What do you think?
Rate this book


53 pages, Paperback
First published August 1, 2014
Ayah saya seorang pengarang yang kaya.
Kepalanya tak pernah kehabisan kata.
Rekeningnya selalu penuh.
Penuh dengan semoga.
*
Dalam naungan hujan yang manis
ia mabuk menulis
ditemani dingin dan kopi
dan rezeki yang tak pasti.
Hujan mencuci waktu yang kotor
oleh kecemasan-kecemasanmu.
*
Kota yang sumpek dan hati yang sumuk
meleleh di bawah hujan. ("Derai", halaman 6)
Tak ada kesedihan yang sia-sia.
Waktu akan mengumpulkan pecahan-pecahannya
untuk menyusun kebahagiaanmu suatu ketika. ("Kesedihan", halaman 28)
Jangan terburu-buru bersedih.
Baca dulu dengan teliti hatimu.
Sedih yang salah sumber masalah. ("Jangan", halaman 29)
Kian lama dirimu kian hilang,
kian terselip di antara barang-barang.
*
Kecantikanmu tersusun
dari barang-barang yang diberkati iklan.
*
Di balik hijabnya yang anggun
kecantikan sedang bergulat
melawan kenangan.
... sembunyi,
sembuh dari sunyi. ("Peta Buta", halaman 31)
Sejarah terkunci.
Kuncinya terbuat dari lupa. ("Negara", halaman 36)
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala. ("Surat Cukur", halaman 39)
.... "Kurang atau lebih,
setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi."
Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri. ("Surat Kopi", halaman 41)
... malam-malam
bertaburkan ngeong kucing. ("Surat Pulang", halaman 45)
.... Belajar melamun
dan menulis hal-hal yang tak mudah. ("Surat Libur", halaman 46)