Kalau umumnya orang Indonesia jalan-jalan maksimum dua minggu, Trinity jalan-jalan selama satu tahun penuh! Ia telah mencapai lebih dari 144.577 km dan berkunjung ke 22 negara di dunia.
Apa saja sih yang harus dipersiapkan kalau mau jalan-jalan selama lebih dari 365 hari? Wuihh, pasti nggak kebayang deh. Mulai dari hal dasar seperti baju, bahan makanan, akomodasi, mengurus transportasi, sampai urus visa ke sana kemari.
Berbekal perencanaan matang dan tekad “gimana di sana lah ntar”, Trinity mantap melangkahkan kakinya dan bertualang mengitari bumi.
Di buku The Naked Traveler: 1 Year Round the World Trip Part 1 ini, kita akan diajak jalan-jalan keliling Eropa, Brasil, Cile, Peru, dan Ekuador. Mulai dari mengunjungi negara baru bernama Republik Uzupis, menangis di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, menginap di penjara tua di Ljulbljana, mendaki kota Inca yang hilang di Machu Picchu, memancing ikan piranha di Sungai Amazon, hingga berenang bersama ratusan singa laut di Galapagos!
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.
Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.
Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.
Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.
Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.
She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.
Pengalaman Trinity semakin seru. Kali ini, keliling dunia!
Bahagian pertama buku ini banyak berkisah pengalaman di bumi Amerika Selatan. Brazil, Chile, Peru dan Ecuador. Kalau di Brazil banyak bermain pantai. Di Chile dan Peru, banyak tempat yang alami dan tinggalan sejarah. Di Ecuador, mengembara di kepulauan Galapagos. Seru banget!
Trinity juga banyak berkongsi tips dan rekomendasi. Hal-hal memilih hostel dan cara berjimat. Pengalaman dengan rakan sebilik yang pelik-pelik juga sebahagian daripada pengembaraan.
Kembara bukan hanya pergi ke satu tempat dari satu tempat yang lain. Kembara sangat luas ertinya. Membaiki nilai hidup.
Dan untuk kembara, membaca buku Trinity ini juga boleh dikira sebagai langkah pertama.
Khilaf banget baca ini pas lagi nggak punya uang dan waktu luang untuk travelling. Ngiler abis! Biarlah, saya tetap bisa mengalami perjalanan "keliling dunia" vicariously lewat buku ini.
Kenapa "keliling dunia"nya pake tanda kutip? Karena pengertian keliling dunianya mungkin berbeda sama yang dibayangkan beberapa orang (i.e. mengunjungi semua negara di dunia). Namun kalau ditarik garis, memang perjalanan ini mengelilingi dunia; berangkat ke barat dan tiba dari timur Indonesia. Total negara yang dikunjungi? "Hanya" 22 negara saja! Kebanyakan di Amerika Selatan karena memang wilayah itu jarang "terjamah" traveler Indonesia.
Chapter kesukaan saya mungkin adalah "Republik Užupis" di Lithuania (sebelum ke Amerika Selatan #TNTRTWtrip singgah di Eropa Timur). "Republik" seluas 600 meter persegi ini diciptakan sama seorang seniman gokil dan kemerdekaannya setiap April Mop. Isinya lebih mirip desa nyeni dan agak nyeleneh. Bayangin aja, di sebuah dinding ditempel "UUD" Užupis yang isinya macam "Everyone has the right to hot water, heating in the winter, and tiled roof" dan "Everyone has the right to love and take care of the cat." Ih, kan jadi pengen pindah ke sana, hehe
Salut sama Mbak TNT (dan Mbak Yasmin, teman seperjalanannya yang sampe jual rumah biar bisa ikutan) yang punya niat dan keberanian besar banget untuk melakukan perjalanan ini! Saya, sebagai salah satu orang Indonesia jarang traveling dan kalaupun traveling pake tur karena nggak mau susah yang banyak disinggung di buku ini, jadi merasa tertohok. Traveling itu bukan cuma buat relaksasi dan "kabur" dari rutinitas, melainkan juga buat melihat kehidupan dari sudut pandang lain. Terus, dibanding uang dan segala macam alasan yang menghalangi traveling, masalah utamanya adalah niat yang nggak cukup kuat!
Wowww.... Trinity emang gilaaaaa....menghabiskan waktu 1 thn utk travelling. Luar biasa !!!
Well, untuk cerita perjalanannya sudahlah tak perlu saya bahas disini, udah otomatis ceritanya cetar membahanaaa !!!
