Jump to ratings and reviews
Rate this book

Surat Kopi

Rate this book
Surat Kopi, merupakan sehimpun puisi yang ditulis penyair Joko Pinurbo rentang tahun 2011 hingga 2014.

53 pages, Paperback

First published August 1, 2014

48 people are currently reading
719 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

43 books363 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
166 (31%)
4 stars
203 (38%)
3 stars
128 (24%)
2 stars
13 (2%)
1 star
15 (2%)
Displaying 1 - 30 of 97 reviews
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
November 8, 2022
Kecantikan, 5

Kecantikan belajar rendah hati
ketika jerawat tumbuh
di pucuk hidungmu.


Sebenarnya, saya selalu menghindari untuk membeli buku puisi. Mahal. Dibaca sekali duduk selesai. Tapi, karena tadi ngakak-ngakak sendiri waktu skimming buku ini, ya udah langsung beli secara impulsif. Dan, tak menyesal saya. Lembut sekali, mudah dicerna, dan langsung terngiang.

Joko Pinurbo adalah penyair yang membuat saya jatuh hati pada puisi. Di sajaknya yang sederhana, tersimpan canda dan makna yang akur dan jujur. Rasa buku ini benar-benar seperti kopi, pahit-hangat menyentuh ke dalam jiwa. Diseruput pelan-pelan, mencecap tiap puisi yang hanya beberapa baris terasa nikmat. Diselingi nyengir sana-sini. Sayangnya, puisi-puisi di akhir terasa anti-klimaks, tidak senikmat rasa di awal hingga tengah. Tapi, secara umum, jelas saya menikmati kopi ini.

Asyik benar ibadah puisi kali ini, rating 4/5 dari saya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
January 20, 2019
23 - 2019

Buku ke 6 dari Joko Pinurbo yang saya baca bulan ini. Kali ini masih ada beberapa yang sudah ada di buku lainnya, tapi buku kali ini puisinya lebih pendek pendek. Walau begitu tetap khas Jokpin, tetap menarik dan banyak yang terasa dalam maknanya.

Dalam buku ini beberapa puisi tentang ibu, tentang kota, tentang negara, ada pula tentang Munir dan Wiji Thukul. Favorit saya di bagian negara.


Kepalaku disegel negara
Sejarah terkunci
Kuncinya terbuat dari lupa
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
July 4, 2020
Saya membaca buku dalam Bahasa Indonesia, tersedia di Gramedia Digital.

Buku puisi ini adalah buku pertama yang saya beri bintang 4 karena saya merasa relate dengan isinya. Kebanyakan buku ini berisi cerita tentang kehidupan pekerja.

Ada beberapa puisi yang saya suka, yaitu Kaya, THR, Penghasilan Tetap, Mudah, Lembur, dan Akhir Bulan. Semuanya kritik tentang kapitalisme.

Lembur
"Tuhan menyala
pada mata ngantuk
buruh-buruh
yang lembur kerja"

Sedih rasanya harus bekerja lebih dari 8 jam, penghidupan yang tidak bisa naik lebih dari itu, karena masalah kemiskinan struktural.

Saya setuju bahwa puisi bisa melatih rasa empati.
Profile Image for Mahfud Achyar.
Author 2 books8 followers
August 15, 2019
CITA-CITA SAYA

Saya tak pernah
bercita-cita menjadi penyair
Cita-cita saya ialah menjadi puisi
yang tak dikenal
siapa penulisnya. (Halaman 10).

Ini salah satu puisi favorit saya dalam buku "Surat Kopi" karya Joko Pinurbo (2019). Terima kasih sudah menemani perjalanan pulang kantor yang melelahkan namun terasa hangat saat membaca satu demi satu halaman yang ada pada buku ini.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
January 15, 2019
Negara, 3

Negara babak belur
dihajar preman.
Tuhan tersalib
di antara uang dan agama.
Profile Image for Sulhan Habibi.
806 reviews62 followers
March 6, 2020
Ini adalah karya Joko Pinurbo pertama yang aku baca. Sudah sering melihat bukunya, namun baru benar-benar tergerak baca yang Surat Kopi ini.

