Sendiri dan kesepian itu memang nggak enak.
Itulah yang dirasakan Giovanni, bocah laki-laki yang sering dirundung teman-temannya. Di sekolah, ia hanya punya Campanella, sahabat dekatnya.
Suatu malam, mereka mendapatkan kesempatan ajaib untuk menaikki Kereta Bima Sakti dan pergi ke mana pun mereka mau. Sedari awal aku penasaran, apa sih hal-hal magis yang akan mereka temui. Namun setelah dibaca, kok lama-lama makin sediiih? 😥
Kuakui #kenjimiyazawa punya daya imajinasi yang luar biasa. Tapi jujur kemampuanku belum sampai sana ketika membaca beragam diksi indah dan beberan deskripsi yang sangat detail. Kalau lagi nggak konsen, rasanya akan sulit ngikutin isi kepalanya.
Namun ada 2 hal menarik yang ingin aku tekankan dari buku ini. Pertama, emosi yang dirasakan Giovanni adalah juga cerminan perasaan kita.
“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘱𝘪𝘢𝘯? 𝘊𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘦𝘭𝘭𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 …. 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩.”
Kedua, pertemuan Giovanni dan Campanella dengan orang-orang di kereta, yang ternyata memberi banyak pelajaran untuk pembaca.
Misalnya:
- Kita diingetin supaya jangan take something for granted dan jangan cari Tuhan pas kepepet doang.
- Perlukah kita mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain?
Entah kenapa, buku ini ngingetin aku sama The Little Prince, deh. Pembelajaran hidup nyatanya bisa hadir dari orang-orang sekitar yang seringkali pertemuannya nggak kita duga.
Terlepas dari itu, aku cukup terpukau dengan sampul dan ilustrasi ciamik yang menemani perjalanan #SemalamdiKeretaBimaSakti. Sempat bertanya-tanya apakah pernah dialihwahanakan ke dalam bentuk lain (yang mungkin lebih mudah kupahami) dan ternyata sudah ada manga, serial TV, serta anime-nya! 🤩
Buku ini terasa spesial buatku. Apalagi, pembaca dibebaskan untuk mengartikan makna perjalanan Kereta Bima Sakti ini di akhir cerita. Yang pasti, ini lebih dari soal kesendirian. Semoga anak-anak dan orang dewasa menyukainya.