Beberapa masukan tentang travelling emg bener bingitss. 1. Travelling slagi msh single. Emang harus bgitu, bebas dan qta dapat mengatur keuangan scara detail. Saya ngalamin bgt thn lalu kliling Asia Tenggara dgn suami, dan bocah2 (mana anak ke2 msh berumur 6 bln) saya mencoba utk tdk menggunakan jasa tour agent dan puas qta dgn pilihan itu tapiiii.... sisi lainnya anak saya yg pertama mulai deh... "ma bli mainannnn..." hah....??? Ok itu cuma salah satu pengeluaran yg sbnrnya gak penting2 amat, tapi namanya jln2 gak enak dong klo hrs ribut urusan sepele.... :( #sigh#
2. Kadang saya juga suka berpikir kyak Trinity, klo gw jd anggota dewan apakah gw akan seperti ceritanya Trinity ituuu? ditengah rapat malah melipir utk jln2??
3. Masalah lain adalah CUTI. WHeeeeewww.... cuti ini bikin kesel !! Udh ngerancang acara jln2 jauh2 hari, pasti aja ada mentoknya di jumlah cuti... tau ahhh males ngebahasnya !!
OOO...iya satu masukan sbnrnya utk buku ini, dgn tampilan gambar yg berwarna buku ini jd lain drpd yg lain. Tp sayangnya sptnya Trinity lupa memasukkan foto cowok2 kece yg ada diceritanya....:)ato emg sengaja biar pembaca penasarann...?? hmm...
Sooo... I always love Trinity's stories on her adventures and this one is especially interesting (part 1 from the 2 books) since it told the stories of her round the world (RTW) trip. Some of the Easter European countries became the focus of Trinity's stories here, as well as several South America countries. They are interesting stories since the places are not very mainstream. Lots of unique facts and crazy experience (although I don't really like it when Trinity said she did make a fake student card to have discounts everywhere- this should be off the record in my opinion) - and many beautiful places. The thing that I don't really like is the description Trinity made in some of the stories - sometimes they are too long and unclear, making it hard for me to imagine it (thankfully there are more photos in this book compare to the previous books). Another thing is sometimes the stories end too abruptly- it's as if Trinity has written them in a haste. I'm continuing with the second book now :)
Sehabis beli buku ini saya nggak langsung baca kayak buku yang dulu-dulu karena saya pikir, apa lagi yang baru dari tulisan Trinity?
Tapi ternyata masih seru dan masih asyik mengikuti kisah perjalanannya, masih ada yang baru (yaiyalah, kan tempat yang didatangi juga beda). Terutama karena destinasi di buku ini aneh-aneh. Walaupun sekarang lebih 'rapi' (sudah sejak beberapa buku terakhir sih), tapi ciri khas Trinity yang blak-blakan tetap terasa.
Dan gara-gara baca ini, saya jadi menaruh Cile, Peru, dan Galapagos (Ekuador) di daftar teratas wishlist saya, apalagi ketiga negara itu bebas visa bagi WNI. Lewatin aja deh Eropa hahaha *nggaya*
Sudah menggemari Trinity dan serial 'The Naked Traveler' sejak SD-SMP. Memasuki bangku SMA, saya membeli buku ini saat baru terbit, tetapi baru sempat dibaca sampai habis di pertengahan 2022 ini ketika sudah bekerja. Habis dalam waktu 2-3 hari.
Hingga kini (tiga tahun setelah TNT terakhir/TNT8 terbit), banyak kisah dari berbagai edisi TNT yang masih membekas di ingatan saya. Uniknya, sekarang ketika mulai baca-baca lagi pun ada saja pencerahan baru yang didapatkan. Barangkali juga karena sudah dapat lebih banyak "bekal" pengetahuan tentang dunia di luar sana, terutama setelah melewati bangku kuliah sebagai mahasiswa HI. Selain itu, setelah melewati masa pandemi di mana traveling jadi sangat amat sulit, membaca serial TNT serasa kembali membuka mimpi saya untuk dapat melihat dunia. Atau lebih tepatnya bagi saya; lihat, baca, foto, tulis. Kurang lebih seperti buku ini yang disajikan secara full color dengan foto-foto dan ilustrasi yang ciamik.
Seperti tulisan Trinity lainnya, buku ini ditulis dengan ringan, jujur (not necessarily "ndakik-ndakik" dan "menjual") dan gaya bahasanya santai, berbeda dengan gaya tulisan perjalanan pada umumnya. Pengalaman-pengalaman yang diceritakan kembali oleh Trinity mudah untuk dinikmati dan dikontekstualisasikan dengan keseharian kita sebagai orang Indonesia, dengan berbagai refleksi yang tidak lupa disampaikan sang penulis dalam tulisan-tulisannya. Tidak lupa diselipkan berbagai tips untuk jalan-jalan, terutama secara backpacking ala kadarnya.