Puisi-nya pendek-pendek (banget) namun beberapa lucu, mengena, dan ya emang bagus.
Suka sih.
Profile Image for Al Ridwan.
56 reviews
Read
June 10, 2025
tebal yang tidak berat,
biasa yang penuh rasa.
terima kasih, pak jokpin.

/

thick without being hefty,
mundane filled with flavors.
thank you, mr. jokpin.
Profile Image for Rikini Hayu.
64 reviews
May 2, 2023
Buku pertama yang saya baca dari Joko Pinurbo.
Entah karena masih mahasiswa, atau karena faktor saya membacanya sekali duduk saat di Gramedia tadi, jadi sebagian karya tidak terasa relate (apa karna kurang menghayati saat membacanya?) Namun saya suka bagian karya yang Ibu. Apik.
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
April 18, 2019
Berada dalam satu generasi bersama Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna menjadikan beliau terlihat kuat dan mampu menciptakan gaya personal yang distingtif. Kumpulan puisi Surat Kopi, masih sama dengan karya-karya beliau lainnya yang cenderung humoris, lugas, dan playful. Berbeda dengan Celana (1999) yang menurut saya cenderung menyembunyikan realitas dengan mewujudkannya melalui obyek-obyek seperti burung, ranjang, boneka, dan kuburan, Surat Kopi memiliki wajah lain. Terasa cair dan mengalir.

Bagi saya, Joko Pinurbo masih mendekatkan pembacanya pada realitas. Beliau merekam apa yang kita rasakan secara tidak sadar. Sesederhana Ketika aku berdoa, Tuhan tak pernah menanyakan agamaku.

Satu hal yang saya maknai dari beliau, berpuisi tidak harus menggunakan diksi yang muluk-muluk dan mendayu-dayu.

Terima kasih atas puisinya yang hangat, Pak.
Profile Image for Surya Gemilang.
Author 11 books17 followers
January 18, 2016
Secara singkat, puisi-puisi di dalam Surat Kopi terbilang "kalem", "relatif singkat", dan "menggigit-tapi-tak-sakit".

Kekaleman puisi-puisinya telah tercermin melalui sampul buku--bagaimanapun tetaplah unik dan inovatif.

Perihal "relatif singkat", puisi terpanjang di buku ini adalah sepanjang satu (nyaris) setengah halaman--koreksi jika salah. Rata-rata panjangnya adalah setengah halaman.

Perihal "menggigit"--entah kenapa saya menambahkan "-tapi-tak-sakit"--artinya, puisi-puisi di dalam buku ini punya makna tersendiri, disampaikan dengan cara yang unik--khas Jokpin--dan ... begitulah.
Profile Image for Valerie Patkar.
Author 8 books420 followers
February 24, 2019
3.5.

Ini buku Pak Jokpin pertama yang saya baca, dan sejak sajak pertama sampai surat terakhir, saya seperti tidak membaca buku sajak. Melainkan, membaca sebuah penggalan cerita dengan plot-plot yang terbagi dalam saja-sajak itu sendiri.

Bagi saya banyak sekali pesan dan kritik yang dituangkan dalam buku ini, lalu dikemas dengan sangat apik menjadi sebuah sajak-sajak indah yang membuat pesan dan kritik itu menjadi mudah diterima. Mulai dari sajak tentang menulis, gaji dan pendapatan, hujan, ibu, kecantikan, kebahagiaan dan kesedihan, agama, hingga mereka yang hilang dan tidak pernah kembali, semuanya terbaca dan terdengar sangat cerdas dan lugas.
Profile Image for Launa.
239 reviews51 followers
October 27, 2025
ZAMAN ASU

Zaman semakin asu.
Hari ini aku baju hangatmu,
besok bisa saja aku
sudah jadi gombal
di rak sepatumu.

