka itu bagian 'where are you from'-nya. Iya, jadi ikut mikir, Indonesia itu segitu nggak terkenalnya apa ya di dunia sampe banyak yang nggak tau. Padahal pas jaman SD itu dicekoki sejarah kalau bangsa2 lain pada berlomba menjajah Indonesia karena rempah-rempahnya, jadi saya kan mikirnya Indonesia terkenal (yakali polos banget, hihi).
Terus bagian KBRI nya mewah. Kalau dipikir-pikir buat apa juga ya, daripada dihabisin di luar negeri sana mendingan disalurin di Indonesia sendiri aja, masih banyak yang butuh kok. Walaupun mungkin anggaran ngga seberapa sama anggaran seluruh kementrian tetep aja kan boros itu sebaiknya dihindari, kasian pegawai pajaknya beban penerimaan tiap tahun nambah terus. Skip bagian curhatnya.
Aih, buku ini sukses bikin saya pengen ikutan keliling dunia. Di bagian akhir kan dijelaskan kalau biaya hidup di Jakarta malah lebih mahal daripada pas di Amerika Selatan, nah saya di Balikpapan yang lebih mahal juga dibanding Jakarta. Hmm, bisa nih kayaknya nabung buat jalan-jalan kesana nanti kalau tiba-tiba dapet cuti panjang. Jempol empat jari buat nyalinya Mbak Trinity keliling dunia :)
Tanpa berpikir dua kali,aku langsung menyambar buku ini ketika pertama kali melihatnya terpajang manis di rak toko buku!
Setelah menamatkan 'The Naked Traveler:1 Year Round The World Trip Part 1',tidak sabar rasanya untuk melanjutkan membaca cerita perjalanan Trinity ke berbagai negara anti-mainstream di dunia.Mulai dari perjalanannya ke Kolombia,Kuba,Jamaika, Meksiko bahkan hingga Guatemala, Trinity lagi-lagi mengupas berbagai cerita unik,lucu, haru, bahkan cerita menyebalkan di buku 'The Naked Traveler:1 Year Round The World Trip Part 2'.Sebagai seseorang yang memang mendambakan jalan-jalan ke berbagai negara,buku ini sangat menginspirasi dan menghibur.
Kalau kita memang punya niat dan berani langsung berbuat, apa yang kita dambakan pun bisa menjadi kenyataan!
Beberapa bagian dari buku ini pun dapat kita jadikan bahan untuk introspeksi diri.Baik bahan introspeksi sebagai individu,sebagai warga negara,atau bahkan sebagai pengawai di pemerintahan maupun secara khusus di bidang pariwisata.Tidak bisa kita pungkiri, dengan mengunjungi berbagai tempat tentu saja sudut pandang dan pola pikir kita akan makin luas.
Kebiasaan-kebiasaan baik dari negara tetangga tentu saja tidak ada salahnya diaplikasikan di negara sendiri bukan? Ini semata-mata agar negara kita menjadi lebih baik lagi ^^
Buku ini sepertinya adalah bacaan wajib bagi teman-teman yang menyukai dunia traveling!
Aku tidak sabar untuk membaca karya-karya Trinity yang lain!
Memang paling cocok baca buku travel pas lagi terjebak dalam blackout se-Jabar dan sekitarnya dua hari yang lalu. Di satu sisi bisa berkhayal nggak sedang terperangkap mati lampu, di sisi lain ngiler sengiler-ngilernya!
Melanjutkan buku sebelumnya, buku ini mencakup perjalanan Mbak Trinity dan Mbak Yasmin, teman seperjalanannya ke Amerika Tengah, Amerika Serikat (LA), dan kembali ke tanah air via Malaysia.
Dibanding pada pembacaan sebelumnya, saya lebih well-traveled lah ya, dan sudah pernah beberapa kali backpacking juga (masih terbatas Asia sih, hehe). Jadi sadar ternyata gaya backpacking saya dan Mbak Trinity itu memang beda, namun nggak mengurangi keasyikan membaca. Tetap senang rasanya membaca pengalaman orang lain dalam melakukan kegiatan yang kemungkinan besar banget nggak bakal saya lakukan. Misalnya, cave diving di Amerika Tengah. Lah boro-boro menyelam, di gua gelap gulita pula, saya snorkeling di Kepulauan Seribu aja panik...dan kebawa arus :"""""( traumatis lah.