Mengenai substansi, saya rasa lebih elok untuk membaca dan menguliknya sendiri, namun intinya buku ini mencakup paruh pertama #TNTrtw dari Indonesia ke Eropa, lalu berlanjut ke Amerika Selatan. Pengalaman keliling dunia Trinity #TNTrtw tahun 2012-13 sendiri dikemas dalam dua buah buku, di mana buku ini adalah bagian pertamanya. Bagian kedua yang bersampul hijau dan membahas paruh kedua #TNTrtw juga sudah saya beli, namun baru akan saya mulai baca selanjutnya. Sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas, saya tidak sabar untuk memupuk semangat jalan-jalan saya dengan juga melahap buku keduanya. Cheers!
Cerita paling seru adalah saat Trinity menjelajahi Amerika Selatan. Aku juga suka di bagian ketika Trinity membandingkan negara-negara tersebut dengan Indonesia untuk menyisipkan pesan kritik sosial. Hanya saja, kecenderungan orang Indonesia yang nulis catatan perjalanan luar negeri itu kok sering meletakkan Indonesia dia posisi yang inferior dibanding negara lain, ya? Seburuk itukah negara kita?
Trinity di sini menggambarkan juga perjalanannya menyusuri dataran tinggi di Pegunungan Andes sampai waktu di kota yang udah bukan di daerah pegunungan gitu dia kena mountain/altitude sickness. Rasa mual dan pusing hebat akibat oksigen yang tipis dan tekanan udara di tempat yang tingginya lebih dari 2400 meter di atas permukaan laut. Untuk bisa kuat mendaki gunung lalu naik bus di kota-kota dataran tinggi itu, Trinity harus makan daun coca agar tak mual. Daun coca itu salah satu bahan dasar untuk membuat kokain. Waduh. Kalau hanya untuk dikunyah dikit sebagai obat mual, apa tidak haram?
Lalu sebagai muslim, aku enggak nyaman baca soal cerita-cerita menginap di hostel yang satu kamarnya bisa campur antara cewek dan cowok. Mana beberapa pengunjung digambarkan begitu binatang dengan tak tahu malunya menyelundupkan pasangan dan berhubungan seks ketika teman-teman sekamarnya tertidur. Jadi, penasaran dengan cerita para muslim taat yang jadi backpaker. Gimana cara mereka menyiasati tempat menginap murah kalau nggak mau nginap di hostel yang kamarnya campur cewek-cowok ini ya? Ada sih beberapa hostel yang hanya menerima tamu cewek. Tapi membaca Trinity sampai terpaksa menginap di hostel-hostel campuran itu berarti keberadaan hostel khusus cewek ini terbatas, tak selalu ada. Hampir saja buku ini kupinjamkan ke murid-muridku yang anak MTS pondok. Untung kubaca dulu, jadi tahu kalau ada bagian yang rada vulgar.
Pengen travelling tapi gimana mulainya yaa? Salah satu cara untuk memulainya, bisa baca buku travelling lohh
Kok bisa baca buku aja buat mulai travelling? Karena dengan baca buku, kita bisa lebih mengenal tempat yang ingin kita kunjungi berdasarkan pengalaman penulis. Jadi mendapat info tambahan realnya itu seperti apa sih tinggal di Negara A, di Negara B, dll.
Nihh aku rekomendasikan buku ini buat kamu baca!
Buku ini berisikan pengalaman Mbak Trinity jalan-jalan ke 22 negara di dunia selama satu tahun penuh. Perjalanannya ia bagikan mulai dari persiapan, perjalanan dengan berbagai kendaraan, drama urus visa, budaya unik setiap negara, dan tips untuk travelling. Oke banget ya!
Buku ini dilengkapi dokumentasi penulis selama travelling dan isi bukunya berwarna jadi ga bosen bacanya. Penulisannya juga ga baku, mudah dipahami, kaya lagi ngobrol aja.
Bagian favorite sih pas di Peru. Aku tau negara itu ada, Cuma kurang explore. Setelah baca, banyak info yang bikin aku kagum sama negara ini. Liat foto penulis aja cantik banget, apalagi aslinya yaa. Salah satu buku pelepas penat sih bagiku.
Selain itu, fikiranku terbuka buat segera travelling, mumpung masih muda.. Oiya drama di hostel juga menarik loh! Kita bisa lebih tau gimana sih tinggal di negara lain dengan hemat. Yaa, walau banyak dramanya, tapi hal itu jadi seru dengan tulisan Mbak Trinity yang menarik.
Akhirnya setelah tertimbun lama, saya memutuskan membaca buku-buku Trinity.
The Naked Traveler Round The Wrold atau disingkat dengan hashtag #TNTrtw parti 1 adalah buku ke-5 dari Trinity. Sebagai kolektor buku-buku beliau, buku yang satu ini (dan pasangannya) wajib dimiliki.