Kali ketiga membaca kumpulan puisi ini dan setiap kali membaca ulang selalu menemukan puisi yang sebelumnya gak difavoritkan dan ketenangan. Buku ini salah satu comfort book aku; semacam ruang kecil tempat aku melarikan diri dari realitas dan menyepi ataupun ketika diri lagi gak baik-baik aja, serta sekedar mencari penghiburan dan ketenangan. Bagiku, puisi-puisi Jokpin serupa penyelamat bagi jiwa-jiwa yang lelah menghadapi kehidupan dan mampu meredakan segala sesak yang menyerbu. ❤
Profile Image for Karl Agan.
Author 7 books86 followers
October 13, 2014
Jokpin memang salah seorang penyajak yang saya kagumi. Suara buku ini agak mendatar. Mungkin terlalu banyak hujan ketika memasuki pintu buku ini.
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
April 26, 2024
Dari sejak menamatkan buku kumpulan puisi terkait kopi yang sebelumnya, saya belum jadi membaca satu pun referensi tentang kopi, karena aslinya tidak meminati, kecuali untuk meminumnya--kopi apa saja, asal bikin melek sampai setengah hari setelah bangun.

Buku ini masih satu pemilik dengan yang buku-kumpulan-puisi-terkait-kopi-yang-sebelumnya itu, dengan tanda tangan dari spidol hitam "jokopinurbo 29/8/2014".

Sekali lagi, walau sudah membaca beberapa buku petunjuk membaca puisi, saya masih tetap lebih menyukai membaca buku puisi seperti membaca buku biasa, atau novel--dari kover ke kover, kata demi kata. Biar cepat. Sekadar mencari dan mencatat yang menarik atau mengena, mungkin boleh dianggap sebagai "membaca inspeksional" kalau menurut buku Cara Membaca Buku dan Memahaminya Mortimer J. Adler, hehe.

Setelah membaca semua puisi dalam buku ini, saya mendapati ada beberapa kata yang berulang dari puisi ke puisi, di antaranya: cahaya, hujan, jingkrung (enggak ada di KBBI, banyak di "Surat Sarung", halaman 47), kopi, kucing, malam, ngantuk, puisi, rindu, sedih, senja. Walaupun kata-kata tersebut cenderung menguarkan nuasan sendu-sendu romantik mengharu-biru, sebetulnya ada keragaman tema karena terselip pusi-puisi yang menyinggung isu kemanusiaan, kenegaraan, dsb.

Puisi yang pertama-tama mengesankan saya adalah "Semoga" (halaman 4).

Ayah saya seorang pengarang yang kaya.
Kepalanya tak pernah kehabisan kata.
Rekeningnya selalu penuh.
Penuh dengan semoga.
*
Dalam naungan hujan yang manis
ia mabuk menulis
ditemani dingin dan kopi
dan rezeki yang tak pasti.


Bait atau ungkapan lainnya yang berkesan:

Hujan mencuci waktu yang kotor
oleh kecemasan-kecemasanmu.
*
Kota yang sumpek dan hati yang sumuk
meleleh di bawah hujan.
("Derai", halaman 6)


Tak ada kesedihan yang sia-sia.
Waktu akan mengumpulkan pecahan-pecahannya
untuk menyusun kebahagiaanmu suatu ketika.
("Kesedihan", halaman 28)


Jangan terburu-buru bersedih.
Baca dulu dengan teliti hatimu.
Sedih yang salah sumber masalah.
("Jangan", halaman 29)


Puisi lain yang secara keseluruhan menarik buat saya yaitu "Kecantikan" (halaman 30).

Kian lama dirimu kian hilang,
kian terselip di antara barang-barang.
*
Kecantikanmu tersusun
dari barang-barang yang diberkati iklan.
*
Di balik hijabnya yang anggun
kecantikan sedang bergulat
melawan kenangan.


Saya menduga puisi ini entah bagaimana mengenai kecantikan yang ditopang materialisme. Namun pada bait terakhir itu terasa ada nuansa hijrah, bagaimana hijab menutup kenangan yang bisa jadi kelam yang mungkin masih ada sangkut-pautnya dengan materialisme. Mungkin, jangan-jangan, ini tentang pesohor ikon kecantikan yang kemudian berhijrah :v (*ngasal).