Dari segi tempat-tempat yang diceritakan, buku 1 lebih sesuai selera saya (baca : yang ini kebanyakan berenangnya, hehe!) . Tapi kalau dari segi 'unek-unek', buku 2 ini lebih asyik! Lebih banyak refleksi Mbak Trinity yang jadi ciri khasnya, dibandingkan penulis blog travel lainnya yang lebih fokus akan kronologis detail perjalanan tanpa renungan-renungan. Secara keseluruhan, saya sih suka buku ini!
Di buku ini, Trinity ‘menyelesaikan’ perjalanannya selama satu tahun sebagai traveler. Bagaimana dia menggambarkan cowok-cowok Latin emang bikin mupeng sihh. Hahaha. Ditambah, tempat-tempat anti mainstream yang dia kunjungi benar-benar semakin membukakan mata kita tentang keindahan dunia, dan betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan. Intinya, suka banget sama ‘curhatan’ Trinity tentang Indonesia di luar negeri. Tentang bagaimana respon orang luar negeri, khususnya penduduk lokal Amerika Latin ketika mendengar nama Indonesia. Tentang bagaimana mewahya KBRI di negara-negara Amerika Selatan namun orang Indonesia masih kerepotan kalau mengurus visa jika ingin berkunjung ke sana (harusnya sih udah bebas visa). Tentang barang-barang Indonesia yang dijual di sana, namun tetap tidak terkenal. Tentang orang-orang Indonesia yang masih jarang banget travelling ke luar negeri sehingga banyak turis asing yang baru pertama kali ketemu sama orang Indonesia ya, sama Trinity dan Yasmin itu. It hurts for some of you, but it is real. It’s not about visiting a new places, but it’s also about how Indonesia in peoples eyes, especially people that come far away from here.
Dari buku ini saya tahu lebih banyak kehidupan di belahan dunia yang lain, tentang Kuba yang jaringan internetnya tidak ada (jadi mari bersyukur dengan jaringan yang kita punya :"D), Guatemala yang ramai sama marching band, hingga keadaan Kolombia (dan masih banyak lagi sebenarnya). Saya juga dibuat saluuut banget sama Mbak Yasmin, partner Mbak Trinity dalam #TNTrtw ini. Yah, sebenarnya saya salut sama keduanya, sih, tapi sama Mbak Yasmin lebih dikit karena beliau muslim (dan menurut Mbak Trinity, Mbak Yasmin ibadahnya ga bolong baik sholat maupun puasa selama setahun itu). Wow, gileee!
Membaca seri #TNTrtw ini selain bikin saya iri sama negara seperti Brasil atau Peru, juga bikin saya pengen take a break dan bertualang! Sebenarya sudah pernah terpikirkan sebelum baca buku ini, tapi hasratnya makin menggebu. Meski demikan, untuk saat ini, mungkin sebaiknya saya tahan dulu. Banyak yang harus disiapkan dulu. :"D
Ah, ya, seri ini sama sekali tidak membuat saya bosan, berbeda dengan seri ke-4 yang entah kenapa bikin saya rada bosan. Mungkin karena di seri ini Mbak Trinity jalan-jalan ke tempat yang saya cuma tau namanya dari peta, ya? Wkwk.
Benar-benar puas dengan 1 Year RTW Trip, baik part 1 maupun part 2. Saya memang sudah lama menyenangi gaya menulis Trinity. Dia memang sering berguyon, tapi tulisannya tetap insightful. Saya juga merasa antara deskripsi tempat dengan cerita tentang manusia juga seimbang, sehingga tidak membosankan (saya kurang suka kalau buku terlalu deskriptif tanpa banyak unsur dialog atau sisi kehidupan manusianya). Senangnya lagi, buku ini full color! Jadi semakin terbayang tempat-tempat indah yang Trinity kunjungi. Bagian favorit saya di part 2 ini adalah bab "Yasmin and I". Terharu banget bacanya! Saya yakin, bagi setiap pejalan, teman jalan yang pas itu sangat sulit didapat. Karenanya, begitu ada, pasti sangat bersyukur bisa menemukannya. Mbak Yasmin yang cuma muncul sekilas di buku-buku sebelumnya pun kini mendapat 2 bab khusus. Sebagai pembaca juga saya senang karena rasanya buku ini jadi lebih personal.