Perjalanan Trinity pada buku #TNTrtw #1 ini fokus ke beberapa negara di Eropa dan Amerika Selatan. Dalam buku ini juga dituliskan alasan mengapa Trinity melakukan RTW dan juga beberapa persiapannya. List-nya lengkap sampai printilan-printilannya. Dan perjalanan Trinity diawali dengan..... mencret di udara. Hahaha...kebayang banget ribet dan mulasnya.
Selalu ada cerita unik dari tiap negara yang dikunjungi Trinity. Itulah keistimewaan dari buku-buku Trinity. Kemampuannya bercerita sungguh membuat pembaca ikut merasakan kesenangannya sekaligus membuat jadi kepengen juga.
Saya telah membaca semua seri TNT dan seri ini menjadi seri favorit saya, saya paling menyukai seri ini sebab tema pada seri ini pertama kali khusus untuk menjelajahi Amerika Selatan. Saya terkesan dengan fakta mbak T dan temannya nekat travelling ke negara-negara di Amerika Selatan selama satu tahun penuh, bahkan seingat saya diceritakan bahwa temannya mbak T sampai resign dan menjual rumah demi perjalanan ini.
Setiap kali membaca seri TNT saya merasa seolah ada dalam perjalanan bersama mereka. Saya yang sampai saat ini hanya mampu mengeksporasi 7 provinsi di Indonesia merasa happy sekaligus iri (iri bukan dalam artian dengan dengki tapi iri dalam artian ingin ikut pergi :').
Mempelajari budaya, adat, hingga kebiasaan orang-orang yang tinggal di belahan bumi berbeda selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk saya baca.
Baru ini baca bukunya mbak @trinitytraveler dann suka bangett. Pengalamannya bener2 asik buat diikutin, unik2, kocak, dan aku jadi tau Amerika Selatan . Menambah wishlist beneran deh. Tiap baca satu bagian destinasi , aku bukain youtube dulu biar tau kek apa sii. Jadi pengen ke Patagonia dan galapagos . Aamiin. Indah bangett. Insya Allah bakal baca seri2 yang laen dari Trinity, karena seseru itu. 5/5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Baru baca buku ini...ketinggalan banget...tapi ini buku bagus banget, penggambaran tempat wisata seolah2 ikut travelling bareng penulis, funny dan ngompor-ngomporin buat traveling...semoga bisa mengoleksi semua buku mba trinity. Yang berkesan saat penulis menggambarkan betapa indahnya kawasan amerika latin, hostel di sana, orang2 yang penulis gambarkan (ini...best part menurutku sih), sampe2 aku googling tempat2 di dalam buku ini.
Buku ini merupakan seri pertama traveller dalam melakukan travelling selama 6-setahun lamanya. Menurut aku, nggak banyak hal yang dibahas disini dan malahan lebih banyak bercerita tentang hostel yang ditempati. Padahal traveller melakukan perjalanannya lumayan lama, tapi hal-hal yang ditulis kurang begitu menarik dan entah gatau pointnya dimana.
"Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." - Mark Twain
Buku TNT pertama yang saya baca. Petualangan yang seru dan nyata. Banyak cerita-cerita yang kocak pula.
Dari awal baca sampai akhir bener-bener berhasil membuat pegawai kantoran macam kita ni untuk lebih prioritasin TRAVELLING bcs u only live once. Bagian pindah-pindah negara Amerika Latin paling menarik, menarik bgt, menarik semua! Tapi timelinenya terasa buru-buru, kalo dibuat lebih detail lg kayanya bakal lbh enjoy dibaca.
Cerita tentang traveling yang dari awal dibaca sampe akhir bikin ketawa. Nggak bisa berhenti baca saking asyiknya. Kita kayak ikut bareng menyaksikan Kak Trinity dengan segala kejadian konyolnya dan tentunya banyak juga pelajadan yang bisa diambil.
Membaca buku ini terasa keliling dunia lewat imajinasi. Kata-kata mbak Trinity yang gampang dipahami serta keunikan-keunikan dari negara-negara yang dikunjungi menjadikan buku ini seru untuk dibaca. Saya jadi ingin menjadi traveler/backpacker seperti mbak Trinity, semoga tercapai.
Seru parahh, bikin gw jadi pengen traveling yaampun, tapi ngumpulin duit dlu kali yaaaa akakakkak. Anw, suatu hari nanti semoga gw bisa traveling jg sama sahabat sahabat gw. Ini jg salah satu buku yg bikin gw suka baca buku.
Trinity sukses bikin saya ngiler buat nyicipin Travelling ala backpacker. Ayo mari rajin nabung biar bisa ke Cile, Peru dan Ekuador... Machu Pichu.. I'd like to get there...