... sembunyi,
sembuh dari sunyi.
("Peta Buta", halaman 31)


Sejarah terkunci.
Kuncinya terbuat dari lupa.
("Negara", halaman 36)


Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala. ("Surat Cukur", halaman 39)


Puisi "Surat Cukur" itu terasa seperti sebuah cerita yang ngeri.

.... "Kurang atau lebih,
setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi."

Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.
("Surat Kopi", halaman 41)


Buat saya, merayakannya mesti dengan hamdalah dan sedekah, dan empat teguk (= 1 cangkir) saja cukup ^_^;

... malam-malam
bertaburkan ngeong kucing.
("Surat Pulang", halaman 45)


.... Belajar melamun
dan menulis hal-hal yang tak mudah.
("Surat Libur", halaman 46)


Buku kumpulan puisi ini cuma sampai 53 halaman. Kalau dibaca seperti biasa saja, habis dalam kurang dari 2 x 20 menit. Selanjutnya ada lima lembar kosong (paling-paling semacam corak yang sepertinya untuk dekorasi), lalu iklan buku-buku lain dari penerbit yang kebanyakan adalah buku puisi dan banyak pula nama besar.
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
September 16, 2022
Surat Kopi • Joko Pinurbo • Grasindo • 2021 • xii + 180 hlm.

IBU KOTA CINTA
Ibu kota cinta ialah ibu.
Hlm. 56

Ini adalah pengalaman pertamaku membaca buku karya Om Jokpin. Nama besar beliau serta kebutaanku akan sajak dan puisi selalu membuatku ragu untuk mulai membaca karyanya.

Terkejutlah aku ketika membaca buku ini. Puisi-puisi pada halaman awalnya teramat singkat: satu bait saja! Bahkan, ada beberapa judul puisi yang hanya terdiri satu baris, lo! Wow! Bagaimana bisa beliau hanya menuliskan satu kalimat puisi--yang nyatanya begitu dalam maknanya?

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, aku gagal memaknai beberapa puisi karyanya--karena keterbatasanku, tentunya. Beberapa puisi di buku ini hanya kubaca sepintas lalu tanpa mencari tahu arti di balik baliknya; beberapa puisi lainnya kunikmati bunyinya tanpa paham makna kata demi katanya; sementara sisanya, mampu kuraba maksudnya. Namun, puisi memang tidak dimaknai kata demi katanya, bukan? Asyiknya tulisan Om Jokpin adalah prosesku menikmati puisinya tidak terganggu oleh temuan-temuan diksi "aneh" yang tidak kupahami artinya. Tentu hal ini sungguh berarti bagiku yang masih meraba apa itu puisi.

Selain itu, hal menarik lain dari buku ini adalah beberapa puisi singkatnya membuatku tergelitik karena sentilannya yang "lucu" atau membuatku becermin karena seolah Om Jokpin tengah membicarakanku (atau kita?).

Puisi-puisi "panjang" menjadi penutup buku ini. Lagi-lagi aku menikmati membacanya. Namun, jangan tanya padaku apa makna sebenarnya, ya. Jujur saja, aku masih tetap meraba isinya. Meskipun begitu, aku tetap ingin mencoba membaca karya Om Jokpin lainnya.

MUDAH
Segalanya menjadi mudah/dengan mudah-mudahan.
Hlm. 18

NEGARA 2
Kepalaku disegel negara/Sejarah terkunci/Kuncinya terbuat dari lupa
Hlm. 147

--
Profile Image for Rose Diana.
Author 3 books1 follower
August 20, 2023
Buku puisi yang asik untuk dibaca dengan rangkaian kata yang indah. Bertemakan kata, hujan, ibu, Tuhan, banjir, masa kecil, kebahagiaan, kesedihan, surat, kecantikan, negara, dan terselip tentang cinta yang tidak terlalu menye-menye.

Joko Pinurbo itu memang pandai dan jenius dalam merangkai kata menjadi puisi indah. Puisi, ya, bukan sekadar sajak curhat semata. Ia menyulam diksi dari keresahan yang bahkan sama saya saja tak terpikirkan. Seperti pada puisi Kursi.

Sebuah kursi
duduk sendirian
di beranda
mendengarkan malam,
hujan, dan kolam
mengobrol
tak henti-hentinya.

Dari puisi tersebut, penulis menggunakan majas personifikasi pada sebuah kursi. Ia memanusiakan benda mati seolah menikmati kesunyian malam.

Buku puisi itu memang memiliki diksi yang tak sepanjang novel. Namun, membaca buku puisi tak hanya membaca saja, melainkan juga mencermati setiap diksi yang mengandung makna yang dalam.
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
May 11, 2024
"Surat Kopi" - Joko Pinurbo (kumpulan puisi)

Saya bukanlah penggemar berat Joko Pinurbo & bukan pembaca ulung karya2nya. Namun dari beberapa puisinya yang pernah saya baca, ada kesan khas yang menarik hati.

Puisi pertama yang saya pernah baca dari beliau adalah "Celana Ibu". Puisi soal Yesus yang bertanya ke Bunda Maria soal celana-Nya, "pas-kah?" lalu naik ke surga dengan sukacita. Jenaka dalam pembacaan pertama, begitu mendalam dalam pembacaan2 yang baru.

Karena pacar saya sedang menggemari karya beliau, jadilah saya meminjam kompilasi puisi berjudul "Surat Kopi" ini. Sebagai seseorang yang biasanya kesulitan mengapresiasi puisi sebagai sastra lisan maupun tulisan, tentu saya mencoba tidak banyak berharap & berusaha lebih kalem dengan diri sendiri bila tidak paham.

Beberapa halaman puisi terlewati, saya langsung mendapatkan kesan yang serupa dengan saat membaca "Celana Ibu". Berkali2 saya tergelitik dengan kesederhanaan bahasanya, kedalaman maknanya, dan, sebagai seorang Kristen, saya pun mendapati kesegaran interpretasi iman Katoliknya yang selalu memancar walau tak sering eksplisit.

Tidak banyak puisinya yang lebih dari 1 halaman kertas kecil, bahkan sebagian besar hanya memuat beberapa kalimat sederhana yang diksinya tidak njelimet. Namun puisi2 seperti inilah justru yang memantik interpretasi dan refleksi personal yang tak disangka2 bisa lebih dalam dari yang saya kira, alih2 hanya kebingungan menebak2 makna. Membaca puisi2nya mengingatkan saya sekali lagi bahwa membaca puisi bukanlah upaya nalar objektif, melainkan upaya subjektif untuk mempertautkan dengan pergumulan hati & konteks2 sekitar yang membentuk kita.

Tema puisi2nya beragam. Dari cinta-rindu-galau, hujan-kopi-senja, buruh-lembur-bokek, sampai hal2 sesentimentil relasi dengan orang tua & sahabat, hal2 sepersonal hubungan dengan Tuhan, dan hal2 selantang pergumulan sosial.

Pak Jokpin, seperti kita semua, adalah manusia multidimensi. Dalam permenungannya terkandung isu2 receh sampai isu2 yang rawan kena sensor. Namun yang jelas, beliau menghidupi berpuisi sebagai gaya hidup bertutur yang merengkuh sanubari.

Selamat istirahat dalam Allah, Pak Jokpin. Kekallah kenanganmu.
3 reviews
December 30, 2024
Surat Kopi adalah salah satu karya Joko Pinurbo yang mencerminkan gaya khasnya, yaitu memadukan kehidupan sehari-hari dengan refleksi mendalam tentang manusia, waktu, dan kenangan.

Surat Kopi menjadi simbol bagaimana Joko Pinurbo berhasil untuk:

- Mendekatkan puisi dengan kehidupan sehari-hari
- Membuat simbol yang kaya makna
- Memadukan humor dengan melankolia
- Kesederhanaan yang merangkul universalitas

Puisi-puisi di dalamnya mampu menyentuh aspek universal kehidupan manusia—kerinduan, kehangatan, atau kehilangan—dengan bahasa yang sederhana, namun bermakna.

Salah satu puisi favorit saya adalah ini

Masa Kecilku, 1

Masa kecilku biasa-biasa saja.
Bercelana sependek-pendeknya.
Bersedih sependek-pendeknya.
Bermimpi sepanjang-panjangnya.
Profile Image for Rustiana.
42 reviews1 follower
March 9, 2019
Najwa Shihab recommended this book and I like it. So far, this poems collection is good. I barely read poems. Although I did not like all poems in this book, I enjoyed most.
The poem in this compilation individually was written in few short sentences, as they were originally written for twitter reader. And I think these kind of poems are very popular these days , especially on instagram, with poets such as Rupi Kaur, Lang Leav and even dewi lestari start creating this kind of poems fragment in her instagram.
Nevertheless, I enjoyed Joko Pinurbo more than I enjoy Sapardi. Joko is witty and sarcastic (which personality I like), whereas Sapardi is gloomy and romantic (not so my favorite).
Profile Image for Weni yuanita.
93 reviews1 follower
April 13, 2019
Bagi saya puisi adalah ranah yang benar - benar berbeda, selain tugas sekolah, saya tidak pernah mengkhususkan diri untuk membaca karya sastra yang satu ini . ⁣⁣
Nah perkenalan pertama saya kepada puisi adalah melalui Surat Kopi - Joko Pinurbo. ⁣⁣
Kumpulan puisi yang pernah memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 ini berisikan puisi yang bagi saya simple dan mudah dimengerti , bahkan jenaka. Favourite saya adalah surat kopi dan mata bocah,2 ⁣⁣

⁣⁣ " ᵀᵘʰᵃⁿ ᵐᵉⁿᶜᶦᵖᵗᵃᵏᵃⁿ⁣⁣ ᵀᵉʳᵃⁿᵍ ᵈᵃⁿ ᵖᵃᵍᶦ⁣⁣ ᴾᵃᵈᵃ ᵐᵃᵗᵃ ˢᵉᵒʳᵃⁿᵍ ᵇᵒᶜᵃʰ " ⁣⁣
⁣⁣ Yang pasti tampaknya saya akan menambah buku puisi saya, mungkin ada yang bisa merekomendasikan puisi favoritnya bagi saya 😊⁣⁣
⁣⁣
Profile Image for Teuku Alfian Pase.
8 reviews
August 30, 2018
Saya tidak akan menilai dengan rumit, karna saya tak begitu mengerti soal puisi. Singkatnya, membaca puisi-puisi joKO PInurbo di buku ini membuat saya tersenyum-senyum, entah itu karna miris atau memang sekedar lucu dengan guyonannya. Beberapa bagian bahkan sangat "relate" dengan saya kelas menengah yang sedang tinggal di Jakarta.

Buku yang saya temukan di kedai kopi ini mampu saya "menghilang" sementara dan menyelesaikan dalam sekali duduk. Bagi saya, ini pertanda bahwa buku ini Bagus. Sesederhana itu.
Profile Image for Sa`ad Ahyat Hasan.
111 reviews17 followers
February 21, 2019
Buku kumpulan puisi kedua dari Jokpin yang saya baca. Isinya jauh lebih ringkas daripada Celana. Karena Surat Kopi pada dasarnya kumpulan twit jokpin yang dibukukan. Jadi satu halaman hanya berisi satu twit. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk menamatkannya.

Secara umum, meskipun dalam keterbatasan (karena Twitter dulu membatasi setiap twit maksimal 140 karakter sebelum diupdate menjadi 280 karakter baru-baru ini), jokpin tetap mampu merangkai diksi-diksi dengan begitu apik layaknya puisi pada umumnya. Dengan setiap twit seperti layaknya satu bait puisi.
Profile Image for Fira.
126 reviews
January 6, 2025
Judulnya Surat Kopi karena dalam nama Pak Joko Pinurbo ada kata kopi, saya baru menyadarinya setelah beliau jelaskan dalam salah satu puisi dalam buku ini wkwk. puisi favorite saya: semua puisi yang berjudul "akhir pekan" & "kesedihan dan kebahagiaan", masing-masing 4 puisi pendek yang sederhana tapi indah.

Saya membaca buku ini saat desember, musim hujan di Perpustakaan Daerah Gowa, tidak sempat saya selesaikan, maka saya antri di ipusnas dan sangat senang ketika menemukan ada copy yang tersedia di ibi library.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
January 10, 2019
** Books 05 - 2019 **

3,1 dari 5 bintang!

Tidak tahu kenapa saya selalu lebih menyukai buku-buku puisi karangan Joko Pinurbo yang lebih mengena dibandingkan buku puisi Sapardi Djoko Damono yang lebih membuat saya berpikir panjang untuk memahaminya. Salah satu puisi yang saya suka

Nyala

Yang tak terkatakan
akan tetap menyala
di balik kata-kata
yang berangsur padam


Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for Rizky Ayu Nabila.
242 reviews30 followers
January 31, 2019
Sepertinya saya lebih menyukai buku Surat Kopi ini dibanding karya Joko Pinurbo yang lainnya.

Seperti biasa, Joko Pinurbo menuliskan sajak dan puisi di dalam buku ini. Saya paling suka sajak tentang Surat Kopi, Dandan 2 dan Kasih Ibu. Ada juga sajak yang menyindir permasalahan HAM, yaitu mengenai hilangnya salah satu aktivis bernama Wiji Thukul.

Ilustrasi cover sederhana berkorelasi dengan isinya yang juga sederhana tapi memiliki makna yang dalam.
Profile Image for Dewi.
1,033 reviews
March 3, 2019
Mas JokPin sungguh membuat saya tersenyum simpul dan kadang pula tertusuk sembilu. Permainan kata yang dituliskan dengan 4 baris, 2 baris bahkan sebaris kata bisa menjadi sarat makna.

Favorit saya (dari sekian banyak favorit) :

Ayah saya seorang pengarang yang kaya.
Kepalanya tak pernah kehabisan kata.
Rekeningnya selalu penuh.
Penuh dengan semoga.

Atau

Ketika aku berdoa,
Tuhan tak pernah
menanyakan agamaku.
Profile Image for Sulthan Sadad.
5 reviews
August 30, 2019
Puisi dalam buku jokpin ini yg dalam. Mulai dari kerinduan, kekecewaan, Cinta, dll. Elemen yang diangkat mulai dari hujan, pekerja, ibu, bapak, keluarga, tuhan, agama, negara, dll. Puisi menjelang akhir buku bagi saya sangat mengena karena menceritakan tentang kerinduan terhadap bapaknya, tempat tinggalnya, serta kekasihnya. Ini merupakan buku jokpin pertama yang saya baca dan saya mencintai seluruh isi bukunya.
Profile Image for Muthii.
15 reviews
December 11, 2022
Ini pertama kalinya baca karya Jokpin dan langsung jatuh hati.
Diksinya mudah dicerna dan isinya juga berbagai rasa, tapi condong ke jenaka.
Di pertengahan halaman, banyak puisi yang bikin senyum senyum sendiri, karena terasa seperti sedang digombali. Haha, tapi aku suka.
Jujur, alasan beli buku ini untuk cari referensi menulis puisi, dan ternyata keputusanku tepat, hasrat untuk nulis langsung meningkat.
Terima kasih sajian kopi hitamnya.
Profile Image for Ammar Jayyid.
71 reviews2 followers
November 20, 2023
Hampir 3/4 adalah kumpulan sajak2 pendek lama beliau yg banyak tersebar dan sudah tidak asing buat pembacanya. Tapi ini tetap seru. "Penghasilan Tetap" selalu menjadi sajak pendek Jokpin favorit saya. Haha

Di 1/4 akhir ada puisi yg lebih panjang sekitar 3-4 halaman. Semua diawali dengan "Surat". Sebagian mungkin pengembangan dari sajak pendeknya.

Surat Kopi menang tidak sespesial beberapa buku beliau yg lain. Tapi cukup menyenangkan 🙌🏼✨
Displaying 1 - 30 of 97 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.